Jurnal Universitas Kristen Krida Wacana
Not a member yet
1395 research outputs found
Sort by
Uji Kadar Likopen dan Aktivitas Antioksidan pada Buah Tomat
Oxidative stress, a condition of imbalanced free radicals and antioxidant in our body has long been associated with the occurrence of atherosclerosis, inflammation, cancer, and aging. Increased oxidative stress, due to high fat intake and pollution requires the consumption of antioxidant compounds from food or food supplements. Tomatoes (Solanum lycopersicum) has been known to have a high content of lycopene that is capable of controlling free radicals 100 times more efficiently than vitamin E and 12500 times than glutathione peroxidase which is an endogenous antioxidant enzyme. The purpose of this study was to determine lycopene content and antioxidant activity of tomatoes. Antioxidant activity was determined spectrophotometrically based on a DPPH method, whereas lycopene content was determined based on its absorbance and its specific absorbance. This study found that the IC50 of tomatoes was 60 µg/ml which is classified as strong antioxidant, and lycopene content in tomatoes was 3.42 mg / kg fresh sample. Therefore, this study may conclude tomatoes as a good source of antioxidant.Stres oksidatif, yaitu ketidakseimbangan antara radikal bebas dan zat antioksidan dalam tubuh, banyak dikaitkan dengan kejadian atherosklerosis, inflamasi, kanker, dan proses penuaan. Beban stres oksidatif yang meningkat karena pengaruh pola makan yang tinggi lemak dan polusi menyebabkan tubuh membutuhkan asupan antioksidan dari luar berupa suplemen atau bahan-bahan makanan yang mengandung antioksidan misalnya tomat (Solanum lycopersicum). Buah tomat memiliki kandungan likopen yang cukup tinggi yang kemampuannya mengendalikan radikal bebas 100 kali lebih efisien dibanding vitamin E dan 12500 kali dari pada glutathione peroksidase (enzim antioksidan endogen dalam tubuh). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan aktivitas antioksidan buah tomat dan untuk mengetahui kadar likopen dalam tomat. Aktivitas antioksidan ditentukan secara spektrofotometri, yaitu dengan métode DPPH. Kadar likopen dalam buah tomat ditentukan berdasarkan absorbansi dan nilai absorbansi spesifiknya. Dari hasil penelitian ini didapatkan kadar antioksidan dengan metode DPPH/ IC50 buah tomat adalah 60 µg/ml termasuk dalam antioksidan kuat, dan kadar likopen dalam buah tomat ada sebesar 3.42 mg/kg sampel segar. Dapat disimpulkan bahwa buah tomat mengandung kadar antioksidan
Ultimatum Game: Sebuah Eksperimen Ekonomi Dalam Kelas
Ultimatum game is one of the game theory models used in an experiment to show the behavior of economic agent decision making that deviates from the basic principles of microeconomic theory. An experimental unit with a game consists of two participants, each called the first player (proposer) and the second player (responder). This study discusses the use of ultimatum games in economic experiments in the classroom. The purpose of this study is to determine the average proposal offered by the first player (proposer) and the average proposal that is not rejected by the second player (responder). The experiment participants were 15 people and each of them participated in the same experiment three times. In each experiment each played the role of first player and second player. Placement of participants in the experimental unit is done randomly. The experimental results show that for the whole experiment the average offer value is 66.16 for the proposer and 33.84 for the responder; while the average value of offers that were not rejected by respondents was 64.50 for proposers and 35.50 for respondents. Most of the behaviors of respondents who refuse offers are consistent with the distributional preferences theory.Keywords: ultimatum game, classroom experiment, fairness, distributional preference
Virus Penyebab Infeksi pada Otot
