Jurnal Universitas Kristen Krida Wacana
Not a member yet
    1395 research outputs found

    Ketika Dokter Mengobati Keluarganya: Sebuah Tinjauan Etika

    Full text link
    Praktik dokter yang melakukan terapi kepada keluarga sendiri masih menjadi perdebatan hingga saat ini. Indonesia belum mengeluarkan hukum terkait hal ini dan belum ada tinjauan etika yang membahas terkait permasalahan tersebut. Mengobati keluarga sendiri dianggap tidak profesional dan bertentangan dengan KODEKI (Kode Etik Kedokteran Indonesia) 2012 Pasal 2, yaitu dokter dituntut untuk menjadi profesional secara independen. Berbagai alasan yang menyebabkan dokter tidak boleh mengobati anggota keluarganya yaitu objektivitas bisa terkompromi, pasien merasa sungkan mengemukakan informasi, otonomi pasien terkompromi, dan prinsip informed consent bisa terabaikan. Situasi khusus yang memperbolehkan dokter melakukan terapi kepada keluarga yaitu penyakit tergolong minor dan emergensi. Karena berbagai pergumulan muncul dari kalangan dokter akan praktik mengobati keluarganya sendiri, oleh karena itu tinjauan ini merangkum berbagai alasan apakah dokter diperbolehkan melakukan terapi terhadap keluarga sendiri dan situasi khusus yang memperbolehkannya. Praktik dokter yang melakukan terapi kepada keluarga sendiri masih menjadi perdebatan hingga saat ini. Indonesia belum mengeluarkan hukum terkait hal ini dan belum ada tinjauan etika yang membahas terkait permasalahan tersebut. Mengobati keluarga sendiri dianggap tidak profesional dan bertentangan dengan KODEKI (Kode Etik Kedokteran Indonesia) 2012 Pasal 2, yaitu dokter dituntut untuk menjadi profesional secara independen. Berbagai alasan yang menyebabkan dokter tidak boleh mengobati anggota keluarganya yaitu objektivitas bisa terkompromi, pasien merasa sungkan mengemukakan informasi, otonomi pasien terkompromi, dan prinsip informed consent bisa terabaikan. Situasi khusus yang memperbolehkan dokter melakukan terapi kepada keluarga yaitu penyakit tergolong minor dan emergensi. Karena berbagai pergumulan muncul dari kalangan dokter akan praktik mengobati keluarganya sendiri, oleh karena itu tinjauan ini merangkum berbagai alasan apakah dokter diperbolehkan melakukan terapi terhadap keluarga sendiri dan situasi khusus yang memperbolehkannya.

