e-journal STTAL (Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut)
Not a member yet
292 research outputs found
Sort by
Pemetaan Batimetri di Perairan Dangkal menggunakan Data Penginderaan Jauh Spot-7 (Studi Kasus Lembar-Lombok): Bathymetry Mapping in Shallow Waters using Spot-7 Remote Sensing Data (Lombok-Sheet Case Study)
Keunggulan memanfaatkan inderaja untuk pemetaan batimetri yang lebih efektif dan efisien dibanding metode lainnya. Batimetri juga termasuk kedalam suatu sistem dinamis yang rentan akan perubahan, sehingga teknologi inderaja merupakan solusi alternatif yang tepat secara tepat dan berkala untuk merevisi peat batimetri yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan batimetri perairan dangkal Lembar Lombok, menggunakan citra Spot-7 dengan mengaplikasikan metode Water Depth Relatif algoritma Stumpf & Holderied (2003). Salah satu ketentuan teknis yang berlaku internasional yaitu ketentuan IHO (International Hydrographic Organization) dalam publication-C13 yaitu metode Kontrol kualitas terhadap data batimetri, agar diketahui sejauh mana kualitas data batimetri tersebut. Kontrol kualitas data batimetri adalah suatu prosedur untuk memastikan bahwa produk telah memenuhi suatu standar survei hidrografi dan spesifikasi yang ditetapkan. Nilai orde yaitu 67% orde khusus, 0% orde 1A/1B, 0% orde 2 dan tidak masuk 32%. Nilai kedalaman yang dipakai adalah nilai kedalaman hasil dari persamaaan regresi terbaik yang dilihat dari nilai koefisien determinasi, koefisien korelasi dan nilai RMS error. Uji akurasi model Relatif Water Depth menghasilkan nilai R2 sebesar 0,4696, R sebesar 0,6853 dan RMSE 2,055377848. Tingkat akurasi peta batimetri hasil estimasi mencapai 78,77%
Studi Karakteristik Massa Air Laut di Perairan Timur Indonesia dengan Memanfaatkan Data Argo Float: Study of Seawater Mass Characteristics in Eastern Indonesian Waters by Utilizing Argo Float Data
Laut Sulawesi, Selat Makassar, dan Terusan Lifamatola. Merupakan Perairan yang termasuk dalam Arus Lintas Indonesia (ARLINDO) sehingga memiliki karakteristik massa air laut yang unik. Penelitian bertujuan untuk mengetahui jenis massa air laut di Perairan Timur Indonesia dengan mengganalisis diagram T-S, variabilitas massa air laut (suhu, salinitas, densitas dan kecepatan suara) musiman (musim Barat, musim peralihan I, musim Timur, dan musim peralihan II) pada 3 kedalaman yaitu 50m, 150m dan 300m. Teknik analisis menggunakan tools Ocean Data View dan Microsoft Excel. Hasil yang diperoleh di Laut Sulawesi terdapat 11 jenis massa air, di Selat Makassar 9 jenis massa air, dan di Terusan Lifamatola 7 jenis massa air. Kemudian dicari variabilitas suhu, variabilitas salinitas, variabilitas densitas, dan variabilitas kecepatan suara. ENSO dan IOD dihubungkan dengan karakteristik massa air laut untuk dicari korelasi signifikan di kedalaman 50m, 150m dan 300m di Perairan Timur Indonesia
Komparasi Metode Magnetometer Dan Transverse Gradiometer Untuk Pengukuran Kemagnetan Target Di Perairan Pantai Ancol Teluk Jakarta: Comparation of Magnetometer and Transverse Gradiometer Methods for Measuring Target Magneticity in Ancol Beach Waters, Jakarta Bay
Teknik pengukuran umum digunakan untuk menunjukan kekuatan anomali target pada objek di bawah laut biasa dikenal dengan Magnetometer dan Metode baru Transverse Gradiometer biasa digunakan untuk melaksanakan survei investivigasi bawah air dalam hal ini adalah pencarian objek atau target yang berada dibawah air yang mempunyai unsur logam dan kemagnetan, sehingga dengan menggunakan dua metode ini survei investivigasi pencarian objek bawah air akan lebih mudah efisien.Kedua metode tentunya diperlukan alat pendukung untuk melaksanakan kegiatan survei investivigasi, alat tersebut dikenal magneto. Alat magnetometer ini berfungsi untuk mendeteksi suatu kemagnetan dan anomali objek di bawah air. Transverse Gradiometer ini adalah metode untuk menggabungkan dua alat magnetometer menjadi satu dan saling di intergrasikan kedua alat magnetometer tersebut. Tujuan dari metode Tranverse Gradiometer adalah memperkuat, memperjelas dan mengevaluasi data suatu kemagnetan target di dasar air.Hasil pengolahan dari kedua data berupa citra kemudian di overly ke PLI No 86B untuk memvalidasi citra, menghasilkan data cita dari Transverse Gradiometer lebih jelas dalam menggambarkan keadaan bawah air pada area tersebut
