e-journal STTAL (Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut)
Not a member yet
292 research outputs found
Sort by
Pemodelan Hidrodinamika Barrier Wall dan Sedimentasi di Perairan Dermaga Kolam Koarmatim Surabaya: Hydrodynamic Modeling of Barrier Wall and Sedimentation in Surabaya Koarmatim Pond Pier
Dermaga Koarmatim memiliki nilai strategis dalam menyiapkan unsur pemukul di laut dalam mengemban tugasnya agar mampu memberikan hasil yang optimal sesuai yang diharapkan oleh pimpinan TNI AL. Akan tetapi ancaman alamiah akibat pendangkalan dari berbagai sumber bisa mengurangi nilai efektivitas dari fungsi dermaga itu sendiri. Oleh karena itu, dibangun suatu pemodelan hidrodinamika menggunakan software Mike 21 dengan beberapa asumsi untuk mengetahui karakteristik perairan tersebut beserta sebaran sedimentasinya berikut cara mengurangi sebaran sedimentasi itu sendiri dengan metode barrier wall. Verifikasi hasil model pasang surut dengan data pasang surut BIG berkatagori baik dengan nilai RMSE 0,0649 dengan korelasi konsistensi datanya mencapai nilai 0,9949. Arus tertinggi berkekuatan 0,4 meter/detik dan gelombang tertingginya mencapai 0,0000871 meter. Hasil pemodelan sebelum adanya bangunan barrier wall menghasilkan nilai akumulasi transpor sedimen tertinggi dalam satu bulan sebesar 166,603 gram/liter dan nilai SSC (Suspended Sediment Concentration) sebesar 2,891405214 kilogram/meter3. Perubahan nilai setelah adanya bangunan model barrier wall pada transpor sedimen tertinggi sebesar 85,341 gram/liter dan nilai SSC tertinggi 2,97618518 kilogram/meter3. Berdasarkan data diatas, maka dapat dihitung perbedaan estimasi pengerukan dermaga pada kala waktu 5 serta 10 tahun sebelum dan sesudah adanya bangunan model barrier wall
Studi Hidrodinamika dan Pola Sebaran Sedimen Pada Perencanaan Pembangunan Dermaga Pangkalan TNI AL Di Teluk Ratai - Lampung: Study of Hydrodynamics and Sediment Distribution Patterns in Planning for the Development of the Navy Base Pier in Ratai Bay - Lampung
Adanya perencanaan pembangunan Pangkalan TNI AL di Teluk Ratai dimana salah satu fungsi utamanya adalah sebagai pendukung bagi operasional satuan tempur yaitu KRI (Kapal Republik Indonesia) dengan memberikan fasilitas sandar yang memadai dan aman. Dalam sebuah perencanaan dermaga, perlu dilakukan kajian Hidro-oseanografi dimana termasuk didalamnya adalah sedimentasi yang merupakan salah satu ancaman yang mengakibatkan pendangkalan dilingkungan dermaga. Untuk mengetahui sebaran sedimen pada sebelum dan sesudah adanya dermaga di Teluk Ratai, digunakan metode pendekatan dengan melakukan pemodelan oseanografi menggunakan perangkat lunak Mike 21 dengan beberapa asumsi pembangun model dengan sumber sedimen yaitu sungai Way Sabu, Way Ratai dan kanal 2. Pada validasi data pasang surut, diperoleh RMSE 0.025158 dan korelasi data mencapai nilai 0.99981, sedangkan pada validasi data kecepatan arus diperoleh RMSE 0,344342 dan nilai korelasi sebesar 0,995004. Hasil pemodelan transport sedimen menunjukkan peningkatan akumulasi serta perpindahan lokasi konsentrasi tertinggi pada domain dengan dermaga. Akumulasi transpor sedimen tertinggi terjadi di stasiun 5 sebesar 148,962 gr/liter dan akumulasi peningkatan konsentrasi SSC (Suspended Sediment Concentration) tertinggi terjadi di stasiun 2 sebesar 2,172 kg/m3
