e-journal STTAL (Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut)
Not a member yet
292 research outputs found
Sort by
Pembuatan Electronic Navigation Chart (ENC) Menggunakan Perangkat Lunak Caris S-57 Composer (Studi Kasus di Perairan Sungai Jambi): Electronic Navigation Chart (ENC) Using Caris S-57 Composer Software (Case Study in The Jambi River Waters)
Menurut konvensi Safety of Life at Sea (SOLAS), semua kapal harus memiliki Electronic Navigation Chart (ENC) dengan menggunakan Electronic Chart Display and Information System (ECDIS) sesuai standar IHO yang akan berlaku pada tahun 2018. Tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan pembuatan ENC adalah tersedianya peta laut navigasi elektronik (ENC) di Perairan Sungai Jambi yang sesuai dengan standar produk ENC S-57 edisi 3.1. Kegiatan pembuatan ENC menggunakan data peta laut Indonesia nomor 48 Sungai Jambi skala 1 : 50.000 edisi ke 9 koreksi BPI sampai dengan Desember 2017 dalam format*.Jpg yang diperoleh dari Dinas Peta Pusat Hidro-Oseanografi. Metode yang digunakan adalah dengan mendigitasi langsung lembar lukis teliti berupa raster menggunakan perangkat lunak Caris S-57 Composer. Hasil dari proses digitasi tersebut dikoreksi dengan optimasi, validasi dan analisa sesuai refensi S-58 sampai tidak ada nilai kesalahan yang muncul. Tampilan ENC sesuai dengan dokumen ENC S-52, sehingga peta ENC dapat digunakan pada ECDIS sebagai sarana bantu navigasi elektronik. ENC Sungai Jambi telah tersedia sehingga dapat digunakan oleh berbagai macam jenis kapal yang telah menggunakan ECDIS untuk berlayar di daerah tersebut.
 
Upgrade Prototype Alat Ukur Arus Sensor Reed Switch dengan Menambahkan Sensor Water Pressure dan Modul Pengiriman Data Nir Kabel Jarak Jauh Lora (Long Range): Upgrading The Prototype of The Reed Switch Sensor Flow Meter By Adding a Water Pressure Sensor and A Long Range Wireless Data Transmission Module
ABSTRAK
Pengamatan arus laut merupakan bagian dari pengumpulan data yang dilaksanakan oleh Pushidrosal. Data arus laut banyak sekali digunakan dalam berbagai bidang diantarannya bidang hidrografi, oseanografi, proyek rekayasa, perikanan dan di bidang pariwisata. Hal ini menimbulkan konsekuensi atas ketersediaan alat pengukur arah dan kecepatan arus laut dalam skala besar, praktis, ekonomis, akurat dan akses data yang cepat. Dalam penelitian ini penulis bermaksud meningkatkan kemampuan prototype alat ukur arus laut sensor reed switch yang sudah ada sehingga dapat memenuhi kebutuhan tersebut serta mewujudkan kemandirian teknologi dalam negeri. Upgrade tersebut dilaksanakan dengan menggunakan microcontroller Arduino UNO,Arduino NANO, sensor magnetic reed switch, sensor Sensor GY-271 HMC5883L Modulelectronic compass 3-Axis, sensor Water Pressure, serta menambahan perangkat pengiriman data nir kabel jarak jauh menggunakan LORA (Long Range),LoRa sendiri adalah teknologi komunikasi data digital nir kabel. Lora menggunakan format modulasi sub Giga Hertz, pita frekuensi lora bervariasi berdasarkan wilayah, dimana frekuensi wilayah asia adalah 433 MHz. Sebagai data pembanding pada penelitian ini menggunakan alat current meter valeport 106.