Analisa Gelombang pada Dermaga Kolam Pelabuhan Pondokdayung di Tanjungpriok Jakarta: Wave Analysis at the Pondok Dayung Harbor Pond Pier in Tanjungpriok Jakarta
Dalam perencanaan pembangunan kolam pelabuhan diperlukan data-data Hidro-Oseanografi, antara lain data gelombang, kecepatan angin dan data batimetri. Data-data tersebut diperlukan untuk mengetahui tinggi gelombang di dalam kolam pelabuhan sebelum dan setelah pembangunan breakwater. Informasi tentang tinggi gelombang diperoleh dengan melakukan simulasi model gelombang menggunakan software STWave 3.0
Simulasi model dilakukan dengan dua metode yaitu metode validasi dan implementasi pada daerah penelitian. Metode validasi dilakukan dengan cara membandingkan tinggi gelombang hasil model dengan perhitungan empiris dan data pengukuran lapangan di Pondokdayung pada tanggal 6-20 Juni 2009 dan di Pulau Damar pada tanggal 10-29 Juli 2009. Pada pemodelan dan perhitungan empiris input data diperlukan berupa kecepatan dan arah angin rata-rata serta tinggi, arah dan periode gelombang di offshore pada tanggal 6-20 Juni 2009 dan 10-29 Juli 2009. Pada metode implementasi input data yang diperlukan berupa kecepatan dan arah angin rata-rata serta tinggi, arah dan periode gelombang pada tahun 2008
Nilai RMS Error antara model dan data lapangan, empiris dan data lapangan serta empiris dan model di Pondokdayung 1,36%; 1,56% dan 0,37%, di Pulau Damar 4,84%; 5,05% dan 0,66%. Hasil pemodelan tiap arah dari delapan penjuru mata angin selama tahun 2008 diperoleh gelombang tertinggi di dermaga dalam kolam pelabuhan pada arah angin dari utara 0,01m, timur laut 0,01m, timur 0,01m, tenggara 0m, selatan 0m, barat daya 0,04m, barat 0,13m dan barat laut 0,25m
Identifikasi Banjir Rob Periode 2013 – 2015 di Kawasan Pantai Utara Jakarta: Identification of Rob Floods for the Period of 2013 – 2015 in the North Coast of Jakarta
Banjir rob merupakan fenomena meluapnya air laut ke daratan. Kawasan Pantai Utara Jakarta merupakan salah satu kawasan yang sering mengalami banjir rob dan menyebabkan kerugian materil dan non materil yang cukup tinggi. Kerugian ini dapat diminimalisir dengan berbagai skema penanganan serta pencegahan. Namun agar rencana pencegahan banjir rob tepat sasaran dan efisien, maka fenomena banjir rob harus dapat diidentifikasi secara mendalam melalui studi penyebab utama, faktor-faktor yang mempengaruhi, serta skenario-skenario yang mungkin terjadi pada saat banjir rob. Penelitian ini menggunakan data dinamika muka laut periode 2013 – 2015 di Stasiun Kolinlamil Tanjung Priok dianalisis menggunakan Fast Fourier Transform. Digunakan pula data prediksi pasang surut dari Pushidrosal. Selain itu data gelombang dan angin ECMWF, dan curah hujan dari BMKG digunakan sebagai bahan pertimbangan analisis dalam mengidentifikasi kejadian rob. Dari hasil penelitian ini, didapatkan kesimpulan bahwa Banjir rob di Kawasan Pantai Utara Jakarta utamanya disebabkan oleh pasang surut yang tinggi saat terjadi spring tide dan tidak selalu diikuti oleh pengaruh angin, atau curah hujan yang tinggi (2 & 16 Desember 2013, 13 Mei 2014 dan 22 Desember 2014). Namun, pada beberapa kesempatan, angin dan curah hujan berpotensi menambah jumlah kejadian banjir rob di Kawasan Pantai Utara Jakarta (17 Oktober 2103, 17 Januari 2014 dan 27 Pebruari 2014). Hasil studi juga menunjukkan bahwa banjir rob tidak selalu dikuti oleh pasang surut yang tinggi saat spring tide, kondisi angin maupun curah hujan yang ekstrim (14 Juni 2013 dan 12 Pebruari 2015)
Pemetaan Terumbu Karang dan Mangrove untuk Pertahanan Pantai dengan Menggunakan Teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis (Kasus Daerah Biak, Papua): Mapping Coral Reefs and Mangroves for Coastal Defense Using Remote Sensing Technology and Geographic Information Systems (Case of Biak Region, Papua)
Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki garis pantai terpanjang kedua setelah Kanada, dan memiliki sumberdaya pesisir penting seperti terumbu karang dan mangrove yang mempunyai fungsi ekologis, ekonomis dan sekaligus pertahanan untuk menjaga integritas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Untuk wilayah pulau-pulau kecil yang mempunyai keterbatasan akses dimana survei lapangan membutuhkan tenaga dan biaya yang besar, teknologi penginderaan jauh merupakan salah satu alat utama untuk melakukan inventarisasi sumberdaya pesisir. Pada penelitian ini dilakukan pemetaan mangrove dan terumbu karang menggunakan data citra satelit SPOT 6 sebagai bagian dari usaha inventarisasi sumberdaya pesisir di pulau Biak, Papua. Data citra SPOT 6 dipilih karena keterbatasan studi sebelumnya yang menguji kemampuan data SPOT 6 untuk pemetaan sumberdaya pesisir. Teknik pengolahan citra yang digunakan untuk mangrove adalah berdasarkan pengkelasan citra yang telah diproses menggunakan NDVI (normalized difference vegetation index). Pemetaan ekosistem terumbu karang dilakukan dengan melakukan proses klasifikasi ke dalam kelas-kelas terumbu karang pada citra yang telah diproses menggunakan depth-invariant index. Untuk obyek mangrove validasi lapangan dilakukan menggunakan teknik transek dengan pengamatan pada beberapa subplot sepanjang garis transek. Validasi terumbu karang dilakukan menggunakan teknik photo-transect. Hasil menunjukkan Citra SPOT 6 dapat digunakan untuk memetakan mangrove dan terumbu karang di pulau Biak dengan ketelitian baik. Mangrove di pulau Biak dapat dikategorikan ke dalam tiga kelas: jarang, sedang dan rapat. Citra SPOT 6 dapat digunakan membedakan kategori ekosistem terumbu karang di pulau Biak ke dalam kelas pasir, karang, lamun dan rubble (pecahan karang)
Analisa Pergerakan Kapal dengan Memanfaatkan Data AIS(Automatic Identification System) Guna Mendukung Operasi Keamanan dan Keselamatan di Perairan Yuridiksi dan Perairan NKRI: Analysis of Ship Movements by Utilizing AIS (Automatic Identification System) Data to Support Security and Safety Operations in Jurisdictional Waters and NKRI Waters
Wilayah perairan laut Indonesia yang sering dijadikan sebagai rute pelayaran yang efisien oleh kapal-kapal (lokal dan asing) untuk melintas dan merupakan daerah tangkapan ikan yang melimpah telah menimbulkan kerentanan sejumlah pelanggaran di laut. Sehubungan dengan hal ini, telah terbukti bahwa pada akhir-akhir ini pun tidak sedikit terjadi peristiwa tersebut di wilayah perairan laut Indonesia. Peristiwa-peristiwa ini kebanyakan berhubungan dengan katagori illegal fishing, perompakan/pembajakan, dan pelanggaran-pelanggaran lainnya di laut. Dengan memanfaatkan data AIS dapat dilakukan penelitian yang bersifat analisis-deskriptif, mencari atau menganalisa fakta-fakta dan kemudian mendapatkan gambaran atau deskripsi yang tepat; yaitu menganalisis data AIS yang dapat dispasialkan berupa History track dan informasi informasi lain tentang kapal yang kemudian disajikan dalam perangkat layar monitor atau dicetak sebagai peta tematik untuk memudahkan analisis dan pengambilan keputusan. Dari hasil analisa didapatkan Sebagian besar atau sebesar 61.36 % Kapal-kapal yang terdeteksi sebagai kapal terperiksa berjenis kapal kargo, dan pada rentang waktu 3(tiga) bulan (Januari-Maret 2016), telah terjadi peningkatan anomali kapal (kejadian) sebesar 59.09 % terutama pada bulan maret 2016
Pembuatan Port ENC di Tanjung Priok: Construction of ENC Port in Tanjung Priok
Electronic Navigational Charts (ENC) adalah suatu peta vektor yang dikompilasi dari sebuah basis data objek individual yang tergeoreferensi berdasarkan pada standar transfer data S-57 IHO. Saat ini, ENC yang mencakup rute dan pelabuhan utama Indonesia telah tersedia, namun informasi yang lebih rinci tentang informasi pelabuhan Indonesia belum terakomodir secara lengkap oleh S-57 IHO, Port ENC menawarkan solusi untuk memperoleh informasi yang rinci pada situasi dan fasilitas pelabuhan. Khususnya diperlukan saat pelaut memasuki dan bermanuver di pelabuhan.
