e-journal STTAL (Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut)
Not a member yet
292 research outputs found
Sort by
Karakteristik Natuna Off-Shelf Current (NOC) Berdasarkan Komputasi Data Laut Skala Kecil Berbasis Awan: Characteristics of Natuna Off-Shelf Current (NOC) on Cloud-Based Small-Scale Marine Data Computation
Morfologi perairan Laut Natuna Utara yang unik menghasilkan arus yang memiliki kecepatan yang signifikan sebagai perpanjangan dari Vietnam Coastal Jest (VCJ) yang disebut sebagai Natuna Off-Shelf Current (NOC). Identifikasi NOC dilakukan untuk melihat pola arus pada setiap musim serta pengaruh fenomena ENSO terhadap pola arus yang dihasilkan. Visualisasi dilakukan menggunakan pendekatan komputasi awan berkecepatan tinggi diproses melalui platform google earth engine (GEE) dengan menggunakan input data dari HYCOM. Artikel ini bertujuan untuk melakukan identifikasi dan visualisasi NOC menggunakan pendekatan data berbasis raster yang diolah menggunakan komputasi awan di GEE. Tahun kajian sebagai periode observasi diantaranya adalah periode La Niña tahun 2022, periode El Niño kuat pada tahun 1997, dan tahun netral pada tahun 1996. Secara visual NOC terbentuk akibat perpanjangan VCJ pada bulan musim barat, dan terlihat di semua tahun kajian observasi. Arus paling signifikan dijumpai pada musim barat tahun 1996 (tahun netral) dengan kecepatan 1,7 m/detik di lapisan permukaan, 1,4 m/detik di kedalaman 50m untuk bulan November 1996 (tahun netral), dan 1,4 m/detik di kedalaman 100m pada November 1997 (periode ENSO) dan Februari 1996 (tahun netral)
Massa Air di Laut Banda Berdasarkan Data Observasi Ekspedisi Jala Citra 2 – 2022 “Banda” dan Model Global: Characteristics of The Mass of Water in The Banda Sea Based on Observation Data of Jala Citra 2 – 2022 “Banda” Expedition and The Global Model
Setiap perairan di Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda-beda tergantung pada kedalaman perairan tersebut. Secara bentuk topografi, Laut Banda memiliki kedalaman di atas 5000 m sehingga memiliki karakteristik massa air laut yang unik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkomparasi variabel massa air berupa suhu, salinitas dan densitas yang melewati Laut Banda berdasarkan data model global CMEMS Copernicus dengan data observasi Ekspedisi Jala Citra 2 – 2022 “Banda”. Penggambaran variabel massa air tersebut dilakukan dengan perangkat lunak ODV V.5.5.2 untuk mengklasifikasikan jenis massa air berdasarkan dimana daerah asalnya. Hasil penelitian menunjukkan jenis massa air dari data model global Copernicus dan observasi Ekspedisi Jala Citra 2 – 2022 “Banda” didominasi oleh 3 jenis massa air yaitu massa air yang berasal dari Samudera Pasifik Utara berupa Western South Pacific Central Water dengan karakteristik suhu 6⁰-22⁰C dan salinitas 34,5-35,8 PSU, serta massa air yang berasal dari Samudera Pasifik Selatan berupa Eastern South Pacific Central Water dengan karakteristik suhu 8⁰-24⁰C dan salinitas 34,4-36,4 PSU, kemudian North Pacific Equatorial Water dengan karakteristik suhu 6⁰-16⁰C dan salinitas 34,5-35,2 PSU
Perumusan Karakteristik Gelombang Perairan Halmahera Utara dan Morotai: Characteristic Formulation of Waves in The North Halmahera and Morotai Coastal Waters
