Akademika: Jurnal Keagamaan dan Pendidikan
Not a member yet
    190 research outputs found

    Penggunaan Memory Trick Game Dalam Meningkatkan Penguasaan Simple Past Tense Mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Inggris Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Bengkalis

    Full text link
    The use of regular and irreguler verbs in Simple Past Tense always becomes a problem for students. If they can’t master well, the mistake always apperars. The aim of the study is to find out the significance of using Memory Trick Game in improving the students’ mastery of Simple Past Tense of English Study Program at STAIN Bengkalis. The samples are 20 English Study Program students. In collecting the data, a set of test was given to the samples namely; 1)pre-test and 2)post-test. Findings showed that mean of pre-test was 3.13  while mean of post-test was 4.63 where df = 42, ttable significance 5% = 2.02; in significance 1% = 2.72. In sum, Memory Trick Game was able to improve the students’ mastery of Simple Past Tense.The use of regular and irreguler verbs in Simple Past Tense always becomes a problem for students. If they can’t master well, the mistake always apperars. The aim of the study is to find out the significance of using Memory Trick Game in improving the students’ mastery of Simple Past Tense of English Study Program at STAIN Bengkalis. The samples are 20 English Study Program students. In collecting the data, a set of test was given to the samples namely; 1)pre-test and 2)post-test. Findings showed that mean of pre-test was 3.13  while mean of post-test was 4.63 where df = 42, ttable significance 5% = 2.02; in significance 1% = 2.72. In sum, Memory Trick Game was able to improve the students’ mastery of Simple Past Tense

    Manajemen Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Di Era Revolusi Industri

    Full text link
    In an effort to reconstruct and reposition Islamic Religious Higher Education (PTKI) in this modern era, it is important to change our perspective and increase awareness of the true role of Islamic education. This is not only related to the ability of each PTKI to compete with leading universities in the world, but also about a greater responsibility, namely fighting for Islamic values in the context of national life. Apart from producing intellectually competent graduates, PTKI is also responsible for forming noble characters. This research uses the "Library Research" method with a focus on text literacy and field phenomena. Data was collected through literature studies from books and journals relevant to the research topic. Research findings show that in the planning stage, several policies are needed, including structuring, controlling and strengthening institutions; academic standardization; improving the quality and welfare of lecturers; development of academic and student programs; development of employment programs; and optimizing mentoring programs. In implementing quality management, development strategies need to be built, stakeholder trust and confidence must be created, centers of competitive advantage need to be built, information and communication technology needs to be developed, professionalism needs to be increased, quality must be guaranteed, good relations with stakeholders must be maintained, cooperation with other institutions needs to be built, and commitment to the Islamization of academia must be develope

    Implementasi Kurikulum dalam Konsepsi Kebijakan Pendidikan Islam

    Full text link
    The education curriculum is an important part of the national education system. This has been regulated in several government regulations which are basically public policies. Educational innovation, especially the curriculum, is needed so that it is always in line with the demands of the times. Using normative juridical research methods and literature review, it is known that the Islamic education curriculum has been established and structured as part of the education policy system through various government regulations. This policy is a product and authority of government institutions in responding to the public interest in the form of a curriculum that is always in line with the times. The concept of innovation in general and educational innovation, particularly curriculum innovation, is described by experts as part of the repertoire of educational sciences. There are certain strategies that innovators have and there are various challenges and problems in the curriculum innovation process faced by innovators in their implementation

