Jurnal Universitas Kristen Krida Wacana
Not a member yet
    1395 research outputs found

    Patofisiologi, Tanda dan Gejala Sindrom Dapson serta Tatalaksananya

    Get PDF
    Sindrom Dapson adalah sindrom yang jarang terjadi tetapi memiliki angka mortalitas yang tinggi. Sindrom ini merupakan reaksi hipersensitivitas tipe lambat yang timbul dengan variasi waktu antara 48 jam – 6 bulan setelah penggunaan Dapson dan tidak bersifat dose-dependant. Sindrom ini memiliki tampilan klinis berupa demam, erupsi kulit, limfadenopati, dan kelainan hati atau organ lainnya. Patofisiologi sindrom ini belum jelas tetapi diperkirakan disebabkan oleh metabolit Dapson yaitu hidroksilamin yang merupakan hapten dan memperantarai sel T untuk mengenali antigen tersebut. Tingkat keparahan sindrom ini tergantung dari keparahan organ yang terkena sehingga dapat bersifat asimptomatik sampai mengancam jiwa. Diagnosis sindrom ini ditegakkan jika terdapat minimal 2 gejala dari gejala di atas dan belum ada pemeriksaan penunjang yang spesifik. Sindrom ini merupakan bagian dari DRESS (drug reaction with eosinophilia and systemic syndrome) tetapi pada sindrom Dapson tidak selalu ada eosinofilia. Penanganan sindrom ini dilakukan dengan cara menghentikan Dapson yang merupakan obat penyebab secepatnya dan glukokortikoid serta terapi suportif. Oleh karena sindrom ini memiliki angka mortalitas yang tinggi maka perlu dikenali lebih dini dan ditangani dengan tepat.Kata kunci : Sindrom Dapson, hipersensitivitas, glukokortikoid, mortalitas, diagnosis

    Tatalaksana Terkini Demam pada Anak

    Get PDF
    Demam merupakan sebuah proses alamiah yang timbul sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap patogen, namun terkadang suhu yang terlalu tinggi seringkali menjadi suatu dilema sendiri yang menimbulkan kekhawatiran pada orangtua. Demam terjadi karena peningkatan pusat pengatur suhu di hipotalamus yang dipengaruhi oleh Interleukin-1 (IL-1). Terdapat berbagai variasi kisaran suhu normal pada anak menurut tempat pengukurannya. Tatalaksana demam yang terutama yaitu pemberian antipiretik seperti parasetamol atau ibuprofen. Beberapa studi menemukan bahwa penggunaan metode kombinasi antipiretik memberikan efek antipiretik yang lebih tinggi, namun hal ini belum dapat direkomendasikan karena belum ada studi mengenai keamanannya. Metode kompres hangat juga dapat diberikan sebagai terapi tambahan untuk membantu menurunkan demam pada anak. Penggunaan antipiretik sesuai dosis yang direkomendasikan ditambah dengan kompres hangat sudah terbukti lebih efektif untuk menurunkan demam pada anak terutama di 30 menit pertama. Kata Kunci : Demam, Interleukin-1, Kompres, Tepid Spongin

    Uji Aktivitas Antioksidan Infusa Biji Kopi Arabika (Coffea arabica L.): Pengukuran Kadar Malondialdehid (MDA) pada Tikus Wistar (Rattus novergicus) Hiperurisemia

