Jurnal Universitas Kristen Krida Wacana
Not a member yet
    1395 research outputs found

    Diagnosis dan Tata Laksana Tinitus Pulsatil

    Full text link
    Tinitus pulsatil merupakan kasus yang jarang dijumpai, terjadi akibat adanya gangguan vaskular atau malformasi pembuluh darah. Tinitus pulsatil umumnya terjadi unilateral, terdengar seirama dengan jantung, berdenyut dan mengganggu aktivitas. Tata laksana yang dilakukan adalah mengatasi penyebab tinitus dan manajemen diri untuk mengurangi gejala tinitus. Tujuan laporan kasus ini memaparkan kasus tinitus pulsatil. Kasus pertama, perempuan 51 tahun keluhan utama telinga kanan berdengung disertai nyeri kepala dan hiperlipidemia. Otoskopi dan hasil pemeriksaan audiologi telinga kanan normal. Hasil Transcranial Color-Coded Duplex (TCCD)  didapatkan stenosis arteri cerebri. Hasil Digital Substraction Angiography (DSA) didapatkan stenosis di sinus transversosigmoid junction kanan. Hasil MRI tak tampak neurovascular compression. Kasus kedua, perempuan 57 tahun telinga kanan berdengung, bila leher ditekan suara dengung berkurang, otoskopi dan hasil pemeriksaan audiologi dalam batas normal.  Hasil TCCD & DSA didapatkan stenosis arteri cerebri. Hasil MRI terdapat singgungan antara anterior inferior cerebellar artery dengan proksimal nervus vestibulocochlearis kanan.  Kedua kasus dilakukan konseling, habituasi dengan hasil tinitus menetap, pasien teradaptasi dengan tinitusnya. Telah dilaporkan 2 kasus tinitus pulsatil yang diakibatkan oleh stenosis arteri carotis. Kedua kasus ini dilakukan tata laksana habituasi, konseling.  Hasil dari evaluasi adalah tinitus menetap dan teradaptasi.  Tinitus pulsatil merupakan kasus yang jarang dijumpai, terjadi akibat adanya gangguan vaskular atau malformasi pembuluh darah. Tinitus pulsatil umumnya terjadi unilateral, terdengar seirama dengan jantung, berdenyut dan mengganggu aktivitas. Tata laksana yang dilakukan adalah mengatasi penyebab tinitus dan manajemen diri untuk mengurangi gejala tinitus. Tujuan laporan kasus ini memaparkan kasus tinitus pulsatil. Kasus pertama, perempuan 51 tahun keluhan utama telinga kanan berdengung disertai nyeri kepala dan hiperlipidemia. Otoskopi dan hasil pemeriksaan audiologi telinga kanan normal. Hasil Transcranial Color-Coded Duplex (TCCD)  didapatkan stenosis arteri cerebri. Hasil Digital Substraction Angiography (DSA) didapatkan stenosis di sinus transversosigmoid junction kanan. Hasil MRI tak tampak neurovascular compression. Kasus kedua, perempuan 57 tahun telinga kanan berdengung, bila leher ditekan suara dengung berkurang, otoskopi dan hasil pemeriksaan audiologi dalam batas normal.  Hasil TCCD & DSA didapatkan stenosis arteri cerebri. Hasil MRI terdapat singgungan antara anterior inferior cerebellar artery dengan proksimal nervus vestibulocochlearis kanan.  Kedua kasus dilakukan konseling, habituasi dengan hasil tinitus menetap, pasien teradaptasi dengan tinitusnya. Telah dilaporkan 2 kasus tinitus pulsatil yang diakibatkan oleh stenosis arteri carotis. Kedua kasus ini dilakukan tata laksana habituasi, konseling.  Hasil dari evaluasi adalah tinitus menetap dan teradaptasi