    A Rare Case: HaemoglobinS-Thalassemia in Adult

    Full text link
    Hemoglobinopathy refers to a disease involving a qualitative or quantitative defect of the structure or synthesis of haemoglobin molecules. The HaemoglobinS- beta thalassemia occurs in a heterozygotes individual with beta-thalassemia and HaemoglobinS gene.  A 29-year-old man came with severe anemia, thrombocytopenia, and history of repeated blood transfusions. Physical examination showed pale conjunctiva, pansystolic murmurs, and hepatosplenomegaly. The HaemoglobinS fraction was found in haemoglobin electrophoresis with increased HaemoglobinF and decreased HaemoglobinA2 fraction. The peripheral blood smear shows abnormal erythrocytes morphologies such as pencil shapes, fragmentocytes, target cells, and sickle shapes. The patient was diagnosed with chronic anaemia caused by HaemoglobinS-beta thalassemia. It makes ineffective erythropoiesis, intravascular, and extravascular hemolysis. This haemoglobinopathy caused increased ferritin and transferrin saturation. The presence of renal failure indicate there is a complicated condition like microvascular obstruction of renal. In this case, there is a reduction of HaemoglobinA2 fraction that is not common in HaemoglobinS-beta thalassemia. The patient with Haemoglobin S / beta+ thalassemia shows intravascular hemolysis, ineffective hematopoiesis, and vaso-occlusive signs. Deoxyribo Nucleic Acid analysis is further needed to confirm the combination defect of haemoglobin synthesis disorders in conjunction with alpha thalassemia or Hereditary persistence of fetal haemoglobin.Pendahuluan: Hemoglobinopati merupakan penyakit yang disebabkan abnormalitas dari struktur atau sintesis molekul haemoglobin (Hb) yang menyebabkan defek kualitatif atau defek kuantitatif. HbS- β thalassemia adalah kondisi heterozigot dari gen β-thalassemia dan gen HbS. . Kasus: laki-laki berusia 29 tahun dengan keterangan klinis anemia gravis dan trombositopenia disertai riwayat transfusi berulang. Konjungtiva pasien tampak anemis, dijumpai murmur pansistolik dan hepatosplenomegali. Pada analisa Hb dijumpai fraksi HbS disertai fraksi HbF tinggi, fraksi HbA2 rendah. Dari gambaran darah tepi didapatkan sel pensil, fragmentosit, sel target, sel sabit. Selain itu dijumpai peningkatan LDH, kadar bilirubin, disertai hemoglobinuria. Diskusi: Pasien mengalami anemia kronik disertai eritropoiesis inefektif, hemolisis intravaskular dan ekstravaskular. Adanya gagal ginjal kemungkinan disebabkan sumbatan mikrovaskular ginjal. Hemoglobinopati menyebabkan meningkatnya ferritin dan menjenuhkan transferrin. Pada kasus ini didapatkan fraksi HbA2 rendah berbeda dari kriteria yang seharusnya terdapat peningkatan fraksi HbA2. Defisiensi besi, thalassemia α, atau thalassemia delta pada kasus ini belum dapat disingkirkan Simpulan: Pasien HbS/β+ thalassemia, disertai hemolisis intravaskular, hematopoiesis inefektif, dan tanda vaso-oklusif. Perlu pemeriksaan analisis DNA untuk menentukan kombinasi gangguan sintesis hemoglobin dengan α thalassemia atau HPFH

    Expression of Nuclear Factor – kappa B (NF-kB) in Human Breast Cancer Stem Cells (CD 24-/CD 44+) Treated with H2O2 and Its Relationship with Cell Viability

    Full text link
    Introduction: Breast cancer is one of the highest causes of death from cancer in women in Indonesia. This is partly due to the resistance of ROS-based therapies such as radiotherapy and chemotherapy. Breast cancer stem cells (cancer stem cells, CSCs) have a role in this resistance mechanism. Previous studies demonstrated the ability of CSC to survive oxidative stress conditions due to rotenone administration. Therefore, in this study an analysis was carried out on the transcription factor NF-kB in breast cancer cells, both CSCs and Non CSCs, related to the role of NF-kB in maintaining the survival of cancer cells under conditions of oxidative stress. Methods: The study was conducted on human breast cancer stem cells (CD24-/CD44+) and non stem cells (CD24-/CD44-) which were given H2O2 at concentrations of 1.1µM, 11µM, and 110µM with control cells not given H2O2. Assessment was carried out on the parameters of NF-kB mRNA expression, and cell viability.  Results: Administration of H2O2 at a concentration of 11µM showed a significant increase in the expression of NFk-B CSCs mRNA compared to non CSCs (p<0.05). As for the viability test results, at all concentrations of H2O2 it appears that CSCs was able to maintain its viability compared to non CSCs which experienced a decrease in viability (p<0.05). Conclusion: In this study, conditions of oxidative stress due to the administration of H2O2 led to an increase in the expression of NF-kB mRNA in CSCs so that cell viability could be maintained

