UNIFA Online Journal Systems
Not a member yet
599 research outputs found
Sort by
KARAKTERISTIK PEMBAKARAN BRIKET LIMBAH JARAK DAN SEKAM PADA BERBAGAI KOMPOSISI
Results briquette making distance with wasp nests form in six samples, each sample weight was 1000 grams of raw materials with a concentration of 0% -50% composition range of waste and rice husk. The results showed briquette with composition 0 % husks have the time, temperature and the highest calorific value. Results of research on combustion of briquettes in real time using briquette stoves showed that the addition of the composition (%) effect on decreasing husk briquette combustion time and maximum temperature are obtained. Results of laboratory studies showed that the addition of the composition (%) husks effect on decreasing calorific value of briquettes. Husk serves as a trigger to burn a distance with a mixture of chaff on the composition of waste briquettes used in the amount of 10% range. The test results by analyzing the chemical composition estimates, test results through the analysis proksimasi thermal properties and physical properties, generally fall within the existing standard briquettes (briquettes commercial standard reference, import, Japan and USA). comparison with the test results indicate use of kerosene stoves and range of waste husks briquettes are more economical Rp. 500,00 if compared with the use of kerosene to boil 1 liter of water
PEMBUATAN BRIKET DARI ARANG CANGKANG KEMIRI HASIL PIROLISIS
Pada penelitian ini ada dua variabel yang telah diamati, yaitu pengaruh ukuran partikel butiran arang cangkang kemiri terhadap kerapatan briket dan komposisi campuran arang cangkang kemiri - perekat kanji terhadap nilai kalor. Tahap awal penelitian berupa pembuatan arang secara pirolisis yang dioperasikan pada suhu yang secara bertahap meningkat sampai mencapai 500°C dalam waktu sekitar 8 jam. Tahap berikutnya adalah pembuatan bireket dengan menvariasikan ukuran partikel butiran arang sebesar 20, 40, 60, dan 80 mesh, serta pengaru komposisi campuran arang cangkang kemiri - perekat kanji sebesar 90% : 10%, 80% : 20%, 70% : 30%, dan 60% : 40%. Kemudian dilakukan karakteristik briket yang dihasilkan berupa kerapatan, dan nilai kalor. Dari hasil penelitian didapatkan, pengaruh ukuran partikel butiran arang cangkang kemiri terhadap kerapatan briket yang dihasilkan menunjukkan kenaikan yang linear, dimana pada interval 20 - 80 mesh menunjukkan interval nilai kerapatan briket sebesar 0,688 - 0,891 g/cm3. Pengaruh komposisi campuran arang cangkang kemiri - perekat kanji terhadap nilai kalor menunjukkan penurunan yang linear. Dimana komposisi campuran pada interval 90% : 10% - 60% : 40% menunjukkan nilai kalor yang berada pada interval 6.061 kal/g - 4.434 kal/g
PENGARUH CANGKANG KEMIRI SEBAGAI PENGGANTI AGREGAT KASAR TERHADAP SIFAT MEKANIK BETON
Teknologi konstruksi beton diarahkan bersifat berkelanjutan dan ramah lingkungan. Limbah cangkang kemiri sebagai pengganti agregat kasar campuran beton diketahui bahwa cangkang kemiri memiliki tekstur yang keras sehingga kemungkinan dapat digunakan sebagai pengganti agregat kasar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh limbah cangkang kemiri sebagai pengganti agregat kasar terhadap sifat fisik (slump test, bleeding, segregation, berat isi) dan sifat mekanik (kuat tekan dan kuat tarik belah) beton yang menggunakan cangkang kemiri sebagai material pengganti agregat kasar. Variasi penelitian adalah variasi persentase cangkag kemiri pada campuran beton yakni sebesar 0%, 25%, 50%, 75% dan 100% terhadap volume agregat kasar pada campuran beton. Jumlah benda uji masing-masing 5 buah setiap variasi. Pengujian sifat mekanik beton (kuat tekan dan kuat tarik belah)Â dilakukan pada umur 28 hari. untuk uji kuat tekan beton, dan 28 hari untuk kuat tarik belah beton serta berat