E-Journal STF Muhammadiyah Tangerang
Not a member yet
200 research outputs found
Sort by
STUDI IN SILICO SENYAWA ALKALOID DARI BUNGA TAPAK DARA (CATHARANTHUS ROSEUS (L) G. DON) PADA RESEPTOR ESTROGEN BETA SEBAGAI ANTIKANKER PAYUDARA
Kanker payudara merupakan jenis kanker yang sering ditemui dikalangan wanita dunia.Bunga tapak dara mengandung lima senyawa alkaloid yang bisa menghambat kanker. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi senyawa alkaloid sebagai antikanker ayudara pada reseptor estrogen beta. Senyawa uji yang digunakan yaitu lima nyawa alkaloid dari bunga tapak dara (Catharanthus roseus (L) G. Don) yaitu, vincristine -6.10 kkal/mol, vinorelbine -7.02 kkal/mol, vinflunine -6,60 kkal/mol, vinblastine -6,44kkal/mol, vindensine -8,30 kkal/mol, serta senyawa pembanding yaitu estradiol dan genistein. Optimasi geometri menggunakan hyperchem dengan metode semi empirik (PM3), Reseptor yang digunakan adalah reseptor estrogen beta dengan kode
PDB 1QKM. Proses docking dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Autodock 4.2.6. Nilai skor docking dari lima senyawa alkaloid terhadap reseptor estrogen beta pada gridbox 126x126x126 yaitu vincristine -6,10 kka/mol, vinblastine -6,44 kka/mol, vindensine -8,30 kka/mol, vinflunine -6.60 kka/mol, vinorelbine -7,02 kkal/mol, estradiol -11,13 kka/mol dan genistein -9.34 kka/mol. Senyawa lima alkoloid diprediksi tidak berpotensi sebagai antikanker pada reseptor estrogen beta.
Kata kunci : Senyawa-senyawa alkaloid, bunga tapak dara, docking, 1QKM
FORMULASI DAN EVALUASI FISIK SEDIAAN FAST DISSOLVING TABLET AMLODIPINE BESYLATE MENGGUNAKAN SODIUM STARCH GLYCOLATE SEBAGAI BAHAN PENGHANCUR
Fast Dissolving Tablet merupakan tablet yang ketika diletakan di lidah akan terdisentegrasi serta melepaskan obat secara cepat dengan bantuan saliva. Fast Dissolving Tablet mengkombinasikan keuntungan obat pada sediaan cair dan tablet konvensional. Teknologi ini dapat memecahkan permasalahan pemberian obat secara oral pada pasien pediatric, geriatric maupun pada keadaan dimana pasien tidak mendapat air untuk menelan obat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi optimal penggunaan sodium starch glycolate sebagai superdisintegrant dengan konsentrasi 2%, 3%, 4%, 6% dan 8%. Metode pembuatan tablet ini menggunakan kempa langsung. Pengujian fisik dilakukan meliputi organoleptis, keseragaman bobot, keseragaman ukuran, kekerasan, keregasan, waktu hancur, waktu pembasahan dan uji kesukaan rasa. Hasil penelitian menunjukan bahwa semakin tinggi konsentrasi sodium starch glycolate, semakin menurunkan waktu hancur tablet. Sodium starch glycolate dengan konsentrasi 8% menghasilkan waktu hancur paling optimal dengan waktu hancur 16,7 detik
FORMULASI SALEP EKSTRAK ETANOL DAUN KEMANGI (OCIMUM BASILIUM L) SEBAGAI ANTIFUNGI DENGAN VARIASI TIPE BASIS SALEP DAN EVALUASI SIFAT FISIKNYA
Berdasarkan penelitian Anandini Nindya Lestari Umar (2011) telah membuktikan bahwa ekstrak daun Kemangi dengan kosentrasi 50% berdasarkan uji kadar hambat minimum (KHM) dengan metode sokletasi dengan pelarut etanol 70% menghambat pertumbuhan Candida Sp lebih baik dibandingkan Ketokonazol 2% pada kandidiasis vulvovaginalis secara in vitro. Penelitian ini bertujuan untuk membuat salep yang memenuhi persyaratan, mengetahui sifat fisik salep ekstrak etanol Daun Kemangi (Ocimum basilium L) dengan variasi tipe basis salep dan mengidentifikasi kandungan senyawa kimia yang terdapat pada Daun Kemangi (Ociumum basilium L). Hasil dari penelitian ini adalah Ekstrak etanol daun kemangi (Ocimum basilium L) dapat dijadikan sediaan salep yang memenuhi syarat, evaluasi sifat fisik meliputi uji