Buletin GAW Barir (E-Journal)
Not a member yet
    50 research outputs found

    Karakteristik Angin Monsun Barat pada Periode Puncak Musim Hujan di Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

    Full text link
    This study aims to examine the characteristics of the West Monsoon wind based on convergence values at Sultan Hasanuddin International Airport, wind disturbance patterns over the Java Sea, the source and speed of air masses, regional-scale wind disturbances over Indonesia (Tropical Cyclones and Eddies), and wind flow patterns entering the study area under different rainfall categories during the period 2014 – 2023. The research employed a quantitative method by processing rainfall data and daily zonal (u) and meridional (v) wind component data during the peak rainy season (December – February). The analysis was conducted using the GrADS application to display streamline maps, data processing with Excel, and descriptive analysis. The results indicate that for the no-rain to light-rain categories, the characteristics of the West Monsoon wind are not clearly evident, except for wind disturbance patterns over the Java Sea and the speed and consistency of winds from the air-mass source toward the study area. In contrast, for moderate to very heavy or extreme rainfall categories, the characteristics of the West Monsoon wind are clearly observed. These conditions are characterized by air masses originating from the South China Sea, supported by strong and consistent wind speeds passing through the Karimata Strait and the Java Sea to Sultan Hasanuddin International Airport, as well as the presence of wind disturbances in the form of moderate to strong convergence over the Java Sea extending to the Makassar region. Therefore, the study concludes that the no-rain and light-rain categories exhibit nearly similar wind characteristics, while the main differences in the moderate to extreme rainfall categories lie in the consistency of wind speed and the intensity of convergence over the Java Sea.Penelitian ini bertujuan mengkaji karakteristik Angin Monsun Barat berdasarkan nilai konvergensi di Bandar Udara Sultan Hasanuddin, pola gangguan angin di Laut Jawa, sumber dan kecepatan massa udara, gangguan angin skala regional Indonesia (Siklon Tropis dan Eddy), serta pola aliran angin yang memasuki wilayah penelitian pada berbagai kategori hujan periode 2014 – 2023. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan mengolah data curah hujan serta data harian komponen angin zonal (u) dan meridional (v) pada periode puncak musim hujan (Desember – Februari). Analisis dilakukan menggunakan aplikasi GrADS untuk menampilkan peta streamline, pengolahan data menggunakan Excel, dan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kategori tidak hujan hingga hujan ringan, karakteristik Angin Monsun Barat belum terlihat jelas, kecuali pada pola gangguan angin di Laut Jawa serta kecepatan dan konsistensi angin dari sumber massa udara menuju wilayah penelitian. Sebaliknya, pada kategori hujan sedang hingga hujan sangat lebat atau ekstrem, karakteristik Angin Monsun Barat tampak jelas. Kondisi ini ditandai oleh sumber massa udara dari Laut China Selatan dengan kecepatan angin yang kuat dan konsisten melalui Selat Karimata dan Laut Jawa hingga Bandar Udara Sultan Hasanuddin, serta adanya gangguan angin berupa konvergensi berintensitas sedang hingga kuat di Laut Jawa yang meluas ke wilayah Makassar. Sehingga dari hasil penelitian didapatkan, bahwa kategori tidak hujan dan hujan ringan memiliki karakteristik angin yang hampir sama, sedangkan perbedaan utama pada kategori hujan sedang hingga ekstrem terletak pada konsistensi kecepatan angin dan intensitas konvergensi di Laut Jawa

