IJNP (Indonesian Journal of clinical nutrition physician)
Not a member yet
67 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN ANTARA ANGKA KECUKUPAN ENERGI DAN PROTEIN DENGAN KESEMBUHAN LUKA PADA PASIEN ULKUS DEKUBITUS
ABSTRAK
Latar belakang : Ulkus dekubitus merupakan masalah kesehatan di banyak negara dan malnutrisi merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam perkembangan ulkus dekubitus, namun investigasi klinis masih jarang dilakukan untuk mengamati kebutuhan jumlah energi dan protein pada kesembuhan luka.
Tujuan penelitian : Menganalisis hubungan antara angka kecukupan energi dan protein dengan kesembuhan luka pada pasien ulkus dekubitus. Menganalisis hubungan antara angka kecukupan energi dan protein dengan kesembuhan luka pada pasien ulkus dekubitus dikontrol dengan faktor usia, indeks massa tubuh, dan adanya infeksi.
Metode penelitian : Studi observasional dengan pendekatan cross sectional melibatkan 40 subjek sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Kesembuhan luka dinilai menggunakan PUSH score tools 3.0, angka kecukupan energi dan angka kecukupan protein dinilai berdasarkan rata-rata asupan total masing-masing yang diberikan dalam seminggu.
Hasil : Terdapat hubungan lemah antara angka kecukupan energi dengan kesembuhan luka (r= 0,37 dan p= 0,02). Adanya hubungan sedang antara angka kecukupan protein dengan kesembuhan luka (r= 0,42 dan p= 0,01).
Simpulan :
Terdapat hubungan bermakna antara angka kecukupan energi dan protein dengan kesembuhan luka pada pasien ulkus dekubitus. Faktor usia, indeks massa tubuh, dan infeksi pada ulkus dekubitus bukan merupakan variabel perancu dalam penelitian ini.
Kata kunci : Angka kecukupan energi, angka kecukupan protein, kesembuhan luka, ulkus dekubitus
THE EFFECT OF OLIVE OIL SUPPLEMENTATION IN ADOLESENCE
Background
Olive oil has been shown to reduce the risk of atherosclerosis through its anti-inflammatory, antioxidant, and vasodilator effects. Olive oil contains polyphenols against the reaction of Reactive Oxygen Species. In Al Quran, Surah Al Mu'minin verse 20, it is stated that olive oil can be helpful as an appetite enhancer. This effect can occur through the role of MUFA as olive oil composition in the mechanism of the gut-brain axis where the hormone ghrelin produced by the intestine will enter the brain to induce appetite. The Adolescent period is a significant concern because this is a period of growth and development that requires adequate nutritional intake. The sustainability of appetite in adolescents is a good sign for fulfilling nutritional needs to support optimal growth and development.
Objective
This study aims to examine the effect of olive oil supplementation on the appetite score in adolescents.
Methods
The study was conducted at the Tahfizh Al Quran Zam-Zam Islamic Boarding School with 30 subjects divided into two groups: the treatment group (n = 15) and the control group (n = 15) who met the inclusion criteria. The study revealed that no difference was showed in the proportion of appetite scores in the two groups.
Conclusion
There is no difference of the appetite scores on the administration of olive oil in adolescents.
Key words: Olive oil, food intake, appetite score, adolescents.
