Ternopil Volodymyr Hnatiuk National Pedagogical University
Institutional Repository of Ternopil National Pedagogical University V.HnatiukNot a member yet
2694 research outputs found
Sort by
Analisis Konsep Syibhul ‘Iddah dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor P 005/Dj.III/Hk.00.7/10/2021 menurut Perspektif Kompilasi Hukum Islam dan Wahbah Zuhaili
Secara umum, masa idah merupakan kewajiban bagi perempuan, bukan laki
laki. Namun Surat Edaran Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor P
005/DJ.III/HK.00.7/10/2021 tentang Pernikahan dalam Masa Idah Istri mengandung
isyarat bahwa laki-laki juga harus menunggu hingga berakhirnya masa idah mantan
istrinya, seolah-olah turut dikenai masa tunggu sebagaimana perempuan. Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis dasar hukum ketentuan tersebut melalui perspektif
Kompilasi Hukum Islam (KHI) dan konsep man’i syar’i menurut Wahbah Al-Zuhaili.
Skripsi ini berjenis penelitian hukum normatif dengan pendekatan yuridis.
Bahan hukum dikumpulkan melalui studi dokumen atau pustaka, yang selanjutnya
dianalisis secara deskriptif kualitatif. Bahan hukum paling utama yang dianalisis
adalah SE Dirjen Bimas Islam No. P-005/DJ.III/HK.00.7/10/2021, KHI, dan Kitab
Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu.
Penelitian ini menghasilkan dua temuan utama. Pertama, poin ketiga dalam
Surat Edaran Dirjen Bimas Islam memuat konsep syibhul ‘iddah (mirip idah) yang
berakar pada Kompilasi Hukum Islam (KHI), khususnya Pasal 41 dan 42. Pasal-pasal
ini mengatur larangan menikahi perempuan yang memiliki tali pernasaban selama
masa idah, termasuk kewajiban menunggu bagi suami yang telah menceraikan istri
keempatnya. Konsep ini juga sejalan dengan pandangan Wahbah al-Zuhaili mengenai
man’i syar’i (halangan syar’i). Namun, berbeda dari KHI dan pendapat Wahbah al
Zuhaili yang hanya membatasi pernikahan dengan perempuan tertentu, Surat Edaran
ini melarang mantan suami menikahi perempuan manapun selama masa idah mantan
istrinya. Kedua, Surat Edaran ini mengisi kekosongan hukum administratif, karena
sebelumnya belum ada aturan yang membatasi pencatatan pernikahan selama masa
idah istri. Dengan demikian, Surat Edaran ini menjadi jembatan antara ketentuan fikih
klasik dan kebutuhan administrasi modern, serta dapat dipahami sebagai bentuk
ijtihad administratif dalam merespons kebutuhan hukum kontemporer
Mekanisme Penyelesaian Sengketa Sewa Rumah dengan Perjanjian Lisan (Studi Kasus Mahasiswa UIN Antasari Banjarmasin)
Dalam kehidupan sehari-hari, perjanjian sewa menyewa, baik secara tertulis
maupun lisan, merupakan interaksi sosial yang penting, terutama bagi mahasiswa
yang membutuhkan tempat tinggal dekat dengan kampus. Namun, perjanjian lisan
sering kali menimbulkan kesalahpahaman yang dapat berujung pada sengketa.