    Karaktersitik Pola Arus Laut di Perairan Selat Sunda Periode Tahun 2013 – 2023

    Full text link
    This study examines the characteristics of ocean surface current patterns in the Sunda Strait using numerical model current data from Marine Copernicus during the period 2013 – 2023. The analysis was conducted to identify the direction and speed of currents in seasonal periods, namely the west season (December – January – February), transition season I (March – April – May), east season (June – July – August), and transition season II (September – October – November). Marine Copernicus model current data was verified against High Frequency (HF) Radar observation data using the statistical method of Pearson correlation coefficient (r) and Root Mean Square Error (RMSE), resulting in an r value of 0.77 and RMSE of 0.26 m/s, indicating a good level of accuracy. The results of the analysis show that in the west season, the dominant current heads northeast with an average speed of 0.5 – 1.0 m/s and a maximum of 1.5 – 2.0 m/s. In the first transitional season, the current flows to the northeast with an average speed of 0.75 – 1.25 m/s and a maximum of 1.5 – 2.0 m/s. In the east season, the dominant current flows to the southwest with an average speed of 1.25 – 1.75 m/s and a maximum of 1.5 – 2.0 m/s. In the second transitional season, the current flows irregularly towards the west and east, with an average speed of 1.0 – 1.5 m/s and a maximum of 1.5 – 2.0 m/s. These current patterns are influenced by monsoon winds, seabed topography, and coastal interactions, which impact navigation, fisheries, and marine ecosystems.Penelitian ini mengkaji karakteristik pola arus permukaan laut di Perairan Selat Sunda menggunakan data arus model numerik dari Marine Copernicus selama periode 2013 – 2023. Analisis dilakukan untuk mengidentifikasi arah dan kecepatan arus pada periode musiman, yaitu musim barat (Desember – Januari – Februari), musim peralihan I (Maret – April – Mei), musim timur (Juni – Juli – Agustus), dan musim peralihan II (September – Oktober – November). Data arus model Marine Copernicus diverifikasi terhadap data pengamatan High Frequency (HF) Radar menggunakan metode statistik koefisien korelasi Pearson (r) dan Root Mean Square Error (RMSE), menghasilkan nilai r sebesar 0.77 dan RMSE 0.26 m/s, menunjukkan tingkat akurasi yang baik. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada musim barat, arus dominan menuju ke timur laut dengan kecepatan rata-rata 0.5 – 1.0 m/s dan maksimum 1.5 – 2.0 m/s. Pada musim peralihan I, arus menuju ke timur laut dengan kecepatan rata – rata 0.75 – 1.25 m/s dan maksimum 1.5 – 2.0 m/s. Pada musim timur, arus dominan menuju ke barat daya dengan kecepatan rata – rata 1.25 – 1.75 m/s dan maksimum 1.5 – 2.0 m/s. Pada musim peralihan II, arus menunjukkan arah tidak beraturan menuju barat dan timur, dengan kecepatan rata – rata 1.0–1.5 m/s dan maksimum 1.5 – 2.0 m/s. Pola arus ini dipengaruhi oleh angin monsoon, topografi dasar laut, dan interaksi pesisir, yang berdampak pada navigasi, perikanan, dan ekosistem laut

    Identifikasi Klasifikasi Jenis Tanah Berdasarkan Nilai Kecepatan Gelombang Geser Vs30 di Daerah Bekasi

    No full text
    The complex geological and tectonic conditions of Bekasi are interesting to study the soil layers for sustainable development. This research was conducted to analyze soil types in the Bekasi area based on the USGS topographic Vs30 value. The data used were 613 research location points with a distance of approximately 1 km. The results showed that the Vs30 value in the Bekasi area ranged from 125.5479965 m/s to 316.0310059 m/s. Based on SNI 1726:2019, the entire Bekasi area is classified as soft to medium soil types. The majority of all sub-districts in Bekasi have a soft soil type classification, such as in the areas of Muaragembong, Cabangbungin, Babelan, Tarumajaya, Tambelang, Sukatani, Pebayuran, Kedung Waringin, and parts of Tambun. The medium soil type classification is in the southern part of Tambun sub-district, a small part in the southern part of Tambelang and Sukatani sub-districts, and a small part in the north and south of Muaragembong sub – district.Kondisi geologi dan tektonik Bekasi yang kompleks menarik untuk diteliti lapisan tanahnya dalam keberlangsungan pembangunan. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis jenis tanah di wilayah Bekasi berdasarkan nilai Vs30 topografi USGS. Data yang digunakan sebanyak 613 titik lokasi penelitian dengan jarak kurang lebih 1 km. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Vs30 di wilayah Bekasi berkisar antara 125.5479965 m/s hingga 316.0310059 m/s. Berdasarkan SNI 1726:2019, secara keseluruhan wilayah Bekasi berada dalam klasifikasi jenis tanah lunak hingga sedang. Mayoritas dari keseluruhan kecamatan di Bekasi memiliki klasifikasi jenis tanah lunak, seperti di daerah Muaragembong, Cabangbungin, Babelan, Tarumajaya, Tambelang, Sukatani, Pebayuran, Kedung Waringin, dan sebagian wilayah Tambun. Klasifikasi jenis tanah sedang berada di bagian selatan kecamatan Tambun, sebagian kecil di wilayah bagian selatan kecamatan Tambelang dan Sukatani, serta sebagian kecil di utara dan selatan wilayah kecamatan Muaragembong