isi beton. Beton yang menggunakan cangkang kemiri sebagai pengganti agregat kasar mengalami penurunan kuat tekan pada sampel BC-25, BC-50, BC-75, BC-100 berturut-turut sebesar 11,72 MPa (37,71%); 15,54 MPa (50,00%); 18,35 MPa (59,02%); dan 18,85 MPa (60,66%) dari kuat tekan BN sebesar 31,08 Mpa. Beton yang menggunakan cangkang kemiri sebagai pengganti agregat kasar mengalami penurunan kuat tarik belah pada sampel BC-25, BC-50, BC-75, BC-100 berturut-turut sebesar 0,95 MPa (28,70%); 1,21 MPa (36,56%); 1,27 MPa (38,37%); dan 1,40 MPa (42,30%) dari kuat tarik belah BN sebesar 3,31 MPa. Menurunnya nilai berat isi, kuat tekan dan kuat tarik belah sangat dipengaruhi oleh bertambahnya persentase cangkang kemiri pada beton
RANCANG BANGUN MESIN PENGUPAS SABUT KELAPA SEMI OTOMATIS
Perancangan ini bertujuan untuk (1) menghasilkan desain dan gambar kerja konstruksi mesin pengupas sabut kelapa semi otomatis yang kuat, kokoh, aman, dan efisien.(2) Mendapatkan hasil uji kinerja Mesin pengupas sabut kelapa semi otomatis (3) Mendapatkan hasil analisis ekonomi Mesin Pengupas sabut kelapa semi otomatis. Tiga rumusan masalah diajukan dan berhubungan dengan ketiga tujuan perencanaan. Proses perancangan mesin pengupas sabut kelapa semi otomatis dilakukan dengan tahapan yaitu perencanaan dan penjelasan fungsi, perencanaan konsep produk (gambar kerja). Analisis teknik meliputi analisis daya, torsi yang terjadi pada poros dan kontruksi rangka. Tenaga penggerak mesin pengupas sabut kelapa semi otomatis direncanakan menggunakan motor bakar dengan daya 5.5 HP dan Torsi maksimum 2500 rpm, daya di teruskan melalui pulley dan v-belt. Hasil perancangan menghasilkan mesin pengupas sabut kelapa semi otomatis dengan spesifikasi ukuran 90 × 80 × 70 cm. Profil siku  4×4 cm dengan bahan St 30, casing menggunakan body silynde dari drum dan gigi pembalik dari gear motor yang telah dimodifikasi, dengan estimasi biaya perancangan +-4.000.000.0
STUDI PENGARUH KUAT LENTUR BALOK BETON BERTULANG DENGAN VARIASI PERKUATAN GFRP-S
 Debonding antara lembaran GFRP dan beton telah menunjukkan suatu fenomena kritis  dalam penggunaan  lembaran G FRP  sebagai  tulangan  luar. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh luas area lekatan terhadap perilaku runtuh dan kuat lentur  balok beton dengan perkuatan 1 lapis GFRP. Pengujian kuat lentur dilakukan terhadap benda uji balok beton dengan ukuran 150 × 200 × 2500 mm, di atas 2 tumpuan sederhana dan dibebani 2 beban terpusat pada jarak 987,5 mm dari masing-masing tumpuan. Benda uji dibuat dalam 4 perlakuan yaitu, balok tanpa penambahan lapis GFRP dengan dimensi 180 cm x 10 cm, balok dengan penambahan 1 lapis GFRP dengan dimensi 180 cm x 15 cm, dan balok dengan penambahan 1 lapis GFRP dengan dimensi 240 cm x 15 cm. Masing-masing perlakuan dibuat 2 buah benda uji. Adapun data yang diamati selama pengujian meliputi beban retak, beban ultimit, lendutan dan mode kegagalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mode kegagalan untuk balok dengan penambahan 1 lapis GFRP dengan dimensi 180 cm x 10 cm dan balok dengan penambahan 1 lapis GFRP dengan dimensi 180 cm x 15 cm yaitu lepasnya ikatan antara GFRP dan beton ( debonding ), untuk balok dengan penambahan 1 lapis GFRP dengan dimensi 240 cm x 15 cm yaitu putusnya lembaran GFRP. Penggunaan GFRP juga dapat meningkatkan kuat lentur pada balok beton. Bila dibandingkan dengan balok control ( tanpa penambahan lembar GFRP ) peningkatan kapasitas lentur untuk balok penambahan 1 lapis GFRP dengan dimensi 180 cm x 10 cm mampu meningkatkan beban sebesar 54,17% sedangkan untuk balok dengan penambahan 1 lapis GFRP dengan dimensi 180 cm x 15 cm sebesar 112,5% dan untuk balok dengan penambahan 1 lapis GFRP dengan dimensi 240 cm x 15 cm sebesar 129,17%
EFISIENSI KOLEKTOR PEMANAS UDARA DARI BEBERAPA MATERIAL PLAT ABSORBER PADA ALAT PENGERING GABAH
