27468 research outputs found
Sort by
Aktivitas Enzim Kolinesterase Kecoak Jerman (Blattella germanica L.) Asal Kota Semarang dan Purwokerto
Kecoak jerman (Blattela germanica L.) merupakan salah satu serangga hama permukiman yang menempati beberapa wilayah khususnya di perkotaan. Pengendalian kecoak jerman baik oleh pest control operator maupun pada skala rumah tangga masih menggunakan insektisida semprot sebagai metode yang paling efektif, namun, penggunaan insektisida yang terlalu sering dan dalam jangka yang lama dapat menimbulkan resistensi. Serangga menjadi resisten terhadap insektisida dengan menjalankan satu atau lebih dari tiga mekanisme yaitu penurunan sensitivitas situs target, perubahan lapisan kutikula yang mengurangi penetrasi senyawa insektisida ke tubuh serangga dan peningkatan enzim detoksifikasi. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengamatan aktivitas enzim detoksifikasi pada populasi serangga tersebut untuk mengidentifikasi mekanisme yang mendasari terjadinya resistensi terhadap insektisida. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas enzim kolinesterase kecoak jerman asal strain Purwokerto dan Semarang. Penelitian dilakukan secara eksperimental di Laboratorium Entomologi dan Parasitologi, Labortaorium Genetika dan Molekuler, dan Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman. Kecoak yang digunakan adalah satu strain lapangan kecoak jerman yang berasal dari Purwokerto, satu strain dari Kota Semarang, serta satu strain standar World Health Organization (WHO) yaitu strain Vector Control Research Unit (VCRU). Pembuatan homogenat kecoak dilakukan dengan menghancurkan kecoak menggunakan mortar yang kemudian menggunakan buffer phosfat pH 7,2 untuk campuran. Aktivitas enzim dibaca menggunakan spektofotometer pada panjang gelombang 405nm. Hasil absorbansi dihitung dengan rumus U/L= ∆A/30sec x 23111.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecoak strain Semarang 5 memiliki aktivitas enzim kolinesterase sebesar 227,25 U/L, kolinesterase pada nilai ini dimungkinkan bahwa enzim kolinesterase mengalami penghambatan yang kuat oleh insektisida. Kecoak strain Purwokerto 1 memiliki aktivitas enzim kolinesterase sebesar 57,77 U/L, yang mengindikasikan kecoak dari strain ini memiliki kemampuan detoksifikasi yang lebih baik terhadap insektisida, sedangkan kecoak strain VCRU menunjukan hasil aktivitas enzim kolinesterase sebesar 173,32 U/L. Perbedaan ini menunjukkan bahwa paparan insektisida pada kecoak dari kedua lokasi bervariasi, sehingga strategi pengendalian perlu disesuaikan berdasarkan tingkat resistensi yang ditemukan di masing-masing lokasi
Keragaman Genetik Tiga Galur Ayam Lokal Indonesia dan Ayam Komersial Berdasarkan D-Loop DNA Mitokondria
Penelitian ini berjudul “Keragaman Genetik Tiga Galur Ayam Lokal Indonesia dan Ayam Komersial Berdasarkan D-Loop DNA Mitokondria”. Profil genetik ayam lokal menggambarkan adaptasi terhadap lingkungan dimana mereka hidup, serta faktor-faktor seleksi alam dan budidaya yang beragam dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Keragaman genetik ayam lokal memiliki peran yang sangat signifikan dalam konteks keberlanjutan peternakan dan ketahanan pangan dalam hal penyediaan sumber genetik bagi pengembangan galur ayam lokal unggulan. Tujuan umum penelitian ini yaitu: mengidentifikasi perbedaan kuantitatif fenotipe serta perbedaan genetik yang didasarkan pada hasil morfometrik dan polimorfisme sekuens mtDNA dari tiga galur ayam lokal (Kedu Merah, Kampung, dan Sentul) dan satu galur komersial (Hy-Line Brown). Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan materi 160 ekor ayam berumur 36 minggu, terdiri atas ayam Kedu Merah, Kampung, Sentul dan ayam niaga petelur (Hy-Line Brown) masing-masing sebanyak 40 ekor. Penelitian dilakukan di experimental farm fakultas peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) untuk pemeliharaan dan pengukuran morfometrik serta di laboratorium Integrated Academic Building (IAB) Unsoed untuk identifikasi keragaman genetik. Identifikasi keragaman genetik didasarkan pada region D-Loop dari DNA mitokondria. Primer yang digunakan adalah A-01397_HV1_(mtDNA)_F 5'-TCTATATTCCACATT TCTC-3' sebagai forward dan A-01397_HV1_(mtDNA)_R 5'-GCGAGCATAACC AAATGG-3' sebagai reverse. Amplikon yang diperoleh kemudian dilanjutkan untuk visualisasi polimorfisme menggunakan teknik Single Strand Conformation Polymorphism (SSCP). Hasil pita polimorfik dilanjutkan dengan sekuensing. Produk sekuensing diolah menggunakan software DnaSP, Arlequinn, MEGA 11 dan NETWORK.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ayam Kedu Merah adalah galur lokal yang secara morfometrik memiliki potensi paling tinggi untuk dikembangkan menjadi galur unggulan pedaging. Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa lingkar dada dan lebar dada dapat menjadi prediktor bagi pertambahan bobot ayam Kedu Merah. Panjang paruh dapat dijadikan prediktor bagi pertambahan bobot badan ayam Kampung. Kemudian lebar dada dapat dijadikan prediktor bagi pertambahan bobot ayam Sentul. Hasil analisis polimorfisme mencatat bahwa ayam Kedu Merah memiliki 16 situs polimorfik, ayam Kampung memiliki 12 situs polimorfik, ayam Sentul memiliki 12 situs polimorfik, sedangkan ayam Petelur Hy-Line Brown memiliki 11 situs polimorfik. Rekonstruksi pohon filogenetik menunjukkan seluruh galur yang digunakan dalam penelitian ini masuk kedalam klade E yang diyakini berasal dari wilayah subkontinen India. Adapun analisis median joining network terhadap seluruh haplotipe menunjukkan struktur pola seperti bintang, menandakan bahwa terjadi evolusi divergen yang kompleks dari satu nenek moyang tunggal
Pengaruh Starvasi Terhadap Kemampuan Migrasi Sel Punca Mesenkimal Tali Pusat Manusia Dengan Metode Scratch Assay
Latar Belakang: Terapi sel punca mesenkimal (SPM) tengah berkembang pesat. SPM sebagai sel penyusun keseluruhan tubuh melalui potensi regenerasi dan diferensiasi menjadi berbagai turunan sel yang spesifik. Keterbatasan terapi SPM yaitu respon rejeksi tubuh resipien terhadap sel punca donor, proses diferensiasi, dan migrasi tidak terkontrol. Upaya mengatasi keterbatasan tersebut dengan mengembangkan prekondisi starvasi pada SPM melalui sinkronisasi siklus sel pada fase quiescence sehingga sel dapat beradaptasi pada lingkungan rendah nutrisi.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh starvasi terhadap kemampuan migrasi sel punca mesenkimal tali pusat manusia dengan metode scratch assay.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode quasi experimental dengan pendekatan post test only with control group. SPM dibagi menjadi tiga kelompok perlakuan yaitu media DMEM+FBS sebagai media komplit (MK), media DMEM only sebagai starvasi serum (BASAL) dan media HBSS sebagai starvasi asam amino (HBSS). Sampel didapatkan dari pengambilan gambar mikroskop inversi pada jam ke-4,8,24, dan 48. Proses editing dan kuantifikasi persentase luas penutupan migrasi sel SPM menggunakan ImageJ. Analisis data menggunakan One-Way ANOVA dilanjutkan dengan uji statistik Post-Hoc Games Howell.
Hasil: Rerata Persentase luas penutupan migrasi SPM tertinggi pada kelompok MK (82,80±15,37%) dengan durasi starvasi 48 jam dan terendah pada kelompok HBSS (21,29±7,91%) dengan durasi starvasi 4 jam. Nilai statistik menunjukan terdapat perbedaan signifikan (p<0,05) kemampuan migrasi pada kelompok MK, BASAL, dan HBSS pada jam ke-4 dan 8. Selain itu, Terdapat perbedaan signifikan (p<0,05) rerata kemampuan migrasi pada media BASAL dan HBSS.