    Pengaruh Madden Julian Oscillation (MJO) terhadap Sifat Hujan Tahunan 1990 – 2020 di 2X11 Kayu Tanam Sumatera Barat

    No full text
    Among the various atmospheric dynamics phenomena, there is an inter – seasonal phenomenon that has a major influence on rainfall variability in Indonesia, namely the Madden Julian Oscillation (MJO). In general, increased rainfall in Indonesia, especially West Sumatra, occurs when the MJO phase is active. This study will discuss the influence of the MJO on rainfall conditions in the 2x11 Kayu Tanam area which is reviewed from its nature in 4 Phases and 8 Phases. The results of the study show that the MJO amplitude above 1 indicates the influence of the MJO phase on increasing or decreasing rainfall compared to normal in 2x11 Kayu Tanam. Based on the division of the MJO into 4 phases (phases 2 – 3, 4 – 5, 6 – 7, and 8 – 1), the dominant MJO event that influences the increase in rainfall in 2x11 Kayu Tanam occurs in phase 2 – 3, while the dominant MJO event that influences the decrease in rainfall in 2x11 Kayu Tanam occurs in phase 6 – 7. Meanwhile, based on the division of MJO into 8 phases (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, and 8), the dominant MJO event that influenced the increase in rainfall in 2x11 Kayu Tanam occurred in phase 2, while the dominant MJO event that influenced the decrease in rainfall in 2x11 Kayu Tanam occurred in phase 6.Diantara berbagai fenomena dinamika atmosfer terdapat fenomena inter – seasonal yang berpengaruh besar terhadap variabilitas curah hujan di wilayah Indonesia yaitu Madden Julian Oscillation (MJO). Secara umum peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia terutama Sumatera Barat terjadi saat fase MJO aktif. Pada penelitian ini akan membahas pengaruh MJO terhadap kondisi curah hujan di wilayah 2x11 Kayu Tanam yang ditinjau dari sifatnya di 4 Fase dan 8 Fase. Hasilnya menunjukkan bahwa amplitude MJO di atas 1 lebih menunjukkan pengaruh fase MJO terhadap peningkatan maupun penurunan curah hujan terhadap normalnya di 2x11 Kayu Tanam. Berdasarkan pembagian MJO menjadi 4 fase (fase 2 – 3, 4 – 5, 6 – 7, dan 8 – 1), kejadian MJO yang dominan mempengaruhi peningkatan curah hujan di 2x11 Kayu Tanam yaitu saat fase 2 – 3, sedangkan kejadian MJO yang dominan mempengaruhi penurunan curah hujan di 2x11 Kayu Tanam yaitu saat fase 6 – 7. Sedangkan berdasarkan pembagian MJO menjadi 8 fase (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, dan 8), kejadian MJO yang dominan mempengaruhi peningkatan curah hujan di 2x11 Kayu Tanam yaitu saat fase 2, sedangkan kejadian MJO yang dominan mempengaruhi penurunan curah hujan di 2x11 Kayu Tanam yaitu saat fase 6

    Analisis Analisis Perubahan Pola Musim dan Distribusi Frekuensi Curah Hujan di Sentani

