Andragogi (E-Journal)
Not a member yet
148 research outputs found
Sort by
Analisis Bibliometrik Tentang Tren Manajemen Pengetahuan Berdasarkan Afiliasi Penulis dari Indonesia
Knowledge management is essential for an organization, especially in managing the knowledge possessed by its human resources to be more effective in achieving its goals. In its development, research trends on global knowledge management have crossed national borders (across countries). However, research written by authors whose affiliates are from Indonesia is exciting and essential to study in research mapping based on the author's country affiliation and its various findings. This study aims to map an outline of the current state of research on knowledge management based on author affiliations from Indonesia and see future research opportunities, especially related to research trends and novelties. The method used is bibliometric analysis with the help of VOSviewer software and the Scopus database. The co-authorship and co-occurrence of keywords were analyzed on 125 documents in 2017-2021. The results showed 12 author network clusters and five keyword clusters. The most dominant keywords that emerged included knowledge management, knowledge, Indonesia, knowledge management systems, and e-learning.
(Manajemen pengetahuan sangat penting bagi suatu organisasi terutama dalam mengelola pengetahuan yang dimiliki oleh sumber daya manusia pada organisasi supaya lebih efektif dalam mencapai tujuannya. Dalam perkembangannya, tren penelitian tentang manajemen pengetahuan secara global telah melampaui batas negara (lintas negara). Akan tetapi penelitian yang ditulis oleh penulis yang afiliasinya dari Indonesia menarik dan penting dan relatif baru, untuk diteliti dalam rangka pemetaan penelitian berdasarkan afiliasi negara penulis beserta berbagai temuannya. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan garis besar keadaan penelitian terkini tentang manajemen pengetahuan berdasarkan afiliasi penulis dari Indonesia dan melihat peluang penelitian ke depan terutama berkaitan trend penelitian dan kebaruan (novelty). Metode yang digunakan yaitu analisis bibliometrik dengan bantuan perangkat lunak VOSviewer dan database Scopus. Analisis co-authorship dan co-occurrence kata kunci dilakukan terhadap 125 dokumen pada tahun 2017-2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 12 klaster jejaring penulis dan terdapat 5 klaster kata kunci. Kata kunci yang paling dominan muncul antara lain knowledge management, knowledge, Indonesia, knowledge management system, dan e-learning)
Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa Tipe Kepribadian Sanguin (Percaya Diri) dalam Proses Pembelajaran Matematika
Kemampuan komunikasi matematis sangat dibutuhkan oleh siswa dalam proses pembelajaran matematika. Namun kenyataan di lapangan tidak sesuai dengan harapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi matematis masih kurang dikembangkan dan digunakan oleh siswa. Matematika dianggap sulit bagi siswa karena melibatkan rumus dan perhitungan yang rumit. Siswa dengan tipe kepribadian Percaya Diri juga mengalami kesulitan dalam mengembangkan dan menerapkan kemampuan komunikasi matematis. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kemampuan komunikasi matematika siswa yang memiliki kepercayaan diri dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan metode diskusi kelompok. