152 research outputs found

    VIRTUAL REALITY SEBAGAI PENGINDUKSIAN EMOSI NEGATIF DI INDONESIA

    No full text
    Emotion is the driving motive of life for humans. The induction of emotions is necessary to understand the behavioural effects and neurobiological determinants of human emotions. The goal of the present work was to examine the effectiveness of virtual reality as a tool to induce negative emotions among a sample of Indonesian participants (N = 20, with the age ranging between 18 and 25 years old). Emotional manipulation in this research used the immersive video watching method to induce negative emotions, which was measured using the emotional baseline scale.  The finding revealed that among the five negative emotions tested, virtual reality significantly induced anger. What can be implied from this finding is that virtual reality can be of use as a reference for the immersive video database in emotion induction research.Emosi merupakan motif penggerak kehidupan bagi manusia. Penginduksian emosi diperlukan untuk memahami efek perilaku dan penentu neurobiologis emosi manusia. Penelitian ini bertujuan menguji keefektifan virtual reality sebagai alat menginduksi emosi negatif pada responden di Indonesia. Partisipan penelitian berjumlah 20 mahasiswa dengan  rentang usia 18-25 tahun. Manipulasi emosi dalam penelitian ini menggunakan metode menonton video immersive untuk menginduksi emosi negatif yang diukur dengan skala emotional baseline. Hasil penelitian menunjukkan bahwa virtual reality secara signikan mampu menginduksi emosi marah dari lima emosi negatif yang diuji. Implikasinya, virtual reality dapat dijadikan sebagai suatu rujukan database video immersive dalam penelitian penginduksian emosi.Emosi merupakan motif penggerak dalam menjalani kehidupan bagi manusia. Penginduksian emosi diperlukan untuk memahami efek perilaku dan penentu neurobiologis emosi manusia. Penginduksian emosi dapat dilakukan dengan berbagai macam metode, salah satunya dengan virtual reality. Penelitian ini bertujuan menguji keefektifan virtual reality sebagai alat menginduksi emosi negatif pada responden di Indonesia. Partisipan penelitian berjumlah 20 mahasiswa dengan  rentang usia 18-25 tahun. Manipulasi emosi dalam penelitian menggunakan metode menonton video immersive untuk menginduksi emosi negatif yang diukur dengan skala Emotional Baseline. Hipotesa penelitian diuji dengan menggunakan teknik statistik Paired Sampel T test dan Wilcoxon Signed-rank test. Hasil uji hipotesa menunjukan bahwa virtual reality dapat menginduksi emosi negatif dari kelima emosi yang diujkan, hanya emosi marah yang mendapat hasil signifikan antara sebelum dan sesudah eskperimen. Oleh karena itu, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai suatu rujukan database video immersive dalam penelitian penginduksian emosi menggunakan virtual reality

    Efektifitas Career Decision-Making Course dalam Upaya Menanggulangi Kesulitan Siswa untuk Mengambil Keputusan Karier

