Jurnal STT Warga (Sekolah Tinggi Teknologi Warga Surakarta)
Not a member yet
    256 research outputs found

    PENGARUH MODIFIKASI SPLITTING NICKS TOOL DRILL TERHADAP SPINDLE LOADS DAN WAKTU PROSES DRILLING MATERIAL S45C

    Get PDF
    Splitting nicks adalah modifikasi pada mata potong sebuah tool drill yang bertujuan untuk memotong chips ketika proses drilling. Penelitian ini membandingkan antara tool drill standar dan tool drill modifikasi pada proses drilling terhadap waktu proses dan spindle load. Parameter urama berupa kecepatan putaran spindel sebesar 530 RPM dan feeding sebesar 199,2 mm/min. Variasi yang digunakan adalah depth of cut pada 1 mm, 2 mm, dan 3 mm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tool drill modifikasi memiliki waktu proses yang relative lebih singkat dibanding tool drill standart. Waktu proses drill terlama terjadi pada parameter depth of cut 1 mm untuk mata bor standar, yaitu sebesar 130.51 detik. Sedangkan waktu proses tercepat terjadi pada depth of cut 3 mm untuk mata bor termodifikasi, yaitu sebesar 70.27 detik. Parameter depth of cut yang digunakan memberikan hasil yang berbanding terbalik terhadap waktu prosesnya, semakin  besar depth of cut yang digunakan maka waktu prosesnya akan semakin cepat. Tool drill dengan splitting nicks memiliki waktu proses yang lebih cepat sebesar 2.6% dibandingkan menggunakan mata bor yang standar. Spindle loads terbesar terjadi pada depth of cut 3 mm untuk mata bor standar, yaitu sebesar 85%. Sedangkan spindle loads terendah terjadi pada depth of cut 1 mm untuk mata bor modifikasi, yaitu sebesar 58%. Selain itu modifikasi tool drill dengan splitting nicks berhasil menurunkan spindle loads sebesar 14.03% dibanding spindle load pada tool standart

    PREDIKSI TEGANGAN DAN DISPLACEMENT PADA DESAIN ULANG POINT RIPPER DOZER D85E-SS-2 OLEH BEBAN VERTIKAL DENGAN SIMULASI METODE ELEMEN HINGGA

    Get PDF
    Dozer memiliki komponen point ripper yang berfungsi untuk menembus ke dalam tanah berupa cakar yang dipasang di belakang unit. Penggarukan merupakan metode pembongkaran massa batuan secara mekanis. Prinsip kerjanya adalah menembus ripper ke dalam massa batuan. Kondisi kekerasan tanah dan batuan ini menyebabkan point riper mengalami gesekan, gaya tekan dan beban kejut yang menyebabkan kerusakan berupa keausan. Penggunaan metode Computer Aided Engineering (CAE) dapat menganalisis perilaku mekanik model desain untuk memahami dan menguji kemampuan kinerja dari desain yang dibuat. CAE dapat menggambarkan distribusi tegangan dan perpindahan baik secara grafis maupun numerik. Tegangan von miss maksimum yang bekerja pada model untuk sudut 160o adalah 1,73.107 N / m2, sudut 165o adalah 1,72.107 N / m2, dan sudut 170o adalah 1,73.107 N / m2. Perpindahan maksimum yang bekerja pada model untuk sudut 160o adalah 2,14 mm, sudut 165o adalah 2,12 mm, dan sudut 170o adalah 0,00704 mm. Distribusi tegangan terkecil disepanjang titik pengamatan adalah desain dengan sudut 160o sebesar 2,38.103 N / m2 dan tegangan terbesar adalah desain dengan sudut 170o sebesar 2,83.103 N / m2. Distribusi displasemen terkecil sepanjang titik pengamatan adalah desain dengan sudut 170o sebesar 1, 82.10-6 mm dan tegangan terbesar adalah desain dengan sudut 165o sebesar 4.61.10-4 mm.   ABSTRACT Dozers have a point ripper component that serves to penetrate into the ground in the form of claws that are attached behind the unit. Scratching is a method of dismantling rock mass mechanically. the principle works is to penetrate the ripper into the rock mass. This hardness of soil and rock conditions causes the point riper to experience friction, compressive force and shock loads which cause damage in the form of wear and tear. The use of Computer Aided Engineering (CAE) methods can analyze the mechanical behavior of a design model to understand and test the performance capabilities of the designs created. CAE can describe the distribution of stresses and displacments both graphically and numerically. Maximum von misses stress acting on the model for 160o angle is 1,73.107 N / m2, 165o angle is 1,72.107 N / m2, and 170o angle is 1,73.107 N / m2. The maximum displacement acting on the model for 160o angle is 2,14 mm, 165o angle is 2,12 mm, and 170o angle is 0,00704 mm. The smallest stress distribution along the observation point is a design with an angle of 160o of 2,38.103 N / m2 and the largest stress is a design with an angle of 170o of 2,83.103 N / m2. The smallest displacement distribution along the observation point is a design with an angle of 170o of 1, 82.10-6 mm and the biggest stress is the design with an angle of 165o of 4.61.10-4 mm