 
TERAPI NUTRISI PADA KARSINOMA AMELOBLASTIK DENGAN KEMOTERAPI
Karsinoma ameloblastik adalah tumor ganas epitel odontogenik yang sangat jarang terjadi, terhitung sekitar 2% dari tumor odontogenik. Tujuan utama terapi nutrisi pada penderita kanker adalah untuk mempertahankan atau meningkatkan status gizi sehingga dapat memperkecil terjadinya komplikasi, meningkatkan efektivitas terapi kanker (bedah, kemoterapi, radiasi), kualitas hidup dan survival penderita. Pria usia 59 tahun dikonsulkan dengan diagnosis karsinoma ameloblastik dan malnutrisi berat (Subjective Global Assesment Skor C). Pasien memiliki riwayat asupan yang kurang dan perubahan konsistensi asupan selama 4 bulan dan memberat 10 hari terakhir karena disfagia. Terapi nutrisi pre-kemoterapi diberikan dengan target 1900 kkal secara bertahap melalui enteral dan parenteral dengan protein 1,5 gram/kgBB ideal/hari. Pada akhir masa perawatan terdapat perbaikan metabolik seperti deplesi system imun,albumin dan balance nitrogen. Penanganan nutrisi perlu dilakukan pada pasien kanker yang akan menjalani kemoterapi untuk optimalisasi kondisi pre-kemoterapi dan memperbaiki klinis dan metabolik pasien post-kemoterapi
EFFECT OF MATERNAL VITAMIN D SUPPLEMENTATION DURING LACTATION EFFECT ON INFANTS' PROPENSITY TO INFECTION : AN EVIDENCE-BASED CASE REPORT
Abstract
Introduction: Vitamin D deficiency has become more prevalent around the world along with a sedentary lifestyle and limited exposure to sunlight. Deficiencies of vitamin D in lactating mothers could cause deficiencies in their infants and vitamin D deficient infants are at higher risk of having infectious diseases. Supplementation of Vitamin D to lactating mothers may benefit both mothers and infants to reduce infection morbidity.
Methods: Relevant literature research was conducted in PubMed, Cochrane, and SciELO using relevant keywords and advanced search methods. Relevant literature was then screened for duplication, relevance, and eligibility.
Results: A randomized-controlled trial was selected. The study showed that supplementation of 3000µg oral vitamin D3 to lactating mothers significantly raise their infants' serum vitamin D (p<0.01) and reduce infection morbidity (p<0.01)
Conclusions: Oral supplementation of vitamin D3 could be given to lactating mothers to improve their infants' serum vitamin D and reduce infection morbidity.
Keywords: vitamin D, lactation, infants' infectio
HUBUNGAN KONTROL GLIKEMIK PREOPERATIF DAN GANGGUAN GINJAL AKUT PASCA CORONARY ARTERIAL BYPASS GRAFTING PADA PASIEN DIABETES MELLITUS
Latar Belakang: Diabetes mellitus (DM) dan kontrol glikemik telah diajukan sebagai salah satu faktor risiko gangguan ginjal akut (GGA) pasca coronary arterial bypass grafting (CABG) walaupun dengan bukti yang terbatas, sehingga hubungan kedua penyakit perlu diteliti lebih lanjutTujuan: Tujuan penelitian ini adalah memberikan bukti lebih lanjut terkait pengaruh DM dan kontrol glikemik terhadap insidensi GGA pasca CABG.
Metodologi: Suatu penelitian dengan desain cross sectional dilaksanakan di unit perawatan intensif bedah dewasa National Cardiovascular Center Harapan Kita, Jakarta, Indonesia. Populasi penelitian ini mencakup 84 subjek dengan metode sampling konsekutif. Kontrol glikemik pasien DM diklasifikasikan berdasarkan target nilai HbA1c pada panduan American Diabetes Association 2018. Analisis secara bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara berbagai faktor dan insidensi GGA. Berbagai faktor disesuaikan dengan analisis multivariat untuk menilai peran DM dan kontrol glikemik sebagai faktor independen.
Hasil: Rerata usia dan tekanan darah sistolik berbeda secara signifikan antar kelompok dengan rerata usia tertinggi pada kelompok DM terkontrol dan tekanan darah tertinggi pada kelompok DM tidak terkontrol. Karakteristik demografis dan berbagai faktor selain DM tidak menunjukan hubungan yang signifikan dengan insidensi GGA. Analisis multivariat menunjukan bahwa pada kelompok DM dengan HbA1c terkontrol, insidensi GGA lebih rendah secara signifikan (OR 0.13, IK 95%, 0.13 - 0.24) dibandingkan dengan kelompok lainnya. Rasio odd GGA lebih tinggi pada kelompok DM tidak terkontrol, tetapi tidak terbukti signifikan secara statistik (OR 1.03, IK 95%, 0.158 - 6.69).