 
Pola Arus dan Sebaran Fosfat di Perairan Selat Sunda: Ocean Current and Phosphate Distribution in The Sunda Strait Coastal Waters
Selat Sunda adalah selat yang letaknya di antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatra yang menghubungkan antara Laut Jawa dan Samudra Hindia. Faktor angin mempengaruhi pergerakan arus permukaan di suatu perairan. Sebaran fosfat di perairan dipengaruhi oleh pola arus yang terjadi di perairan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab terkait bagaimana pola dan sebaran fosfat di perairan Selat Sunda secara musiman. Metode penelitian menggunakan perangkat lunak ODV (Ocean Data View) versi 5.6.3. untuk menghasilkan gambaran pola arus secara horizontal, sebaran fosfat secara horizontal dan vertikal secara dua dimensi. Sumber yang didapatkan dari data sekunder melalui Marine Copernicus. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi spasial dan musiman dalam sebaran fosfat di perairan Selat Sunda secara runtut di mana setiap musim diwakili oleh bulan Januari (musim barat), bulan April (musim peralihan I), bulan Juli (musim timur), dan bulan Oktober (musim peralihan II). Alur arus paling dominan berasal dari Laut Jawa dengan melewati Selat Sunda kemudian berputar di Pulau Kalagian dan menuju Samudra Hindia. Berdasarkan sebaran fosfat secara horizontal, konsentrasi paling tinggi berada di sekitar perairan Banten dan Jakarta pada kedalaman yang rendah. Sedangkan sebaran fosfat secara vertikal, konsentrasi fosfat bertambah seiring bertambahnya kedalaman perairan. Penelitian ini memberikan wawasan mengenai karakteristik arus dan sebaran fosfat, serta pemahaman tentang sebaran fosfat dan variabilitas musiman yang terjadi
Identifikasi Komponen Harmonik di Selat Larantuka Berdasarkan Data Arus Time Series : The Identification of Harmonic Component in Larantuka Strait Based on Ocean Current Time-Series Data
Selat Larantuka merupakan salah satu selat sempit yang menghubungkan antara Laut Flores dan Laut Sawu. Perpindahan masa air dari Samudera Pasifik menuju Samudera Hindia, yang disebabkan oleh perbedaan ketinggian air laut berakibat arus dari Samudera Pasifik melintasi Selat Makasar menuju selatan, kemudian terbagi melewati selat-selat yang lebih kecil di perairan Bali hingga Nusa Tenggara Timur. Pola arus tersebut dipengaruhi keadaan perairan setempat yang dilewatinya, sehingga arus memiliki karakteristik yang unik pada masing-masing tempat. Selat Larantuka yang terhubung dengan Laut Sawu dimana Laut Sawu berhubungan langsung dengan Samudera Hindia, sehingga fenomena oseanografi mempengaruhi karakter arus di Selat Larantuka diantaranya adalah pasang surut dan internal wave yang terbentuk karena interaksi antara arus laut dalam yang berasal dari Samudera Hindia menuju Laut Flores melalui Laut Sawu dan Selat Larantuka . Arus pasut memiliki komponen harmonik seperti gaya pembangkitnya, namun terdapat perbedaan pada frekuensi dan fasa yang terbentuk. Komponen harmonik pasut dan arus pasut merupakan salah satu indikator dalam penentuan karakteristik suatu perairan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh besaran komponen harmonik yang diturunkan dari arus di Selat Larantuka berdasarkan data survei Hidro Oseanografi Pushidrosal tahun 2019. Berdasarkan analisis harmonik pada studi ini diketahui bahwa karakteristik arus di Selat Larantuka dipengaruhi komponen harmonik signifikan akibat pengaruh gerakan bulan antara lain M4 kecepatan 0.04 m/detik fase 125,24º dan M8 kecepatan 0,05 m/detik fase 293,61° sedangkan yang dipengaruhi interaksi antara gaya gravitasi bulan dan matahari di perairan dangkal adalah MS4 dengan kecepatan 0,035 meter/detik fase 176,05 °
Pemetaan Dinamika Perubahan Tutupan Kawasan Mangrove Berbasis Pendekatan Komputasi Awan di Teluk Pacitan: Mapping of The Dynamic Changes Coverage of Mangrove Area Based on A Cloud Computation Approach in Pacitan Bay
Mangrove sebagai kawasan yang dicirikan sebagai lahan basah di wilayah intertidal di sepanjang garis pantai memiliki peran penting bagi kehidupan dan penghidupan manusia karena layanan yang diberikannya sebagai daerah pemijahan ikan (nursery ground), tempat mencari makan (feeding ground), daerah pentangkapan ikan (fishing ground), serta cagar alam, retensi sedimen dan pelindung alami terhadap berbagai bencana alam seperti siklon dan tsunami. Peran penting tersebut belum terjaga dengan memadai sehingga dibeberapa lokasi di belahan bumi kawasan mangrove mengalami penyusutan akibat proses antropogenik maupun perubahan lingkungan global. Monitoring secara berkala diperlukan untuk menjaga ekosistem mangrove. Penginderaan jauh menjadi metode yang efektif dalam memetakan areal mangrove secara cepat dan efisien, terutama dengan berkembangnya teknologi pemetaan berbasis komputasi awan (cloud computing). Melalui perangkat google earth engine (GEE) artikel ini melakukan studi di Teluk Pacitan dengan ekstraksi terhadap luasan tutupan mangrove pada tahun 2016 sampai dengan 2022 menggunakan citra satelit Sentinel-2 MSI Level-2A, dengan menggunakan algoritma random forest. Luasan mangrove yang dapat diekstraksi adalah 0,57 Hektar di tahun 2016 dan meningkat menjadi 2,2 hektar di tahun 2022. Berdasarkan sampel yang digunakan, dipilih 80% dari total sampel digunakan untuk training, dan 20% untuk testing. Berdasarkan hasil perhitungan Validation overall accuracy, hasil ekstraksi tahun 2016 mencapai nilai 0,996, dan pada tahun 2022 mencapai nilai 0,966
