Ternopil Volodymyr Hnatiuk National Pedagogical University
Institutional Repository of Ternopil National Pedagogical University V.HnatiukNot a member yet
2694 research outputs found
Sort by
Pendekatan Pembiasaan Berdisiplin dalam Menutup Aurat bagi Siswi di SMA PGRI 4 Banjarmasin
Kehidupan para remaja kita saat ini sering dihadapkan pada berbagai per
masalahan yang sangat komplek yang tentunya sangat membutuhkan perhatian
salah satunya dalam berpakaian sesuai anjuran Islam yang sering kali terabaikan.
pakaian yang bisa menutup aurat terutama bagi para remaja perempuan. Salah sa
tu caranya yaitu dengan memberikan pendekatan pembiasaan agar disiplin me
nutup aurat, dikarenakan cara dan tren berpakaian yang terus berkembang seiring
berkembangnya zaman.
Tujuan Penelitan Ini untuk mengetahui kebiasaan menutup aurat, pelaksa
naan pendekatan pembiasaan disiplin menutup aurat serta mengetahui kendala dan
solusi dalam pelaksanaan pendekatan pembiasaan disiplin menutup aurat siswi di
SMA PGRI 4 Banjarmasin.
Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research), dengan
menggunakan pendekatan kualitatif dalam bentuk deskriptif. Subjek Penelitian
adalah kepala sekolah, 3 (tiga) guru dan 5 (lima) siswi di SMA PGRI 4 Banjarma
sin sedangkan objek penelitian ini adalah pendekatan pembiasaan dalam
berdisiplin dalam menutup aurat pada siswi di SMA PGRI 4 Banjarmasin. Ada
pun teknik pengumpulan data penelitian berupa wawancara, observasi dan doku
mentasi dengan teknik pengolahan data berupa editing, klarifikasi dan interpretasi.
Teknik analisis data yang digunakan berupa reduksi data, penyajian data dan veri
fikasi atau penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kebiasaan menutup aurat
siswi dipengaruhi oleh keluarga, lingkungan dan teman sejawat. Dengan adanya
pendekatan pembiasaan disiplin menutup aurat di sekolah berupa aturan berpaka
ian, melaksanakan kegiatan islami dan pengawasan dari para guru serta pengada
kan kegiatan razia, hukuman, nasehat dan keteladan oleh guru, peserta didik mulai
terbiasa dan disiplin menutup aurat
Konsep Ulama Perspektif Al-Qur’an: Studi Komparatif Penafsiran Fakhruddin al-Razi dan Yunan Yusuf
Istilah ulama bukanlah sesuatu yang asing bagi umat Islam, mengingat
peran penting yang mereka miliki dalam membimbing kehidupan beragama dan
sosial. Namun, pemahaman mengenai siapa yang dapat disebut sebagai ulama,
sering kali diartikan secara sempit oleh masyarakat. Padahal, jika merujuk pada Al�Qur’an maka akan ditemui bahwa ulama memiliki makna yang jauh lebih luas.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep ulama dalam Al-Qur’an dengan
fokus pada penafsiran dua mufasir, yaitu Fakhruddin al-Razi dan Yunan Yusuf,
melalui pendekatan komparatif terhadap Q.S. Al-Syu’arâ`/26:197 dan Q.S.
