JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA
Not a member yet
115 research outputs found
Sort by
PROSES ADAT PERKAWINAN MASYARAKAT DI KABUPATEN MUKOMUKO PROPINSI BENGKULU
Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan tentang proses adat perkawinan masyarakat di Kabupaten Mukomuko Propinsi Bengkulu, mulai dari proses awal sampai akhir, serta bagaimana perubahan yang terjadi pada proses adat perkawinan itu sendiri. Hal ini berkaitan dengan persoalan bahwa masyarakat Mukomuko yang memiliki adat perkawinan tidak bisa dilepaskan dari perubahan-perubahan dalam proses adat perkawinan akibat perkembangan zaman. Hal ini terlihat pada perubahan dalam pemakaian warna baju, yakni memakai baju kurung, biasanya warnanya putih, namun sekarang ada yang biru muda dan pada dasarnya masih tetap berbaju kurung. Penelitian ini menggunakan metode deskripsikualitatif, yang berupaya menggali tentang adat istiadat dan perubahan yang terjadi pada adat perkawinan masyarakat Mukomuko. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa secara umum adat perkawinan Mukomuko terdiri dari acara (berasan), bertunang atau terang tando, persiapan pernikahan, khatam Al Quran, pelaksanaan pernikahan, mandi bungo (bunga) bagi keluarga raja-raja, dan manjalang mertua. Tradisi tersebut tidak mengalami perubahan secara subtansi namun terjadi pada pakaian yang biasa dipakai tanpa mengubah bentuk selain warna dalam acara prosesi perkawinan tersebu
STRUKTUR MASYARAKAT SEMENDE DI KABUPATEN OGAN KOMERING ULU SELATAN
Semende merupakan nama salah satu suku bangsa di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (OKUS). Suku bangsa ini dikenal dengan adat dan budaya yang unik berbeda dengan suku lain yang ada di kawasan OKUS. Semende merupakan bagian dari suku Pasemah, namun dalam perkembangan selanjutnya mereka memilik tradisi dan aturan adat sendiri berbeda dengan suku bangsa Pasemah lainnya. Perbedaan ini berkaitan erat dengan proses pembentukan mereka menjadi sebuah suku bangsadan. struktur adat yang mereka miliki. Untuk menjelaskan hal tersebut dilakukan pendekatan kualitatif dengan mewawancarai beberapa tokoh masyarakat Semende di Muara Dua dan beberapa daerah Semende lainnya di Kabupaten OKUS. Sejarah dan struktur adat mengambarkan bahwa merekamerupakan kelompok komunal yang saling terkait dan berbeda denga rumpun Pasemah lainnya
PENGOBATAN TRADISIONAL PADA MASYARAKAT KOTA PRABUMULIH PROPINSI SUMATERA SELATAN
Tradisi pengobatan tradisional masyarakat Kota Prabumulih mempercayai pengobatan yang bersifat gaib. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang berupaya menggali alasan masyarakat mempercayai pengobatan tradisional melalui wawancara mendalam. Pengalaman, sikap, dan tindakanyang dilakukan masyarakat terhadap pengobatan tradisional juga mengalami pergeseran tentang tradisi kepercayaan pengobatan tradisional yang bersifat hal gaib
MITOS JENIS KELAMIN BAYI PADA IBU HAMIL DI MASYARAKAT MINANGKABAU
Peristiwa kehamilan pada setiap perempuan berbeda pengalamannya. Bahkan dari satu ibu saja ketika hamil anak pertama akan mengalami perbedaan dengan kehamilan anak selanjutnya. Oleh karena itu banyak mitos tanda-tanda yang ditampilkan ibu hamil dan memiliki mitos sendiri bagi masyarakat Minangkabau dalam menebak jenis kelamin bayi.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui mitos tandatanda dan usaha yang dilakukan oleh seorang ibu hamil guna mendapatkan anak dengan jenis kelamin tertentu.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dengan observasi dan wawancara dengan informan yakni tiga orang tukang urut dan lima orang perempuanyang pernah melakukan upaya mendapatkan anak berjenis kelamin tertentu. Hasil penelitian ini diketahui bahwa sebagian dari mitos tanda-tanda dan usaha yang dilakukan untuk mendapatkan anak dengan jenis kelamin tertentu diyakini kebenarannya. Namun sebagian lain tidak membuahkan hasil. Akan tetapi, hal ini tidak menyurutkan usaha dari seorang perempuan untuk mendapatkan keinginananak dengan jenis kelamin tertentu yang didambakannya