organoleptik, uji daya sebar, daya lekat, dan proteksi. Uji organoleptis meliputi warna, bau, homogenitas, dan konsistensi. Dari ketiga basis salep tersebut didapat bahwa basis salep hidrokarbon dan basis salep serap (absorpsi) stabil tidak mengalami perubahan setelah diamati selama 1 minggu. Sedangkan basis salep larut air mengalami perubahan bau dari hari pertama bau khas ekstrak daun kemangi dan mengalami perubahan bau pada hari ketiga menjadi bau khas PEG. Uji daya sebar, dari hasil uji daya sebar pada ketiga formula didapatkan hasil bahwa (Formula 1) basis larut air yang memiliki daya sebar lebih luas yaitu 5,67 cm2 dibandingkan (Formula 2) basis hidrokarbon 3,91 cm2 dan (Formula 3) basis absorpsi 3,73 cm2. Uji daya lekat, dilihat dari data yang didapatkan basis hidrokarbon memiliki daya lekat paling besar dan yang paling kecil daya lekatnya ada pada basis larut air. Uji Proteksi, dari data yang didapat ketiga formula memiliki kemampuan proteksi yang paling baik adalah basis hidrokarbon, dimana memiliki kemampuan melindungi kulit dari pengaruh luar. Kandungan kimia yang terdapat dalam ekstrak Daun kemangi adalah flavonoid yang berfungsi sebagai antifungi.
Kata kunci : Salep, Daun kemangi, Antifung
RASIONALITAS PERESEPAN OBAT DIARE PADA PASIEN BALITA DI PUSKESMAS CURUG TAHUN 2015
Diare merupakan penyakit yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi defekasi lebih dari biasanya (>3 kali/hari) disertai perubahan konsistensi tinja (menjadi cair), dengan atau tanpa darah atau lendir. Sebagian besar (70-80%) dari penderita diare adalah kelompok anak dibawah 5 tahun (balita). Tata laksana diare diketahui bahwa pengetahuan petugas puskesmas dalam tata laksana diare masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rasionalitas peresepan obat diare pada pasien balita di Puskesmas Curug Tahun 2015 dan dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi Puskesmas Curug untuk meningkatkan standar pelayanan medik selanjutnya. Populasi dalam penelitian ini adalah lembar MTBS dan lembar peresepan pasien balita yang terdiagnosa diare di Puskesmas Curug pada periode januari sampai dengan desember 2015 yang berjumlah 646 pasien dengan sampel yang diambil sebanyak 87 pasien. Pengambilan sampel dengan menggunakan teknikacak. Penelitian yang telah dilakukan dari 87 pasien, diperoleh 68 pasien yang termasuk kriteria inklusi. Dari 68 pasien diketahui 35 pasien (51,5%) yang rasional pengobatannya dan 33 pasien (48,5) yang tidak rasional pengobatannya berdasarkan buku saku lintas diare DepKes RI 2011
Evaluasi Penggunaan Obat Tukak Peptik pada Pasien Tukak Peptik (Peptic Ulcer Disease) di Rumah Sakit Bhayangkara Brimob Tahun 2015
Tukak peptik merupakan penyakit akibat gangguan pada saluran gastrointestinal atas yang disebabkan sekresi asam dan pepsin yang berlebihan oleh mukosa lambung. Berdasarkan penelitian di Amerika, kira-kira 500.000 orang tiap tahunnya menderita tukak peptik dan 70% diantaranya berusia 25-64 tahun. Rokok, minuman beralkohol, NSAID dan H.pylori merupakan beberapa faktor yang dapat menyebabkan penyakit tukak. Tujuan dilakukannya penelitian ini untuk mengetahui gambaran dan kerasionalan terapi penggunaan obat pada pasien tukak peptik di Rumah Sakit Bhayangkara Brimob tahun 2015. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat non eksperimental, dilakukan secara retrospektif, yaitu dengan melakukan penelusuran catatan pengobatan dalam data rekam medis dan resep pasien tukak peptik di RS Bhayangkara Brimob tahun 2015. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil sebanyak 9 resep (45%) yang belum tepat obat dan sebanyak 11 resep (55%) yang belum tepat dosis.
