IJNP (Indonesian Journal of clinical nutrition physician)
Not a member yet
    67 research outputs found

    TERAPI NUTRISI PADA PASIEN CARDIAC CACHEXIA ET CAUSA CHRONIC HEART FAILURE NYHA III DENGAN PENYULIT EDEMA PARU KARDIOGENIK AKUT

    Full text link
    Pendahuluan Cardiac cachexia (CC) adalah penurunan berat badan dengan/ tanpa muscle wasting pada pasien gagal jantung. Terapi nutrisi merupakan salah satu upaya untuk mencegah perburukan klinis CC. Laporan Kasus Ny.R, 54 tahun dikonsultasikan dengan diagnosa edema paru kardiogenik akut dan congestive heart failure NYHA III. Keluhan utama berupa masukan makan berkurang sejak 1 tahun dan memberat dalam 8 hari terakhir karena sesak  napas. Ada riwayat penurunan berat badan, namun tidak diketahui besar penurunannya. Tampak lemah dan sesak napas. Antropometri: TB 154 cm, LLA 19.5 cm. Terdapat kehilangan jaringan lemak subkutan dan muscle wasting tanpa edema. Handgrip strength 5.2 kg. Food recall 24 hour 343 kkal. Status gizi buruk berdasarkan SGA. Terapi nutrisi: kalori 1600 kkal diberikan bertahap, dengan komposisi makronutrien: karbohidrat 45-50%, protein 1.5 gr/kgBBI/hari dan lemak 32-37%. Diberikan nutrient spesifik berupa EPA dan BCAA. Suplementasi mikronutrien: zink, curcuma, vitamin Bkompleks, thiamin dan ekstrak ikan gabus. Setelah Pasien dipulangkan, kami lakukan pemantauan selama 8 bulan untuk menilai asupan kalori, berat badan dan kapasitas fungsional serta kepatuhan pasien terhadap program terapi nutrisi yang diberikan. Terdapat perbaikan klinis peningkatan asupan energi, berat badan yang stabil, dan peningkatan kapasitas fungsional. Kesimpulan Terapi nutrisi yang adekuat dan pemberian nutrient spesifik dapat mencegah perburukan CC

    POTENSI NIGELLA SATIVA DALAM PENGOBATAN COVID-19

    Full text link
    oai:IJCNP:article/4COVID-19 membutuhkan berbagai intervensi untuk menekan angka kesakitan dan kematiannya. Tujuan penelitian ini adalah  mencari terapi adjuvan yang dapat meringankan gejala dan   mengurangi angka kematian yang diakibatkan oleh COVID-19. Referensi yang membahas mengenai  manfaat Nigella Sativa  seperti dari Biomed Central, Elsevier,  Journal of Pharmacopuncture dan berbagai referensi lain dikumpulkan untuk mencari  peran Nigella Sativa. Manfaat Nigella Sativa disusun sebagai terapi adjuvan dari berbagai  penelitian seperti penelitian in vitro, Randomized Control Trial, maupun  clinical trial. Kata kunci pencarian yang digunakan seperti  Nigella Sativa, Black Seed, dan Covid-19.  Hasil  penelitian membuktikan konstituen bioaktif dari Nigella Sativa seperti thymoquinone (TQ),   trans-anethol,  nigellidine , nigellicine, nigellicimine-N-oksida dan α-hederin1 memiliki beragam manfaat  seperti anti oksidan, anti inflamasi, immunomodulator, antitusif, antihipertensi dan menyeimbangkan kadar gula darah. Kesimpulan yang didapatkan bahwa Nigella Sativa dapat dipertimbangkan sebagai terapi adjuvan untuk mengurangi angka kesakitan dan  kematian  akibat COVID-19

    PERBANDINGAN STATUS GIZI MENURUT PENGUKURAN INDEKS MASSA TUBUH DAN PENGUKURAN PERSENTASE LEMAK TUBUH MENGGUNAKAN DXA SCAN DI RUMAH SAKIT X PEKANBARU