    Hubungan Kadar Vitamin D dengan Kasus Preeklamsia pada Kehamilan

    No full text
    Preeclampsia is a pregnancy disorder with serious complications marked by hypertension and proteinuria finding. Vitamin D deficiency is one of the risk factors of preeclampsia with a prevalence of 18-84% worldwide. The objective of this literature review is to determine the relationship between vitamin D levels in with occurrence of preeclampsia in pregnancy. The database that were used was PubMed with “Preeclampsia”, “Level'', and “Vitamin D” as keywords. Inclusion and exclusion criteria were applied in choosing journals that are used. The results of this paper indicates that patient with 25(OH)D serum levels below 30 ng/mL are more at risk of experiencing preeclampsia. This literature review indicates that there is a correlation between vitamin D levels and preeclampsia. Vitamin D supplementation is recommended as one or other ways to prevent preeclampsia. Nonetheless, is no research proving that consuming vitamin D supplement during pregnancy regularly and consistently can significantly increase 25(OH)D serum levels status. The optimal levels of vitamin D serum before pregnancy can minimalize the risk of preeclampsia. Further research is needed to inspect the dose of vitamin D supplementation that is effective to reduce preeclampsia incidence.Preeklamsia adalah gangguan kehamilan dengan komplikasi serius yang ditandai dengan hipertensi dan proteinuria. Defisiensi vitamin D merupakan salah satu faktor risiko preeklamsia dengan prevalensi 18-84% di seluruh dunia. Literature review ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar vitamin D dengan kasus preeklamsia pada kehamilan. Database yang digunakan adalah PubMed dengan kata kunci “Pre-eclampsia”, “Level”, dan “Vitamin D”. Kriteria inklusi dan kriteria eksklusi diterapkan dalam memilih jurnal yang akan digunakan. Hasil penulisan ini menunjukan bahwa pasien dengan kadar serum 25(OH)D di bawah 30 ng/mL memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami preeklamsia. Dalam literature review ini, ditemukan hubungan antara kadar vitamin D dengan kasus preeklamsia. Pemberian suplemen vitamin D direkomendasikan sebagai salah satu pencegahan preeklamsia. Belum ditemukan penelitian yang dapat membuktikan bahwa pemberian suplemen vitamin D secara teratur dan konsisten saat kehamilan dapat memperbaiki status kadar serum 25(OH)D. Kadar serum 25(OH)D yang optimal sebelum kehamilan dapat meminimalisir risiko preeklamsia. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk meneliti dosis suplemen vitamin D yang efektif untuk mengurangi kemungkinan preeklamsia

    Manfaat Pemeriksaan Biomarker B-Rapidly Accelerated Fibrosarcoma (BRAF) pada Pasien Preoperatif dengan Kanker Tiroid

    Full text link
    Thyroid cancer is the most common cancer of the endocrine system. In the detection of thyroid cancer, the gold standard examination is using fine-needle aspiration (FNA), where the cytology results are used in 60% - 80% of cases. FNA examination performed preoperatively determine the initial management of thyroid cancer. However, the FNA technique is limited by insufficient samples in about 2% - 20% of cases and about 10% - 30% of FNA results are classified as indeterminate (ITN) in the Bethesda system. Therefore, molecular tests such as BRAF biomarker screening are expected to help improve the detection of cases in this category. Methods: A literature search conducted from 4 databases (PubMed, ProQuest, ScienceDirect, and Google Scholar) published in the last 10 years with the keywords "preoperative", "braf" or "braf kinases", and "thyroid cancer". Results: Ten studies with total of 11,239 specimens classified in Bethesda III - VI showed increased sensitivity of 34.8% - 96.62% in the combination of FNA and BRAF techniques. Conclusion: The combination of preoperative FNA and BRAF examination increase sensitivity and help in the initial management of thyroid cancer in ITN or Bethesda III and IV group thyroid nodules in the detection of malignancy in the thyroid.Kanker tiroid merupakan kanker paling umum pada sistem endokrin. Dalam pendeteksian kanker tiroid, pemeriksaan standar emasnya adalah menggunakan fine-needle aspiration (FNA), dimana hasil sitologinya digunakan pada 60% - 80% kasus. Pemeriksaan FNA dilakukan secara preoperatif untuk menentukan manajemen inisial dari kanker tiroid. Namun, teknik FNA dibatasi oleh sampel yang tidak mencukupi pada sekitar 2% - 20% kasus dan sekitar 10% - 30% hasil dari FNA diklasifikasikan sebagai indeterminate (ITN) pada sistem Bethesda. Karena itu, uji molekular seperti pemeriksaan biomarker BRAF diharapkan dapat membantu meningkatkan pendeteksian kasus pada kategori tersebut. Metode: Dilakukan pencarian literatur dari 4 database (PubMed, ProQuest, ScienceDirect, dan Google Scholar) yang dipublikasi dalam 10 tahun terakhir dengan kata kunci “preoperative”, “braf” atau “braf kinases”, dan “thyroid cancer”. Hasil: Sepuluh studi dengan total 11.239 spesimen yang diklasifikasikan dalam Bethesda III – VI menunjukkan peningkatan sensitivitas yaitu sebesar yaitu 34,8% - 96,62% pada kombinasi teknik FNA dan BRAF. Kesimpulan: Kombinasi pemeriksaan preoperatif FNA dan BRAF mampu meningkatkan sensitivitas serta membantu dalam manajemen inisial kanker tiroid pada nodul tiroid grup ITN atau Bethesda III dan IV dalam pendeteksian keganasan pada tiroid

