27468 research outputs found
Sort by
Analysis The Effect of Memorable Tourism Experience on Revisit Intention: The Mediating Role of Destination Satisfaction and Destination Advocacy (Study on Baturraden Tourist)
Penelitian ini merupakan studi survei terhadap wisatawan yang telah mengunjungi
Kawasan Wisata Baturraden di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Penelitian ini
berjudul "Analisis Pengaruh Memorable Tourism Experience terhadap Niat
Berkunjung Kembali: Peran Mediasi Kepuasan Destinasi dan Advokasi Destinasi
(Studi pada Wisatawan Baturraden)." Tujuan penelitian ini adalah untuk
menganalisis pengaruh Memorable Tourism Experience (MTE) terhadap niat
berkunjung kembali, dengan kepuasan destinasi dan advokasi destinasi sebagai
variabel mediasi. Penelitian ini menggunakan data dari 237 responden, yang
dipilih melalui metode survei terstruktur, dengan penyebaran kuesioner secara
luring (offline) dan daring (online).
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode Structural
Equation Modeling (SEM) menggunakan AMOS untuk menguji hubungan
antarvariabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Memorable Tourism
Experience (MTE) berpengaruh positif terhadap kepuasan destinasi, (2)
Memorable Tourism Experience (MTE) berpengaruh positif terhadap advokasi
destinasi, (3) Memorable Tourism Experience (MTE) berpengaruh langsung
positif terhadap niat berkunjung kembali, (4) Kepuasan destinasi berpengaruh
positif terhadap niat berkunjung kembali, (5) Advokasi destinasi berpengaruh
positif terhadap niat berkunjung kembali, (6) Kepuasan destinasi berpengaruh
positif terhadap advokasi destinasi, (7) Kepuasan destinasi memediasi pengaruh
MTE terhadap niat berkunjung kembali, dan (8) Advokasi destinasi memediasi
pengaruh MTE terhadap niat berkunjung kembali.
Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan Memorable Tourism Experience
(MTE) sangat penting untuk meningkatkan kepuasan wisatawan dan advokasi
destinasi, yang pada akhirnya memperkuat niat wisatawan untuk berkunjung
kembali. Pengelola destinasi wisata dan pemangku kepentingan di Baturraden
perlu berfokus pada peningkatan kualitas pengalaman wisata, memastikan tingkat
kepuasan wisatawan yang tinggi, serta mendorong wisatawan untuk
merekomendasikan destinasi. Upaya yang dapat dilakukan meliputi peningkatan
daya tarik wisata dan layanan, penyediaan pengalaman yang unik dan
menyenangkan, serta mendorong promosi melalui word-of-mouth dan media
sosial. Ketika wisatawan memiliki pengalaman yang bermakna dan memuaskan,
mereka cenderung kembali ke destinasi tersebut dan merekomendasikannya
kepada orang lain. Dengan menciptakan lingkungan wisata yang mendukung dan
menarik, Kawasan Wisata Baturraden dapat meningkatkan loyalitas wisatawan
dan memperkuat posisinya sebagai destinasi unggulan. Hal ini tidak hanya
meningkatkan kepuasan pengunjung, tetapi juga berkontribusi pada pertumbuhan
berkelanjutan sektor pariwisata di kawasan tersebut
Konflik Sosial Pasca Pemberian Bantuan PKH di Desa Tegalsari Kecamatan Bruno Kabupaten Purworejo
Kemiskinan mencerminkan terbatasnya akses pendidikan, layanan kesehatan, dan ekonomi. Untuk mengatasinya, pemerintah meluncurkan Program Keluarga Harapan (PKH) sebagai bantuan sosial bersyarat bagi keluarga miskin. PKH telah membantu meningkatkan akses layanan dasar dan kualitas hidup penerima manfaat. Akan tetapi, masih terdapat ketidakakuratan data penerima yang memicu konflik sosial.