    No full text
    Background Obesity can occur due to the accumulation of excess fat in the body.Obesity has been declared as a global epidemic by the World Health Organization (WHO). In 2016, more than 1,9 billions adults were overweight. In 2018, it was found that 24,1% of adults in Riau Province were obese with an incidence higher in women than men. Research Objectives This research is an analytical study to determine the comparison of nutritional status based on the data that has been collected from body mass index (BMI) measurement and body fat percentage measurement by DXA Scan, which was carried out on 364 adults aged 19-65 years. Metodology The data that has been obtained from BMI measurement will be grouped to four categories and the data that has been obtained from body fat percentage will be grouped to five categories based on their gender. The bivariate analysis using paired T Test will be done to see the p value. Conclusion From this study, it was found that most of the  subjects were obese. According to the BMI examination, about 50,27% of the subjects were  categorized as obese. Meanwhile, according to the body fat percentage measurement using DXA Scan, about 89,56% of subjects were included in the obese category. Based on the p value of 0,001 that obtained from the paired t test, it can be concluded that there are significant differences between these two methods.   Keywords : BMI, DXA Scan, nutritional status, obes

    ASTAXANTHIN MENGHAMBAT PERLEMAKAN HATI DAN PENINGKATAN KADAR SERUM GAMMA-GLUTAMYLTRANSFERASE PADA TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIBERI MINYAK JELANTAH

    Full text link
    ABSTRACT Non-alcoholic fatty liver can be triggered by used cooking oil consumption due to the formation of free radicals and the accumulation of fatty acids in the body. Astaxanthin is a powerful antioxidant that may be able to inhibit the pathogenesis of fatty liver. This study aims to determine the effect of astaxanthin in inhibiting fatty liver (steatosis) and levels of Gamma-Glutamyltransferase (GGT) in male Wistar rats given used cooking oil. An experimental study with Post-test Only Control Group Design was conducted on 36 male Wistar rats aged 3.5-4 months with an approximate bodyweight of 200-210 grams divided randomly into 2 groups. The control group was given 0.42 ml of used cooking oil + 0.5 ml of distilled water, and the treatment group was given 0.42 ml of used cooking oil + 0.2 mg of astaxanthin each day for 14 days. On day 15, blood tests and hepatic histopathology were performed to check  GGT serum levels and steatosis. The comparative test was conducted to compare the results of the control and treatment groups. The results showed that the mean steatosis and GGT levels in the treatment group were significantly lower than the control group. It can be concluded that giving astaxanthin can inhibit fatty liver (steatosis) and increase GGT serum levels in male Wistar rats given used cooking oil.   Keywords: Astaxanthin, Fatty liver, Gamma-glutamyltransferase, Used cooking oi

    TERAPI NUTRISI PADA STROKE PERDARAHAN DISERTAI HIPONATREMIA DAN HIPOKALEMIA

    Full text link
    Stroke adalah episode disfungsi neurologis akut yang diduga disebabkan oleh iskemia atau perdarahan, bertahan setidaknya 24 jam atau sampai kematian, tetapi tanpa bukti yang cukup untuk diklasifikasikan selain vaskular. Stroke perdarahan menyebabkan kecacatan dan kematian yang signifikan. Dengan perawatan yang optimal sekalipun, lebih dari 30% pasien stroke mengalami cacat berat pasca stroke. Malnutrisi seringkali ditemukan pada pasien stroke akut dan selama periode rehabilitasi. Malnutrisi  berhubungan erat dengan luaran yang buruk pada pasien. Pada laporan kasus ini didapatkan seorang laki-laki usia 64 tahun dengan keluhan tidak dapat makan dan minum melalui mulut karena kesadaran menurun dan didiagnosis perdarahan otak non traumatik dengan moderate protein energy malnutrition, leukositosis (11.700 103/uL), deplesi sedang system imun (1029,6 cell/m3), hiponatremia sedang (126 mmol/L), hipokalemia ringan (3,2 mmol/L).  Terapi  nutrisi diberikan  2100 kkal energi, protein 1,5 g/ kgBBI/hari, karbohidrat 287,5 g dan lemak 85,6 g berupa nutrisi enteral. Suplementasi diberikan zinc, b kompleks, curcuma, asam folat dan ksr. Setelah 15 hari perawatan, pasien mengalami perbaikan klinis dan metabolik. Pentingnya penilaian awal dan terapi dini sangat diperlukan guna mencegah terjadinya malnutrisi dan menghasilkan luaran yang baik