SEJARAH KOMANDEMEN SUMATERA DI PROVINSI SUMATERA BARAT (1945-1949)
Tulisan ini ingin menjelaskan tentang sejarah komandamen Sumatera di Propinsi Sumatera Barat, mulai dari latarbelakang berdirinya, proses terbentuknya, perkembangan dan tentang akhir dari komandamen Sumatera tersebut. Pembentukan Komandemen Sumatera bisa dirunut dari kondisi bangsa Indonesia setelah merdeka. Setelah Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945, PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) membentuk BKR (Badan Keamanan Rakyat) sebagai bagian dari BadanPertolongan Korban Perang. BKR bukan badan militer dan semata-mata semacam Hansip Wanra saja saat itu. Pada tanggal 5 Oktober 1945, B.K.R ini dengan maklumat Pemerintah no.6, telah ditransformasikan menjadi T.K.R (Tentara Keamanan Rakyat). Isi maklumat untuk memperkuatperasaan keamanan umum, maka diadakan satu Tentara Keamanan Rakyat. Pada tanggal 6 Oktober 1945 keluar maklumat tambahan yaitu, sebagai menteri keamanan rakyat diangkat Soeprijadi.Komandemen Sumatera pindah ke Bukitinggi beberapa hari sebelum agresi Belanda pertama. Pada waktu ini yang seharusnya komandemen yang membentuk kesatuan-kesatuan, tetapi sekarang terbalik. Devisi lebih dahlu lahir dari komandemen. Laskar-laskar lebih dahulu lahir dari komandokomando.Pada waktu agresi militer Belanda II ini markas komandemen Sumatera di Bukittinggi pernah di bom oleh Belanda ketika para anggota Komandemen Sumatera sedang rapat. Seiring dengan kondisi ini pada tanggal 21 Desember 1947 Bukittinggi dibumihanguskan. Dengan kondisi inipun basikomandamen Sumatera di pindahkan ke Rao. Komandemen memilih Rao sebagai basis mengingat letak geografisnya dan mudah berhubungan dengan Tapanuli. Dari Rao ada jalan yang menuju ke Rokan, Pasir Pangarayan dan Bagansiapiapi langsung ke Selat Malaya dan Singapura
REFLEKSI NILAI BUDAYA DALAM UNGKAPAN TRADISIONAL MASYARAKAT LUBUKLINGGAU SUMATERA SELATAN
This research investigates cultural values reflection existing within Lubuklinggau community in South Sumatera Province through several of traditional expressions. They are: 1) Expression of payu ponga nilek ngelup. Jengan melawan wang tue nilek meresak; (2) Expression of awak tue betunak dǝak hiyang melam kire nak ngelong; (3) Expression of lah ngidar lah baputar lom dǝpat jelan hatuju; (4) Expression of makan ati nenggung sedingan rube abis resan urung; (5) Expression of lambat bekat gǝcang dǝpat. By using literary sociological approach and reinforced by hermeneutic analysis, it was concluded the five expressions reflect the cultural values of Lubuklinggau community, especially related to several life aspect, namely: (1) The need for a perennial commitment to be consistent and obedient to parents; (2) The importance of wife presence as a life partner and the significance of maintaining the integrity of family; (3) The need for knowledge in understanding the dynamics of dialogue that arises within community; (4) The need to compromise in maintaining friendship and healthy relationship amidst citizens; and (5) The importance of accurateness as well as swiftness in every field of engaged business.Keywords: cultural values reflections, traditional expressions, Lubuklinggau
TOLERANSI ANTARUMAT BERAGAMA DALAM PANDANGAN MAHASISWA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS ANDALAS PADANG
