Jurnal STT Warga (Sekolah Tinggi Teknologi Warga Surakarta)
Not a member yet
256 research outputs found
Sort by
PENGARUH PERBEDAAN BESAR ARUS PADA SPOT WELDING MENGGUNAKAN GTAW DENGAN MATERIAL STAINLESS STEEL 304
ABSTRAK
Las titik merupakan salah satu cara pengelasan resistansi listrik dimana dua logam atau lebih dijepit diantara dua elektroda logam. Arus yang kuat dialirkan melalui elektroda yang terbuat dari tembaga, karena aliran listrik yang harus melalui kedua logam yang dijepit maka pada tempat jepitan akan timbul panas karena adanya resitansi listrik yang menyebabkan logam ditempat tersebut mencair dan kemudian tersambung. Proses penjepitan membutuhkan peralatan yang komplek karena harus kuat. Sehingga peralatan las titik tidak digunakan oleh industri kecil sheet metal. Dengan latar belakang permasalahan tersebut, penelitian ini mencoba mengubah metode pengelasan titik dengan menggunakan model Tungsten Inert Gas Welding (TIG welding) yang langsung ditekankan diatas material. Variasi arus digunakan 90A, 100A, 110A digunakan untuk menyambung model single lap joint pada material stainless steel grade 304 tebal 2 mm ditahan selama 5 detik. Data yang diambil hasil kekuatan uji tarik dengan menganalisa metalografi makro untuk melihat ikatan material. Hasil pengelasan dengan 90 ampere penetrasi paling dalam dengan kekuatan tarik 408,5 N/mm2.
ABSTRACT
Spot welding is one way of welding electrical resistance where two or more metals are clamped between two metal electrodes. Electric current is flowed through an electrode made of copper, because the electric current must go through the two clamped metals so that the clamps will heat up due to electrical resistance that causes the metal in the place to melt and then connect. The clamping process requires complex equipment because it must be strong. So that point welding equipment is not used by home sheet metal industries. With the background of these problems, this study tries to change the method of point welding by using a TIG welding model that is directly emphasized on the material. Electric cCurrent variations used 90, 100, 110 A are used to connect the single lap joint model to stainless steel grade 304 with 2 mm thick material held for 5 seconds. The data is taken by tensile strength test results by analyzing macro metallography to see the bonding of the material. Welding results with 90 amperes of deepest penetration with a tensile strength of 408.5 N / mm2.
 
PENGARUH TEKANAN TEMPA DAN WAKTU PENGELASAN TERHADAP SIFAT FISIK DAN MEKANIK SAMBUNGAN FRICTION WELDING LOGAM TAK SEJENIS SS-316 DAN AISI-4140
ABSTRAK
Pengelasan gesek (friction welding) merupakan proses penyambungan logam tanpa terjadinya peleburan (solid state process), yang mana proses pengelasan terjadi sebagai akibat gesekan melalui penggabungan antara laju putaran salah satu benda kerja yang berputar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tekana tempa dan waktu pengelasan terhadap sifat fisik dan mekanik sambungan logam tak sejenis antara baja tahan karat SS 316 dan AISI 4140. Variasi tekanan tempa yang digunakan 110 kg/cm2, 130 kg/cm2 dan 150 kg/cm2, sedangkan variasi waktu pengelasan yang digunakan adalah 35 detik, 50 detik dan 65 detik. