Thejournalish - Social and Government (E-Journal)
Not a member yet
262 research outputs found
Sort by
UPAYA PEMERINTAH DESA DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (Studi Kasus Pembangunan Ekonomi Kelompok Tani Desa Muara Gelumpai Kecamatan Muara Payang Kabupaten Lahat)
This research aims to find out what efforts the village head has made to empower the community, especially members of farmer groups. The data collection techniques used were observation, interviews and documentation techniques using a qualitative approach. The theory used uses Munawar Noor and Edi Suharto's theory with indicators of enabling, empowering, protecting, economic, cultural and political growth. The research results show that the efforts made by the village government, in this case the village head, are still not optimal. This can be seen from the obstacles that occur, such as a). lack of socialization and guidance for farmer groups and inadequate infrastructure, b). lack of attention and strong commitment from village heads in planning programs and policies for farmer groups, c). The use of technology is still relatively simple due to the lack of application of agricultural technology and d). the lack of realization of the village fund budget which is used to empower farmer groups. From the results of this research, it can be concluded overall that the village government has not been successful in implementing community empowerment in economic development through farmer groups in Muara Gelumpai village. There are many problems ranging from unclear activities after the formation of farmer groups and the absence of programs created by the village heads themselves to empower farmer groups, resulting in new problems emerging
E-Government in Indonesia: Policy Review and Implementation of Jokowi's Government
The rate of adoption of information and communication technology in government administration, known as E-Government, has become an important issue in the Indonesian context, especially under the leadership of President Joko Widodo (Jokowi). This research aims to provide an in-depth overview of E-Government policies and implementation in Indonesia during Jokowi's administration. Researchers analyzed the policy steps taken by the Jokowi government in advancing E-Government and analyzed the success rate of its implementation. In addition, this study also identifies challenges and obstacles faced in efforts to improve public services through information technology. The results of this study provide a better understanding of the progress of E-Government in Indonesia, its contribution to government efficiency, and its impact on public services. By understanding the extent to which E-Government policies and implementation have been successful, the government and other stakeholders can take further steps to improve this system to achieve a more transparent, inclusive, and effective governance in Indonesia
Evaluasi Kebijakan Pemerintah Kota Palembang Dalam Penanganan Gelandangan Dan Pengemis (Studi Kasus Di Kota Palembang)
Dalam penelitian jika program ini belum dapat dikatakan berhasil melalu kesimpulan yang peneliti hasilkan. Metode penelitian yang digunakan menggunakan metode kualitatif . Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa kendala dalam proses pelaksanaan penjangkauan oleh pemerintah, mulai dari kurangnya Fasilitas yang dimiliki oleh Dinas Sosial walaupun dikatakan oleh pihak Dinas Sosial anggaran telah tercukupi, kurangnya sumberdaya manusia sebagai Tim Penjangkauan, SDM yang belum memiliki integritas yang kokoh, sehiingga tidak disiplin dalam melakukan penjangkauan, masih maraknya pengemis dan gelandangan di sudut Kota Palembang. Tidak terjadinya tahap pembinaan lanjutan oleh Dinas Sosial di dalam panti dan hanya sekedar memberikan nasihat saja yang membuat pengemis dan gelandangan kembali ke jalan dan mengulangi hal yang sama ketika tidak ada petugas yang berjaga serta sanksi pemusnahan barang-barang pengemis dan gelandangan yang peneliti rasa kurang tepat dalam memberikan sanksi administratif yang berakibat rendahnya efek jera bagi sasaran kebijakan
