Ternopil Volodymyr Hnatiuk National Pedagogical University
Institutional Repository of Ternopil National Pedagogical University V.HnatiukNot a member yet
2694 research outputs found
Sort by
Keterlibatan Remaja Dalam Kepengurusan Jenazah di Desa Sungai Kali, Kecamatan Barambai, Kabupaten Barito Kuala
Penelitian ini membahas tentang keterlibatan remaja dalam kepengurusan
jenazah di Desa Sungai Kali, Kecamatan Barambai, Kabupaten Barito Kuala.
Kepengurusan jenazah merupakan kewajiban sosial dan keagamaan yang bersifat
fardhu kifayah, namun dalam praktiknya lebih banyak dilaksanakan oleh kalangan
tua, sementara keterlibatan remaja masih sangat terbatas.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keterlibatan tersebut serta
mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat keterlibatan remaja dalam
kepengurusan jenazah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan
jenis penelitian lapangan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi,
wawancara, dan dokumentasi terhadap tokoh masyarakat, tokoh agama, serta
kalangan remaja di Desa Sungai Kali. Data yang diperoleh dianalisis secara
deskriptif kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya partisipasi remaja dalam
kepengurusan jenazah disebabkan oleh beberapa faktor penghambat, seperti faktor
psikologis berupa rasa takut dan trauma, kurangnya literasi keagamaan dan
keterampilan praktis, dominasi penggunaan gadget, serta minimnya kepercayaan
dari kalangan tua. Adapun faktor pendukungnya meliputi latar belakang pendidikan
keagamaan remaja, keteladanan tokoh masyarakat, dan adanya pembinaan
keagamaan di lingkungan masyarakat. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan
pemahaman dan menjadi bahan pertimbangan bagi masyarakat dalam
meningkatkan peran serta remaja dalam kepengurusan jenaza
Efektivitas Perda Nomor 6 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Ketenteraman dan Ketertiban Umum Serta Perlindungan Masyarakat di Desa Uren Kecamatan Halong
Penelitian ini membahas efektivitas penerapan Peraturan Daerah Kabupaten
Balangan No 6 Tahun 2022 Tentang Penyelenggaraan Ketenteraman Dan
Ketertiban Umum Serta Perlindungan Masyarakat di Desa Uren, Kecamatan
Halong Kabupaten Balangan. Peraturan ini disusun sebagai instrumen hukum
untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang aman, tertib, dan terlindungi,
dengan menekankan sinergi antara pemerintah daerah, aparat desa, serta
partisipasi aktif masyarakat. Namun, implementasinya di tingkat desa
menghadapi berbagai kendala baik struktural maupun kultural yang menyebabkan
tujuan perda belum sepenuhnya tercapai.
Penelitian ini menggunakan pendekatan hukum empiris dengan metode
kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara dengan
perangkat desa, tokoh masyarakat, serta aparat penegak hukum setempat. Analisis
dilakukan berdasarkan teori efektivitas hukum Soerjono Soekanto yang
mencakup lima faktor utama: hukum itu sendiri, aparat penegak hukum, sarana
pendukung, masyarakat, dan kebudayaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksaan Perda No 6 Tahun 2022 di
Desa Uren belum berjalan efektif. Secara normatif, perda telah memberikan
pedoman yang jelas mengenai tanggung jawab bersama antara pemerintah daerah
dan masyarakat. Namun, secara praktis pelaksanaannya masih terbatas oleh
rendahnya kesadaran hukum masyarakat minimnya kegiatan sosialisasi, lemahnya
partisipasi warga dalam sistem keamanan lingkungan (siskamling), serta
terbatasnya sarana pendukung seperti pos keamanan. Banyak warga lebih
mengutamakan penyelesaian masalah melalui hukum adat dan musyawarah,
sedangkan keterlibatan aparat resmi hanya terjadi ketika persoalan tidak dapat
diselesaikan secara kekeluargaan.
Selain itu, koordinasi antarinstansi juga belum terintegrasi dengan baik.