Halmahera Utara dan Morotai, dua pulau yang terletak di Kepulauan Maluku Utara, Indonesia, merupakan wilayah yang kaya akan keanekaragaman hayati laut dan memiliki potensi besar dalam sektor maritim, perdagangan, dan perikanan. Kedua pulau ini memegang peran strategis sebagai jalur penting dalam transportasi maritim dan perdagangan regional. Dinamika gelombang laut di wilayah ini dapat memiliki dampak signifikan pada berbagai aspek, mulai dari keselamatan pelayaran hingga kesejahteraan ekosistem pesisir. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang karakteristik gelombang laut di perairan ini menjadi esensial. Karakteristik gelombang laut mencakup tinggi, periode, dan panjang gelombang dominan, gelombang signifikan, gelombang alun, dan gelombang angin. Informasi ini tidak hanya penting untuk keselamatan pelayaran tetapi juga untuk pengembangan potensi ekonomi kelautan. Dalam konteks perubahan iklim global yang semakin meningkat, variasi dan perubahan dalam karakteristik gelombang dapat menjadi indikator penting untuk memahami kondisi perairan yang berubah. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Marine copernicus , sebuah platform data kelautan global, dalam rentang waktu dari tahun 2012 hingga 2021, untuk merumuskan karakteristik gelombang perairan di Halmahera Utara dan Morotai. Metodologi penelitian mencakup pemilihan lokasi penelitian, pengumpulan data, analisis statistik data gelombang, identifikasi pola musiman dan tahunan, serta pengolahan data menggunakan perangkat lunak ODV (Ocean Data View). Hasil menunjukkan variasi yang signifikan dalam tinggi gelombang selama 10 tahun. Tinggi gelombang signifikan berkisar antara 0,2 hingga 2,69 meter. Faktor seperti angin, arus laut, dan topografi laut memengaruhi tinggi gelombang. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan ilmiah yang berharga dan rekomendasi praktis bagi berbagai pemangku kepentingan di sektor kelautan. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang karakteristik gelombang laut di wilayah ini, penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi untuk meningkatkan keselamatan pelayaran tetapi juga untuk pengembangan potensi ekonomi kelautan di Halmahera Utara dan Morotai
Kajian Data Backscatter Multibeam Echosounder Dalam Pembuatan AML Layer Environment, Seabed And Beach (ESB) (Studi Kasus Teluk Sengiap Natuna ): Study Of Multibeam Echosounder Backscatter Data in The Development of AML Layer Environment, Seabed And Beach (ESB) (Case Study of Natuna Sengiap Bay)
Dalam kondisi persiapan perang TNI Angkatan Laut harus menyiapkan sejak dini kebutuhan apa saja yang disiapkan untuk menghadapi kondisi perang dikemudian hari, salah satu yang harus disiapkan adalah Warship Electronic Chart Display Information System (WECDIS) merupakan perangkat keras untuk menampilkan peta khusus yang dilengkapi Additional Military Layers (AML). Layers khusus yang digunakan untuk mendukung operasi militer agar dapat mensajikan informasi penting sesuai dengan kebutuhan operasi militer seperti menentukan jenis dasar laut. Dari hasil data backscatter kemudian dilaksanakan analisa menggunakan metode Angular Response Analysis (ARA) dengan bantuan software Fladermaust FMGT versi 7.8 melalui penerapan prinsip homogenitas dan estimasi nilai rata-rata pengukuran hamburan balik yang diperoleh dari luas sapuan. File dengan format shapefile dibutuhkan untuk pengolahan pembuatan AML layer Environment Seabed and Beach (ESB) menggunakan software Caris Hips & Sips versi 11.3. Pada saat pembuatan layer ESB dengan luas 16.129 Km2 dapat tersimpan dalam format HOB dengan kapasitas 57 Kb, sebagai validasi data digunakan hasil dari sample Grab Sampling yang sudah melalui proses penyaringan di laboratorium Disosemet Pushidrosal dengan hasil nilai interpretasi koefisien nilai R Squeare sebesar 0.3034 dengan tingkat hubungan rendah