    PENINGKATAN KUALITAS IMPERFECTION INDICATOR (IPI) BENANG P/C Ne1 45 PADA MESIN RING SPINNING TOYODA MODEL RY DENGAN SETTING VARIASI DIAMETER RING FLANGE DAN NOMOR TRAVELLER

    Get PDF
    Industri tekstil dan Produk tekstil berkembang  cukup pesat sehingga persaingan juga semakin ketat, tidak terkecuali di industri pemintalan benang. Masalah mutu sering menjadi momok bagi perusahaan dalam memasarkan produknya yaitu berupa benang tenun atau benang rajut. Peningkatan kualitas merupakan suatu tindakan yang harus dilakukan untuk mengangkat nilai produk melalui peningkatan efektivitas dan efisiensi dengan tujuan untuk mengurangi variabilitas suatu proses dengan mengurangi produksi yang cacat .              Mutu benang terdiri dari banyak aspek, salah satunya nilai IPI (Imperfection Indicator) yang meliputi Thin, Thick dan Neps. Jika IPI suatu benang nilainya rendah, maka semakin baik mutu benang tersebut dan sebaliknya. Salah satu cara agar memperoleh mutu benang yang baik bisa dilakukan dengan menvariasikan diameter Flange Ring dan nomor Traveler pada mesin Ring Spinning. Dari hasil eksperimen dengan  cara memvariasikan flange ring dan traveler maka diketahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap IPI pada benang P/C Ne1 45 di mesin Ring Spinning Toyoda adalah diameter flange ring dan nomor traveller yang digunakan.              Diameter Flange Ring yang lebar akan membuat jarak tempuh traveler yang berputar diatas flange ring menjadi lebih jauh atau panjang, hal ini menyebabkan perlakuan terhadap material yang diteruskan akan menjadi berlebihan. Disinilah akan didapatkan transisi penebalan dan penipisan penampang benang maupun neps.              Demikian juga dengan pemilihan nomor traveller yang tepat berpengaruh terhadap kualitas benang yang dihasilkan. Pengurangan dan penambahan nomor traveller mengakibatkan tension benang berubah, tidak jarang juga menyebabkan terjadinya putus pada material yang diteruskan. Variasi setting antara flange ring dan traveller yang sesuai untuk proses benang P/C Ne1 45 yaitu diameter flange ring 42 mm dengan traveller nomor 5/0 type em udr.   ABSTRACT The textile industry and textile products are growing quite rapidly so that competition is also getting tougher, including in the yarn spinning industry. Quality problems are often a scourge for companies in marketing their products in the form of weaving or knitting yarns. Quality improvement is an action that must be taken to increase product value through increasing effectiveness and efficiency with the aim of reducing the variability of a process by reducing defective production. Yarn quality consists of many aspects, one of which is the IPI (Imperfection Indicator) value which includes Thin, Thick and Neps. If the IPI of a yarn is low, the better the quality of the yarn and vice versa. One way to get good yarn quality can be done by varying the Ring Flange diameter and the Traveler number on the Ring Spinning machine. From the experimental results by varying the ring flange and traveler, it is known that the factors that affect the IPI on the P / C Ne1 45 yarn in the Toyoda Ring Spinning machine are the diameter of the flange ring and the number of the traveler used. The wide diameter of the Flange Ring will make the travel distance of the traveler who rotates on the flange ring to be further or longer, this causes the treatment of the material being carried on to be excessive. This is where the thickening and thinning transitions of the thread and neps sections will be obtained. Likewise, choosing the right traveler number affects the quality of the yarn produced. The reduction and increase in the number of the traveler causes the thread tension to change, often causing breaks in the material being carried. Variation in setting between flange ring and traveler suitable for P / C thread Ne1 45, namely ring flange diameter 42 mm with traveler number 5/0 type em udr