Fâthir/35:27-29. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan (library
research) dengan teknik deskriptif komparatif untuk membandingkan penafsiran
kedua tokoh. Data primer diperoleh dari kitab Tafsir Mafâtih al-Ghaib karya
Fakhruddin al-Razi serta Tafsir Al-Qur’an Juz XIX dan Juz XXII karya Yunan
Yusuf. Teknik analisis data melibatkan identifikasi, deskripsi, dan perbandingan
penafsiran kedua tokoh terhadap ayat-ayat yang membahas konsep ulama.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik Fakhruddin al-Razi maupun
Yunan Yusuf sepakat bahwa ulama adalah individu yang memiliki pengetahuan
mendalam yang mengantarkan pada rasa takut (khasyyah) kepada Allah. Keduanya
sepakat bahwa ulama adalah figur yang memiliki integritas ilmu, amal, dan
ketakwaan yang harmonis kepada Allah Swt. Yunan Yusuf menafsirkan ulama
sebagai individu yang tidak hanya ahli dalam ilmu agama, tetapi juga dalam ilmu
umum seperti sains dan kedokteran, selama ilmu tersebut mendekatkan seseorang
kepada Allah. Sementara itu, Fakhruddin al-Razi memaknai ulama sebagai mereka
yang mendalami ilmu agama dan memahami kebesaran Allah sehingga melahirkan
ketakwaan. Perbedaan mendasar terletak pada pendekatan yang digunakan. Yunan
Yusuf menggunakan metode tahlili dengan pendekatan al-adabî al-ijtimâ’î,
sementara Fakhruddin al-Razi menggunakan metode tahlîlî dengan pendekatan
lughawî (kebahasaan
Kesadaran Hukum Produsen Tape Singkong dan Tape Ketan terhadap Sertifikasi Halal di Desa Pematang Panjang Kecamatan Gambut
Penelitian ini dilatarbelakangi bahwa Indonesia sekarang ini mengalami
kemajuan pesat di sektor ekonomi, khususnya dalam UMKM. Produk UMKM,
terutama makanan, wajib bersertifikasi halal sesuai dengan Undang-Undang No.
33 Tahun 2014. Namun, di Desa Pematang Panjang, Kecamatan Gambut, hanya
dua produsen dari dua puluh produsen tape yang telah bersertifikat halal.
Penelitian ini bertujuan untuk menilai kesadaran hukum produsen tape terhadap
kewajiban sertifikasi halal dan faktor yang memengaruhinya, dengan harapan
dapat meningkatkan kepatuhan pelaku UMKM menjelang penerapan kewajiban
sertifikasi halal.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian hukum empiris, jenis
penelitian yang mengkaji dan menganalisis tentang perilaku hukum individu atau
masyarakat dalam kaitannya dengan hukum dan sumber data yang digunakannya
berasal dari data primer, yang diperoleh langsung dari dalam masyarakat. Adapun
pendekatan penelitian ini ialah pendekatan kualitatif. Pengumpulan data
menggunakan metode wawancara dengan informan. Teknik pengumpulan data
pada penelitian ini menggunakan teknik wawancara dan dokumentasi. Metode
analisis data yang digunakan dalam mengolah hasil wawancara dengan informan
ialah metode kualitatif.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa produsen tape di desa
Pematang Panjang ialah berdasarkan wawancara dengan 10 produsen, ditemukan
bahwa kesadaran hukum produsen tape singkong dan tape ketan terhadap
sertifikasi halal di Desa Pematang Panjang Kecamatan Gambut tergolong masih
rendah. Sebagian besar produsen mengetahui adanya kebijakan sertifikasi halal,
namun memiliki pemahaman dan sikap yang bervariasi, mulai dari yang
menganggap penting hingga yang tidak penting karena dianggap tidak
berpengaruh pada penjualan. Adapun faktor yang memengaruhi kesadaran hukum
ini meliputi tingkat pendidikan, pengakuan terhadap hukum, penghargaan
terhadap peraturan, dan kepatuhan masyarakat yang juga berpengaruh terhadap
faktor perilaku dari produsen itu sendiri. Dengan itu diharapkan peran aktif dari
pihak terkait dalam memberikan edukasi dan sosialisasi terkait pentingnya
sertifikasi halal untuk meningkatkan kesadaran dan kepatuhan produsen dalam
mematuhi regulasi yang ada
Driver Gojek dan Pesanan Fiktif di Banjarmasin: Kajian atas Perlindungan Hukum dari Negara dan Perusahaan
Peluang bekerja sebagai mitra perusahaan penyedia jasa online di bidang
transportasi dan pemesanan makanan ternyata juga mengandung risiko pesanan
fiktif. Orderan fiktif adalah pesanan palsu yang dibuat oleh pihak yang tidak
bertanggung jawab, menyebabkan driver tidak dapat menemukan pemesan untuk
menyerahkan pesanan dan menerima pembayaran. Motifnya bisa iseng atau
persaingan. Banyak driver Gojek di Banjarmasin, misalnya, yang pernah
mengalami pesanan fiktif. Peneliti tertarik untuk mengetahui apakah ada
perlindungan hukum bagi mereka, dan siapa yang menyediakannya: negara atau
perusahaan?
