JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA
Not a member yet
115 research outputs found
Sort by
KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT PEDESAAN DI SIMANCUANG KABUPATEN SOLOK SELATAN PROVINSI SUMATERA BARAT
Kajian ini memusatkan perhatian pada kajian bentuk kearifan lokal dalam masyarakat pedesaan di Simancuang Nagari Alam Pauh Duo Kecamatan Pauh Duo Kabupaten Solok Selatan Provinsi Sumatera Barat. Secara metodologi, penelitian ini mengunakan metode penelitian sejarah. Hasil kajian diperoleh bahwa bentuk kearifan lokal pada masyarakat Simancuang dapat dibagi dua yakni (1) pada persawahan dan (2) hutan. Sebagian besar warga desa yang berdiri sejak tahun 1974 ini berprofesi sebagai petani padi dan masih mempertahankan cara menanam padi tradisional sehingga jumlah pupuk dan pembasmi hama berbahan kimia yang digunakan jauh lebih sedikit. Kemudian dalam bidang kehutanan, berdasarkan surat keputusan Menteri Kehutanan Nomor : SK.573/Menhut-II/2011 tanggal 03 Oktober 2011 tentang Penetapan Kawasan Hutan Lindung sebagai areal kerja Hutan Desa/Nagari Simancuang Alam PauhDuo seluas + 650 (enam ratus limapuluh) hektar di Kecamatan Pauh Duo Kabupaten Solok Selatan Propinsi Sumatera Barat, dan ini merupakan dasar hukum berdirinya Hutan Nagari Simancuang Nagari Alam Pauh Duo Kabupaten Solok Selatan yang selanjutnya mendapatkan izin pengelolaan Hutan Nagari berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Sumatera Barat Nomor: 522-43-2012 tanggal 19 Januari 2012 tentang Pemberian Hak Pengelolaan Hutan Nagari pada Kawasan Hutan Lindung seluas + 650 hektar kepada Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) Simancuang
KEARIFAN LOKAL DALAM TRADISI MANCOLIAK ANAK PADA MASYARAKAT ADAT SILUNGKANG
Abstrak Kearifan lokal merupakan prinsip-prinsip dan cara-cara tertentu yang dianut, dipahami, dan diaplikasikan oleh masyarakat lokal dalam berinteraksi dan berinterelasi dengan lingkungannya dan sebagai hasil produksi kebiasaan/tradisi yang hidup dan tumbuh secara turun temurun bersama masyarakat adat. Ia berfungsi sebagai pembentuk & penuntun perilaku manusia dalam kehidupan yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, dan bernilai baik yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Bahkan dalam masyarakat ia dianggap sebagai entitas penentu harkat dan martabat manusia yang memiliki kecerdasan, pengetahuan dan moral yang menjadi dasar pembangunan peradaban suatu masyarakat.Ketidakberdayaan masyarakat adat dalam mempertahankan eksistensinya merupakan ancaman yang serius untuk kelanjutan tradisi berikutnya, seperti halnya tradisi mancoliak anak pada masyarakat adat Silungkang yang sudah mulai hilang dan wajib dilestarikan keberadaanya.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai-nilai kearifan lokal dalam tradisi mancoliak anak pada masyarakat adat Silungkang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi sedangkan data diperoleh melalui wawancara,dan dokumentasi.Penelitian ini menemukan kearifan lokal tersebut adalah :agama mengajarkan, adat memakai; saling tenggang rasa;berat sama dipikul ringan sama dijinjing; saling menjaga hubungan kekeluargaan; hidup dikandung adat, mati dikandung tanah; dapat musibah diimbaukan, dapat kebaikan diimbaukan;yang tua dihormati, yang muda disayangi, yang sebaya dikawani; dan seia sekata.
