Jurnal Universitas Kristen Krida Wacana
Not a member yet
1395 research outputs found
Sort by
Tingkat Pengetahuan Masyarakat tentang Penggunaan Antibiotik yang Rasional di Kelurahan Rantepao, Kecamatan Rantepao, Kabupaten Toraja Utara
Antibiotics are medicine used to overcome bacterial infections. Proper use of antibiotics is very important to note because the side effects caused are quite dangerous and improper use of antibiotics can cause antibiotic resistance. This research was conducted to find out how much the level of public knowledge in Malango Sub-district about the rational use of antibiotics. This research is descriptive research with sampling techniques used convenience sampling as many as 100 respondents with questionnaires as the research tool. The data analysis used is univariate measured in the SPSS program. The results of the study found that the level of public knowledge in Malango Sub-disctrict in the use of rational antibiotics arranged by 10% of excellent comprehension. 52% of passable comprehension and 38% of less comprehension. In conclusion, public knowledge in Malango Sub-district tends to enough comprehension.Antibiotik merupakan obat yang digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri. Penggunaan antibiotik yang tepat sangat penting untuk diperhatikan karena efek samping yg ditimbulkan cukup membahayakan serta penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan terjadinya resistensi antibiotik. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui sejuah mana tingkat pengetahuan masyarakat di Kelurahan Malango tentang penggunaan antibiotik yang rasional. Desain penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan teknik pengambilan sampel yang digunakan convenience sampling sebanyak 100 responden dengan kuesioner sebagai alat penelitian. Analisis data yang dipakai adalah univariat yang diukur dalam program SPSS. Hasil penelitian didapatkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat di Kelurahan Malango dalam penggunaan antibiotik yang rasional berpengetahuan baik sebesar 10%, berpengetahuan cukup 52% dan berpengetahuan kurang 38%. Jadi dapat disimpulkan bahwa masyarakat Kelurahan Malango dominan memiliki tingkat pengetahuan cukup
Profil fitokimia dan aktivitas antioksidan dari minyak atsiri kulit buah Jeruk Pontianak (Citrus nobilis lour. var. Microcarpa): Profil fitokimia dan aktivitas antioksidan dari minyak atsiri C.nobilis
Abstract. Citrus nobilis lour fruit. var. microcarpa (C. nobilis) or Pontianak Orange is a food source with good vitamins and antioxidants, while the peel was considered as waste. Along with technological development, people processed it by utilizing its essential oil. Research showed that the essential oil of Pontianak orange peel (C. nobilis) could inhibit the growth of some gram-positive and -negative bacteria. Still, the compounds' composition and antioxidant and anti-inflammatory properties have not been studied much. Therefore, this study aimed to determine the active compound composition, antioxidant, and anti-inflammatory activity of C. nobilis essential oil. The essential oil from C. nobilis peel was extracted using the clavenger method. The GCMS methods was used for active compound profiling. The antioxidant activity of essential oils was examined using the 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) free radical. The dominant active compound components in C. nobilis essential oil were limonene, β-myrcene, and linalool. The essential oil of C. nobilis had robust antioxidant activity (IC50 13.114 µg/mL) compared to BHT. The content of the dominant active compound in the essential oil supported this activity.
Buah Citrus nobilis lour. var. microcarpa (C. nobilis) atau buah jeruk pontianak merupakan salah satu sumber makanan dengan kandungan vitamin dan antioksidan yang bagus, sedangkan kulitnya hanya dianggap sebagai limbah. Seiring perkembangan teknologi, kulit jeruk pontianak diolah sehingga minyak atsirinya dapat dimanfaatkan. Penelitian menunjukkan bahwa minyak atsiri kulit buah jeruk Pontianak (C. nobilis) mempunyai kemampuan dalam menghambat pertumbuhan beberapa bakteri positif dan negatif, namun komposisi senyawa, kandungan antioksidan dan antiinflamasi belum banyak dipelajari. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui komposisi senyawa aktif, aktivitas antioksidan dan antiinflamasi minyak atsiri kulit buah C. nobilis. Ekstraksi minyak atsiri kulit buah C. nobilis dilakukan menggunakan metode clavenger. Profil senyawa minyak atsiri didapatkan dengan metode GCMS. Aktivitas antioksidan pada minyak atsiri diuji menggunakan menggunakan radikal 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH). Komponen senyawa aktif dominan pada minyak atsiri C. nobilis adalah limonen, β-myrcene, dan linalool. Minyak atsiri kulit buah C. nobilis memiliki aktivitas antioksidan kuat (IC50 13,114 µg/mL). Aktivitas ini didukung oleh kandungan senyawa aktif yang dominan didalam minyak atsiri tersebut.