Karakteristik Kecepatan Hanyut Gelombang di Teluk Jakarta Tahun 2012 - 2021: Sea Surface Stokes Drift Velocity Characteristics in Jakarta Bay 2012 - 2021
Teluk Jakarta adalah perairan di wilayah Jakarta yang memiliki nilai penting dalam hal aktivitas berbagai kegiatan di laut di bidang transportasi, proyek instalasi dan pembangunan struktur bangunan lepas pantai, atau bidang pariwisata. Memahami perilaku gelombang di wilayah ini menjadi salah satu referensi sekaligus kunci dalam pengambilan keputusan yang efisien dan berkelanjutan pada berbagai aspek pemanfaatan perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik kecepatan hanyut gelombang (surface Stokes drift velocity) di perairan Teluk Jakarta, dilaksanakan dengan melakukan analisis data pemodelan gelombang global Marine Copernicus berdasarkan empat stasiun observasi virtual 10 tahun (2012 – 2021). Hasil analisis menunjukkan bahwa kecepatan hanyut gelombang di perairan Teluk Jakarta bervariasi secara spasial dan temporal. Kecepatan hanyut gelombang memiliki korelasi positif kuat terhadap gelombang angin jika dibandingkan dengan gelombang signifikan (total gelombang signifikan) dan gelombang alun. Rata-rata kecepatan hanyut gelombang selama periode 10 tahun (2012 – 2021) diperoleh bahwa rata-rata kecepatan hanyut gelombang adalah 0,004 – 0,04 m/s, dengan nilai rata-rata simpangan arah dari arah gelombang signifikan 8,1° – 9,9°. Karakteristik kecepatan hanyut gelombang di Teluk Jakarta adalah bahwa semakin tinggi gelombang angin, maka kecepatan hanyutnya akan bertambah
Studi Identifikasi Kemagnetan, Positioning dan Pencitraan Pipa Bawah Laut di Perairan Semarang: Magnetic Identification Study, Positioning and Subsea Pipeline Imaging in Semarang Waters
Indonesia merupakan negara kepulauan yang dua per tiga wilayahnya adalah perairan. Sebagai negara kepulauan peran pelabuhan sangat vital dalam perekonomian Indonesia. Kehadiran pelabuhan yang memadai berperan besar dalam menunjang perdagangan ekspor-impor dan berperan dalam merangsang pertumbuhan kegiatan ekonomi. Pelabuhan Tanjung Emas Semarang yang terletak di pantai Utara Jawa Tengah merupakan satu-satunya pelabuhan di kota Semarang yang memiliki fasilitas pendukung dalam bidang perkonomian dan pertahanan yang cukup besar di Pantai Utara Jawa.
Medan magnet menyerupai suatu medan dari batang magnet yang sangat besar dan pusatnya berhimpitan dengan bumi serta mempunyai gaya tarik magnet yang melingkar. Hal ini menunjukkan bahwa di seluruh permukaan bumi memiliki kuat medan magnet tersendiri. Pada perairan Semarang, Jawa Tengah merupakan pintu gerbang perekonomian pada kota-kota lain di wilayah Jawa Tengah, diharapkan aman bagi lalu lintas pelayaran menuju Pelabuhan tanjung Emas. Untuk mendeteksi tingkat kemagnetan logam khususnya pipa bawah laut, maka dilakukan survei kemagnetan dengan menggunakan alat Multibeam Echosunder, Magnetometer dan Side Scan Sonar pada tanggal 08 Juli s.d 26 Agustus 2020.
