Akademika: Jurnal Keagamaan dan Pendidikan
Not a member yet
190 research outputs found
Sort by
Pendidikan Islam di Iran Pasca Revolusi
Gerakan revolusi yang dipimpin oleh Khomeini, berhasil menumbangkan sistem monarki dan mendirikan negara republik dengan menerapkan syariat Islam dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat, sesuai dengan mazhab syiah Itsna’ Asyariyah. Setelah revolusi Islam Iran tahun 1979, sistem pendidikan Iran mengalami perubahan yang sangat mendasar, semua upaya pendidikan serta pengajaran harus sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Upaya-upaya pendidikan juga harus diarahkan pada penggunaan al-Quran, tradisi Islam, dan konstitusi republik Islam Iran sebagai dasar dalam merumuskan tujuan dan sasaran pendidikan. Iran menyediakan sarana cuma-cuma bagi para pemuda dan anak-anak sampai tingkat Sekolah Menengah Pertama. Metode pengajaran menggunakan hafalan. Kurikulum pendidikan Islam di Iran menganut sistem sentralistik yang kurikulum diatur oleh pemerintah pusat. sedangkan perguruan tinggi, di mana dosenlah yang menentukan isi mata kuliahnya. Madrasah tertua berada di iran seperti madrasah miyan dahiyah, al-bahaqiyah, dan NizhamiyyahGerakan revolusi yang dipimpin oleh Khomeini, berhasil menumbangkan sistem monarki dan mendirikan negara republik dengan menerapkan syariat Islam dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat, sesuai dengan mazhab syiah Itsna’ Asyariyah. Setelah revolusi Islam Iran tahun 1979, sistem pendidikan Iran mengalami perubahan yang sangat mendasar, semua upaya pendidikan serta pengajaran harus sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Upaya-upaya pendidikan juga harus diarahkan pada penggunaan al-Quran, tradisi Islam, dan konstitusi republik Islam Iran sebagai dasar dalam merumuskan tujuan dan sasaran pendidikan. Iran menyediakan sarana cuma-cuma bagi para pemuda dan anak-anak sampai tingkat Sekolah Menengah Pertama. Metode pengajaran menggunakan hafalan. Kurikulum pendidikan Islam di Iran menganut sistem sentralistik yang kurikulum diatur oleh pemerintah pusat. sedangkan perguruan tinggi, di mana dosenlah yang menentukan isi mata kuliahnya. Madrasah tertua berada di iran seperti madrasah miyan dahiyah, al-bahaqiyah, dan Nizhamiyyah
Improving Students’ Reading Comprehension Through “KWL Plus” Technique at SMAN 2 Kampar
The objective of this research is to find out the significant improvement of using KWL Plus technique in comprehending reading text. Thus, to find out the improvement of students’ reading comprehension, the writer carried out experimental research, which focused only in experimental class. The writer used KWL Plus technique that consisted of some steps. First, the students must completed KWL grid that consists of three columns. Then, the students made concept map based on information from KWL grid. After that, they wrote a summary based on concept map. The sample of this research are thirty five students. The research has been conducted from May to June 2020 at the first year students of SMA N 2 Kampar. In collecting data, the writer gave reading texts in form of multiple choice tests that consists of 30 questions to the sample of experimental class. After giving the test to the sample, the writer collected the answer sheets to be calculated for the data. The obtained data was analyzed by using the formula of t-test in Hatch and Farhady Book (1982:105). It was found that t-calculated was 7.06 and t-table on the level of significant 5% or 0.05 and degree of freedom (df) 34 was2.042. It was seen that Tc>Tt. It means that null hypothesis (Ho) is rejected and alternative hypothesis (Ha) is accepted. In other words by using KWL Plus technique was able to give positive contribution to improve students’ achievement in reading comprehension at the first year students of SMA N 2 Kampar
Peranan Pendidikan Islam dalam Merekontruksi Indentitas Muslim di Belanda