Penelitian ini bertujuan mempelajari bentuk-bentuk perlindungan hukum
yang ada bagi driver Gojek yang mengalami pesanan fiktif. Peneliti menggunakan
metode penelitian hukum empiris, dengan turun ke lapangan untuk mewawancarai
beberapa driver Gojek di Banjarmasin, pihak perusahaan, dan pihak kepolisian.
Hasil wawancara disusun secara sistematis dengan pendekatan deskriptif kualitatif.
Data dianalisis dengan perspektif perlindungan hukum non formal.
Penelitian ini menghasilkan dua temuan utama. Pertama, negara melindungi
driver Gojek dari pesanan fiktif melalui Kepolisian RI. Polisi menyelesaikan
masalah dengan perjanjian damai, di mana pemesan membayar dan berjanji tidak
mengulangi perbuatannya, tanpa proses hukum formal. Driver pun mendapatkan
uangnya kembali. Kedua, jika driver tidak dapat membawa pelaku pesanan fiktif
ke polisi, mereka dapat melapor ke perusahaan secara online. Jika terbukti fiktif,
perusahaan akan mengembalikan dana dan driver berhak menikmati pesanan
makanan yang tidak bertuan. Kedua perlindungan ini bersifat tidak tertulis, namun
efektif dan bermanfaat. Hal ini menunjukkan bahwa dampak perlindungan hukum
lebih penting daripada status tertulisnya dalam melindungi masyaraka
Analisis Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Produk Asuransi Syariah dalam Meningkatkan Keunggulan Kompetititf (Studi pada PT. Asuransi Jiwa Syariah Al Amin Banjarmasin)
Perusahaan Asuransi Jiwa Syariah Al Amin berfokus pada mengembangkan
pelayanan dan produk-produk yang inovatif agar nasabah dan calon nasabah terus
bertahan menggunakan jasa atau tetap memutuskan menggunakan jasa asuransi
tersebut. Pengembangan pelayanan dalam hal ini dapat dilakukan melalui
pengembangan-pengembangan SDM yang ada dalam asuransi syariah. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana strategi pengembangan Sumber
Daya Manusia (SDM) dan pengembangan produk asuransi jiwa syariah dalam
meningkatkan keunggulan produk pada PT. Asuransi Jiwa Syariah Al Amin
Banjarmasin.
Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Pengambilan data primer pada
penelitian dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi,
dengan pihak manajemen perusahaan, agen asuransi. data diperoleh dan
dikumpulkan langsung dari informasi pimpinan cabang dan karyawan di PT
Asuransi Jiwa Syariah Al Amin Banjarmasin.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis, hasil penelitian ini adalah:
Pertama Strategi yang dilakukan dalam pengembangan kompetensi Sumber Daya
Manusia mengenai produk inti perusahaan dalam hal ini karyawan diberikan
wawasan atau pengetahuan lebih mendalam mengenai produk inti yang dimiliki
perusahaan, baik dari mulai dari produk mapun akad terkait produk tersebut.
Pendekatan hubungan dengan karyawan dan relasi. Pengembanggan produk yang
dimiliki yaitu dengan cara modifikasi produk serta inovasi produk yang
dikembangkan dari produk yang telah dimiliki perusahaan melalui riset dan
pengembangan yang dilakukan oleh perusahaan sendiri
Pelaksanaan Pembelajaran Kooperatif Learning Metode Talking Stick Pada Pembelajaran Fiqih Materi Makanan Halal dan Haram Pada Siswa Putri SMP Islam Terpadu Ukhuwah Banjarmasin.