EVEN OLAHRAGA DAN KOTA SATELIT: PERKEMBANGAN JAKABARING DALAM TINJAUAN SEJARAH KOTA
Pada 1970-an-2011, Jakabaring telah mengalami metamorfosis dari pinggiran Kota Palembang. Di masa lalu, daerah Jakabaring dianggap sebagai wilayah marginal, masalah sosial, rawan kejahatan, kemudian berubah menjadi daerah “satelit” Kota Palembang. Ada beberapa faktor yang menyebabkandaerah ini pinggiran berkembang pesat. Pertama pengaruh event olahraga. Beberapa acara olahraga yang pernah diadakan di Jakabaring antara lain: Pekan Olahraga Nasional (PON), Asian Games dan SEA Games di 2011. In kedua, kebijakan pemerintah di Provinsi Sumatera Selatan untuk mengembangkan Jakabaring sebagai “jembatan” Ulu dan Ilir daerah
KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN HUTAN DI DESA TABALA JAYA KECAMATAN BANYUASIN II KABUPATEN BANYUASIN PROPINSI SUMATERA SELATAN1
Tulisan ini memfokuskan tentang kearifan lokal masyarakat dalam pengelolaan hutan di Desa Tabala Jaya Kabupaten Banyuasin II Propinsi Sumatera Selatan, mulai dari bentuk kearifan lokal masyarakat dalam pengelolaan hutan, faktor-faktor yang menentukan eksistensi kearifan lokal tetap terjaga dalam pengelolaan hutan serta pengaruh kearifan lokal dalam pengelolaan hutan di Desa Tabala Jaya Kecamatan Banyuasin II Kabupaten Banyuasin Propinsi Sumatera Selatan. Penelitian ini mengunakan metode penelitian sejarah. Dalam metode penelitian sejarah melalui empat tahapan penting yakni pertama heuristic, mencari dan menemukan sumber-sumber sejarah atau pengumpulan sumber, Kedua, kritik menilai otentik atau tidaknya sesuatu sumber dan seberapa jauh kredibilitas sumber. Ketiga, sistesis dari fakta yang diperoleh melalui kritik sumber atau disebut juga kredibilitas sumber, dan terakhir dalam metode penelitian ini yakni, penyajian hasilnya dalam bentuk tertulis. Hasil kajian diperoleh bahwa salah-satu masyarakat yang masih mempertahankan kearifan lokal dalam pengelolaan hutan yakni masyarakat Desa Tabala Jaya Kecamatan Banyuasin II Kabupaten Banyuasin Propinsi SumateraSelatan. Bagi masyarakat di Desa Tabala Jaya, hutan dipandang sebagai pengikat dan penanda kolektivisme serta media untuk terus mempertahankan ikatan kekerabatan. Karenanya bagi Masyarakatdi daerah tersebut, hutan yang merupakan bagian dari ulayat tidak dipandang dan diposisikan sekedar faktor produksi belaka, tetapi juga sekaligus mengikat hubungan sosial masyarakat. Penguasaan kolektiftersebutlah membentuk ikatan kekerabatan dalam penguasaannya diantara masyarakat tersebut. Bagi masyarakat di daerah tersebut, hutan yang merupakan bagian dari ulayat tidak dipandang dan diposisikansekedar faktor produksi belaka, tetapi juga sekaligus mengikat hubungan sosial masyarakat. Penguasaan kolektif tersebutlah membentuk ikatan kekerabatan dalam penguasaannya diantara masyarakat tersebu
KEARIFAN LOKAL DALAM UNGKAPAN TRADISIONAL: MEMBACA ULANG KARAKTERISTIK MASYARAKAT PASAMAN BARAT
Melalui tulisan ini diketengahkan bahasan tentang karakteristik masyarakat Minangkabau di Pasaman Barat Provinsi Sumatera Barat, yaitu sebagai bagian dari kearifan lokal (local wisdom). Hal ini direfleksikan melalui berbagai ungkapan tradisional Minangkabau yang terdapat di daerah ini. Ungkapantradisional dimaksud adalah : (1) Ungkapan mandapek raso kailangan; (2) Ungkapan sairiang batuka jalan sarupo balain sabuik; (3) Ungkapan jorong batakok tanun baguluang; (4) Ungkapan mamak bapisau tajam kamanakan balihia gantiang; dan (5) Ungkapan maampang ndak sampai ka subarangmandindiang ndak sampai ka langik. Dengan menggunakan pendekatan hermeneutik disimpulkan bahwa kelima ungkapan berbicara tentang berbagai karakteristik masyarakat Minangkabau di Pasaman Barat, di antaranya responsif, menghargai perbedaan, profesional, bertanggung jawab, proporsional, berpikir jauh ke depan serta toleran
EKSISTENSI TARI GANDAI PADA MASYARAKAT MUKOMUKO
