Didaktika: Jurnal Kependidikan
Not a member yet
    1371 research outputs found

    Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah, Lingkungan Kerja, dan Sarana Pembelajaran terhadap Kinerja Guru Melalui Motivasi Kerja

    No full text
    Penelitian ini mengkaji pengaruh kepemimpinan kepala sekolah, lingkungan sekolah, dan sarana pembelajaran terhadap kinerja guru SMAS Reformasi Plus, dengan motivasi guru sebagai variable mediasi. Penelitian ini menerapkan metode kuantitatif dengan pendekatan survei pada 30 guru SMAS Reformasi Plus sebagai sampel. Data dianalisis dengan menerapkan Structural Equation Modeling (SEM) dengan Partial Least Squares (PLS). Analisis data dilakukan dengan statistik deskriptif dan statistik inferensial. Analisis pertama berupa pencarian rerata prosentase capaian indikator dan kategori setiap variable. Variable Kinerja Guru (Y) mencapai 74,14, berkategori baik. Variable Kepemimpinan Kepala Sekolah (X1) mencapai 71,99, berkategori baik. Variable Lingkungan Sekolah (X2) mencapai 67,00, berkategori cukup baik. Variable Sarana Pembelajaran (X3) mencapai 76,81, berkategori baik. Variable Motivasi Kerja Guru (Z) mencapai 76,30, berkategori baik. Analisis kedua berupa pencarian pengaruh langsung Variable Bebas: Kepemimpinan Kepala Sekolah (X1), Lingkungan Sekolah (X2), Sarana Pembelajaran (X3) terhadap Variable Terikat: Kinerja Guru (Y) dan Variable Mediasi: Motivasi Kerja Guru (Z) yang selanjutnya memediasi pengaruh tidak langsung terhadap Variable Terikat: Kinerja Guru (Y). Variable X1 berpengaruh positif dan signifikan terhadap Variable Y dan Variable Z. Variable X2 berpengaruah positif dan signifikan terhadap Variable Y, namun tidak signifikan terhadap Variable Z. Variable X3 berpengaruh positif dan signifikan terhadap Variable Y dan Variable Z. Variable Z berpengaruh positif dan signifikan terhadap Variable Y. Variable X1, melalui Variable Z berpengaruh tidak signifikan terhadap Variable Y. Variable X2, melalui Variable Z berpengaruh tidak signifikan terhadap Variable Y. Variable X3, melalui Variable Z berpengaruh signifikan terhadap Variable Y. Nilai Koefisien Determinasi menunjukkan pengaruh bersama Variable Bebas: X1, X2, X3, dan Variable Mediasi Z sebesar 89% terhadap Variable Y dan sisanya, 11% dipengaruhi oleh variable-variable lain yang tidak diperhitungkan dalam penelitian ini.

    Pemanfaatan Media Sosial untuk Meningkatkan Branding Lembaga Pendidikan: Tinjauan Sistematis 2021-2024

    No full text
    Di era digital, lembaga pendidikan menghadapi tantangan dalam membangun citra dan reputasi di ruang publik yang semakin kompetitif. Pemanfaatan media sosial menjadi strategi penting untuk memperkuat branding lembaga melalui komunikasi yang kreatif, interaktif, dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi, peran, dan tantangan pengelolaan media sosial dalam meningkatkan branding lembaga pendidikan dengan menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR). Data dikumpulkan dari publikasi ilmiah terindeks SINTA, DOAJ, Scopus, dan Crossref pada periode 2021–2024 menggunakan perangkat Publish or Perish, dengan total 20 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan kelayakan metodologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi optimalisasi media sosial yang paling efektif meliputi pengelolaan akun yang aktif dan konsisten, penyusunan konten visual yang menarik, penggunaan narasi kuat berbasis digital storytelling, serta pelatihan manajemen konten digital bagi guru dan tim humas. Temuan juga menunjukkan bahwa media sosial berfungsi sebagai saluran komunikasi dua arah yang memperkuat transparansi, partisipasi, dan kepercayaan antara sekolah dan publik. Sebanyak 35% artikel menyoroti peningkatan brand awareness dan keterlibatan komunitas sekolah melalui konten kreatif dan interaksi daring. Namun demikian, tantangan utama yang ditemukan meliputi keterbatasan sumber daya manusia dan kompetensi digital, ketidakkonsistenan jadwal unggahan, keterbatasan anggaran, serta risiko keamanan data dan etika publikasi. Penelitian ini berkontribusi dengan mengusulkan model pengelolaan media sosial yang holistik, yang mengintegrasikan dimensi konten, sumber daya manusia, keterlibatan komunitas, dan keamanan digital. Model ini diharapkan menjadi acuan bagi lembaga pendidikan dalam merancang strategi komunikasi digital yang adaptif dan berkelanjutan, sekaligus membuka ruang bagi penelitian empiris lanjutan untuk menguji efektivitasnya dalam konteks nyata