Otot merupakan massa jaringan lunak terbesar didalam tubuh, yang memiliki peran utama untuk menjaga postural tubuh dan sebagai penggerak. Miositis merupakan peradangan pada otot dan biasanya terjadi nekrosis, disebabkan terutama karena penyebaran dan invasi patogen bakteri atau virus secara hematogen ke otot. Miositis merupakan penyakit yang jarang. Angka kejadian miositis diperkirakan sebesar 50.000-70.000 orang pada tahun 2011 di Amerika Serikat. Virus merupakan penyebab tersering miositis infeksi nonbakteri, miositis viral seringkali memberikan gambaran klinis berupa mialgia, miositis multifokal, dan rhabdomiolisis. Penegakkan diagnosis miositis sangat penting dalam penatalaksanaan kasus, diagnosis dapat ditegakan bila ditemukan pengumpulan cairan radang pada pemeriksaan pencitraan. Uji diagnostik dengan pewarnaan Gram dan Gomori-Grocott methenamine silver (GMS), pemeriksaan histopatologi, kultur, dan pemeriksaan standar untuk virus.Kata Kunci: infeksi virus, miositis, rhabdomiolisi
Identifikasi Escherichia coli pada Tangan Penjamah Makanan di Kantin Kampus FK Ukrida Tahun 2016
Kontaminasi E. coli pada makanan cukup tinggi di Indonesia terutama di Jakarta. Tingkat kontaminasi oleh E. coli adalah 65,5% . Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan makanan juga masih tinggi yaitu 31.919 kasus tahun 1997 dengan angka kematian kasus 0,15%. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi adanya bakteri Escherichia coli pada tangan penjamah makanan di kantin Kampus Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana (FK Ukrida) dengan metode total purposive sampling sebanyak 17 sampel yang diteliti secara biokimia, menggunakan Analytical Profile Index Test. Pengambilan sampel dengan swab tangan hanya dilakukan satu kali saja untuk setiap penjamah makanan, menggunakan kapas lidi steril yang sudah dicelupkan ke dalam larutan NaCl 0,9% pada seluruh permukaan tangan dan sela-sela jarinya. Hasil swab tangan dibiakkan pada medium agar Eosin Methylen Blue. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa bakteri yang terdapat pada tangan penjamah makanan di kantin kampus FK Ukrida adalah koloni jamur dan bakteri gram positif, Pantoea spp, Raoultella planticola.Kata kunci: Escherichia coli, penjamah makanan, kantin kampus FK Ukrid
Hubungan Kerja Gilir dan Faktor-Faktor Lain dengan Insomnia pada Pekerja Laki-Laki di Pabrik Sepatu PT X, Tangerang
Kerja gilir telah lama diterapkan pada beberapa sektor pekerjaan yang mengharuskan beroperasi selama 24 jam. Berbagai masalah kesehatan telah diketahui sebagai akibat dari kerja gilir dan salah satunya adalah gangguan tidur atau insomnia. Insomnia pada pekerja pabrik yang menjalani kerja gilir dapat mengganggu kerja dan dapat menurunkan produktivitas. Sebanyak 202 pekerja laki-laki pabrik sepatu di Tangerang menjadi responden penelitian yang menggunakan metode comparative cross sectional. Informasi diperoleh dengan mewawancarai semua responden. Diagnosis insomnia didapatkan melalui pengisian kuesioner Insomnia Rating Scale. Dari 202 responden yang terdiri atas 101 orang kerja gilir dan 101 orang yang tidak kerja gilir didapatkan perbandingan prevalensi insomnia pada kerja gilir sebesar 63,4% dan pada tidak kerja gilir 23,8%. Kerja gilir mempunyai risiko 6,65 kali lebih besar untuk terjadinya insomnia dibandingkan dengan yang tidak kerja gilir. Faktor risiko insomnia lainnya adalah umur 40 tahun atau lebih (OR=3,38), waktu merokok tiga jam atau kurang sebelum tidur (OR = 9,33), dan lingkungan tidur yang tidak nyaman. (OR = 4,00). Terdapat hubungan antara kerja gilir, umur, merokok, dan lingkungan tidur dengan terjadinya insomnia.Kata kunci: kerja gilir, insomnia,umur, merokok, lingkungan tidu
Gambaran Penyakit Ginjal Kronik dan Komplikasinya di RSUD Koja Periode Juli-November 2017