Kesimpulan: Kemampuan migrasi pada kelompok HBSS lebih lambat dibandingkan kelompok lainnya. Durasi starvasi terbaik pada tiga kelompok media pada jam ke-4 dan 8
Pengaruh Skor Environmental, Social, Governance (ESG) dan Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan dengan Ukuran Perusahaan sebagai Variabel Moderasi Pada Perusahaan Perbankan di Indonesia Tahun 2013-2022
Penelitian ini merupakan penelitian kuanitatif menggunakan data sekunder dari perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI. Penelitian ini mengambil judul “Pengaruh Skor Environmental, Social, Governance (ESG) dan Profitabilitas Terhdap Nilai Perusahaan Dengan Ukuran Perusahaan Sebagai Variabel Moderasi Pada Perusahaan Perbankan di Indonesia Tahun 2013-2022”
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh skor ESG, profitabilitas terhadap nilai perusahaan, dan apakah ukuran perusahaan dapat memoderasi pengaruh skor ESG dan profitabilitas terhadap nilai perusahaan.
Populasi dari penelitian ini adalah semua perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI yang memenuhi kriteria penelitian. Jumlah sampel yang didapat dalam penelitian ini sejumlah 120 sampel. Purposive sampling method digunakan untuk menentukan sampel dalam penelitian ini.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang dilakukan dengan menggunakan Analisis Regresi Data Panel dengan model REM (Random Effect Model) menunjukkan bahwa: (1) Skor ESG berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan, (2) Profitabilitas berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan, (3) Ukuran perusahaan tidak dapat memoderasi pengaruh skor ESG terhadap nilai perusahaan, (4) Ukuran perusahaan dapat memperkuat pengaruh profitabilitas terhadap nilai perusahaan.
Setelah peneliti menghilangkan tahun ketika terjadi padnemi Covid-19, yaitu tahun 2020-2022 pada data, maka peneliti menemukan hasil: skor ESG berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.
Implikasi dari penelitian diatas yaitu temuan bahwa ESG memiliki pengaruh negatif mungkin disebabkan oleh tingginya biaya implementasi yang tidak diimbangi dengan peningkatan kinerja keuangan. Atau mungkin terdapat anomali pada data ketika tahun terjadinya Covid-19, sehingga menyebabkan skor ESG berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan. Penelitian ini membuktikan profitabilitas yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan mampu menggunakan asetnya secara efisien untuk menghasilkan keuntungan. Temuan bahwa ukuran perusahaan tidak dapat memoderasi pengaruh ESG terhadap nilai perusahaan berarti bahwa besar kecilnya ukuran perusahaan tidak berdampak pada bagaimana perusahaan tersebut mengimplementasikan ESG ke dalam bisnisnya. Temuan bahwa ukuran perusahaan dapat memperkuat pengaruh profitabilitas terhadap nilai perusahaan adalah semakin besar ukuran perusahaan akan memiliki sumber daya yang lebih luas untuk menginvestasikan kembali laba dengan proyek investasi yang menghasilkan keuntungan jangka panjang, sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan
Penolakan Penyelesaian Perkara melalui Restorative Justice oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah pada Tindak Pidana Penggelapan (Studi Perkara Nomor Registrasi PDM-91/PKRTO/Eoh.2/07/2023)
Pemberian hukuman pidana penjara terhadap pelaku tindak pidana dinilai tidak memberikan kepuasan terhadap korban. Maka muncul pendekatan restorative justice yang menitikberatkan penyelesaian perkara untuk mengembalikan keadaan seperti sebelum terjadinya tindak pidana. Hanya tindak pidana yang tergolong ringan yang dapat diselesaikan melalui restorative justice salah satunya tindak pidana penggelapan yang diatur dalam Pasal 372 KUHP. Kejaksaan yang memiliki kekuasaan Penuntutan juga memiliki ketentuan terkait restorative justice yang diatur dalam Peraturan Kejaksaan No. 15 Tahun 2020 tentang Pemberhentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif serta Surat Edaran Nomor 01/E/EJP/02/2022 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif. Dalam praktiknya ketentuan tersebut tidak selalu dijadikan pertimbangan oleh Kejaksaan Tinggi untuk menyutujui suatu perkara diselesaikan melalui restorative justice sehingga terjadi penolakan seperti yang
terjadi dalam perkara nomor registrasi PDM-91/PKRTO/Eoh.2/07/2023. Metode penelitian yang dipakai adalah penelitian yuridis normatif, yaitu dilakukan hanya
dengan cara meneliti bahan pustaka yang bersifat hukum. Hasil penelitian ialah dalam perkara nomor registrasi PDM-91/PKRTO/Eoh.2/07/2023 mengalami penolakan untuk
diselesaikan melalui restorative justice oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah karena dinilai tidak memenuhi syarat-syarat dalam Peraturan Kejaksaan Nomor 15 Tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif
Hubungan Pengetahuan dan Persepsi dengan Perilaku Pencegahan Low Back Pain pada Perawat Unit Perawatan Khusus di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo
Pendahuluan: World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa low back pain (LBP) adalah penyebab utama kecacatan kedua terbesar di dunia. Salah satu profesi yang memiliki risiko tinggi mengalami LBP adalah perawat. WHO menekankan pentingnya pencegahan dan penanganan LBP yang dapat dilakukan dengan menerapkan perilaku pencegahan yang tepat. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan persepsi dengan perilaku pencegahan LBP pada perawat.