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti mekanisme penyelesaian sengketa sewa
rumah dengan perjanjian lisan di kalangan mahasiswa Universitas Islam Negeri
Antasari Banjarmasin serta kendala dan solusi dalam penyelesaian sengketa sewa
rumah dengan perjanjian lisan di kalangan mahasiswa Universitas Islam Negeri
Antasari Banjarmasin
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum empiris dengan
pendekatan kualitatif. Data dalam penelitian ini memuat fakta-fakta empiris yang
berkaitan dengan mekanisme penyelesaian sengketa sewa rumah yang dilakukan
berdasarkan perjanjian lisan, serta berbagai kendala yang dihadapi saat proses
penyelesaian dan solusi yang bisa ditempuh para pihak. Data dikumpulkan melalui
wawancara mendalam terhadap mahasiswa penyewa dan pemilik rumah baik di
Banjarmasin maupun di Banjarbaru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
mekanisme penyelesaian sengketa umumnya dilakukan melalui komunikasi
langsung dan negosiasi, namun sering kali tidak memiliki kekuatan hukum karena
tidak adanya bukti tertulis. Kendala utama yang dihadapi adalah kurangnya
pemahaman mengenai hak dan kewajiban, serta sikap tidak kooperatif dari salah
satu pihak.
Dari penelitian ini, disarankan agar perjanjian sewa dilakukan secara tertulis
untuk menghindari sengketa di kemudian hari. Edukasi hukum mengenai
pentingnya legalitas dalam hubungan sewa-menyewa juga diperlukan untuk
melindungi hak-hak penyewa dan pemilik rumah. Penelitian ini diharapkan dapat
memberikan kontribusi dalam pengembangan model penyelesaian sengketa yang
lebih efektif dan efisien dalam konteks perjanjian lisan
Students Competence in Designing Readability Lesson Plans in the PDP-Framework
This study analyzes the competence of English Language Education
students in designing readability-focused lesson plans using the Pre-During-Post
(PDP) framework. Effective lesson planning plays a vital role in ensuring quality
instruction, particularly in fostering reading comprehension. However, despite
exposure to theoretical principles, students often face challenges in translating these
into practical, coherent lesson plans. This qualitative research employed content
analysis on 68 lesson plans developed by fourth-semester students who had
completed the Methodology course at Antasari State Islamic University.
Additionally, in-depth interviews with 21 students were conducted to explore their
experiences and difficulties. The findings revealed that while students generally
understood the procedural structure of the PDP framework, many struggled with
applying its conceptual components—especially in the pre- and during-reading
phases. Common issues included the inability to differentiate task types, lack of
alignment between learner levels and learning objectives, and high dependence on
lecturer guidance or external tools like AI. Readability in student lesson plans was
affected not only by content clarity but also by formatting inconsistencies and the
improper use of PDP terminology. The study concludes that a significant theory
practice gap exists in lesson plan design, emphasizing the need for more targeted
training, practical modeling, and structured feedback in teacher education
programs. This research provides insights for curriculum developers and educators
to enhance students’ pedagogical competence in designing effective, student
centered reading lessons
Perlindungan Hukum Bagi Pelaku Usaha Terhadap Pengembalian Barang dengan Metode Pembayaran Cash On Delivery Pada Aplikasi Shopee di Kota Banjarmasin
Perkembangan e-commerce di Indonesia khususnya melalui aplikasi
Shopee, telah mengubah pola transaksi jual beli, Metode pembayaran cash on
delivery (COD) menjadi pilihan konsumen karena memberikan rasa aman. Namun,
penerapan sistem ini juga menimbulkan tantangan bagi pelaku usaha, seperti
tingginya pengembalian barang dan penyalahgunaan mekanisme retur yang
berdampak pada kerugian finansial dan operasional. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui gambaran pengembalian barang dengan metode pembayaran cash on
delivery (COD) pada aplikasi Shopee, hubungan hukum antar pihak dan bagaimana
perlindungan hukum bagi pelaku usaha terhadap pengembalian barang dengan
metode pembayaran cash on delivery pada aplikasi Shopee di Kota Banjarmasin.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum empiris dengan
pendekatan sosiologis. Lokasi penelitian ini adalah Kota Banjarmasin. Adapun
Teknik pengumpulan data yaitu, wawancara dan dokumentasi. Informan terdiri dari
tiga orang pelaku usaha, tiga orang konsumen, dan dua orang kurir.