    PENGARUH FILTER UNTUK MEREDAM GANGGUAN SINYAL PADA REPEATER RADIO KOMUNIKASI JALUR VHF (Very High Frequency)

    Get PDF
    Radio komunikasi handy talky (HT) yang biasa digunakan untuk berkomunikasi baik untuk masyarakat umum ataupun Lembaga tertentu untuk memantau keadaan atau bertukar informasi suatu daerah tertentu. Fungsi pesawat HT menjadi piranti komunikasi, karena dalam pemanfaatannya HT tidak memerlukan media internet atau menggunakan jasa provider seperti handphone. Dalam pemanfaatan radio komunikasi HT yang bersifat 2 arah memang sangat menguntungkan namun HT memiliki jangkauan yang cukup pendek yaitu kurang lebihnya sekitar 1,5 KM jarak maksimal yang bisa digunakan untuk berkomunikasi menggunakan HT dengan HT saja. Maka dari itu diperlukan alat tambahan yang mampu mengulang gelombang frekuensidan memancarkanya lagi yaitu repeater. repeater sangat mendukung dalam berkomunikasi menggunakan pesawat radio komunikasi agar informasi yang dikirim dalam bentuk gelombang frekuensitidak mengalami kecacatan dan dapat diterima sama dengan yang dikirim dan juga menambah jangkauan pancaran gelombang frekuensitersebut. Filter pasif dalam sebuah repeater yang berfungsi untuk menghindarkan interfensi sinyal – sinyal yang tidak di kehendaki ( gangguan dari sinyal ) yang menyebabkan sinyal tidak matching