    Tinjauan Pustaka terhadap Tatalaksana Terkini Ulkus Kornea Jamur Akibat Salah Penggunaan Lensa Kontak

    Full text link
    Microbial keratitis can cause corneal ulcers that can threaten vision. Keratitis is the leading cause of global corneal blindness with an estimated incidence of 2.5-799 cases per 100,000 population/year. Corneal ulcers contribute 5% of blindness worldwide and are the most common cause of corneal blindness in the developing countries. This is a review over articles from electronic databases which focuses on the topic relevance, research methods, subjects, and the results. The data were collected from NCBI, AAOJournalt and Google Scholar with keywords “Fungal”, “Corneal Ulcer”, “Treatment”, “Contact Lens”, “Jamur”, “Ulkus Kornea”, “Terapi”, and “Lensa Kontak”. The inclusion criteria are published from January 2012 to July 2022, a study of humans, available in full text, written English or Indonesian. Natamycin 5% is effective in the treatment of fungal keratitis, voriconazole is more effective against fungal keratitis, and oral posaconazole can serve as an effective treatment for refractory Paecilomyces keratitis, which is resistant to conventional therapy. If the use of drugs that are not enough to treat fungal keratitis, requires action intervention.  In treatment with action there is novelty in the action of the combination of CLX and acellular porcine corneal stroma (APCS).   Keywords: literature review, management, microbial keratitisKeratitis mikroba dapat menyebabkan ulkus kornea yang dapat mengancam penglihatan. Keratitis merupakan penyebab utama kebutaan kornea secara global dengan perkiraan insiden 2,5-799 kasus per 100.000 penduduk/tahun. Ulkus kornea menyumbang 5% kebutaan di seluruh dunia dan merupakan penyebab kebutaan kornea paling umum di negara berkembang. Penelitian ini meninjau literatur dari database elektronik yang berforkus pada kesesuaian topik, metode penelitian, subjek penelitian, dan hasil. Data diperoleh melalui database NCBI, AAOJournalt, dan Google Scholar dengan kata kunci “Fungal”, “Corneal ulcer”, “Treatment”, “Contact Lens”, “Jamur”, “Ulkus Kornea”, “Terapi”, dan “Lensa Kontak”. Kriteria inklusi antara lain: literatur dipublikasi antara Januari 2012 hingga Juli 2022; penelitian dilakukan pada manusia; full text, ditulis dalam Bahasa Inggris atau Indonesia. Hasil tinjauan pustaka menyebutkan bahwa Natamycin 5% memiliki efektifitas baik dalam pengobatan keratitis jamur, vorikonazole memiliki efektifitas lebih baik terharap keratitis jamur, dan posaconazole oral dapat mengobati keratitis Paecilomyces refrakter dengan efektif, yang resisten terhadap terapi konvensional. Penggunaan obat yang tidak cukup untuk mengobati keratitis jamur, membutuhkan intervensi tindakan. Dalam pengobatan dengan tindakan terdapat kebaruan dalan tindakan yaitu kombinasi CLX dan acellular porcine corneal stroma (APCS). Kata Kunci:  keratitis mikroba, tatalaksana, tinjauan literatu