Hasil penelitian ini adalah, pelaku usaha masih menghadapi
ketidakseimbangan dalam perlindungan hukum, dengan sistem pengembalian
COD. Meskipun terdapat dasar hukum yang menjamin hak dan kewajiban para
pihak, mekanisme pengembalian barang dengan metode pembayaran cash on
delivery pada aplikasi Shopee cenderung lebih berpihak pada konsumen.
Kelemahan dalam sistem verifikasi pengembalian barang dan ketidakjelasan
prosedur menyebabkan pelaku usaha seringkali menanggung kerugiaan biaya
operasional, dan penurunan nilai barang akibat kerusakan
Pengembangan Video Pembelajaran Dampak Negatif Gadget Pada Anak Usia Dini Di TK Aisyiysh Bustanul Athfal
Penggunaan gadget yang tidak terkontrol pada anak usia dini dapat
menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti gangguan pada kesehatan mata,
konsentrasi, hingga perilaku sosial. Sayangnya, pembelajaran mengenai dampak
negatif gadget di lembaga Pendidikan Anak Usia Dini masih terbatas. Penelitian ini
bertujuan untuk mengembangkan beserta menguji efektivitas media pembelajaran
tentang gadget di TK Aisyiyah Bustanul Athfal.
Metode yang digunakan adalah Research and Development (R&D) dengan
model pengembangan ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation,
Evaluation). Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dengan guru, serta
validasi oleh ahli materi dan ahli media. Efektivitas video diuji menggunakan
desain one-group pretest-posttest terhadap 15 anak usia 5–6 tahun.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa video animasi yang dikembangkan
efektif dalam meningkatkan pemahaman anak mengenai dampak negatif gadget.
Validasi oleh ahli menunjukkan tingkat kelayakan sebesar 100% untuk materi dan
84% untuk media, dan pada posttest mengalami peningkatan skor sebesar 87
dibandingkan pretest sebesar 45,7. Berdasarkan hasil tersebut, video animasi
sebagai media pembelajaran direkomendasikan untuk digunakan dalam program
PAUD guna meningkatkan kesadaran anak sejak dini terhadap bahaya penggunaan
gadget yang berlebiha
Peran Badan Penasihatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) KUA Kecamatan Pelaihari dalam Mewujudukan Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah
Penelitian ini dilatar belakangi dari fenomena temuan fakta di lapangan
menunjukkan banyaknya kasus perceraian di kecamatan Pelaihari. Hal tersebut juga
penulis lihat dalam observasi terhadap fenomena yang terjadi di Kecamatan
Pelaihari, di mana berdasarkan data yang didapat dari laman resmi Pengadilan
Agama Pelaihari yang menyatakan bahwa kasus perceraian di Kabupaten Tanah
Laut dalam 5 tahun terakhir terus meningkat di setiap bulannya. Tujuan dari
penelitian ini untuk mengetahui peran dan strategi BP4 dalam mewujudkan
keluarga sakinah mawaddah warahmah.
Penelitian ini dilaksanakan dengan pendekatan kualitatif. Metode kualitatif
melibatkan kajian mendalam terhadap individu dan perilaku mereka yang diamati,
baik melalui data tertulis maupun wawancara. Secara umum, tujuan dari penelitian
kualitatif adalah untuk memperoleh pemahaman yang mendalam terhadap suatu
fenomena, khususnya mengenai peristiwa atau pengalaman yang dialami oleh
subjek penelitian. Subjek penelitian ini pengurus BP4 dan masyarakat dari
organisasi BP4 di kecamatan Pelaihari. Teknik pengumpulan data pada penelitian
ini yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Proses analisis data pada
penelitian ini yaitu reduksi data, penyajian data dan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran Badan Penasihatan Pembinaan
dan Pelestarian Perkawinan di KUA Kecamatan Pelaihari terhadap masyarakat
sangat berperan dalam mewujudkan keluarga yang sakinah mawaddah dan
warahmah yang disalurkan melalui program yang mereka laksanakan. Dan strategi
Badan Penasihatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) KUA Kecamatan
Pelaihari dalam Mewujudkan Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah adalah
dengan memberikan bimbingan yang baik terhadap calon pengantin, dan juga
melakukan kerjasama dengan lintas sektor yang lebih berkompeten dalam bidang
materi yang ingin disampaikan, sehingga materi yang disampaikan bisa dipahami
dengan baik oleh para calon penganti
Pengaruh Model Group Investigation (GI) dan Problem Based Learning (PBL) Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Materi Sistem Persamaan Linear dua variabel (SPLDV) di kelas VIII MTs Darul Huda Babai Tahun Ajaran 2024/2025
Kegiatan pembelajaran peserta didik diharapkan aktif dalam pembelajaran
matematika agar pembelajaran tidak membosankan sehingga hasil pembelajaran
siswa/i berdampak baik menggunakan cara menerapkan model pembelajaran yaitu
model Grup Investigation (GI) dan model Problem Based Learning (PBL).