Metodologi: Penelitian menggunakan metode korelasi dengan pendekatan cross-sectional dengan 69 sampel yang diambil menggunakan kuesioner tingkat pengetahuan LBP, persepsi terhadap LBP, dan perilaku pencegahan LBP. Analisis data menggunakan analisis univariat dengan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov dan uji bivariat menggunakan uji Somers’D.
Hasil Penelitian: Hasil penelitian ini menunjukkan karakteristik responden berdasarkan usia, jenis kelamin, dan pendidikan. Hasil uji statisik pengetahuan tentang LBP dengan perilaku pencegahan LBP menunjukkan nilai p-value = 0,757 yang mengindikasikan tidak terdapat hubungan yang signifikan. Hasil uji statisik persepsi terhadap LBP dengan perilaku pencegahan LBP menunjukkan nilai p-value = 0,153 yang mengindikasikan tidak terdapat hubungan yang signifikan.
Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan tentang LBP dengan perilaku pencegahan LBP dan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi terhadap LBP dengan perilaku pencegahan LBP
The Growth and Development of Common Carp Larvae (Cyprinus carpio) with Microcapsule Feeding of Hermetia illucens Larvae in Various Instars
Common carp (Cyprinus carpio) is one freshwater fish that is favored by the people of Indonesia. The availability of nutrients in feed is important for the growth and development of larvae. To optimize the absorption of feed nutrients to fish larvae can be packaged in the form of microcapsules. Microcapsules are micro-sized capsules composed of a polymer matrix as the wall and a protected material as the core. This study aims to determine the growth and development performance of common carp (C. carpio) with different maggot microcapsule feeding treatments. The experimental design used in this study was a Completely Randomized Design (CRD) consisting of five treatments and five replications, namely T0 (commercial pellets), T1 (artemia feed), T2 (maggot microcapsules instars fourth), T3 (maggot microcapsules instars fifth), and T4 (maggot microcapsules instars sixth). The observation data obtained in the form of absolute weight gain, absolute length gain, SGR, RGR, increase in fin length (dorsal, pelvic, anal, and caudal), mouth opening, SR, intestine length, and intestine weight were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA). The results showed significant differences using the Tukey HSD Post Hoc test. Data on mouth development, fin morphoanatomy, and water quality were analyzed descriptively.
The average weight gain was 0.04-0.12 g, the average length gain was 0.89-1.39 mm, the average SGR was 9.37-12.97%, the average RGR was 1317.67-3781.67%, the average fin length gain (dorsal fin 1.70-2.31 mm, pelvic fin 0.94-1.79 mm, anal fin 1.40-1.80 mm, caudal fin 1.48-2.12 mm), the average mouth opening width was 0.35-0.56 mm, the average final intestine weight was 0.006-0.011 g, the average final intestine length was 1.440-2.060 mm, and the average survival rate was 92-98%. The results of the ANOVA test showed a significant difference (P0.05). The results of the visible pigmentation observations are melanophores and xanthophores. Thus, Hermetia illucens larval microcapsules can be used as a substitute for commercial feed to maintain carp larvae (C. carpio)
Pengaruh Metode Latihan Plyometric Stair Jump dan Low Hurdle Jump Terhadap Akselerasi Siswa Ekstrakurikuler Atletik SMA Negeri 4 Purwokerto.
Latar Belakang: Olahraga atletik khususnya 100 meter merupakan salah satu nomor lari jarak pendek (sprint). Daya ledak otot tungkai mempunyai pengaruh dalam peningkatan kecepatan akselerasi pada lari sprint 100 meter. Jenis latihan plyometric stair jump dan low hurdle jump memiliki karakteristik gerakan yang cepat dan kuat dengan arah kedepan. Hal ini sesuai dengan gerakan saat melakukan akselerasi pada lari sprint 100 meter. Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan plyometric stair jump dan low hurdle jump terhadap akselerasi siswa.