 
Kontaminasi Telur Cacing Soil Transmitted Helminths pada Daun Selada (Lactuca sativa) : Literature Review
Prevalensi penyakit infeksi yang disebabkan oleh Soil Transmitted Helminths (STH) mencapai 60-80% dari penduduk Indonesia. Infeksi STH ditularkan melalui kotoran atau feses manusia yang telah terinfeksi telur cacing dan mengkontaminasi tanah. Telur yang terkontaminasi akan menempel pada sayuran yang tumbuhnya dekat dengan tanah seperti selada yang disajikan secara mentah. Sayur selada sering terkontaminasi oleh parasit usus seperti STH karena telur yang menempel pada daun selada. Studi ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya kontaminasi telur cacing pada sayur selada selama 5 tahun terakhir ini. Metode yang digunakan pada studi ini dengan cara pencarian artikel dalam basis eletronik melalui internet dengan menggunakan Google scholar, Pubmed, dan Proquest. Hasil didapatkan bahwa masih ada kontaminasi STH pada sayur selada dan jenis cacing paling banyak mengkontaminasi adalah Ascaris lumbricoides. Faktor yang mempengaruhi kontaminasi pada selada adalah teknik pencucian yang kurang bersih, pemakaian pupuk organik yang berasal dari kotoran hewan, dan sistem irigasi untuk menyiram sayuran yang telah terkontaminasi.Prevalensi penyakit infeksi yang disebabkan oleh Soil Transmitted Helminths (STH) mencapai 60-80% dari penduduk Indonesia. Infeksi STH ditularkan melalui kotoran atau feses manusia yang telah terinfeksi telur cacing dan mengkontaminasi tanah. Telur yang terkontaminasi akan menempel pada sayuran yang tumbuhnya dekat dengan tanah seperti selada yang disajikan secara mentah. Sayur selada sering terkontaminasi oleh parasit usus seperti STH karena telur yang menempel pada daun selada. Studi ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya kontaminasi telur cacing pada sayur selada selama 5 tahun terakhir ini. Metode yang digunakan pada studi ini dengan cara pencarian artikel dalam basis eletronik melalui internet dengan menggunakan Google scholar, Pubmed, dan Proquest. Hasil didapatkan bahwa masih ada kontaminasi STH pada sayur selada dan jenis cacing paling banyak mengkontaminasi adalah Ascaris lumbricoides. Faktor yang mempengaruhi kontaminasi pada selada adalah teknik pencucian yang kurang bersih, pemakaian pupuk organik yang berasal dari kotoran hewan, dan sistem irigasi untuk menyiram sayuran yang telah terkontaminasi
Patofisiologi, Diagnosis, dan Tata Laksana Dermatosis Neutrofilik yang Umum Ditemui
Dermatosis neutrofilik adalah sebuah kelompok penyakit inflamasi kulit dengan predominasi infiltrat neutrofil yang steril dan memiliki manifestasi klinis yang berbeda-beda. Tertundanya diagnosis dan tatalaksana dapat menyebabkan morbiditas yang signifikan bahkan kematian. Tinjauan pustaka ini membahas manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang, tata laksana, dan komplikasi dermatosis neutrofilik yang relatif umum ditemui, yaitu sindrom Sweet, pioderma gangrenosum, dermatosis pustular subkorneal, dan penyakit Behcet. Pilihan terapi umumnya bersifat imunosupresif dan perlu disesuaikan dengan diagnosis; pada kebanyakan kasus, kortikosteroid adalah terapi lini pertama diikuti agen imunosupresan lainnya seperti kolkisin dan siklosporin sampai agen biologik yang memiliki target spesifik. Pengenalan akan gambaran klinis dan tatalaksana yang adekuat wajib dimiliki oleh dokter spesialis dermatologi dan venereologi untuk menegakkan diagnosis sedini mungkin dan mencegah komplikasi.Dermatosis neutrofilik adalah sebuah kelompok penyakit inflamasi kulit dengan predominasi infiltrat neutrofil yang steril dan memiliki manifestasi klinis yang berbeda-beda. Tertundanya diagnosis dan tatalaksana dapat menyebabkan morbiditas yang signifikan bahkan kematian. Tinjauan pustaka ini membahas manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang, tata laksana, dan komplikasi dermatosis neutrofilik yang relatif umum ditemui, yaitu sindrom Sweet, pioderma gangrenosum, dermatosis pustular subkorneal, dan penyakit Behcet. Pilihan terapi umumnya bersifat imunosupresif dan perlu disesuaikan dengan diagnosis; pada kebanyakan kasus, kortikosteroid adalah terapi lini pertama diikuti agen imunosupresan lainnya seperti kolkisin dan siklosporin sampai agen biologik yang memiliki target spesifik. Pengenalan akan gambaran klinis dan tatalaksana yang adekuat wajib dimiliki oleh dokter spesialis dermatologi dan venereologi untuk menegakkan diagnosis sedini mungkin dan mencegah komplikasi