Kata Kunci : Kerasionalan Terapi, RS Bhayangkara Brimob, Tukak Pepti
PENGEMBANGAN FORMULASI DAN UJI EVALUASI FISIK SEDIAAN PEWARNA RAMBUT EKSTRAK BIJI PINANG (Areca catechu L.) SEBAGAI PEWARNA ALAMI
Sediaan pewarna rambut adalah kosmetik yang digunakan dalam tatarias rambut untuk mewarnai rambut. Biji pinang mengandung zat penyamak (tanin) dapat dimanfaatkan sebagai pewarna alami dalam pewarnaan batik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan ekstrak biji pinang sebagai pewarna alami pada sediaan pewarna rambut dan mengetahui evaluasi fisik sediaan perwarna rambut dari biji pinang sebagai pewarna rambut alami. Sediaan pewarna rambut dibuat dengan formula yang terdiri dari berbagai konsentrasi ekstrak biji pinang yaitu 0, 5, 15, 25 dan 35%. Evaluasi fisik yang dilakukan antara lain uji organoleptis, uji pH, uji viskositas, uji stabilitas terhadap rambut, uji stabilitas terhadap pencucian dan uji stabilitas terhadap sinar matahari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak biji pinang dapat mempengaruhi warna rambut uban yang diperoleh. Sediaan berupa gel, pH sediaan pada kisaran 2,6 – 3,8 dan vikositas pada kisaran 8000 – 9600 cps. Pewarnaan rambut dari rambut uban menjadi warna chocolate brown terjadi pada konsentrasi ekstrak 35%. Hasil uji stabilitas terhadap pencucian dapat bertahan sampai 7 kali pencucian, uji stabilitas terhadap sinar matahari menunjukkan bahwa tidak terjadi perubahan warna pada rambut yang diberi perlakuan.
Kata kunci: ekstrak etanol biji pinang, pewarna rambut
Uji Aktivitas Ekstrak Etanol Daun Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz and Pav) Sebagai Antiinflamasi pada Tikus Putih Jantan Galur Spague Dawley
Sirih merah merupakan salah satu tanaman yang digunakan sebagai obat tradisional. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun sirih merah sebagai antiinflamasi. Inflamasi adalah suatu respon protektif tubuh terhadap jejas. Pengobatan inflamasi yang banyak digunakan masyarakat adalah Obat Antiinflamasi Non Steroid (OAINS) sebagai terapi antiinflamasi, namun memiliki efek samping berupa perdarahan pada saluran cerna. Penelitian uji aktivitas antiinflamasi menggunakan metode edema buatan pada telapak kaki tikus dengan menggunakan karagenan 1% sebagai zat pembuat udem. Uji efek antiinflamasi menggunakan tikus putih jantan galur Sprague-dawley sebanyak 24 ekor tikus terbagi dalam 6 kelompok perlakuan yaitu kelompok kontrol normal (Na-CMC), kelompok kontrol positif (Na diklofenak), kelompok kontrol negatif dan kelompok perlakuan ekstrak dengan variasi dosis 10mg/200gBB, 20mg/200gBB dan 30mg/200gBB yang diberikan secara per oral. Pengukuran volume udem kaki tikus diukur menggunakan alat pletismometer, dilakukan setiap 1 jam selama 6 jam. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun sirih merah memberikan efek antiinflamasi pada tikus putih jantan yang diinjeksi karagenan 1%. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada perbedaan bermakna antara setiap kelompok perlakuan dengan kontrol normal. Pada dosis ekstrak 10mg/200gBB, 20mg/200gBB dan 30mg/200gBB menunjukkan tidak ada perbedaan secara bermakna dengan kontrol positif pada taraf uji 0,05.
