Didaktika: Jurnal Kependidikan
Not a member yet
1371 research outputs found
Sort by
Digital Transformation Strategy for Higher Education: Soft System Methodology Analysis
Universitas Brawijaya (UB) has established itself as a leading educational institution in East Java, Indonesia, and is recognized for its diverse achievements both nationally and internationally. The importance of university rankings has become a focal point for educational institutions in Indonesia, including UB. The objective of this research is to analyze the factors affecting UB's ranking and to explore how these factors can inform better management practices within the university. This research uses the Soft System Methodology (SSM) approach, which involves the systematic analysis of real-world problems. This research involves in-depth interviews, observations, and focus group discussions (FGD) in data collection. The results of this study indicate that Universitas Brawijaya has limitations in global recognition, limitations in funding and digital research infrastructure, disparities in academic quality between units. The result for higher education management implies that it can create solutions that are not only technical but also contextual, making them easily accepted by all stakeholders. The Soft System Methodology approach allows Universitas Brawijaya (UB) to map digital transformation issues holistically and produce comprehensive solutions
Analisis Kebijakan Standar Operasional Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia yang Berdampak pada Rencana Kenaikan Uang Kuliah Tunggal
Studi ini menganalisis kebijakan Standar Biaya Operasional Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia yang diatur dalam Permendikbud No 2 Tahun 2024. Penelitian ini menjelaskan pentingnya pendidikan sebagai hak dasar dan tantangan yang dihadapi masyarakat dalam mengakses pendidikan tinggi, terutama terkait biaya yang tinggi setelah pandemi Covid-19. Meskipun pemerintah berupaya memastikan kelayakan pembiayaan pendidikan, kebijakan baru ini menuai berbagai protes dari mahasiswa dan orang tua karena dianggap memberatkan, terutama di tengah pemulihan ekonomi. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur, yang mengeksplorasi berbagai sumber untuk memahami dampak kebijakan tersebut. Hasil penelitian Standar biaya oprasional perguruan tinggi yang berbeda menghasilkan kesenjangan pada perguruan tinggi rawan komersialisasi pendidikan, Kebijakan iuran pengembangan institusi yang berlebihan, pengurangan dan pembebasan UKT yang kurang Transparansi dan akuntabilitas, Perlunya pengawasan ketat terhadap kenaikan UKT, implementasi permendikbud dirasa kurang tepat saat kondisi perekonomian masyarakat indonesia dalam kondisi perbaikan. Perlu dilakukan peninjauan ulang untuk menerapkan Peraturan ini dan diatur secara detail regulasi kenaikan Uang kuliah Tunggal di Perguruan Tinggi Negeri
The Principal's Roles in the Development of Merdeka Curriculum at Junior High school
This research aims to ascertain the principals' roles in developing the curriculum at SMP Negeri 4 Merangin, especially when the Merdeka Curriculum is used. The principal's roles as a leader includes ensuring that the curriculum is in line with national policy about the needs of students. The roles include curriculum planning, implementation, and evaluation. To provide a detailed picture of how principals assist in each phase of curriculum development, The research method used is qualitative with a case study approach. This study involved the principal, the deputy of curriculum, and teachers. The study highlights the critical role of school principals in the planning and implementation of the Merdeka Curriculum at SMP Negeri 4 Merangin. As educational leaders, principals ensure teachers are equipped with the necessary knowledge, skills, and resources through workshops, training, and collaboration with education offices and school committees. The implementation process is supported by targeted socialization, teacher development programs, and systematic monitoring to align curriculum execution with established plans. Despite overall progress, challenges such as limited teacher readiness and inadequate infrastructure persist. To address these obstacles, principals employ strategies such as organizing regular training sessions, fostering collaboration with other schools, and providing access to additional resources, ensuring a comprehensive and sustainable curriculum implementation
Hubungan Interaksi Teman Sebaya terhadap Kecerdasan Emosional Untuk Pengembangan Sosial dan Emosional Bagi Siswa