Toleransi dan kerukunan antar umat beragama bagaikan dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan satu sama lain. Kerukunan berdampak pada toleransi; atau sebaliknya toleransi menghasilkan kerukunan;keduanya menyangkut hubungan antar sesama manusia.Toleransi antar umat beragama tercermin pada tindakan-tindakan atau perbuatan yang menunjukkan umat saling menghargai, menghormati, menolong,mengasihi, dan lain-lain. Termasuk di dalamnya menghormati agama dan iman orang lain; menghormati ibadah yang dijalankan oleh orang lain; tidak merusak tempat ibadah; tidak menghina ajaran agama orang lain; serta memberi kesempatan kepada pemeluk agama menjalankan ibadahnya.Kebebasan beragama, menjadikan seseorang mampu meniadakan diskriminasi berdasarkan agama; pelanggaran terhadap hak untuk beragama; paksaan yang akan mengganggu kebebasan seseorang untuk mempunyai agama atau kepercayaan. Termasuk dalam pergaulan sosial setiap hari, yang menunjukkan saling pengertian, toleransi, persahabatan dengan semua orang, perdamaian dan persaudaraan universal, menghargai kebebasan, kepercayaan dan kepercayaan dari yang lain dan kesadaran penuh bahwa agama diberikan untuk melayani para pengikut-pengikutnya
SEMEN PADANG DAN POLITIK EKONOMI KOLONIAL
This article looks at the history and development of Padang Cement Fabric in its relationship with the Dutch economic policy by the end of the 19th C. and in the beginning of the 20th C. The foundation of the oldest cement fabric in Indonesia had a close relationship with political-economic policy introduced by the Dutch colonial government, which gave many opportunities to the foreign investors to exploit its colony. Padang Cement Fabric itself only one of several fabrics, minings, and big plantations in which the investors invested their capital during the liberal era in West Sumatra. The construction of Padang Cement Fabric also represented colonial government policy in urban planning in Padang municipality. In the beginning of the 20th C., the development orientation of Padang was directed to the eastward and southward of the city. Besides that, to encourage the investors and to implement its urban planning policy, colonial government provided special supports, such as introducing regulations to reduce administrative process for investors to invest their money in this region. The government even sacrificed the native peoples in order to succeed its colonial political-economic
ANNA KUMARI: MAESTRO SENI TARI DAN SONGKET PALEMBANG
Penulisan biografi Anna Kumari bertujuan untuk mengungkap dan menjelaskan pemikirannya tentang tari dan songket tradisional Palembang. Metode yang digunakan adalah metode sejarah, yaitu menjelaskan suatu persoalan berdasarkan perspektif sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sosok Anna Kumari adalah sebagai seorang seni pertunjukan dan koreografer terkemuka di Palembang dimana ia menciptakan tidak kurang dari 50 jenis tarian tradisional dan tarian kontemporer. Karya tariannya tidak hanya tampil di bumi Sriwijaya tapi juga mencapai panggung nasional, bahkanmancanegara. Anna Kumari juga dikenal sebagai penenun Songket Palembang yang terkenal. Usaha menenun awalnya didirikan untuk memenuhi kebutuhan tari dan kemudian pada akhirnya berkembang menjadi industri rumah tangga yang sedang berkembang. Anna Kumari telah menerima banyak penghargaan atas usahanya mempromosikan Songket Palembang, baik dari pemerintah, maupun institusi lainny
PIMPINAN MTI TABEK GADANG PADANG JAPANG DARI MASA KEMASA
Tulisan ini menjelaskan para pimpinan MTI Tabek Gadang dari masa ke masa. Diantara alasan yang melatarinya adalah perjalanan panjang dan pergantian kepemimpinan yang telah silih berganti. Penelitian ini adalah penelitian kwalitatif dengan pendekatan penulisan biografi. Beberapa hasil yang terungkap pemimpin MTI Tabek Gadang semenjak berdiri sampai penelianini telah silih berganti beberapa orang pemimpin. Pemimpin terdiri dari keturunan dan alumni MTI Tabek Gadang