IJNP (Indonesian Journal of clinical nutrition physician)
Not a member yet
67 research outputs found
Sort by
TERAPI NUTRISI PADA KARSINOMA LIDAH DENGAN MALIGNANCY RESIDIF DAN SEVERE PROTEIN ENERGY MALNUTRITION
Abstrak
Karsinoma lidah merupakan tumor ganas invasif yang berasal dari jaringan epitel yang dapat mengenai bagian oral lidah di rongga mulut atau pangkal lidah di orofaring serta cenderung untuk bermetastasis ke bagian tubuh lainnya 1 Tujuan utama terapi nutrisi pada penderita kanker adalah untuk mempertahankan atau meningkatkan status gizi sehingga dapat memperkecil terjadinya komplikasi, meningkatkan efektivitas terapi kanker (bedah, kemoterapi, radiasi), kualitas hidup dan survival penderita. Pria, 60 tahun dikonsul dengan diagnosis Tumor Lidah Malignancy Residif dan malnutrisi berat (Subjective Global Assesment Skor C). Pasien memiliki riwayat asupan yang kurang karena gangguan menelan akibat tumor lidah sejak 2 tahun lalu, serta karena kesulitan menelan makanan karena perdarahan dari ulkus yang terdapat di bawah lidah dan tembus ke bawah dagu pasien dalam 3 hari terakhir. Terapi nutrisi diberikan dengan target 1600 kkal secara bertahap melalui enteral dengan protein 1,2-1,4 gram/kgBB ideal/hari. Suplementasi yang diberikan adalah Zinc, Vitamin B kompleks, Vitamin C, Vitamin D, Vitamin A, Curcuma dan Kapsul ikan gabus . Pada akhir masa perawatan terdapat perbaikan metabolik seperti anemia, deplesi sistem imun, albumin dan peningkatan kapasitas fungsional. Terapi nutrisi pada kanker lidah dengan pemenuhan makronutrien dan mikronutrien yang memadai dan imunonutrisi sangat penting untuk meningkatkan status gizi dan perbaikan sistem imun
EFEKTIVITAS SUPLEMENTASI VITAMIN K TERHADAP KONTROL GLIKEMIK PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2: EVIDENCE BASED CASE REPORT
Latar belakang: Terdapat beberapa bukti penelitian prospektif observasional dan uji klinis yang menunjukkan penurunan risiko diabetes melitus (DM) dengan suplementasi vitamin K melalui perannya terhadap respon insulin, efek insulinotropik, dan modulasi vitamin K-dependent protein.
Tujuan penelitian: Studi ini bertujuan untuk menelaah secara kritis mengenai efek suplementasi vitamin K terhadap kontrol glikemik pada pasien DM tipe 2.
Metode: Pencarian literatur dilakukan pada 3 database yaitu PubMed, Cochrane dan Scopus. Literatur yang sesuai dengan
PICO kemudian diseleksi berdasarkan kriteria eligibilitas dan dilakukan telaah kritis.
Hasil: Terpilih 2 artikel dengan studi randomized controlled trial (RCT). Kedua artikel tersebut menunjukkan pengaruh yang signifikan setelah pemberian suplemen vitamin K terhadap status glikemik pada pasien DM tipe 2. Artikel pertama menunjukkan dengan pemberian kapsul MK-7 sebesar 200 μg/hari selama 12 minggu, nilai glukosa darah puasa (GDP) (MD=24,37; 95% IK: 3,37-45,37; p: 0,02) dan HbA1c (MD=1,23; 95% IK: 0,21-2,26; p: 0,01) secara signifikan lebih rendah pada kelompok MK-7 dibandingkan plasebo. Artikel kedua juga menunjukkan dengan memberikan MK-7 180 μg dua kali sehari selama 12 minggu, kadar GDP (effect size (ES)=−0,68; p-adjusted=0,031) dan HbA1c (ES=−0,36; p-adjusted=0,004) pada kelompok Mk-7 secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan plasebo.
Kesimpulan: Kedua artikel menunjukkan hasil yang konsisten dalam menurunkan kadar GDP dan HbA1c. Studi dengan ruang lingkup terapi yang membahas topik ini masih terbatas, sehingga diperlukan studi selanjutnya untuk mengonfirmasi temuan ini dan untuk mendukung rekomendasi suplementasi vitamin K dalam regimen terapi pasien DM tipe 2.