Penelitian ini mengkaji korelasi antara interaksi teman sebaya dan kecerdasan emosional pada siswa kelas III Sekolah Dasar, yang merupakan tahap kritis dalam perkembangan sosial dan emosional anak. Tujuan penelitian yakni guna menganalisis tingkatan interaksinya teman sebaya dan kecerdasan emosional siswa, serta mengidentifikasi hubungan antara kedua variabel tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional, melibatkan 60 siswa kelas III di MIM Banaran Sambungmacan yang ditentukan lewat teknik purposive sampling. Data dihimpun memakai angket dengan skala Likert yang dimodifikasi dan dianalisis menggunakan korelasi Pearson Product Moment. Resultan penelitian memperlihatkan bahwasanya mayoritas siswa mempunyai tingkat interaksi teman sebaya (65%) dan kecerdasan emosional (62%) dalam kategori sedang. Analisis korelasi mengungkapkan hubungan yang signifikan serta sangat kuat antara kedua variabel (r = 0,966, p < 0,001). Temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan kualitas interaksi teman sebaya dapat berkontribusi positif terhadap pengembangan kecerdasan emosional siswa. Penelitian ini memberikan dasar empiris untuk pengembangan program intervensi yang efektif dalam meningkatkan kecerdasan emosional melalui optimalisasi interaksi teman sebaya di tingkat pendidikan dasar
The Effectiveness of Sixth Grade Math in Focus Curriculum for Indonesian Christian Schools Students
Math In Focus as a curriculum program is based on the Singaporean mathematics framework. However, it has been adjusted for U.S. classrooms by Great Source & Hougton Mifflin Harcourt publisher. This curriculum program was also used by a Christian school in Jakarta, Indonesia that has predominantly Indonesian students whose mother tongue was Indonesian language. Thus, the purpose of this study is to evaluate the effectiveness of Math In Focus curriculum program that was used in a Christian school in Jakarta, Indonesia, particularly in Grade VI. This research used a case study research methodology. The techniques of data collection used were questionnaire, interview, and observation. The results showed that the accuracy of the target was highly effective (81.5%), the aims of the program was also highly effective (82.5%), the socialization of the program was effective (71.5%), and the supervision of the program was also effective enough (70.5%). It can be concluded that Math In Focus curriculum program was effective enough (76.5%) for Indonesian Christian students in sixth grade although English is not their mother tongue. The other findings in this research were the supported and inhibited factors of the effectiveness
Curriculum in the Eyes of Future Educators: A Metaphor Analysis from First-Year Pre-Service Science Teachers
First-year science pre-service teachers are a vital future generation dealing with various education systems, not least of which is the curriculum. This study aims to understand how first-year science pre-service teachers perceive the curriculum. This qualitative study probes those conceptions through metaphor analysis of responses from 104 Indonesian first‑year science pre‑service teachers. Participants supplied a single metaphor and a brief rationale; 57 unique metaphors survived screening and were grouped into five conceptual categories—Guidance, Foundation, Dynamism & Adaptability, Essential & Sustaining, and Complexity & Challenge. The most frequent metaphors included water, map, and sun, signalling an overall optimistic and functional view of the curriculum. While most metaphors framed the curriculum positively—as an indispensable guide or life‑support system—some acknowledged its intricacy and the effort required to navigate it. Findings suggest that optimism may stem from limited first‑hand experience with curriculum implementation, contrasting with practising teachers who often regard curriculum change as problematic. The implications of this study for teacher education programs include the need to foster critical and practical curriculum literacy from the start of training. In addition, by mapping how pre-service science teachers in Indonesia structure their curriculum, this study provides teacher education programs with a concrete reference point to prepare them for the tumultuous curriculum changes they will face as professional teachers
Persepsi Guru Bahasa Indonesia dan Siswa terhadap Pembelajaran Berdiferensiasi
