OJS (Muhammadiyah University of Enrekang)
Not a member yet
4739 research outputs found
Sort by
Al-Zarnuji's Thoughts On Islamic Education And Its Relevance
Dalam menerapakan nilai-nilai spiritual, religious, dan etika bagi peserta didik diperlukan pendidikan Islam agar nilai-nilai tersebut dapat terbentuk. Namun yang terjadi dilapangan belum mencapai apa yang mejadikan tujuan dari pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan suatu pembaharuan dalam konsep pendidikan. Dalam penulisan makalah ini, penuis menggunakan metode studi pustaka (library research). Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif analisis. Penelitian pendidikan al-Zarnuji yang relevan dengan pendidikan era modern ini menunjukkan hasil bahwa: 1) Tujuan pendidikan, hal ini releven berkaiatan dengantujuan pendidikan yang mana keduanya menekankan pada akhlak. 2) Pendidik, hal ini relevan dengan adanya kesesuaian tentang kompetensi kepribadian guru, yaitu guru haruslah memiliki kepribadian yang baik, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadikan contoh tauladan yang baik. 3) peserta didik, hal ini relevan dengan adanya kesesuaian dengan UU Sisdiknas nomor 23 Tahun 2003 Bab V pasal 12 bahwasannya peserta didik memiliki kewajiban menjaga norma-norma pendidikan. 4) kurikulum, hal ini dapat dilihat dari landasan dasar kurikulum pendidikan Islam yang berkaitan dengan dasar agama dan juga dasar psikologis. 5) metode pendidikan, pada era modern ini metode menghafal dan diskusi masih digunakan sesuai dengan kebutuhannya
Empowerment of Supervisors for Achieving Madrasah Innovation: A Case Study at Mts Laboratory in Jambi City
This study aims to explore and analyze the empowerment of supervisors in supporting the achievement of innovation at MTS Laboratorium Kota Jambi. Educational supervisors have a central role in encouraging change and innovation in madrasahs. Supervisors are no longer expected to focus only on administrative functions; they are now expected to be able to act as agents of change by guiding principals and teachers in implementing innovative programs. Through the qualitative descriptive case study method, this study is expected to provide a comprehensive understanding of the empowerment of supervisors to achieve innovation at MTS Laboratorium Kota Jambi. The results of the study will provide strategic recommendations for the development of a more adaptive and innovative educational supervision system in madrasahs
Monitoring And Evaluation of School Principals Based on ICT : Mome’atik in Optimizing Data-Based Planning at SDN No.11 Kota Barat
ICT-Based Principal Monitoring and Evaluation (MOME’ATIK) is an innovative approach that aims to improve the effectiveness of educational planning at SDN No. 11 Kota Barat. Through the use of Information and Communication Technology (ICT), this program is designed to optimize the collection, analysis, and use of data in the decision-making process at the school level. In the digital era, the use of accurate and relevant data is very important for formulating appropriate policies. MOME’ATIK allows principals to monitor student academic development, teacher performance, and the effectiveness of learning programs in real-time. With this system, the data collected can be used to identify strengths and weaknesses in the implementation of educational programs, so that data-based planning can be carried out better. The results of the implementation of MOME’ATIK at SDN No. 11 showed an increase in teacher and student participation, as well as improvements in student learning outcomes. With integrated data-based reports, principals can take more appropriate and targeted strategic steps. This program not only supports improving the quality of education, but also encourages a culture of transparency and accountability in school management. Overall, MOME’ATIK has the potential to be a model that can be adopted by other schools to optimize data-based educational planning, with the hope of improving the quality of learning at the elementary level
Intergration Chracter-Based Curriculum in Character Building of Karuni Christian Junior High School Students
The purpose of this research is to identify how the strategic planning through curricular integration in curriculum formation of the students’ character in SMP Kristen Karuni by the curriculum formation and activities programs containing character values. This research applied a qualitative descriptive design to the curricular integration in developing the character values of the students. The result of the research showed that the charactered based curricular integration in SMP Kristen Karuni is effective to develop the students character in the Sriritual and Social aspect, for example; honesty, responsibility, effeciency, indenpendency, and discipline