Penelitian ini berjudul “Konflik Sosial Pasca Pemberian Bantuan PKH di Desa Tegalsari Kecamatan Bruno Kabupaten Purworejo” yang bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab, dampak dan resolusi konflik di desa tersebut. Teori yang digunakan yaitu Teori Konflik Ralf Dahrendorf. Penelitian dilakukan di Desa Tegalsari Kecamatan Bruno Kabupaten Purworejo. Metode yang digunakan yaitu kualitatif deskriptif, dengan teknik pemilihan informan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, dengan menggunakan validitas data triangulasi sumber.
Hasil penelitian menunjukkan konflik yang terjadi berupa persaingan antar masyarakat, sindiran, serta protes terhadap perangkat desa dan pendamping PKH. Penyebabnya karena kecemburuan masyarakat non penerima PKH, keterbatasan kuota bantuan, daftar penerima tidak diperbarui, serta kedekatan penerima PKH dengan perangkat desa. Dampak yang ditimbulkan yaitu kekecewaan masyarakat non penerima PKH kepada perangkat desa, perselisihan antar anggota masyarakat, dan meningkatnya solidaritas para penerima PKH. Resolusi yang dilakukan yaitu meningkatkan transparansi kepada masyarakat, mengajukan data pergantian penerima PKH, memberikan bantuan sosial lainnya, serta melaporkan ketidaktepatan penerima PKH melalui aplikasi Cek Bansos.
Kesimpulannya yaitu konflik PKH ini terjadi secara vertikal antara kelompok superordinat seperti penerima PKH, pendamping PKH, tokoh masyarakat, dan perangkat desa, dengan kelompok subordinat yaitu non penerima PKH. Konflik dipicu oleh kecemburuan sosial, keterbatasan kuota bantuan, data penerima yang tidak diperbarui, serta kedekatan penerima dengan perangkat desa. Dampaknya meliputi kekecewaan masyarakat non penerima PKH kepada perangkat desa, perselisihan antar anggota masyarakat, dan meningkatnya solidaritas para penerima PKH. Resolusi dilakukan melalui meningkatkan transparansi, pembaruan data, pemberian bantuan sosial lainnya, dan melaporkan ketidaktepatan penerima PKH melalui aplikasi Cek Bansos. Rekomendasi mencakup pelibatan masyarakat untuk melaporkan data yang tidak tepat, pendamping PKH memantau kelayakan penerima, perangkat desa bersikap adil, dan pemerintah pusat memastikan data akurat
Representasi Feminisme dalam Film Budi Pekerti Karya Wregas Banuteja (Analisis Wacana Kritis Perspektif Sara Mills)
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya interpretasi perempuan di media massa sebagai sosok yang lemah dan termarginalkan. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan posisi subjek-objek, penonton, dan menjelaskan penggambaran perempuan dalam film Budi Pekerti karya Wregas Banuteja berdasarkan analisis wacana perspektif Sara Mills. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui teknik simak bebas libas cakap, catat, rekam, dan transkrip tuturan film Budi Pekerti karya Wregas Banuteja. Data penelitian ini dianalisis menggunakan analisis wacana kritis perspektif Sara Mills kemudian dikombinasikan dengan analisis data dari Miles & Huberman. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 61 data yang terdiri atas 33 data yang menggambarkan posisi subjek atau pencerita. Sementara itu, posisi objek dalam film Budi Pekerti tergambarkan dalam 8 data dan posisi penonton dalam film Budi Pekerti dianalisis melalui 20 data yang diperoleh dari komentar atau ulasan di media sosial seperti Instagram, TikTok, dan X. Penggambaran perempuan dalam film Budi Pekerti dibagi menjadi tiga aspek utama. Pertama, kedudukan perempuan dalam masyarakat ditinjau dari peran gender. Tokoh perempuan menempati peran profesional dan penjaga moralitas yang berperan dalam mempertahankan nilai-nilai dan norma masyarakat. Kedua, karakter tokoh perempuan memiliki kontrol pada relasi kekuasaan. Tokoh perempuan digambarkan memiliki kendali atas hidup dan keputusan mereka, mampu membuat pilihan secara mandiri tanpa tekanan, serta terdapat gambaran ketidaksetaraan antara perempuan dan laki-laki dalam hubungan kekuasaan yang mendorong tokoh perempuan untuk melawan dominasi kekuasaan tersebut. Ketiga, kontribusi perempuan dalam cerita. Tokoh perempuan menentang stereotip tradisional tentang perempuan di masyarakat dan memiliki peran penting sebagai pereda konflik serta penggerak solusi dalam menyelesaikan masalah
Pendampingan Orang Tua Pada Anak Sekolah Dasar Di Kelurahan Grendeng Purwokerto Utara Dalam Mengurangi Kecanduan Menggunakan Gawai
ABSTRAK
Orang tua sebagai figure yang penting bagi anak dalam memberikan arahan agar tidak mendapatkan efek negatif dari penggunaan gadget salah satunya adalah kecanduan. Setiap orang tua ingin anaknya tumbuh menjadi anak yang sesuai dengan harapan orang tuanya sehingga orang tua memiliki tugas untuk melakukan pendampingan . Pendampingan orang tua kepada anak tentu saja membutuhkan kehadiran komunikasi yang baik agar terjadinya pemahaman satu sama lain tanpa adanya kesalahpahaman dengan menggunakan pola asuh yang tepat. Urgensi dalam penelitian ini yaitu bagaimana orang tua mampu mendampingi anaknya yang masih terlalu dini menggunakan gadget agar tidak menjadi kecanduan bermain gadget.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan bagaimana pendampingan yang dilakukan oleh orang tua di Kelurahan Grendeng Purwokerto Utara kepada anaknya dengan menggunakan Teori Parental Development Style (Autoritatif, Otoriter, dan Permisif) milik Diana Baumrind. Peneliti menggunakan paradigma konstruktivisme dengan metode kualitatif deskriptif. Bagian informan peneliti menggunakan purposive sampling dengan Teknik pengumpulan data wawancara, observasi, dan literatur dari buku dan jurnal.
Hasil penelitian yang di dapat menunjukkan bahwa orang tua di Kelurahan Grendeng Purwokerto Utara menggunakan pendampingan yang hangat, terbuka, dan menghargai satu sama lain yang identik dengan pola asuh Autoritatif. Pola asuh yang di gunakan dalam pendampingan Autoritatif mengedepankan kepentingan anak yang ditandai dengan adanya kejelasan aturan yang diberikan oleh orang tua dalam memberikan Batasan menggunakan gadget, membuka ruang diskusi, serta memberikan pemahaman mengenai kegunaan gadget dengan menggunakan bahasa yang muda di pahami oleh anak.
Kata Kunci : Pendampingan Orang Tua, Pola Asuh, Gawa
Determinan Perilaku Orang Tua dalam Pencegahan Obesitas pada Anak Usia Sekolah di Desa Keniten