    Get PDF
    Entering the transition period from early adolescence to late adolescence, senior high school students oftentimes experience uncertainty in determining what they should do after completing their education. This research aimed to examine the effectiveness of the Career Decision-Making Course (CDMC) as an intervention to deal with senior high school students\u27 career decision-making difficulties. The three main categories of career decision-making difficulties investigated in this research included lack of readiness, lack of information, and inconsistency of information. Participants were 35 private high school students in the city of Bandung. The effectiveness of CDMC was tested through a pretest-posttest only design experiment. The results revealed that CDMC was effective in helping students deal with career decision-making difficulties, especially those related to lack of readiness and lack of information. However, CDMC did not significantly reduce the difficulty originating from the problem of inconsistency of information. The findings in this research imply that senior high school students should be provided with adequate information about various alternative careers that they can choose so that they are ready to determine the next step after finishing their education. Memasuki masa transisi dari remaja awal ke remaja akhir, siswa sekolah menengah atas seringkali mengalami kebimbangan dalam menentukan apa yang harus mereka lakukan setelah menyelesaikan pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengujikan efektivitas dari Career Decision-Making Course (CDMC) sebagai sebuah interventi untuk menangani kesulitan penentuan karier tersebut. Tiga kategori utama dalam kesulitan karier yang diteliti adalah kurangnya kesiapan, kurangnya informasi, dan inkonsistensi informasi. Partisipan adalah 35 siswa menengah atas swasta di kota Bandung. Efektivitas CDMC diuji melalui eksperimentasi pretest-posttest only design. Hasil menunjukkan bahwa CDMC efektif menangani kesulitan siswa untuk mengambil keputusan karier, terutama yang berkaitan dengan kesulitan pengambilan keputusan karena kurangnya kesiapan dan kurangnya informasi. Sementara itu, CDMC tidak berpengaruh signifikan dalam menurunkan kesulitan karena permasalahan inkonsistensi informasi. Hasil penelitian ini memberikan implikasi bahwa siswa sekolah menengah atas perlu dibekali informasi yang memadai mengenai berbagai macam alternatif karier yang bisa mereka pilih agar mereka siap menentukan langkah ke depan setelah menyelesaikan pendidikan.Banyak siswa sekolah menengah atas di Indonesia mengalami kesulitan untuk mengambil jurusan di perguruan tinggi. Beberapa penelitian menemukan jika siswa tidak mendapatkan bantuan maka siswa akan memiliki karier yang tidak baik yang akan berdampak pada masa depan mereka. Penelitian bertujuan untuk mengujikan efektivitas dari Career Decision-Making Course (CDMC) dalam upaya menanggulangi kesulitan siswa untuk mengambil keputusan karier. Tiga kategori utama dalam kesulitan karier yang diteliti adalah kurangnya kesiapan, kurangnya informasi dan ketidak konsistenan informasi. Pendekatan penelitian pretest – posttest only design terhadap 35 siswa menengah atas swasta di Bandung. Instumen utama dalam penelitian adalah Diukur dengan menggunakan Career Decision Making Difficulties Questionnaire (CDDQ; Gati, Krausz, & Osipow, 1996), dimana instrumen tersebut telah diadaptasikan dan dinormakan untuk populasi Indonesia (Jayanti, 2018). Analisa deskripsi dan inferensial dengan uji t untuk sampel berpasangan digunakan untuk mengolah data.  Hasil menunjukkan bahwa CDMC cukup efektif membantu menangani kesulitan siswa untuk mengambil keputusan karier. Terdapat dua kesulitan utama yang secara signifikan menurun yaitu kesulitan pengambilan keputusan kurangnya kesiapan dan kurangnya informasi. Sementara itu CDMC belum dapat menurunkan secara signifikan kesulitan pengambilan keputusan karena permasalahan ketidak konsistenan informasi. Implikasi dan saran untuk pengembangan pada penelitian selanjutnya diskusikan di dalam penelitian ini