Pengaruh Pengaruh Dukungan Sosial terhadap Perilaku CERDIK Mahasiswa Kedokteran Universitas HKBP Nommensen Medan
Penyakit tidak menular mempunyai angka mortalitas yang tinggi di dunia. Untuk mengendalikannya, kita perlu meminimalisir faktor risiko yang dapat dimodifikasi, yaitu dengan perilaku CERDIK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh karakteristik individu (jenis kelamin, suku, pengetahuan, riwayat penyakit tidak menular keluarga) dan dukungan sosial (dukungan emosional, instrumen, informasi dan penghargaan) terhadap perilaku pencegahan penyakit tidak menular. Penelitian ini merupakan desain potong lintang, data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner. Sampel penelitian ini adalah 221 mahasiswa/i Fakultas Kedokteran Universitas HKBP Nommensen yang aktif secara akademik yang direkrut dengan simple random sampling. Data dianalisis dengan regresi logistik berganda. Hasil penelitian diperoleh mayoritas responden berjenis kelamin perempuan (72,9%), suku Batak Toba (61,5%), tidak mempunyai riwayat penyakit tidak menular dalam keluarga (50,2%), mempunyai pengetahuan yang tinggi (94,6%), mendapatkan dukungan sosial (96,5%), melaksanakan perilaku pencegahan CERDIK (66,5%), dan mendapatkan dukungan emosional (98,6%). Faktor yang paling berpengaruh terhadap perilaku pencegahan adalah dukungan sosial (p= 0,014; OR= 7,981), dan riwayat penyakit tidak menular dalam keluarga (p= 0,021; OR= 0,502). Pada komponen dukungan sosial, faktor yang paling berpengaruh terhadap perilaku pencegahan penyakit tidak menular adalah dukungan instrumental (p = 0,020; OR= 4,333). Untuk penelitian selanjutnya, disarankan dapat melihat sumber dan media dukungan sosial manakah yang paling mempengaruhi perilaku pencegahan.Penyakit tidak menular mempunyai angka mortalitas yang tinggi di dunia. Untuk mengendalikannya, kita perlu meminimalisir faktor risiko yang dapat dimodifikasi, yaitu dengan perilaku CERDIK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh karakteristik individu (jenis kelamin, suku, pengetahuan, riwayat penyakit tidak menular keluarga) dan dukungan sosial (dukungan emosional, instrumen, informasi dan penghargaan) terhadap perilaku pencegahan penyakit tidak menular. Penelitian ini merupakan desain potong lintang, data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner. Sampel penelitian ini adalah 221 mahasiswa/i Fakultas Kedokteran Universitas HKBP Nommensen yang aktif secara akademik yang direkrut dengan simple random sampling. Data dianalisis dengan regresi logistik berganda. Hasil penelitian diperoleh mayoritas responden berjenis kelamin perempuan (72,9%), suku Batak Toba (61,5%), tidak mempunyai riwayat penyakit tidak menular dalam keluarga (50,2%), mempunyai pengetahuan yang tinggi (94,6%), mendapatkan dukungan sosial (96,5%), melaksanakan perilaku pencegahan CERDIK (66,5%), dan mendapatkan dukungan emosional (98,6%). Faktor yang paling berpengaruh terhadap perilaku pencegahan adalah dukungan sosial (p= 0,014; OR= 7,981), dan riwayat penyakit tidak menular dalam keluarga (p= 0,021; OR= 0,502). Pada komponen dukungan sosial, faktor yang paling berpengaruh terhadap perilaku pencegahan penyakit tidak menular adalah dukungan instrumental (p = 0,020; OR= 4,333). Untuk penelitian selanjutnya, disarankan dapat melihat sumber dan media dukungan sosial manakah yang paling mempengaruhi perilaku pencegahan
Current Management of Dry Eye due to The Influence of drugs
Background, The most common complaints of irritation in the eyes that often bring patients to have their eyes checked are generally associated with dry eyes. Dry eye disease (DED) is a disease associated with tear film instability due to multifactorial causes where the prevalence of DED with or without symptoms ranges from 5% to 50%. Factors that cause dry eyes are the use of topical drugs and systemic drugs.