Hubungan antara pemerintah desa, kepolisian, dan Satpol PP masih bersifat
parsial tanpa adanya sinergi kebijakan yang jelas. Faktor geografis dan
keterbatasan akses transportasi ke Desa Uren memperburuk efektivitas
pengawasan dan pembinaan masyarakat. Akibatnya, fenomena seperti pencurian,
perkelahian antar warga, dan penyalahgunaan narkoba masih sering terjadi
Nilai-nilai Pendidikan Islam pada Simbol Motif Kain Sasirangan (Kangkung Kaombakan dan Ombak Sinapur Karang)
Kain Sasirangan Adalah bukti warisan nenek moyang Masyarakat Banjar
yang memiliki nilai Sejarah dan filosofi mendalam. Pada awal pembuatan kain ini
tidak sekedar berfungsi sebagai penutup tubuh, melaikan digunakan didalam
berbagai upacara adat dan pengobatan tradisional. Setiap motif sasirangan lahir dari
kearifan lokal yang diturunkan secara turun-temurun sekaligus merepresentasikan
pandangan hidup Masyarakat Banjar. Hal ini pun selaras dengan Q.S Al-A’raf (26)
yang berarti : Wahai anak cucu Adam, Sesungguhnya kami telah menyediakan
pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian
takwa, itulah yang lebih baik. Demikian Sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah,
mudah-mudahan mereka ingat.
Penelitian dilakukan dengan tujuan menggali Nilai-Nilai Pendidikan Islam
yang terdapat pada Sejarah dan makna pada motif kain sasirangan yang terkhusus
pada 2 motif kain sasirangan yaitu kangkong kaombakan dan ombak sinapur
karang. Penelitipun ingin mengetahui nilai-nilai Pendidikan islam yang
berkesinambungan dengan nilai-nilai makna motif kain sasirangan pada kangkong
kaombakan dan ombak sinapur karang.
Jenis Penelitian yang digunakan ialah Kualitatif dengan pendekatan field
research dan Etnografi. Dimana peneliti menggunakan Teknik pengumpulan data
dengan mengamati peristiwa yang terjadi dilapangan, wawancara dengan
narasumber, dan dokumen yang berkaitan yang kemudian data disajikan dalam
bentuk narasi deskriptif.
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa dalam Makna motif kain sasirangan
kangkung kaombakan dan ombak sinapur karang terdapat nilai-nilai pendidikan
Islam, hal ini terlihat dari simbolik makna dari kedua motif tersebut yang
mengandung nilai ketenangan, ketahanan mental, serta sikap tidak mudah
menyerah ketika menghadapi tekanan dan kesulitan. Adapun kedua motif ini
memiliki perbedaan dalam konsep penekanan nilai sabar
Implementasi Metode Diskusi Kelompok pada Mata Pelajaran Fiqih di MAN Tanah Laut”
Penelitian Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya penerapan metode
pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Fiqih yang
memerlukan pemahaman mendalam terhadap dalil-dalil syara'. Metode diskusi
kelompok merupakan pendekatan yang menekankan kerja sama antarsiswa dalam
kelompok kecil untuk mencapai tujuan pembelajaran bersama.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi metode
diskusi kelompok pada mata pelajaran Fiqih kelas XII di MAN Tanah Laut serta
mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian
lapangan. Subjek penelitian adalah guru Fiqih kelas XII, sedangkan kepala
madrasah dan tenaga kependidikan menjadi informan pendukung. Data
dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi metode diskusi
kelompok dilaksanakan secara sistematis melalui lima tahapan: pembukaan dan
pemaparan materi, pembagian kelompok dengan teknik berhitung (6-7 orang),
diskusi kelompok dengan guru sebagai fasilitator, presentasi hasil dan tanya jawab,
serta kesimpulan yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Faktor-faktor yang
mempengaruhi meliputi: kompetensi guru, perbedaan latar belakang pendidikan
siswa (lulusan pondok lebih unggul dalam memahami dalil), lingkungan sosial
psikologis yang harmonis, dan ketersediaan sarana prasarana yang memadai. Faktor
penghambat mencakup keterbatasan waktu dan perbedaan kemampuan literasi
dalil. Metode ini terbukti efektif meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi
Fiqih sambil mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan sikap menghargai
perbedaan
Upaya Guru Bimbingan dan Konseling dalam Menangani Perilaku Merokok Siswa di SMAN 1 Banjarmasin
Perilaku merokok di kalangan remaja merupakan masalah serius dalam
dunia pendidikan yang dapat berdampak pada kesehatan fisik, psikologis, dan
prestasi akademik siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor
penyebab siswa mengalami kecanduan rokok serta mendeskripsikan upaya Guru
Bimbingan dan Konseling (BK) dalam menangani siswa yang kecanduan rokok di
SMA Negeri 1 Banjarmasin.
Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan
pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui
observasi, wawancara, dan dokumentasi, dengan subjek penelitian meliputi Guru
BK dan 5 orang siswa yang teridentifikasi kecanduan rokok. Analisis data
dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab siswa mengalami kecanduan rokok
dipengaruhi oleh dua faktor utama. Pertama, faktor internal yang meliputi rasa ingin
tahu yang tinggi, rendahnya kontrol diri, serta stres akademik dan masalah pribadi.