    PREVALENSI MASALAH EMOSI DAN PERILAKU REMAJA : STUDI AWAL MASALAH KESEHATAN MENTAL DI KABUPATEN PAMEKASAN, INDONESIA

    No full text
    Every individual tends to experience difficult adolescence because this developmental period is typically characterized by mental turmoil, especially amid rapid changes in current social, cultural and economic conditions. The purpose of this research was to explore how much gender can explain the mental health status of adolescents in terms of their emotional and behavioural problems. Participants in this research were 237 adolescents aged 15-18 years in Pamekasan, which were selected using simple random sampling. Designed as descriptive quantitative research, the data showed that the majority of male and female adolescents demonstrated a fairly serious level of conduct disorder. Meanwhile, in terms of emotional problems, the difficulties faced by the majority of male and female adolescents pertained to peer problems. These empirical findings point to the importance of solving male and female adolescents’ emotional and behavioural problems, to help them have adequate mental health. Setiap individu cenderung mengalami masa remaja yang sulit karena masa perkembangan ini ditandai dengan penuh gejolak psikologis terutama di tengah perubahan cepat dalam kondisi sosial, budaya dan ekonomi pada saat ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status kesehatan mental remaja dari segi masalah emosi dan perilaku mereka atas dasar gender. Subjek penelitian adalah 237 remaja berusia 15-18 tahun di Pamekasan, yang dipilih amenggunakan teknik simple random sampling. Desain penelitian adalah deskriptif kuantitatif. Data penelitian menunjukkan bahwa mayoritas remaja laki-laki dan perempuan dalam penelitian ini memiliki tingkat kesulitan yang cukup serius (abnormal) pada masalah perilaku berupa conduct disorder. Sementara itu, pada masalah emosional, berbagai kesulitan yang dihadapi mayoritas remaja laki-laki dan perempuan berupa peer problem. Implikasi dari hasil penelitian ini mengarah pada pentingnya penanganan masalah-masalah emosi dan perilaku pada remaja laki-laki maupun perempuan agar mereka bisa memiliki kesehatan mental yang memadai.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status kesehatan mental remaja yang dilihat dari masalah emosi dan perilaku yang dihadapi dan gender. Penelitian ini menggunakan survei deskriptif yang dilakukan kepada 237 remaja berusia 15-18 tahun di Pamekasan. Adapun teknik sampling yang digunakan adalah random sampling menggunakan random.org. Data diperoleh menggunakan sosiodemografi dan the strength anddifficulties questionnaire (SDQ). Pada SDQ terdapat sejumlah 25 item yang diisikan oleh responden dimana mengungkap lima aspek yaitu: emotional problem, conduct problem, hyperactivity, peer problem dan prosocial. Analisis data yang digunakan adalah deskripsif statistik dengan dengan bantuan software JASP. Hasil menunjukkan tidak ada perbedaan gender terkait status kesehatan mental remaja di Pamekasan jika dilihat dari masalah emosi dan perilaku yang dihadapi. Mayoritas remaja laki-laki dan perempuan dalam penelitian ini memiliki tingkat difficulties yang cukup serius (abnormal) pada masalah perilaku yang berupa conduct problem, sedangkan pada masalah emosional yang dihadapi membutuhkan perhatian yang serius pada masalah peer problem

    Front matters vol. 7 no. 1

    No full text
    Front matters vol. 7 no.

    Kontribusi Dukungan Sosial terhadap Subjective Well-Being pada Remaja dari Keluarga Etnis Minang