    STUDI EKSPERIMEN PENGARUH JUMLAH LUBANG NOSEL INJEKTOR TERHADAP PERFORMA MESIN SEPEDA MOTOR

    Get PDF
    Penggunaan teknologi injeksi bahan bakar pada mesin sepeda motor sudah banyak diaplikasikan oleh perusahaan otomotif untuk meningkatkan efisiensi kendaraan. Teknologi injeksi bahan bakar (Full injection System) merupakan  teknologi yang digunakan untuk mencampur bahan bakar dengan udara sebelum masuk ke ruang bakar dan selanjutnya menyemprotkannya dengan tekanan tertentu. Sistem ini menggunakan beberapa sensor untuk menakar jumlah bahan bakar dan mengatur waktu penyemprotan yang tepat. Sehingga lebih meningkatkan tenaga mesin jika dibandingkan dengan mekanisme karburator. Komponen penting dalam sistem injeksi bahan bakar adalah Injektor. Injektor berfungsi untuk menyemprotkan dan membuat bahan bakar tercampur secara homogen sehingga dapat meningkatkan efisiensi bahan bakar dan mengurangi polusi serta memberikan tenaga yang lebih besar. Performa sepeda motor yang tangguh dapat dilihat dari  seberapa besar dan efisiensi tenaga dan torsi kendaraan. Untuk meningkatkan performa sepeda motor salah satu caranya adalah dengan memperbaiki proses injeksi bahan bakar dalam proses pembakaran  sehingga  terjadi  pembakaran  yang  baik.  Penelitian  ini  bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah lubang pada nosel injektor terhadap nilai tenaga dan torsi pada sepeda motor berdasarkan putaran mesin. Objek penelitian adalah sepeda motor 4 langkah dengan sistem injeksi bahan bakar, bahan bakar menggunakan pertalite Ron 90. Variasi penelitian adalah perbedaan jumlah lubang pada nosel injektor meliputi nozel 6 lubang (original bawaan pabrik), 4 lubang dan 8 lubang. Pengujian dilakukan menggunakan dynotest. Data yang diperoleh  berupa  grafik  yang  memuat  nilai  tenaga  dan  torsi  masing-masing nosel injektor  pada setiap putaran mesin.. Hasilnya, penggunan nosel injektor  8 lubang menghasilkan daya maksimum sebesar 5,00 hp pada putran 5500 rpm dan torsi maksimum sebesar 4,84 ft-lbs  pada putaran 5000 rpm. Untuk injector 6 lubang menghasilkan daya maksimum sebesar 7,42 hp pada putran 6500 RPM dan torsi maksimum sebesar 5,89 ft-lbs pada putaran mesin 6500 RPM. Nosel injektor 4 lubang memiliki daya maksimum 6,3 Hp pada putaran 6500 rpm dan torsi maksimum 5,8 ft-lbs pada putaran  6000 rpm.   ABSTRACT   The application  of fuel injection technology in motorcycle engines has been widely applied by automotive companies to improve vehicle efficiency. Fuel injection technology (Full injection System) is a technology used to mix fuel with air before entering the combustion chamber and then spray it with a certain pressure. This system uses several sensors to measure the amount of fuel and set the correct spraying time. So as to increase engine power when compared with the carburetor mechanism. An important component in a fuel injection system is the injector. The injector sprays and makes the fuel mixed homogeneously so as to increase fuel efficiency,  reduce pollution and provide more power. Robust motorcycle performance can be seen from how big of the power and torque efficiency of the vehicle. One way to improve motorcycle performance is to improve the fuel injection process in the combustion process so that good combustion occurs. This study aims to determine the effect of the number of holes on the injector nozzle on the value of power and torque on a motorcycle based on engine rotation speed. The object of research is a 4-step motorcycle with a fuel injection system, fuel using the Ron 90 pertalite. Variation of the study is the difference of  the holes number in the injector nozzle including 6-hole nozzles (factory default), 4 holes  and 8 holes. Testing is done using dynotest. The data obtained in the form of a graph that contains the value of power and torque of each injector nozzle at each engine speed. As a result, the use of an 8 holes injector nozzle produces a maximum power of 5.00 hp at 5,500 rpmand a maximum torque of 4, 84 ft-lbs at 5,000 rpm. For 6-holes injector produces a maximum power of 7.42 hp at 6500 rpm  and maximum torque of 5.89 ft-lbs at 6,500 rpm. The 4-holes injector produces a maximum power of 6,3 hp at 6500 rpm and maximum torque of 5.8 ft-lbs at 6,000 rpm

    PENGERASAN PERMUKAAN BAJA KARBON SEDANG DENGAN METODE THERMAL SPRAY COATING

    Get PDF
    Thermal spray coating adalah metode pelapisan dalam bentuk cair, semi cair atau padat ke material inti dalam kondisi panas, salah satu metode pelapisan panas (thermal coating) yaitu powder flame spray coating. Proses ini dilakukan dengan menyemprotkan material pelapis dalam bentuk serbuk melalui nyala api (dari bahan bakar gas elpiji dan Oxygen) dengan panas melebihi suhu leleh material pelapis ke permukaan material yang dilapisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisis dan sifat mekanik pada hasil pelapisan thermal spray coating pada baja karbon sedang. Variasi pemanasan awal (pre-heating) yaitu suhu 602oC, 712oC dan 828oC. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa spesimen menggunkan pemanasan awal (pre-heating) 602oC lebih tinggi kekerasannya dari ketiga variasi suhu yang diteliti. Terbukti bahwa, pada variasi suhu pemanasan awal 602oC nilai kekerasan yang dapat dicapai sebesar 994,2 HVN yang berada didaerah coating dan rerata sebesar 832,4 HVN. Perlakuan thermal flame spray coating berpengaruh terhadap peningkatan kekerasan pada material induk (S45C). Terbukti bahwa, dari 4 titik uji kekerasan di setiap spesimen variasi pada material induk (S45C) rata-rata kekerasan sebesar 667 HVN. Thermal spray coating berpengaruh pada ketebalan atau perbesaran diameter karena diakibatkan pada penambahan lapisan