Penelitian ini bertujuan agar mengetahui : (1) Pengaruh yang signifikan
dalam penerapan model pembelajaran grup investigation (GI) terhadap hasil belajar
siswa pada materi sistem persamaan linear dua variabel (SPLDV), (2) Pengaruh
yang signifikan dalam penerapan model problem based learning (PBL) terhadap
hasil belajar siswa pada materi sistem persamaan linear dua variabel (SPLDV), (3)
perbedaan yang signifikan dalam penerapan model pembelajaran grup investigation
(GI) dan model problem based learning (PBL) terhadap hasil terhadap hasil belajar
siswa. Penelitian ini menggunakan metode quasi eksprimental dengan melibatkan
43 siswa sebagai sampel. Pengambilan sampel dengan cara sampling total. Dengan
mengambil seluruh populasi sebagai sample karena populasi yang terbatas yaitu
kelas IX A sebagai kelas eksperimen 1 dan kelas IX B sebagai kelas eksperimen 2.
Materi yang di terapkan yaitu sistem persamaan linear dua variable (SPLDV).
Tekhnik pengumpilan data yaitu dengan tes, observasi, wawancara, dan
dokumentasi.
Hasil dari penelitian (1) Terdapat pengaruh yang signifikan dari penerapan
model group investigation (GI) terhadap hasil belajar siswa materi sistem
persamaan linear dua variabel (SPLDV), (2) Terdapat pengaruh yang signifikan dari
penerapan model problem based learning (PBL) terhadap hasil belajar siswa pada
materi sistem persamaan linier dua variable (SPLDV), (3)Tidak terdapat pebedaan
yang signifikan antara penerapan model group investigation (GI) dan problem
based learning (PBL) terhadap hasil belajar sisw
Exploring Students Progress and Satisfaction with Differentiated Learning in ELT within an Independent Curriculum
In the English language teaching (ELT) framework, teachers are responsible for
providing essential and efficient learning experiences. Merdeka Curriculum
provides opportunities for students to explore their passions and capabilities while
incorporating technology into the learning process. Differentiated learning is a
strategy that offers an educational experience customized to each student's unique
needs, interests, and abilities. This research explores the extent of students' learning
progress and satisfaction in learning English through a varied learning strategy
within the Merdeka Curriculum framework and what obstacles teachers face while
implementing this learning. This research design uses a qualitative approach with a
data analysis case study method. Data were collected through observation and in
depth interviews conducted at MTsN 1 Kotawaringin Barat with 1 English teacher
and 15 students in grade 9. In this research, differentiated learning in the Merdeka
Curriculum benefits student learning progress and satisfaction, while teachers still
encounter time management and workload issues. However, teacher collaboration
is an essential aspect of successfully implementing this approach. The study's
findings were probably intended to assist teachers in designing a more flexible and
oriented approach to students' needs within the context of the Merdeka Curriculum
Upaya Guru Bimbingan dan Konseling dalam Mengatasi Masalah Perilaku Remaja pada Siswa di SMKN 2 Marabahan
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan mengenai kenakalan
remaja. Dalam mengatasi masalah perilaku remaja pada siswa diperlukannya
bantuan guru bimbingan dan konseling untuk menuntaskannya. Tujuan dari