    No full text
    One important aspect in detecting climate change is by analyzing changes in meteorological variables such as rainfall. This research was conducted to analyze climate change in a simple way in Sentani using rainfall data from the period 1991 – 2020. The method used is qualitative analysis related to the shift in the onset of the rainy season and dry season in period 1 (1991 – 2005) and period 2 (2006 – 2020) compared to their climatological norms. Then, the changes in frequency distribution in each period were compared, and the Mann Whitney statistical test was conducted to test the significance of the average rainfall in each period. Additionally, the Mann Kendall test was used to detect any changes in trends. The results show a shift in the seasonal pattern from the normal, where the onset of the dry season tends to come earlier, and the onset of the rainy season comes later than the normal conditions. There is an increase in rainfall intensity in period 2, where based on the frequency distribution, rainfall in period 1 had a maximum interval of 250 – 300 mm/ten days, while in period 2, the maximum value of the rainfall interval reached 400 – 450 mm/ten days. The Mann Whitney and Mann Kendall statistical tests confirm a significant difference in the average rainfall between the two periods and a significant increase in rainfall over the past 30 years.Salah satu aspek penting dalam mendeteksi perubahan iklim yaitu dengan menganalisis perubahan variabel meteorologi seperti curah hujan. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis perubahan iklim secara sederhana di Sentani menggunakan data curah hujan periode 1991 – 2020. Metode yang digunakan yaitu analisis secara kualitatif terkait pergeseran awal musim hujan dan kemarau pada periode 1 (1991 – 2005) dan periode 2 (2006 – 2020) terhadap normal klimatologinya. Kemudian membandingkan perubahan distribusi frekuensi pada masing – masing periode dan dilakukan uji statistik Mann Whitney untuk menguji signifikansi dari rata – rata curah hujan pada setiap periode. Selain itu untuk mendeteksi adanya perubahan kecenderungan digunakan uji Mann Kendall. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi pergeseran pola musim dari normalnya dimana awal musim kemarau cenderung datang lebih awal dan awal musim hujan datang lebih lambat dari kondisi normal. Terjadi peningkatan intensitas curah hujan pada periode 2 dimana berdasarkan distribui frekuensi, curah hujan pada periode 1 memiliki interval maksimum sebesar 250 – 300 mm/dasarian sedangkan pada periode 2 nilai maksimum dari interval curah hujan mencapai 400 – 450 mm/dasarian. Hasil uji statistik Mann whitney dan Mann Kendall mengkonfirmasi perbedaan yang siginifikan rata – rata curah hujan antara dua periode tersebut dan kenaikan curah hujan yang siginifikan selama 30 tahun terakhir

    Pola Kejadian Upwelling dalam Fishing Map and Calender (FISMAC) di Laut Banda

    Full text link
    The Banda Sea is one of the fertile waters and has the potential for fisheries and is the largest fishing area in Indonesia. Apart from that, the Banda Sea has very complex seabed topography and is crossed by the Indonesian Cross Current (Arlindo) route from the Pacific Ocean, which adds to the complexity of conditions in the Banda Sea, thereby increasing the potential for upwelling in this region. The aim of this research is to determine the characteristics of upwelling event patterns in the Banda Sea for Fishing Map and Calender (FISMAC) mapping. The data used in this research includes surface wind data, sea surface temperature and chlorophyll – a data for 2009 – 2019. Based on the analysis, this research shows that the upwelling phenomenon in the Banda Sea occurs from June to October where sea surface temperatures experience a decrease and when the easterly wind strengthens (high wind speed). The formation of cyclonic wind patterns has no effect on upwelling events. The upwelling process in the Banda Sea occurs on the southern coast, namely Buru Island, Ambon and Seram. Apart from that, the upwelling phenomenon causes an abundant distribution of chlorophyll – a from June to September. This could be a trigger for the distribution of fish in the area. The upwelling phenomenon reaches its peak in August. In the Fishing Map and Calendar (FISMAC) mapping, it can be seen that there is an increase in potential fishing zones in the Banda Sea from June to October.Laut Banda merupakan salah satu perairan yang subur serta berpotensi dalam bidang perikanan dan daerah penangkapan ikan yang terbesar di Indonesia. Selain itu Laut Banda memiliki topografi dasar laut yang sangat kompleks dan dilewati oleh jalur Arus Lintas Indonesia (Arlindo) dari Samudera Pasifik yang menambah kekompleksan kondisi di Laut Banda sehingga dapat meningkatkan potensi terjadinya upwelling di wilayah ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik pola kejadian upwelling di Laut Banda untuk pemeteaan Fishing Map and Calender (FISMAC). Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data angin permukaan, suhu permukaan laut dan data klorofil – a pada tahun 2009 – 2019. Berdasarkan pada analisis penelitian ini menunjukkan bahwa fenomena upwelling di Laut Banda terjadi pada bulan Juni hingga Oktober dimana suhu permukaan laut mengalami penurunan dan pada saat angin timuran menguat (kecepatan angin tinggi). Pembentukan pola angin siklonik tidak berpengaruh terhadap kejadian upwelling. Proses kejadian upwelling di Laut Banda terjadi di pantai bagian selatan yaitu Pulau Buru, Ambon dan Seram. Selain itu fenomena upwelling menyebabkan persebaran klorofil – a yang melimpah pada bulan Juni hingga September. Hal ini dapat menjadi pemicu terdapat persebaran ikan diwilayah tersebut. Fenomena upwelling mencapai puncaknya pada bulan Agustus. Pada pemetaan Fishing Map and Calender (FISMAC) terlihat adanya peningkatan zona potensi penangkapan ikan di Laut Banda pada bulan Juni hingga Oktober