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa meningkatnya variasi tekanan tempa dan waktu pengelasan mengakibatkan berkurangnya panjang spesimen, dikarenakan terjadi proses pelumeran pada daerah sambungan pengelasan pada kedua material. Sedangkan semakin berkurangnya panjang spesimen disisi lain mengakibatkan melebarnya panjang flash yang dihasilkan. Hasil struktur mikro terlihat terjadi pengkasaran butir (grain coarsened) terjadi pada daerah HAZ bentuk dan ukuran butiran berbeda jika dibandingkan dengan logam induk. Nilai kekerasann daerah sambungan rerata sebesar 246,4 HVN. Nilai kekerasan pada logam induk material AISI 4140 rerata sebesar 354,7 HVN. Sedangkan logam induk material SS 316 rerata sebesar 183,5 HVN. Nilai kekerasan antara kedua logam induk tersebut sangat berbeda jauh dikarenakan fasa pada baja AISI 4140 lebih dominan fasa perlit yang memiliki kekerasan tinggi. Nilai kekuatan tarik yang optimal dihasilkan pada variasi tekanan tempa130 kg/cm2 variasi waktu gesek 35 detik dengan nilai sebesar 455.02 N/mm2
KETANGGUHAN IMPAK DAN KEKUATAN TARIK KOMPOSIT FIBERGLASS/CLAY FILLER BERMATRIKS UNSATURATED POLYESTER BQTN-EX 157
Komposit berpenguat fiberglass memiliki kekuatan yang tinggi, kaku, ringan, serta tahan terhadap korosi sehingga cukup potensial apabila dikembangkan sebagai material alternatif untuk aplikasi bodi kendaraan bermotor. Pada penelitian sebelumnya, peningkatan ketahanan termal komposit diupayakan dengan penambahan 5% fraksi volume clay filler yang memiliki kemampuan hambat bakar cukup baik. Di sisi lain, berkurangnya fraksi volume resin akibat penambahan clay filler mengurangi kemampuan matriks dalam mengikat material penyusun lainnya. Hal tersebut menjadi alasan dilakukannya studi lebih lanjut mengenai pengaruh penambahan clay filler terhadap sifat mekanis komposit fiberglass bermatriks polimer. Fiberglass jenis Chopped Strand Mat (CSM) dipilih sebagai penguat, resin unsaturated polyester dengan merk dagang BQTN-EX 157 sebagai pengikat, serta clay jenis bentonit sebagai filler. Metode kombinasi close mold dipilih pada pembuatan sampel uji. Jenis pengujian mekanis yang dilakukan meliputi uji impak dan uji tarik. ASTM D4812 dipilih sebagai standar uji impak sedangkan ASTM D638-02 dipilih sebagai standar uji tarik. Hasil dari pengujian impak menunjukan bahwa komposit fiberglass tanpa penambahan 5% fraksi volume clay filler memiliki nilai ketangguhan impak dan kekuatan tarik lebih tinggi bila dibandingkan dengan komposit fiberglass dengan penambahan 5% fraksi volume clay filler. Pengamatan kegagalan mekanis ditinjau dari foto makro patahan spesimen pada pengujian impak dan tarik. Hasil dari analisa foto makro menunjukan bahwa komposit fiberglass dengan clay filler yang telah diuji impak mengalami patahan ulet dan getas. Sedangkan hasil pengujian tarik menunjukkan terjadinyafiber pull out, void, matrik cracking yang menjadi sebab melemahnya sifat mekanis komposit.