Penyakit ginjal kronik (PGK) adalah suatu proses patofisiologi dengan etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif, dan pada umumnya berakhir dengan gagal ginjal. Penyakit ginjal kronik merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya proporsi dan jenis komplikasi pasien PGK di Penyakit Dalam RSUD Koja. Penelitian ini bersifat observasional, dengan mengambil sampel secara consecutive sampling pada unit rawat jalan dan rawat inap Penyakit Dalam RSUD Koja selama Juli – November 2017. Didapatkan 261 subyek, 149 (57,09%) laki-laki dan 112 (42,91%) perempuan, dengan rentang usia antara 18–72 tahun, dengan jumlah terbanyak pada kelompok usia 45-65 tahun (62,45%),stadium PGK terbanyak adalah stadium V (62,.07%), sebanyak 74,33% memiliki komplikasi, terbanyak adalah ensefalopati uremik 94,64%, anemia 88,7% dan volume overload 88,1%. Di bagian rawat jalan dan Rawat Inap Penyakit Dalam RSUD Koja periode Juli–November 2017 sebanyak 74,33% dari pasien PGK memiliki komplikasi, komplikasi terbanyak adalah ensefalopati uremik (94,64%) diikuti oleh anemia 88,7% dan volume overload 88,1%. Kata Kunci : komplikasi, penyakit ginjal kronik, ensefalopati uremi
Modifikasi Alat Pelindung Kaki dalam Mencegah Timbulnya Ulkus Kaki pada Penderita Diabetes Melitus
Kaki tersusun atas tulang, otot, sendi, ligamentum, sistem limfe dan sistem neurovaskular yang sangat penting dalam mendukung aktivitas dalam kehidupan manusia. Kaki terdapat di distal tubuh dan memiliki struktur rangka khusus, sehingga pada saat menjalankan fungsinya akan terpapar terhadap lingkungan. Hal ini menyebabkan kaki rentan mengalami trauma, baik dari lingkungan maupun dari dalam tubuh. Ulkus plantar merupakan salah satu komplikasi kronis pada kaki penderita diabetes melitus yang tidak ditangani dengan baik. Terapi medikamentosa masih merupakan pilihan utama pada ulkus plantar, namun tindakan pencegahan merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung pemulihan dan pencegahan kejadian ulkus plantar. Pemanfaatan alat pelindung kaki merupakan salah satu bagian dari tindakan pencegahan yang penting. Kaki penderita diabetes melitus mengalami perubahan struktur makro maupun mikro sehingga tidak dapat menggunakan alat pelindung kaki biasa seperti yang digunakan oleh orang sehat. Oleh karena itu, perlu dilakukan modifikasi pada bagian-bagian alat pelindung kaki yang sesuai dengan kebutuhan penderita. Penggunaan modifikasi alat pelindung kaki merupakan salah satu tindak pencegahan yang telah terbukti dapat mengurangi tekanan plantar pada area spesifik di kaki, sehingga kejadian luka baru atau perburukan luka dapat dicegah. Kata kunci : ulkus plantar, modifikasi alat pelindung kaki, tekanan planta
Faktor Risiko Ketidakpatuhan Minum Obat Anti Hipertensi pada Pasien Hipertensi di Puskesmas Kecamatan Palmerah Juli 2016
Salah satu penyebab utama penyakit kardiovaskular adalah hipertensi atau kenaikan tekanan darah. Tahun 2013 WHO menyatakan bahwa hipertensi merupakan salah satu kontributor paling penting untuk penyakit jantung dan stroke yang menjadi penyebab nomor satu kematian dan kecacatan didunia. Berdasarkan laporan dari Riskesdas pada tahun 2013 hanya 9,5% penderita hipertensi yang sedang minum obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara umur, jenis kelamin, dan faktor lainnya dengan kepatuhan minum obat antihipertensi pada pasien Puskesmas Kecamatan Palmerah tahun periode Juli 2016. Faktor-faktor lain yang diteliti antara lain tingkat pendidikan, status pekerjaan, tingkat pendapatan, lama menderita hipertensi, macam obat hipertensi, tingkat pengetahuan, motivasi, dukungan keluarga, dan peran tenaga kesehatan. Desain penelitian yang digunakan adalah studi analitik dengan pendekatan cross-sectional. Teknik sampling yang digunakan adalah consecutive sampling. Data-data didapatkan dari pemeriksaan klinis dan wawancara. Analisis data berupa univariat dan bivariat dengan taraf signifikansi 5% dengan tingkat kepercayaan 95% yang diolah dengan program SPSS v21. Hasil penelitian menunjukkan proporsi ketidakpatuhan minum obat antihipertensi sebesar 51,9%. Terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan (p= 0,049) dan motivasi (p= 0,011) dengan kepatuhan minum obat antihipertensi. Perlu pemberianmotivasi oleh petugas medis dan juga keluarga kepada pasien pengidap hipertensi supaya minum obat teratur sehingga tekanan darah tinggi mereka dapat terkontrol dengan baik.