Analisis Massa Air Musiman di Selat Sunda: Seasonal Water Mass Analysis in The Sunda Strait
Perairan Selat Sunda merupakan bagian dari laut Indonesia dengan memiliki karakteristik yang menarik. Perairan Selat Sunda di pengaruhi oleh pola angin monsun yang menyebabkan Selat Sunda mengalami empat musim yaitu musim monsun barat, peralihan I monsun timur dan peralihan II, selain itu Selat Sunda merupakan jalur dari Indonesian Throughflow (ITF) sehingga menjadi lokasi yang menarik untuk dilaksanakan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi karakteristik massa air laut di Selat Sunda yang dipengaruhi empat musim selama satu tahun pada kedalaman mix layer, termoklin dan deap layer serta mengidentifikasi masa air laut dari Samudra Hindia. Data yang digunakan adalah data temperatur dan salinitas untuk mengidentifikasai massa air, data bersumber dari situs infrastructure development of space oceanography (INDESO) dengan rentang waktu Desember 2014 sampai dengan Januari 2015. Hasil pengolahan data yang didaapatkan salintas tertinggi di lapisan permukaan terjadi pada musim peralihan II (31,6-33,7 psu) sedang terendah terjadi pada peralihan I (30,5-31,3 psu). Lapisan termoklin memiliki rata-rata tertinggi terjadi pada bulan peralihan I (34,8 psu) dan terendah pada musim hujan (34,65 psu). Pada lapisan dalam rata-rata memiliki salinitas 34,9 psu. Temperatur lapisan permukaan tertinggi pada musim peralihan kemarau (30,2-30,4°C) sedangkan terendah pada musim hujan (29,7-29,5°C). Pada lapisan termoklin rata-rata temperatur tertinggi pada musim kemarau 21,20 °C dan terendah pada musim peralihan I (19 °C). Pada lapisan dalam rata-rata temperatur tertinggi terjadi pada musim peralihan I (10,8 °C) dan terendah pada musim hujan (10,33 °C). Pada perairan ini diduga dilintasi massa air dari Samudra Hindia yaitu Indian Equator Water (IEW), Indonesian Upper Water (IUW) dan South Indian Central Water (SICW)
Analisis Spasial Sebaran Sedimen Permukaan Dasar Laut Dari Data Citra Sidescan Sonar (Studi Kasus Perairan Pulau Setokok Selatan Batam): Spatial Analysis of Seabed Surface Sediment Distribution From Sidescan Sonar Imagery Data (Case Study of the Waters of Setokok Island South Batam)
Indonesia merupakan negara yang mempunyai luas lautan terluas di dunia. sehigga hampir semua jenis topografi bawah laut dijumpai di perairan Indonesia, seperti paparan benua dangkal, cekungan laut dalam, parit, palung, lereng benua, pulau vulkanis dan lainya. Oleh karena itu Indonesia memerlukan berbagai macam data terutama data rupa dasar laut. Untuk mempersiapkan data dari rupa morfologi dasar laut di Indonesia memerlukan peralatan survei dengan teknologi tinggi.
Side Scan Sonar (SSS) adalah sebuah sistem peralatan survei kelautan yang menggunakan teknologi akustik. Peralatan ini digunakan untuk memetakan dasar laut yang dapat menggambarkan rupa morfologi dasar laut. Sistem peralatan ini merupakan penginderaan untuk merekam kondisi dasar laut dengan memanfaatkan sifat media dasar laut yang mampu memancarkan, memantulkan dan atau menyerap gelombang suara.Dengan mengelompokan sifat dasar laut tersebut diperoleh klasifikasi dasar laut yang merupakan jenis dasar laut.