Method. This literature review is in the form of a literature review with a descriptive approach. This literature review uses a scientific online databases that support the provision of data on topics raised according to titles, such as PubMed and Google Scholar with the keywords “Current” AND “Management” AND “Dry Eye” AND “Influence of Drugs”
Conclusion, one of the factors for dry eye disease can occur due to the influence of drug.. The effect of dry eye is drug factors, namely systemic drugs and topical drugs. Treatment of dry eyes, which can be given artificial tears, increases the volume of the tear film and moisture on the surface of the eye.Abstrak
Latar Belakang, Keluhan iritasi tersering pada mata yang kerap membawa pasien untuk memeriksakan matanya umumnya dikaitkan dengan mata kering. Penyakit mata kering atau dry eye disease (DED) merupakan penyakit yang dihubungkan dengan ketidakstabilan lapisan air mata akibat penyebab multifaktorial dimana prevalensi pada DED baik dengan gejala maupun tidak berkisar mulai dari 5% hingga 50%. Faktor yang menyebabkaan terjadinya mata kering yaitu penggunaan obat-obatan secara topikal dan obat sistemik. Biasanya dengan penggunaan obat secara bersamaan dapat mengakibatkan mata kering.
Metode, Pembuatan literatur ini berupa kajian kepustakaan dengan pendekatan deskriptif. Pencarian literatur menggunakan database online ilmiah yang mendukung pemberian data seputar topik yang diangkat sesuai judul, seperti PubMed dan Google Scholar dengan keyword yaitu “Current” AND “Management” AND “Dry Eye” AND “Influence of Drugs”
Kesimpulan, Salah satu faktor penyakit mata kering bisa terjadi karena pengaruh obat-obatan. Pengaruh mata kering faktor obat-obatan yaitu obat sistemik maupun obat topikal. Tatalaksana mata kering yang dapat diberikan yaitu air mata buatan, meningkatkan volume lapisan pada air mata dan kelembapan pada permukaan okular.
 
Korelasi antara Massa Otot dan Fungsi Kognitif pada Mahasiswi Kedokteran
Hasil penelitian tahun 2018 menunjukkan sebanyak 52,5% dari 217 mahasiswa kedokteran melakukan sedentary lifestyle. Sedentary lifestyle dapat mengakibatkan berkurangnya massa otot sehingga terjadi perubahan sintesis miokin yang memberikan dampak merugikan pada fungsi kognitif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara massa otot dan fungsi kognitif pada mahasiswi kedokteran. Penelitian menggunakan desain dengan besar sampel 90 mahasiswi yang diambil seluruhnya (total sampling) dari mahasiswa sesuai kriteria penelitian. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Tanita Medical Body Composition Analyzer (MC-980MA Plus) dan kuesioner Digit Symbol Substitution Test (DSST). Hasil penelitian didapatkan 38 (42,2%) subjek memiliki massa otot rendah, 47 (52,2%) subjek memiliki massa otot normal, dan 5 (5,6%) subjek memiliki massa otot tinggi. Hasil pemeriksaan fungsi kognitif didapatkan skor dengan median 61 (43-76), 64 (50-100), dan 81 (68-92) berturut-turut pada kelompok massa otot rendah, normal, dan tinggi. Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan perbedaan skor fungsi kognitif antar kelompok massa otot (p = 0,023). Hasil uji Spearman menunjukkan korelasi antara massa otot dan skor fungsi kognitif dengan korelasi lemah (p = 0,008; r = 0,279). Semakin tinggi massa otot, semakin baik fungsi kognitif
Variasi Arteri Subscapularis : Studi Literatur