Pembuatan Port ENC di Tanjung Priok mengacu pada format S–57 yang dimodifikasi dengan menggunakan perangkat lunak SevenCS ENC Tools yang meliputi tahap verifikasi data, kompilasi, registrasi peta, digitasi, mengisi atribut objek, pengoptimalan data dan analisa data.
Terdapat perbedaan antara ENC dengan Port ENC terkait kelas objek dan atributnya, dimana Port ENC mencakup informasi yang lebih detail untuk di gambarkan. Setelah pemprosesan data diperoleh Port ENC di Tanjung Priok yang dapat ditampilkan pada software khusus Electronic Chart Display and Information System (ECDIS) yang disebut ORCAMASTER
Simulasi Numerik Dampak Badai George dan Jacob (2007) Terhadap Tinggi Gelombang Signifikan pada Laut Selatan Jawa Hingga Nusa Tenggara: Numerical Simulation of The Impact of Hurricanes George and Jacob (2007) on Significant Wave Height in The South Sea of Java and Lesser Sunda Islands
Gelombang laut adalah gerakan naik dan turunnya air laut yang membentuk kurva/grafik sinusoidal. Gelombang laut dihasilkan karena gaya pembangkit yang bekerja di laut salah satunya adalah angin. Angin dari siklon tropis dapat menjadi gaya pembangkit yang kuat bagi gelombang laut, sehingga gelombang laut yang terbentuk cenderung memiliki ketinggian yang lebih tinggi serta energi yang lebih besar. Bila gelombang tinggi tiba bersamaan dengan saat laut pasang, maka akan terjadi banjir yang biasanya disebut dengan gelombang badai. Simulasi hidrodinamika pada penelitian ini dilakukan menggunakan program Delft 3D. Delft 3D merupakan program open source yang dikembangkan oleh TU Delft (Delft University of Technology). Hasil dari model Delft 3D pada titik a memiliki nilai tinggi gelombang maksimal sebesar 4,989 m. Pada titik b memiliki nilai tinggi gelombang maksimal sebesar 5,099 m. Pada titik c memiliki nilai tinggi gelombang maksimal sebesar 4.027 m. Pada titik d memiliki nilai tinggi gelombang maksimal sebesar 7.144 m
Karakteristik Termoklin dan Kecepatan Suara di Selat Lombok Berdasarkan Filtering data CTD Menggunakan Analysis Toolpak: Thermocline Characteristics and Speed of Sound in Lombok Strait Based on CTD Data Filtering Using Analysis Toolpak
Selat Lombok merupakan salah satu dari 9 chokepoint (titik sempit) dunia. Selat Lombok juga merupakan salah satu alur dari 3 Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) yang terdapat pada ALKI II yang terdiri atas Selat Makasar dan Selat Lombok. Selat Lombok memiliki kedalaman lebih dari 150 meter, dan merupakan penghubung antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia yang sangat strategis untuk lintasan kapal selam. Sehingga sangat penting sekali informasi tentang kolom air di Selat Lombok untuk kebutuhan operasi militer perang. Untuk itu, validitas data tentang informasi yang akurat sangat penting sekali, yaitu dengan cara filtering data CTD. Tujuannya adalah untuk mengetahui karakteristik termoklin dan kecepatan suara di Selat Lombok. Salah satu metode yang digunakan untuk filtering data CTD adalah dengan menggunakan Analysis Toolpak. Hasil dari pengolahan data CTD menggunakan Analysis Toolpak menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara profil data sebelum dan sesudah filtering. Selain itu juga dapat diketahui bahwa karakteristik termoklin Selat Lombok dari arah Utara ke Selatan adalah semakin rapat atau tipis dengan ketebalan dari 146,094 meter menjadi 87,694 meter. Sedangkan karakteristik kecepatan suara di Selat Lombok dari arah Utara ke Selatan juga semakin rapat atau tipis dengan selisih nilai kecepatan suara dari 34,547 m/dt menjadi 27,538 m/dt. Massa air laut di lapisan termoklin diduga berasal dari North Pacific Intermediate Water (NPIW) yang masuk ke Selat Lombok melalui bagian Utara Selat Lombok dibuktikan dengan nilai rata-rata salinitas 34,415 psu pada rata-rata kedalaman 42,504 meter. Berdasarkan data di atas maka sangat penting sekali untuk melakukan filtering data CTD untuk menghasilkan data yang valid dan akurat sebelum diolah lebih lanjut