MEDIAPSI
Not a member yet
152 research outputs found
Sort by
Body Dissatisfaction dan Keterkaitannya dengan Subjective Well-Being pada Perempuan Masa Emerging Adulthood
In this research, we aimed to examine the relationship between body dissatisfaction and three aspects of subjective well-being, which included life satisfaction, positive affect, and negative affect. Drawing from accidental sampling, participants were 306 women between the ages of 18 and 25 years who were in the period of emerging adulthood and domiciled in Malang, East Java. Designed as a correlational survey, results in this research revealed that high levels of body dissatisfaction corresponded with low levels of life satisfaction and positive affect. Conversely, high levels of body dissatisfaction corresponded with high levels of negative affect. We explain the theoretical implications of these empirical findings in the discussion section, which also highlights the limitations of the present work as well as recommendations for follow-up studies to overcome these limitations. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara body dissatisfaction dan tiga aspek subjective well-being, yang mencakup kepuasan hidup, afek positif, dan afek negatif. Subjek penelitian adalah 306 perempuan berusia 18-25 tahun yang berada pada masa emerging adulthood dan berdomisili di Kota Malang, Jawa Timur, yang direkrut atas dasar accidental sampling. Studi korelasional dalam penelitian ini menunjukkan bahwa tingginya body dissatisfaction berkaitan dengan rendahnya kepuasaan hidup dan afek positif. Sebaliknya, tingginya body dissatisfaction berkaitan dengan tingginya afek negatif. Implikasi teoritis dari temuan-temuan empiris ini dielaborasi di bagian diskusi, yang juga membahas kelemahan-kelemahan dalam penelitian ini serta rekomendasi studi lanjutan untuk menutupi kelemahan-kelamahan tersebut.Â
Pengantar Editor-in-Chief Mediapsi Volume 6 Nomor 1 Tahun 2020
Pengantar Editor-in-Chief Mediapsi Volume 6 Nomor 1 Tahun 202
Efektivitas Pelatihan Kebermaknaan Kerja untuk Meningkatkan Keterikatan Karyawan pada Perawat
One of the important human resources in hospital is nurses. Nurses with high employee engagement are expected to be able to provide excellent services to patients so that they can increase public trust in hospitals as health care. When demonstrating low sense of  engagement with their job in a hospital, nurses tend to be less friendly towards patients, causing complaints from patients. One effort to increase employee engagement is by providing work meaningfulness training. To this end, the purpose of this study was to examine the effectiveness of work meaningfulness training to improve employee engagement among nurses in hospitals. Participants were 16 nurses who were randomly assigned to either an experimental group or control group. The research design in this study was pretest-posttest control group design. The result showed a significant effect of work meaningfulness training on the level of employee engagement. Perawat adalah salah satu sumber daya penting dalam rumah sakit. Perawat dengan keterikatan karyawan yang tinggi diharapkan mampu memberikan pelayanan yang prima terhadap pasien sehingga dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit sebagai penyedia jasa layanan kesehatan. Keterikatan karyawan yang rendah pada perawat di rumah sakit menimbulkan perilaku kurang ramah perawat kepada pasien sehingga menyebabkan komplain dari pasien. Salah satu upaya untuk meningkatkan keterikatan karyawan tersebut ialah memberikan pelatihan kebermaknaan kerja. Tujuan penelitian ini ialah untuk menguji efektivitas pelatihan kebermaknaan kerja dalam meningkatkan keterikatan karyawan pada perawat di rumah sakit. Subjek dalam penelitian adalah 16 orang perawat di sebuah rumah sakit yang secara random terbagi menjadi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Desain penelitian adalah pretest-posttest control group design. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh signifikan pelatihan kebermaknaan kerja terhadap tingkat keterikatan karyawan
Model Suasana Kelas yang Mensejahterakan Siswa Tingkat Pendidikan Dasar
The students’ well-being is an educational issue that has recently received great attention from various parties, be they academicians, politicians, and policymakers. This research aimed to test the role of classroom climate in enhancing students’ well-being. A correlational study in our work revealed that overall, among a sample of 300 grade V and grade VI students in elementary schools and madrasah ibtidaiyah in East Java, classroom climate positively and significantly predicted students’ well-being. The classroom climate promoted students’ well-being particularly when it took shape via task orientation and when it encouraged solidarity, cooperation, and involvement among students, as well as the perceived teacher justice. Aspects of classroom climate which were suboptimal in explaining students’ well-being included teacher support and learning inquiry.Kesejahteraan siswa baru-baru ini merupakan isu pendidikan yang mendapat perhatian serius dari berbagai pihak, baik akademisi, politisi, maupun pembuat kebijakan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji sejauh mana suasana kelas berperan dalam meningkatkan kesejahteraan siswa. Subjek penelitian adalah 300 siswa kelas V dan VI sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah yang ada di Jawa Timur. Studi korelasional dalam penelitian ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan, suasana kelas menjadi prediktor positif yang signifikan bagi tingkat kesejahteraan siswa. Suasana kelas yang secara signifikan berpengaruh terhadap kesejahteraan siswa adalah suasana kelas yang berorientasi pada tugas, yang bisa mendorong kekompakkan, kerjasama, dan keterlibatan antar siswa, serta yang meningkatkan persepsi bahwa guru telah memperlakukan siswa secara adil. Aspek suasana kelas yang tidak secara signifikan berpengaruh terhadap kesejahteraan siswa mencakup dukungan guru terhadap siswa dan proses penyelidikan dalam kelas.Â