Fiberglass reinforced composites have high strength, stiffness, lightweight, and good resistance to corrosion so that they have the potential to be developed as an alternative material for motor vehicle body applications. In previous studies, an increase in the thermal resistance of composites was attempted by the addition of 5% volume fraction of clay filler which has a fairly good fire resistance capability. On the other hand, the reduced matrix volume fraction due to the addition of clay fillers reduces the ability of the matrix to bind to other constituent materials. This is the reason for further studies on the effect of adding clay filler to the mechanical properties of polymer matrix composites. Chopped Strand Mat (CSM) type fiberglass was chosen as reinforcement, thermoset resin with trademark BQTN-EX 157 as the binder, and bentonite type clay as a filler. A close mold combination method was chosen in making the test sample. The types of mechanical testing carried out include Impak and tensile. ASTM D4812 was chosen as the Impak test standard while ASTM D638-02 was chosen as the tensile test standard. The results of the Impak testing show that fiberglass composites without the addition of 5% volume fraction of clay filler have higher Impak toughness and tensile strength compared to fiberglass composites with the addition of 5% volume fraction of clay filler. Observation of mechanical failure in terms of macro photographs of spesimen fractures in Impak and tensile testing. The results of the macro-photo analysis showed that the fiberglass composite with clay filler that had been tested had experienced ductile and brittle fracture. While the results of tensile testing show the occurrence of fibers pull out, voids, matrix cracking which is the cause of the weakening of the mechanical properties of the composite
OPTIMASI VARIASI KOMPOSISI BAHAN GESEK KAMPAS REM NON ASBESTOS UNTUK MENCAPAI KEKERASAN DAN KEAUSAN OPTIMAL MNEGGUNAKAN METODE TAGUCHI MULTI RESPON
ABSTRAK
Penelitian bahan-bahan alternatif untuk bantalan rem diperlukan karena bantalan rem asbes yang menyebabkan efek karsinogenik ini telah dilarang. Komponen utama kampas rem adalah penguat, pengikat, pengisi dan abrasive aditif. Pemanfaatan serbuk cangkang (filler), serbuk skrap aluminium (penguat), dan resin fenolik (pengikat) sebagai bahan alternatif pelapis rem pengganti serbuk asbes. Variasi komposisi pengisi, penguat dan pengikat dioptimalkan dengan metode eksperimental Taguchi menggunakan array ortogonal L9(4 faktor, 3 level). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari hubungan antara variasi komposisi pengisi, penguat dan pengikat terhadap ketahanan aus komposit kampas rem. Pengujian keausan menggunakan metode pin on-pin. Uji kekerasan brinell digunakan untuk menentukan sifat mekanik permukaan partikel dan kekerasan partikel dari komposit rem yang optimal. Hasil penelitian menunjukkan ukuran partikel dan permukaan mempengaruhi ketahanan aus. Ukuran partikel kecil memiliki kepadatan yang lebih tinggi yang mempengaruhi keausan. Perbedaan untuk mendapatkan respon angka kekerasan dan angka keausan dari kombinasi faktor-level yang optimal adalah A2 B3 C1 D3 artinya Serbuk kulit mete 50%, Resin phenol 10% , Geram aluminium 30% dan Carbon 10%
PENGARUH VARIASI JUMLAH LILITAN TERHADAP KESENSITIFITASAN SENSOR SERAT OPTIK BERBASIS TEKANAN
ABSTRAK
Teknologi optoelektronika saat ini sangat berkembang pesat terutama dalam suatu pengukuran beban. Tujuan dari penelitian ini yaitu membangun sistem sensor serat optik. Hal ini digunakan untuk menentukan tingkat kesensitifitasan yang paling optimal berdasarkan variasi jumlah lilitan. Selain hal itu, tujuan dari penelitian untuk menentukan karakteristik dari perubahan atenuasi cahaya serat optik di dalam spesimen komposit yang diberi tekanan. Target khusus yang ingin dicapai dalam penelitian adalah penentuan tingkat sensitifitas paling optimal berdasarkan banyaknya lilitan.
Metode yang digunakan ialah tekanan (pressure), perlakuan tekanan spesimen komposit yang didalamnya terdapat lilitan serat optik menggunakan Compression Testing Machine (CTM). Adanya perlakuan tekanan tersebut maka akan membuat spesimen komposit mengalami keretakan. Keretakan spesimen akan terdeteksi dengan menggunakan sensor serat optik yang telah terhubung dengan komputer. Fungsi komputer dalam penelitian ini yaitu mendeteksi adanya perubahan transmisi cahaya serat optik.