    Profil dan Kesintasan Penderita Kanker Kolorektal RS Bethesda Yogyakarta

    Full text link
    Kanker kolorektal pada tahun 2020 merupakan penyebab kematian paling banyak kedua dari seluruh kasus kanker. Di Indonesia, jumlah kasus baru kanker kolorektal sebesar 8,6% (34.189) dari seluruh kasus baru kanker. Data terkait kenaikan jumlah kasus, jumlah kematian, jenis kanker tersering sudah sering dilaporkan di Indonesia namun terkait dengan kesintasan masih jarang dilaporkan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi terkait profil dan kesintasan kanker kolorektal di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan desain potong lintang. Data diambil dari rekam medis RS Bethesda Yogyakarta periode tahun 2013-2021 dan dianalisis secara univariat. Hasil penelitian menunjukkan jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki 63,6%, kelompok usia tua (>40 tahun) 93,5%, keluhan terbanyak berupa perubahan pola BAB 72,53%, jenis histopatologi epitel (adenokarsinoma) 92,2%, lokasi kiri 90,9%, didiagnosis pada stadium IV 39%, tata laksana pembedahan 84,42%, dan kesintasan 2 tahun 20,8%. Kesimpulan penelitian ini adalah profil kanker kolorektal lebih banyak pada jenis kelamin laki-laki, usia tua, keluhan berupa perubahan pola BAB, histopatologi tipe sel epitel (adenokarsinoma), lokasi kiri, stadium IV, tata laksana paling banyak pembedahan, serta kesintasan 2 tahun adalah 20,8%

    Overview of Routine Hematology Results in COVID-19 Patients at UKRIDA Hospital in 2021

    No full text
    Coronavirus Disease 2019, more commonly known as COVID-19, is an infectious disease that has a contagious nature, the etiologic cause is Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2. Several clinical manifestations that commonly occur when infected with COVID-19 include acute respiratory system disorders, for example cough, fever and shortness of breath. on March 12 2020, WHO confirmed that COVID-19 was a pandemic case.  This research was conducted in a cross-sectional descriptive manner, using consecutive sampling with a total sample of 110 patients, using secondary data in the form of medical records. It was concluded that the results of routine hematological examinations (hemoglobin, hematocrit, erythrocytes, leukocytes, platelets) were mostly normal, this was because the patients in the study sample were patients who had recently been infected with the Covid-19 virus, and the medical records taken were the results of a hematological examination. the first time when I entered the hospital. On examination of hemoglobin found 22 patients (20%) decreased. On leukocyte examination, it was found that 28 patients (25.5%) experienced a decrease in platelets, 15 patients (13.6%) decreased.Coronavirus Disease 2019, more commonly known as COVID-19, is an infectious disease that has a contagious nature, the etiologic cause is Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2. Several clinical manifestations that commonly occur when infected with COVID-19 include acute respiratory system disorders, for example cough, fever and shortness of breath. on March 12 2020, WHO confirmed that COVID-19 was a pandemic case.  This research was conducted in a cross-sectional descriptive manner, using consecutive sampling with a total sample of 110 patients, using secondary data in the form of medical records. It was concluded that the results of routine hematological examinations (hemoglobin, hematocrit, erythrocytes, leukocytes, platelets) were mostly normal, this was because the patients in the study sample were patients who had recently been infected with the Covid-19 virus, and the medical records taken were the results of a hematological examination. the first time when I entered the hospital. On examination of hemoglobin found 22 patients (20%) decreased. On leukocyte examination, it was found that 28 patients (25.5%) experienced a decrease in platelets, 15 patients (13.6%) decreased

    The Relationship Between Obesity and Depression in Ukrida Medical Students

    No full text
    Not just obesity can cause a lot of trouble for physical health such as hypertension, dyslipidaemia, and diabetes, but also can cause problem for mental health such as depression. According to studies this can be an indirect cause that leads them to the depression state. Using analytic research, the aim in this study was to see whether there is a relationship between obesity and depression in medical students of Ukrida batch 2013 or not. Sample taken by purposive sampling technique and data retrieved by using PHQ-9 as a questionnaire to rate the students depression score and measure their body mass index to see their nutritional status. The result from the study were 21,5 % of total respondents with normal BMI and no depression, 28,5% with normal BMI and depression, 25,4% with obese BMI and no depression, and 24,6% obese BMI and depression. This study concluded that there was no significant relationship between obesity and depression in medical student of Ukrida batch 2013 (p value 0.380).  Not just obesity can cause a lot of trouble for physical health such as hypertension, dyslipidaemia, and diabetes, but also can cause problem for mental health such as depression. According to studies this can be an indirect cause that leads them to the depression state. Using analytic research, the aim in this study was to see whether there is a relationship between obesity and depression in medical students of Ukrida batch 2013 or not. Sample taken by purposive sampling technique and data retrieved by using PHQ-9 as a questionnaire to rate the students depression score and measure their body mass index to see their nutritional status. The result from the study were 21,5 % of total respondents with normal BMI and no depression, 28,5% with normal BMI and depression, 25,4% with obese BMI and no depression, and 24,6% obese BMI and depression. This study concluded that there was no significant relationship between obesity and depression in medical student of Ukrida batch 2013 (p value 0.380). &nbsp