Hasil identifikasi kemagnetan pipa bawah laut pada area tersebut menggunakan software Caris Hips Ships, Oasis Montaj, dan SonarWiz untuk mengolah data bathymetri dan kemagnetan serta image yang dihasilkan Side Scan Sonar sehingga dapat mengetahui klasifikasi medan magnet, dan sumber anomali terdapat di bawah dasar laut atau di sekitar perairan. Dari hasil investigasi menggunakan Magnetometer dan SSS ditemukan 5 (Lima) pipa bawah laut dengan nilai intensitas kemagnetan rata-rata sebesar 10.442 nT. Dalam pendeteksian pipa bawah laut dengan menggunakan Magnetometer posisi pipa bawah laut masih memiliki perbedaan posisi terhadap hasil overlay dengan PLI 91 tahun 2019 skala 1 : 50.000 Edisi Ketujuh Desember 2016 Terkoreksi BPI No.52 – 2016
Pemutahiran Basis Data Fusi-Oseanografi dengan Variabel Suhu Konservatif dan Arus Laut: Database Updating of Fusi-Oseanography using Conservative Temperature and Ocean Current Variabel
Sistem Basisdata Fusi-Oseanografi merupakan inovasi baru di bidang pengelolaan data observasi dan teknologi prediksi Oseanografi Nasional. Pembangunan sistem basisdata yang baru membutuhkan pengembangan yang berkelanjutan dengan meningkatkan variabel lain seperti variabel Suhu Konservatif Arus. Data penelitian (Temperatur Konservatif, dan Komponen Arus u,v) bersumber dari Copernicus Marine Environment Monitoring Service (CMEMS) tahun 2020. Ketiga variabel diatas dikomputasi dan divisualisasikan terhadap 32 kedalaman dan 12 WFO menggunakan software ODV versi 5.6.3 untuk menghasilkan kumpulan database peta Suhu Konservatif dan Arus. Kumpulan database tersebut, selanjutnya diunggah kedalam webdatabase purwarupa Fusi-Oseanografi untuk ditampilkan di Aplikasi Android Fusioseanografi V4 bagi pengguna.Penelitian menghasilkan database peta Suhu konservatif dan Arus sejumlah 4.321 gambar. Untuk suhu konservatif tertinggi dari hasil nilai dari olahan ODV Versi 5.6.3 dari WFO-00 Sampai WFO-11. Jadi Keseluruhan data hasil pengolahan variabel suhu konservatif dan Arus dan dari tiga contoh kedalaman (0,50,150,300) Sesuai batas termoklin diseluruh WFO yang ditampilkan, dilihat dari standard deviasi statistik deskriptif Suhu Konservatif didapat (Average) 0,211350801 °C, nilai Minimum 0,0072°C di WFO-08 bulan April kedalaman 50 m dan Maximum 1,603°C di WFO-06 bulan Januari kedalaman 100 m. Untuk hasil Kecepatan arus mengalami penurun secara berangsur-angsur dilapisan kedalaman yang semakin dalam
Karakteristik Sebaran Klorofil-A di Perairan Teluk Jakarta: Characteristics of Chlorophyll-A Distribution in Jakarta Coastal Bay
Laut Jawa merupakan wilayah yang penting bagi Indonesia karena sumber daya lautnya yang signifikan. Namun, wilayah ini juga menghadapi berbagai masalah lingkungan, termasuk polusi air. Konsentrasi klorofil-a biasanya digunakan sebagai parameter untuk menilai kualitas air. Klorofil-a merupakan pigmen utama pada fitoplankton, yang berperan penting dalam proses produksi primer di ekosistem perairan. Klorofil-a berfungsi sebagai indikator penting untuk mengukur produktivitas biologis di dalam air, yang secara langsung berdampak pada berbagai aspek kehidupan akuatik. Salah satu faktor yang mempengaruhi distribusi klorofil-a di Laut Jawa adalah masukan nutrien dari sungai yang bermuara di Teluk Jakarta. Terdapat 13 sungai dari kota Jakarta yang bermuara di Teluk Jakarta dengan membawa nutrien, sedimen, dan mikroorganisme yang dapat memengaruhi ketersediaan dan distribusi klorofil-a di ekosistem perairan. Konsentrasi klorofil-a di Perairan Teluk jakarta termasuk dalam kategori tingkat kesuburan perairan rendah atau Meso-oligotropik dengan kandungan klorofil-a berkisar antara 2-5 mg/l pada Musim Peralihan 1, yaitu pada saat curah hujan paling tinggi selama rentang waktu penelitian. Hal ini diperkuat dengan korelasi antara sebaran klorofil-a dan curah hujan BMKG dengan nilai sebesar 0,7. Klasifikasi konsentrasi klorofil-a ini diharapkan dapat menjadi acuan untuk menentukan tingkat pencemaran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik sebaran klorofil-a di Teluk Jakarta. Selain itu untuk mengevaluasi pengaruh cuaca terhadap distribusi klorofil-a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pengelolaan Teluk Jakarta, khususnya dalam upaya menjaga kualitas air di wilayah tersebut. Penelitian ini menggunakan metode analisis korelasi linier Pearson untuk mengkaji kejadian atau hubungan tertentu antara dua variabel, yaitu curah hujan dan klorofil-a
