Bonafide - Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Not a member yet
    96 research outputs found

    MEMBANGUN TEOLOGI PERTANIAN MELALUI PEMBACAAN LINTAS TEKSTUAL INJIL MATIUS DAN KOSMOLOGI JAWA

    Full text link
    Dewasa ini pertanian yang dijalankan seringkali mengandalkan pestisida yang mengakibatkan kerusakan tanah dan ketidakseimbangan ekosistem. Ini disebabkan manusia tidak merasa sebagai bagian dari alam. Artikel ini bertujuan menggali keteladanan Yesus Kristus sebagai seorang petani seperti yang dituliskan dalam Injil Matius dan menghubungkannya dengan kearifan kosmologis budaya Jawa. Harapannya akan membangun sebuah teologi pertanian kontekstual yang menghargai dan menjaga keharmonisan hidup alam. Metode yang digunakan adalah pembacaan lintas tekstual, yaitu mengambil pesan positif dari dua teks/konteks yang disandingkan untuk membangun sebuah bentuk teologi yang kontekstual. Hasilnya, teologi pertanian kontekstual menekankan bahwa bertani adalah sebuah ibadah yang mendorong manusia untuk menjaga kelestarian alam semesta dengan kesadaran bahwa manusia dan alam adalah sesama saudara diciptakan oleh Tuhan. Keduanya harus saling menjaga dan melindungi. Di dalam kesatuan tersebut mereka menemukan diri mereka bersatu dengan Allah. Teologi pertanian kontekstual hanya merekomendasi pertanian organik sebagai cara bertani yang benar karena model ini akan menjaga kelestarian hidup alam dan manusia.Today's agriculture often relies on pesticides, which cause soil damage and ecosystem imbalances. The use of pesticides is because humans do not feel part of nature. This article aims to explore the example of Jesus Christ as a farmer as written in the Gospel of Matthew and relate it to the cosmological wisdom of Javanese culture. The hope is to build a contextual agricultural theology that respects and maintains the harmony of natural life. The method used is cross-textual reading, which takes positive messages from two texts/contexts that are juxtaposed to construct a form of contextual theology. As a result, contextual agricultural theology emphasizes that farming is worship that encourages humans to preserve the universe with the realization that humans and nature are brothers and sisters created by God. Both must care and protect each other. In that unity, they find themselves united with God. The contextual agricultural theology only recommends organic farming as the right way of agriculture because this model will preserve the natural and human life

    Tinjauan Buku: KEPEMIMPINAN YANG RADIKAL DALAM PERJANJIAN BARU DAN MASA KINI

    No full text

    TINJAUAN TEOLOGI SISTEMATIS-APOLOGETIS TERHADAP PANDANGAN ADOPSIONISME MENGENAI KETUHANAN YESUS

    Full text link
    Jesus is a unique person because he has two natures, namely God and Human. The Bible explicitly teaches and testifies on this subject. But in fact, some views reject both His divine nature and even His humanity. These views have been around since Jesus' incarnation in the world until now. One of the teachings which classify as Christian heretics in the early centuries was the adoptionist view, which taught Jesus only human beings who adopt as children of God later. It means they reject the divinity and also the pre-existence of Christ as God before His incarnation. This study intends to criticize the adoptionist idea. The method used is qualitative research through a systematic-apologetic approach. The results showed that the view of adoption was wrong because it violated the principle of the divine nature of Jesus as the Bible teaches. Jesus is Lord from the beginning, not after His incarnation.Yesus adalah pribadi yang unik sebab memiliki dua natur yakni sebagai Allah dan juga manusia. Alkitab secara eksplisit mengajarkan dan memberikan kesaksian mengenai pokok ini. Namun realitanya ada juga pandangan yang menolak baik natur keilahian-Nya bahkan juga kemanusiaan-Nya. Gagasan-gagasan demikian sebenarnya sudah ada sejak inkarnasi Yesus di dunia. Mulai dari pandangan para pemuka agama Yudaisme, para pemimpin gereja mula-mula, hingga di masa sekarang oleh para teolog agama-agama. Salah satu ajaran yang digolongkan sebagai bidat Kristen pada abad mula-mula adalah pandangan adopsionisme yang mengajarkan Yesus hanya manusia biasa yang kemudian diadopsi menjadi anak Allah. Jika demikian maka sama halnya menolak keilahian dan juga pre-eksistensi Kristus sebagai Allah sebelum inkarnasi-Nya. Penelitian ini bermaksud mengkritisi pandangan adopsionisme tersebut. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif melalui pendekatan teologi sistematis-apologetis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pandangan adopsionisme sangat keliru karena menyalahi prinsip natur keilahian Yesus sebagaimana yang diajarkan Alkitab. Yesus adalah Tuhan dari sejak semula bukan setelah inkarnasi-Nya

