MEDIAPSI
Not a member yet
152 research outputs found
Sort by
Pengantar Editor-in-Chief Mediapsi Volume 6 Nomor 2 Tahun 2020
In this introduction, the editor-in-chief briefly described the topic of seven empirical articles that have been published in Mediapsi volume 6 number 2, 2020. Broadly speaking, the topics of the articles in this edition varied, from those of clinical psychology to educational psychology, and social psychology. The first article examined the role body dissatisfaction had in explaining subjective well-being, especially among women in emerging adulthood. The topic of the second article pertained to various aspects of the classroom atmosphere and their impacts on elementary school students’ subjective well-being. Shifting the topic from elementary school students to high school students, the third article was a correlational study examining how much peer conformity and emotional intelligence predicted career adaptability. The fourth article was an experimental study, which investigated the effect of a socialisation program on the propensity of healthy behaviours among caregivers of cancer patients, followed by the fifth article zooming on in the relationship between critical thinking and religious tolerance among high school students. The sixth article was about how regional students construed the meanings of home, which was analysed qualitatively. The last, seventh article examined the levels of outgroup prejudice based on two factors, that is, intergroup contact and demographic variables (i.e., gender, age, education).Dalam pengantar ini, editor-in-chief memberikan gambaran ringkas atau kesimpulan mengenai topik tujuh artikel empiris yang telah dimuat di Mediapsi volume 6 nomor 2 tahun 2020. Secara garis besar, topik artikel dalam edisi tersebut cukup bervariasi, mulai dari psikologi klinis, psikologi pendidikan, sampai dengan psikologi sosial. Artikel pertama meneliti topik tentang peran body dissatisfaction terhadap subjective well-being, khususnya pada perempuan yang memasuki masa emerging adulthood. Topik kedua menelaah sejauh mana ragam aspek suasana kelas menjadi prediktor subjective well-being pada anak-anak sekolah dasar. Bergeser dari anak sekolah dasar ke remaja sekolah menengah atas, artikel ketiga merupakan studi korelasional untuk menguji peran konformitas dengan teman sebaya dan kecerdasan emosi dalam menjelaskan adaptabilitas karier. Artikel keempat adalah studi eksperimen, yang menginvestigasi pengaruh penyuluhan untuk meningkatkan kecenderungan perilaku sehat caregiver pasien kanker, diikuti dengan artikel kelima tentang hubungan antara berpikir kritis dan toleransi beragama di kalangan siswa sekolah menengah atas. Artikel keenam tentang pemaknaan rumah pada mahasiswa rantau yang menganalisis topik ini secara kualitatif. Artikel ketujuh sekaligus terakhir meneliti tinggi rendahnya prasangka terhadap kelompok lain atas dasar dua faktor, yaitu kontak antarkelompok dan variabel-variabel demografis (jenis kelamin, usia, dan tigkat pendidikan).Â
Peran Konformitas Teman Sebaya dan Kecerdasan Emosi terhadap Adaptabilitas Karier pada Siswa Kelas XI dan XII SMA Negeri 7 Surakarta
The goals of the present work were two-fold. The first was to examine the extent to which peer conformity and emotional intelligence simultaneously explained career adaptability among grade XI and grade XII students in SMA Negeri 7 Surakarta. Participants were 272 students derived from a stratified cluster random sampling. Designed as correlational quantitative research, we found that, first, peer conformity and emotional intelligence significantly and simultaneously explained career adaptability. The second finding showed that peer conformity did not play a significant role in partially explaining career adaptability. The third finding revealed that emotional intelligence significantly and partially explained career adaptability, implying that high levels of emotional intelligence were associated with high levels of career adaptability. In the discussion section, we discuss the theoretical implications of each of those empirical findings, as well as research limitations and suggestions for future research to improve the limitations.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran simultan dan parsial konformitas teman sebaya dan kecerdasan emosi dalam menjelaskan adaptabilitas karier pada siswa kelas XI dan XII SMA Negeri 7 Surakarta. Subjek penelitian adalah 272 siswa yang diperoleh atas dasar stratified cluster random sampling. Penelitian ini didesain sebagai studi kuantitatif korelasional yang menemukan bahwa, pertama, konformitas teman sebaya dan kecerdasan emosi secara simultan atau bersama-sama berperan signifikan dalam menjelaskan adaptabilitas karier. Temuan kedua menunjukkan bahwa konformitas teman sebaya secara parsial tidak berperan signifikan dalam menjelaskan adaptabilitas karier. Temuan ketiga menunjukkan bahwa kecerdasan emosi secara parsial berperan signifikan dalam menjelaskan adaptabilitas karier dimana tingginya kecerdasan emosi berkaitan dengan tingginya adaptabilitas karier. Bagian diskusi dalam tulisan ini menjelaskan implikasi teoritis temuan-temuan penelitian tersebut, disertai dengan sejumlah kelemahan penelitian dan saran perbaikan yang bisa dilakukan pada penelitian lanjutan.Â