    Sistem Ideologi Manajemen Pendidikan Kader Muhammadiyah

    Full text link
    Masa depan Persyarikatan Muhammadiyah tidak akan terlepas dari upaya untuk meneruskan cita-cita dan keyakinan hidupnya terutama bagi para angkatan muda untuk nantinya berperan sebagai pelopor dalam penyempurnaan amal usaha yang dimiliki oleh Muhammadiyah. Muhammadiyah sebagai organisasi Islam terbesar tentunya membutuhkan kader penerus untuk melanjutkan estafet kepemimpinan. Pengkaderan merupakan jantungnya organisasi, dimana keberlangsungan suatu organisasi, sangat tergantung dari seberapa komitmen para pengurus organisasi tersebut melaksanakan pengkaderan. Penelitian ini akan membahas tentang bagaimana sistem ideologi manajemen pendidikan kader dalam Persyarikatan Muhammadiyah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka proses studi literatur yang dilakukan melalui beberapa tahapan diantaranya adalah pencarian sumber data berdasarkan topik garis besar, pengelompokkan sumber data serta perbandingan data yang saling berhubungan. Hasil penelitian yang diperoleh menegaskan bahwa proses pengkaderan yang dikembangkan berdasarkan sistem ideologi Muhammadiyah, diharapkan dapat menghasilkan perubahan perilaku dan tindakan. Sistem Perkaderan Muhammadiyah dapat dilakukan melalui jalur keluarga, AUM, Ortom, dan jalur khusus MPK. Bentuk kaderisasi di Muhammadiyah ada yang bersifat formal dan non formal. Sistem kaderisasi formal sendiri terbagi menjadi pengkaderan utama dan pengkaderan fungsional. Sistem Perkaderan Muhammadiyah (SPM) harus berorientasi pada manajemen pendidikan kader yang efektif dan efisien yang kemudian menjadi dasar dari pelaksanaan kegiatan perkaderan.Masa depan Persyarikatan Muhammadiyah tidak akan terlepas dari upaya untuk meneruskan cita-cita dan keyakinan hidupnya terutama bagi para angkatan muda untuk nantinya berperan sebagai pelopor dalam penyempurnaan amal usaha yang dimiliki oleh Muhammadiyah. Muhammadiyah sebagai organisasi Islam terbesar tentunya membutuhkan kader penerus untuk melanjutkan estafet kepemimpinan. Pengkaderan merupakan jantungnya organisasi, dimana keberlangsungan suatu organisasi, sangat tergantung dari seberapa komitmen para pengurus organisasi tersebut melaksanakan pengkaderan.. Penelitian ini akan membahas tentang bagaimana sistem ideologi manajemen pendidikan kader dalam Persyarikatan Muhammadiyah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka roses studi literatur yang dilakukan melalui beberapa tahapan diantaranya adalah pencarian sumber data berdasarkan topik garis besar, pengelompokkan sumber data serta perbandingan data yang saling berhubungan. Hasil penelitian yang diperoleh menegaskan bahwa proses pengkaderan yang dikembangkan berdasarkan sistem ideologi Muhammadiyah, diharapkan dapat menghasilkan perubahan perilaku dan tindakan. Sistem Perkaderan Muhammadiyah dapat dilakukan melalui jalur keluarga, AUM, Ortom, dan jalur khusus MPK. Bentuk kaderisasi di Muhammadiyah ada yang bersifat formal dan non formal. Sistem kaderisasi formal sendiri terbagi menjadi pengkaderan utama dan pengkaderan fungsional. Sistem Perkaderan Muhammadiyah (SPM) harus berorientasi pada manajemen pendidikan kader yang efektif dan efisien yang kemudian menjadi dasar dari pelaksanaan kegiatan perkaderan

    MEDIA PEMBELAJARAN DALAM PERSFEKTIF AL QUR’AN KAJIAN SURAT AN NAHL AYAT 78

    Full text link
    Media is something that can produce information and can process it systematically without having to be restated. The media is derived from Latin which means intermediary. This meaning can be said to be a communication tool used to carry information from source to receiver. The position of the learning media by them is that the learning media process is a communication process and it takes place in a system, so the learning media occupies an important position as one of the components of the learning system. Al-Qur'anul Karim is the greatest miracle of Islam and its miracles are always strengthening knowledge, He was sent down by Allah to His Messenger, Muhammad SAW to get people from dark to light and guide them to a straight path. And also whoever reads it becomes a worship for him.AbstractMedia is something that can produce information and can process it systematically without having to be restated. The media is derived from Latin which means intermediary. This meaning can be said to be a communication tool used to carry information from source to receiver. The position of the learning media by them is that the learning media process is a communication process and it takes place in a system, so the learning media occupies an important position as one of the components of the learning system. Al-Qur'anul Karim is the greatest miracle of Islam and its miracles are always strengthening knowledge, He was sent down by Allah to His Messenger, Muhammad SAW to get people from dark to light and guide them to a straight path. And also whoever reads it becomes a worship for him.Key words: Media, Learning, Surat, An-Nahl 78 AbstrakMedia adalah sesuatu yang bisa menghasilkan informasi dan dapat mengolah secara sistematis tanpa harus ada penyajian ulang. Media bearasal dari bahasa latin yang mempunyai arti perantara. Makna tersebut dapat dikatakan sebagai alat komunikasi yang digunakan untuk membawa suatu informasi dari sumber ke penerima. Posisi media pembelajaran oleh mereka proses media pembelajaran merupakan proses komunikasi dan berlangsungnya dalam suatu sistem, maka media pembelajaran menempati posisi yang cukup penting sebagai salah satu komponen sistem pembelajaran. Al-Qur’anul karim adalah Mukjizat islam yang terbesar dan mukjizatnya sealu memperkuat ilmu pengetahuan, Ia diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya, Muhammad SAW untuk mengeluarkan manusia dari suasana yang gelap menuju yang terang serta membimbing mereka kejalan yang lurus. Dan juga barangsiapa yang membacanya menjadi suatu ibadah baginya.Kata Kunci: Media, Pembelajaran, Surat,  An-Nahl 78  