Keinginan para imigran Muslim di Belanda untuk mengenyam pendidikan berbasis budaya dan agama dapat dipahami sebagai upaya untuk melindungi budaya dan identitas mereka sebagai Muslim. Upaya mereka untuk mendirikan madrasah di negeri ini, meskipun dijamin oleh Undang-Undang Dasar Negara, namun pada tataran praktis seringkali sulit diwujudkan. Reaksi dari luar komunitas Muslim dalam masyarakat Belanda seringkali negatif terhadap pendidikan Islam. Pendapat yang saling bertentangan itu kritis dan menganggap pendidikan Islam di Belanda tidak diinginkan karena dapat memperlambat proses integrasi ke dalam masyarakat Belanda. Tulisan ini mengeksplorasi pendidikan Islam di Belanda dari perspektif sejarah, menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan realisasinya oleh imigran Muslim di negara ini, dan membahas peran pendidikan Islam dalam masyarakat Belanda.Keinginan para imigran Muslim di Belanda untuk mengenyam pendidikan berbasis budaya dan agama dapat dipahami sebagai upaya untuk melindungi budaya dan identitas mereka sebagai Muslim. Upaya mereka untuk mendirikan madrasah di negeri ini, meskipun dijamin oleh Undang-Undang Dasar Negara, namun pada tataran praktis seringkali sulit diwujudkan. Reaksi dari luar komunitas Muslim dalam masyarakat Belanda seringkali negatif terhadap pendidikan Islam. Pendapat yang saling bertentangan itu kritis dan menganggap pendidikan Islam di Belanda tidak diinginkan karena dapat memperlambat proses integrasi ke dalam masyarakat Belanda. Tulisan ini mengeksplorasi pendidikan Islam di Belanda dari perspektif sejarah, menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan realisasinya oleh imigran Muslim di negara ini, dan membahas peran pendidikan Islam dalam masyarakat Belanda
Filsafat Sebagai “Dasar” Agama (Islam)
Dalam realitas sosial-agama khususnya di Indonesia filsafat masih dianggap menakutkan, berat, rumit, abstrak, bahkan sebagian kecil ada yang masih beranggapan haram, menyesatkan, dan tidak dianjurkan dalam agama khususnya Islam. Filsafat sering dikonfrontasikan dengan agama, filsafat berkonotasi negatif sedang agama berkonotasi positif. Filsafat adalah pembahasan pencarian makna, nilai, atau solusi dari ketakjuban kehidupan atau persoalan yang selalu melitari manusia. Selain itu filsafat merupakan induk dari ilmu pengetahuan atau dasar dari segala ilmu pengetahuan, bahkan penulis berhipotesis bahwa filsafat juga merupakan dasar agama (Islam). Agama dipahami sebagai pedoman hidup, aturan moral yang bersifat sakral, kebenarannya bersifat mutlak, sehingga disebut dogmatis. Adapun yang menjadi landasan masalah adalah bagaimana menjadi mungkin filsafat sebagai dasar agama (Islam)? Penulisan ini menggunakan metode filsafat dan menggunakan pendekatan filsafat, serta pendekatan sejarah dan juga pendekatan teologi Islam. Secara umum pembahasan filsafat yang disejajarkan dengan agama memang sudah banyak yang bahas, yaitu menunjukkan orientasi filsafat dan agama adalah sama, sama-sama mencapai kebenaran hanya metodenya yang berbeda. Namun pembahasan tentang mencari esensi atau dasar agama (Islam) adalah filsafat, dengan metode filsafat dan pendekatan filsafat, sejarah serta teologi Islam belum ada yang membahas sehingga tulisan ini dapat dikatakan masih original. Hasilnya adalah Filsafat atau untuk bisa berpikir dasarnya adalah Akal Budi, sedang agama diturunkan pada makhluk yang memiliki Akal Budi atau bisa berfilsafat (berpikir tentang dirinya sendiri dan realitas serta kekuatan besar yang ada diluar dirinya sehingga menyadari pentingnya beragama) yaitu manusia, sehingga dapat dikatakan dasar dari agama adalah filsafat.Dalam realitas sosial-agama khususnya di Indonesia filsafat masih dianggap menakutkan, berat, rumit, abstrak, bahkan sebagian kecil ada yang masih beranggapan haram, menyesatkan, dan tidak dianjurkan dalam agama khususnya Islam. Filsafat sering dikonfrontasikan dengan agama, filsafat berkonotasi negatif sedang agama berkonotasi positif. Filsafat adalah pembahasan pencarian