    Berbagai Instrumen Penilaian Photoaging dan Karakteristiknya

    Full text link
    Seiring dengan bertambahnya usia seseorang, kulit sebagai jaringan terluar dari tubuh manusia akan memberikan gambaran paling terlihat dari proses penuaan. Penuaan kulit dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik terjadi secara alamiah dan berkaitan dengan proses degenerasi seluler. Faktor ekstrinsik berkaitan dengan pajanan sinar matahari, rokok, dan polusi udara. Penyebab utama penuaan kulit akibat faktor ekstrinsik berupa pajanan kronik sinar ultraviolet dikenal sebagai photoaging. Tanda klinis photoaging dapat bervariasi, namun yang sering ditemukan berupa perubahan pigmentasi dan keriput. Saat ini telah tersedia lebih dari 100 instrumen penilaian penuaan kulit menggunakan fotografi, dermoskopi, dan alat diagnostik multifungsi namun masih belum ada yang dianggap sebagai baku emas. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk membahas berbagai instrumen penilaian photoaging yang sering digunakan dalam praktik klinis sehari-hari dan karakteristik dari masing-masing instrumen tersebut.Seiring dengan bertambahnya usia seseorang, kulit sebagai jaringan terluar dari tubuh manusia akan memberikan gambaran paling terlihat dari proses penuaan. Penuaan kulit dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik terjadi secara alamiah dan berkaitan dengan proses degenerasi seluler. Faktor ekstrinsik berkaitan dengan pajanan sinar matahari, rokok, dan polusi udara. Penyebab utama penuaan kulit akibat faktor ekstrinsik berupa pajanan kronik sinar ultraviolet dikenal sebagai photoaging. Tanda klinis photoaging dapat bervariasi, namun yang sering ditemukan berupa perubahan pigmentasi dan keriput. Saat ini telah tersedia lebih dari 100 instrumen penilaian penuaan kulit menggunakan fotografi, dermoskopi, dan alat diagnostik multifungsi namun masih belum ada yang dianggap sebagai baku emas. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk membahas berbagai instrumen penilaian photoaging yang sering digunakan dalam praktik klinis sehari-hari dan karakteristik dari masing-masing instrumen tersebut

    Studi Prevalensi Pedikulosis Kapitis di Pondok Pesantren X Jakarta Barat

    Full text link
    Pedikulosis kapitis merupakan salah satu penyakit yang sering terjadi di pondok pesantren yang penyebarannya berasal dari kontak rambut. Di Indonesia, prevalensi pedikulosis kapitis mencapai 20%. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menentukan kejadian pedikulosis kapitis dan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya  di Pondok Pesantren X di Jakarta Barat pada pertengahan bulan April 2022. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan rancangan cross-sectional mengenai prevalensi pedikulosis kapitis. Berdasarkan hasil, santri yang mengalami pedikulosis kapitis yaitu 28 santri (50,9%). Penyakit ini tersering terjadi pada perempuan (79,4%), usia 12 – 15 tahun (56,2%), tingkat pendidikan MTs (55,9%), panjang rambut >20 cm (80,8%), tipe rambut lurus (44,4%), frekuensi keramas ≥3x seminggu (62,5%), penggunaan bantal/tempat tidur secara bersamaan (45,2%), dan penggunaan sisir/aksesoris rambut secara bersamaan (52,2%). Kejadian pedikulosis kapitis pada santri di Pondok Pesantren X di Jakarta Barat yaitu 28 santri (50,9%). Kebiasaan dan perilaku siswa saat melakukan aktivitas sehari-hari dan praktik kebersihan rambut menjadi faktor yang memengaruhi terjadinya pedikulosis.

    Pengaruh Gelombang Elektromagnetik Extremely Low Frequency (ELF) terhadap Kelistrikan Jantung