Pengasuhan Ibu dan Nenek-Kakek: Keterkaitannya dengan Penyesuaian Keluarga dan Perilaku Bermasalah Anak
As working mothers increase, more children are taken care of by their grandparents. At present, only a few studies have investigated the impact of grandparenting on young children’s misbehaviours. To fill this void, in this research we aimed to test the effect of maternal parenting and grandparenting on children’s misbehaviours. We also investigated the effect of family adjustment (i.e., stress, family relationships, caregivers’ teamwork) on maternal parenting and grandparenting. Participants were 188 pairs of caregivers (mothers and grandparents) who had 2-6 years old children. Results showed that mothers’ authoritarian parenting and grandparents’ permissive parenting significantly contributed to children’s misbehaviours. Maternal stress and family relationships were significant predictors of mothers’ authoritarian parenting, whereas grandparental stress was a significant predictor of grandparents’ permissive parenting. Dengan semakin meningkatnya jumlah ibu yang bekerja, semakin banyak anak diasuh oleh nenek-kakeknya. Saat ini belum banyak penelitian yang mengungkap dampak pengasuhan nenek-kakek terhadap perilaku bermasalah anak usia dini. Untuk menutupi kekurangan ini, penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pengasuhan ibu dan nenek-kakek terhadap perilaku bermasalah anak. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menguji sejauh mana faktor-faktor penyesuaian keluarga (yaitu: stres, relasi keluarga, kerjasama antar pengasuh) mempengaruhi pengasuhan ibu dan nenek-kakek. Partisipan penelitian adalah 188 pasang pengasuh (ibu dan nenek-kakek) yang memiliki anak atau cucu berusia 2-6 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengasuhan otoriter ibu dan pengasuhan permisif nenek-kakek memberikan sumbangan yang signifikan bagi masalah perilaku anak. Stres ibu dan relasi keluarga menentukan munculnya pengasuhan otoriter ibu. Pada nenek-kakek, stres menjadi prediktor utama bagi pengasuhan permisif.Â
Intensi Melukai Diri Remaja Ditinjau Berdasarkan Pola Komunikasi Orang Tua
Adolescents’ tendency of self-harming continues to increase both quantitatively and qualitatively. Self-harming denotes one of the self-defence strategies to reduce psychological pain, in an attempt of individuals to regain homeostatic emotion. One factor that causes self-harming is the lack of effective communication between adolescents and their parents. Parents themselves oftentimes use various communication patterns, be they consensual, pluralistic, protective, or laissez-faire. The purpose of this study was to examine the impact of such differences in parental communication patterns on self-harming intentions among adolescents. Participants were 103 adolescents drew from an accidental sampling technique. The results showed that parental communication patterns significantly affected adolescents’ self-harming intensions. Kecenderungan remaja melukai diri terus meningkat baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Perilaku melukai diri merupakan salah satu bentuk strategi perlindungan diri untuk membantu mengurangi rasa sakit psikologis, sebagai upaya individu untuk mendapatkan kembali keseimbangan emosional. Salah satu faktor yang menyebabkan perilaku melukai diri adalah kurang efektifnya komunikasi antara remaja dan orang tua mereka. Orang tua biasanya menerapkan pola komunikasi yang berbeda-beda, mulai dari pola komunikasi yang bersifat konsensual, pluralistik, protektif ataupun laissez-faire. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh pola komunikasi orang tua yang berbeda-beda tersebut terhadap intensi melukai diri pada remaja. Partisipan adalah 103 remaja yang diperoleh atas dasar sampling aksidental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan pola komunikasi orang tua berpengaruh secara signifikan terhadap intensi melukai diri pada remaja
Peran Konformitas sebagai Mediator Hubungan Harga Diri dan Perilaku Konsumtif pada Mahasiswa