Kata kunci: vitamin K, diabetes, kontrol glikemik, glukosa darah puasa, HbA1
WANITA 62 TAHUN DENGAN MALNUTRISI BERAT DAN TOXIC EPIDERMAL NECROLYSIS
Malnutrition and skin problems are interrelated; therefore malnutrition will reduce the function of innate and adaptive immunity. The skin contains immune cells that is crucial for host defense. A 62-year-old female patient was diagnosed with Toxic Epidermal Necrolysis (TEN) due to an unknown drug allergy and severe malnutrition. The patient has a history of inadequate intake for 1 year ago and has worsened in the last 2 weeks due to blisters all over the skin, especially in the labium oris area after taking an unknown analgetic medication. Nutrition therapy had given with a target of 1900 kcal/day gradually increased to 2200 kcal/day through enteral and parenteral with a protein of 1.5 grams/kgIBW/day. Because of patients has history of aversion to food types such as chicken, eggs, fish, cow's milk, and dairy products, so patient had given soy-based polymeric formula and Parenteral Nutrition Supplement to achieve nutrition requirement. Supplementations administered were zinc, vitamin A, vitamin B complex, and vitamin C. At the end of the treatment period there were metabolic improvement such as wound healing without secondary skin infection and improvement of albumin serum from 2,3 g/dL to 3,3 g/ dL. Patients experienced side effects due to systemic corticosteroids in the form of moon face, severe muscle wasting, hyperglycemia, and hypertension. However, the use of systemic corticosteroids should pay attention to whether the benefits outweigh the disadvantages.
Keywords: toxic epidermal necrolysis, malnutrition, corticosteroid, aversio
PENGARUH PEMBERIAN TEH ROSELA UNGU (HIBISCUS SABDARIFFA LINN) TERHADAP PROFIL LIPID PADA TIKUS HIPERKOLESTEROLEMI
Latar Belakang : Dislipidemia merupakan faktor risiko terjadinya penyakit kardiovaskular yang menjadi salah satu penyebab utama kematian di dunia. Bunga rosela sebagai tanaman herbal yang popular di masyarakat Indonesia mengandung bahan aktif yang dapat memperbaiki profil lipid. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian seduhan kelopak rosela terhadap profil lipid tikus wistar yang diberi pakan tinggi lemak.
Metode : Penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorium dengan design pre-post test dengan kelompok kontrol, menggunakan 24 ekor tikus wistar jantan usia 3 bulan, dibagi menjadi 4 kelompok yaitu kelompok kontrol diberi pakan standar dan minum ad libitum, kelompok perlakuan P1 diberi pakan standar dan seduhan rosela dosis 1340 mg/KgBB/hari, kelompok perlakuan P2 diberi pakan standar dan seduhan rosela dosis 2700 mg/KgBB/hari, kelompok perlakuan P3 diberi pakan standar dan seduhan rosela dosis 4020 mg/KgBB/ hari selama 30 hari. Pada awal dan akhir perlakuan diambil serum darah untuk mengetahui kadar trigliserida, kolesterol total, HDL, dan LDL.
Hasil: Pemberian rosela pada ketiga kelompok perlakuan mengalami penurunan kadar trigliserid, kadar LDL, Peningkatan kadar kolesterol, dan kadar HDL secara bervariasi. Kelompok P3 menunjukan penurunan kadar trigliserid sebesar -61,00±45,41 (p<0,05) lebih baik dibanding kelompok lain. Kelompok P2 menunjukan peningkatan kadar HDL sebesar 10,20±9,89 (p>0,05) lebih baik dibanding kelompok lain. Kelompok P2 menunjukan penurunan LDL sebesar -5,50±7,06 (p>0,05) dibanding kelompok lain.
Kesimpulan: Pemberian teh rosela dengan dosis 4020 mg/KgBB/hari selama 30 hari mampu menurunkan kadar trigliserida secara signifikan (p<0,05) pada tikus hiperkolesterolemi.
Kata Kunci : Profil lipid, Rosela, Tikus Wista
TERAPI MEDIK GIZI PADA PASIEN SPACE OCCUPYING LESION SEREBELUM METASTASIS DENGAN RISIKO TINGGI SINDROM REFEEDING
Metastasis otak merupakan keganasan terbanyak pada susunan saraf pusat yang dapat menimbulkan penurunan kesadaran, menurunkan asupan nutrisi, meningkatkan risiko malnutrisi serta terjadinya gangguan elektrolit yang dapat meningkatkan risiko terjadinya sindrom refeeding. Laporan kasus ini bertujuan untuk membahas tatalaksana pasien dalam menjaga status nutrisi dan meningkatkan kualitas hidup pada pasien space occupying lesion (SOL) serebelum metastasis dengan risiko sindrom refeeding. Laporan kasus berasal dari pasien rawat inap yaitu perempuan berusia 54 tahun dengan diagnosis hidrosefalus obstruktif ec SOL serebelum suspek metastasis, karsinoma mammae sinistra stadium III T3N3M1 dengan malnutrisi berat, kaheksia kanker, dan risiko tinggi sindrom refeeding. Pasien mengalami kondisi malnutrisi dan terdapat gangguan elektrolit. Pasien menalami penurunan kesadaran dan membutuhkan jalur nutrisi artifisial. Pasien mendapatkan terapi medik gizi berupa peningkatan nutrisi bertahap dan koreksi elektrolit. Namun, kondisi klinis pasien kurang baik ditandai adanya efusi pleura masif dan perdarahan saluran cerna sehingga pasien dalam kasus tersebut meninggal. Pemberian nutrisi pada pasien dengan risiko sindrom refeeding disesuaikan dengan kondisi klinis, ditingkatkan bertahap, dan mengatasi gangguan elektrolit.