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian yaitu siswa SMP kelas VIII tipe optimis, menggunakan tes kepribadian, menggunakan teknik diskusi kelompok untuk mengamati aktivitas siswa dalam proses pembelajaran matematika, dan merekam wawancara langsung. Kami menggunakan transkrip wawancara untuk mengetahui kemampuan komunikasi matematis siswa optimis dan membimbing mereka melalui proses pembelajaran matematika dengan metode diskusi kelompok. Hasilnya, ditemukan bahwa siswa dengan tipe kepribadian percaya diri cenderung tidak mampu mengungkapkan pemahaman matematisnya melalui komunikasi matematis dalam proses pembelajaran matematika menggunakan metode diskusi kelompok. Guru mata pelajaran matematika khususnya yang mengajar kelas VIII harus mampu mempelajari dan memahami situasi dan ciri-ciri siswa tipe percaya diri terutama dalam hal kemampuan komunikasi matematisnya. Siswa dengan Tipe Kepribadian Percaya Diri membutuhkan perhatian, bimbingan, dan bimbingan guru yang lebih dalam proses pembelajaran matematika agar mereka dapat menyerap dan memahami pelajaran dengan baik, serta mampu menggunakan kemampuan komunikasi matematika dengan sukses
Upaya Peningkatan Kompetensi Guru dalam Pemanfaatan Media Digital Canva Melalui In-House Training
Latar belakang masalah dalam peneltiian ini yaitu lemahnya guru dalam memanfaatkan media pebelajaran berbasis Canva. Sedangkan tujuan penelitian ini uapaya kepala kepala sekolah meningkatkan kompetensi guru dalam memanfaatkan media Canva untuk pembelajaran melalui In House Training (IHT). Metode penelitian yang digunakan yaitu pre-experimental design jenis one-group rates pasca tes design. Dikatakan pre-experimental design karena metode tersebut sering disebut juga dengan istilah “quasi eksperiment” desain ini belum merupakan eksperimen sungguh-sungguh. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan data yang diperoleh, dapat dinyatakan bahwa pada tahap I guru di SDN Syekh Tubagus Abdullah dapat menguasai materi pembuat video pembelajaran canva dengan baik. Hanya ada satu orang guru yang yang nilainya di bawah rata-rata. Namun demikian untuk memantapkan lagi keterampilan guru dalam membuat video pembelajaran animasi, penulis perlu melakukan Kembali kegiatan IHT tahap II. Sementara itu pada tahap II hasil pelaksanaan IHT berdasarkan instrumen yang diisi oleh responden sebanyak 11 peserta (Guru) dan mencapai rata-rata score 100, artinya sebagian besar indikator yang telah ditetapkan dapat tercapai dengan sangat baik. Berdasarkan data yang ada dapat disimpulkan bahwa kegiatan In House Training (IHT) dalam pemanfaat video animasi pembelajaran yang dilaksanakan selama dua hari memberikan dampak yang sangat luar biasa terhadap pengetahuan dan keterampilan guru sebagai peserta. Selama proses In House Training (IHT), guru peserta menunjukkan antusias yang tinggi tentang rasa ingin tahu, sehingga sangat termotivasi dan semangat untuk mengikuti kegiatan. Selain itu, ilmu baru dan dibutuhkannya keterampilan membuat video animasi untuk pembelajaran mendorong peserta memiliki kemampuan dalam membuat video animasi sendiri
Hubungan antara Tingkat Pendidikan Kesehatan Reproduksi dengan Frekuensi Kehamilan di Luar Nikah pada Remaja
Kehamilan di luar nikah menunjukkan bahwa remaja kurang mendapatkan pendidikan seks yang baik, yang berdampak negatif pada mereka sendiri dan hubungan mereka dengan masyarakat. Fakta bahwa kehamilan di luar nikah menyebabkan masalah psikologis, kesehatan, ekonomi, dan sosial telah menunjukkan betapa pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja. Tujuan penelitian ini yaitu untuk memperoleh informasi tentang hubungan antara tingkat pendidikan seks dengan frekuensi kehamilan di luar nikah di Gereja Masehi Injili di Talaud (GERMITA) Betel Alo Kabupaten Kepulauan Talaud Sulawesi Utara. Metode penelitian yang digunakan adalah explanatory survey. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 60 remaja yang merupakan keseluruhan populasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel tingkat pendidikan seks masih berada dalam kategori rendah (100%), sementara variabel frekuensi kehamilan di luar nikah pada remaja menunjukkan sebesar 65% responden memberikan data Frekuensi Kehamilan di Luar Nikah yang masuk kategori rendah. Sebesar 16.66 % responden memberikan data Frekuensi Kehamilan di Luar Nikah yang termasuk dalam kategori sedang. Sisanya sebanyak 18.33% responden memberikan data Frekuensi Kehamilan di Luar Nikah yang termasuk dalam kategori tinggi. Hubungan antara variabel tingkat pendidikan seks dengan variabel frekuensi kehamilan di luar nikah pada remaja sebesar 0.713 yang memiliki hubungan yang kuat