    Get PDF
    Subjective well-being is a lynchpin for people’s quality of life, but cultural factors may determine its dynamics. We conducted the present work within the cultural context of Minang people in West Sumatera, aimed as an empirical test on the role of social support in explaining subjective well-being among members of the ethnic group. We recruited 323 Minang adolescents aged between 15 and 19 years in West Sumatera. We found as hypothesised that social support positively and significantly explained subjective well-being wherein more social support was related to more subjective well-being (r = .51, p < .001). Previous research zoomed in on the positive relationship between social support and subjective well-being particularly within the context of individualistic culture. What has been found in our work hence may serve as an alternative to the existing research in which we observed that even within the context of the collective culture of Minang people in West Sumatera, social support positively contributed to subjective well-being.Kesejahteraan hidup menentukan kualitas hidup individu, tetapi dinamikanya mungkin dipengaruhi oleh faktor kebudayaan. Penelitian ini dilakukan dalam konteks budaya etnis Minang di Sumatera Barat dengan tujuan menguji peran dukungan sosial dalam menjelaskan kesejahteraan subjektif. Partisipan dalam penelitian ini terdiri dari 323 remaja berusia antara 15 sampai 19 tahun di Sumatera Barat, yang direkrut atas dasar purposive sampling. Sesuai dengan hipotesis yang diajukan, hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial berperan signifikan dalam menjelaskan kesejahteraan hidup dimana semakin tinggi dukungan sosial maka semakin tinggi kesejahteraan hidup (r= .51, p < .001). Riset-riset sebelumnya menekankan bahwa hubungan positif antara dukungan sosial dan kesejahteraan hidup lebih umum ditemukan dalam budaya individualistik. Menjadi alternatif riset-riset sebelumnya, hasil penelitian ini mengimpilikasikan bahwa dalam budaya kolektif etnis Minang di Sumatera Barat, dukungan sosial berkontribusi positif dalam meningkatkan kesejahteraan hidup.This study aims to determine how much the contribution of social support as the independent variable (X) in influencing subjective well-being as the dependent variable (Y). The participants in this study were 323 adolescents aged 15-19 years in West Sumatra. The data collection technique used was the purposive sampling technique. The scale used in the study was adapted from the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) for social support variables (X), and the Satisfaction with Life Scale (SWLS), and the Positive and Negative Affect Schedule (PANAS) scale for the subjective well-being variable (Y). The data analysis used in this research is  the simple regression analysis. The results of data analysis yield these values (p = 0.000) and (r2 = 0.262). Based on the results of the study it can be concluded that there is a positive relationship between the variable social support (X) and subjective well-being (Y) in adolescents from Minang ethnic families (p <0.05), and social support as a predictor contributed 26.2% to the subjective welfare of adolescents from Minang ethnic families. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kontribusi dukungan sosial sebagai variabel independen (X) dalam mempengaruhi kesejahteraan subjektif sebagai variabel dependen (Y). Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 323 remaja dengan rentang usia 15-19 tahun di Sumatera Barat. Teknik pengumpulan data yang digunakan ialah teknik purposive sampling. Skala yang digunakan dalam penelitian diadaptasi dari skala Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) untuk variabel dukungan sosial (X), dan skala Satisfaction with Life Scale (SWLS) serta skala Positive and Negative Affect Schedule (PANAS) untuk variabel kesejahteraan subjektif (Y). Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini ialah analisis regresi sederhana. Hasil analisis data didapatkan nilai (p = 0.000) dan (r2 = 0.262). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif antara variabel dukungan sosial (X) dan kesejahteraan subjektif (Y) pada remaja dari keluarga etnis Minang (p < 0.05), serta dukungan sosial sebagai prediktor memiliki kontribusi sebesar 26.2% terhadap kesejahteraan subjektif pada remaja dari keluarga etnis Minang

    Back matters vol. 7 no. 1

    No full text
    Back matters vol. 7 no.

    Front matters vol. 7 no. 2

    No full text
    Front matters vol. 7 no.