    Get PDF
    Pada keadaan hiperurisemia terjadi peningkatan jumlah radikal bebas. Salah satu indikator peningkatan radikal bebas pada manusia adalah meningkatnya kadar malondialdehid (MDA). Tujuan penelitian ini untuk menguji aktivitas infusa biji kopi arabika sebagai antioksidan dengan cara mengukur kadar MDA darah. Tikus dibagi dalam 5 kelompok kontrol (tikus normal), tikus hiperurisemia tanpa perlakuan dengan kopi, serta tiga kelompok tikus hiperurisemia yang diberi perlakuan pemberian kopi dosis yang berbeda (0,5 mg/200g berat badan (BB); 0,25 mg/200g BB; dan 0,15 mg/200g BB). Setiap kelompok terdiri dari 5 ekor tikus yang diambil darahnya pada jam ke-6 dan jam ke-21. Uji posthoc menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan nilai p < 0,05 pada jam ke-21 setelah pemberian infusa kopi arabika. Penurunan kadar MDA paling efektif pada kelompok K3, yaitu tikus hiperurisemia dengan pemberian dosis kopi 0,5 mg/200g BB. Kesimpulannya adalah infusa kopi arabika memiliki aktivitas sebagai antioksidan, dibuktikan dengan adanya penurunan kadar MDA tikus hiperurisemia pada penelitian ini. Kata kunci: hiperurisemia, kopi arabika, malondialdehid, tikus wistar

    Efektivitas Serbuk Buah Okra (Abelmoschus esculentus) sebagai Larvasida Aedes aegypti

    Get PDF
    Temephos 1% atau lebih dikenal dengan abate dulu efektif untuk penanganan larva nyamuk, khususnya larva Aedes aegypti yang merupakan vektor utama dari demam berdarah. Akan tetapi penggunaan yang terus menerus dan tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya resistensi temephos. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari larvasida alami yang dapat digunakan sebagai alternatif atau pengganti temephos, salah satunya adalah buah okra. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, dengan lima kali pengulangan dan konsentrasi masing-masing 1%,2%,4%,8%, dan 16%, kontrol negatif, dan temephos 1% sebagai kontrol positif, dan dilakukan pengamatan selama 24 jam untuk melihat jumlah kematian larva. Hasil percobaan serbuk buah okra dengan berbagai konsentrasi terhadap larva instar III Aedes aegypti menunjukkan hasil nilai LC50 sebesar 4,143% dan LC90 sebesar 12,778%. Serbuk buah okra dapat bertindak sebagai racun dan bersifat sebagai racun kontak bagi larva Aedes aegypti. Dapat disimpulkan bahwa dosis efektif serbuk buah okra untuk mematikan larva Aedes aegypti adalah 12,778 %. Kata kunci: Aedes aegypty, temephos 1%, larvasida, serbuk buah okr

    Pengaruh Nilai yang Dirasakan Pelanggan (Functional, Social, Emotional dan Epistemic Value) Terhadap Niat Pelanggan untuk Menggunakan Internet sebagai Platform Ritel

    Get PDF
    This study investigates the effect of customer’s value (functional, social, emotional and epistemic value) through customer intention to use the internet as a retailing platform. The proposed hypotheses were tested with a sample of 149 students of Trisakti University. The results indicate that customer intention to use the internet as a retailing platform is positively effected by functional, emotional (positive) and epistemic value. The results suggested that every marketing manager should focus on functional, emotional (positive) and epistemic value in making marketing strategy, because the values can effect customer intention to use internet as a retailing platform. Keywords: customer’s value, emotional, epistemic, customer intention, retailing platfor

    Efek Moderasi Risiko Sistematis Pada Pengaruh Profitabilitas, Risiko Leverage, dan Pertumbuhan Aktiva Terhadap Nilai Perusahaan Sektor Industri Manufaktur Yang Listing di Bursa Efek Indonesia

    Get PDF
    This research aims to investigate the interaction effects between profitability, asset growth and degree of total leverage with systematic risk which might strengthen or weaken the effect of those variables on firm value. Data in this study was analyzed by using moderated regression analysis (MRA) to analyze the moderating variable effect of the independent variables on firm value. The results revealed that (1) profitability significant positively effects on firm value. But asset growth and degree of total leverage have not significantly affect the firm value. (2) Systematic risk as a moderator variable has significant positively mediate the influence of profitability toward firm value. The positive effect of profitability toward firm value should increase (decrease) while the lower (greater) systematic risk. (3) Systematic risk has not significantly moderate the influence of asset growth and degree of total leverage toward firm value. Keywords: return on asset, asset growth, total leverage, systematic risk, firm valu

    Faktor Risiko Sindrom Premenstruasi pada Sampel Urban di Jakarta Februari-Maret 2018