Simpulan: Penelitian ini memberikan bukti pentingnya kontrol glikemik pra-operasi dalam mencegah terjadinya GGA pasca CABG pada pasien diabetes
TERAPI GIZI PADA ADENOCARSINOMA ESOPHAGEAL JUNCTION POST GASTRECTOMI PARTIAL DAN GASTROSTOMI FEEDING
Intervensi nutrisi harus menjadi bagian penting dari pendekatan multimoda terhadap kanker kaheksia. Tujuan utama terapi nutrisi pada penderita kanker adalah mempertahankan atau meningkatkan status gizi sehingga dapat memperkecil terjadinya komplikasi, meningkatkan efektivitas terapi kanker (bedah, kemoterapi, radiasi), kualitas hidup dan survival penderita. Pria usia 60 tahun dikonsulkan dengan diagnosis Gastroesophageal junction adenocarcionma (GEJAC) dan malnutrisi berat (Subjective Global Assesment Skor C). Pasien memiliki riwayat asupan yang kurang dan perubahan konsistensi asupan selama 6 bulan dan memberat 1 bulan terakhir karena disfagia. Terapi nutrisi pre-operatif diberikan dengan target 2100 kkal secara bertahap melalui oral dan parenteral dengan protein 1,5 gram/kgBB ideal/hari. Pemberian nutrisi post-operasi dimulai bertahap melalui enteral (gastrostomi) dan parenteral dengan protein dinaikkan menjadi 1,7 gram/kgBB ideal/hari. Pada akhir masa perawatan terdapat perbaikan metabolik seperti albumin dan jumlah leukosit dari post-operasi hingga akhir masa perawatan. Penganan nutrisi perlu dilakukan pada pasien kanker yang akan menjalani operasi untuk optimalisasi kondisi pre-operasi dan memperbaiki klinis dan metabolik pasien post-operasi
HUBUNGAN DERAJAT KEPARAHAN STROKE DENGAN PERUBAHAN STATUS GIZI PASIEN DI UNIT STROKE
Latar belakang : Defisit neurologis akibat stroke akut menyebabkan perburukan malnutrisi selama perawatan di rumah sakit dan dikaitkan dengan outcome klinis lebih buruk, masa rawat lebih lama dan biaya lebih besar.
Tujuan: Menganalisis hubungan derajat keparahan stroke dengan perubahan status gizi pasien selama pelayanan di Unit Stroke dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Metode : Penelitian cross-sectional dilakukan di Unit Stroke RSUP dr. Kariadi Semarang pada bulan Maret - Mei 2019 terhadap 60 subyek pasien stroke yang dipilih secara consecutive sampling serta memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Penilaian NIHSS dilakukan pada awal dan akhir pengamatan; pengukuran dan perubahan LLA pada hari ke-1, ke-3, ke-7, ke-14; status diare serta status disfagia. Uji Chi-square dilakukan untuk melihat hubungan antara derajat keparahan stroke dengan faktor-faktor yang berhubungan dengan perubahan status gizi pasien.
Hasil: Derajat keparahan stroke sedang dan berat lebih banyak dijumpai. Target pemenuhan energi hari ke-5 dapat dicapai 80% subyek, penurunan LLA 35%, diare 11,7% dan disfagia 46,7%. Terdapat hubungan signifikan antara derajat keparahan stroke dengan perubahan LLA (p < 0,05).
Simpulan : Derajat keparahan stroke berhubungan dengan perubahan status gizi selama perawatan yang dinilai dari penurunan LLA
PENGARUH TERAPI NUTRISI PADA PASIEN POST OPERASI LAPARATOMI EKSPLORASI THREE OSTOMY DECOMPRESSION, JEJUNOSTOMY FEEDING, PERFORASI GASTER, LASERASI DUODENUM PARS IV ET CAUSA TRAUMA TUMPUL ABDOMEN, FISTEL ENTEROKUTAN DAN HIPOALBUMINEMIA
Pendahuluan: Trauma merupakan salah satu penyebab utama kematian di negara maju dan berkembang. Meningkatnya metabolisme pada trauma, menyebabkan pemecahan massa tubuh tanpa lemak, yang dapat berkontribusi pada terjadinya malnutrisi, sehingga diperlukan terapi nutrisi yang adekuat. Laporan Kasus: Kami laporkan laki-laki, berusia 19 tahun dikonsul dari bagian bedah digestif, dengan asupan via parenteral dialami sejak 5 hari lalu karena dipuasakan post operasi. Riwayat demam dan muntah 6 hari lalu. Ada batuk dan sesak. Pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran compos mentis, tanda vital dalam batas normal, terpasang NGT dekompresi, O2 via nasal kanul, drain cavum douglasi, gastrostomi