makna, nilai, atau solusi dari ketakjuban kehidupan atau persoalan yang selalu melitari manusia. Selain itu filsafat merupakan induk dari ilmu pengetahuan atau dasar dari segala ilmu pengetahuan, bahkan penulis berhipotesis bahwa filsafat juga merupakan dasar agama (Islam). Agama dipahami sebagai pedoman hidup, aturan moral yang bersifat sakral, kebenarannya bersifat mutlak, sehingga disebut dogmatis. Adapun yang menjadi landasan masalah adalah bagaimana menjadi mungkin filsafat sebagai dasar agama (Islam)? Penulisan ini menggunakan metode filsafat dan menggunakan pendekatan filsafat, serta pendekatan sejarah dan juga pendekatan teologi Islam. Secara umum pembahasan filsafat yang disejajarkan dengan agama memang sudah banyak yang bahas, yaitu menunjukkan orientasi filsafat dan agama adalah sama, sama-sama mencapai kebenaran hanya metodenya yang berbeda. Namun pembahasan tentang mencari esensi atau dasar agama (Islam) adalah filsafat, dengan metode filsafat dan pendekatan filsafat, sejarah serta teologi Islam belum ada yang membahas sehingga tulisan ini dapat dikatakan masih original. Hasilnya adalah Filsafat atau untuk bisa berpikir dasarnya adalah Akal Budi, sedang agama diturunkan pada makhluk yang memiliki Akal Budi atau bisa berfilsafat (berpikir tentang dirinya sendiri dan realitas serta kekuatan besar yang ada diluar dirinya sehingga menyadari pentingnya beragama) yaitu manusia, sehingga dapat dikatakan dasar dari agama adalah filsafat
Metode Pembelajaran Nilai-Nilai Keagamaan Bagi Anak Usia Dini
Keinginan para imigran Muslim di Belanda untuk mengenyam pendidikan berbasis budaya dan agama dapat dipahami sebagai upaya untuk melindungi budaya dan identitas mereka sebagai Muslim. Upaya mereka untuk mendirikan madrasah di negeri ini, meskipun dijamin oleh Undang-Undang Dasar Negara, namun pada tataran praktis seringkali sulit diwujudkan. Reaksi dari luar komunitas Muslim dalam masyarakat Belanda seringkali negatif terhadap pendidikan Islam. Pendapat yang saling bertentangan itu kritis dan menganggap pendidikan Islam di Belanda tidak diinginkan karena dapat memperlambat proses integrasi ke dalam masyarakat Belanda. Tulisan ini mengeksplorasi pendidikan Islam di Belanda dari perspektif sejarah, menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan realisasinya oleh imigran Muslim di negara ini, dan membahas peran pendidikan Islam dalam masyarakat Belanda.Manusia dilahirkan dalam keadaan suci (fithrh), dan sekaligus membawa potensi kebaikan yang dapat dikembangkan melalui metode-metode pembelajaran yang ada. sehingga pada akhirnya terbentuklah Insan Kamil yang telah terpaterikan dan menyandang prediket sebagai makhluq terbaik ciptaan Allah Taala. Namun demikian, sepanjang proses perkembangan kehidupannya makhluq Tuhan yang bernama manusia ini belum tentu mereka menjadi manusia baik, hal ini dikarenakan dalam kehidupannya senantiasa mengalami perubahan-perubahan dan sangat memungkinkan predikat (sebaik-baik ciptaan) bisa saja berubah menjadi makhluq Tuhan yang paling rendah derajadnya. (Asfala Safiliin) Informasi ini hadir sebagai sarana nyata yang dapat membantu para pendidik untuk menjadikan Anak Usia dini (AUD) sebagai insan yang memiliki karakter ke-agamaan yang baik dan kedepan diharapkan mereka mampu menghadapi (hidup di dalam dan menghadapi dunianya dengan berbekal nilai-nilai ke-agamaan).. Karenanya pendidikan dan juga pembelajaran nilai-nilai keagamaan ini merupakan proses fasilitasi yang dilakukan oleh pendidik kepada terdidik (AUD) dalam kerangka proses internalisasi nilai-nilai kebaikan pada diri seseorang khususunya Anak Usia Dini
Zikir dalam Perspektif Buddha dan Islam