Konsep Tri Hita Karana untuk Pengembangan Budaya Harmoni melalui Pendidikan Karakter
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan konsep Tri Hita Karana untuk membangun harmoni melalui pendidikan karakter. Hubungan harmonis antara manusia dan manusia sudah tidak ada lagi seperti dulu. Konsep Tri Hita Karana dalam agama Hindu mengajarkan bahwa hubungan kerjasama harus diciptakan agar ada kebahagiaan di dunia ini. Keharmonisan ini dapat memberikan dampak positif bagi kehidupan manusia dan lingkungannya, serta keberlangsungan kehidupan manusia dan lingkungannya menjadi lebih baik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui penelitian pustaka menggunakan sumber data dari beberapa jurnal dan buku. Berdasarkan kajian pustaka yang dikumpulkan dapat dideskripsikan secara kualitatif gambaran tentang ajaran Tri Hita Karana yang dapat dijadikan landasan dalam membangun harmoni melalui pendidikan karakter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arah pembangunan pendidikan Indonesia telah sesuai dengan fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Salah satu prioritas pembangunan adalah pendidikan karakter. Pendidikan karakter fokus pada pembentukan generasi Indonesia yang berakhlak mulia dan berilmu, bersumber pada agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional. Generasi berkarakter diharapkan mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidup tertinggi yakni di dunia dan di akhirat. Tujuan tersebut selaras dengan konsep harmoni dalam ajaran Tri Hita Karana. Tri Hita Karana mengajarkan untuk menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan (Parhyangan), manusia dengan sesama (Pawongan), dan manusia dengan alam (Palemahan). Proses belajar dan interaksi sosial yang terjadi dalam membangun karakter melibatkan ketiga konsep yang ada dalam ajaran Tri Hita Karana. Implementasi pendidikan karakter dijalankan dalam bentuk projek penguatan profil pelajar sebagai sarana enkulturasi dan sosialisasi nilai-nilai
Analisis Tugas Standar Kompetensi Lulusan Pelatihan Teknis Pendidikan dan Keagamaan pada Balai Diklat Keagamaan Bandung
This study aims to determine the comparison of tasks of analyzing graduate competency standards, core competencies, essential competencies, and learning outcomes in distance training of science teachers of Madrasah Tsanawiyah and training in the thematic learning work area of Madrasah Ibtidaiyah. The method used was a comparative method with a qualitative approach. The nature of the research used was the ex post facto model. The sample used was 68 active teachers who participated in the training, which was then divided into five groups. Learning by assignment can facilitate interaction, communication, and knowledge transfer with online and offline patterns. Assignments in education and training activities, either in online or offline learning, can improve the competence of training participants' knowledge, skills, and attitudes to a level higher than the learning outcomes before receiving training or pre-training materials. Providing assignments to analyze graduate competency standards and learning outcomes can stimulate training participants to do other assignments in the same training and improve learning outcomes. Several factors can affect learning outcomes in offline and online learning, including work culture, namely commitment to learning from trainees, achievement of learning objectives, training strategies, rewards, and supporting technology.
(Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komparasi tugas analisis standar kompetensi lulusan, kompetensi inti, kompetensi dasar, dan capaian pembelajaran pada pelatihan jarak jauh guru IPA Madrasah Tsanawiyah dan pelatihan di wilayah kerja pembelajaran tematik Madrasah Ibtidaiyah. Metode yang digunakan adalah metode komparatif dengan pendekatan kualitatif, sifat penelitian yang digunakan yaitu model ex post facto. Sampel yang digunakan sebanyak 68 orang guru aktif mengikuti pelatihan yang terbagi ke dalam lima kelompok. Pembelajaran dengan penugasan baik itu pada pembelajaran online maupun offline dapat memfasilitasi interaksi, komunikasi dan transfers pengetahuan baik yang dilaksanakan dengan pola online maupun offline. Pemberian tugas dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan baik itu online ataupun offline dapat meningkatkan kompetensi pengetahuan, keterampilan dan sikap peserta diklat setingkat lebih tinggi dari capaian pembelajaran sebelum mendapatkan materi pelatihan atau prapelatihan. Pemberian tugas analisis standar kompetensi lulusan dan capaian pembelajaran dapat menstimulasi peserta diklat dalam mengerjakan tugas-tugas mata pelatihan lainnya pada diklat yang sama dan meningkatkan capaian pembelajaran. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi capaian pembelajaran, baik pada pembelajaran online maupun offline, diantaranya budaya kerja yakni komitmen untuk belajar dari peserta pelatihan, capaian tujuan pembelajaran, strategi pelatihan, pemberian reward, dan teknologi yang mendukung)
Pendidikan Kewirausahaan di Pondok Pesantren Tarekat Idrisiyyah di Tasikmalaya Jawa Barat
The Tariqa and Islam in general are not against worldly and materialistic pursuits. Even in Islam, there are strict rules governing matters related to economic life or what is called muamalah. The four pillars of the Idrisiyyah congregation which are growing rapidly in the Tasikmalaya region of West Java Province are the basis for the teachings of asceticism in the growth and empowerment of the Islamic economy. This article discusses entrepreneurship education in tarekat Islamic boarding schools with a study of the Idrisiyyah tarekat doctrine in developing the congregation’s economy in Tasikmalaya, West Java. This article uses case studies and qualitative research methodology. Primary data sources are obtained from interviews, observation, and documentation techniques, while secondary sources come from books, journals, theses, and articles that are relevant to the research topic. The research was conducted from March 14 to March 30 2023 at the Idrisiyyah Tasikmalaya Islamic Boarding School, West Java. Data analysis techniques utilize the methods popularized by the Miles and Huberman models, namely data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The findings show that the Sufi concept and doctrine of the Idrisiyyah tarekat serve as the basis for the entrepreneurship education given at the Idrisiyyah Tasikmalaya Islamic Boarding School. The history of the involvement of the Prophet Muhammad in the field of trade is the cornerstone of the economic success of the Idrisiyyah order. In addition, there are principles that must be adhered to in living an economic life in the Idrisiyyah order, namely the principles of divinity, scripture, worship, agreement, imamate and leadership.
(Tarekat dan Islam pada umumnya tidak bertentangan dengan pengejaran duniawi dan materialistis. Bahkan dalam Islam, terdapat peraturan ketat yang mengatur hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan ekonomi atau yang disebut dengan muamalah. Empat pilar tarekat Idrisiyyah yang berkembang pesat di wilayah Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat menjadi landasan ajaran zuhud dalam pertumbuhan dan pemberdayaan ekonomi Islam. Artikel ini membahas pendidikan kewirausahaan di pondok pesantren tarekat dengan studi atas doktrin tarekat Idrisiyyah dalam pengembangan ekonomi jamaah di Tasikmalaya Jawa Barat. Artikel ini menggunakan studi kasus dan metodologi penelitian kualitatif. Sumber data primer didapat dari wawancara, observasi, dan dokumentasi, sedangkan sumber sekunder berasal dari buku, jurnal, tesis, dan artikel yang relevan dengan topik penelitian. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 14 Maret sampai dengan 30 Maret 2023 di Pesantren Idrisiyyah Tasikmalaya Jawa Barat. Teknis analisis data memanfaatkan metode yang dipopulerkan oleh model Miles dan Huberman, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penyusunan kesimpulan. Temuan menunjukkan bahwa konsep sufi dan doktrin tarekat Idrisiyyah berfungsi sebagai dasar untuk pendidikan kewirausahaan yang diberikan di Pesantren Idrisiyyah Tasikmalaya. Sejarah mengenai keterlibatan Nabi Muhammad SAW dalam bidang perdagangan merupakan landasan keberhasilan ekonomi tarekat Idrisiyyah. Selain itu ada prinsip yang harus dipegang dalam menjalani kehidupan ekonomi di tarekat Idrisiyyah yaitu prinsip ketuhanan, kitabiah, peribadatan, perjanjian, imamah dan kepemimpinan.