    Penerapan Mesin Potong Rumput Pakan Sapi Sistem Independent 4 Blade Di UKM Jumantono

    Get PDF
    UKM ternak sapi yang dipimpin oleh bapak Suharji merupakan salah satu potensi pengusaha ternak di kabupaten Karanganyar desa Jumantono pada khususnya. Permasalahan utama adalah dalam upaya memenuhi ketersediaan pakan hasil potongan rumput yang berkualitas dan melimpah sulit diperoleh, sehingga banyak bahan sisa dan menurunnya kesehatan sapi tersebut. Terdapat sisa pakan rumput gajah 0.6 pikul atau 24% yang relatif banyak dan terbuang tidak dimakan oleh ternak. Metode pengabdian masyarakat ini bertujuan utama pembuatan mesin perajang rumput pakan ternak sistem pisau 4 blade horizontal. Kegiatan tersebut disertai dengan analisa permasalahan, perumusan solusi dan evaluasi hasil secara berkala. Hasil dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah sebuah mesin peranjang rumput pakan ternak sapi berukuran 1200:800:1000 mm berpenggerak mesin bensin 5,5 pk mampu mencapai kapasitas produksi 600 kg/jam. Mesin perajang ini mampu meningkatkan kualitas perajangan rumput pakan ternak sapi dari 70 kg/jam menjadi 600 kg/jam dengan ukuran relatif homogen 90%

    PENGUJIAN RESISITIVITAS SUBSTRAT SILIKON TERHADAP BEBERAPA SAMPEL AIR UNTUK PEMANFAATAN SEBAGAI SENSING LAYER PADA SENSOR BAKTERI

    Get PDF
    ABSTRAK     Keberadaan bakteri fekal coliform dalam lingkungan perairan menandakan bahwa sanitasi telah terkontaminasi dengan kotoran manusia atau hewan. Keberadaan faecal coliform dalam air juga merupakan indikator bahwa air itu terkontaminasi dan ada risiko kesehatan bagi manusia yang terpapar air ini. Baru-baru ini bnayak sekali dikembangkan sensor bakteria. Bagian terpenting dari sensor bakteri yaitu sesing layer itu sendiri. Hal ini karena sensing layer akan langsung berinteraksi dengan bakteri sebagai target sensor. Pengunaan material yang salah untuk sensing layer bisa mengakibatlan bakteri yang akan dideteksi justru terbunuh. Pada penelitian ini telah dilakukan pengujian resistivitas pada silikon sebagai sensing layer untuk sensor bakteri dengan menggunakan alat IV-meter. Sampel air yang digunakan berasal dari beberapa sumber air yaitu air parit/sungai, air dari pipa (PDAM) dan air terdeionisasi (DI water). Hasilnya menunjukkan sampel DI water memiliki resitivitas tertinggi sebesar 3.7 x 106 ohm, dan air sungai memiliki resistivitas paling rendah yaitu sebesar 2.1 x 104 ohm. &nbsp