    #MAGER: AKTIVITAS FISIK DITINJAU DARI FEAR OF MISSING OUT DAN TRAIT SELF-CONTROL PENGGUNA INSTAGRAM

    Get PDF
    In the world we live in today, technology has greatly simplified human life but at the same time significantly reduced physical activities. In this research, we examined the extent to which physical activity among 479 Instagram’s users (Mage = 21.24, SDage = 1.31) could be predicted by fear of missing out (FoMO), a pervasive apprehension to stay connected virtually with others while accounting for the unique contribution of individual differences in controlling mental processes and behaviour (trait self-control). As predicted, participants with higher levels of FoMO more than those with lower levels of FoMo reported less adherence in carrying out physical activity. However, the role of FoMO on physical activity became insignificant once trait self-control was taken into account. Individuals with high self-control traits were able to display adequate physical activity, irrespective of their low or high levels of FoMO.  This finding implies that the benefit of having good self-control in physical activity surpasses the detrimental role of FoMO. Given the importance of social media in shaping their life especially during the COVID-19 pandemic, social media users need to be more selective in maintaining virtual friendships and balancing it with self-control exercises.  Era teknologi saat ini di satu sisi sangat mempermudah hidup manusia, namun di sisi lain mengurangi porsi gerakan tubuh dengan sangat signifikan. Dengan mempertimbangkan kontribusi unik perbedaan kemampuan individual dalam mengendalikan proses mental dan perilaku (trait self-control), penelitian ini bertujuan untuk menguji sejauh mana aktivitas fisik di kalangan pengguna media sosial Instagram dapat diprediksi oleh fear of missing out (FoMO) sebagai bentuk kecemasan spesifik akibat keinginan untuk terus terhubung secara virtual. Partisipan berjumlah 479 (Musia = 21.24, SDusia = 1.31) yang direkrut melalui survei online yang dirancang sebagai studi korelasional. Hasil penelitan menunjukkan bahwa partisipan dengan FoMO yang lebih tinggi dibandingkan dengan partisipan dengan FoMO rendah melaporkan kepatuhan yang lebih rendah dalam menjalankan aktivitas fisik. Meskipun demikian, peran FoMO menjadi tidak signifikan ketika trait self-control partisipan diperhitungkan. Terlepas dari derajat FoMO mereka, individu-individu dengan trait self-control yang tinggi mampu menampilkan aktivitas fisik yang adekuat. Temuan ini berimplikasi bahwa peran positif trait self-control melampui peran negatif FoMO dalam aktivitas fisik individu. Mengingat pentingnya peran interaksi virtual dalam memengaruhi kehidupan mereka terutama pasca status pandemi COVID-19, pengguna media sosial perlu lebih selektif dalam memilih pertemanan dan menyeimbangkannya dengan latihan self-control. Saat ini kita hidup di era teknologi yang di satu sisi sangat mempermudah hidup manusia, namun di sisi lain mengurangi porsi gerakan tubuh dengan sangat signifikan. Penelitian ini menyoroti sejauh mana aktivitas fisik di kalangan pengguna media sosial Instagram dapat diprediksi oleh fear of missing out (FoMO) sebagai bentuk kecemasan spesifik akibat keinginan untuk terus terhubung secara virtual, serta kontribusi unik perbedaan individual dalam hal trait self-control. Partisipan (N = 479; M usia = 21,244, SD = 1,311) dengan FoMO yang lebih tinggi melaporkan kepatuhan yang lebih rendah dalam menjalankan aktivitas fisik, namun peran FoMO menjadi tidak signifikan ketika trait self-control partisipan diperhitungkan. Terlepas dari derajat FoMO, individu dengan trait self-control yang tinggi mampu untuk menampilkan aktivitas fisik yang adekuat. Mengingat pentingnya peran interaksi virtual terutama pascastatus pandemi COVID-19, pengguna media sosial perlu lebih selektif dalam memilih pertemanan yang tidak saja memenuhi kebutuhan psikologis dasar akan kompetensi dan relasi, namun juga kebutuhan akan otonomi. Hal ini perlu diimbangi pula dengan latihan self-control secara mandiri

    PENGARUH POLITICAL TRUST, EFIKASI POLITIK DAN ORIENTASI KANDIDAT TERHADAP PARTISIPASI POLITIK, MASYARAKAT MULTI ETNIS PADA PEMILU LEGISLATIF DI KABUPATEN PASAMAN BARAT TAHUN 2019