Consumptive behaviour is an excessive buying behaviour that is particularly based more on mere desires rather than needs. Consumptive behaviour can be influenced by self-esteem and conformity. This study aimed to determine the mediating role of conformity on the relationship between self-esteem and consumptive behaviour. Participants were 344 students from 10 faculties of the Muhammadiyah University of Malang. The data were analysed using a mediation model. The results showed as hypothesised that the negative relationship between self-esteem and consumptive behaviour was significantly mediated by conformity. Perilaku konsumtif merupakan perilaku membeli yang berlebihan yang didasarkan teruatam pada keinginan semata dan bukannya berdasarkan pada kebutuhan. Perilaku konsumtif dapat dipengaruhi oleh faktor harga diri dan konformitas. Penelitian bertujuan untuk menguji peran konformitas dalam memediasi hubungan antara harga diri dan perilaku konsumtif. Subjek penelitian adalah 344 mahasiswa dari 10 fakultas di Universitas Muhammadiyah Malang. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan model mediasi. Hasil penelitian menunjukkan, sesuai dengan hipotesis yang diajukan, bahwa hubungan negatif antara harga diri dan perilaku konsumtif secara signifikan dimediasi oleh konformitas
Keterampilan Berpikir Kritis dan Perannya terhadap Toleransi Beragama Murid SMA
The goal of this research was to test the idea that critical thinking skills are related to religious tolerance, which has been understudied within existing psychological studies. To verify this idea, we conducted a correlational survey among a sample of 400 high school students in Bandung who were recruited based on multistage cluster sampling. The results showed as hypothesized that critical thinking skills were significantly and positively correlated with religious tolerance. High critical thinking skills were hence associated with high religious tolerance and vice versa, low critical thinking skills were associated with low religious tolerance. We also additionally examined the extent to which critical thinking skills and religious tolerance varied depending on participants’ gender, ethnicity, and religion. We close by explaining the theoretical and practical implications of those empirical findings, as well as some shortcomings in this research and recommendations for further studies to overcome the shortcomings.Penelitian ini bertujuan untuk menguji ide bahwa keterampilan berpikir kritis berhubungan dengan toleransi beragama, yang masih jarang diinvestigasi pada studi-studi psikologi sebelumnya. Untuk memverifikasi ide ini, kami melakukan survei korelasional dengan melibatkan 400 murid SMA di Kota Bandung sebagai partisipan, yang diperoleh atas dasar multistage cluster sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, sesuai hipotesis yang diajukan, keterampilan berpikir kritis berkorelasi signifikan ke arah positif dengan toleransi beragama. Dengan demikian, tingginya keterampilan berpikir kritis berhubungan dengan tingginya toleransi beragama dan sebaliknya, rendahnya keterampilan berpikir kritis berhubungan dengan rendahnya toleransi beragama. Analisis tambahan dalam penelitian ini juga menguji peran variabel demografis jenis kelamin, suku bangsa, dan agama dalam menjelaskan keterampilan berpikir kritis dan toleransi beragama. Di bagian akhir tulisan ini, kami menjelaskan implikasi teoritis dan praktis temuan temuan empiris tersebut, sekaligus sejumlah kekurangan penelitian dan rekomendasi studi lanjutan untuk memperbaiki kekurangan tersebut. Â
Apa Saya Khawatir Karena Fear of Negative Evaluation? Sebuah Studi Pada Remaja
Adolescence is a period characterised by teenagers’ feelings that problems in life are much more complicated than the periods that come before (childhood) or after it (adulthood). This is the case particularly because adolescence lasts quickly and many changes occur during the period. One of the prevalent disorders commonly experienced by adolescents is generalized anxiety disorder (GAD). We assumed in the present research that fear of negative evaluation (FNE) may influence the GAD. Building upon this assumption, the goal of this research was to examine the extent to which FNE explains GAD. Participants were 475 students from 9 high schools in Malang, who were recruited based on probability or random sampling. The data were then analysed quantitatively using simple linear regression. The results showed that FNE was a significant positive predictor of GAD, implying that the high levels of FNE were related to high levels of GAD, and, vice versa, low levels of FNE were related to low levels of GAD. Masa remaja adalah masa dimana setiap problematika hidup terasa lebih berat daripada masa-masa sebelum (kanak-kanak) atau setelahnya (dewasa). Hal ini dikarenakan masa remaja berlangsung dengan cepat dan ditandai dengan banyak perubahan. Salah satu gangguan yang prevalensinya cukup tinggi yang dialami oleh remaja adalah generalized anxiety disorder (GAD). Peneliti mengasumsikan bahwa fear of negative evaluation (FNE) dapat mempengaruhi GAD tersebut. Mengacu pada asumsi ini, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji sejauh mana FNE dapat mempengaruhi GAD. Subjek penelitian adalah 475 siswa dan siswi dari 8 SMA di Kota Malang, yang direkrut atas dasar probability sampling. Data kemudian dianalisis secara kuantitatif menggunakan regresi linear sederhana (simple linear regression). Hasil penelitian menunjukkan bahwa FNE menjadi prediktor positif yang signifikan dalam menjelaskan GAD. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi FNE maka akan semakin tinggi juga GAD, begitupun sebaliknya jika semakin rendah FNE maka akan semakin rendah juga GAD