STANDING ABOVE THE LEVIATHAN: IMPLIKASI DIFUSI NORMA PERDAGANGAN WTO KE DALAM KEBIJAKAN IMPOR PANGAN INDONESIA PADA TAHUN 2018-2022
The power of international organizations over the policies of developing countries has become a significant discourse in the era of globalization. This study elucidates Indonesia's food import policy between 2018 and 2022, which implements import policies regardless of surplus or bumper harvests, due to the influence of agricultural trade norms introduced by the World Trade Organization (WTO). The research aims to depict the process of the WTO as an international organization capable of controlling Indonesia's food import policy from 2018 to 2022 through the analysis of the diffusion process of WTO agricultural trade norms embedded within the Agreement on Agriculture (AoA). The method utilized in this study is qualitative research, involving data collection through literature review and applying the theory of norm diffusion to understand the inference process from global norms to the national policies of developing countries. The results demonstrate that the WTO can control Indonesia's food import policy through its engagement in the norm diffusion stage as a norm diffuser, establishing itself as an organizational platform in the norm emergence stage and providing legitimacy to norms in the acceptance stage. Therefore, during the internalization of norms by Indonesia, the WTO is able to monitor and control the country's agricultural policies, resulting in consistent food import policies despite bumper harvests or surpluses
PENERAPAN SENSOR MANDIRI DI BIOSKOP: SEBUAH KAJIAN ATAS KAMPANYE 'BIOSKOP SADAR SENSOR MANDIRI' OLEH LSF
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan Sadar Sensor Mandiri di Bioskop melalui studi kasus Kampanye “Bioskop Sadar Sensor Mandiri” yang dilakukan oleh Lembaga Sensor Film (LSF). Pendekatan kualitatif dengan studi kasus digunakan untuk menganalisis bagaimana penerapan kampanye tersebut terhadap orangtua sebagai target audiens, dengan menggunakan Model Kampanye Ostergaard sebagai kerangka analisis. Melalui analisis mendalam terhadap strategi, pesan dan pendekatan kampanye, penelitian ini mengidentifikasi factor-faktor yang berperan dalam penerimaan dan implementasi sensor mandiri oleh penonton bioskop. Data diperoleh melalui wawancara dengan stakeholder terkait, dan analisis dokumen terkait kampanye. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kampanye “Bioskop Sadar Sensor Mandiri” telah memainkan peran penting dalam meningkatkan kesadaran dan pemahaman penonton tentang sensor mandiri. Namun, tantangan terkait pemahaman konsep, resistensi terhadap perubahan, dan pengaruh factor lingkungan masih menjadi hambatan dalam penerapan sensor mandiri secara menyeluruh. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman praktis tentang strategi kampanye yang dapat meningkatkan pemahaman dan perubahan perilaku sensor mandiri di bioskop. Implikasi dari temuan ini dapat digunakan oleh LSF dan pihak terkait dalam merancang strategi yang lebih efektif untuk mendorong penerapan sensor mandiri yang lebih luas dan berkelanjutan di kalangan orangtua penonton bioskop
Pemanfaatan FABA dan Air Daur Ulang PLTU Lontar untuk Pertanian Labu Madu Dalam Implementasi Pertanian Berkelanjutan di Desa Kemiri (Studi Kasus pada PT PLN Indonesia Power Lontar dan Petani di Desa Kemiri)