    POTENSI AKTIVITAS ANTIMIKROBA MADU DAN HABBATUSSAUDA TERHADAP BAKTERI ESCHERICHIA COLI SECARA IN VITRO

    Full text link
    Madu dan habbatussauda memiliki aktivitas antibakteri. Komponen yang terdapat di dalam madu antara lain keasaman, tekanan osmotik, dan hidrogen peroksida, asam aromatik serta omponen fenol juga berperan dalam aktivitas antibakteri. Sedangkan habbatussauda sendiri tannin, tymoquinon, thymol, a-pinene, p-cymene dengan cara menghambat pembentukan asam nukleat (RNA) dan sintesis protein yang berperan sebagai antibakteri dan antioksidan pada proses infeksi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui potensi antibakteri madu dan Habbatussauda terhadap bakteri Escherichia coli. Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan metode Post Test Only Control Group Design yang dilakukan secara in vitro. Hasil dari penelitian in vitro menunjukan bahwa terdapat pengaruh pemberian perlakuan madu, habbatussaudah dan kombinasi terhadap daya hambat pertumbuhan e-coli (<0.05)

    PEMBERIAN L-ALANYL L-GLUTAMYL DENGAN ASUPAN TINGGI PROTEIN PADA PASIEN LUKA BAKAR LISTRIK 48% DERAJAT II-III

    Full text link
    Luka bakar merupakan masalah kesehatan masyarakat yang paling sering ditemukan pada usia produktif. Data unit luka bakar rumah sakit di Indonesia menunjukkan terjadinya peningkatan mortalitas. Pada luka bakar berat terjadi hipermetabolisme dan proteolisis yang tinggi sehingga diperlukan terapi nutrisi yang tepat dan dini. Dilaporkan kasus seorang laki-laki, 18 tahun dengan keluhan nafsu makan melalui oral menurun dengan diagnosis severe protein energy malnutrition, luka bakar listrik 48% grade II-III. Terapi nutrisi yang diberikan adalah diet energi 3350 kkal melalui oral dan parenteral dengan komposisi protein: karbohidrat: lemak = 14,3%: 50%: 35,7%. Diet dimulai dengan 40% lalu 80% dan 100% dari total energi (hari ke-III). Kebutuhan protein 2,0 g/kg/hari dengan suplementasi parenteral glutamin (13,46 g/hari). Suplementasi mikronutrien berupa zink 40 mg/24 jam, ekstrak ikan gabus 480 g/hari, vitamin B1 4 mg/8 jam, vitamin C 500 mg/12 jam, vitamin A 10.000 IU/24 jam. Perbaikan balans nitrogen dari -7,7 menjadi +5,36. Albumin dan protein total mengalami perbaikan dari 2, 4 g/dl menjadi 3,5 g/dl dan 6,8 g/dl menjadi 6,8 g/dl. Penyembuhan luka terjadi dengan baik (inflamasi-repair dan remodeling) selama tiga puluh tiga hari masa perawatan. Kesimpulan: suplementasi glutamin dengan asupan tinggi protein dapat mempercepat penyembuhan luka, dan mencegah mortalitas pada pasien luka bakar berat