Kata kunci : sirih merah, antiinflamasi, udem
PENDAHULUAN
Inflamasi adalah respon perlindungan normal terhadap cidera jaringan yang disebabkan oleh trauma fisik, bahan kimia berbahaya atau agen mikrobiologi. Inflamasi adalah usaha tubuh untuk menginaktifkan atau menghancurkan organisme penginvasi, menghilangkan iritan, dan persiapan tahapan untuk perbaikan jaringan. Bila penyembuhan telah sempurna, proses inflamasi biasanya mereda. Reaksi inflamasi dapat diamati dari gejala klinis yaitu timbul warna kemerah-merahan (rubor) karena adanya aliran darah yang berlebihan pada daerah cedera, peningkatan panas (kalor) merupakan respon inflamasi pada permukaan tubuh, pembengkakan (tumor) karena pengiriman cairan dan sel-sel dari sirkulasi darah ke daerah interstitial, nyeri (dolor) karena adanya penekanan jaringan akibat edema, dan gangguan fungsi (function laesa) (Katzung, 2001). Inflamasi atau radang merupakan salah satu penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat. Inflamasi memiliki angka kejadian yang cukup tinggi, dimana inflamasi dapat disebabkan oleh trauma fisik, infeksi maupun reaksi antigen dari penyakit, seperti terpukul benda tumpul dan infeksi bakteri pada luka terbuka (timbulnya nanah pada luka) yang dapat menimbulkan nyeri dan mengganggu aktivitas (Noer dan Wasradji, 1986).
Pengobatan pasien dengan inflamasi pada umumnya untuk memperlambat atau membatasi proses kerusakan jaringan yang terjadi pada daerah inflamasi (Tjay dan Rahardja, 2007). Berdasarkan mekanisme kerjanya ada dua golongan obat untuk mengatasi inflamasi, yaitu obat antiinflamasi steroid dan obat antiinflamasi non steroid (OAINS). Adapun yang banyak di konsumsi oleh masyarakat adalah obat antiinflamasi non steroid (OAINS). Pemakaian OAINS dalam waktu lama dapat menyebabkan ulserasi dan perdarahan pada saluran pencernaan bawah. Dilaporkan bahwa OAINS menyebabkan luka permukaan dengan mempengaruhi integritas membran mukosa saluran cerna.
Indonesia terkenal akan beragam jenis tumbuhan, pemanfaatannya telah banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia sebagai obat tradisional. Salah satu tumbuhan yang secara empiris telah banyak digunakan masyarakat adalah sirih merah. Telah dilaporkan bahwa sirih merah memiliki aktivitas sebagai antiinflamasi diduga aktivitas antiinflamasi berasal dari kandungan kimia seperti alkaloid, saponin, tanin dan flavonoid (Werdhany, 2008). Berdasarkan uraian tersebut maka dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui aktivitas ekstrak etanol daun sirih merah sebagai antiinflamasi pada tikus putih jantan galur Sprague-dawley dan konsentrasi atau dosis ekstrak etanol daun sirih merah yang dapat memberikan aktivitas antiinflamasi.
METODE PENELITIAN
Alat
Alat yang digunakan seperti kandang tikus, tempat makanan dan minuman tikus, timbangan berat badan tikus, neraca analitik (O’haus), alat-alat gela
PENGARUH PENDEKATAN PERSPEKTIF PEMBELAJARAN DAN PERTUMBUHAN DALAM KONSEP BALANCED SCORECARD TERHADAP KINERJA SUMBER DAYA MANUSIA PT. MA DIVISI PABRIK
Dewasa ini pengukuran kinerja SDM sangat penting bagi manajemen untuk melakukan evaluasi terhadap kinerja perusahaan danperencanaan di masa mendatang. Balanced scorecard merupakan suatu alat yang banyak dipergunakan dalam mengukur kinerja perusahaan. Balanced Scorecard memiliki empat perspektif yaitu perspektif finansial, perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal, dan perspektif pembelajaran dan pertumbuhan. Penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai hubungan antara perspektif pembelajaran dan pertumbuhan, dengan variabel pelatihan, motivasi kerja dan budaya kerja terhadap kinerja sumber daya manusia (SDM). Kompetensi SDM ditetapkan sebagai strategi obyektif dan variabel antara, sedangkan kinerja SDM sebagai variabel tetap. Hasil penelitian menunjukkan uji koefisien determinasi variabel pelatihan, motivasi kerja, dan budaya kerja memberikan kontribusi pengaruh sebesar 85.70% terhadap kompetensi SDM PT. MA. Hal ini menunjukkan tingkat hubungan variabel bebas terhadap variabel intervening sangat kuat. Sedangkan tingkat pengaruh ketiga variabel bebas terhadap variabel intervening sebesar 73.40%. Tingkat hubungan antara variabel intervening terhadap variabel terikat sebesar 78.00%, sedangkan tingkat pengaruh variabel intervening terhadap variabel terikat sebesar 60.90% Variabel pelatihan SDM (X1), motivasi kerja (X2), dan budaya kerja (X3) secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kompetensi SDM (Y) pada PT. MA Divisi Pabrik. Secara parsial, variabel pelatihan (X1) dan budaya kerja(X3) berpengaruh signifikan dan nyata terhadap kompetensi SDM PT MA Divisi Pabrik. Variabel motivasi kerja (X2) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kompetensi SDM PT. MA Divisi Pabrik. Variabel kompetensi SDM (Y) berpengaruh secara signifikan terhadap variabel kinerja SDM (Z) PT. MA Divisi Pabrik. Teknik analisa regresi berganda untuk menguji hipotesis digunakan uji F dan uji t pada tingkat kepercayaan 95 % dengan α 0.05.