Karakteristik Arus Laut Berdasarkan Data Model Global di Perairan Benoa, Bali: Characteristics of Ocean Currents Based on Global Model Data in Benoa Waters, Bali
Perairan Benoa Bali merupakan sebuah wilayah perairan yang terletak disekitar Selatan Pulau Bali, Indonesia yang memiliki keunikan lingkungan geografis dan memengaruhi kehidupan laut serta adanya aktivitas kapal yang keluar masuk ke pelabuhan di dalam Teluk Benoa. Oleh sebab itu diperlukan kajian-kajian yang dapat memberikan informasi terkait parameter oseanografi terutama arus laut guna menunjang keberlangsungan aktivitas laut tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan menganalisis data arus model global untuk melihat karakteristik arus yang terdiri dari arus sirkulasi umum, arus pengaruh angin, arus pengaruh gaya pasang surut, arus yang dibangkitkan oleh gelombang, dan arus sirkulasi total pada rentan waktu 1 tahun yaitu tahun 2022. Data yang diperoleh kemudian diolah menggunakan perangkat lunak atau program komputer Ocean Data View (ODV), untuk mengkonversi data netcdf menjadi data ASCII-txt. Selanjutnya data ASCII-txt ini kemudian diplot sebagai mawar arus kemudian dianalisis lebih lanjut. Data arus di Perairan Benoa menunjukkan kecepatan yang kuat (0,4–1,2 m/s) dari Juni hingga Oktober, dengan kecepatan maksimum arus sirkulasi umum (uo, vo) dan arus sirkulasi total (utotal, vtotal) yang mencapai lebih dari 1 m/s, sementara arus pengaruh pasut (utide, vtide) dan arus pengaruh gelombang (vsdx, vsdy) memiliki kecepatan maksimum di bawah 1 m/s. Arah arus maksimum dominan pada kecepatan maksimum menuju selatan dan baratdaya, dengan pengaruh pasut yang signifikan di depan perairan Teluk Benoa.
Studi Komparasi Pengolahan Data Pasang Surut di Perairan Sebatik Kalimantan Utara menggunakan Metode Least Square dan Metode Admiralty: Data Processing Comparative Study of Tidal Data in Sebatik Coastal Water North Kalimantan using Least Square and Admiralty Methods
Pulau Sebatik yang merupakan salah satu pulau terluar di Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia, banyaknya potensi pelanggaran yang terjadi seperti penyelundupan Narkoba, penyelundupan barang, pelanggaran Ilegal Fishing, dan lainnya. Oleh karena itu pengetahuan mengenai kondisi pasang surut sangat penting sebagai pengukuran, analisis, dan pengkajian data muka air laut untuk berbagai kegiatan yang berhubungan dengan pantai maupun laut seperti pelayaran antar pulau, pencemaran laut, pengelolaan sumber daya hayati perairan atau pertahanan nasional. Penilitian ini bertujuan untuk mengetahui tipe pasang surut yang terjadi di Dermaga Sei Pancang, Sebatik Kalimantan Utara dengan bilangan formzahl dan untuk mendapatkan perbandingan nilai komponen-komponen pasang surut antara metode admiralty dan least square. Dalam penelitian ini dilakukan analisa prediksi pasang surut dengan menggunakan data observasi selama 29 hari. Selisih nilai amplitudo terbesar terdapat pada komponen M2 perbandingan antara least square dan admiralty yakni sebesar -6 cm. Sedangkan untuk selisih beda fase terbesar terdapat pada komponen O1 yakni sebesar 185o. Berdasarkan bilangan Formzahl (F), didapat nilai F dengan metode least square yaitu 0,22 sedangkan dengan metode admiralty yaitu 0,18 dan tipe pasang surut harian ganda (semi diurnal)
Perbandingan Koreksi Pasang Surut Terhadap Chart Datum Menggunakan Gnss Tide dan Tide Gauge (Studi Kasus Perairan Ancol Teluk Jakarta): Comparison of Tidal Corection Against Chart Datum Using GNSS Tide (Case Study of Ancol Waters, Jakarta Bay)
Batimetri adalah ukuran dari tinggi rendahnya dasar laut yang merupakan sumber informasi utama mengenai dasar laut. Dalam pengolahan data batimetri diperlukan beberapa koreksi, salah satunya adalah koreksi pasang surut. Data pasang surut selama ini diperoleh dari pengamatan pasang surut yang dilakukan di stasiun pasang surut selama dilaksanakannya pemeruman. Perkembangan teknologi memberikan metode perekaman data pasang surut menggunakan Global Navigation Satelltie System (GNSS). Dalam tugas akhir ini dilaksanakan perekaman data GNSS yang dipasang pada sounding boat dengan metode Post-Processing Kinematic (PPK). Data yang diperoleh merupakan data tinggi permukaan air dari elipsoid yang kemudian dikurangkan dengan tinggi chart datum terhadap elipsoid. Hasil yang diperoleh kemudian digunakan untuk mereduksi kedalaman pada pengolahan data Multibeam Echosounder (MBES). Hasil dari penelitian ini berupa grafik perbandingan pasang surut GNSS tide dengan tide gauge dan perbandingan angka kedalaman pengolahan data MBES dengan koreksi pasang surut GNSS tide dan tide gauge