Situational Leadership in Schools: A Literature Review
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan kepemimpinan situasional di sekolah melalui kepemimpinan kepala sekolah. Metode yang digunakan yaitu studi literatur yang bertujuan untuk mengumpulkan dan menganalisis artikel yang berkaitan dengan penerapan kepemimpinan situasional di sekolah. Penulis mengumpulkan artikel berbahasa Inggris dan Indonesia dari Google Scholar untuk melengkapi penelitian ini, yang diterbitkan dari tahun 2020 hingga 2024. Dari berbagai artikel tersebut, penelitian menyortir 23 artikel yang relevan dengan kata kunci "kepemimpinan situasional", "kepala sekolah", dan "sekolah". Selanjutnya, artikel tersebut dianalisis dan disusun menjadi sebuah pembahasan yang ditulis dalam artikel ini. Dalam menjalankan peran dan tanggungjawabnya, setiap kepala sekolah memiliki karakter atau gaya kepemimpinan yang khas. Salah satu gaya kepemimpinan yang dapat diterapkan oleh seorang pemimpin (kepala sekolah) adalah gaya kepemimpinan situasional (Situasioanal Leadership) yang dikembangkan oleh Paul Hersey dan Ken Blanchard. Hersey dan Blanchard mengidentifikasi gaya kepemimpinan situasioanal dalam empat dimensi yaitu telling, selling, participating, dan delegating. Melalui empat dimensi kepemimpinan situasional tersebut, pada kajian literatur ini penulis menemukan bahwa penerapan kepemimpinan situasional di sekolah dapat mempengaruhi 1) peningkatkan mutu sekolah, 2) tingkat motivasi berprestasi guru, 3) komitmen guru terhadap organisasinya, 4) kinerja guru, 5) profesional guru, 6) motivasi kerja guru, 7) iklim sekolah terhadap integritas guru, 8) budaya sekolah terhadap disiplin kerja guru, 9) komitmen afektif guru, dan 10) komitmen guru terhadap organisasi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kepemimpinan situasional dapat menjadi pendekatan yang relevan dan efektif untuk diterapkan oleh kepala sekolah. Namun hasil tinjauan penulis menunjukkan bahwa kajian literatur dan penelitian yang berkaitan dengan penerapan kepemimpinan situasional kepala sekolah di sekolah penyelenggara pendidikan inklusif masih sangat jarang dilakukan bahkan belum pernah dilakukan di wilayah Lampung, maka perlu dilakukan kajian lebih lanjut berkaitan dengan hal in
Situational Leadership Towards Teacher Performance A Literature Review
Kepemimpinan situasional sangat penting, terutama jika diterapkan di institusi pendidikan. Namun, penelitian mengenai kepemimpinan situasional, khususnya di bidang pendidikan, masih sangat terbatas. Kepemimpinan situasional adalah pola perilaku yang ditunjukkan oleh seorang pemimpin ketika memimpin dan mempengaruhi aktivitas orang lain, baik secara individu maupun kelompok. Teori kepemimpinan situasional didasarkan pada hubungan antara: Tingkat bimbingan dan pengarahan (perilaku tugas) yang diberikan oleh pemimpin. Tingkat dukungan emosional (perilaku hubungan) yang diberikan oleh pemimpin. Dengan menggunakan tinjauan literatur, tujuan ini menguji pengaruh kepemimpinan situasional terhadap kinerja guru. Artikel-artikel yang telah dikumpulkan pada subjek yang sama dan diterbitkan dari tahun 2003 hingga 2023 ditinjau secara sistematis untuk pengumpulan data. Penelitian ini menggunakan 14 artikel jurnal nasional dan internasional dari Google Scholar dan Science Direct sebagai sumber referensi. Berdasarkan hasil temuan: (1) kepala sekolah menerapkan kepemimpinan situasional dalam merangkul semua pihak untuk melaksanakan tugasnya seperti memberitahu, menjual, berpartisipasi, mendelegasikan, (2) faktor pendukung penerapan kepemimpinan kepala sekolah berupa arahan dan motivasi kepada guru, karyawan, bersikap adil terhadap apa yang harus dilakukan, (3) dampak penerapan gaya kepemimpinan situasional kepala sekolah dapat dilihat dari tingkat kemampuan dan kedewasaan kepemimpinan situasional kepala sekolah dapat dilihat dari tingkat kemampuan dan kedewasaan yang dimiliki kepala sekolah
 
The Foundation’s Commitment to Enhancing the Individual Well-Being of Integrated Islamic Junior High School Teachers in Jambi Province
This research examines the commitment of foundations in enhancing the individual well-being of Integrated Islamic Junior High School (SMPIT) teachers in Jambi Province. The study explores multifaceted strategies, including financial stability, professional growth opportunities, and socio-cultural support, aimed at improving the quality of life and job satisfaction for teachers. Drawing upon Herzberg's Two-Factor Theory and Maslow's Hierarchy of Needs, the research emphasizes the importance of addressing both intrinsic and extrinsic factors in fostering teacher well-being. The findings reveal that a comprehensive and collaborative approach by foundations significantly impacts teacher motivation and performance, contributing to the sustainability of education development in Islamic schools. The study provides practical insights and recommendations for policymakers and educational stakeholders to further enhance teacher welfare systems
