Jurnal Universitas Kristen Krida Wacana
Not a member yet
    1395 research outputs found

    Hubungan Kualitas Tidur dengan Fungsi Eksekutif pada Pekerja Shift dan Non Shift

    Get PDF
    Kerja shift adalah pembagian jam kerja dalam waktu 24 jam yang dilakukan secara bergantian biasanya terbagi atas shift pagi, shift sore, dan shift malam. Kerja shift dapat memberikan dampak positif maupun negatif bagi pekerja antara lain dalam aspek fisiologis, psikososial, kinerja, maupun kesehatan dan keselamatan kerja. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan kualitas tidur dengan fungsi eksekutif pada pekerja shift dan non shift. Penelitian bersifat analitik observasional dengan pendekatan desain cross sectional. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus-September 2020. Total sampel sebanyak 44 orang yang dipilih dengan teknik consecutive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner yaitu Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk mengukur kualitas tidur, sedangkan untuk menilai fungsi eksekutif menggunakan Trail Making Test A (TMT-A) dan Trail Making Test B (TMT-B). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kualitas tidur dan fungsi eksekutif pada pekerja shift dan non shift (P<0,05). Faktor usia dan pendidikan dapat menjadi penyebab tidak terdapatnya hubungan antara kualitas tidur dengan fungsi eksekutifKerja shift adalah pembagian jam kerja dalam waktu 24 jam yang dilakukan secara bergantian biasanya terbagi atas shift pagi, shift sore, dan shift malam. Kerja shift dapat memberikan dampak positif maupun negatif bagi pekerja antara lain dalam aspek fisiologis, psikososial, kinerja, maupun kesehatan dan keselamatan kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kualitas tidur dengan fungsi eksekutif pada pekerja shift dan non shift. Penelitian ini bersifat analitik observasional dengan pendekatan desain cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus-September 2020. Total sampel sebanyak 44 orang yang dipilih dengan teknik consecutive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner yaitu Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk mengukur kualitas tidur, sedangkan untuk menilai fungsi eksekutif menggunakan Trail Making Test A (TMT-A) dan Trail Making Test B (TMT-B). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kualitas tidur dan fungsi eksekutif pada pekerja shift dan non shift (P<0,05)

    Literature Review: Gambaran Mikroskopik Paru Hewan Coba yang Dipaparkan Asap Rokok Elektrik (Vape)

    No full text
    Penggunaan rokok elektrik semakin meningkat pada masa ini serta dianggap dapat menjadi alternatif yang lebih aman dibanding rokok konvensional. Studi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh paparan asap rokok elektrik terhadap mikroskopis paru pada hewan coba. Metode yang digunakan dalam tinjauan pustaka ini menggunakan strategi secara komprehensif, seperti pencarian artikel dalam database jurnal penelitian, pencarian melalui internet, dan tinjauan ulang artikel. Pencarian database yang digunakan adalah Google Scholar dan pubmed. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan asap rokok elektrik dapat menyebabkan berbagai kerusakan mikroskopis paru seperti degenerasi dan nekrosis pada mukosa bronkiolus, serta pada pembuluh darah dapat ditemukan kongesti, endoteliosis, kerusakan parenkim, serta hiperplasia tipe 2 pada alveolus, bahkan sampai menyebabkan kanker pada paru hewan coba. Simpulan menyatakan bahwa rokok elektrik belum bisa dikatakan sebagai pengganti rokok konvensional yang sepenuhnya aman. Penggunaan rokok elektrik sebagai alat bant, panjang.Penggunaan rokok elektrik semakin meningkat pada masa ini serta dianggap dapat menjadi alternatif yang lebih aman dibanding rokok konvensional. Studi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh paparan asap rokok elektrik terhadap mikroskopis paru pada hewan coba. Metode yang digunakan dalam tinjauan pustaka ini menggunakan strategi secara komprehensif, seperti pencarian artikel dalam database jurnal penelitian, pencarian melalui internet, dan tinjauan ulang artikel. Pencarian database yang digunakan adalah Google Scholar dan pubmed. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan asap rokok elektrik dapat menyebabkan berbagai kerusakan mikroskopis paru seperti degenerasi dan nekrosis pada mukosa bronkiolus, serta pada pembuluh darah dapat ditemukan kongesti, endoteliosis, kerusakan parenkim, serta hiperplasia tipe 2 pada alveolus, bahkan sampai menyebabkan kanker pada paru hewan coba. Simpulan menyatakan bahwa rokok elektrik belum bisa dikatakan sebagai pengganti rokok konvensional yang sepenuhnya aman. Penggunaan rokok elektrik sebagai alat bant, panjang