    Analisis Mikrotremor untuk Bangunan X, Y dan Z di Wilayah Jakarta dan Sekitarnya dengan Menggunakan Metode Floor Spectral Ratio (FSR) dan Random Decrement Method (RDM)

    No full text
    Jakarta merupakan salah satu kota yang paling pesat pembangunannya di Indonesia dan banyak terdapat gedung – gedung bertingkat yang dibangun. Gedung – gedung ini rawan terjadi kerusakan akibat guncangan gempabumi yang terjadi, di mana kerusakan bangunan dengan skala besar dapat menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Analisis mikrotremor untuk bangunan bertingkat tinggi dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui karakterisktik dari suatu bangunan dengan mengetahui periode dominan, frekuensi natural, amplifikasi, Damping Ratio dan tingkat kekuatan bangunan serta melakukan analisis terhadap bangunan tersebut. Analisis mikrotremor yang dilakukan terhadap bangunan X, Y, dan Z di wilayah Jakarta dan sekitarnya menggunakan metode Floor Spectral Ratio (FSR) dan Random Decrement Method (RDM) serta diolah menggunakan software geopsy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin kecil frekuensi natural yang dimiliki suatu gedung, maka semakin besar amplifikasinya. Pada lokasi yang berbeda, kegunaan dari bangunan serta usia dari suatu gedung dapat menjadi faktor penentu karakterisktik suatu bangunan baik itu dari frekuensi natural, amplifikasi, indeks kerentanan maupun Damping Ratio yang dimiliki.  Analisis FSR di dapatkan hasil untuk dari ketiga gedung memiliki range frekuensi antara 0.63Hz – 0.91Hz, amplifikasi antara 1.72 – 10.31 dan indeks kerentanan dari 109.08 – 562.93, serta nilai RDM yang bernilai 0.95Hz – 1.10Hz. Untuk frekuensi naturalnya dan memiliki Damping Ratio antara 0.54 – 2.32%

    Kajian Awal : Prediksi Kabut Berdasarkan Data Observasi di Wilayah Bandara Zainuddin Abdul Madjid