Menurut WHO tahun 2024 lebih dari 390 juta anak dan remaja berusia 5 hingga 19 tahun mengalami kelebihan berat badan, di antaranya 160 juta yang menderita obesitas. Obesitas anak di Kecamatan Kedungbanteng menjadi 3 kasus tertinggi. Desa Keniten menjadi desa yang paling banyak memiliki kasus obesitas anak yaitu 15 kasus. Pemenuhan gizi yang dilakukan oleh orang tua seringkali berlebih sehingga menyebabkan obesitas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan perilaku orang tua dengan pengetahuan, sikap, paparan media informasi dan dukungan keluarga dalam pencegahan obesitas pada anak usia sekolah. Penelitian kuantitatif analitik dengan desain cross sectional. Responden dalam penelitian ini adalah 90 orang tua dari siswa di SD Negeri 2 Keniten dengan proportional random sampling setelah dilakukan seleksi berdasarkan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Pengambilan data dilakukan menggunakan angket. Analisis data menggunakan uji univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa variabel paparan media informasi (p-value=0,000) dan dukungan keluarga (p-value=0,021) berhubungan dengan perilaku pencegahan obesitas anak. Variabel pengetahuan (0,355) dan sikap (p-value=0,670) tidak memiliki hubungan dengan perilaku pencegahan obesitas anak. Kesimpulan dari penelitian ini adalah paparan media informasi yang baik mempengaruhi perilaku pencegahan obesitas anak yang baik. Disertai dengan dukungan keluarga yang baik dari suami maka perilaku pencegahan dapat dilakukan dengan baik
Implementasi Core Values BerAKHLAK di Badan Pusat Statistik Kabupaten Banyumas
Implementasi merupakan proses pelaksanaan dari suatu kebijakan. Implementasi yang diteliti mengenai kebijakan core values BerAKHLAK di BPS Kabupaten Banyumas. BerAKHLAK merupakan singkatan dari Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif. Core values ini ditetapkan untuk menyelaraskan nilai dan prinsip bagi ASN yang tersebar di seluruh Indonesia agar kinerjanya semakin baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana penerapan core values BerAKHLAK di BPS Kabupaten Banyumas.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Teknik yang digunakan dalam validitas adalah teknik triangulasi sumber. Teknik triangulasi sumber dilakukan dengan menguji data dari berbagai sumber yang akan diambil datanya. Sumber data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder yang didapatkan melalui wawancara mendalam dengan pegawai BPS Kabupaten Banyumas, observasi melalui pengamatan langsung serta terlibat dengan berbagai kegiatan di BPS Kabupaten Banyumas, dan dokumentasi yang didapatkan dari Survei Budaya Organisasi 2024 dan Survei Kebutuhan Dasar 2024. Data tersebut diolah untuk kemudian diperiksa dan disusun secara sistematis agar dapat dianalis dengan baik menggunakan model analisis interaktif. Fokus penelitian meliputi aspek komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi. Aspek komunikasi terdiri dari transmisi, kejelasan, dan konsistensi. Aspek sumber daya terdiri dari sumber daya manusia, anggaran, dan fasilitas. Aspek disposisi terdiri dari komitmen dan reward. Aspek struktur birokrasi terdiri dari SOP dan fragmentasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi core values BerAKHLAK di BPS Kabupaten Banyumas telah berjalan cukup baik. Transmisi dan konsistensi kebijakan sudah terlaksana dengan baik, tetapi masih diperlukan perbaikan untuk memperjelas pemahaman terhadap masing-masing nilai BerAKHLAK. Sumber daya anggaran dan fasilitas sudah optimal tetapi masih perlu penambahan sumber daya manusia untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan nilai BerAKHLAK. Mayoritas pegawai sudah memiliki komitmen yang baik dalam melaksanakan nilai BerAKHLAK dengan didukung pemberian reward Pegawai Terbaik Triwulan. SOP sudah diterapkan pada setiap kegiatan dan terdapat penyebaran tanggung jawab untuk mendukung pelaksanaan core values BerAKHLAK secara maksimal. Rekomendasi penelitian meliputi internalisasi kembali untuk penguatan nilai-nilai BerAKHLAK