Analisis Kebutuhan Pelatihan bagi Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan di 34 Provinsi Se-Indonesia
Training programs implemented by Education and Training Centers and Religious Training Centers throughout Indonesia essentially have a low level of suitability compared to employee competency development needs. If viewed in terms of material and purpose, the programs held so far often need to follow the training participants' real needs. Implementing a Training Needs Analysis (TNA) is necessary to overcome this. This research aims to discover how competency gaps include attitudes, knowledge and skills, priority training needs, and recommendations for ASN training needs. The stages of the TNA program include identifying organizational performance problems, TNA planning, selecting and designing data collection techniques, collecting data, analyzing data, and reporting TNA results. The results of the TNA are: 1) there are various competency gaps in different ASN professions, including deputy head of madrasah, director of library, head of laboratory, madrasah supervisor, PAI supervisor, headmaster, and instructor. These gaps include attitudes, knowledge, and skills. 2) This gap means several priority trainings proposed by the Religious Education and Training Center are needed as a diversity-based training curriculum (Training Courses, Hours, Extracurriculars). 3) The Education and Training Center for Educational and Religious Technical Personnel needs to develop a training program with several stages, such as preparing a training curriculum for educational and religious technical personnel in 2022. It must be based on TNA results regarding the competencies to be achieved and indicators of competency achievement. The results of this AKP can map training, which is the main priority scale, but also provide a proportional allocation for training of other educational and religious technical personnel.(Program pelatihan yang dilaksanakan oleh Pusdiklat maupun Balai Diklat Keagamaan seluruh Indonesia secara esensial belum memiliki tingkat kesesuaian yang signifikan dibandingkan dengan kebutuhan pengembangan kompetensi pegawai. Program yang telah diselenggarakan selama ini jika ditinjau dari segi materi maupun peruntukannya, sering tidak sesuai dengan kebutuhan riil para peserta pelatihan. Untuk mengatasi hal tersebut, pelaksanaan Analisis Kebutuhan Pelatihan (AKP) menjadi sebuah keharusan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kesenjangan kompetensi meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan, kebutuhan pelatihan prioritas, dan seperti apa rekomendasi kebutuhan pelatihan ASN. Adapun tahapan program AKP ini meliputi identifikasi masalah-masalah kinerja organisasi, merencanakan AKP, memilih dan mendasin teknik pengumpulan data, mengumpulkan data, analisis data, dan melaporkan hasil AKP. Hasil AKP yaitu: 1) terdapat berbagai kesenjangan komptensi dalam berbagai profesi ASN, diantara: wakil kepala madrasah, kepala perpustakaan, kepala laboratorium, pengawas madrasah, pengawas PAI, penghulu, dan penyuluh. Kesenjangan tersebut meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. 2) Adanya kesenjangan tersebut membuat diperlukan beberapa pelatihan prioritas yang diusulkan Balai Diklat Keagamaan berupa Kurikulum Diklat berasaskan keragaman (Mata Diklat, Jam, Ekskul). 3) Pusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan perlu mengembangkan program pelatihan tersebut dengan beberapa tahapan seperti menyusun kurikulum pelatihan pelatihan tenaga teknis Pendidikan dan keagamaan tahun 2022 dan harus dilandasi hasil AKP dalam hal kompetensi yang ingin dicapai maupun indikator pencapaian kompetensi. Hasil AKP ini bisa memetakan pelatihan-pelatihan yang menjadi skala prioritas utama, namun juga memberi alokasi yang proporsional pada pelatiahn tenaga teknis Pendidikan dan keagamaan lainnya.
Implementasi Kurikulum Merdeka di Madrasah Ibtidaiyah
Implementing the independent curriculum is a government policy in the development of education. Guidelines for the performance of the independent curriculum were socialized by the government to be understood and implemented by education units. This study aims to describe madrasa teachers' understanding of the independent curriculum guidelines, how to implement a separate curriculum, and the obstacles to implementing an independent curriculum in madrasas. This research method uses a descriptive qualitative approach. The research narasumberts were 20 teachers participating in implementing the independent curriculum at Madrasah Ibtidaiyah, Blitar City, East Java. Data collection is done by questionnaire. The research instrument is uploaded in the Google form and sent via WhatsApp—data analysis with descriptive statistics. The results of this study indicate that the independent curriculum guidelines have been adequately understood; the independent curriculum has been implemented in the pilot project madrasah ibtidaiyah, while in other madrasas, it has not been implemented. Planning and learning process according to the characteristics of the madrasah. There are several obstacles to implementing the independent curriculum: lack of socialization, teacher competence, facilities, and infrastructure.