    FILSAFAT TRINITAS

    No full text
    Christian heretics publish hermeneutic disparities about the Trinity. The implication is the emergence of a way of understanding the wrong. When the idea of the Trinity emerged later, it was easily detected as a form of hermeneutic error that recycled past errors. Besides, Church Fathers give various trinity elaborations in response to heretics, who also argue they are on two sides: acceptable and rejectable. In this article, double standards are used as apologetic clarifications and then present a credible Christian faith position. Thus, double standard measures as apologetic clarification lead to a trinity polemic disposal, although opportunities are open to debate.Bidat-bidat Kristen mempublikasikan disparitas hermeneutika tentang Trinitas. Implikasinya adalah munculnya cara memahami yang keliru. Ketika gagasan Trinitas muncul di zaman-zaman berikutnya, dengan mudah dideteksi sebagai bentuk kesesatan hermeneutika yang mendaur ulang kesesatan masa lampau. Di samping itu, Bapa-bapa Gereja memberikan berbagai elaborasi Trinitas sebagai respons mereka terhadap para bidat, yang juga argumentasi mereka berada dalam dua sisi: dapat diterima dan ditolak. Dalam artikel ini, standar ganda digunakan sebagai klarifikasi apologetik dan kemudian menghadirkan kedudukan iman Kristen yang kredibel. Dengan demikian, langkah-langkah standar ganda sebagai klarifikasi apologetik membawa kepada sebuah disposal (penyelesaian) polemik Trinitas, meski terbuka peluang untuk diperdebatkan

    KAJIAN TEOLOGIS TENTANG PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM ALKITAB

    No full text
    With the development of liberal theology in the 18-19 century AD, there was an opinion that Christian Education was not in the Bible. This research aims to describe the study of the existence of Christian Education in the Bible. The method used is qualitative with a literature study. The research results are as follows: First, Christian Education in the Bible already exists in the Old Testament. God revealed Himself to the Israelites and gave teachings through the prophets. Second, the Old Testament centers on God's law, and God gave the Ten Commandments to the people of Israel as a basis for education. Third, in the New Testament of Jesus, Jesus' disciples and the early church always gave teachings as a manifestation of God's intervention.Seiring berkembangnya teologi liberal pada abad 18-19 M, ada pendapat yang muncul bahwa Pendidikan Agama Kristen tidak ada dalam Alkitab. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kajian tentang keberadaan Pendidikan Agama Kristen dalam Alkitab. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan studi pustaka. Hasil penelitian adalah sebagai berikut: Pertama, Pendidikan Agama Kristen di dalam Alkitab sudah ada dalam Perjanjian Lama di mana Allah menyatakan diri kepada bangsa Israel dan memberikan pengajaran melalui para nabi. Kedua, Perjanjian Lama berpusat pada hukum Allah, dan Allah telah memberikan Sepuluh Hukum Taurat kepada umat Israel sebagai dasar pendidikan. Ketiga, dalam Perjanjian Baru Yesus, murid-murid Yesus, dan juga jemaat mula-mula selalu memberikan pengajaran sebagai wujud dari intervensi Allah

    KONSEP PENCOBAAN MENURUT YAKOBUS 1:12-15

    No full text
    The life of a believer is never free from various temptations in the form of challenges and problems. This makes it difficult for some believers to understand the meaning of temptation. Some even think that God causes temptations. This study aims to explain temptation, according to James 1: 12-15. The method used is a syntactic and semantic text analysis approach to focus on the text itself and connect with other texts. Based on James 1: 12-15, the results showed that temptation does not come from God but in humans themselves because they are dragged into by sin. Nevertheless, those who can withstand the temptation will grow to a perfect and holy life with God.Kehidupan orang beriman tidak pernah luput dari berbagai pencobaan berupa tantangan dan permasalahan. Hal ini membuat sebagian orang percaya sulit memahami makna pencobaan. Bahkan ada yang menganggap pencobaan disebabkan oleh Allah. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan tentang pencobaan menurut Yakobus 1:12-15. Metode yang di gunakan adalah pendekatan analisis teks secara sintaksis dan semantis yaitu fokus pada teks itu sendiri dan dihubungkan dengan teks-teks lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan Yakobus 1:12-15, pencobaan tidak berasal dari Allah tetapi dalam diri manusia itu sendiri karena terseret oleh dosa. Namun orang yang sanggup bertahan dalam ujian pencobaan akan bertumbuh kepada kehidupan yang sempurna dan kudus bersama dengan Allah