Penting untuk menerapkan pembelajaran aktif terlebih dalam pembelajaran
fiqih dimana guru dan siswa dapat mengekspresikan jiwa kreatif selama proses
pembelajaran, sehingga terjadi keaktifan dalam materi pembelajaran. Pembelajaran
dengan metode talking stick dapat mendorong siswa untuk berani mengemukakan
pendapatnya, metode ini berfokus pada penciptaan kondisi dan suasana belajar aktif
dari siswa. Penggunaan metode tersebut dilakukan secara bertahap dengan
memperhatikan tahapan langkah-langkahnya sehingga memungkinkan kesesuaian
dari proses penerapan metode.
Penelitian ini adalah penelitian yang terjun ke lapangan dengan
menggunakan pendekatan kualitatif, Uraian data disampaikan dalam bentuk kata�kata, dimana berperan sebagai instrumen utama dalam pengumpulan informasi.
Subjek penelitian ini adalah kelas VIII Putri SMP Islam Terpadu Ukhuwah
Banjarmasin yang terdiri dari kelas VIII C Putri dan siswa kelas VIII B Putri,
sedangkan objek penelitian ini adalah penerapan tahapan langkah-langkah dari
metode talking stick dalam proses pembelajaran fiqih.
Teknik pengumpulan data yang digunakan terdiri dari observasi,
wawancara dan dokumentasi. Penelitian ini diambil dari lembar observasi
pengamat dalam pelaksanaan pembelajaran yakni observasi tahapan langkah�langkah metode talking stick dan keaktifan siswa kelas VIII Putri.
Berdasarkan hasil data yang diperoleh bahwa: 1) Capaian hasil proses
kesesuaian tahapan langkah-langkah metode talking stick dengan materi Makanan
Halal dan Haram pada pembelajaran sebelumnya sudah mencapai kategori baik
yakni B Dan pada pembelajaran dengan materi yang sama, Kemudian dilakukan
kembali penelitian selanjutnya mengalami peningkatan menjadi kategori sangat
baik yakni A. 2) Keaktifan siswa kelas VIII Putri SMP Islam Terpadu Ukhuwah
Banjarmasin selama proses pembelajaran fiqih dengan menggunakan metode
talking stick materi Makanan Halal dan Haram pada pembelajaran sebelumnya
mencapai kategori baik dan untuk pembelajaran selanjutnya mengalami
peningkatan menjadi kategori sangat bai
Penentuan Jujuran Dalam Pernikahan Berdasarkan Tingkat Pendidikan Perempuan ( Studi Kasus Di Kecamatan Banjarmasin Tengah )
Penelitian ini dilatarbelakangi dengan adanya stratifikasi penentuan uang
jujuran dalam pernikahan masyarakat Banjar di Kecamatan Banjarmasin Tengah
dengan menentukan uang jujuran berdasarkan tingkat pendidikan perempuan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana praktik penentuan jujuran
berdasarkan tingkat pendidikan perempuan (Studi Kasus Di Kecamatan Banjarmasin
Tengah).
Jenis penelitian ini adalah penelitian hukum empiris dengan pendekatan
sosiologi hukum. Dengan subjek penelitiannya adalah para pihak yang langsung
bersangkutan dalam praktik tersebut. Pengumpulan data melalui wawancara dan
dokumen baik berupa sumber tertulis, gambar (foto), dan karya-karya ilmiah, yang
semuanya itu memberikan informasi tambahan atau sebagai pelengkap bagi proses
penelitian yang sedang dilakukan. Data dianalisis dengan teknik deskriptif kualitatif.
Hasil penelitian ini didapat bahwa uang jujuran merupakan tradisi, akan
tetapi dalam penentuannya berdasarkan tingkat pendidikan perempuan. Sehingga
dengan pendidikan perempuan yang tinggi tentunya akan mendapat uang jujuran
yang lebih tinggi juga. Uang jujuran digunakan untuk resepsi pernikahan dan
sebagian untuk keperluan setelah menikah. Hukum Islam memandang bahwa uang
jujuran merupakan sesuatu yang diperbolehkan dengan kerelaan kedua belah pihak.