    Get PDF
    Sindrom premenstruasi (PMS) merupakan kumpulan gejala yang dapat menganggu produktivitas dan kualitas hidup. Untuk memahami sindrom premenstruasi yang terjadi di kelompok masyarakat perkotaan, dilakukan penelitian terhadap beberapa faktor risiko. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi hubungan faktor risiko (usia saat ini, usia menarche, status perkawinan, jumlah anak, pendidikan, status sosioekonomi dan pekerjaan, riwayat keluarga) terhadap sindrom premenstruasi. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive cross-sectional pada kelompok perempuan usia subur di Nafiri Discipleship Church Central Park untuk mewakilkan populasi urban. Data yang dikumpulkan dianalisa dengan uji korelasi bivariat Spearman. Didapatkan sebanyak 75 subjek penelitian. Karakteristik subjek mayoritas berusia 22-29 tahun, belum kawin, mengalami menstruasi pertama pada usia 13-15 tahun, memiliki gelar D3/S1, dan memiliki riwayat keluarga dengan sindrom premenstruasi. Hasil skrining dengan Premenstrual Symptoms Screening Tool (PSST) menunjukkan 58,7% responden mengalami sindrom premenstruasi ringan atau tidak bergejala, diikuti dengan 37,3% responden sugestif PMS sedang sampai berat. Ditemukan hubungan signifikan antara hasil skrining dengan variabel usia menarche (p=0,005) dan riwayat keluarga (p=0,004). Penelitian ini menggambarkan masalah yang dapat mengganggu produktivitas dan kualitas hidup perempuan daerah perkotaan. Satu dari tiga perempuan pada sampel ini mengalami PMS sedang sampai berat. Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk menelusuri peran faktor risiko terhadap timbulnya PMS. Kata Kunci: kesehatan perkotaan, kesehatan reproduksi, sindrom premenstruas

    Pengaruh Konsumsi Kopi terhadap Waktu Reaksi Mahasiswi FK Ukrida Angkatan 2014 pada Berbagai Fase Siklus Menstruasi

    Get PDF
    Pemeriksaan waktu reaksi adalah pemeriksaan yang bertujuan untuk menilai kinerja sesorang, dan merepresentasikan tingkat koordinasi muskuloskeletal. Beberapa hal yang dapat mempengaruhi pemeriksaan waktu reaksi antara lain: intensitas dan durasi stimulus, usia, jenis kelamin, efek latihan, olahraga, dan minum kopi. Waktu reaksi perempuan sangat bergantung pada fase siklus menstruasi, yang akan mempengaruhi kinerja seorang perempuan. Kopi selama ini diketahui dapat meningkatkan waktu reaksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsumsi kopi pada perempuan dalam berbagai fase siklus menstruasi. Subjek penelitian ini adalah mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida) Angkatan 2014 berusia 20-21 tahun. Alat yang digunakan untuk mengukur waktu reaksi adalah lakassidaya. Pemeriksaan dilakukan sebelum dan sesudah meminum kopi pada ketiga fase menstruasi. Pada penelitian ini didapatkan waktu reaksi sebelum dan sesudah minum kopi pada fase menstruasi sebagai berikut: 188,53±22,61 ms dan 171,3±18,61 ms; fase proliferasi: 204,69±30,97 ms dan 180,44±25,21 ms; fase sekretori: 222,14±33,47 ms dan 188,37±22,7 ms. Terdapat perbedaan bermakna sebelum dan sesudah minum kopi pada fase menstruasi, fase proliferasi (p:0,0001) dan fase sekretori (p:0,006). Terdapat perbedaan bermakna antara fase menstruasi dengan fase proliferasi, fase menstruasi dengan fase sekretori, dan antara fase proliferasi dengan fase sekretori (p:0,0001). Simpulan: Konsumsi kopi mempercepat waktu reaksi pada semua fase menstruasi. Kata kunci: waktu reaksi, menstruasi, konsumsi kopi, lakassidaya

    Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Dr. Adjidarmo Rangkasbitung Tahun 2016