    Full text link
    Paparan gelombang elektromagnetik  Extremely Low Frequency  dicurigai berdampak pada kelainan tubuh khususnya organ jantung.  Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh paparan Elektromagnetik Extremely Low Frequency terhadap kelistrikan jantung. Metode penulisan menggunakan literature review dari 30 artikel hasil penelitian yang relevan mulai tahun 2012 sampai 2022,ditemukan 11 artikel yang sesuai kriteria yang telah ditetapkan. Indikator kelistrikan jantung yang akan dianalisis dalam penelitian ini antara lain, detak jantung (aritmia) dan metabolisme jantung. Hasil penelitian menunjukkan gelombang Extremely Low Frequency memengaruhi secara positif sebanyak 85% terhadap total sampel jantung sakit khususnya pada proses penyembuhan penyakit Ischemia Reperfusi (IR) dan koroner dengan cara meningkatkan fungsi jantung dan meningkatkan NO pada sampel jantung sakit. Namun, 15% sisanya, Extremely Low Frequency tidak signifikan berpengaruh terhadap aritmia maupun metabolisme pada  sampel jantung sehat baik manusia maupun hewan. Hasil penelitian melaporkan bahwa paparan medan listrik 50-60 Hz intensitas 12 µT mampu melindungi jantung dari kerusakan Ischemia Reperfusi dan juga mempertahankan metabolisme selama cedera IR. Hasil pada jantung sehat paparan tidak memberikan efek signifikan terhadap tekanan darah, denyut nadi, denyut jantung, atau irama jantung sehingga penelitian pada jantung sehat masih sangat kontroversial. Sedangkan pada jantung yang terkena cidera IR dan coroner, ELF dapat digunakan sebagai alternative terapi proses penyembuhan

    The KARAKTERISTIK KLINIKOPATHOLOGI BERDASARKAN LOKASI KANKER KOLOREKTAL DI RUMAH SAKIT BETHESDA, YOGYAKARTA: -

    No full text
    Colorectal cancer has prevalence about 10% of all cancer that can cause death. Incident number of colorectal cancer in the US in 2021 about 104.270 colon cancer cases and 45.230 rectal cancer cases with death number was 52.980 lives. There were 1.544 patients diagnosed with colorectal cancer in RSUP Dr. Sarjito between year 2008-2017 among of them 820 male and 724 female.  This research used retrospective descriptive using medical record data of colorectal cancer patients between year 2016-2020, and data were analyzed using univariat and were displayed in the form of tabel and diagram. This research  used research variables, including: location of colorectal cancer, stage, age, gender, histopathological picture, and clinical symptoms. Colorectal cancer There were a total of 60 patients with details of right colorectal cancer patients being male (5 patients), moderate age range (4 patients), stages 3 and 4 (2 patients each), histopathological type of adenocarcinoma (4 patients), and symptoms clinical abdominal pain (4 patients).  The most common colorectal cancer is left colorectal cancer, with male gender, 40-64 years old, histopathological type of adenocarcinoma, and stage 4.Pendahuluan : prevalensi 10% dari semuakanker yang menyebabkan kematian. Angka kejadian kanker kolorektal di (US) tahun 2021 sebesar 104.270 kasus kanker kolon dan45.230 kasus kanker rektal dengan angka kematian 52.980 jiwa. Dijumpai1.544 jiwa terdiagnosis kanker kolorektal di RSUP Dr Sardjito antaratahun 2008-2017 yang terbagi menjadi 820 pria dan 724 wanita.Tujuan Penelitian :  Melihat karakteristikklinikopatologi kanker kolorektal berdasarkan lokasi kanker di RSBethesda.Metode Penelitian: Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif denganmengambil data rekam medis pasien kanker kolorektal di RS Bethesdatahun 2016-2020. Data dianalisis secara univariat dan ditampilkan dalambentuk tabel dan diagram. Penelitian ini menggunakan variable penelitianantara lain : lokasi kanker kolorektal, stadium, usia, jenis kelamin,gambaran histopatologi, gejala klinis.Hasil :  60 pasien dengan rincian penderita kankerkolorektal kanan terbanyak berjenis kelamin laki-laki , rentangusia sedang , stadium 3 dan 4, adenokarsinoma , dan gejala klinis nyeri perut. Kanker kolorektal kiri dijumpai penderita terbanyak laki-laki , rentang usia sedang , stadium 4,adenokarsinoma, dan nyeri perut.Kesimpulan : Kanker kolorektal terbanyak adalah kanker kolorektal kiri,dengan jenis kelamin laki-laki, berusia 40-64 tahun, berjenis histopatologiadenokarsinoma, dan stadium 4.Kata Kunci : kanker kolorektal, usia, stadium, histopatologi, gejala, jeniskelami

    1,003

    full texts

    1,395

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Universitas Kristen Krida Wacana
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