Hukum Adat menganggap bahwa uang jujuran merupakan suatu tradisi dan bisa
disebut sebagai ’urf. Penentuan uang jujuran bisa disebut sebagai ’urf shahih dengan
berdasarkan kerelaan dan kebaikan untuk semua pihak. Namun jika bertentangan
atau karena memberatkan salah satu pihak dalam penentuan uang jujuran, maka uang
jujuran tersebut termasuk ’urf fasi
Istri Yang Menikah Lagi Sebelum Putusnya Perceraian Dengan Suami Pertama ( Studi Kasus Di Desa Anjir Seberang Pasar II, Kecamatan Anjir Pasar, Kabupaten Barito Kuala)
Istri yang menikah lagi sebelum putusnya perceraian dengan suami pertama
ini menjadi suatu permasalahan penting dan sangat menarik perhatian. Karena tidak
sesuai dengan Undang-Undang perkawinan dan Hukum Islam. Namun masih ada
masyarakat yang melakukan hal tersebut salah satunya terjadi di masyarakat Desa
Anjir Seberang Pasar II Kecamatan Anjir Pasar Kabupaten Barito Kuala. Dalam
hal ini peneliti ingin melihat bagaimana istri yang menikah lagi sebelum putusnya
perceraian denga suami pertama di Desa Anjir Seberang Pasar II serta bagaimana
reaksi tokoh agama dan tokoh masyarakat terhadap istri yang menikah lagi sebelum
putusnya perceraian dengan suami pertama tersebut.
Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian hukum empiris, bersifat
deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini yaitu istri, suami pertama,
suami kedua. Penelitian ini dilakukan dengan cara peneliti langsung menemui
subjek penelitian untuk mengumpulkan data yang diperlukan, dalam penelitian ini
peneliti menggunakan teknik wawancara, dan setelah data terkumpul, kemudian
data diolah dengan teknik editing, deskripsi, matriks, dan dianalisis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pernikahan dengan suami kedua
dilakukan tanpa adanya perceraian atau talak dari suami pertama dan
pernikahannya dilakukan secara sirri atau menikah di bawah tangan. Maka
pernikahan kedua ini tidak sah dari segi hukum positif karena melangar Undang�Undang Perkawinan yang menganut asas monogami dan diharamkan dari segi
hukum Islam sebagaimana yang tercantum di dalam Al-Quran surat An-Nisa ayat
24 dan hadist Nabi tentang diharamkannya poliandri. Reaksi tokoh agama dan
tokoh masyarakat terhadap istri yang menikah lagi sebelum putusnya perceraian
dengan suami pertama ini sangat kecewa dan menyayangkan hal tersebut terjadi
dan sepakat mengatakan pernikahan dengan suami kedua tidak sah dan fasi
Pengembangan Rumah Tahfidz di Kota Banjarmasin Melalui Pendekatan Sinergisitas (Studi Multisitus pada Rumah Tahfidz Qaryah Thayyibah, Al-Haramain, dan Ummul Qura)
Konsep Rumah Tahfidz terbilang lebih fleksibel dari pesantren tahfidz,
rumah tahfidz tidak memerlukan asrama sebagaimana pesantren untuk karantina
menghafal al-Qur’an. Menjamurnya perkembangan rumah tahfidz menjadi bukti
perhatian orang tua untuk menyekolahkan anak ke rumah tahfidz di Kota
Banjarmasin semakin meningkat.
Penelitian ini berupaya untuk mengeksplorasi pengembangan rumah
tahfidz di Kota Banjarmasin melalui pendekatan sinergisitas dengan masyarakat,
donatur, pengelola internal dan Pengelola lembaga tahfidz lainnya. adapun jenis
penelitian ini adalah studi lapangan (Field Study) dengan sudut pandang kualitatif.
Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan triangulasi yaitu observasi,
wawancara dan dokumentasi. Lokasi penelitian yaitu Rumah Tahfidz Qaryah
Thayyibah, Al-Haramain dan Ummul Qura Banjarmasin.