kata kunci : kaheksia, kanker, malnutrisi, metastasis, sindrom refeedin
KECEPATAN PENCAPAIAN TARGET ENERGI DAN PROTEIN SERTA HUBUNGANNYA DENGAN PENURUNAN INDEKS MASSA TUBUH DAN LINGKAR LENGAN ATAS PADA PASIEN STROKE
Background: Some anthropometrics assessment on risk of malnutrition are by measuring the mid-arm circumference (MAC) and calculating the body mass index (BMI).
Objective: To analyze the relationship between days of energy and protein target achievement to the reduction of MAC and BMI in stroke patients in Indonesia.
Method: The study design was an observational study with a cross-sectional approach to determine the relationship between days of energy and protein target achievement to the reduction of MAC and BMI. A total of 55 subjects who met the inclusion and exclusion criteria were taken at the Stroke Unit of RSUP Dr. Kariadi Semarang during January-March 2021. MAC measurements and BMI calculations were carried out. Analysis of the relationship between dependent and independent variables using the chi square statistical test.
Results: Most of the subjects achieved their energy and protein targets within ≤ 3 days. Days of energy and protein target achievement did not correlate with the reduction in MAC and BMI statistically (p> 0.05), but the research data stated that as a percentage, one third of the subjects who reached the energy and protein targets ≤ 3 days did not experience reduction.
Conclusion: All subjects were stroke patients aged 19-59 years where 49 (89,1%) could meet their energy and protein targets within ≤ 3 days and 17 (34,7%) subjects did not experience reduction in MAC and BMI.
Keywords: Stroke, MAC, BMI, malnutrition, anthropometry
 
ASSOCIATION BETWEEN ENTERAL NUTRITION AVAILABILITY WITH NUTRITIONAL FULFILLMENT AND NUTRITIONAL STATUS IN HEAD AND NECK CANCER PATIENTS
Background: The availability of enteral nutrition is one of nutritional intervention that can be given to prevent a decrease in nutritional intake and nutritional status in HNC patient.
Research objective: This study aims to see the correlation between the availability of enteral nutrition with nutritional fulfillment and nutritional status.
Methodology: A cross sectional study was conducted on adult subjects with HNC after radiation therapy at the RSCM radiotherapy outpatient clinic. Nutritional fulfillment was assessed by semi-quantitative FFQ while nutritional status was measured by calculating body mass index (BMI).
Research results: Forty-one subjects mean age of 51 years participated in the study. The mean BMI of subjects with enteral nutrition was lower than those on oral nutrition, 18,2±2,6 kg/m2 compared to 21,2±3,5 kg/m2 respectively. The mean total energy intake of subjects with enteral nutrition route was higher, which was 1498,1±430,6 Kcal/day compared to 1291,4±393,3 Kcal/day. There was a moderate negative correlation between the availability of enteral nutrition and nutritional status (r=-0,346, p=0,027), meanwhile there was a weak positive correlation with nutritional fulfillment (r=0,216, p=0,174). However, in this study we found that the proportion of subjects with enteral nutrition who experienced a decrease in BMI was less than the proportion of subjects on the oral route, which was 22,2% compared to 43,8% respectively.