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kolektor pemanas udara pada alat pengering gabah dengan membandingkan plat absorber di kolektor pemanas udara. Kegiatan penelitian ini dilakukan pada Laboratorium Mesin Pendingin Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Paulus Makassar. Metode penelitian yang dilakukan adalah dengan membuat alat pengering gabah dan menganalisa efisiensi kolektor pemanas udara dengan perbandingan plat absorber. Dari perbandingan material plat absorber ini diharapakan panas yang masuk ke dalam ruang pengering dapat maksimal dan menngurangi waktu pengeringan gabah. Hasil penelitian menujukkan bahwa penggunaan plat tembaga sebagai plat absorber lebih baik dibandingkan dengan menggunakan aluminium dan seng. Efisiensi kolektor yang didapatkan dari plat tembaga sebesar hc1 s 62.06 % dan hc2 66.91 % sedangkan untuk plat aluminium nilai hc1 61.90 % dan hc2 66.62 % serta untuk plat seng nilai hc1 61.10 % dan hc2 Â 64.83 %
TONGKONAN KARUAYA DENGAN TEKNOLOGI ENERGI SURYA
Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui program PKM adalah membantu, memotivasi, melatih dan mendampingi Mitra Kelompok Seni Tari Karuaya dan Kelompok seni Ukiran Balik di Lembang Tumbang Datu yang usahanya belum produktif secara ekonomis, tetapi memiliki hasrat dan semangat yang kuat bekerja menjadikan usahanya berhasil khususnya mengembangkan seni tari dan seni ukir Tana Toraja. Kehidupan mitra bersama masyarakat, sangat tertinggal dari berbagai aspek kehidupan di banding dengan masyarakat di daerah sekitarnya. Kelompok mitra mayoritas putus sekolah, banyak tidak tamat SMA, sehinga tidak memiliki pengetahuan, kemampuan dan ketrampilan untuk mengembangkan usahanya dalam memanfaatkan dan mengelolah potensi wisata begitu besar di sekitar mereka. Untuk mengembangkan usaha dan taraf hidup mitra dan masyarakat sekitar, mereka sangat membutuhkan pendampingan, pelatihan dan sentuhan teknologi pembangkit listrik tenaga surya sebagai sumber energi listrik penerangan, sound system, charge handphone dan aktivitas pruduktif lainnya sehingga dapat mengembangkan bakatnya dan tidak memikirkan dana untuk pembayaran listrik karena listrik tenaga surya adalah gratis .Target khusus dari program Kemitraan Masyarakat (PKM) adalah Melakukan jasa pengembangan pemanfaatan seni tari dan seni ukir serta peluang seni sebagai sumber pendapatan mitra dan masyarakat sekitar; Pelatihan pemeliharaan pembangkit listrik tenaga surya di lokasi mitra; Menghasilkan produk sel surya yang mampu mengubah energi matahari menjadi energi listrik
STUDI PEMBUATAN BIOHIDROGEN DARI LIMBAH PADAT BLOTONG DAN LIMBAH CAIR INDUSTRI GULA SECARA FERMENTASI ANAEROB
Studi Pembuatan Biohidrogen dari Limbah Padat Blotong dan Limbah Cair Industri Gula secara Fermentasi Anaerob. Hidrogen merupakan sumber energi yang bersih dan efisien. Gas tersebut memiliki kandungan energi tertinggi per unit dan merupakan bahan bakar yang tidak terikat secara kimia dengan karbon. Hidrogen merupakan sumber energi alternatif yang dapat diproduksi dari sumber energi terbarukan seperti biomassa yangdikenal dengan istilah biohidrogen. Produksi biohidrogen dapat dilakukan dengan cara teknik fermentasi. Metode ini merupakan perpaduan antara pendekatan secara kimiawi dan biologi. Secara biologi limbah yang menjadi bahan baku pembuatan hidrokarbn ini didegridasi menggunakan berbagai jenis jamur. Sedangkan secara kimiawi menggunakanasam kuat dari mulai yang kuat sampai yang telah diencerkan. Keistimewaan yang ada pada biohidrogen adalah bahwa biohidrogen mudah dikonversi menjadi fuel atau listrik tanpa menyisakan polutan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memanfaatkanlimbah industri gula dengan menggunakan bakteri hidrogenasi secara fermentasi anaerob untuk menghasilkan biohidrogen sebagai bahan bakar terbarukan dan ramah lingkungan serta dapat mengidentifikasi perbandingan yang baik untuk menghasilkan biohidrogen antara limbah padat blotong dengan limbah cair. Penelitian ini dilakukan dengan 3 variasi perbandingan antara limbah padat blotong dan limbah cair industri gula yaitu: 1:1, 1:2, dan 2:1. Dan dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa rasio perbandingan yang terbaik menghasilkan biohidrogen adalah perbandingan rasio 2:1 yang mengidentifikasi terbentuknya gas terlihat pada balonÂ
