e-journal STTAL (Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut)
Not a member yet
292 research outputs found
Sort by
Pendugaan Alur Sungai Purba di Laut Natuna Utara: Assessment of Primordial River Flow in North Natuna Sea
Laut Natuna Utara merupakah wilayah teritorial Republik Indonesia yang kaya akan sumber daya alamnya. Hal tersebut tidak terlepas dari aspek sejarah geologis yang telah terjadi di masa lampau. Keberadaan sungai purba yang dahulu pernah mengalir menuju perairan Laut Natuna Utara menjadi salah satu penyebab munjulnya potensi sumberdaya alam yang besar di area tersebut. Makalah ini akan memaparkan suatu upaya pendugaan keberadaan alur sungai purba melalui teknik analisis data spasial. Adapun data yang digunakan adalah data kedalaman dan ketinggian dari General Bathymetric Chart of the Oceans (GEBCO). Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat 5 alur sungai purba yang mengalir ke arah laut Natuna Utara, tiga berasal dari Pulau Sumatera, Satu dari Pulau Kalimantan dan satu lagi mengalir dari tengah Selat Karimata
Sebaran dan Estimasi Ketebalan Sedimen Permukaan Dasar Laut Berdasarkan Nilai Koefisien Refleksi Sub Bottom Profiler (Studi Kasus Perairan Utara Serang, Banten): Distribution and Estimation of Seabed Surface Sediment Thickness Based on the Reflection Coefficient Value of Sub Bottom Profiler (Case Study of North Serang Waters, Banten)
Peningkatan aktivitas di bidang reklamasi pesisir berupa penambangan pasir dan mineral, operasi pengerukan (dredging) serta pembangunan sarana pemukiman diwilayah pesisir membutuhkan peta-peta dasar laut yang akurat. Sub Bottom Profiler (SBP) merupakan salah satu instrument akustik bawah air yang mempunyai frekuensi yang rendah, sehingga mampu menggambarkan lapisan sedimen dibawah dasar laut. Informasi jenis sedimen dasar laut dapat dilakukan dengan menggunakan metode akustik bawah laut termasuk dengan menggunakan SBP. Keunggulan SBP dibandingkan instrument akustik bawah air lainnya adalah dapat digunakan untuk mengestimasi ketebalan sedimen permukaan tersebut. Pada penelitian ini telah dilakukan klasifikasi sedimen permukaan dasar laut di perairan utara Kabupaten Banten dengan cara menghitung nilai koefisien refleksi data SBP dengan membandingkan energi pantulan (ERx) dengan energi yang dipancarkan (ETx) yang kemudian dikalibrasi dengan data sampling sedimen yang juga diambil pada saat survei dilakukan. Sedangkan ketebalan sedimen permukaan dilakukan dengan melakukan picking horizon di penampang SBP antara lapisan dasar laut dengan reflector yang pertama. Selisih antara dua reflector tersebut merupakan nilai ketebalan. Area survei adalah perairan utara kabupaten Serang Banten karena lokasi ini merupakan area penambangan pasir, sehingga memiliki jenis sedimen yang homogen. Hasil dari penelitian ini adalah nilai koefisien refleksi dengan rata-rata 0.3076 sampai dengan 0.4501 yang kemudian diklasifikasikan sesuai dengan tabel Hamilton 1982 pasir kasar, pasir halus, pasir sangat halus dan pasir lembut. Nilai ketebalan sedimen berkisar antara 0 sampai dengan 6.3 meter dengan rata-rata 1.47 meter
Studi Perbandingan Karakteristik Pasang Surut Hasil Perhitungan Data Lokal Dengan Model Pasang Surut Global di Perairan Indonesia: Comparative Study of Tidal Characteristics Calculation of Local Data Using Global Tidal Models in Indonesian Waters