Studi kasus ini mengkaji potensi labu madu (Cucurbita moschata) dalam konteks pertanian berkelanjutan. Labu madu kaya akan gizi dan memiliki keunggulan dalam kandungan vitamin A dan E yang sangat baik. Hal ini menjadikan labu madu sebagai sumber gizi yang dapat membantu meningkatkan ketahanan pangan dan mengurangi stunting pada balita. Selain itu, penelitian ini juga menjelaskan pemanfaatan abu terbang (fly ash) dan abu dasar (bottom ash) dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) sebagai pupuk alami dalam pertanian. Penggunaan limbah PLTU ini dapat mengurangi pencemaran lingkungan dan meningkatkan produktivitas pertanian. Air merupakan komponen penting dalam pertanian, dan air daur ulang dari PLTU digunakan sebagai sumber air irigasi. Ini dapat membantu mengatasi masalah kekeringan yang sering mengganggu pertanian. Hasil analisis menunjukkan bahwa usaha budidaya labu madu tetap layak secara finansial, bahkan dalam skenario yang kurang menguntungkan. Dengan cara ini, penelitian ini memberikan kontribusi dalam mendukung pertanian berkelanjutan dan ketahanan pangan global, serta menjaga kelestarian lingkungan
Model Percepatan Adopsi Teknologi Digital Industri Makanan Minuman Berbasis Potensi Lokal Menuju Industri 4.0 Untuk Mendukung Ketahanan Pangan Nasional
Ketahanan pangan ditopang dari hasil produksi nasional (segar maupun olahan) dan produk impor untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional. Realitasnya produk pertanian lebih banyak dijual dalam bentuk segar akibat lemahnya proses manufaktur yang dipengaruhi jumlah industri pengolahan, investasi yang besar, keinginan untuk segera mendapatkan hasil, dan lemahnya adopsi teknologi. Sementara pemanfaatan hasil pangan sebagai input industri didominasi usaha besar (UB) dibandingkan usaha mikro kecil menengah (UMKM). Produktivitas UMKM yang rendah akibat penguasaan teknologi yang lemah ditengarai penyebab utama backward linkage ke sektor pertanian cenderung lemah dibandingkan UB. Usaha mikro kecil menengah (UMKM) sektor makanan minuman, lebih banyak mengadopsi teknologi digital dalam bentuk e-commerce dan pemasaran produk. Penelitian ini bertujuan untuk mendorong transformasi digital pada UMKM pengolahan makanan minuman (mamin) berbasis sumber daya lokal (pertanian) melalui pendekatan kelembagaan yang mensinergikan element research, innovation, learning, financing, dan marketing. Melalui pendekatan pentahelix, penelitian ini menghasilkan model kolaborasi antar pemangku kepentingan yang mewujudkan ekosistem adopsi teknologi dan framework adopsi teknologi digital yang dapat meningkatkan produktivitas UMKM makanan minuman yang mendukung pada ketahanan pangan nasional. Hasil penelitian menunjukkan industri 4.0 berpotensi diwujudkan pada UMKM dengan tingkat kesiapan digital level 4 yang diikuti dengan pendampingan dari komunitas UMKM
Peningkatan Produksi Biobutanol dengan Penambahan Surfaktan pada Fermentasi Ekstraksi dan Hidrolisis Enzimatik Menggunakan Clostridium SaccharoperbutylacetonicumN1-4
Kebutuhan energi baru terbarukan semakin meningkat, biobutanol merupakan energi alternatif yang potensial karena memiliki sifat seperti bensin. Namun, toksisitas dalam produksi biobutanol adalah masalah serius. Penambahan surfaktan diduga dapat mencegah toksisitas dalam produksi biobutanol karena menekan pergerakan mikroba dan meningkatkan kinerja produksi biobutanol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan surfaktan terhadap proses hidrolisis dan fermentasi dalam produksi biobutanol. Penelitian ini diawali dengan proses pretreatment, depectination, delignifikasi, hidrolisis enzimatik, dan fermentasi ABE untuk mengubah kulit kakao menjadi produk biobutanol. Penambahan surfaktan Tween 80 dan (PEG 6000) dapat meningkatkan kinerja proses hidrolisis enzimatik serta penambahan surfaktan dapat mendukung proses fermentasi menggunakan bakteri Clostridium Saccharoperbutylacetonicum N1-4. Hidrolisis enzimatik dilakukan dengan sampel pretreatment enzim Selulase ditambahkan variasi 