dekompresi, serta jejunostomy feeding. Hari ke 10 post operasi ditemukan fistel enterokutan pada luka operasi. Hasil laboratorium didapatkan anemia, leukositosis, hipertrigliserida, hipoalbuminemia, deplesi berat sistem imun serta ketidakseimbangan elektrolit. Status gizi moderate protein energy malnutrition. Terapi nutrisi diberikan secara bertahap sesuai toleransi dengan target 2400 kkal dan protein 1,7-2 gr/kgBBI/hari via parenteral. Pada hari ke 28 perawatan mulai diberikan via oral dan parenteral untuk mencukupi kebutuhan. Selain itu, diberikan suplementasi Cernevit 1 ampul/24 jam/IV dan neurobion 1 ampul/24 jam/IM. Setelah 60 hari perawatan, pasien dapat makan sepenuhnya via oral dan luka fistel menutup. Kesimpulan: Terapi nutrisi yang tepat penting untuk meningkatkan hasil akhir pada pasien
PERANAN ZINK DAN VITAMIN D TERHADAP PENCEGAHAN TERJADINYA IMMUNE RECONSTITUTION INFLAMATORY SYNDROME (IRIS)
Immune Reconstitution Inflamatory Syndrome (IRIS) menggambarkan suatu kumpulan gejala dari kondisi klinis paradoks yang memburuk pada suatu kondisi yang diketahui atau munculnya suatu kondisi baru setelah memulai terapi Antiretroviral (ARV) dapat disebabkan oleh gangguan non-infeksi dan infeksi mikobakteri, jamur dan atau virus oportunistik. Kami melaporkan kasus seorang wanita, 19 tahun dengan keluhan asupan makan via oral menurun didiagnosis dengan Severe Protein Energy Malnutrition (IMT 12.4 kg/m2) , TB Paru relaps dengan riwayat putus obat dan Immunodeficiency syndrome. Terapi nutrisi diberikan sesuai dengan manajemen refeeding syndrome mulai dari 15 kkal/kg BB dan ditingkatkan bertahap sampai 2000 kkal sesuai dengan kemampuan dan kondisi pasien dengan komposisi protein 1.5 gr/kgBBI/hari, karbohidrat 50-55% dan protein 30-33% diikuti dengan pemberian suplementasi zinc dan vitamin D. Saat Pasien di Rumah, dilakukan pemantauan selama 5 bulan untuk menilai kondisi klinis, asupan kalori, berat badan dan kapasitas fungsional. Terdapat perbaikan klinis, peningkatan asupan (energi ±2000 kkal), berat badan yang meningkat (IMT 22.37 kg/m2) dan peningkatan kapasitas fungsional (20 kg). Dengan dukungan nutrisi dan dilanjutkan dengan pemberian ARV setelah pengobatan TB paru berlangsung 25 hari, dapat memperbaiki kondisi dan status metabolisme sehingga mencegah terjadinya IRIS
ASTAXANTHIN MENGHAMBAT PENURUNAN JUMLAH SEL LEYDIG DAN KADAR TESTOSTERON PADA TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIPAPAR DENGAN ASAP ROKOK
Background. The exposure of cigarette smoke impacts negatively on Leydig cell count and testosterone level. Astaxanthin is known for its ability to neutralize free radicals far more potent than any other kind of antioxidant.
Research objectives. This research aims to prove the effect of Astaxanthin in inhibiting decrease of Leydig cell count and testosterone level in male Wistar rats exposed with cigarette smoke.
Methodology. The posttest only control group study design was conducted on 36 male Wistar rats, 12-16 weeks in age, with 200-210 grams body weight. Samples were randomly divided into two groups, consisting of a control group exposed with cigarette smoke and 0.5 ml of aquadest and a study group exposed with cigarette smoke and 0.1 mg of astaxanthin/200 gr BW daily for 30 days. On day 31, blood samples were taken to measure the testosterone level. Both testes were taken for Leydig cells count assessment. Comparative analysis was done to see any significant difference between the study and control group.
Research results. The results show that the mean number of Leydig cells and testosterone levels in the study group was significantly higher than the control group (p<0.01).
Conclusion. Oral astaxanthin administration inhibited the decrease of Leydig cell count and testosterone level in male Wistar rats exposed with cigarette smoke.
Key words: Astaxanthin, Testosterone, Leydig Cell, Andropaus