    Full text link
    The reduction in visibility due to wet particles (fog and mist) is a phenomenon that can occur at Zainuddin Abdul Madjid Airport (ZAM). This event is quite difficult to predict using NWP models because the physical processes involved in its formation are very complex. This study aims to determine the threshold parameters that can be used as a forecasting guide to predict the occurrence of fog. The data used is from January 2024, with parameters assessed from METAR, AWOS, and Fklim71, including wind speed, temperature, dew point, cloud cover, and maximum temperature. The threshold values for each parameter will be determined and tested using a dichotomous verification method to obtain the accuracy value. Based on the analysis, fog in January 2024 formed early in the morning if there was precipitation during the afternoon, with the average wind speed at night being < 1 knot, the temperature difference between maximum temperature and air temperature after sunset being > 4.5°C, and the dew point depression at 17:00 UTC being below 1°C. In January 2024, a dichotomous verification was carried out, and the result showed an accuracy of 87%. Forecasting using this method is not 100% accurate.Penurunan jarak pandang akibat partikel basah (halimun dan kabut) merupakan fenomena yang dapat terjadi di wilayah bandara Zainuddin Abdul Madjid (ZAM). Peristiwa ini cukup sulit untuk diprediksikan oleh model NWP karena proses metafisik yang terjadi dalam pembentukannya sangat kompleks. Kajian ini bertujuan untuk menentukan threshold parameter yang dapat digunakan sebagai panduan prakirawan untuk memprediksi terjadinya kabut. Data yang digunakan merupakan data pada bulan Januari 2024 dengan parameter yang dinilai adalah parameter yang terdapat pada METAR, AWOS, dan Fklim71 yakni kecepatan angin, suhu, titik embun, perawanan dan suhu maksimum. Nilai threshold dari masing – masing parameter akan dicari dan dilakukan pengujian dengan menggunakan metode verifikasi dikotonomi untuk mendapatkan nilai akurasi. Berdasarkan hasil analisis, kabut di bulan Januari 2024 terbentuk menjelang pagi hari jika ada kejadian presipitasi di siang hari, rata – rata kecepatan angin pada malam hari yakni < 1 knot, perbedaan suhu maksimum dengan suhu udara setelah matahari terbenam yaitu > 4.5 ⁰C, dan dew point depression pada pukul 17.00 UTC berada di bawah 1⁰C. Pada bulan Januari 2024 telah dilakukan verifikasi dikotonomi dengan hasil yang didapatkan akurasi sebesar 87%. Prakiraan dengan metode ini tidak 100% akurat

    Analisis Arah dan Kecepatan Angin Permukaan Menggunakan Digaram Wind Rose di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin

    Full text link
    Sultan Hasanuddin International Airport is situated among hills and lowlands, resulting in highly variable wind patterns. In aviation operations, winds are categorized into three types: headwind, tailwind, and crosswind. The most hazardous for flight operations are tailwinds and crosswinds exceeding 10 knots. To ensure flight safety at Sultan Hasanuddin International Airport, it is essential to understand the patterns of wind direction and speed, which can be analyzed using a wind rose diagram. The data used in this study includes wind direction and speed measurements from 2014 to 2023 obtained from METAR (Meteorological Aerodrome Report) at the Sultan Hasanuddin Class I Meteorological Station. The results indicate that the dominant wind direction from 2014 to 2023 at Sultan Hasanuddin International Airport is from the east (67.5°  –  112.5°), with the highest wind speed recorded during this period being ≥ 21.58 knots. Crosswind or aligned wind conditions with runways 03 – 21 and 13 – 31 still show wind speeds exceeding 10 knots, which poses a potential hazard of crosswinds or tailwinds for aircraft.Bandara Internasional Sultan Hasanuddin merupakan salah satu bandara yang terletak diantara perbukitan dan dataran rendah sehingga dengan kondisi tersebut pergerakan angin di bandara tersebut sangat beragam. Dalam kegiatan operasional penerbangan, angin terbagi dalam 3 jenis yaitu headwind, tailwind, dan crosswind, namun yang membahayakan bagi penerbangan adalah tailwind dan crosswind dengan kecepatan diatas 10 knot. Untuk mewujudkan keselamatan penerbangan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin diperlukan pemahaman tentang pola arah dan kecepatan angin permukaan yang dianalisis dengan menggunakan diagram windrose. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data arah dan kecepatan angin permukaan dari tahun 2014 – 2023 yang didapatkan dari METAR (Meteorological Aerodrome Report) Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Hasanuddin. Berdasarkan hasil dan pembahasan yang didapatkan, arah angin yang dominan dari tahun 2014 – 2023 di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin adalah timur (67.5°  –  112.5°) serta jangkauan kecepatan angin tertinggi pada tahun 2014 – 2023 di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin sebesar ≥ 21,58 knot. Pada arah angin yang bersilangan atau searah dengan runway 03 – 21 dan runway 13 – 31 masih ditemukan adanya kecepatan angin lebih dari 10 knot sehingga dengan kondisi tersebut berpotensi menghasilkan crosswind atau tailwind yang membahayakan pesawat