Diperairan pulau Setokok selatan Batam telah dilakukan kajian dari data citra Sidescan Sonar dalam bentuk Mosaik yang diolah dengan perangkat lunak SonarWiz dengan mengelompokan nilai pixel dari gambar mosaik sehingga batasan antar jenis dasar laut dapat diketahui secara spasial
Kajian Teknis Penetapan Batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) antara Indonesia dan Palau di Samudera Pasifik: Technical Study on Exclusive Economic Zone (EEZ) Delimitation between Indonesia and Palau in the Pacific Ocean
Sebagai negara yang telah meratifikasi UNCLOS’82, Indonesia diberikan hak menetapkan batas-batas laut dengan negara tetangga, salah satunya batas Zona Ekonomi Eksklusif/ZEE (Pasal 55-75). Dalam penetapan batas ZEE harus diadakan dengan persetujuan internasional untuk mencapai pemecahan yang adil. Perbatasan ZEE antara Indonesia dan Palau merupakan salah satu permasalahan yang belum terselesaikan. Palau menetapkan batas ZEE menggunakan prinsip sama jarak, sedangkan Indonesia sebagai negara yang jauh lebih luas menganggap lebih adil apabila ditetapkan dengan prinsip proporsionalitas.
Dari kedua prinsip diatas, akan dilakukan analisa berdasarkan aspek teknik dan aspek hukum, sehingga dalam menetapkan batas ZEE dapat diterima kedua belah pihak sesuai UNCLOS’82 dan Hukum Internasional lainnya.
Berdasarkan hasil analisis, prinsip sama jarak digunakan dalam penentuan batas Laut Teritorial karena di wilayah tersebut berlaku kedaulatan penuh untuk menegakkan yurisdiksinya, sementara di perairan ZEE berlaku hak berdaulat sehingga tidak harus menggunakan prinsip sama jarak. Prinsip proporionalitas dilakukan dengan pendekatan perbandingan panjang garis pangkal dan panjang garis pantai terhadap wilayah yang akan dibatasi. Pendekatan perbandingan panjang garis pangkal terhadap wilayah yang akan dibatasi dianggap relevan karena baik Indonesia dan Palau telah mendepositkan Daftar Koordinat Geografis ke Sekretaris Jenderal PBB, yang dijadikan dasar untuk penarikan garis pangkal. Penggunaan Prinsip Proporsionalitas menggunakan pendekatan perbandingan jumlah panjang garis pangkal yang relevan dengan rasio 1 : 15.9, akan menghasilkan solusi yang adil sesuai UNCLOS’82 daripada menggunakan prinsip sama jarak
Visualisasi dan Analisis Peta Laut Militer untuk Pengembangan Strategi Pertahanan di Laut (Studi Kasus Perairan Pulau Baai Bengkulu): Visualization and Analysis of Military Sea Maps for the Development of Defense Strategies at Sea (Case Study of the Waters of Baai Island Bengkulu)
Perkembangan teknologi militer dari tahun ke tahun mengalami kemajuan yang sangat pesat, sehingga memicu perkembangan taktik dan strategi tempur yang telah ada. Dengan perkembangan taktik dan strategi tentunya dibutuhkan data-data pendukung yang semakin komplek.
Untuk memenuhi hal tersebut, diperlukan peta khusus yang ditujukan untuk kepentingan militer, Peta tersebut adalah Peta Laut yang diberi tambahan layer Militer atau disebut dengan AML (Additional Military Layers). AML merupakan sekumpulan produk data digital geospasial yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut dalam bidang pertahanan di luar kepentingan navigasi.
AML bukanlah merupakan layer yang menutupi peta navigasi. Beberapa bagian dari AML bisa digunakan pada beberapa produk, seperti ENC, akan tetapi AML dibuat dengan tujuan untuk kepentingan non-navigasi, (seperti dukungan untuk peperangan ranjau). Komponen tertentu dari AML dapat digunakan sendiri tanpa ENC untuk menampilkan peta navigasi secara penuh.