    Representation of Multiculturalism and Critical Thinking Aspects in EYL Textbook Used in a Bilingual Classroom in Indonesia

    No full text
    Multiculturalism and critical thinking are both crucial aspects that need to be incorporated to shape students as global citizens. Thus, this research aims to find the multiculturalism and critical thinking aspects in an EYL Textbook entitled "Story Central Student Book 3" published by Macmillan Education, Used in a Bilingual Classroom in Indonesia. The research design will be qualitative, and it will make use of thematic analysis. The scope of the multicultural aspects and how it meets the needs of cultural teaching in English language teaching are revealed in this checklist. The critical thinking aspects are based on the blooms taxonomy, higher order thinking skills. The results found that this book gives opportunities for critical engagement and cultural diversities which align with 21st-century educational goals. However, further research is necessary to evaluate its effectiveness in fostering critical thinking among students using this book as the teaching and learning material, acknowledging the limitations of this study’s methodology

    Efektivitas Play Therapy Melalui Permainan Kartu Emosi dalam Meningkatkan Regulasi Emosi Pada Anak Korban Perundungan

    No full text
    Perundungan di sekolah khususnya terhadap anak panti asuhan merupakan masalah serius yang berdampak pada kesehatan mental dan emosional anak. Anak-anak korban perundungan mengalami gangguan regulasi emosi yang memerlukan intervensi efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas play therapy melalui permainan kartu emosi dalam meningkatkan regulasi emosi pada anak korban perundungan di panti asuhan. Metode penelitian menggunakan desain pre-experimental dengan one-group pretest-posttest design pada 8 anak dengan rentang usia 10 -12 tahun yang mengalami perundungan minimal 3 bulan. Intervensi dilakukan selama 8 sesi (4 minggu, 2 sesi per minggu, 60 menit per sesi) menggunakan permainan kartu emosi. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon signed-rank test. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan skor regulasi emosi dari pretest (M = 45,75, SD = 5,62) ke posttest (M = 60,13, SD = 4,91) dengan nilai signifikansi p = 0,012 < 0,05 dan effect size sangat besar (r = 0,89). Seluruh subjek mengalami peningkatan tanpa ada yang mengalami penurunan. Penelitian ini membuktikan bahwa play therapy melalui permainan kartu emosi efektif meningkatkan regulasi emosi anak korban perundungan dan dapat menjadi alternatif intervensi yang optimal khususnya bagi anak

    Pengaruh Pendidikan Kesiapsiagaan dan Respons Wilayah Aisyiyah terhadap Efektivitas Penanggulangan Bencana Alam