STUDI PREFERENSI PENGELOLAAN PERPARKIRAN BERDASARKAN PELAYANAN, KETERSEDIAAN PRASARANA DAN RETRIBUSI DALAM MENUNJANG PAD KOTA MAKASSAR
In the management of parking during this run visible indicators that can be used as a benchmark as the low contribution of parking service on revenue of Makassar and still less professional and optimal management of parking. This study aims to determine the level of optimization of the application of the parking management system by operators of parking based on public perception and analyze the level of service and high availability of parking facilities in the city of Makassar. This research was conducted by direct interview to the community and the spread of random questionnaires to determine public perceptions of parking management that are run during this and subsequent analysis of the level of service and availability of parking infrastructure by taking samples of the two locations in the city of Makassar. From the results of research in getting that parking geometric arrangement resulted in the design markings on the road Bougainville Makassar park consists of 26 markers and 20 markers of motor cars, while road markings Pengayoman consists of 146 cars and 54 motorcycles markers. Overall capacity of the car park on the street Bougainville 104 vehicles/h, the capacity of the car park on the street Pengayoman the west as much as 584 vehicles/hour. Capacity motorcycle parking on the street Bougainville as many as 80 vehicles/hour, capacity bike parking on the street Pengayoman the west as much as 216 vehicles / hour. For availability of parking facilities in addition to marking problems of parking, availability of infrastructure such as parking signs, SRP and parking attendants in Bougainville and western aegis not ideal should be added and equipped. Potential revenue (PAD), which can be generated at the study site from the calculation of the accumulation of cars and motorcycles parked vehicles every 15 minutes in the span of 13 hours every day for a week total daily average of Rp. 1,657,346. The respondent's perception of the overall entry in the medium category. For the highest score obtained at a frequency of parking of vehicles in the parking lot was not authorized by a score of 1054. While the lowest score in the delivery of tickets, with a score of 716. Overall it can be concluded that the availability of parking infrastructures is lacking and parking management systems are still considered less than optimal
KERAWANAN BENCANA TANAH LONGSOR DI WILAYAH HULU DAS JENEBERANG DENGAN ANALISIS GID-3D
The assessment of landslide hazard and risk has become a topic of major interest for both geoscientists and engineering professionals as well as for local communities and administrations in many parts of the world. Recently, Geographic Information Systems (GIS), with their excellent spatial data processing capacity, have attracted great attention in natural disaster assessment. In this paper, an assessment of landslide hazard at Upper Area of Jeneberang Watershed has been studied using GIS technology. By simulating the potential landslide according the minimum safety factor value using GIS, it can be expected that great contribution as a basic decision making for many prevention works before future landslide occurs at Jeneberang River Watershed, South Sulawesi, Indonesi