Kedua, faktor eksternal yang meliputi pengaruh kuat teman sebaya, lingkungan
keluarga yang permisif, serta kemudahan akses terhadap rokok.
Upaya Guru BK dalam menangani masalah ini dilakukan melalui tiga
pendekatan utama. Upaya preventif, yakni memberikan layanan informasi,
psikoedukasi bahaya rokok, serta kolaborasi seminar dengan pihak Puskesmas dan
Kepolisian. Upaya kuratif, yaitu melaksanaan konseling individual dan kelompok
untuk membangun motivasi berhenti merokok, serta kerjasama dengan orang tua
dan wali kelas. Upaya developmental, yaitu pembinaan karakter dan penguatan life
skills agar siswa mampu mengambil keputusan yang sehat. Dengan demikian,
penanganan kecanduan rokok memerlukan pendekatan yang komprehensif dan
sinergi antara sekolah dan orang tua
Analisis Semiotika Roman Jakobson Terhadap Iklan Sirup Marjan Tahun 2018-2025 Spesial Ramadan di Media Sosial YouTube
Penelitian ini berfokus pada iklan sirup Marjan yang menjadi salah satu
topik penting dalam kajian komunikasi dan pemasaran. Bulan Ramadan merupakan
momen religius yang memiliki makna spiritual dan sosial penting bagi umat Islam,
sekaligus menjadi ruang strategis bagi industri periklanan dalam menyampaikan
pesan komersial melalui simbol-simbol keagamaan. Banyak iklan memanfaatkan
nilai kebersamaan, religiusitas, dan tradisi Ramadan untuk membangun kedekatan
emosional dengan audiens. Salah satu merek yang secara konsisten mengaitkan
produknya dengan bulan Ramadan adalah sirup Marjan, yang iklan-iklannya kerap
menampilkan narasi religius, simbol budaya, dan visual sinematik sehingga
membentuk persepsi bahwa produk tersebut merupakan bagian dari tradisi berbuka
puasa masyarakat Indonesia.Penulis pada penelitian ini menggunakan teori
semiotika Roman Jakobson untuk menganalisis iklan Sirup Marjan tahun 2018
2025 spesial Ramadan di media sosial YouTube.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik iklan sirup
Marjan spesial Ramadan tahun 2018–2025 di YouTube, serta menganalisis
bagaimana makna tanda dan pesan moral dikonstruksi menggunakan teori
semiotika Roman Jakobson. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan
jenis penelitian kepustakaan (library research), yang berfokus pada tanda verbal,
visual, dan narasi dalam iklan sirup Marjan sebagai sumber utama kajian.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, enam fungsi bahasa Jakobson
muncul dalam iklan, yaitu pertama, fungsi referensial untuk menegaskan latar
cerita, kedua, fungsi emotif untuk membangun ikatan emosi penonton, ketiga fungsi
konatif melalui ajakan yang halus, keempat, fungsi fatis untuk menjaga perhatian,
kelima, fungsi puitis melalui slogan yang mudah diingat, dan terakhir fungsi
metalingual lewat perpaduan bahasa nasional, daerah, dan Inggris sebagai penanda
identitas lokal dan keterbukaan global. Penelitian ini juga menemukan bahwa, iklan
sirup Marjan berhasil menyampaikan pesan moral seperti kesabaran, kebersamaan,
keberanian, memaafkan, dan kepedulian lingkungan, karena dikemas menyatu
dengan alur cerita yang menarik dan tidak memaksa. Dengan demikian, iklan sirup
Marjan tidak hanya menjual produk, tetapi juga memperkuat citra merek sebagai
bagian dari momen hangat berbuka puasa di bulan Ramada
Ritual Sembur Topur di Desa Binturung Kecamatan Pamukan Utara Kabupaten Kotabaru
Pengobatan alternatif berbasis mantra merupakan pelengkap medis untuk
mengatasi penyakit fisik dan non fisik. Mantra merupakan warisan budaya lisan
Nusantara yang dihubungkan dengan kekuatan magis dan sugesti. Di Desa
Binturung (Kabupaten Kotabaru), masyarakat suku Paser mempraktikkan sembur
topur pengobatan tradisional berbasis mantra yang dipraktikkan oleh tukang puli
untuk menyembuhkan penyakit yang sering tidak terdiagnosa medis, dengan
keyakinan penyebabnya berasal dari makhluk halus. Meskipun skeptis di kalangan
medis, sembur topur tetap menjadi bagian penting kearifan lokal yang diturunkan
secara turun-temurun.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara rinci tahapan dan
cara pelaksanaan ritual sembur topur yang dipraktikkan oleh masyarakat Desa
Binturung, Kecamatan Pamukan Utara, Kabupaten Kotabaru. Selain itu, penelitian
ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis fungsi-fungsi ritual
sembur topur bagi kehidupan masyarakat setempat.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif
dengan pendekatan etnografi. Pendekatan ini memungkinkan penulis untuk
memahami secara mendalam konteks sosial dan budaya di mana ritual sembur
topur dilaksanakan. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara
mendalam, dan dokumentasi ritual.