    RANCANGAN SISTEM MONITORING SUHU DAN KELEMBAPAN RUANG SERVER BERBASIS INTERNET OF THINGS

    Get PDF
    Suhu dan kelembapan ruang server perlu dijaga sesuai dengan standar untuk menjamin server tidak mengalami gangguan atau kerusakan. Untuk mengetahui adanya permasalahan pada kondisi lingkungan dan mengantisipasinya lebih cepat maka faktor suhu dan kelembapan ruang server perlu dimonitor secara real time. Tujuan penelitian ini adalah membuat sistem monitoring suhu dan kelembapan ruang server secara real time yang hasilnya dapat diakses secara offline maupun online dengan memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT) berbasis modul NodeMCU ESP8266 dan sensor DHT11. NodeMCU ESP8266 dalam sistem monitoring berperan sebagai pengendali utama dengan tugas membaca data suhu dan kelembapan dari sensor DHT11 dan mengirimkannya ke penampil LCD karakter maupun ThingSpeak melalui koneksi jaringan internet wireless. Data akuisisi suhu dan kelembapan diambil secara kontinyu setiap jeda satu menit untuk selanjutnya dibandingkan dengan hasil pembacaan perangkat ukur standar Hygrometer HTC-1 guna mengetahui tingkat kesalahan rata-ratanya. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh rata-rata kesalahan pembacaan suhu ruang server sebesar 2,0°C dan kelembapannya 3,1%RH.      ABSTRACT   The stable and reliable server operation is achieved by maintaining the server room’s humidity and temperature according to standards. Using a real-time monitoring system to record the two factors will ensure future error identification and give better anticipation. In this work real-time server room’s humidity and temperature monitoring system is designed to be accessible both online and offline using Node MCU ESP8266, DHT11, character LCD Display and Thing Speak. DHT11 sensor data are displayed in LCD while simultaneously transferred to the Thing Speak server through the wireless internet connection by Node MCU ESP8266. Acquisition data is sampled continuously in a one-minute sample rate for ten minutes and then recorded and compared with the standard Hygrometer HTC-1 to obtain the reading error rate of humidity and temperature. The result shows 2,3°C and 3,3%RH error rate for the server room’s temperature and humidity readings

    STUDI KONDUKTIVITAS TERMAL KOMPOSIT GEOPOLIMER DENGAN MATRIKS HDPE DAUR ULANG SEBAGAI BAHAN INTERIOR DOOR TRIM KENDARAAN

    Get PDF
    Penelitian ini membahas tentang studi konduktivitas termal komposit geopolimer dengan matriks High Density Polyethylene (HDPE) daur ulang dan unsaturated polyester sebagai bahan interior door trim kendaraan. Pemilihan bentonit karena dapat menghambat suhu panas sehingga dapat diaplikasikan pada door trim mobil. Pemilihan metode dalam pembuatan sampel menggunakan alat hotpress pada komposit clay bentonit matriks HDPE, karena ini merupakan metode yang paling sederhana dan tidak memerlukan banyak biaya. Alat untuk menguji spesimen adalah mesin uji Thermal Conductivity model HVS – 40 – 200 SE, dengan standar uji ASTM D 5470 – 06 Standard Test Method for Thermal Transmission Propertiesvof Thermally Conductive Electrical Insulation Materials. Hasil dari pengujian konduktivitas termal menunjukan bahwa komposit bentonite berpengaruh sebagai bahan penghambat panas dengan hasil pengujian yang mendapatkan harga konduktivitas termal paling maksimal pada fraksi volume 0% yaitu sebesar 0,206 W/m.K, sedangkan yang terendah berada pada fraksi volume 15% yaitu sebesar 0,151 W/m.K. Hal ini menunjukan bahwa semakin bertambahnya jumlah serbuk bentonit yang digunakan maka nilai konduktivitas termal menjadi semakin kecil.   This study discusses the study of the thermal conductivity of geopolymer composites with recycled High Density Polyethylene (HDPE) matrices and unsaturated polyester as vehicle interior door trim materials. The choice of bentonite because it can inhibit the temperature of the heat so that it can be applied to the car door trim. The choice of method in making samples using the hotpress tool on HDPE clay bentonite matrix composites, because this is the simplest method and does not require a lot of cost. The instrument for testing specimens is the Thermal Conductivity testing machine model HVS - 40 - 200 SE, with ASTM D 5470 - 06 test standard Standard Test Method for Thermal Transmission Properties of Thermally Conductive Electrical Insulation Materials. The results of the thermal conductivity test showed that the bentonite composite had an effect as a heat retardant with the results of the test which obtained the maximum thermal conductivity value at the volume fraction of 0% at 0.206 W / mK, while the lowest was at the 15% volume fraction at 0.151 W / mK This shows that the increasing number of bentonite powders used, the smaller the value of thermal conductivity

    218

    full texts

    256

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal STT Warga (Sekolah Tinggi Teknologi Warga Surakarta)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