    Al-Risalah al-Mufassalah li Ahwal al-Muta’allimin al-Qabisi: Pendidikan Anak Perspektif Psikologi dan Syariah

    Full text link
    Khazanah pemikiran klasik tentang pendidikan perlu digali kembali untuk dipelajari agar dapat diikuti oleh pemikir selanjutnya. Seorang tokoh dalam dunia pendidikan Islam, yaitu al- Qabisi, seorang pemikir cerdas pendidikan yang masanya merupakan seorang pendidik dan juga dikenal sebagai seorang ulama yang berakhlak mulia. Keluasan ilmunya dibarengi dengan ketekunan dalam beribadah dan budi pekerti mulia mengakibatkan hal yang diajarkannya dapat diterima dengan mudah. Kajian tentang pendidikan karakter pada anak menjadi perhatian serius dalam tercapainya pendidikan bagi generasi yang akan datang. Hal ini menjadi sesuatu yang menarik untuk dikaji dan dikaitkan dengan pemikiran (gagasan) al-Qabisi dalam mendidik anak ditinjau dari perspektif psikologi dan ilmu syariah. Penelitian ini menggunakan metode library research. Hasil penelitian menunjukkan penanaman karakter dan nilai-nilai hidup yang luhur (sesuai psikologi dan syariah) kepada anak menjadi modal dasar bagi mereka dalam menjalani kehidupan pada masa mendatang. Selain itu model seorang pendidik menjadi sesuatu yang penting dalam memberikan pengaruh positif pada anak didiknya

    Sistem Pendidikan Suku Asli Melayu Kecamatan Bantan

    Full text link
    This research is motivated by the fact that the Indigenous Malay people living in Bantan District can be considered isolated, remote, and inland, with limited access to educational facilities provided by the government. The Indigenous Malay people have become complacent with their current conditions and situation. The aim of this research is to determine the level of educational awareness among the Indigenous Malay people in Bantan District, Bengkalis Regency, and the factors contributing to their educational backwardness. Additionally, the research seeks to identify an appropriate educational concept to change the Indigenous Malay people's paradigm regarding the importance of education for their well-being. The method used in this research is qualitative research. The data collection techniques include interviews, observation, and documentation. The results show that educational participation among the indigenous community in Bantan District for primary education is relatively significant, reaching 80 percent of the total school-age children. For junior high school education, participation is also quite high at 65 percent. However, the participation rate for high school education is relatively low, at only 45 percent. Although primary education participation is generally good, there is still a significant dropout rate, with children often leaving school when they reach the third or fourth grade. Factors contributing to the educational backwardness of the Indigenous Malay people in Bantan District include peer influence from those not attending school, weak economy, low motivation, lack of parental encouragement, low self-confidence, and insufficient educational infrastructure. The educational concept proposed for the Indigenous Malay community in Bantan District is the Indigenous Education Concept. The indigenous learning system is a system used by traditional communities to maintain and preserve their social systems for their survival.This research is motivated by the fact that the Indigenous Malay people living in Bantan District can be considered isolated, remote, and inland, with limited access to educational facilities provided by the government. The Indigenous Malay people have become complacent with their current conditions and situation. The aim of this research is to determine the level of educational awareness among the Indigenous Malay people in Bantan District, Bengkalis Regency, and the factors contributing to their educational backwardness. Additionally, the research seeks to identify an appropriate educational concept to change the Indigenous Malay people's paradigm regarding the importance of education for their well-being. The method used in this research is qualitative research. The data collection techniques include interviews, observation, and documentation. The results show that educational participation among the indigenous community in Bantan District for primary education is relatively significant, reaching 80 percent of the total school-age children. For junior high school education, participation is also quite high at 65 percent. However, the participation rate for high school education is relatively low, at only 45 percent. Although primary education participation is generally good, there is still a significant dropout rate, with children often leaving school when they reach the third or fourth grade. Factors contributing to the educational backwardness of the Indigenous Malay people in Bantan District include peer influence from those not attending school, weak economy, low motivation, lack of parental encouragement, low self-confidence, and insufficient educational infrastructure. The educational concept proposed for the Indigenous Malay community in Bantan District is the Indigenous Education Concept. The indigenous learning system is a system used by traditional communities to maintain and preserve their social systems for their survival