Kontak Antarkelompok dan Demografi sebagai Prediktor Prasangka Etnis Sunda terhadap Etnis Tionghoa
In this research, we aimed to examine the role of intergroup contact and demographic factors, as well as that of the interaction between the two variables in explaining prejudice against Chinese among a sample of Sundanese in Bandung. Participants were 384 Sundanese currently living in Bandung. Designed as a correlational study, our work revealed that, first, intergroup contacts significantly and negatively predicted prejudice against Chinese. Second, age and gender significantly predicted prejudice. The final finding demonstrated that, not in line with the hypothesis specified, demographic factors did not significantly moderate the relationship between intergroup contacts and prejudice. We close by elaborating the theoretical and practical implications of those empirical findings in the discussion section, which also explains some limitations in this research and recommendations for follow-up studies to address the limitations. Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran kontak antarkelompok dan faktor-faktor demografis serta interaksi antar keduanya dalam menjelaskan prasangka etnis Sunda terhadap etnis Tionghoa di Bandung. Subjek penelitian adalah 384 etnis Sunda yang tinggal di Bandung. Penelitian ini dirancang sebagai studi korelasional, yang hasilnya menunjukkan bahwa, pertama, kontak antarkelompok berperan signifikan dalam memprediksi ke arah negatif prasangka terhadap etnis Tionghoa. Hasil kedua menunjukkan bahwa usia dan jenis kelamin juga berperan signifikan dalam menjelaskan prasangka. Temuan terakhir menunjukkan bahwa, tidak mendukung hipotesis yang ditetapkan, faktor-faktor demografis tidak berperan signifikan dalam memoderasi hubungan antara kontak antarkelompok dan prasangka terhadap etnis Tionghoa. Implikasi teoritis dan praktis temuan-temuan empiris tersebut dielaborasi di bagian diskusi, yang juga menjelaskan sejumlah kekurangan dalam penelitian ini serta rekomendasi studi lanjutan untuk menutupi kekurangan tersebut.Â
Rumah, Tempat Kembali: Pemaknaan Rumah pada Mahasiswa Rantau
Regional students (Indonesian: Mahasiswa rantau) are individuals who should move away from home to study in other cities, who are highly likely to experience feelings of homesickness. In this research, we aimed to understand what causes regional students’ homesickness and what the meanings of home for them are. Participants in this research were 15 regional students from the Faculty of Psychology, Padjadjaran University, who were recruited through convenience sampling. This research was designed as a qualitative study with a phenomenological approach. Data in this research, which were drawn from in-depth interviews, revealed eight themes related to regional students’ homesickness. These themes included feelings, activities, routines, food, pets, family and friends, home atmosphere, and rooms. Additional findings uncovered two meanings of homesickness for regional students, that is, “home is feelings†and “home is familyâ€. Empirical findings in this research provide a useful insight into the prevention of regional students’ homesickness, by focusing on the meanings of home and efforts to provide new environment for those students.Mahasiswa rantau merupakan individu yang harus meninggalkan daerah asal untuk menuntut ilmu di kota lain, yang sangat mungkin mengalami perasaan rindu rumah atau homesickness. Penelitian ini bertujuan untuk memahami berbagai hal sebagai sumber homesickness dan makna rumah bagi mahasiswa rantau. Subjek penelitian adalah 15 mahasiswa rantau Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran, yang direkrut melalui convenience sampling. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Hasil penelitian atas dasar wawancara mendalam dengan subjek penelitian menemukan delapan tema yang terkait dengan homesickness mahasiswa rantau, yaitu perasaan, aktivitas, rutinitas, makanan, hewan peliharaan, keluarga dan teman, suasana rumah, serta kamar. Temuan lain mengungkap dua makna rumah bagi mahasiswa rantau, yaitu “rumah adalah perasaan†dan “rumah adalah keluargaâ€. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk pencegahan homesickness pada mahasiswa rantau, dengan fokus pada makna rumah bagi mereka dan upaya menyediakan lingkungan baru mereka.Â
Persepsi Dukungan Sosial sebagai Mediator Pengungkapan Diri dan Kesejahteraan Subjektif pada Pengguna Instagram
This study aimed to examine the mediating role of the perceptions of social support on the relationship between self-disclosure and subjective well-being of Instagram users in Bandung. Participants were 466 late teenagers ranging from 18 to 21 years old. The research was conducted by utilizing Instagram, a social media platform, in Bandung City. The data were analysed quantitatively and demonstrated that: 1) self-disclosure had a significant influence towards respondents’ subjective well-being, 2) self-disclosure had a significant influence towards perceived social support, 3) perceived social support had a significant influence towards respondents’ subjective well-being, 4) perceived social support significantly mediated the relationship between self-disclosure and subjective well-being. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran persepsi dukungan sosial sebagai mediator hubungan antara pengungkapan diri dan kesejahteraan subjektif pada pengguna Instagram di Kota Bandung. Subjek penelitian terdiri dari 466 remaja akhir yang berusia 18 hingga 21 tahun yang menggunakan media sosial Instagram di Kota Bandung. Data dalam penelitian ini dianalisis secara kuantitatif dan menunjukkan bahwa: 1) pengungkapan diri berpengaruh secara signifikan terhadap kesejahteraan subjektif, 2) pengungkapan diri berpengaruh secara signifikan terhadap persepsi dukungan sosial, 3) persepsi dukungan sosial berpengaruh secara signifikan terhadap kesejahteraan subjektif, 4) persepsi dukungan sosial secara signifikan menjadi variabel mediator bagi peran pengungkapan diri terhadap kesejahteraan subjektif