Zikir is one of the methods used by sufi scholars to be able to revive the heart from death because a heart that does not remember the majesty of Allah is considered dead by the sufis. However, the perspective of zikir in Buddhism is still little known by the public. This lack of understanding shows that the term zikir in Buddhism is still a bit foreign so that many people, especially Buddhists, do not understand the perspective of zikir itself. The purpose of writing this article is to find out about zikir from a Buddhist and Islam perspective. This study used a descriptive qualitative method. Based on the data analysis carried out, it was concluded that zikir is reciting the name of Allah and praying with concentration or ritual verbal worship, which is not tied to time, place or circumstances, and if humans are busy doing it, zikir produces knowledge and vision in themselves, because zikir in its basic context is included in the verbal category. The perspective of zikir in Buddhism (Theravada) is similar to that of sufi meditation in Islamic religion. The difference is only in the form activity and the naming of the training terms. The difference between the two lies in the prescribed meditation subject.Zikir is one of the methods used by sufi scholars to be able to revive the heart from death because a heart that does not remember the majesty of Allah is considered dead by the sufis. However, the perspective of zikir in Buddhism is still little known by the public. This lack of understanding shows that the term zikir in Buddhism is still a bit foreign so that many people, especially Buddhists, do not understand the perspective of zikir itself. The purpose of writing this article is to find out about zikir from a Buddhist and Islam perspective. This study used a descriptive qualitative method. Based on the data analysis carried out, it was concluded that zikir is reciting the name of Allah and praying with concentration or ritual verbal worship, which is not tied to time, place or circumstances, and if humans are busy doing it, zikir produces knowledge and vision in themselves, because zikir in its basic context is included in the verbal category. The perspective of zikir in Buddhism (Theravada) is similar to that of sufi meditation in Islamic religion. The difference is only in the form activity and the naming of the training terms. The difference between the two lies in the prescribed meditation subject
Implementasi Pendidikan Humanis Religius Pada Pendidikan Dasar Islam
Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi pendidikan humanis religius pada pendidikan dasar Islam. Praktek di lapangan menunjukkan bahwa masih kerap ditemukan model pembelajaran yang kurang menyenangkan sehingga peserta didik merasa kurang nyaman disekolah hingga berakhir melakukan tindak kekerasan. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu studi literatur (library research). Data dikumpulkan dari berbagai buku, majalah, koran, jurnal, dan sumber literatur yang lain. Data yang terkumpul kemudian dianalisis untuk mendapatkan pola dari data yang didapatkan. Hasil dari penelitianini menunjukkan bahwa melalui pendidikan yang memanusiakan manusia dapat mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan dan membuat peserta didik merasa aman dan betah. Oleh karena itu, implementasi pendidikan humanis religius pada pendidikan dasar Islam merupakan keharusan demi terciptanya pendidikan dan pembelajaran yang humanis dan harmonis. Keberhaislan penerapan pendidikan humanis religius dalam pendidikan dasar Islam dipengaruhi oleh peran guru dalam mengajar, metode yang digunakan, materi yang disampaikan serta evaluasi yang digunakan untuk mengukur kemampuan siswa baik dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor
Analisis Kebijakan Pendidikan Islam di Malaysia