    RELEVANSI PENGGEMBALAAN PAULUS DALAM I KORINTUS 3:1-9 TERHADAP PENJANGKAUAN ANAK MUDA DI GBI PASKO BANDUNG

    No full text
    Conflict is one of the church's problems, often resulting in division and decreased participation of the congregation in fellowship. This paper aims to describe the Apostle Paul's pastoral strategy, as stated in 1 Corinthians 3: 1-9, and its relevance to youth outreach at GBI Pasko Bandung using qualitative methods and literature. From this research, it was found that the Apostle Paul's shepherding strategy was: (1) Paul tried to create positive communication, (2) Paul tried to connect his ministry practice with Christian teachings, (3) used letter media to overcome communication difficulties at that time. The relevance of shepherding youth at GBI Pasko Bandung is: (1) shepherding youth with positive communication, (2) inviting young people to face differences in an adult manner, (3) strengthening the faith of young people by teaching, Also, to overcome the limitations of reaching young people, various communication media nowadays such as gadgets can be used so that they can be touched personally.Konflik merupakan salah satu persoalan yang dihadapi gereja yang seringkali mengakibatkan perpecahan dan penurunan partisipasi jemaat dalam persekutuan. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi penggembalaan Rasul Paulus sebagaimana tertuang dalam 1 Korintus 3:1-9 dan relevansinya terhadap penjangkauan anak muda di GBI Pasko Bandung dengan menggunakan metode kualitatif dan studi pustaka. Dari penelitian ini ditemukan bahwa strategi penggembalaan Rasul Paulus adalah: (1) Paulus berusaha menciptakan komunikasi yang positif, (2) Paulus berusaha menghubungkan praktek pelayanan dengan ajaran Kristen, (3) menggunakan media surat untuk mengatasi kesulitan berkomunikasi pada waktu itu. Relevansinya dalam penggembalaan anak muda di GBI Pasko Bandung adalah: (1) menggembalakan anak muda dengan komunikasi yang positif, (2) mengajak anak muda menghadapi perbedaan secara dewasa, (3) menguatkan iman anak muda dengan pengajaran. Selain itu untuk mengatasi keterbatasan menjangkau anak-anak muda bisa menggunakan berbagai media komunikasi dewasa ini seperti gagdet agar mereka bisa disentuh secara personal

    TANTANGAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 DAN PASCA KEBENARAN

    Full text link
    Era Revolusi Industri 4.0 berdampak dalam segala hal, termasuk dalam kehidupan orang Kristen. Tulisan ini bertujuan untuk memperlihatkan bagaimana Pendidikan Agama Kristen dapat berperan dalam membimbing generasi muda Kristen dalam menyikapi perubahan di era Revolusi Industri 4.0 serta derasnya hoaks akibat fenomena pasca kebenaran. Dengan kajian deskriptif dan metode studi kepustakaan, akan digambarkan kondisi dan tantangan yang dihadapi, khususnya sehubungan dengan penggunaan gawai sebagai piranti teknologi, serta peran PAK dalam menyampaikan kebenaran dan menjadi sarana untuk membimbing generasi muda yang sanggup menjadi saksi-saksi Kristus yang harus memegang teguh kebenaran dan membangun relasi yang baik dengan sesama.The Industrial Revolution Era 4.0 had an impact on everything, including in the lives of Christians. This paper aims to show how Christian Religious Education can play a role in guiding Christian young generation in responding to changes in the Industrial Revolution 4.0 era and the rapid hoax due to post-truth phenomena. With descriptive studies and literature study methods, conditions and challenges will be described, especially in connection with the use of devices as technological tools, as well as the role of PAK in conveying the truth and being a means to guide young people who are able to be witnesses of Christ who must uphold the truth and build good relationships with others