    Pneumonia Incident in Toddler Related to House Environment and Other Factors

    No full text
    Pneumonia is the most problematic disease that happened in toddler that can lead to death. Data based on depkes, profil kesehatan 2010 population characteristic with the highest pneumonia happened in toddler (11,2%). The goal of this research is to know the relation between house environment and other factors in incident of pneumonia in Grogol petamburan, West Jakarta approach on 2020. The design of this study is cross sectional. Population sample used on this study is toddler who lived in Grogol petamburan, West Jakarta. The research subjects are 50 samples the technique used to gather samples using simple random sampling. The analysis used was Chi Square. the results shows that pneumonia as many as 36 people (72%) and not pneumonia as many as 14 people (28%). ASI exclusive (p=0.021), nutrient status (p=0.034), house environment (ventilation , sum of the people in the house)(p=0.017) these are the factors that have relation to cause pneumonia in toddler while age (p=0.970), immunization status (p=0.595), parents education (p=0.05), cigarette (p=0.503) don’t have any relation to cause pneumonia in toddlerPneumonia is the most problematic disease that happened in toddler that can lead to death. Data based on depkes, profil kesehatan 2010 population characteristic with the highest pneumonia happened in toddler (11,2%). The goal of this research is to know the relation between house environment and other factors in incident of pneumonia in Grogol petamburan, West Jakarta approach on 2020. The design of this study is cross sectional. Population sample used on this study is toddler who lived in Grogol petamburan, West Jakarta. The research subjects are 50 samples the technique used to gather samples using simple random sampling. The analysis used was Chi Square. the results shows that pneumonia as many as 36 people (72%) and not pneumonia as many as 14 people (28%). ASI exclusive (p=0.021), nutrient status (p=0.034), house environment (ventilation , sum of the people in the house)(p=0.017) these are the factors that have relation to cause pneumonia in toddler while age (p=0.970), immunization status (p=0.595), parents education (p=0.05), cigarette (p=0.503) don’t have any relation to cause pneumonia in toddle

    Aplikasi Klinis Repetitive Transcranial Magnetic Stimulation (rTMS) pada Disfagia Neurogenik – Studi pada Stroke Iskemik Akut