penelitian ini mendeskripsikan bentuk-bentuk masalah perilaku remaja, upaya
guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi masalah perilaku remaja pada
siswa di SMK Negeri 2 Marabahan.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan
pendekatan lapangan untuk mengumpulkan data melalui observasi, wawancara,
dokumentasi. Subjek penelitian ini ada tiga guru BK. Objek penelitian ini adalah
upaya guru BK dalam mengatasi masalah perilaku remaja pada siswa di SMKN 2
Marabahan. Teknik analisi data yang diguakan reduksi data, penyajian data, dan
verifikasi data
Hasil penelitian ini menunjukkan 1) bentuk-bentuk masalah tingkah laku
sisway yang terjadi seperti bolos sekolah, datang terlambat, tidak memakai atribut
lengkap, perkelahian antar sekolah, konflik fisik, pengambilan barang hak orang
lain, media erotic dan promiskuitas seksual. 2) Upaya guru BK dalam mengatasi
masalah tingkah laku siswa melalui layanan konseling individual untuk
mengentaskan permasalahan terutama tingkah laku pada siswa
Analisis Keterampilan Self Disclosure pada Remaja Yang Mengalami Alienasi di Panti Asuhan Aisyiyah Hikmah Zam-Zam Banjarmasin
Keterasingan atau alienasi dapat dikatakan sebagai kondisi perasaan
individu terkucil dari lingkungan sosialnya. Hurlock mengemukakan bahwa remaja
lebih rentan mengalami alienasi diri, dikarenakan pada umumnya remaja merasa
tidak nyaman dengan standar kelompok secara fisik, sehingga remaja menarik diri
serta menciptakan kepribadian yang dilingkupi sifat egois, keras kepala, pemurung
dan gelisah yang disebabkan oleh kebingungan identitas dan jati diri sehingga
kurang dapat memaknai hidup dengan baik. Kondisi inilah yang dialami oleh anak
yang tinggal di panti asuhan. Remaja panti asuhan yang mengalami alienasi
cenderung sulit membangun hubungan yang bermakna dengan orang lain, sulit
terbuka, merasa berbeda dari anak seusianya, dan sangat peka terhadap penolakan.
Kemampuan mengungkapkan informasi pribadi atau keterbukaan diri kepada orang
lain disebut juga dengan self disclosure.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif
yang memberikan gambaran tentang keterampilan self disclosure pada remaja panti
asuhan yang mengalami alienasi di Panti Asuhan Aisyiyah Hikmah Zam-Zam.
Pada penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara
mendalam dengan para remaja panti dan pengasuh panti. Adapun teknik analisis
data yang dilakukan di lapangan yaitu dengan melakukan reduksi data, penyajian
data, dan kesimpulan. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui lebihdalam
mengenaikemampuan self disclosure remaja panti asuhanyang mengalamialienasi,
dan mengetahuifaktoryang menyebabkanremajapantiasuhanmengalami alienasi.
Hasil penelitian menunjukan bahwa 1) Keterampilan self disclosure pada
remaja panti asuhan yang mengalami alienasi yaitu ketepatan, motivasi, waktu,
keintensifan, kedalaman, dan keluasan pengungkapan diri. Remaja cenderung lebih
nyaman bercerita kepada teman sekamar atau kakak-kakak yang lebih dekat secara
emosional daripada kepada pengasuh. 2) Faktor yang menyebabkan remaja panti
asuhan mengalami alienasi yaitu kesan pertama yang kurang baik, ketidakadilan
(tidak sportif), penampilan fisik, perilaku yang dianggap berbeda, sifat dan
kepribadian yang sulit, status perekonomian, dan latar belakang tempat tinggal.
Kesan pertama yang kurang baik, terutama bagi remaja dengan latar belakang
trauma