    Penanaman Nilai-Nilai Pendidikan Islam Pada Anak Yatim dan Dhuafa Melalui Pendidikan Luar Sekolah

    Full text link
    Artikel ini mengkaji tentang penanaman nilai-nilai pendidikan Islam kepada anak yatim dan dhuafa melalui pendidikan luar sekolah. Penanaman nilai merupakan usaha menanamkan nilai atau sifat yang menjadi landasan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Penulisan artikel ini berupa tinjauan pustaka dengan teknik menganalisis isi (content analysis). Penulisan ini bertujuan untuk menambah wawasan pembaca tentang pendidikan di luar sekolah sebagai lembaga yang menjadi wadah untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan Islam kepada anak yatim dan dhuafa. Penanaman nilai-nilai pendidikan Islam dapat diartikan sebagai proses penanaman nilai-nilai yang seluruh aspeknya berlandaskan pada ajaran Islam yang bersumber pada al-Qur‟an dan hadis Nabi. Nilai-nilai yang diberikan pada diri anak yatim dan dhuafa bertujuan agar mereka dapat mengetahui, menguasai serta meyakini nilai-nilai dari pendidikan Islam. Wujud internalisasi dari nilai-nilai pendidikan Islam meliputi penanaman nilai akidah, nilai ibadah, dan nilai akhlak. Nilai-nilai tersebut harus dapat diimplementasikan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan cara memberikan contoh yang baik kepada anak yatim dan dhuafa

    Implementasi Evaluasi Pendidikan (الفتنة, البلاء, العدد, الاحصاء, المسؤل) di SMP Hang Nadim Malay School Batam

    Full text link
    Al-Qur’an telah memberikan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap masalah evaluasi pendidikan dengan berbagai istilah seperti: al-ma’sul, al-ihsha’, al-‘adad, al-bala’, al-fitnah. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan implementasi evaluasi pendidikan pada jenjang pendidikan sekolah menengah pertama. Penelitian menggunakan metode penelitian studi kasus. Pengumpulan data dengan wawancara dan analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan evaluasi pendidika di SMP Hang Nadim Malay School secara konsep telah relevan, namun dalam prakteknya belum sistematis. Sementara fasilitas sekolah sangat mendukung evaluasi pendidikan, sehingga dalam hal evaluasi masih diperlukan pelatihan yang lebih holistik dan komprehensif.Al-Qur’an telah memberikan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap masalah evaluasi pendidikan dengan berbagai istilah seperti: al-ma’sul, al-ihsha’, al-‘adad, al-bala’, al-fitnah. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan implementasi evaluasi pendidikan pada jenjang pendidikan sekolah menengah pertama. Penelitian menggunakan metode penelitian studi kasus. Pengumpulan data dengan wawancara dan analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan evaluasi pendidika di SMP Hang Nadim Malay School secara konsep telah relevan, namun dalam prakteknya belum sistematis. Sementara fasilitas sekolah sangat mendukung evaluasi pendidikan, sehingga dalam hal evaluasi masih diperlukan pelatihan yang lebih holistik dan komprehensif