Berdasarkan hasil pengolahan data dan analisis spasial, diperoleh 10 layer AML dari 9 layer yang tertuang dalam konsep AML yang dikeluarkan oleh North Atlantic Treaty Organisation (NATO)
Kajian Kualitas Posisi Geometri Citra Satelit Cartosat-1 Untuk Updating Peta Laut (Studi Kasus Peta Laut No.86b Tahun 2008): Study of the Quality of Geometric Positioning of Cartosat-1 Satellite Imagery for Updating Marine Maps (Case Study of Marine Maps No. 86b Year 2008)
Pada pelaksanaan updating peta laut diperlukan data primer maupun data sekunder. Dalam hal ini digunakan data sekunder dengan memanfaatkan data teknologi penginderaan jauh yaitu berupa data citra satelit. Citra satelit yang digunakan adalah Cartosat-1 dengan resolusi spasial 2,5 meter hasil liputan tahun 2009 untuk wilayah Ancol Jakarta Utara.
Koreksi geometrik dilakukan pada citra satelit dengan Ground Control Point, sehingga citra tidak mengalami distorsi. Selain itu citra satelit diuji ketelitiannya dengan melaksanakan hitungan parameter transformasi koordinat dan transformasi kordinat. dengan menggunakan transformasi koordinat dua dimensi model Helmert-1.
Berdasarkan hasil perhitungan dan analisa, diperoleh kesalahan posisi pada titik kontrol TB05 dan TB06 sebesar dDTB05 = 1378,187 mm dan dDTB06 = 1287,311 mm, kesalahan terbesar pada TB05 dan kesalahan ploting sebesar 0,1 mm dapat ditentukan skala peta maksimal yang akan diperbaharui adalah 1 : 13781,87. Dengan demikian citra Cartosat-1 memenuhi syarat untuk updating peta laut no.86B skala 1:20000. Setelah dilakukan proses overlay garis pantai hasil dijitasi citra ke peta laut tidak ada perbedaan yang menonjol
Identifikasi Objek Berdimensi Kecil Menggunakan Sapuan Multibeam Echosounder: Identify Small Dimensional Objects Using the Multibeam Echosounder Sweep
Survei Hidrografi adalah ilmu pengukuran dan pengambaran fitu-fitur yang mempengaruhi navigasi maritim, konstruksi kelautan, pengerukan, eksplorasi / pengeboran minyak lepas pantai dan kegiatan-kegiatan lain yang terkait. Pada saat pelaksanaan survei, keselamatan personel, alat, data dan lingkungan sangat diutamakan. Resiko yang sering terjadi pada saat survei yaitu terjatuhnya peralatan survei pada saat penggambilan data dilaut. Penelitian ini menggunakan objek berdimensi kecil dengan ukuran kurang dari 1 meter sebagai target untuk diteliti karena alat survei milik Pushidrosal rata-rata berukuran di bawah 1 meter. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui performa MBES EM 2040 dual head milik SV KRI SPICA-934 dalam mengidentifikasi objek berdimensi kecil dengan cara memperbanyak jumlah sapuan. Pengambilan Data dilakukan pada tanggal 20 - 25 April 2018 di perairan dermaga pondok dayung baru, Teluk Jakarta Tanjung Priok, Jakarta Utara. Hasil pengolahan Data menggunakan CARIS HIPS and SIPS 9.0 menyatakan bahwatarget dengan dimensi kurang dari 1 meter pada kedalaman 10 meter dapat dideteksi mengunakan 3 kali sapuan MBES
Analisis Teknis Batas Laut Teritorial Antara Indonesia dan Malaysia dengan Metode Ekuidistan (Studi Kasus: Perairan Pulau Sebatik, Kalimantan Timur): Technical Analysis of the Territorial Sea Boundary Between Indonesia and Malaysia with the Equidistant Method (Case Study: Sebatik Island Waters, East Kalimantan)
Indonesia dan Malaysia memiliki klaim batas Laut Teritorial di perairan Pulau Sebatik yang sampai saat ini belum disepakati oleh kedua negara, oleh karena itu perlu dilakukan sebuah penelitian awal sebagai dasar penarikan batas Laut Teritorial di perairan tersebut.