    KONSEP PEMBENARAN MENURUT ROMA 5:1-11 DAN IMPLIKASINYA BAGI GEREJA MASA KINI

    No full text
    In some churches, some see justification as an act of God so that Christians can enter heaven. According to biblical truth, this contradicts the concept of justification, as stated in Romans 5: 1-11. This paper intends to explore this part of the biblical text to obtain a correct concept of justification. The method used is text analysis syntactically and semantically, namely focusing on the text itself, interaction with other texts, and the Church Fathers' writings. The result of this research is that being justified means getting peace with God, not being enemies of God by living in sins. Being justified also means the church has access to God's Grace and is freed from God's wrath or God's judgment, and is saved by His life or saved by Jesus Christ.Di kalangan gereja ada yang melihat pembenaran sebagai tindakan Allah supaya orang Kristen bisa masuk surga. Hal ini bertentangan dengan konsep pembenaran sesuai dengan kebenaran Alkitab sebagaimana tercantum dalam Roma 5:1-11. Tulisan ini bermaksud mengeksplorasi bagian teks Alkitab ini agar diperoleh konsep yang benar mengenai pembenaran. Metode yang digunakan adalah analisis teks secara sintaksis dan semantis yaitu fokus pada teks itu sendiri, interaksi dengan teks-teks lain dan tulisan para Bapa Gereja. Hasil penelitian didapatkan adalah bahwa dibenarkan berarti memperoleh damai dengan Allah, tidak menjadi seteru Allah dengan hidup dalam dosa-dosa. Dibenarkan juga berarti gereja memperoleh akses kepada Anugerah Allah dan dibebaskan dari murka Allah atau penghakiman Allah, serta diselamatkan oleh hidup-Nya atau diselamatkan oleh oleh Yesus Kristus

    INTERPRETASI KATA LOGOS DAN THEOS DALAM YOHANES 1:1

    Full text link
    oai:jurnal.sttissiau.ac.id:article/1Logos is Theos has always been a topic of heated discussion among Christian theologians. This subject is also often misinterpreted so that interpretations emerge that are not biblical or not following their original meaning. Logos is often accused of originating from the concept of Greek philosophy because John is considered to be much influenced by the Hellenistic world. Logos is often interpreted in the context of John 1:1 only divine, a God, or inferior to God because grammatically, the phrase "the Word is God" is assumed to provide that understanding. This phrase becomes polemic because the word Theos in the text does not use the article that can confirm the word is the same as God. Although Theos grammatically does not use the article's clothing, logos cannot be interpreted as a God, or the Logos is only divine because the third ho logos in the phrase refers to the nominative subject so that the noos becomes the predicate nominative and the article clothing is usually omitted. So if interpreted logos, it is God. This is confirmed in the first and second phrases that the logos is a person who stands alone, has his existence since eternity. He existed before the work of creation, and He is the creator, and from eternity already exists with God. Thus to answer this polemic, this study seeks to explain the concept of logos used by John and explains logos is God in the context of John 1:1 by using an interpretive analysis of words, phrases, or clauses in the text to get the correct meaning in context the original.Logos adalah Theos selalu menjadi topik bahan diskusi hangat di kalangan para teolog Kristen. Pokok ini juga sering disalahtafsirkan sehingga muncul penafsiran yang tidak alkitabiah atau tidak sesuai makna aslinya. Logos sering tuduhkan berasal dari konsep filsafat Yunani karena Yohanes dianggap banyak dipengaruhi dunia hellenistik. Logos sering ditafsirkan dalam konteks Yohanes 1:1 hanya bersifat ilahi, suatu Allah atau lebih rendah dari Allah karena secara gramatikal frasa “Firman itu adalah Allah” dianggap memberikan pengertian tersebut. Frasa ini menjadi polemik karena kata Theos di dalam teks itu tidak menggunakan kata sandang yang dapat menegaskan Firman itu adalah sama dengan Allah. Padahal, meskipun secara gramatikal Theos tidak memakai kata sandang namun logos tidak dapat diartikan sebagai suatu Allah atau Logos hanya bersifat ilahi karena ho logos yang ketiga dalam frasa tersebut menunjuk kepada subyek nominatif sehingga kata benda theos menjadi predikat nominatif dan kata sandang biasanya dihilangkan. Jadi jika diartikan logos itu adalah Allah. Hal ini dipertegas dalam frasa pertama dan kedua bahwa logos adalah pribadi yang berdiri sendiri, memiliki keberadaaanya sendiri sejak kekakalan dan dia ada sebelum karya penciptaan dan Dia sendiri adalah pencipta dan dari kekekalan sudah ada bersama-sama dengan Allah. Dengan demikian untuk menjawab polemik ini, maka penelitian ini berupaya menjelaskan konsep logos yang digunakan oleh Yohanes dan menjelaskan logos adalah Allah dalam konteks Yohanes 1:1 dengan menggunakan analisis eksegetis terhadap kata, frasa atau klausa dalam teks untuk mendapatkan pengertian dan makna yang benar sesuai konteks aslinya

    0

    full texts

    0

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bonafide - Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