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat pendidikan kesiapsiagaan masyarakat Wilayah Aisyiyah Aceh dalam menghadapi bencana, dengan fokus pada tiga aspek utama: pengetahuan bencana, rencana kegiatan menghadapi bencana, dan peringatan bencana. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif dan teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Teknik simple random sampling dipilih karena memberikan peluang yang sama bagi setiap anggota populasi untuk terpilih sebagai sampel. Metode ini memastikan hasil penelitian yang objektif, representatif, mudah diterapkan, serta meminimalkan bias dalam pengambilan data.Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan kepada 40 orang anggota komunitas Aisyiyah di Banda Aceh sebagai responden penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden merasa "Siap" dalam menghadapi bencana, dengan 44,4% responden berada pada kategori tersebut. Sementara itu, 33,3% responden merasa "Sangat Siap", dan 22,2% merasa "Kurang Siap". Pada aspek pengetahuan bencana, meskipun sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang memadai, masih ada kelompok yang membutuhkan edukasi lebih lanjut. Pada aspek rencana kegiatan menghadapi bencana, mayoritas responden merasa siap, namun 27,8% belum sepenuhnya siap. Sedangkan pada aspek peringatan bencana, meskipun sebagian besar responden siap, masih ada 22,2% yang merasa kurang siap. Penelitian ini memiliki implikasi penting bagi penguatan literasi dan kesiapsiagaan bencana berbasis komunitas, khususnya melalui peran organisasi sosial seperti Aisyiyah dalam menyebarkan edukasi dan simulasi evakuasi yang inklusif bagi seluruh kelompok masyarakat. Hasil penelitian dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah dan lembaga terkait untuk merancang kebijakan mitigasi bencana yang lebih partisipatif dan berkeadilan. Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan pada cakupan wilayah yang sempit dan penggunaan kuesioner sebagai satu-satunya instrumen, sehingga hasilnya belum dapat digeneralisasi secara luas. Oleh karena itu, studi lanjutan dengan pendekatan campuran dan melibatkan lebih banyak komunitas diperlukan untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif tentang kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana

    The Role of Internship Experience, Soft Skills, and Self-Efficacy in Enhancing Vocational Readiness: A Systematic Literature Review

    No full text
    This study presents a Systematic Literature Review (SLR) examining the combined influence of internship experiences, soft skills, and self-efficacy on vocational readiness in vocational education and training (TVET) contexts. Drawing upon 25 peer-reviewed articles published between 2019 and 2025, the review highlights the interconnected nature of these three factors in shaping students’ preparedness for the labor market. The findings reveal that internships play a crucial role in bridging the gap between school-based learning and industry requirements, equipping students with practical competencies and professional exposure. Soft skills, including communication, teamwork, problem-solving, and adaptability, are identified as essential for employability and workplace integration. Self-efficacy emerges as a psychological foundation that fosters motivation, resilience, and confidence, enabling students to succeed in both academic and professional settings. Importantly, the review underscores the synergistic relationship between these three dimensions, suggesting that integrative approaches are most effective in promoting holistic vocational readiness. Practical implications include the need for curriculum design that embeds structured internships, systematic soft skills training, and targeted interventions to enhance self-efficacy. The study also identifies limitations in research scope and proposes future studies that employ cross-cultural perspectives and longitudinal designs

    Membangun Guru Inovatif: Sinergi Kepemimpinan Melayani, Iklim Sekolah, dan Semangat Berprestasi

    No full text
    Innovative behavior is a person's action in exploring problems, developing, promoting, and realizing new ideas in the form of processes, products, or procedures to improve work effectiveness for the benefit of the organization. This study aims to determine whether there is a direct or indirect influence of the variables of servant leadership, organizational climate, and achievement motivation on teachers' innovative behavior. This research is a quantitative study using a survey method and a path analysis approach. The population in this study consists of teachers with civil servant status (PNS) at public elementary schools in South Bogor District, Bogor City. A sample of 145 teachers was selected using a proportional random sampling technique from a population spread across 37 public elementary schools in South Bogor District, Bogor City. The results of the study show a direct positive influence between: (1) Servant leadership on innovative behavior (β=0.133); (2) organizational climate on innovative behavior (β=0.116); (3) achievement motivation on innovative behavior (β=0.733); (4) servant leadership on achievement motivation (β=0.438); (5) organizational climate on achievement motivation (β=0.198); (6) there is a positive indirect effect of servant leadership on innovative behavior through achievement motivation with an effect value of 0.321; (7) there is a positive indirect effect of organizational climate on innovative behavior through achievement motivation with an effect value of 0.145. The results of the study indicate that innovative behavior can be enhanced through servant leadership, organizational climate, and achievement motivation. Keyword: achievement motivation, innovative behavior, organizational climate, servant leadershi