Malaysia is a country that has many ethnic groups with a total population of around 28 million people. With the dominance of the Malay tribe, parts of China and India made the government system of the Malaysian state apply the royal system. The leader of the country is led by the king or what is called Pertuan Agung. The domination of Malays and adherents of Islam in Malaysia has had an impact on the educational policies taken by the state. The Malaysian state Education Act 1996 contains the teachings of Islam and morals in the education system in Malaysia. However, actually the educational model and the background to the emergence of the education system in Malaysia which regulates the application of Islam and morals still need to be studied more deeply. So, researchers are interested in this. The research method used is library research (literature study), used analysis is comparative analysis. The results of the study show that the educational model is carried out thoroughly by the Malaysian ministry of education. The background that arises is the result of the desire to make the educational outcomes of students become someone who is balanced and harmonious between intellectual, spiritual, emotional and physical based on belief in and obedience to God.Malaysia is a country that has many ethnic groups with a total population of around 28 million people. With the dominance of the Malay tribe, parts of China and India made the government system of the Malaysian state apply the royal system. The leader of the country is led by the king or what is called Pertuan Agung. The domination of Malays and adherents of Islam in Malaysia has had an impact on the educational policies taken by the state. The Malaysian state Education Act 1996 contains the teachings of Islam and morals in the education system in Malaysia. However, actually the educational model and the background to the emergence of the education system in Malaysia which regulates the application of Islam and morals still need to be studied more deeply. So, researchers are interested in this. The research method used is library research (literature study), used analysis is comparative analysis. The results of the study show that the educational model is carried out thoroughly by the Malaysian ministry of education. The background that arises is the result of the desire to make the educational outcomes of students become someone who is balanced and harmonious between intellectual, spiritual, emotional and physical based on belief in and obedience to God
Upaya Guru dalam Meningkatkan Kemampuan Mengenal Huruf Hijaiyah Kelompok A pada Anak Usia Dini di TK Al-Badariyah Kecamatan Muara Bulian Kabupaten Batang Hari
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan anak dalam mengenal huruf hijaiyah kelompok A di TK AL-Badariyah Kecamatan Muara Bulian Kabupaten Batang Hari. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yaitu dengan cara mengumpulkan data. Penulis menggunakan metode observasi, metode wawancara, studi pustaka dan metode dokumentasi. Tahapan yang ditempuh adalah reduksi data, kajian data dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Upaya Guru Dalam Meningkatkan Kemampuan Mengenal Huruf Hijaiyah Pada Anak Usia Dini Kelompok A di TK AL Badariyah Kelurahan Rengas Condong Kecamatan Muara Bulian.Penelitian merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang dilihat melalui sudut pandang pendidikan dengan mengkaji tentang Upaya Guru Dalam Meningkatkan Kemampuan Mengenal Huruf Hijaiyah Pada Anak Usia Dini Kelompok A di TK AL Badariyah Kelurahan Rengas Condong Kecamatan Muara Bulian.Kata kunci : Meningkatkan Kemampuan Mengenal Huruf Hijaiyah Pada Anak Usia Dini Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan anak dalam mengenal huruf hijaiyah kelompok A di TK AL-Badariyah Kecamatan Muara Bulian Kabupaten Batang Hari. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yaitu dengan cara mengumpulkan data. Penulis menggunakan metode observasi, metode wawancara, studi pustaka dan metode dokumentasi. Tahapan yang ditempuh adalah reduksi data, kajian data dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Upaya Guru Dalam Meningkatkan Kemampuan Mengenal Huruf Hijaiyah Pada Anak Usia Dini Kelompok A di TK AL Badariyah Kelurahan Rengas Condong Kecamatan Muara Bulian.Penelitian merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang dilihat melalui sudut pandang pendidikan dengan mengkaji tentang Upaya Guru Dalam Meningkatkan Kemampuan Mengenal Huruf Hijaiyah Pada Anak Usia Dini Kelompok A di TK AL Badariyah Kelurahan Rengas Condong Kecamatan Muara Bulia