Hasil temuan penelitian ini menjelaskan bagaimana ritual sembur topur
dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Desa Binturung. Proses
pelaksanaan ritual ini melibatkan serangkaian tahapan yang dimulai dari persiapan
bahan, pembukaan (pra-ritual), hingga pelaksanaan ritual yang melibatkan do’a
harapan kepada Tuhan dan diakhiri dengan penutupan (pasca-ritual). Temuan
lainnya juga mencakup fungsi ritual yang tidak hanya sebatas aspek penyembuhan
fisik maupun non-fisik, tetapi juga sebagai sarana komunikasi dengan kekuatan
gaib, warisan budaya yang melestarikan identitas, pemicu solidaritas sosial
melalui partisipasi bersama, sebagai sarana pendidikan dan penyuluhan nilai-nilai
kesehatan, spiritual, dan pengetahuan tradisional kepada generasi muda, serta
menjaga warisan budaya yang telah ada sejak lama.
Melalui penelitian ini, diharapkan dapat memberikan pemahaman yang
lebih mendalam mengenai praktik pengobatan tradisional serta nilai-nilai budaya
yang terkandung dalam ritual sembur topur di Desa Binturung, Kecamatan
Pamukan Utara, Kabupaten Kotabar
Analisis Putusan Mahkamah Kontitusi Nomor 5/Phpu.Wako-Xxiii/2025 Tentang Sengketa Hasil Pemilihan Kepala Daerah Kota Banjarbaru Tahun 2024
Pemilihan kepala daerah merupakan instrumen utama perwujudan
kedaulatan rakyat dalam demokrasi konstitusional Indonesia. Namun, praktik
penyelenggaraannya tidak selalu selaras dengan prinsip keadilan elektoral dan
perlindungan hak konstitusional. Pilkada Banjarbaru 2024 menjadi contoh nyata:
diskualifikasi salah satu pasangan calon membuat pemilihan berlangsung dengan
calon tunggal, tetapi surat suara tetap memuat calon yang didiskualifikasi sehingga
suara untuk mereka dinyatakan tidak sah meskipun berjumlah besar. Ketiadaan
kolom kosong yang sah untuk dipilih menutup peluang kemenangan kotak kosong
dan akhirnya memicu sengketa hasil yang diperiksa Mahkamah Konstitusi melalui
Putusan Nomor 5/PHPU.WAKO-XXIII/2025.
Penelitian ini menganalisis putusan Mahkamah Konstitusi yang
membatalkan hasil Pilkada Banjarbaru 2024 dan menilai relevansinya bagi
demokrasi konstitusional. Metode yang digunakan adalah penelitian hukum
normatif melalui pendekatan perundang-undangan dan konseptual, dengan bahan
hukum primer berupa putusan Mahkamah Konstitusi dan regulasi terkait, serta
bahan hukum sekunder dari doktrin dan literatur akademik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembatalan hasil pilkada dilakukan
karena pelanggaran substantif dan sistemik, terutama terkait terlanggarnya hak pilih
akibat absennya kolom kosong dan tingginya suara tidak sah. Mahkamah menilai
kondisi tersebut sebagai extraordinary circumstance yang membenarkan
pengutamaan keadilan substantif, termasuk dalam aspek legal standing pemohon.