TPXO 7.1 adalah model pasang surut yang berasal dari asimilasi data altimetri dengan model hidrodinamika. Dalam penelitian ini model TPXO 7.1 dijalankan menggunakan perangkat lunak Tidal Model Driver (TMD) untuk memprediksi. Penelitian dilakukan di 11 lokasi yaitu Sabang, Natuna, Marina Ancol, Sendang Biru, Sebatik, Lembar, Makassar, Maritain NTT, Ternate, Jayapura dan Merauke. Lokasi tersebut mewakili beberapa jenis geomorfologi perairan pesisir. Pengamatan data telemetri pasut diperoleh dari Pushidrosal dan BIG. T-tide matlab toolbox digunakan untuk menganalisis komponen harmonik pasang surut. Analisis data pengamatan dan prediksi telah dilakukan dan memberikan nilai RMSE (Root Mean Square Error). Hasil penelitian menunjukkan, nilai korelasi tertinggi terjadi di perairan Sebatik (R=0,9822), dan nilai korelasi terendah terjadi di perairan Marina Ancol (R=0,7689). Berdasarkan analisis tipe pasang surut antara data pengamatan dan prediksi, tipe pasang surut di perairan Marina Ancol mempunyai perbedaan. Tipe pasang surut Marina Ancol adalah harian tunggal (Formzahl= 4,53) berdasarka data pengamatan, sedangkan berdasarkan data prediksi campuran condong harian tunggal (Formzahl=2,69)
Analisa dan Perhitungan Prediksi Pasang Surut Menggunakan Metode Admiralty dan Metode Least Square (Studi Kasus Perairan Tarakan dan Balikpapan): Tide Prediction Analysis and Calculation Using Admiralty Method and Least Square Method (Case Study of Tarakan and Balikpapan Waters)
Pengamatan pasut dilakukan untuk menentukan nilai komponen pasut yang nantinya dapat digunakan untuk keperluan kerekayasaan dan pemetaaan. Metode least squares dapat digunakan untuk menentukan komponen-komponen pasut selain metode Admiralty.
Metode penentuan komponen pasut dan prediksinya yang umum menggunakan beberapa metode, yaitu metode Admiralty, metode semi grafik, metode least squares dan lainnya. Metode yang umum digunakan adalah metode Admiralty, sedangkan metode lain jarang digunakan. Dengan berkembangnya teknologi komputer, maka berkembang pula metode alternatif lain. Salah satunya adalah metode least squares yang menggunakan bahasa program Matlab untuk eksekusinya.
Perhitungan menggunakan metode least squaresmenghasilkan nilai komponen amplitude yang mendekati nilai komponen hasil perhitungan metode Admiralty tetapi berbeda pada nilai fase. Metode least squares memberikan akurasi yang cukup baik pada hasil prediksi dan dengan komponen yang lebih banyak
Pemanfaatan Data Konsentrasi Klorofil-A dari Citra Penginderaan Jauh untuk Mendukung Operasi Keamanan Laut(Studi Kasus Perairan Arafuru): Utilization of Chlorophyll-A Concentration Data from Remote Sensing Imagery to Support Marine Security Operations (Case Study of Arafuru Waters)
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan wilayah lautan yang sangat luas dan kekayaan ikan yang luar biasa. Hal tersebut memungkinkan terjadinya tindak kejahatan di laut, contohnya adalah kejahatan pencurian ikan dan sumber daya laut lainnya.Indonesia dalam hal ini TNI AL dihadapkan dengan berbagai kendala antara lain keterbatasan jumlah kapal patroli yang ada belum sebanding dengan luasnya perairan yang harus di-cover serta keterbatasan anggaran yang tersedia untuk operasional dalam rangka pelaksanakan operasi penegakan hukum di laut. Dengan keterbatasan-keterbatasan itu maka diperlukan efektifitas dan efisiensi dalam operasi agar penindakan kejahatan di laut tetap bisa dilaksanakan dan kekayaan laut tetap terjaga.