    Full text link
    Disfagia paska-stroke mengakibatkan gangguan fungsi menelan karena terjadinya ketidakseimbangan koordinasi otot-otot menelan perifer dan regulasi sentral. Disfagia menyebabkan komplikasi berupa aspirasi, malnutrisi, hingga kematian. Studi menunjukkan bahwa penggunaan rTMS pada disfagia memberikan luaran klinis yang baik. Laki-laki 55 tahun; lemah separuh tubuh sisi kanan, bicara pelo, dan sulit menelan dengan onset 15 jam. Pasien memiliki riwayat stroke 1 bulan yang lalu dengan lemah separuh tubuh sisi kiri. Pemeriksaan fisik didapatkan hipertensi, GCS E4M6Vx, afasia motorik, parese nervus kranial VII dan XII dekstra tipe sentral, hemiparese dupleks dengan kekuatan 3 pada kedua ekstremitas kanan dan 2 pada kedua ekstremitas kiri. Hipertonus, peningkatan refleks, serta refleks patologis positif pada keempat ekstremitas. Pemeriksaan computed tomography (CT) scan kepala non-kontras, menunjukkan infark serebri bilateral. Pasien mendapatkan tata laksana anti-platelet, neuroprotektor, fisioterapi, dan 5 siklus rTMS. Setelah dilakukan 5 siklus rTMS, didapatkan perbaikan fungsi menelan, yang ditunjukkan dengan perubahan skor National Institutes of Health Stroke Scale (NIHSS) dari 18 menjadi 12, skor brief bedside dysphagia screening test-revision (BBDST) dari 8 menjadi 4, dan skor modified water swallowing test (MWST) dari 1 menjadi 5. Penggunaan rTMS terbukti memberikan luaran klinis yang baik pada disfagia neurogenik akibat stroke iskemik akut.Disfagia paska-stroke mengakibatkan gangguan fungsi menelan karena terjadinya ketidakseimbangan koordinasi otot-otot menelan perifer dan regulasi sentral. Disfagia menyebabkan komplikasi berupa aspirasi, malnutrisi, hingga kematian. Studi menunjukkan bahwa penggunaan rTMS pada disfagia memberikan luaran klinis yang baik. Laki-laki 55 tahun; lemah separuh tubuh sisi kanan, bicara pelo, dan sulit menelan dengan onset 15 jam. Pasien memiliki riwayat stroke 1 bulan yang lalu dengan lemah separuh tubuh sisi kiri. Pemeriksaan fisik didapatkan hipertensi, GCS E4M6Vx, afasia motorik, parese nervus kranial VII dan XII dekstra tipe sentral, hemiparese dupleks dengan kekuatan 3 pada kedua ekstremitas kanan dan 2 pada kedua ekstremitas kiri. Hipertonus, peningkatan refleks, serta refleks patologis positif pada keempat ekstremitas. Pemeriksaan computed tomography (CT) scan kepala non-kontras, menunjukkan infark serebri bilateral. Pasien mendapatkan tata laksana anti-platelet, neuroprotektor, fisioterapi, dan 5 siklus rTMS. Setelah dilakukan 5 siklus rTMS, didapatkan perbaikan fungsi menelan, yang ditunjukkan dengan perubahan skor National Institutes of Health Stroke Scale (NIHSS) dari 18 menjadi 12, skor brief bedside dysphagia screening test-revision (BBDST) dari 8 menjadi 4, dan skor modified water swallowing test (MWST) dari 1 menjadi 5. Penggunaan rTMS terbukti memberikan luaran klinis yang baik pada disfagia neurogenik akibat stroke iskemik akut

    Factors Affecting Stress Disorder in Airline X Pilots during the COVID-19 Pandemic

    No full text
    Civil airline pilot is one of the jobs that often causes work stress. The COVID-19 pandemic that entered Indonesia in early 2020 saw a drastic decline in the aviation industry. This can affect airline pilots experiencing work stress. The purpose of the study was to determine whether there were any factors that influenced stress on airline X pilots during the COVID-19 pandemic.  Sampling was taken using a non-probability sampling technique, the type of consecutive sampling. To obtain data from the results of the study using univariate analysis and bivariate analysis using the Chi-Square and Kolmogorov-Smirnov tests. This study uses a questionnaire instrument Depression Anxiety Stress Scales-21 (DASS-21). The results of the data were analyzed using the Chi Square and Kolmogorov-Smirnov test that there was a relationship between age (P=0.000), flight hours (P=0.002), and work duration (P=0.000) with work stress. There are 92 respondents who do not experience stress and as many as 5 respondents experience moderate stress.PThe COVID-19 epidemic with stress disorders in pilots did not have a big effect, male pilots experienced more work stress than women. Age, length of flight hours, length of work duration affect work stress.Civil airline pilot is one of the jobs that often causes work stress. The COVID-19 pandemic that entered Indonesia in early 2020 saw a drastic decline in the aviation industry. This can affect airline pilots experiencing work stress. The purpose of the study was to determine whether there were any factors that influenced stress on airline X pilots during the COVID-19 pandemic.  Sampling was taken using a non-probability sampling technique, the type of consecutive sampling. To obtain data from the results of the study using univariate analysis and bivariate analysis using the Chi-Square and Kolmogorov-Smirnov tests. This study uses a questionnaire instrument Depression Anxiety Stress Scales-21 (DASS-21). The results of the data were analyzed using the Chi Square and Kolmogorov-Smirnov test that there was a relationship between age (P=0.000), flight hours (P=0.002), and work duration (P=0.000) with work stress. There are 92 respondents who do not experience stress and as many as 5 respondents experience moderate stress.PThe COVID-19 epidemic with stress disorders in pilots did not have a big effect, male pilots experienced more work stress than women. Age, length of flight hours, length of work duration affect work stress

    Hubungan antara Obesitas dengan Kanker Ovarium di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta

    Full text link
    Kanker ovarium merupakan keganasan yang terjadi pada organ ovarium. Gambaran yang umum terlihat adalah gambaran sel invasif, merusak struktur disekitarnya, dan dapat bermetastasis. Penyebab kanker ovarium bersifat multifaktoral, seperti faktor genetik, riwayat penyakit kanker, riwayat kehamilan, dan lain-lain. Obesitas menjadi salah satu faktor risiko kanker ovarium. Pada wanita obesitas, dapat terjadi peningkatan risiko terkena kanker ovarium 10% lebih tinggi dibandingkan wanita dengan IMT normal. Peningkatan lemak berlebihan dapat menyebabkan perubahan hormonal dan terjadinya inflamasi berkepanjangan sehingga mempermudah kanker berkembang. Melalui tulisan ini, akan dibahas lebih dalam mengenai hubungan antara obesitas dengan kanker ovarium di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa rekam medik pasien tumor jinak ovarium dan kanker ovarium di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta tahun 2015-2019. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dan sampel terbagi menjadi 2, yaitu penderita kanker ovarium dan penderita tumor jinak ovarium. Pengambilan sampel menggunakan metode random sampling dan total terdapat 118 data yang digunakan. Data dianalisis menggunakan uji chi-square dengan nilai p 0,335 (p >0,05) yang berarti hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa obesitas tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kasus kanker ovarium di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta.Kanker ovarium merupakan keganasan yang terjadi pada organ ovarium. Gambaran yang umum terlihat adalah gambaran sel invasif, merusak struktur disekitarnya, dan dapat bermetastasis. Penyebab kanker ovarium bersifat multifaktoral, seperti faktor genetik, riwayat penyakit kanker, riwayat kehamilan, dan lain-lain. Obesitas menjadi salah satu faktor risiko kanker ovarium. Pada wanita obesitas, dapat terjadi peningkatan risiko terkena kanker ovarium 10% lebih tinggi dibandingkan wanita dengan IMT normal. Peningkatan lemak berlebihan dapat menyebabkan perubahan hormonal dan terjadinya inflamasi berkepanjangan sehingga mempermudah kanker berkembang. Melalui tulisan ini, akan dibahas lebih dalam mengenai hubungan antara obesitas dengan kanker ovarium di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa rekam medik pasien tumor jinak ovarium dan kanker ovarium di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta tahun 2015-2019. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dan sampel terbagi menjadi 2, yaitu penderita kanker ovarium dan penderita tumor jinak ovarium. Pengambilan sampel menggunakan metode random sampling dan total terdapat 118 data yang digunakan. Data dianalisis menggunakan uji chi-square dengan nilai p 0,335 (p >0,05) yang berarti hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa obesitas tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kasus kanker ovarium di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta

    The Kemampuan Ekstrak Etanol Batang Brotowali (Tinospora crispa L.) Sebagai Antifungi Terhadap Candida tropicalis

    Full text link
    Candida tropicalis adalah salah satu spesies non-Candida albicans yang paling umum diisolasi dari berbagai jenis kandidiasis dan infeksi nosokomial. Spesies ini adalah yang paling virulen kedua di antara spesies Candida. Meluasnya penggunaan antijamur sebagai profilaksis menjadi penyebab utama resistensi antifungi. Batang brotowali (Tinospora crispa L.) digunakan sebagai obat herbal di Asia, termasuk Indonesia. Terdapat lebih dari 65 senyawa fitokimia, dan beberapa di antaranya diidentifikasi sebagai agen antijamur potensial, seperti kelompok flavon, alkaloid, berberin, saponin, dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antijamur batang brotowali dan menentukan konsentrasi hambat minimum. Batang brotowali terstandar diolah dengan metode maserasi untuk menghasilkan ekstrak etanol. Kerentanan C. tropicalis terhadap ekstrak etanol batang brotowali diperiksa dengan uji konsentrasi hambat minimum  menggunakan metode mikrodilusi dengan konsentrasi awal 10.000 µg/ml. Hal ini menunjukkan bahwa nilai KHM ekstrak etanol batang brotowali berada pada konsentrasi 5.000 µg/ml. Sebagai kesimpulan, ekstrak etanol batang brotowali memiliki aktivitas antifungi yang lemah terhadap C. tropicalis dengan konsentrasi hambat minimal 5.000 µg/ml

    List of Reviewer

    No full text

    1,003

    full texts

    1,395

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Universitas Kristen Krida Wacana
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