Putusan ini memperkuat demokrasi konstitusional dengan menegaskan peran
Mahkamah Konstitusi sebagai penjaga konstitusi sekaligus penjaga demokrasi yang
tidak hanya menilai prosedur, tetapi memastikan kedaulatan rakyat dan hak
konstitusional tetap terlindungi dalam proses elektoral dengan melaksankan
pemungutan suara ulang diseluruh wilayah Kota Banjarbar
Respon Masyarakat Barabai Terhadap Hak Suami atau Istri Menerima Kelebihan Sisa Harta Warisan
Kelahiran dan kematian merupakan dua fenomena yang tidak dapat
dipisahkan dalam kehidupan manusia. Setiap orang yang meninggal dunia
meninggalkan harta peninggalan (warisan) yang harus dibagikan kepada ahli waris
sesuai dengan hukum waris Islam. Hukum waris Islam mengatur hak dan kewajiban
ahli waris, termasuk mekanisme pembagian harta yang adil, baik secara normatif
dalam Al-Qur’an dan Hadis, maupun melalui ijtihad ulama untuk permasalahan
yang tidak diatur secara eksplisit, salah satunya adalah konsep radd.
Radd merupakan pembagian kelebihan sisa harta warisan kepada para ahli
waris ashab al-furud yang tidak adanya ashabah.
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti respon masyarakat Barabai,
Kabupaten Hulu Sungai Tengah, terkait hak suami atau istri dalam menerima
kelebihan sisa harta warisan (radd) menurut hukum waris Islam.
Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan empiris dengan metode
kualitatif, mengumpulkan data melalui wawancara mendalam dengan empat tokoh
masyarakat umum,
Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat mengakui hak suami atau
istri untuk menerima radd, namun terdapat perbedaan praktik dalam mekanisme
pengambilan keputusan. Sebagian berpendapat bahwa suami atau istri dapat
langsung menerima sisa harta, sementara sebagian lain menekankan pentingnya
musyawarah keluarga sebelum pembagian. Selain itu, ditemukan kendala berupa
perbedaan pemahaman hukum, minimnya dokumentasi tertulis, serta pengaruh
faktor sosial dan emosional dalam praktik radd. Penelitian ini merekomendasikan
perlunya edukasi hukum waris Islam, pencatatan pembagian warisan secara tertulis,
serta keterlibatan tokoh agama atau ahli fiqh untuk memastikan pembagian radd
berlangsung adil dan harmonis, sesuai ketentuan syariat dan nilai sosial masyarakat
Manajemen Program Muhadharah dalam Mengembangkan Kemampuan Dakwah Santri di Pesantren Tarbiyatul Islamiyah Alalak Tengah Kota Banjarmasin
Berbicara dan berdakwah merupakan keterampilan penting yang harus dimiliki
santri sebagai calon da’i. Di lingkungan pesantren, kegiatan muhadharah berfungsi
sebagai sarana pembinaan keberanian, keterampilan komunikasi, dan adab berdakwah.
Namun, pelaksanaan muhadharah di Pesantren Tarbiyatul Islamiyah Alalak Tengah Kota
Banjarmasin belum sepenuhnya berjalan optimal. Permasalahan yang ditemukan meliputi
belum tersusunnya perencanaan program secara tertulis, ketidakkonsistenan jadwal,
kesiapan materi santri yang rendah, serta lemahnya dokumentasi dan evaluasi
perkembangan kemampuan dakwah santri. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan
antara potensi strategis muhadharah sebagai media pembinaan dakwah dengan praktik
pengelolaannya di lapangan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
manajemen program muhadharah dalam mengembangkan kemampuan dakwah santri,
serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat pelaksanaannya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Subjek penelitian
meliputi wakil kepala kesiswaan, penanggung jawab muhadharah, ketua OSIS, dan ketua
bidang keagamaan OSIS Pesantren Tarbiyatul Islamiyah. Teknik pengumpulan data
dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh
dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi kondensasi data,
penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui teknik
triangulasi sumber dan teknik untuk memastikan validitas temuan penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa program muhadharah dilaksanakan secara
rutin dua minggu sekali setelah salat Zuhur di Masjid Tughfaturraghibin dan dikelola
dengan menerapkan fungsi manajemen POAC. Perencanaan dilakukan melalui
penyusunan jadwal dan penugasan santri oleh OSIS bidang keagamaan. Pengorganisasian
diwujudkan melalui pembagian peran antara pembina dan pengurus OSIS. Pelaksanaan
muhadharah menjadi sarana latihan komunikasi dan keberanian santri dalam berdakwah.
Pengawasan dilakukan melalui evaluasi lisan oleh pembina terkait intonasi, penguasaan
materi, serta adab dakwah. Faktor pendukung kegiatan ini adalah kerja sama antara
pembina dan pengurus OSIS, sedangkan faktor penghambat meliputi ketidakkonsistenan
jadwal dan kurangnya dokumentasi perkembangan santri. Secara keseluruhan, program
muhadharah berkontribusi positif terhadap pengembangan kemampuan dakwah santri
melalui latihan yang berkelanjutan