Kata kunci: hipertensi, ketidakpatuhan minum obat, motivas
Penyakit Hemolitik pada Bayi Baru Lahir
Penyakit hemolitik pada bayi baru lahir adalah sindrom anemia hemolitik dan ikterus yang terjadi akibat destruksi eritrosit yang sudah dilapisi oleh antibodi. Patofisiologi pada penyakit ini adalah karena adanya proses imun yang dimulai saat terjadi sensitisasi pada kehamilan pertama saat darah janin yang memasuki sirkulasi ibu. Adanya ketidakcocokan golongan darah atau rhesus tersebut memicu proses imun ibu membentuk antibodi sehingga menyebabkan penghancuran eritrosit bayi. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya ketidakcocokan golongan darah ABO, rhesus, atau golongan darah lainnya. Perbedaan golongan darah antara ibu dan bayi terjadi saat ada faktor golongan darah janin yang diwariskan dari ayahnya tidak dimiliki oleh ibu. Gejala yang timbul antara lain hiperbilirubinemia, anemia, hepatosplenomegali, dan lainnya. Pemeriksaan laboratorium yang berfungsi sebagai pemeriksaan penyaring adalah: Uji Rossete, uji Kleihauer-Betke (KB), flowsitometri dan tes antiglobulin indirek. Pemeriksaan rutin lainnya adalah pemeriksaan darah rutin, kadar bilirubin, golongan darah dan rhesus. Penatalaksanaan saat kehamilan dapat berupa transfusi intrauterin atau imunomodulasi, sementara penatalaksanaan paska kelahiran dapat dengan transfusi tukar, fototerapi atau pemberian imunoglobulin
Kata kunci : Penyakit hemolitik pada bayi baru lahir, sensitisasi, antibodi, imunoglobuli
Hubungan Senam Tai Chi dengan Tekanan Darah dan Frekuensi Denyut Nadi pada Usia 45 Tahun Ke atas di Kelurahan Duri Kosambi Tahun 2017
Prevalensi hipertensi meningkat sesuai dengan bertambahnya usia. Di Indonesia masalah hipertensi dan penyakit kardiovaskular cenderung meningkat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan senam Tai Chi dengan tekanan darah dan frekuensi denyut nadi pada usia 45 tahun ke atas. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian sebanyak 60 orang berusia 45 tahun ke atas yang terbagi dalam dua kelompok, kelompok yang mengikuti senam Tai Chi (n=30) dan kelompok yang tidak mengikuti senam Tai Chi (n=30) di kelurahan Duri Kosambi. Variabel yang diukur yaitu tekanan darah sistolik, diastolik, dan frekuensi denyut nadi. Perbedaan bermakna atau hubungan antara senam Tai Chi dengan kedua kelompok dianalisis dengan uji t tidak berpasangan dan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan pada kelompok yang tidak memiliki riwayat penyakit kardiovaskular terdapat hubungan atau perbedaan bermakna (p<0,05) antara senam Tai Chi dengan tekanan darah sistolik (p=0,011), namun tidak terdapat hubungan (p>0,05) terhadap tekanan darah diastolik (p=0,362) dan frekuensi denyut nadi (p=0,525). Pada kelompok yang memiliki riwayat penyakit kardiovaskular baik konsumsi obat kardiovaskular dan tidak, didapatkan adanya hubungan antara senam Tai Chi dengan tekanan darah sistolik (p=0,009) dan frekuensi denyut nadi (p=0,002), namun tidak ditemukan adanya hubungan antara senam Tai Chi dengan tekanan darah diastolik (p=0,057). Dari penelitian ini disimpulkan bahwa senam Tai Chi memiliki hubungan atau pengaruh terhadap tekanan darah sistolik dan frekuensi denyut nadi, dan tidak berpengaruh terhadap tekanan diastolik.
Prevalensi hipertensi meningkat sesuai dengan bertambahnya usia. Di Indonesia masalah hipertensi dan penyakit kardiovaskular cenderung meningkat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan senam Tai Chi dengan tekanan darah dan frekuensi denyut nadi pada usia 45 tahun ke atas. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian sebanyak 60 orang berusia 45 tahun ke atas yang terbagi dalam dua kelompok, kelompok yang mengikuti senam Tai Chi (n=30) dan kelompok yang tidak mengikuti senam Tai Chi (n=30) di kelurahan Duri Kosambi. Variabel yang diukur yaitu tekanan darah sistolik, diastolik, dan frekuensi denyut nadi. Perbedaan bermakna atau hubungan antara senam Tai Chi dengan kedua kelompok dianalisis dengan uji t tidak berpasangan dan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan pada kelompok yang tidak memiliki riwayat penyakit kardiovaskular terdapat hubungan atau perbedaan bermakna (p<0,05) antara senam Tai Chi dengan tekanan darah sistolik (p=0,011), namun tidak terdapat hubungan (p>0,05) terhadap tekanan darah diastolik (p=0,362) dan frekuensi denyut nadi (p=0,525). Pada kelompok yang memiliki riwayat penyakit kardiovaskular baik konsumsi obat kardiovaskular dan tidak, didapatkan adanya hubungan antara senam Tai Chi dengan tekanan darah sistolik (p=0,009) dan frekuensi denyut nadi (p=0,002), namun tidak ditemukan adanya hubungan antara senam Tai Chi dengan tekanan darah diastolik (p=0,057). Dari penelitian ini disimpulkan bahwa senam Tai Chi memiliki hubungan atau pengaruh terhadap tekanan darah sistolik dan frekuensi denyut nadi, dan tidak berpengaruh terhadap tekanan diastolik