    No full text
    In Indonesia, we currently see the increasing participation of citizens in several legislative elections. In 2009, the political participation rate in the legislative elections was 79%, 75.11% in 2014, which then increased to 81.69% in 2019. This phenomenon raises the question of what factors influence the trend of increasing public political participation. This study aimed to determine the role of political trust, political efficacy, and candidate orientation in explaining public political participation in the 2019 legislative elections. Of the 400 participants, 50% are and 50% are female, who were selected based on cluster sampling. Designed as correlational research, the results showed that either simultaneously or partially, political trust, political efficacy, and candidate orientation played a significant role in explaining political participation. These findings practically imply that in elections, people\u27s political participation is the key to democracy. To actualise democratic political participation, thus, both the government, legislative candidates, and political parties must pay attention to the importance of the role of political trust, political efficacy, and candidate orientation. Fenomena yang terjadi saat ini di indonesia adalah meningkatnya keikutsertaan warga  dalam beberapa pemilihan legislatif. Pada tahun 2009, tingkat partisipasi politik pada Pemilu legislatif 79%, tahun 2014 75.11%, dan tahun 2019 meningkat menjadi 81.69%. Hal ini memunculkan pertanyaan faktor apa yang memengaruhi trend peningkatan partisipasi politik masyarakat tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran kepercayaan politik, efikasi politik, dan orientasi kandidat dalam menjelaskan partisipasi politik masyarakat pada Pemilu legislatif tahun 2019. Partisipan berjumlah 400 (50% laki-laki, 50% perempun), yang diseleksi atas dasar cluster sampling. Desain penelitian adalah kuantitatif korelasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik secara simultan maupun secara parsial, kepercayaan politik, efikasi politik, dan orientasi kandidat berperan signifikan dalam menjelaskan partisipasi politik. Hasil penelitian memberikan implikasi praktis bahwa dalam Pemilu, partisipasi politik masyarakat menjadi kunci dalam demokrasi. Agar partisipasi politik yang demokratis bisa tercapai, dengan demikian, baik pemerintah, calon legislatif, maupun partai politik harus memperhatikan pentingnya peran kepercayaan politik, efikasi politik, serta orientasi kandidat.This study aims to determine the effect of the political trust structure (X1), political efficacy (X2), and candidate orientation (X3) on the political participation of multi-ethnic communities in the legislative elections in West Pasaman Regency in 2019 (Y)?. This research is a quantitative research. The theory used is the theory of political trust, political efficacy, candidate orientation, political participation. From the results of multiple linear regression, the equation Y= -2.133 + 0.087 X2 + 0.196 X3 + 0.208 X4 + e and from the results of the Kendall Tau test, it is found that there is a close relationship (X1) political trust 0.832, (X2) political efficacy 0.872, (X3) orientation candidate 0.899. The results of this study conclude that: First, in this study political trust has a significant effect on people\u27s political participation in the 2019 legislative elections. The higher the public\u27s political trust, the more significant it will have on people\u27s political participation in the 2019 legislative elections. Second, the community\u27s political efficacy. have a significant effect on public political participation in the 2019 legislative elections. The higher the political efficacy of the community, the more it will have a significant influence on public political participation in the 2019 legislative elections. Third, the orientation of community candidates has a significant effect on people\u27s political participation in the 2019 legislative elections. , The higher the orientation of community candidates, the more significant it will have on people\u27s political participation in the 2019 legislative elections. Keywords: Political Trust, Political Efficacy, Candidate Orientation, Political Participation Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh struktur political trust (X1), efikasi politik (X2), dan orientasi kandidat (X3) berpengaruh terhadap partisipasi politik masyarakat multi etnis pada pemilu legislatif di Kabupaten Pasaman Barat tahun 2019 (Y)?. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, Teori yang digunakan yaitu teori political trust, efikasi politik,orientasi kandidat, partisipasi politik. Dari hasil uji regresi linier berganda didapatkan persamaan Y= -2.133 + 0,087 X2 + 0,196 X3 + 0,208 X4 + e dan dari hasil Uji Kendall Tau didapatkan keeratan hubungan (X1) political trust 0,832, (X2) efikasi politik 0,872, (X3) orientasi kandidat 0,899. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa: Pertama, Dalam penelitian ini political trust berpengaruh secara signifikan terhadap partisipasi politik masyarakat pada pemilu legislatif tahun 2019. Semakin tinggi kepercayaan politik masyarakat semakin memberikan pengaruh yang signifikan terhadap partisipasi politik masyarakat pada pemilu legislatif tahun 2019. Kedua Efikasi Politik masyarakat berpengaruh secara signifikan terhadap partisipasi politik masyarakat pada pemilu legislatif tahun 2019, Semakin tinggi efikasi politik masyarakat semakin memberikan pengaruh yang signifikan terhadap partisipasi politik masyarakat pada pemilu legislatif tahun 2019. Ketiga, Orientasi kandidat masyarakat berpengaruh secara signifikan terhadap partisipasi politik masyarakat pada pemilu legislatif tahun 2019, Semakin tinggi orientasi kandidat masyarakat semakin memberikan pengaruh yang signifikan terhadap partisipasi politik masyarakat pada pemilu legislatif tahun 2019. Kata kunci: Political Trust, Efikasi Politik, Orientasi Kandidat, Partisipasi Politi