Metodologi: Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan two group pretest posttest design dan pembagian kelompok menggunakan rumus A-B-B-A. penentuan sampel menggunakan purposive sampling. Sampel pada penelitian ini berjumlah 30 siswa laki-laki ekstrakurikuler atletik SMA N 4 Purwokerto.
Hasil Penelitian: Latihan plyometrics stair jump signifikan meningkatkan akselerasi siswa atletik SMA N 4 Purwokerto (sig. 0,043 0,05).
Kesimpulan: Latihan plyometrics stair jump berpengaruh terhadap akselerasi siswa ekstrakurikuler atletik SMA N 4 Purwokerto. Latihan plyometrics low hurdle jump berpengaruh terhadap akselerasi siswa ekstrakurikuler atletik SMA N 4 Purwokerto. Tidak terdapat perbedaan peningkatan yang signifikan antara latihan plyometrics stair jump dan low hurdle jump terhadap akselerasi siswa ekstrakurikuler atletik SMA N 4 Purwokerto
Kajian Teritip Amphibalanus amphitrite sebagai Bioindikator Pencemaran Mikroplastik di Perairan Pesisir Cilacap
Perairan pesisir Cilacap mengalami pencemaran mikroplastik, sehingga diperlukan pemantauan ekosistemnya melalui organisme bioindikator seperti teritip. Teritip Amphibalanus amphitrite sebagai organisme filter-feeder mampu untuk mengakumulasi mikroplastik. Penelitian bertujuan untuk mengetahui jumlah, karakteristik fisik dan kimia mikroplastik, menilai tingkat bioakumulasi A. amphitrite sebagai bioindikator mikroplastik, serta untuk mengetahui hubungan antara konsentrasi mikroplastik pada teritip, air laut, dan sedimen di perairan pesisir Cilacap.
Penelitian dilaksanakan dari bulan Maret 2024 hingga Januari 2025 menggunakan metode survei dan teknik purposive sampling. Variabel yang diamati mencakup jumlah, karakteristik fisik dan kimia mikroplastik, serta tingkat bioakumulasi A. amphitrite. Parameter yang diamati mencakup jumlah, ukuran, bentuk, warna, jenis polimer mikroplastik, serta nilai Faktor Biokonsentrasi (BCF). Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk menggambarkan distribusi dan karakteristik mikroplastik. Data yang diperoleh dianalisis korelasi untuk mengetahui hubungan konsentrasi mikroplastik pada teritip, air laut, dan sedimen. Uji normalitas data dilakukan dengan Uji Shapiro-Wilk, kemudian dilanjutkan dengan Uji Korelasi Pearson.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa A. amphitrite berpotensi sebagai bioindikator dengan akumulasi mikroplastik tertinggi (493 partikel di teritip, 39 partikel di air laut, dan 190 partikel di sedimen). Ukuran mikroplastik bervariasi dari <100 µm hingga 4500–5000 µm, dengan bentuk serat, fragmen, dan film. Warna mikroplastik antara lain, yaitu biru, hitam, merah, coklat, ungu, dan transparan. Polimer kimia yang ditemukan meliputi Polipropilena (PP), Polietilena Tereftalat (PET), Polietilena (PE), Polivinil Klorida (PVC), Polistirena (PS), Poliuretan (PU), Poliamida (PA), Polietilena Vinil Asetat (PEVA), Polimetil Metakrilat (PMMA), Akrilonitril Butadiena Stirena (ABS), dan Polikarbonat (PC). A. amphitrite memiliki bioakumulasi mikroplastik tingkat rendah terhadap air laut dan sedimen. Terdapat hubungan negatif signifikan antara konsentrasi mikroplastik di air laut dan A. amphitrite. Hal tersebut mengindikasikan bahwa A. amphitrite sebagai filter-feeder selektif lebih dipengaruhi oleh mikroplastik di air laut dibandingkan sedimen.