Jumlah lilitan serat optik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 5, 10 dan 15 lilitan. Hasil data yang diperoleh ialah 5 lilitan dengan tekanan maksimal sebesar 4,5 x 105 N/mm2 menghasilkan atenuasi 23,01 dB;10 lilitan dengan tekanan maksimal 4,3 x 105 N/mm2 menghasilkan atenuasi sebesar 26,02 dB; serta 15 lilitan dengan tekanan maksimal sebesar 3,8 x 105 N/mm2 menghasilkan atenuasi sebesar 33,8 dB. Kesenstifitasan sensor serat optik terdapat pada variasi 5 lilitan dengan nilai tekanan 1.8 x 105 N/m2 menghasilkan nilai atenuasi 2.67 d
PENGUJIAN KEKERASAN DAN STRUKTUR MIKRO PADA SPESIMEN TOOTH BUCKET EXCAVATOR PC 2000 BERBASIS METODE QUENCHING DAN TEMPERING
Penelitian ini dilkukan dengan tujuan untuk mencari nilai kekerasan dan mikro struktur dari spesimen Tooth Bucket Excavator. Hal ini dilakukan karena umur dari spesimen ini tidak bisa bertahan lama. Karena spesimen ini bekerja pada area tambang yang langsung bersentuhan dengan batuan, pasir dan kerikil diarea tambang. Semakin lama bersentuhan dengan batuan, pasir dan kerikil spesimen akan mengalami keausan pada waktu yang dekat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah quenching dan tempering. Quenching adalah sebuah metode pendinginan dengan cepat yang terjadi pada spesimen dari temperatur tinggi ke temperatur rendah. Quenching menggunakan suhu 840oC dan 900oC dengan holding time 10 menit. Cairan yang digunakan adalah oli dengan volume 60 L. Selanjutnya, melakukan proses tempering pada spesimen dengan suhu 250oC dan 350oC, serta holding time 1 jam. Kedua metode ini dilakukan dengan alat yang bernama Furnace yang mampu bekerja hingga temperatur 1000oC. Setelah melakukan kedua metode tersebut, selanjutnya menentukan nilai kekerasan dan uji struktur mikro. Nilai kekerasan ditentukan dengan menggunakan alat Mikro Hardness Vickers Machine dengan satuan HVN. Untuk mengetahui nilai kekerasan spesimen dapat mencari belah ketupat pada spesimen. Setelah pengambilan 3 titik dilanjutkan dengan menghitung rata-rata. Hasil yang didapat pada pengujian setelah quenching suhu 840oC adalah 426,5 HVN dan suhu 900oC bernilai 420,5 HVN. Quenching tersebut menggunakan holding time 10 menit. Untuk tempering 250oC holding time 1 jam mendapatkan nilai HVN sebesar 439,0 HVN pada suhu 840oC dan 432,7 HVN pada suhu 900oC. Struktur mikro dilihat dengan alat Mikroskop Metalurgi dengan perbesaran 20X dan 50X. Pengambilan struktur mikro dilakukan dengan tujuan mencari unsur yang berada didalam spesimen. unsur yang berada di dalam spesimen adalah martensite, cementite dan bainite.
This research was conducted with the aim of finding the hardness and microstructure values ??of the Tooth Bucket Excavator specimens. This is done because the age of these specimens cannot last long. Because these specimens work in the mine area which is directly in contact with rocks, sand and gravel in the mine area. The longer contact with rock, sand and gravel the specimen will experience wear in the near future. The method used in this research is quenching and tempering. Quenching is a method of rapid cooling that occurs in specimens from high temperatures to low temperatures. Quenching uses a temperature of 840oC and 900oC with a holding time of 10 minutes. The liquid used is oil with a volume of 60 L. Furthermore, the process of tempering the specimen with temperatures of 250oC and 350oC, and holding time is 1 hour. Both methods are carried out with a tool called Furnace which is able to work up to temperatures of 1000oC. After doing both methods, then determine the value of hardness and microstructure test. The hardness value is determined using a Micro Hardness Vickers Machine with HVN units. To find out the value of hardness of the specimen, you can look for rhombus in the specimen After taking 3 points proceed with calculating the average. The results obtained in testing after quenching at 840oC were 426.5 HVN and 900oC at 420.5 HVN. The quenching uses a holding time of 10 minutes. For 250oC tempering holding time 1 hour get an HVN value of 439.0 HVN at 840oC and 432.7 HVN at 900oC. The microstructure is seen with a Metallurgical Microscope with a magnification of 20X and 50X. Intake of microstructure is carried out with the aim of finding elements that are in the specimen. the elements inside the specimen are martensite, cementite and bainite