    Peran bentuk social support terhadap academic burnout pada mahasiswa Psikologi di Universitas “X†Bandung

    Get PDF
    Psychology students may experience the symptoms of academic burnout, which can be reduced by good social supports that may manifest in multifarious forms, be they appraisal, belonging, and tangible. This study aimed to examine the role of social supports in explaining academic burnout among psychology undergraduate students. Participants were 327 psychology undergraduate students at X University who were recruited based on quota sampling. We analysed the data using multiple regression analysis to assess how much social supports contribute to academic burnout. The results revealed that belonging (15%) and appraisal (12%) significantly contributed, whereas tangible did not contribute to participants’ symptoms of academic burnout. These observations, overall, suggest the importance of conducting follow-up research using qualitative methods and involving other factors beyond social supports that arguably affect academic burnout among psychology students.Mahasiswa psikologi memiliki peluang yang besar untuk mengalami gejala academic burnout, yang bisa dikurangi melalui dukungan sosial berupa appraisal, belonging dan tangible. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang peran bentuk dukungan sosial terhadap burnout academic pada mahasiswa program studi sarjana psikologi. Sebanyak 327 mahasiswa psikologi di Universitas “X†dipilih menggunakan sampling kuota. Data dianalisis menggunakan regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk dukungan sosial yang paling berkontribusi terhadap gejala burnout academic yang dialami partisipan adalah belonging (15%) dan appraisal (12%), sementara tangible support tidak berkontribusi secara signifikan. Temuan ini menekankan pentingnya dilakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan metode kualitatif serta melibatkan faktor-faktor selain dukungan sosial yang secara logis mempengaruhi academic burnout pada mahasiswa psikologi.Psychology students may experience the symptoms of academic burnout, which can be reduced by good social supports that may manifest in multifarious forms, be they appraisal, belonging, and tangible. This study aimed to examine the role of social supports in explaining academic burnout among psychology undergraduate students. Participants were 327 psychology undergraduate students at X University who were recruited based on quota sampling. We analysed the data using multiple regression analysis to assess how much social supports contribute to academic burnout. The results revealed that belonging (15%) and appraisal (12%) significantly contributed, whereas tangible did not contribute to participants’ symptoms of academic burnout. These observations, overall, suggest the importance of conducting follow-up research using qualitative methods and involving other factors beyond social supports that arguably affect academic burnout among psychology students.Mahasiswa psikologi memiliki peluang yang besar untuk mengalami gejala academic burnout, yang bisa dikurangi melalui dukungan sosial berupa appraisal, belonging dan tangible. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang peran bentuk dukungan sosial terhadap burnout academic pada mahasiswa program studi sarjana psikologi. Sebanyak 327 mahasiswa psikologi di Universitas “X†dipilih menggunakan sampling kuota. Data dianalisis menggunakan regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk dukungan sosial yang paling berkontribusi terhadap gejala burnout academic yang dialami partisipan adalah belonging (15%) dan appraisal (12%), sementara tangible support tidak berkontribusi secara signifikan. Temuan ini menekankan pentingnya dilakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan metode kualitatif serta melibatkan faktor-faktor selain dukungan sosial yang secara logis mempengaruhi academic burnout pada mahasiswa psikologi

    105

    full texts

    152

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    MEDIAPSI
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