Pemanfaatan teknologi Inderaja dengan satelit dapat memberikan informasi yang cepat dengan cakupan yang luas. Penelitian ini menggunakan data Citra Aqua-MODIS level2 untuk mendeteksi distribusi konsentrasi klorofil-a yang merupakan indikator kesuburan perairan suatu luasan area yang berhubungan erat dengan hasil perikanan melalui proses bottom-up yang implementasinya area dengan nilai kesuburan perairannya tinggi merupakan area yang rawan terjadi tindak kejahatan salah satu contohnya adalah penangkapan ikan ilegal/pencurian ikan.
Dari hasil pengolahan data citra satelit Aqua- MODIS berupa pola waktu dan lokasi konsentrasi klorofil-a dan diverifikasi dengan data VMS mengindikasikan bahwa ada hubungan erat, dimana pada waktu dan area dengan nilai konsentrasi klorofil-a tinggi, terpantau banyak aktifitas kapal penangkap ikan, sehingga dalam pemanfaatannya hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai data pendukung dalam penentuan arah dan waktu operasi khususnya operasi terhadap tindak kejahatan penangkapan ikan ilegal, yang akhirnya operasi keamanan laut bisa menjadi lebih efektif dan efisien dan keberhasilan dapat lebih ditingkatkan
Studi Kontrol Kualitas Data Multibeam Echo Sounder, Berdasarkan S-44 IHO 2008: Multibeam Echo Sounder Data Quality Control Study, Based on S-44 IHO 2008
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan yang ditemukan pada saat proses pengolahan data Multibeam Ecosounder (MBES) pada bagian kontrol kualitas (QC) data, dimana kontrol kualitas data MBES adalah salah satu bagian terpenting untuk mengetahui keakurasian suatu data berdasarkan S-44 IHO tahun 2008. Sebagian besar surveyor melaksankan QC secara otomatis yang dihasilkan dari perangkat lunak yang masih berupa angka, sehingga sulit untuk menganalisa data tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah mengimplementasikan teknik untuk kontrol kualitas data MBES agar dapat diukur secara kuantitatif dan membangun sebuah system untuk kontrol data MBES. Penelitian ini menggunakan metode Ex post facto, kemudian pengolahan data menggunakan perangkat lunak Caris Hips Sips sampai menghasilkan data hasil QC, kemudian data tersebut diolah menggunakan Matlab sehingga menghasilkan grafik. Hasil dari penelitian ini berupa data QC lajur silang yang memiliki nilai ketelitian diatas 95% sesuai dengan orde yang di tentukan, kemudian menghasilkan grafik dari data QC lajur silang yang diolah menggunakan Matlab sehingga dapat dianalisa dengan mudah
Pengaruh Sound Velocity Terhadap Pengukuran Kedalaman Menggunakan Multibeamechosounder di Perairan Surabaya: Effect of Sound Velocity on Depth Measurement Using Multibeamechosounder in Surabaya Waters
Penentuan kedalaman merupakan tugas mendasar bagi seorang hidrografer. Dalam menentukan kedalaman harus memahami apa saja yang mempengaruhi kondisi suatu perairan. Tujuan utama dari sebagian besar survei hidrografi, adalah untuk mendapatkan data dasar untuk penyusunan peta laut dengan penekanan pada fitur yang dapat mempengaruhi keselamatan bernavigasi. Kondisi perairan Indonesia merupakan perairan tropis yang sangat berpengaruh terhadap perubahan kecepatan rambat suara (sound velocity). Dalam kegiatan survei dan pemetaan Hidro-Oseanografi, sound velocity termasuk bagian dari aspek Hidrografi maupun Oseanografi. Terutama pada saat Survei Batimetri, kecepatan rambat suara sangatlah berpengaruh terhadap koreksi dari hasil pengukuran kedalaman menggunakan Multibeam Echosounder, selain pasang surut. Pada penelitian ini sound velocity diukur menggunakan Sound Velocity Profiler (SVP), dan dilakukan perhitungan berdasarkan