Analisa Data Magnetometer dengan Menggunakan Transformasi Reduksi Ke Kutub dan Ke Equator (Studi Kasus di Perairan Pantai Ancol): Magnetometer Data Analysis Using Reduction Transformation to The Pole and to The Equator (Case Study in Ancol Beach Waters)
Penelitian dengan menggunakan metode magnetik di Perairan Pantai Ancol telah dilaksanakan. Data medan magnet total diukur menggunakan Magnetometer G-882 dan wahana kapal dengan jumlah lintasan yaitu sebanyak 12 lintasan. Data anomali medan magnetik total selanjutnya dilakukan koreksi diurnal/IGRF (International Geomagnetic Reference Field) untuk menghasilkan data intensitas anomali medan magnetik lokal. Data anomali magnetik lokal selanjutnya di transformasi reduksi ke kutub dan reduksi ke equator. Pola kontur intensitas anomali medan magnetik lokal hasil reduksi ke kutub dan reduksi ke equator digunakan untuk mengidentifikasi anomali medan magnetik lokal di lokasi penelitian tersebut. Kemudian dilakukan Analisa untuk membandingkan hasil kontur intensitas anomali magnetik lokal pada kedua metode transformasi tersebut. Berdasarkan dari hasil pengolahan dengan metode transformasi ke kutub dan equator, anomali kemagnetan yang tadinya dipole dapat berubah menjadi monopole tetapi menjadi tidak beraturan, arah kontur dan nilai objek magnetik sangat berbeda. Perkiraan jarak kabel dengan indikator warna tertinggi setelah di overlaykan ke PLI No.86A tahun 2013 dengan menggunakan metode transformasi reduksi ke kutub sekitar 30,72 meter. Sebaliknya dengan menggunakan metode transformasi reduksi ke equator perkiraan jarak kabel dengan indikator warna tertinggi setelah di overlaykan ke PLI No.86A tahun 2013 sekitar 3,21 meter
Analisis Dinamika Sedimentasi pada Alur Pelayaran Pelabuhan Patimban, Subang, Jawa Barat: Analysis Dynamics of Sedimentation in Patimban Shipping Lanes, Subang, West Java
Dalam kegiatan pelayaran, sedimentasi yang terjadi dapat berpengaruh terhadap keselamatan bernavigasi bagi kapal – kapal, khususnya yang melintasi alur pelayaran tersebut. Dalam memelihara/ maintenance dari kondisi alur pelayaran dan pelabuhan, diperlukan analisis mengenai dinamika sedimentasi guna menentukan laju serta sebaran dari sedimentasi tersebut. Perhitungan analisis hidrodinamika pasang surut menggunakan metoda Admiralty. Analisa data dari hasil pemodelan numerik menggunakan piranti lunak MIKE 21 yang dievaluasi menggunakan Root Mean Squared Error (RMSE), dimana data hasil pemodelan akan dilaksanakan validasi dengan data primer (survei) yang didapat. Perbandingan elevasi antara hasil penelitian dengan model hidrodinamika untuk kondisi pasang surut diperoleh nilai RMSE sebesar 0,22 m, sedangkan untuk kondisi arus diperoleh nilai RMSE sebesar 0,055 m/s. Adapun untuk kandungan sedimen suspensi rata-rata di alur pelayaran pelabuhan Patimban sebesar 157,86 mg/l, dengan material dasarnya lautnya adalah Clay (Lempung) hingga Sandy Clay (Lempung Pasiran) yang dominasi oleh Clay (Lempung). Laju pengendapan yang terjadi di sekitar dermaga adalah 0,450 cm/th sampai dengan 3,15 cm/th. Pergerakan sedimen di sekitar perairan Patimban dominan disebabkan oleh faktor oseanografi yaitu akibat adanya pergerakan arus dan perbedaan tunggang elevasi muka air laut (pasang surut). Walaupun secara numerik terdapat perbedaan antara data lapangan dan model, namun secara praktis tidak mempengaruhi keamanan pelayaran maupun kegiatan pengembangan pelabuhan yang ada, karena selisih yang terjadi relatif kecil