Telaah Kebijakan Pemerintahan China terhadap Nilai-nilai Pendidikan Islam
Cina sebagai negara komunis menerapkan kebijakan pendidikan sekuler yaitu dengan memisahkan antara urusan pemerintahan dan agama. Bahkan Cina melarang setiap penduduknya memeluk agama. Provinsi Ningxia dan Xinjiang mayoritas suku Hui dan Uighur merupakan penduduk pemeluk agama islam terbesar di Cina sering mendapatkan diskriminasi dari kebijakan pemerintah Cina. Pemerintah melarang tulisan Arab di tempat umum, bahkan menghapus kata "halal" dari segel resmi yang dibagikan ke restoran yang mengikuti kebiasaan Islam untuk menyiapkan makanan. Segel sekarang menggunakan karakter Cina. Larangan itu menyebar musim panas ini ke Beijing dan tempat lain. Cara Presiden Xi dalam melakukan proses indoktrinasi tidak hanya melalui media bukan sebagai instrumen tunggal namun juga melalui agama. Walaupun, dalam pasal No. 36 Konstitusi Tiongkok mengatakan bahwa,“warga negara Tiongkok memiliki kebebasan dalam kepercayaan keagamaan” tidak berarti bahwa pemeluk agama bebas dalam memeluk kepercayaan. Bahkan pemerintah melarang penduduknya belajar agama di rumah. Pelatihan paham komunis dilaksanakan tempat balai pelatihan dengan bangunan seperti penjara dengan tembok yang tinggi dan kawat berduri, hal ini dilakukan untuk pengalihan isu perlakuan diskriminatif terhadap agama khususnya agama Islam. Penelitian ini adalah library riset yaitu mengumpulkan data-data penelitian melalui buku dan jurnal-jurnal ilmiah. Hasil penelitian menunjukan bahwa, kebijakan pemerintah Cina terhadap pendidikan agama Islam sangat diawasi secara ketat sejat terjadinya pengeboman Gedung WTC di Amerika pada tahun 2001. Penduduk yang beragama Islam diberikan pelatihan tentang paham Komunis secara paksa. Sistem pendidikan di Cina lebih memfokuskan pada perbaikan pendidikan yang mengarah kepada penguatan kualitas ekonomi masyarakat Cina secara nasional maupun global.Cina sebagai negara komunis menerapkan kebijakan pendidikan sekuler yaitu dengan memisahkan antara urusan pemerintahan dan agama. Bahkan Cina melarang setiap penduduknya memeluk agama. Provinsi Ningxia dan Xinjiang mayoritas suku Hui dan Uighur merupakan penduduk pemeluk agama islam terbesar di Cina sering mendapatkan diskriminasi dari kebijakan pemerintah Cina. Pemerintah melarang tulisan Arab di tempat umum, bahkan menghapus kata "halal" dari segel resmi yang dibagikan ke restoran yang mengikuti kebiasaan Islam untuk menyiapkan makanan. Segel sekarang menggunakan karakter Cina. Larangan itu menyebar musim panas ini ke Beijing dan tempat lain. Cara Presiden Xi dalam melakukan proses indoktrinasi tidak hanya melalui media bukan sebagai instrumen tunggal namun juga melalui agama. Walaupun, dalam pasal No. 36 Konstitusi Tiongkok mengatakan bahwa,“warga negara Tiongkok memiliki kebebasan dalam kepercayaan keagamaan” tidak berarti bahwa pemeluk agama bebas dalam memeluk kepercayaan. Bahkan pemerintah melarang penduduknya belajar agama di rumah. Pelatihan paham komunis dilaksanakan tempat balai pelatihan dengan bangunan seperti penjara dengan tembok yang tinggi dan kawat berduri, hal ini dilakukan untuk pengalihan isu perlakuan diskriminatif terhadap agama khususnya agama Islam. Penelitian ini adalah library riset yaitu mengumpulkan data-data penelitian melalui buku dan jurnal-jurnal ilmiah. Hasil penelitian menunjukan bahwa, kebijakan pemerintah Cina terhadap pendidikan agama Islam sangat diawasi secara ketat sejat terjadinya pengeboman Gedung WTC di Amerika pada tahun 2001. Penduduk yang beragama Islam diberikan pelatihan tentang paham Komunis secara paksa. Sistem pendidikan di Cina lebih memfokuskan pada perbaikan pendidikan yang mengarah kepada penguatan kualitas ekonomi masyarakat Cina secara nasional maupun global.