in situ Conductivity Temperature and Depth (CTD). Data CTD mewakili variabilitas musim dari INDESO Project Badan Litbang KKP turut digunakan untuk memperkaya analisis SVP. Hasil sementara menunjukkan bahwa variabilitas musiman salinitas dan temperatur sangat signifikan mempengaruhi kondisi sound velocity. Pengaruh sound velocity terbesar rata-rata terjadi pada bulan November sebesar 1546,37 m/s dengan nilai maksimum 1548,24 m/s pada stasiun 2, sedangkan pengaruh sound velocity yang terkecil terjadi pada bulan Agustus sebesar 1539,6 m/s dengan nilai minimum 1539,06 m/s pada stasiun 2 tahun 2015 di perairan Surabaya. Pada lapisan permukaan perairan hingga kedalaman 17 meter, sound velocity cenderung mengikuti pola salinitas. Untuk kedalaman yang lebih dalam dari 17 meter, sound velocity cenderung mengikuti pola temperatur. Namun dari kedua parameter utama tersebut, variabilitas salinitas yang sangat mempengaruhi sound velocity
Analisa Perubahan Standarisasi Assessment IHO SP-44 dalam Survei Singlebeam Echosounder (Studi Kasus Lattek STTAL 2019): Analysis of Changes In Assessment Standardization of IHO SP-44 in Singlebeam Echosounder Survey (STTAL Lattek Case Study 2019)
Pada bulan September 2020, International Hidrogaphic Organization (IHO) menerbitkan Special Publication No. 44 (SP-44) Edisi VI. Dalam Klasifikasi Order 1B yang digunakan dalam assessment survei Singlebeam Echosounder (SBES) terdapat perubahan standarisasi. Berdasarkan SP-44 Edisi V, lebar lajur pemeruman SBES diatur 3 kali kedalaman atau maksimal 25 meter namun dalam SP-44 Edisi VI terbaru ini ketentuan tersebut diganti dengan minimum bathymetric coverage area. Adapun perhitungan minimum bathymetric coverage area sangat ditentukan oleh kemampuan peralatan SBES yang digunakan dalam survei bathimetri, selain itu juga ditentukan oleh kedalaman perairan yang disurvei dimana semakin dalam perairan maka akan semakin lebar Beam Foot (BF) SBES dan berpengaruh terhadap semakin luasnya bathymetric coverage area yang dihasilkan. Penulisan ini bertujuan untuk menganalisa apakah pemeruman SBES dengan lebar lajur pemeruman sesuai dengan SP-44 Edisi V dalam latihan praktek (lattek) STTAL yang dilaksanakan pada bulan Juni dan September 2019 memiliki bathymetric coverage area yang mencapai 5%
Pengembangan Aplikasi Sistem Informasi Geografis Berbasis Web untuk Manajemen Data di Dishidros: Development of Web-Based Geographic Information System Applications for Data Management at Dishidros
Perkembangan teknologi di bidang sistem informasi yang didukung oleh perkembangan teknologi jaringan membuat sistem informasi geografis terus berkembang dengan menawarkan berbagai kemudahan yang dapat meningkatkan kinerja dari suatu organisasi yang memanfaatkannya. Aplikasi berbasis web dipilih dalam skripsi ini disebabkan karena adanya tingkat perawatan aplikasi yang lebih mudah bila dibandingkan dengan aplikasi berbasis desktop.
Dalam penanganan data dalam aplikasi ini dibagi kedalam dua jenis data yaitu data yang mengandung informasi geografis (data spasial), dan data atribut.Dalam penanganan kedua jenis data ini terdapat perbedaan dalam hal pembuatan basisdata dan pengembangan aplikasi yang menggunakan basisdata tersebut.
Dishidros sebagai lembaga yang mengelola data spatial dalam hal ini penyediaan peta laut, sangatlah tepat memilih teknologi ini untuk meningkatkan kinerja dari organisasi.Dengan teknologi ini, maka kecepatan distribusi data/informasi yang diperlukan untuk membuat produk dishidros dapat meningkat, begitu juga biaya operasional, keamanan data, dapat lebih baik dari pada sistem konvensional