    Perencanaan Pembelajaran Mendalam untuk Meningkatkan Kompetensi Pedagogik Guru PAUD

    No full text
    Anak usia dini merupakan generasi penerus bangsa yang diharapkan memperoleh stimulasi pembelajaran terbaik agar mampu menghadapi tantangan abad 21 melalui pembelajaran yang mendalam dan bermakna. Namun, terdapat permasalahan yang muncul di TK kecamatan Pandaan Kabupaten Pasuruan yakni keterbatasan kompetensi guru dalam menggunakan teknologi untuk mendukung proses pembelajaran, baik dalam merancang materi maupun dalam pelaksanaannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana perencanaan pembelajaran mendalam berkontribusi terhadap peningkatan kompetensi pedagogis guru PAUD. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumen perencanaan pembelajaran. Subjek penelitian 15 guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kecamatan Pandaan yang mampu menggunakan teknologi sederhana, seperti aplikasi digital, media interaktif, dan platform. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PAUD yang merancang pembelajaran mendalam mampu mengintegrasikan delapan kompetensi lulusan, memahami perkembangan anak, pengetahuan, sikap, karakter secara menyeluruh, memanfaatkan tekhnologi dan strategi pembelajaran aktif, sehingga kompetensi pedagogis meningkat terutama pada aspek perencanaan, pengelolaan kelas, dan evaluasi pembelajaran. Penelitian ini merekomendasikan perlunya pelatihan berkelanjutan mengenai perencanaan pembelajaran mendalam sebagai upaya meningkatkan profesionalisme guru PAUD

    Pengembangan Media Belajar Antarmuka dan Komunikasi Data dengan Aplikasi Android

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran Antar Muka dan Komunikasi Data (AKD) Sistem berbasis Internet of Things (IoT) menggunakan Kodular untuk mendukung pembelajaran pada program keahlian Teknik Elektronika Industri di SMKN 1 Rejotangan. Metode yang digunakan adalah Research and Development (R&D) model Borg & Gall yang disederhanakan menjadi lima tahap: analisis kebutuhan, perencanaan, pengembangan, validasi, dan uji coba terbatas. Hasil validasi ahli materi memperoleh skor 38 dari 40 dan ahli media 36 dari 40 dengan kategori “sangat layak”. Uji coba terhadap delapan siswa kelas XII menunjukkan tingkat kepraktisan sebesar 95,9%. Media AKD Sistem dinilai efektif membantu siswa memahami konsep IoT secara interaktif melalui pengendalian dan pemantauan perangkat nyata menggunakan aplikasi Android. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media ini valid, praktis, dan relevan untuk diterapkan pada pembelajaran vokasi berbasis teknologi modern

    Implikasi dan Strategi Sekolah Unggulan terhadap Sistem Zonasi

    Get PDF
    Sistem zonasi adalah mekanisme yang mengatur penempatan peserta didik berdasarkan lokasi tempat tinggal mereka. Tujuan utama dari sistem ini yakni menjamin akses yang sama terhadap pendidikan tanpa memandang nilai akademis, sehingga memiliki kesempatan yang sama bagi seluruh peserta didik untuk diterima di sekolah terdekat. Di penelitian ini, metode kualitatif melalui wawancara mendalam yang dilakukan sepanjang Juli 2024, serta observasi di beberapa sekolah unggul, seperti SMA Negeri 1 Surakarta, SMA Negeri 1 Purwokerto, dan SMA Negeri 1 Banjarnegara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem zonasi menimbulkan tantangan baru bagi sekolah-sekolah unggul, terutama terkait variasi kemampuan akademik peserta didik yang diterima. Tantangan ini memaksa sekolah untuk menerapkan metode pembelajaran yang lebih inovatif guna menjaga kualitas pendidikan. Meskipun kebijakan ini memicu perdebatan, penerapan sistem zonasi dinilai positif karena memperluas akses pendidikan secara lebih merata. Dan meskipun menghadapi tantangan dalam penerapannya, sistem zonasi memiliki potensi untuk meningkatkan mutu pendidikan di seluruh Indonesia

    1,214

    full texts

    1,371

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Didaktika: Jurnal Kependidikan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