Kata kunci: Balanced Scorecard, Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan, Kompetensi, Kinerj
UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK ETANOL 70% DAUN BAMBU TALI (Gigantochloa apus) SEBAGAI ANTHELMINTIK PADA CACING Ascaris suum
Infeksi cacing memerlukan tanah sebagai media perkembangan telur menjadi bentuk infektif. Mebendazol digunakan sebagai drug of choice infeksi ini namun, antihelmintik sintetis ini menimbulkan efek samping yang mengganggu. Bambu merupakan obat herbal, ekstrak akar tumbuhan bambu berkhasiat sebagai anthelmintik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah pada bagian daun bambu memiliki efektivitas seperti akarnya sebagai anthelmintik. Penelitian ini dilaksanakan secara eksperimental dilaboratorium. Sampel menggunakan daun kering, dihaluskan kemudian diekstraksi menggunakan etanol 70% dengan metode maserasi dan dikentalkan dengan rotary evaporator. Ekstrak diuji terhadap cacing Ascaris suum dengan 4 kelompok pengujian yaitu, kelompok kontrol positif (mebendazol 100 mg/mL), kelompok uji 1 ekstrak daun bambu 25 mg/mL, kelompok uji 2 (50 mg/mL) dan kelompok uji 3 (75 mg/mL), direplikasi 3 kali selama ± 24 jam. Hasil analisis uji statistik ANOVA satu arah menunjukkan p > 0,05 dan hasil uji Tukey HSD menunjukkan tidak adanya perbedaan yang bermakna pada setiap kelompok pengujian. Semua kelompok menunjukkan kemampuan menimbulkan efek anthelmintik terhadap cacing namun, pada pengujian yang menunjukkan hasil optimal ditunjukkan ekstrak daun bambu pada kelompok uji 3 yaitu, dosis 75 mg/mL
UJI METABOLIT SEKUNDER AIR PERASAN KULIT BUAH NAGA DAGING PUTIH ( Hylocereus undatus )SERTA PROFIL KROMATOGRAMNYA
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) adalah sub bagian dari sub kromatografi cair, dimana fase geraknya cair dan fase diamnya berupa lapis tipis pada permukaan lempeng yang rata. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang bertujuan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder yang terdapat dalam air perasan kulit buah naga dan untuk mengetahui nilai Rf yang terdapat dalam air perasan kulit buah naga. Analisis KLT menggunakan fase diam silika gel F254 dan fase gerak yang digunakan untuk uji tanin methanol: aquadest (32,3 : 1 v/v), uji saponin kloroform : metanol (19:1 v/v),dan uji flavonoid methanol : aquadest (13,5:10 v/v). Hasil dari penelitian menujukkan bahwa air perasan kulit buah naga mengandung senyawa metabolit sekunder yaitu flavonoid dan saponin. Nilai Rf sampel untuk flavonoid yaitu 0,85 dan saponin 0,8375.
Kata kunci :Kromatografi Lapis Tipis (KLT), Kulit buah naga (Hylocereus undatus