    MENURUNKAN INFLAMASI PASIEN SLE DAN GIZI BURUK DENGAN SUPLEMENTASI MIKRONUTRIEN

    Full text link
    Latar Belakang Lupus eritematosus sistemik (Systemic Lupus Erythematosus)(SLE) merupakan penyakit inflamasi autoimun kronis dengan etiologi yang belum diketahui serta manifestasi klinis. Laporan Kasus Nn.M, Perempuan, 20 Tahun dikonsul dengan bagian penyakit bagian Interna divisi Ginjal Hipertensi untuk evaluasi dan penatalaksanaan gizi serta rawat bersama dengan diagnosis medis Sistemik Lupus Eritematosus dan anoreksia Asupan makan berkurang dialami sejak 2 minggu yang lalu karena tidak ada nafsu makan. Mual ada setiap kali makan, muntah tidak ada, nyeri ulu hati ada, demam tidak ada, riwayat demam ada terutama malam hari, badan lemas,tidak mampu berdiri maupun duduk sendiri, batuk ada sejak 2 minggu, lendir ada. Penurunan berat badan ada ±4 kg dalam 2 minggu(BB dulu 35 kg). Asupan 24 jam 97,5 kkal. Pasien didiagnosis dengan status gizi buruk, status metabolik anemia (Hb 6,2 g/dl), deplesi berat sistem imun (TLC 400/uL), Hipertrigliseridemia 236 mg/dl, risiko refeeding, hipoalbumin berat 2.2 g/dl dan status gastrointestinal fungsional. Penatalaksanaan nutrisi dengan target awal energi 2000 kkal, oleh karena pasien dengan resiko refeeding maka dilakukan penatalaksanaan nutrisi 10-15 kkal/hari selama 3 hari  dengan pemberian thiamin 300 mg/hari serta perbaikan kadar kalium darah. Setelah terlewati 3 hari , nutrisi dinaikkan sesuai toleransi pasien sampai 2500 kkal dengan komposisi protein 2 gr/kg BBI/hari(16%), karbohidrat 60%, lemak 24% melalui oral berupa makanan lunak sesuai toleransi, formula nutrican, jus buah tinggi kalium, madu,  dan olive oil, zink 20 mg/24 jam, Ca hydrogen phosphate 400 mg, Ca laktat 200 mg, Vitamin B6 40 mg, Vitamin C 50 mg, Vitamin D3 200 IU, fish oil(EPA) 2000 mg/24 jam, ekstrak ikan gabus 3 kapsul/8 jam. Setelah 15 hari perawatan, status gizi buruk dengan perbaikan pasien secara klinis(IMT 14,5 kg/m2), hemoglobin 10.7 g/dl, deplesi berat sistem imun (TLC 600/uL), hipoalbumin ringan 3.1 gr/dL. Kesimpulan Dukungan nutrisi optimal dapat membantu untuk mengendalikan inflamasi yang ditemukan akibat penyakit SLE dan komplikasi yang disebabkan efek samping pengobatan

    PENGARUH GIZI TERHADAP RESPON TERAPI PASIEN CHRONIC MYELOCYSTIC LEUKIMIA (CML)

    Full text link
    Latar Belakang Penyakit kanker darah atau yang sering disebut dengan leukemia adalah salah satu penyakit yang mematikan. Penyakit ini merupakan kurangnya sel darah merah pada system produksi darah di tubuh manusia dan memproduksi sel darah putih dengan jumlah yang berlebihan. Laporan Kasus Tn I, Laki-laki, 37 tahun dikonsul oleh bagian Interna dengan Chronic Myelocystic Leukimia. Keluhan utama Asupan makan berkurang dialami sejak 5 bulan yang lalu dan memberat dalam 2 bulan terakhir karena nafsu makan menurun, mual  , tidak muntah, riwayat muntah ada, Ada gangguan menelan  ,rasa cepat kenyang , ada demam ,ada riwayat demam , batuk, tidak  sesak, penurunan berat badan ada tetapi besarnya tidak diketahui. Asupan 24 jam 550 Kkal. Pasien didiagnosis dengan status gizi buruk ( LLA = 59,32%), status metabolik anemia normositik normokrom (Hb 7,9 g/dl ),  Hipoalbuminemia  ( Albumin 2,9 gr/dl ), Hipoglikemia ( GDS 67 mg/dl ), leukositosis ( 53.550 /uL ) , dan status gastrointestinal fungsional. Penatalaksanaan Nutrisi dengan pemberian Energi 1600 Kkal yang diberikan secara bertahap sesuai toleransi pasien dan manajemen peningkatan berat badan dilakukan bertahap jika kebutuhan energi telah tercapai. Protein diberikan 1,5 gram/KgBBI/ hari ( 19%), Karbohidrat 50% dan lemak 31%. Pemberian asupan via oral berupa makanan lunak, formula peptisol, buah, dan putih telur 3 butir / hari. Suplementasi diberikan berupa zinc 20 mg/24 jam, Curcuma 40 mg/8 jam, ekstrak ikan gabus 2 kapsul/8 jam, Vitamin B1 100 mg, Vitamin B6 200 mg, Vitamin B12 200 mg, Vitamin C 100 mg/24 jam. Setelah perawatan selama 16 hari, terjadi peningkatan LLA dari 17,5 cm menjadi 19 cm, Hb 7,9 gr/dl menjadi 11,9 gr/dl dengan transfusi PRC 3 kantong. Kadar sel darah putih saat masuk rumah sakit adalah 53.550/uL dan saat dipulangkan 29.000/uL . Pada saat awal di rawat, kadar albumin pasien adalah 2,9 g/dL. Kemudian turun menjadi 2.5 g/dL. Pada saat albumin turun menjadi 2.5 g/dL, pasien di anjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang tinggi protein, memberikan formula tinggi protein dan pemberian ekstra putih telur dan setelahnya kadar albumin pasien naik menjadi 3.2 g/dL sebelum dipulangkan untuk rawat jalan. Kesimpulan Malnutrisi pada penderita kanker secara negatif berpengaruh terhadap respon terapi, komplikasi, kualitas hidup dan survival penderita. Intervensi nutrisi yang optimal, monitoring serta edukasi gizi menunjukkan perbaikan status gizi serta perbaikan status metabolik