Urgensi dari penerapan pembelajaran berdiferensiasi adalah keragaman kelas dan keharusan guru untuk menyajikan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi guru dan siswa se-Kabupaten Belitung Timur terhadap pembelajaran berdiferensiasi. Data diperoleh melalui angket yang disebar kepada guru dan siswa. Melalui metode deskriptif kualitatif, olah data dilakukan dengan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru dan siswa se-Kabupaten Belitung Timur memiliki persepsi yang positif terhadap pembelajaran berdiferensiasi. Namun, masih perlu optimalisasi guna memastikan peserta didik memperoleh pembelajaran sesuai kebutuhannya, khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia
Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi untuk Kemampuan Membaca
Pembelajaran diferensiasi adalah pendekatan yang memungkinkan guru menyesuaikan strategi pengajaran sesuai dengan kebutuhan, minat, dan kesiapan belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan pembelajaran diferensiasi dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus di sekolah dasar. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran diferensiasi melalui variasi konten, proses, dan produk pembelajaran dapat meningkatkan motivasi dan pemahaman membaca siswa. Faktor pendukung meliputi keterampilan guru dalam merancang strategi yang tepat, dukungan teknologi, dan lingkungan belajar yang kondusif. Namun, tantangan yang dihadapi antara lain keterbatasan waktu dalam perencanaan dan keragaman kebutuhan siswa yang kompleks. Kesimpulannya, pembelajaran diferensiasi dapat menjadi strategi yang efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa, selama didukung oleh perencanaan yang matang dan keterampilan guru dalam mengelola diferensiasi pembelajaran
Pengaruh Keterampilan Manajerial Kepala Sekolah Terhadap Mutu Pembelajaran di Sekolah Menengah Atas
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh keterampilan manajerial kepala sekolah terhadap mutu pembelajaran di SMA Negeri Kabupaten Blora. Mutu pembelajaran merupakan faktor utama dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan dipengaruhi oleh berbagai aspek, termasuk kepemimpinan kepala sekolah. Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan kuantitatif dan metode survei dengan melibatkan 200 guru dari 8 SMA Negeri di Kabupaten Blora. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara keterampilan manajerial kepala sekolah terhadap mutu pembelajaran dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,749 dan kontribusi pengaruh sebesar 56,1% yang berarti bahwa peningkatan keterampilan manajerial kepala sekolah akan berkontribusi pada peningkatan mutu pembelajaran. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin baik keterampilan manajerial kepala sekolah, semakin meningkat pula mutu pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu, peningkatan keterampilan manajerial kepala sekolah menjadi faktor penting dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan
Profil Karakter Temperamental Peserta Didik di Sekolah Menengah Pertama
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi alasan siswa SMP bersikap tempramen saat pembelajaran dan mengidentifikasi faktor pemicu sikap tempramen tersebut, selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk melihat gambaran sikap tempramen siswa SMP, dimana kategorisasi sikap tempramen tersebut mengacu pada skala sikap tempramen oleh Wrench yang terbagi dalam sikap tempramen rendah, moderat dan tinggi. Pengumpulan data dipenelitian ini dilakukan melalui wawancara terhadap 2 guru dan 10 siswa SMP Surabaya, observasi oleh guru dan pengisian kuesioner oleh 14 siswa. Data penelitian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil analisi dalam penelitian ini memberi 3 simpulan yaitu (1) Alasan paling banyak siswa bersikap tempramen adalah karena stres akademik yang disebabkan oleh tugas, ujian, dan tekanan untuk berprestasi, serta masalah keluarga seperti konflik atau perpisahan orang tua. Selain itu, kurangnya keterampilan dalam mengelola emosi dan faktor sosial seperti perundungan serta lingkungan yang tidak mendukung akibat kesalahan pola asuh juga menjadi alasan siswa bersikap tempramen; (2) Faktor paling dominan yang memicu sikap tempramen siswa adalah Faktor sosial menjadi faktor paling dominan yang mempengaruhi temperamen siswa, terkait dengan pengaruh bullying, kesulitan bergaul, dan media sosial. Selain itu, faktor akademik juga memainkan peran penting, terutama terkait dengan kesulitan memahami pelajaran dan tekanan akademik seperti pekerjaan rumah dan persaingan dengan teman sejawat; (3) Sikap tempramen siswa di SMP Surabaya cenderung pada kategori moderat