Pengembangan Game Edukasi Berbasis Android "Save The Nature" menggunakan Unity untuk Meningkatkan Tingkat Kesadaran Lingkungan Siswa Sekolah Dasar dengan Menerapkan Metode Single Group Pretest-Posttest Design
Isu lingkungan merupakan salah satu masalah paling mendesak di dunia saat ini. Isu lingkungan ini harus dikenalkan sejak usia dini, dengan salah satu target ideal yaitu anak sekolah dasar karena sedang dalam fase perkembangan kognitif yang sangat penting. Pada zaman yang serba digital seperti saat ini, media edukasi pun menjadi sangat beragam, salah satunya yaitu melalui media game. Pada penelitian ini dilakukan pengembangan game edukasi berbasis android dengan menggunakan unity serta metode pengembangan perangkat lunak yaitu Game Development Life Cycle (GDLC). Setelah game berhasil dibuat maka dilanjutkan dengan pengujian Pretest dan Posttest yang mendapatkan rata-rata nilai Normalized-Gain sebesar 0,72 yang termasuk ke dalam kategori tinggi. Selain itu pada pengujian User Acceptance Test didapatkan nilai rata-rata sebesar 81,13% yang termasuk ke dalam kategori sangat baik. Berdasarkan dua hasil perhitungan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa game edukasi “Save The Nature” layak dijadikan media pembelajaran yang edukatif untuk meningkatkan pengetahuan serta kepedulian lingkungan anak sekolah dasar
Efektivitas Inovasi “KANCIL NARI” (Kantor Imigrasi Cilacap Layanan Prioritas) dalam Pemenuhan Pelayanan Paspor Kelompok Rentan di Kantor Imigrasi Kelas I Cilacap
Diskriminasi pelayanan publik yang masih kerap terjadi di Indonesia khususnya bagi masyarakat kategori kelompok rentan, menjadi hambatan penyelenggaraan pelayanan publik berbasis Ramah Hak Asasi Manusia (HAM) yang berperspektif keadilan. Upaya yang dilakukan Kantor Imigrasi Kelas I Cilacap dalam penyelenggaran pelayanan publik ramah HAM salah satunya melalui penerapan Inovasi “Kancil Nari” (Kantor Imigrasi Cilacap Layanan Prioritas). Inovasi “Kancil Nari” juga dikenal dengan layanan prioritas merupakan pelayanan paspor khusus untuk kategori kelompok rentan seperti lansia 60+, balita (0-5 tahun), ibu hamil/ menyusui, dan penyandang disabilitas.
Tujuan penelitian untuk mengetahui sejauh mana efektivitas Inovasi “Kancil Nari” dalam pemenuhan pelayanan paspor bagi kelompok rentan. Metode penelitian menggunakan kualitatif deskriptif. Teknik penentuan informan menggunakan purposive sampling dan accidental sampling. Metode pengumpulan data penelitian menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Adapun konsep analisis efektivitas menggunakan pendekatan sistem menurut Jogiyanto (2017) yaitu: Input, Proses, dan Output.
Hasil penelitian menunjukan bahwa Inovasi “Kancil Nari” efektif dalam memenuhi pelayanan paspor kategori kelompok rentan. Pada aspek Input, telah terpenuhi dasar hukum layanan, petugas pelaksana khusus, fasilitas layanan, dan SOP pelayanan. Aspek proses, pelayanan yang diberikan telah berjalan sesuai ketentuan. Sedangkan pada aspek Output, layanan prioritas telah dimanfaatkan dengan baik serta menunjukan kepuasan pengguna layanan
Pengaruh Konsentrasi Air Kelapa(Cocos nucifera) terhadap Maskulinisasi Ikan Lele (Clarias sp.)