Kata kunci: Amphibalanus amphitrite, bioindikator, Cilacap, mikroplastik, teritip
The coastal waters of Cilacap are polluted by microplastics, so monitoring of its ecosystem is needed through bioindicator organisms such as barnacles. The barnacle Amphibalanus amphitrite as a filter-feeder organism is able to accumulate microplastics. The study aims to determine the amount, physical and chemical characteristics of microplastics, assess the level of bioaccumulation of A. amphitrite as a bioindicator of microplastics, and to determine the relationship between microplastic concentrations in barnacles, seawater, and sediments in the coastal waters of Cilacap.
The study was conducted from March 2024 to January 2025 using a survey method and purposive sampling technique. The variables observed included the amount, physical and chemical characteristics of microplastics, and the level of bioaccumulation of A. amphitrite. The parameters observed included the amount, size, shape, color, type of microplastic polymer, and the Bioconcentration Factor (BCF) value. Data analysis was carried out descriptively to describe the distribution and characteristics of microplastics. The data obtained were analyzed for correlation to determine the relationship between microplastic concentrations in barnacles, seawater, and sediments. Data normality test was conducted using the Shapiro-Wilk Test, followed by the Pearson Correlation Test.
The results showed that A. amphitrite has the potential to be a bioindicator with the highest microplastic accumulation (493 particles in barnacles, 39 particles in seawater, and 190 particles in sediment). The size of microplastics varies from <100 µm to 4500–5000 µm, in the form of fibers, fragments, and films. The colors of microplastics include blue, black, red, brown, purple, and transparent. The chemical polymers found include Polypropylene (PP), Polyethylene Terephthalate (PET), Polyethylene (PE), Polyvinyl Chloride (PVC), Polystyrene (PS), Polyurethane (PU), Polyamide (PA), Polyethylene Vinyl Acetate (PEVA), Polymethyl Methacrylate (PMMA), Acrylonitrile Butadiene Styrene (ABS), and Polycarbonate (PC). A. amphitrite has low levels of microplastic bioaccumulation in seawater and sediment. There is a significant negative relationship between microplastic concentrations in seawater and A. amphitrite. This indicates that A. amphitrite as a selective filter-feeder is more affected by microplastics in seawater than sediment.
Keywords: Amphibalanus amphitrite, barnacle, bioindicator, Cilacap, microplasti
Analisis Faktor yang Berpengaruh Terhadap Pemanfaatan Posbindu Penyakit Tidak Menular (PTM) di Wilayah Puskesmas Purwokerto Selatan Kabupaten Banyumas
Latar Belakang: Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan penyebab utama kematian global. Posbindu PTM bertujuan untuk mencegah dan mengendalikan PTM, namun pemanfaatannya di Puskesmas Purwokerto Selatan masih rendah. Rata-rata kunjungannya hanya 2,6% tiap Fosbindu, jauh di bawah target 100%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pemanfaatan Posbindu PTM di wilayah tersebut.
Metode: Penelitian ini menganalisis pengaruh antara variabel jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pekerjaan, pendapatan, pengetahuan, persepsi individu, ketersediaan fasilitas, akses pelayanan kesehatan, akses informasi, dukungan kader, dan dukungan keluarga terhadap pemanfaatan Posbindu PTM di Wilayah Puskesmas Purwokerto Selatan. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional, populasinya yaitu masyarakat usia produktif dengan pengambilan sampel menggunakan teknik proportional random sampling sebanyak 110 orang. Pengumpulan data dengan observasi dan wawancara kuesioner. Analisis data penelitian terdiri dari analisis univariat, analisis bivariat dan analisis multivariat.
Hasil: Variabel yang berpengaruh terhadap pemanfaatan Posbindu PTM di Wilayah Kerja Puskesmas Purwokerto Selatan adalah akses informasi (p = 0,021; OR = 5,000; CI 95% = 1,268 – 19,714), variabel yang tidak berpengaruh adalah pengetahuan (p = 0,498; OR = 1,534; CI 95% = 0,444 – 5,298), persepsi individu (p = 0,279; OR = 2,000; CI 95% = 0,570 – 7,019), akses pelayanan kesehatan (p = 0,325; OR = 3,111; CI 95% = 0,325 – 29,812), dukungan kader (p = 0,112; OR = 5,811; CI 95% = 0,662 – 51,020), dan dukungan keluarga ( p = 0,929; OR = 0,940; CI 95% = 0,245 – 3,613).
Kesimpulan: Akses informasi merupakan faktor yang berpengaruh terhadap pemanfaatan Posbindu PTM di Wilayah Puskesmas Purwokerto Selatan