(Implementasi kurikulum merdeka merupakan kebijakan pemerintah dalam pengembangan Pendidikan. Pedoman implementasi kurikulum merdeka disosialisasikan oleh pemerintah untuk dipahami dan dilaksanakan satuan Pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemahaman guru madrasah terhadap pedoman kurikulum merdeka, bagaimana implementasi kurikulum merdeka, dan hambatan implementasi kurikulum merdeka di madrasah. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Narasumber penelitian sebanyak 20 orang guru peserta pelatihan implementasi kurikulum merdeka Madrasah Ibtidaiyah Kota Blitar Jawa Timur. Pengumpulan data dilakukan dengan angket. Instrumen penelitian diunggah dalam google formulir dan dikirimkan melalui WhatsApp. Analisis data dengan statistik deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pedoman kurikulum merdeka telah dipahami secara cukup, kurikulum merdeka diimplementasikan di madrasah ibtidaiyah pilot proyek, sedangkan di madrasah lain belum diimplementasikan. Perencanaan dan proses pembelajaran sesuai dengan karakteristik madrasah. Terdapat beberapa hambatan pelaksanaan kurikulum merdeka yaitu sosialisasi yang kurang, kompetensi guru, sarana dan prasarana)
Implementation of Spiritual Education in Generation Z Students
People born in today's information technology era between 1995 and 2010 are commonly referred to as generation Z (gen Z), namely teenagers born in the digital generation who enjoy the wonders of internet technology. They are proficient in information technology and various computer applications and can easily and quickly access information for educational or personal purposes. They live with smartphones and are very busy with social media. Information technology providing convenience has significantly impacted the way of life of young people from generation Z. Many teenagers cannot control themselves, use information technology in a defective manner, and encourage them to be involved in juvenile delinquency. This study aims to describe and develop learning formulas for generation z in the modern era. This research uses the literature review method, in which the study focuses on domestic and foreign literature. A literature review is a research method that collects data from various literary sources, which are then analyzed to obtain the required information. The results of the literature review found that the concept of spiritual education for generation Z requires efforts in the form of a school with an integrated system with a model of character and spiritual development or integration of faith and practice.(Orang-orang yang lahir di era teknologi informasi dewasa ini dalam rentang antara 1995 sampai 2010 biasa disebut sebagai generasi Z (gen Z), yaitu remaja yang lahir di generasi digital dan menikmati keajaiban teknologi internet. Mereka mahir teknologi informasi dan berbagai aplikasi komputer serta dengan mudah dan cepat mengakses informasi untuk kepentingan pendidikan atau pribadi. Mereka hidup dengan telepon cerdas (smartphone) dan sangat sibuk dengan media sosial Selain memberi kemudahan, teknologi informasi ternyata menimbulkan dampak signifikan terhadap cara hidup remaja dari generasi Z ini. Bahkan banyak remaja tidak dapat mengendalikan diri, menggunakan teknologi informasi secara menyimpang, dan mendorong mereka terlibat dalam kenakalan remaja. Studi ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengembangkan formula pembelajaran untuk generasi z di era modern. Studi penelitian ini menggunakan metode kajian kepustakaan, di mana kajiannya berfokus pada literatur dalam negeri juga literatur asing. Kajian kepustakaan merupakan salah satu bentuk metode kajian yang dilakukan dengan mengumpulkan data dari berbagai sumber literatur yang kemudian dianalisis untuk mendapatkan sumber informasi yang dibutuhkan. Hasil dari kajian literatur menemukan bahwa konsep pendidikan spiritual untuk generasi Z memerlukan usaha berupa sekolah dengan sistem terpadu dengan model pengembangan karakter dan spiritual atau integration of faith and practice)