Budaya Berbusana Batik pada Generasi Muda
Batik is the world\u27s cultural heritage that is recognized as originating from Indonesia. Nowadays batik becomes a lifestyle for the young generation. Batik lifestyle behavior can be explained through the theory of planned behavior. The aim of this study was to investigate the intentions of using batik among members of the younger generation based on their attitudes towards batik, subjective norms about batik, and control of batik lifestyle behavior. The study was conducted by giving an opened questionnaire to 30 respondents consisting of 7 men and 23 women in the East Java area. This step is accompanied by a semi-structured interview that was conducted with two respondents. The results of the questionnaire show that there are several factors that encourage the younger generation to dress in batik, including aesthetics, prestige, fashionable, national identity, and flexibility. The aesthetic value of batik is the main intention to dress batik among members of the younger generation, which is driven by their attitudes towards batik and control of batik lifestyle behavior. The current research also shows that family is the driving factor (subjective norm) for the young generation to dress in batikBatik merupakan warisan budaya dunia yang diakui berasal dari bangsa Indonesia. Dewasa ini batik menjadi gaya hidup berbusana generasi muda. Perilaku berbusana batik dapat dijelaskan melalui theory of planned behavior (teori perilaku terencana). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui intensi berbusana batik pada generasi muda yang didasari oleh sikap terhadap batik, norma subyektif tentang batik, dan kontrol terhadap perilaku berbusana batik. Penelitian dilakukan dengan memberikan angket terbuka kepada 30 orang responden yang terdiri dari 7 orang laki-laki dan 23 orang perempuan di area Jawa Timur. Setelah itu dilakukan wawancara semi terstruktur kepada 2 orang dari responden tersebut. Hasil angket menunjukkan faktor-faktor yang mendorong generasi muda berbusana batik yaitu nilai estetika, prestise, fashionable, identitas bangsa, dan fleksibilitas. Nilai estetika pada batik merupakan intensi utama menggunakan pakaian batik pada generasi muda yang diprediksi oleh sikap terhadap batik dan kontrol terhadap perilaku berbusana batik. Penelitian ini juga menemukan bahwa keluarga adalah faktor pendorong (norma subyektif) generasi muda menggunakan bati
Consideration of Future Consequences dan Kecanduan Internet pada Mahasiswa
The internet is a medium to easily and quickly access various information. In addition to this positive impact, the internet also causes a negative impact, such as addiction. Consideration of future consequences is one factor that affects internet addiction. The purpose of this study was to examine the relationship between consideration of future consequences and internet addiction among students from Syiah Kuala University. This research used a quantitative method with an incidental sampling technique. The overall sample of the study was 220 students consisting of 118 men and 102 women. The data were analysed using Product-Moment Pearson. The results revealed that there was a negative relationship between the consideration of future consequences and internet addiction, indicating how the higher the consideration of future consequences (CFC) the lower the internet addiction, or vice versa, the lower the consideration of future consequences (CFC) the higher the internet addiction among students of Syiah Kuala University. Internet merupakan media untuk memperoleh atau mengakses berbagai informasi dengan mudah dan cepat. Selain berdampak positif, internet juga menimbulkan dampak negatif, seperti kecanduan. Consideration of future consequences (pertimbangan terhadap konsekuensi masa depan) merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kecanduan internet. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji hubungan antara consideration of future consequences dengan kecanduan internet pada mahasiswa Universitas Syiah Kuala. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik sampling insidental. Keselurahan sampel penelitian adalah 220 mahasiswa yang terdiri 118 laki-laki dan 102 perempuan. Data penelitian dianalisis menggunakan Pearson Product Moment Correlation.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara consideration of future consequences dengan kecanduan internet. Artinya, semakin tinggi consideration of future qonsequences (CFC) maka semakin rendah kecanduan internet, ataupun sebaliknya, semakin rendah consideration of future qonsequences (CFC) maka semakin tinggi kecanduan internet pada mahasiswa Universitas Syiah Kuala.Â