    PEMBERIAN PROTEIN YANG ADEKUAT MEMPERCEPAT PENUTUPAN BURST ABDOMEN PADA PASIEN GERIATRI DENGAN TUMOR KOLON

    Full text link
    Pendahuluan Burst abdomen adalah terpisahnya jahitan luka pada abdomen secara parsial atau komplit salah satu atau seluruh lapisan dinding abdomen pada luka post operatif disertai protrusi dan eviserasi isi abdomen yang merupakan komplikasi tindakan bedah karena tidak adekuatnya perawatan luka, pengobatan, dan dukungan nutrisi. Resume kasus Seorang laki-laki berumur 85 tahun, dikonsul  dari bagian bedah digestif dengan diagnosis medis Burst abdomen post operasi laparatomi dan colostomi et causa tumor colon rectosigmoid, keluhan utama luka terbuka  di perut dan asupan tidak adekuat, Riwayat penurunan berat badan kurang dari 5 kg selama 1 bulan terakhir. Buang air besar via colostomi. Pemeriksaan antropometri didapatkan LLA 18 cm. Pada pemeriksaan fisik ditemukan, anemia (+), Loss of subcutaneus fat (+), terdapat wasting pada keempat ekstremitas. Pemeriksaan laboratorium didapatkan deplesi berat sistem imun (874), hipoalbuminemia (2.6), anemia (9.6) dan hipokalemia (2.9). Kebutuhan Energi Terkoreksi : 1394 kkal dengan komposisi makronutrien: Protein: 1,7 gr/kg BBI/hari = 79.92 gr =22%, Karbohidrat : 55%= 192,5 gr, Lemak : 23% = 35,7gr. Penatalaksanaan nutrisi perioperatif  yang diberikan bertujuan sebagai manajemen nutrisi perioperatif, meningkatkan status gizi dan memperbaiki status metabolik pasien, mempercepat penyembuhan luka dan memberikan edukasi gizi ke pasien. Operasi repair wound dilakukan dengan nilai PNI 36,5.Pada hari ke-13 post operasi terjadi dehisensi luka. Peningkatan pemberian protein sebesar 2 gram /kgBBI/hari karena tidak adanya peningkatan kadar albumin. Setelah diintervensi pada hari ke 35 post operasi mulai terjadi perbaikan  luka operasi. Pada pasien ini juga dilakukan program peningkatan berat badan( penambahan kalori secara bertahap dengan maksimal pemberian sebesar 1000 kkal) untuk perbaikan status gizi . Pada Monitoring dan evaluasi  asupan membaik, antropometri terjadi peningkatan (LLA 20,5cm)dan pada pemeriksaan laboratorium didapatkan perbaikan kadar TLC (2.769), albumin (3,8) dan kalium (5,3) serta  kadar Hb (11).Lama perawatan perioperatif 100 hari. Kesimpulan Intervensi nutrisi yang optimal, monitoring serta edukasi gizi diperlukan untuk menunjang perbaikan kondisi klinis pasien pre dan post operatif dengan burst abdomen. Intervensi nutrisi yang optimal, monitoring serta edukasi gizi yang baik menunjukkan adanya perbaikan asupan kalori, status metabolik sehingga dapat mengurangi risiko infeksi, lama rawat dan mortalitas yang berefek pada perbaikan luka

    55

    full texts

    67

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    IJNP (Indonesian Journal of clinical nutrition physician)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