Arteri subscapularis merupakan salah satu arteri yang berlokasi di ekstremitas superior, di sisi posterior dinding toraks. Pembuluh A. subscapularis merupakan cabang besar dari A. axillaris yang berfungsi untuk mengalirkan darah ke kulit dan otot. Variasi pada A. subscapularis memiliki makna penting karena berbagai operasi ortopedi yang melibatkan bahu. Variasi ini dapat menyebabkan risiko kesalahan dalam operasi, yang dapat mengancam ekstremitas. Tujuan studi ini adalah untuk mengidentifikasi dan memberikan pemahaman mengenai variasi anatomis A. subscapularis. Metode pencarian jurnal dilakukan pada database jurnal elektronik PubMed, ScienceDirect, Cochrane, dan Google Scholar. Studi ini menggunakan 12 literatur sebagai dasar penulisan mengenai variasi A. subscapularis. Berbagai variasi A. subscapularis adalah sebagai berikut. A. subscapularis mempercabangkan A. circumflexa humeri anterior et posterior, dan A. thoracica lateralis selain mempercabangkan arteri yang secara klasik, yaitu A.circumflexa scapulae dan A. thoracodorsalis. Selain itu, A. subscapularis yang biasa berasal dari segmen ketiga atau distal A. axillaris juga ditemukan variasinya yang berasal dari segmen kedua A. axillaris atau hasil percabangan dari A.thoracica lateralis
Perbandingan Efektivitas Antimikroba Nanopartikel Seng Oksida terhadap Candida albicans dengan Streptococcus mutans: Telaah Sistematik
Nanopartikel seng oksida (Np-ZnO) merupakan bahan dalam semen gigi yang digunakan dalam menambal gigi berlubang akibat karies karena memiliki daya antibakteri yang sangat baik. Penyebab utama karies adalah Streptococcus mutans.Selain bakteri tersebut, Candida albicans juga diketahui memiliki peran dalam perkembangan Streptococcus mutans terhadap kejadian karies gigi, walaupun mekanismenya belum jelas diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas daya antimikroba Np-ZnO pada Candida albicans dengan Streptococcus mutans. Penelitian ini akan menggunakan metode telaah sistematis dengan mengumpullkan berbagai jurnal dari berbagai database seperti: PubMed, Google Scholar,dan ProQuest dengan berfokus pada konsentrasi hambat minimum (KHM) maupun konsentrasi bunuh minimum (KBM) Np-ZnO pada kedua mikroorganisme tersebut. Berdasarkan 5 dari 2.764 jurnal yang ditemukan oleh tiga investigator dengan menggunakan PRISMA, didapatkan hasil konsentrasi Np-ZnO yang dibutuhkan dalam menghambat maupun membunuh Streptoccus mutans lebih kecil jika dibandingkan dengan Candida albicans, sehingga dapat disimpulkan Np-ZnO memiliki daya antimikroba yang lebih baik pada Streptococcus mutans. Meskipun demikian, partikel tersebut diketahui memiliki daya toksisitas yang relatif rendah sehingga dibutuhkan konsentrasi yang lebih tinggi untuk mengeliminasi Candida albicans
Literature Review: Model Matematika Penyebaran Virus SARS-COV-2 pada Masa Pandemi COVID-19 Tahun 2020
Pandemi COVID-19 dinyatakan sebagai Public Health Emergency of International Concern oleh WHO. Model Matematika penyebaran Susceptible-Infected-Recovered (SIR) dan model Susceptible-Exposed-Infected-Recovered (SEIR) digunakan dalam pemodelan penyakit menular dengan menghitung jumlah orang dalam populasi tertutup. Pemodelan matematika ini merupakan matematika epidemiologi untuk memahami dinamika populasi pada saat pandemi, dan acuan efektivitas kebijakan yang dilakukan selama pandemi. Literatur Riview ini bertujuan untuk mengetahui gambaran situasi pandemi COVID-19 berdasarkan model matematika SIR dan SEIR di beberapa negara tahun 2020. Data yang dipakai pada Literatur Riview ini adalah hasil penelitian, laporan dari lembaga terkait, situs web resmi jurnal dan beberapa situs berita resmi. Model SIR dan SEIR dengan baik menyajikan perubahan data COVID-19 dan model ini dapat memberikan panduan untuk mendapatkan wawasan yang lebih baik tentang evolusi pandemi COVID-19. Model Matematika SIR dan SEIR membantu pemerintah negara di dunia dan badan kesehatan dunia WHO, dalam membuat kebijakan pencegahan penularan dan pengendalian COVID-19