Conclusion: There is a moderate negative correlation between the availability of enteral nutrition with nutritional status and a weak positive correlation with nutritional fulfillment which is still influenced by confounding factors
SOCIODEMOGRAPHIC PROFILE, PHYSICAL ACTIVITY, DIETARY PATTERNS, AND NUTRITIONAL STATUS OF VEGETARIANS
Vegetarianism is one of the most popular dietary patterns in the world, and Indonesians are as well. This study was conducted to determine the profile of vegetarians in Palembang based on socio-demographic characteristics, physical activity level, dietary type, total energy intake, total macronutrient intake, and nutritional status. This study is a descriptive observational study with a cross-sectional design. Maha Vihara Maitreya Duta (MVMD) was the vegetarian population in this survey. Participants who agreed to take part in the survey were at least 18 years old, have been vegetarian for at least three years, were not pregnant or planning to become pregnant, and did not have any chronic ailments. A total of 148 samples were acquired using a consecutive sampling technique. To establish nutritional status, Primary data were collected by completing food recall interviews during the last 24 hours on two non-consecutive days. and measuring height and weight to determine nutritional status. The highest age range of participants was 30–49 years (54,1%). The majority of the population was female (61,5%) and had a college degree (56,1%). Most participants work (85,8%), engage in light-to-moderate physical activity, and have a normal body mass index range (68,2%). Most ate lacto-ovo-vegetarian (59,5%). Most participants were vegetarian for 6-10 years (31,1%). Most motivations for becoming a vegetarian are health-related (45,3%). Vegans consumed more calories, carbs, and protein than non-vegans, but less fat. Most vegan and non-vegan respondents had good nutritional status and were in the sufficient category for achieving calorie and macronutrient requirements
PENGARUH METODE BOILING TERHADAP KADAR VITAMIN C PADA TUMBUHAN KELAKAI (STENOCHLAENA PALUSTRIS)
Background: Kelakai (Stenochlaena palustris) is a local vegetable of the Dayak tribe that contains Vitamin C, and the majority is cooked by boiling.
Research Objectives: The aim of this study was to determine the effect of the boiling method on vitamin C levels in the kelakai plant.
Method: This research was an experimental study to test vitamin C on samples of fresh kelakai, boiled kelakai (3 minutes), and positive control using UV-Vis Spectrophotometry qualitatively and quantitatively. The results were then statistically tested.
Results: The vitamin C content of fresh kelakai was 0.001704 mg/g, boiled kelakai for 3 minutes was 0.000846 mg/g, and the positive control was 0.006840 mg/g. The statistical Kruskal-Wallis test and post-hoc Mann-Whitney test showed that there were very significant differences in vitamin C levels in samples of fresh kelakai, boiled kelakai, and positive control (p =0,001).
Conclusions: According to the results of statistical tests, there are differences in vitamin C levels in samples of fresh kelakai, boiled kelakai, and positive control
TERAPI GIZI PADA LAKI – LAKI, 70 TAHUN DENGAN ABSES HEPAR, BRONKOPNEUMONIA, REFEEDING SYNDROME, MALNUTRISI BERAT, SARKOPENIA, FRAILTY, DAN SINDROMA GERIATRI
Latar Belakang:
Prevalensi abses hepar di dunia mencapai 2,3 kasus per 100.000 penduduk. Keluhan mual, muntah, anoreksia, dan nyeri perut yang merupakan keluhan utama abses hepar tentunya akan menurunkan asupan pasien. Pasien abses hepar sering datang dengan riwayat starvasi lama sehingga berisiko refeeding syndrome Pengobatan abses hepar adalah drainase secara operasi sehingga terapi nutrisi perioperatif menjadi salah satu kunci keberhasilan terapi multidisiplin.
Laporan Kasus:
Tn B, 70 tahun, datang dengan keluhan mual, dan muntah setiap kali makan sejak 1 bulan SMRS disertai nyeri perut kanan atas, demam, dan menggigil. Pasien juga mengeluhkan penurunan berat badan dan starvasi sejak 1 bulan. Pemeriksaan fisik abdomen terdapat nyeri tekan kuadran kanan atas (+). Sebelum diberikan terapi nutrisi, pasien mengalami refeeding syndrome akibat overfeeding yang ditandai dengan deplesi kalium dan magnesium progresif. Pasien diberikan diet mulai dari 10 kkal/kgBB/hari dan untuk terapi refeeding diberikan suplementasi tiamin dan B kompleks serta koreksi MgSO4 dan KCl. Diet mencapai target pada hari ke-5 perawatan. Pasien dilakukan tindakan laparoskopi drainase abses sesuai prosedur ERAS. Pada masa pemulihan pasca operasi, pasien diberikan suplementasi vitamin A, vitamin C, dan zinc. Pasien juga diberikan ONS yang mengandung vitamin A, vitamin E, tembaga dan selenium, omega 3, dan branched chain amino acids.
Kesimpulan:
Keberhasilan terapi gizi pada pasien ini tampak dari pasien dapat segera ditatalaksana untuk mencegah kondisi fatal akibat refeeding, terjadi peningkatan asupan, berat badan, peningkatan kekuatan genggaman, dan tidak terjadi wound dehiscence selama perawatan di rumah sakit.
Kata kunci: abses hepar, refeeding syndrome, sarkopenia, terapi nutris