Tari gandai merupakan seni tradisi yang terdapat pada masyarakat Mukomuko di Provinsi Bengkulu, dengan karakteristiknya perpaduan unsur tari, pantun, dan musik, serta aneka ragam gerakan yang mewarnainya. Tari gandai sebagai tarian khas masyarakat Mukomuko memiliki beberapa unsur yang biasa terdapat dalam seni tradisional meliputi gerak, pola lantai, iringan, penari, tempat dan waktu pertunjukan. Kajian ini bertujuan untuk mengungkapkan bagaimana eksistensi tari gandai pada masyarakat pendukungnya (Mukomuko). Pentingnya kajian ini karena tari gandai merupakan tari yang masih eksis dalam kehidupan masyarakat pendukungnya, dan selalu ditampilkan pada waktu pelaksanaanupacara perkawinan (bimbang). Metode yang digunakan adalah metode kualitatif melalui studi kepustakaan, wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tari gandai berhubungan dengan legenda Malin Deman dan Puti Bungsu, dan gerakan-gerakan tarinya merefleksikan kisah cintakeduanya. Sekarang, tari gandai menjadi salah satu icon budaya di Kabupaten Mukomuko
KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT DI KABUPATEN KAUR PROVINSI BENGKULU
This paper focuses on the shape and influence of local wisdom of rural communities in Kaur Districtof Bengkulu Province. The communities in the area have local wisdom that still exist and have notchanged and even as a social buffer for conservation efforts and sustainability of natural resources,especially in the field of agriculture. This research uses historical research method. In historical researchmethods through four important stages: first heuristic, searching for and finding historical sources orcollecting resources, Secondly, criticism assesses whether authentic or not a source and how muchsource credibility. Third, the synthesis of facts obtained through source criticism or credibility of thesource, and fourth, the presentation of the results in written form. The result of this research is thatpeople in Kaur District of Bengkulu Province have local wisdom in agriculture called repung. Thecommunity provides land in every clan to be planted with food crops called repung. The form of localwisdom of the community in Kaur District can be divided into the first form, local wisdom in agriculture.Second, local wisdom in forest management. The influence of local wisdom in the life of the communityin the environment of society in Kaur, its influence can be divided into two that is positive and will bepreserved environmental sustainability and negative, that is environmental damage for the people ofKaur itself
LAMANG DAN TRADISI MALAMANG PADA MASYARAKAT MINANGKABAU
Lamang is a typical food of Minangkabau society made from puluik rice with container from gutters(bamboo). Making lamang become the tradition of Minangkabau society since ancient times andcommonly referred to as nightang tradition. Lamang and night traditions are interesting and need toknow more in deep relationship in Minangkabau society life. This study uses a qualitative approach todata and information that is complete and in-depth. Nighttime tradition is the expression of Minangkabausociety towards the form of biological fulfillment and their fellow social relation, both within the widercircle of relatives and society. The existence of the night tradition is stronger the bonds of kinship,solidarity and symbols between peers. That is, the food lamang (lemang), as one of traditional food,and night traditions related to the culture of its people Minangkabau culture
SAWAHLUNTO DAN PELESTARIAN MULTIKULTURAL: SEBUAH SUMBANGSIH PEMIKIRAN UNTUK WISATA TAMBANG BERBUDAYA
Sawahlunto is a city which formed from coal mining activity was ever victorious in its time. More orless a century more, the oldest company in Sumatera Island was ever lived and sustain the Sawahluntocity and West Sumatra in generaly. To developing this paper, there are two questions that can be asked,what the cause so Sawahluto turned into a cultural tourism with mining city? and how to developmenttourism of Sawahlunto in side analysis of SWOT?After the year 2002, Sawahlunto has entered thepurna tambang. All open mining activities are inadequate, and the revenue of Kota Sawahlunto’sAPBD also has an effect because it depends on input from PT. Bukit Asam (Persero), Tbk-Mining UnitOmbilin (PT.BA-UPO). The government of Sawahlunto, under Mayor Amran Nur, strives to bring inforeign exchange for mining cities. The concept of a mining town into a cultured mining town wascreated, it will given income of this mining tour can be a mainstay of Sawahlunto in the future, thereare some things that need to be observed, especially with regard to SWOT analysis. If four things in theSWOT analysis that can be overcome, Pemko Sawahlunto will easily make the area as a touristdestination