Penelitian ini berjudul “Pengaruh Konsentrasi Air Kelapa (Cocos nucifera) Terhadap Maskulinisasi Ikan Lele (Clarias sp.)”. Teknik maskulinisasi seringkali memanfaatkan hormon sintetik 17α-metiltestosteron Penggunaan hormon 17αmetiltestosteron telah dilaporkan dapat menimbulkan efek penyebab kanker pada ikan konsumsi dan berpotensi mencemari lingkungan, sehingga mempengaruhi keamanan pangan dan kelestarian lingkungan. Salah satu contoh bahan alami yang dapat digunakan dalam maskulinisasi adalah air kelapa. Air kelapa mengandung kalium dimana kalium dapat berperan dalam pengarahan difrensiasi seksual melalui modulasi sirkulasi testosteron dan regulasi aktivitas androgenik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh air kelapa muda dengan konsentrasi berbeda terhadap keberhasilan maskulinisasi larva ikan lele. Metode yang digunakan yaitu menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 kali ulangan. Perlakuan yang diberikan dengan konsentrasi A (kontrol), B (20%), C (30%), D (40%) air kelapa muda. Hasil penelitian ini adalah persentase jantan dan tingkat kelulushidupan ikan lele. Persentase ikan lele jantan terendah terdapat pada perlakuan A sebesar 38,64%dan tertinggi pada perlakuan C sebesar 71,92%. Tingkat kelulushidupan pada saat setelah perendaman terendah terdapat pada perlakuan D sebesar 79%. Tingkat kelulushidupan terendah setelah pemeliharaan selama 70 hari terdapat pada perlakuan A sebesar 20%dan tertinggi pada perlakuan C sebesar 34%
The Effect of Workload and Burnout on Performance with Work Motivation as a Moderating Variable (Study at Rs Islam Purwokerto)
Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengatahui peran Workload dan Burnout Terhadap Kinerja dengan
Motivasi Kerja sebagai variable moderasi. Populasi adalah jumlah dari keseluruhan
dari responden yang akan diteliti. Populasi dalam penelitian ini adalah para tenaga
kesehatan di RS Islam Purwokerto. Jumlah responden yang diambil dalam penelitian
ini adalah 70 responden.
Hasil penelitian dan analisis data melalui aplikasi SmartPLS 3.0 menunjukkan
bahwa: (1) Beban kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kelelahan kerja, (2)
Beban kerja berpengaruh negatif signifikan terhadap kinerja, (3) Kelelahan kerja
berpengaruh negatif signifikan terhadap kinerja, (4) Kelelahan kerja berpengaruh
sebagai variable mediasi dalam hubungan antara beban kerja terhadap kinerja, (5)
Motivasi kerja berpengaruh sebagai variable moderasi dalam hubungan antara beban
kerja terhadap kinerja, (6) Motivasi kerja berpengaruh sebagai variable moderasi dalam
hubungan antara kelelahan kerja terhadap kinerja. Kesimpulan tersebut menunjukkan
dari hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi beban kerja yang ditanggung
oleh para tenaga kesehatan maka semakin besar juga kemungkinan tenaga kesehatan
mengalami kelelahan kerja. Hal ini mengindikasikan bahwa beban kerja yang
berlebihan dapat menjadikan pemicu utama timbulnya kelelahan fisik, dan emosional.
Studi ini membuktikan bahwa peningkatan beban kerja secara signifikan dapat
menurunkan kienrja para tenaga kesehatan. Beban kerja yang terlalu tinggi cenderung
menghambat produktivitas kemudian mampu mengurangi kualitas pekerjaan, serta
meningkatkan tingkat kesalahan dalam kerja. Kondisi kelelahan kerja yang ditandai
dengan kelelahan, sinisme. Dan perasaan tidak kompeten dapat menyebabkan
penurunan motivasi kerja, kemudian kesulitan dalam berkonsentrasi, serta penurunan
kualitas output pekerjaan tersebut. Para tenaga kesehatan yang mengalami kelelahan
kerja terpengaruh kinerjanya karena berusaha mengatasi beban kerja yang tinggi.
Dengan pencegahan dan penanganan kelelahan kerja, maka kinerja para tenaga
kesehatan dapat diatasi pada saat beban kerja sedang tinggi. Para tenaga kesehatan
dengan motivasi kerja yang tinggi cenderung lebih mampu mengatasi beban kerja yang
berat dan tetap mempertahankan kinerja yang baik. Namun sebaliknya, para tenaga
kesehatan dengan motivasi kerja yang rendah akan lebih mudah terpengaruh oleh
beban kerja yang tinggi dan mengalami penurunan kinerja. Dan para tenaga kesehatan
dengan motivasi kerja yang tinggi cenderung lebih mampu mengatasi dampak negatif
kelelahan kerja terhadap kinerja. Para tenaga kesehatan dapat tetap termotivasi untuk
mencapai tujuan meskipun mengalami kelelahan atau stress