    Pemanfaatan Data Pengamatan Pilot Ballon untuk Analisis Kondisi Atmosfer sebelum Terjadinya Hujan Lebat di Wilayah Samarinda (Studi Kasus 2015 – 2022)

    Full text link
    Heavy rain is a type of extreme weather that is generally caused by Cumulonimbus clouds. Heavy rains occur quite frequently in Indonesia, especially in Samarinda during 2015 – 2022. There has been quite a lot of research on heavy rain. Another approach that can be used for research on heavy rain is upper air observation data. From that data, air movement and atmospheric lability can be determined. One of the instruments used for upper air observations is the Pilot Balloon (Pibal). In addition, not enough utilization of Pibal observation data has been carried out. Therefore, this research will utilize Pibal observation data to analyze atmospheric conditions before heavy rains in Samarinda during 2015 – 2022. Pibal observation data is processed using RAOB 5.7, so that air movement and atmospheric lability can be determined (850 mb wind speed, Bulk Richardson Number (BRN) Shear, and Storm Relative Helicity (SRH)). The results of this study indicate that before heavy rain occurs, air movement from the surface layer to 3 km generally moves clockwise, which indicates convective activity that can support cloud formation and rain. However, the atmosphereic lability values observed before the occurrence of heavy rains are generally quite low. Only one incident (K10) showed that the atmospheric lability was high that can increase that convective activity and the formation of Cumulonimbus clouds. On K10 there is an increase windspeed on the 850 mb which reached 32 knots, high BRN Shear and SRH values, reaching 26 m2/ s2 dan 226 m2/ s2.Hujan lebat merupakan salah satu jenis cuaca ekstrim yang umumnya disebabkan oleh awan Cumulonimbus. Kejadian hujan lebat cukup sering terjadi di wilayah Indonesia, khususnya di wilayah Samarinda selama tahun 2015 – 2022. Penelitian mengenai hujan lebat sudah cukup banyak dilakukan. Pendekatan lain yang dapat digunakan untuk penelitian mengenai hujan lebat adalah dengan menggunakan data pengamatan udara atas. Dari data tersebut dapat diketahui gerak udara dan labilitas atmosfer di suatu wilayah. Salah satu instrumen yang digunakan untuk pengamatan udara atas adalah Pilot Balloon (Pibal). Pemanfaatan data pengamatan Pibal belum cukup banyak dilakukan. Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan dilakukan pemanfaatan data pengamatan Pibal untuk analisis kondisi atmosfer sebelum terjadinya hujan lebat di wilayah Samarinda tahun 2015 – 2022. Data pengamatan Pibal diolah menggunakan aplikasi RAOB 5.7, sehingga dapat diketahui gerak udara dan labilitas atmosfer (kecepatan angin 850 mb, Bulk Richardson Number (BRN) Shear, dan Storm Relative Helicity (SRH)). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebelum terjadinya hujan lebat gerak udara dari lapisan permukaan hingga ketinggian 3 km umumnya bergerak searah jarum jam (clockwise), yang mengindikasikan adanya aktivitas konvektif yang mendukung pembentukan awan dan terjadinya hujan. Namun, nilai labilitas atmosfer yang teramati sebelumnya terjadinya hujan lebat umumnya relatif rendah. Hanya satu kejadian yaitu pada kejadian – 10 (K10) yang menunjukkan labilitas atmosfer cukup tinggi sehingga dapat meningkatkan aktivitas konvektif dan pembentukan awan Cumulonimbus. Pada K10 teramati adanya peningkatan kecepatan angin lapisan 850 mb yang mencapai 32 knot, serta nilai BRN Shear dan SRH yang cukup tinggi yaitu mencapai 26 m2/ s2 dan 226 m2/ s2

    38

    full texts

    50

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Buletin GAW Barir (E-Journal)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