Hasil penelitian menunjukkan pengembangan rumah tahfidz di Kota
Banjarmasin melalui pendekatan sinergisitas dengan masyarakat yaitu pada rumah
tahfidz Qaryah Thayyibah dan Al-Haramain mendapat dukungan penuh dari
masyarakat sedangkan Ummul Qura Banjarmasin membangun sinergisitas dengan
menjadikan tokoh masyarakat sebagai bagian dari kepengurusan Yayasan Tahfidz
Ummul Qura Banjarmasin. Sinergisitas dengan donatur yang dilakukan Qaryah
Thayyibah yaitu dengan pembina Yayasan yang memiliki berbagai macam usaha,
salah satunya bisnis dibidang properti sehingga memiliki visi menjadikan one home
one hafidz dengan membuka setiap perumahan satu rumah tahfidz sedangkan
Rumah Tahfidz Al-Haramain Ketua Yayasan Al-Haramain bersinergi dengan pihak
luar negeri selanjutnya Tahfidz Ummul Qura Banjarmasin menjadikan donatur
sebagai bagian dari Kepengurusan Yayasan. Sinergisitas dengan pengelola internal
rumah tahfidz Qaryah Thayyibah, Al-Haramain dan Ummul Qura Banjarmasin
rutin melakukan rapat pertemuan pada setiap bulannya. Dan sinergisitas dengan
pengelola tahfidz lainnya yang dilakukan rumah tahfidz Qaryah Thayyibah dan
Ummul Qura Banjarmasin tergabung dalam forum yaitu BKPAKSI sedangkan Al�Haramain pada ustadz menjadi trainer metode Ummi Banjarmasin
الأخطاء الشائعة في نطق الأصوات العربية لدى طلبة المدرسة الثانوية الاسلامية الحكومية الأولى تابين = Kesalahan Umum dalam Pelafalan Huruf-Huruf Arab pada Peserta Didik Madrasah Aliyah Negeri 1 Tapin
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya penguasaan pelafalan yang
benar dalam bahasa Arab, karena pelafalan yang tepat merupakan dasar utama
dalam memahami teks dan berkomunikasi secara efektif dalam bahasa tersebut. Di
MAN 1 Tapin, ditemukan berbagai kesalahan pelafalan huruf-huruf Arab yang
cukup signifikan. Kesalahan pelafalan ini sering kali disebabkan oleh
percampuran suara antara huruf-huruf yang mirip, yang menjadi tantangan
tersendiri bagi siswa dalam membedakan suara-suara tersebut dengan benar.
Dialek lokal yang digunakan sehari-hari oleh siswa sering kali mempengaruhi
cara mereka melafalkan huruf Arab, yang menyebabkan kesalahan dalam
pengucapan yang berimbas pada pemahaman makna. Tujuan penelitian ini adalah
untuk menganalisis kesalahan umum dalam pelafalan huruf Arab, faktor-faktor
yang mempengaruhi kesalahan pelafalan, serta upaya guru dalam memperbaiki
kesalahan tersebut pada siswa.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus,
di mana sumber data utama adalah siswa MAN 1 Tapin. Sumber data penelitian
meliputi guru bahasa Arab dan siswa di dalam kelas. Teknik pengumpulan data
dilakukan melalui wawancara dan observasi langsung dalam kegiatan belajar
mengajar di kelas. Teknik analisis data diawali dengan reduksi data, penyajian
data, lalu penarikan kesimpulan.
أ
" ,"
Hasil studi menunjukkan bahwa: 1) Kesalahan umum dalam pengucapan
huruf adalah penggantian suara yang mirip dalam pengucapan, seperti " ع"
menjadi "
ق
" menjadi "ن", dan "ص" menjadi "ط", yang memerlukan
pemahaman akan karakteristik setiap huruf untuk memperbaikinya; 2) Faktor
yang mempengaruhi kesalahan dalam pengucapan disebabkan olehkebingungan
antara makhraj huruf yang serupa, pemahaman fonetik yang lemah, efek dialek
lokal, kurangnya pelatihan praktis, kesalahan yang dihasilkan dari makhraj huruf
yang berbeda; 3) Guru berupaya dengan berbagai cara pendidikan untuk
meningkatkan pengucapan siswa melalui metode fonologis, pelatihan intensif, dan
penggunaan teknolog