Upaya Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Anak Usia Dini Melalui Media Clay di TKIT Khalifa Cendekia Mandiri
Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi rendahnya kemampuan motorik halus pada anak usia dini yang disebabkan oleh kurangnya media pembelajaran. Kekakuan anak saat memegang pensil menunjukkan masalah ini. Sebagai solusi, peneliti menggunakan media clay tepung untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak di Kelompok B TKIT KHALIFAH CENDIKIA MANDIRI. Penelitian ini mengidentifikasi: (1) kemampuan motorik halus sebelum menggunakan media clay tepung; (2) efektivitas penggunaan media clay tepung setiap siklus; dan (3) kemampuan motorik halus anak setelah penerapan media clay tepung. Media clay tepung memiliki keunggulan, yaitu aman untuk anak, memungkinkan kreativitas, dan memberikan pengalaman langsung dalam teknik pengolahan clay. Metode penelitian adalah penelitian tindakan kelas dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif (mixed methods), terdiri dari dua siklus dalam dua tindakan, dengan subjek 28 anak. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan unjuk kerja, sedangkan analisis dilakukan secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan motorik halus anak pada pra siklus memperoleh nilai rata-rata 55 (kategori kurang). Aktivitas guru dan anak meningkat pada setiap siklus. Kemampuan motorik halus anak setelah penerapan media clay tepung meningkat dari 66 (cukup) pada siklus I menjadi 80 (sangat baik) pada siklus II. Dengan demikian, hipotesis tindakan diterima, menunjukkan efektivitas media clay tepung
The Role of Bugis Women in Pre-Islamic Era as a Strengthening of Local Wisdom Culture
This study examines the role of Bugis women in the pre-Islamic era as strengtheners of local wisdom culture in South Sulawesi. Bugis women not only function as family members, but also as the main movers in various aspects of religion and culture. As the main madrasah for their children, through their expertise in oral traditions and cultural customs that they uphold, women play an important role in preserving and transmitting cultural values to the next generation. In addition, they are active in managing natural resources, organizing social life, and involving themselves in traditional ceremonies that are markers of community identity. Thus, Bugis women make a significant contribution to maintaining and strengthening local wisdom, which is the foundation for the life of the Bugis community. This study uses qualitative methods with analysis of historical documents, interviews, and direct observation. The results of the study show that Bugis women have a significant contribution to strengthening cultural identity, both through ritual practice and in managing natural resources. Therefore, this article highlights the importance of the role of women in building and maintaining local wisdom that is characteristic of the Bugis community.
 
Communication Patterns Between Religious Communities in Strengthening Harmony in Gangsiran Hamlet, Parang Magetan District
The focus of the problem in this study is how the pattern of communication between religious communities in strengthening harmony in Gangsiran Hamlet, Mategal Village, Parang District, Magetan Regency. This study aims to find out the types of communication patterns and to describe the communication barriers used between religious communities in strengthening harmony in Gangsiran Hamlet, Mategal Village, Parang Magetan District. The research method used in this study is a qualitative descriptive research method. The subject of this study is the community in Gangsiran Hamlet, Parang Magetan District. The data analysis determination techniques used are data reduction, data presentation, and conclusion drawn. This study shows that the relationship between religious communities in Gangsiran Hamlet, Mategal Village, Parang Magetan District has a harmonious relationship. The communication used by the people of Gangsiran Hamlet with the administrators of the village uses various communication patterns. The communication patterns used are, primary (face-to-face), secondary (through radio communication media), linear (one-way communication using radio), and circular (feedback or feedback is needed ). In communicating, of course, there are obstacles experienced by the pesanggrahan administrators. The communication barriers experienced are, semantic (misinterpretation that causes differences of opinion), and technical (lack of infrastructure in the communication process)