    Pendidikan Arab Saudi:Tantangan dan Reformasi

    Full text link
    Arab Saudi sebagai salah satu negara terkaya di Timur Tengah mengalami pembaharuan di bidang pendidikan dari masa ke masa. Diawali oleh Raja Faisal bin Abdul Aziz melalui slogan “free education for all”mendorong warganya untuk belajar melalui lembaga-lembaga pendidikan yang disediakan oleh pemerintah dan menyediakan program beasiswa bagi keluarga yang kurang mampu. Sampai pada masa Raja Abdullah bin Abd Aziz, anggaran pendidikan dialokasikan 27% dari total anggaran belanja Negara Arab Saudi. Para pemuda Arab Saudi diberikan beasiswa untuk belajar/kuliah ke luar negeri, seperti ke Amerika, Inggris, Australia, Jepang Malaysia dan negara-negara lainnya. Namun, kebijakan yang dibuat oleh Pemerintah Arab Saudi ini dinilai belum menyentuh aspek fundamental terkait muatan kurikulum pendidikan yang mereka gunakan yang terkesan memberi ruang dan bibit subur bagi lahirnya radikalisme dan ekstrimisme, sehingga perlu direformasi. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan Pendidikan di Arab Saudi: berikut tantangan yang dihadapi dan reformasi yang dilakukan. Desain penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan metode yang digunakan adalah studi pustaka (library reseach) melalui teknik pengumpulan data dokumentasi. Selanjutnya data dianalisis dengan menggunakan pendekatan deskriptif analisis. Temuan dalam penelitian ini menggambarkan berbagai tantangan yang dihadapi oleh Pemerintah Arab Saudi, seperti; menyusupnya paham-paham radikal di lembaga pendidikan agama dan makin menipisnya cadangan minyak bumi sebagai sumber utama pendapatan negara. Menyikapi tantangan tersebut, Pemerintah Arab Saudi mengeluarkan kebijakan reformis; Pertama, mereformasi sistem pendidikannya, mengakhiri ekstrimisme agama dan mengarah kepada moderasi dan toleransi. Kedua, transformasi sosio-ekonomi melalui program diversifikasi ekonomi dan juga turut mempengaruh kebijakan di bidang sosial dan budaya.Arab Saudi sebagai salah satu negara terkaya di Timur Tengah mengalami pembaharuan di bidang pendidikan dari masa ke masa. Diawali oleh Raja Faisal bin Abdul Aziz melalui slogan “free education for all”mendorong warganya untuk belajar melalui lembaga-lembaga pendidikan yang disediakan oleh pemerintah dan menyediakan program beasiswa bagi keluarga yang kurang mampu. Sampai pada masa Raja Abdullah bin Abd Aziz, anggaran pendidikan dialokasikan 27% dari total anggaran belanja Negara Arab Saudi. Para pemuda Arab Saudi diberikan beasiswa untuk belajar/kuliah ke luar negeri, seperti ke Amerika, Inggris, Australia, Jepang Malaysia dan negara-negara lainnya. Namun, kebijakan yang dibuat oleh Pemerintah Arab Saudi ini dinilai belum menyentuh aspek fundamental terkait muatan kurikulum pendidikan yang mereka gunakan yang terkesan memberi ruang dan bibit subur bagi lahirnya radikalisme dan ekstrimisme, sehingga perlu direformasi. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan Pendidikan di Arab Saudi: berikut tantangan yang dihadapi dan reformasi yang dilakukan. Desain penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan metode yang digunakan adalah studi pustaka (library reseach) melalui teknik pengumpulan data dokumentasi. Selanjutnya data dianalisis dengan menggunakan pendekatan deskriptif analisis. Temuan dalam penelitian ini menggambarkan berbagai tantangan yang dihadapi oleh Pemerintah Arab Saudi, seperti; menyusupnya paham-paham radikal di lembaga pendidikan agama dan makin menipisnya cadangan minyak bumi sebagai sumber utama pendapatan negara. Menyikapi tantangan tersebut, Pemerintah Arab Saudi mengeluarkan kebijakan reformis; Pertama, mereformasi sistem pendidikannya, mengakhiri ekstrimisme agama dan mengarah kepada moderasi dan toleransi. Kedua, transformasi sosio-ekonomi melalui program diversifikasi ekonomi dan juga turut mempengaruh kebijakan di bidang sosial dan budaya

    162

    full texts

    190

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Akademika: Jurnal Keagamaan dan Pendidikan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