Untuk menetapkan batas Laut Teritorial di perairan Pulau Sebatik dibutuhkan landasan teknis dan hukum yang diakui oleh internasional yaitu TALOS (Technical Aspects on the Law Of the Sea) dan UNCLOS (United Nations Convention on the Law Of the Sea) 1982 khususnya pasal 15 tentang penentuan batas Laut Teritorial dengan prinsip sama jarak.
Dengan menggunakan metode deskriptif-analisis melalui penelusuran kepustakaan dan metode grafis berupa kajian di peta laut yang kemudian di analisis berdasarkan aspek-aspek hukum dan teknis menggunakan prinsip sama jarak (Equidistance Principle), didapat beberapa opsi penetapan batas Laut Teritorial. Dari hasil analisis opsi-opsi tersebut, maka penarikan batas Laut Teritorial dengan menggunakan Titik-Titik Dasar yang terletak pada Garis Pangkal Lurus Kepulauan (Point on Baseline) Indonesia terhadap Titik Dasar (Basepoint) Malaysia merupakan opsi yang paling optimal bagi Indonesia
Studi Pengaruh Noise Level Vessel Terhadap Kontrol Kualitas Data Multibeam Echosounder (Studi Kasus Sounding Vessel KRI Spica – 934 di Perairan Kolam Dermaga Pondok Dayung Baru Jakarta Utara): Study of the Effect of Vessel Noise Level on Multibeam Echosounder Data Quality Control (Case Study of Sounding Vessel KRI Spica – 934 in Pondok Dayung Baru Jetty Pond, North Jakarta)
Survei Hidrografi adalah ilmu pengukuran dan penggambaran fitur - fitur yang mempengaruhi navigasi maritim, konstruksi kelautan, pengerukan, eksplorasi/pengeboran minyak lepas pantai dan kegiatan - kegiatan lain yang terkait. Penggunaan Multibeam Echosounder (MBES) membutuhkan metoda dan pola pemeruman yang tepat. sehingga kontrol kualitas data yang sesuai dengan standar S-44 IHO (2008) maupun SNI 7988-2014. Pemeruman dilaksanakan sesuai dengan lajur perum yang telah ditentukan dengan menggunakan kecepatan yang sudah ditentukan sesuai dengan perencanaan survey. Penggunaan kecepatan kapal dan generator mempengaruhi noise level vessel yang dihasilkan memiliki pengaruh terhadap pancaran sinyal akustik dari MBES. Hal tersebut terdapat dalam perumusan persamaan Sonar. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui pelaksanaan pengukuran noise level vessel yang didapatkan setiap perubahan beban mesin dan generator serta penggunaan MBES pada Sounding Vessel KRI Spica – 934, serta mengetahui sumber noise paling dominan, dan kontrol kualitas data batimetri dengan adanya kondisi noise level vessel yang berbeda. Pengambilan Data dilakukan pada tanggal 20 - 25 April 2018 di Perairan Dermaga Pondok Dayung Baru, Jakarta Utara. Penempatan hidrofon pada 5 titik pada kapal untuk mengetahui noise yang dominan pada kapal tersebut. Pengolahan data batimetri menggunakan software CARIS HIPS and SIPS 9.0 dan untuk pengolahan data noise menggunakan Matlab 2015a. Pengukuran noise dilaksanakan dengan menggunakan standar ANSI/ASA. Noise yang tertinggi didapatkan pada posisi dekat dengan propeler. Hasil pengolahan data memperlihatkan bahwa pada penggunaan kecepatan 4 knot didapatkan kualitas data batimetri tertinggi 99,88% dengan noise level 24,88 dB. Pada kecepatan 6 knot didapat noise tertinggi dengan noise level 26,56 dB