    Get PDF
    Indeks massa tubuh (IMT) dilakukan untuk memeriksa status nutrisi seseorang. Dari hasil pemeriksaan IMT dapat diketahui apakah seseorang menderita obesitas atau tidak. Pasien yang menderita kelebihan berat badan memiliki risiko menderita beberapa penyakit, salah satunya adalah diabetes melitus. Diabetes melitus adalah penyakit gangguan metabolik yang di tandai oleh kenaikan gula darah akibat penurunan sekresi insulin oleh sel beta pankreas dan atau gangguan fungsi insulin (resistensi insulin). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pasien dengan obesitas memiliki hubungan dengan diabetes melitus tipe 2. Penelitian ini dilakukan pada pasien yang datang berobat ke poliklinik penyakit dalam RSUD Dr Adjidarmo Rangkasbitung tahun 2016, yang memiliki IMT >2,3. Data yang diambil adalah data sekunder dengan populasi penelitian sebanyak 80 orang. Hasil penelitian dari 80 responden didapatkan data yaitu 16,25% pasien beresiko obesitas; 58,75% pasien dengan obesitas derajat 1, 25% pasien dengan obesitas derajat 2,18 pasien (22,5%) tidak/bukan diabetes melitus. 22 pasien (27,5%) belum pasti diabetes melitus dan 40 pasien (50.0%) dengan diabetes melitus. Dari hasil uji analisa statistik diperoleh nilai p-value sebesar 0,018 yang berarti menunjukan adanya hubungan yang bermakna antara IMT dengan diabetes melitus tipe 2. Dari hasil penelitian, penderita obes disarankan untuk menurunkan IMT dan kontrol gula darah untuk mendeteksi dini Diabetes melitus tipe 2. Dengan adanya deteksi dini dan pengobatan yang tepat diharapkan dapat mencegah diabetes mellitus. Kata kunci: Indeks Massa Tubuh, diabetes melitus tipe 2, Obesitas

    Hubungan ASI eksklusif dengan Kejadian Stunting pada Anak Usia 12-59 bulan di RSUD Wangaya Kota Denpasar

    Get PDF
    Stunting masih menjadi masalah kesehatan dan Indonesia menduduki peringkat ke-5 dunia. Pada tahun 2010 dan 2013 ,insiden stunting meningkat dari 35,6% hingga 37,2% . Stunting  terjadi akibat kekurangan gizi kronis sehingga tinggi badan atau panjang badan anak tidak mencapai sesuai usianya dengan nilai z-score < -2 sesuai dengan standar WHO. Stunting dapat mempengaruhi kemampuan kognitif  dan pertumbuhan yang tidak  optimal saat dewasa.Gangguan pertumbuhan sering terjadi mulai dari masa kehamilan hingga usia anak mencapai 2 tahun. Oleh karena itu, pemenuhan nutrisi selama 1000 hari pertama kehidupan sangatlah penting untuk masa depan. Salah satu faktor yang menyebabkan stunting adalah kurangnnya asupan gizi  yang baik terutama saat bayi yaitu ASI.  Stunting masih menjadi masalah kesehatan dan Indonesia menduduki peringkat ke-5 dunia. Pada tahun 2010 dan 2013 ,insiden stunting meningkat dari 35,6% hingga 37,2% . Stunting  terjadi akibat kekurangan gizi kronis sehingga tinggi badan atau panjang badan anak tidak mencapai sesuai usianya dengan nilai z-score < -2 sesuai dengan standar WHO. Stunting dapat mempengaruhi kemampuan kognitif  dan pertumbuhan yang tidak  optimal saat dewasa.Gangguan pertumbuhan sering terjadi mulai dari masa kehamilan hingga usia anak mencapai 2 tahun. Oleh karena itu, pemenuhan nutrisi selama 1000 hari pertama kehidupan sangatlah penting untuk masa depan. Salah satu faktor yang menyebabkan stunting adalah kurangnnya asupan gizi  yang baik terutama saat bayi yaitu ASI

    1,003

    full texts

    1,395

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Universitas Kristen Krida Wacana
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