0,1-10; dan 15 FPU/g. Sampel dengan optimum enzyme loading dipilih untuk hidrolisis enzimatik dengan surfaktan nilai pro-analisis Tween 80 dan PEG 6000 dengan konsentrasi 0,025% b/v. Hasil yang diperoleh dari hidrolisis enzimatik menunjukkan bahwa diperoleh konsentrasi gula pereduksi tertinggi bila penambahan surfaktan PEG 6000 adalah sebanyak 0,025% b/v adalah 9,24 g/L. Penambahan Tween 80 Surfaktant meningkatkan kinerja produksi biobutanol sebesar 26,535 g/L. Oleh karena itu, terbukti penambahan surfaktan dalam proses hidrolisis enzimatik dan fermentasi ABE dapat meningkatkan produksi biobutanol sebagai energi alternatif yang potensial pengganti bensin
KUALITAS PELAYANAN PEMBUATAN SURAT IZIN USAHA MIKRO DI DINAS PERDAGANGAN KOTA PALEMBANG TAHUN 2022
Kualitas pelayanan berkaitan erat dengan kemampuan daya tanggap, ketepatan waktu, dan sarana prasarana yang tersedia. Baik buruknya kualitas pelayanan bukan berdasarkan sudut pandang atau persepsi penyedia jasa atau layanan melainkan berdasarkan pada persepsi konsumen dan aturan atau ketentuan tentang kualitas pelayanan. Dalam hal ini, peneliti terdorong untuk mencoba mengetahui dan menjelaskan kualitas pelayanan dalam pengurusan surat izin usaha di Dinas Perdagangan Kota Palembang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (a) tangibles (bukti fisik) merupakan penampilan fasilitas fisik, peralatan, personal, dan media komunikasi dalam pelayanan. (b) reliability (kehandalan) merupakan pemenuhan pelayanan yang tepat dan memuaskan meliputi ketepatan waktu, kecakapan dalam memberikan layanan serta kecakapan dalam menanggapi keluhan jika ada keluhan yang masuk dari pelanggan serta pemberian pelayanan secara wajar dan akurat (c) responsiveness (daya tanggap) yaitu sikap tanggap pegawai dalam memberikan pelayanan yang dibutuhkan dan dapat menyelesaikan pelayanan dengan cepat sesuai jangka waktu yang telah dijanjikan (d) assurance (jaminan) mencakup pengetahuan, kemampuan, kesopanan dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki pegawai, bebas dari bahaya, resiko, dan keragu-raguan (e) emphaty (empati) keramahan pegawai pelayanan sangat diperlukan dalam proses karena pengguna layanan merupakan prioritas pegawai layanan
Penyandang Disabilitas dalam Kontestasi Pemilihan Legislatif: Analisis Sistem Pemilihan Daftar Terbuka terhadap Dinamika Pencalonan
Tulisan ini berfokus melihat bagaimana penerapan sistem representasi proporsional daftar terbuka berpengaruh pada dinamika pencalonan kandidat penyandang disabilitas pada Pemilu Legislatif 2019. Tulisan ini berangkat dari premis bahwa sistem Pemilihan Legislatif di Indonesia yang menggunakan model proporsional daftar terbuka justru menyebabkan kampanye menjadi candidate-centered politics dan personal voters. Tulisan ini berbasis penelitian kualitatif studi kasus dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara dengan dua informan kunci, yakni calon anggota legislatif penyandang disabilitas dan partai politik pengusung kandidat. Tulisan ini menemukan bahwa sistem daftar terbuka berpengaruh pada pencalonan kandidat penyandang disabilitas. Pertama, sistem daftar terbuka menyebabkan model kampanye yang sangat bertumpu pada kinerja individu kandidat dan jaringan pribadi. Sedangkan partai politik pengusung sangat minim peran. Kedua, sistem daftar terbuka menyebabkan masifnya pergerakan politik uang, tak terkecuali pada pemilih penyandang disabilitas. Hal ini menyebabkan kandidat yang menolak praktik tersebut cukup sulit bertarung untuk mendapatkan hati pemilih. Ketiga, caleg penyandang disabilitas yang masih berstatus pemain baru masih kesulitan memperoleh suara dari pemilih dengan latar belakang yang sama. Beberapa pemilih lebih tertarik kepada kandidat yang telah terbukti dan teruji kinerjanya, alih-alih memilih seseorang sebagai representasi kelompok minoritas yang sama