    Lesi Pellegrini-Stieda Pada Perempuan Lansia: Penemuan Kecil Radiologi Tapi Penting

    No full text
    Lesi Pellegrini-Stieda adalah lesi kecil pasca trauma yang mengalami kalsifikasi (terutama karena cedera olahraga) yang berdekatan dengan margin kondilus femoralis medial, dekat ligamentum kolateral medial (MCL). Karena pasien mengalami gejala, kombinasi anomali radiografi di lokasi yang ditentukan dan cedera MCL sebelumnya dikenal sebagai Sindrom Pellegrini-Stieda. Seorang perempuan lima puluh delapan tahun mengeluh sakit dan bengkak pada lutut bagian tengah kiri dalam lima minggu terakhir. Radiografi lutut kiri menunjukkan kalsifikasi padat lengkung medial ke femur distal di daerah perlekatan MCL proksimal. Terdapat defek kortikal fokal kecil pada kondilus femoralis medial yang berdekatan, efusi sendi kecil terkait pada reses suprapatella, dan enthesofit kecil pada patela superoanterior. Sisa lutut kontralateral pada dasarnya normal. Dengan mengingat sejarah, temuan ini sesuai dengan lesi Pellegrini-Stieda. Lesi Pellegrini-Stieda dianggap sebagai akibat dari pengupasan periosteum femoralis di dekat asal MCL, yang menyebabkan osifikasi heterotopik dan kalsifikasi distrofik. Dalam kasus ini, kalsifikasi lebih berbentuk lengkung, sejajar dengan korteks femoralis, dan radioopak. Penampilan ini cocok dengan lesi Pellegrini-Stieda yang sangat umum. Lesi Pellegrini-Stieda adalah temuan radiologi yang kecil tetapi penting yang tidak boleh dilewatkan sebagai artritis degeneratif pada pasien lanjut usia. Gejala ringan-sedang ditangani secara konservatif, sedangkan untuk kasus yang parah perlu perbaikan melalui pembedahan.Latar Belakang Lesi Pellegrini-Stieda adalah lesi kecil pasca trauma yang mengalami kalsifikasi (terutama karena cedera olahraga) yang berdekatan dengan margin kondilus femoralis medial, dekat ligamentum kolateral medial (MCL). Karena pasien mengalami gejala, kombinasi anomali radiografi di lokasi yang ditentukan dan cedera MCL sebelumnya dikenal sebagai sindrom Pellegrini-Stieda. Laporan Kasus Seorang wanita lima puluh delapan tahun mengeluh sakit dan bengkak pada lutut bagian tengah kiri dalam lima minggu terakhir. Radiografi lutut kiri menunjukkan kalsifikasi padat lengkung medial ke femur distal di daerah perlekatan MCL proksimal. Terdapat defek kortikal fokal kecil pada kondilus femoralis medial yang berdekatan, efusi sendi kecil terkait pada reses suprapatella, dan enthesofit kecil pada patela superoanterior. Sisa lutut kontralateral pada dasarnya normal. Dengan mengingat sejarah, temuan ini sesuai dengan lesi Pellegrini-Stieda. Diskusi Lesi Pellegrini-Stieda dianggap sebagai akibat dari pengupasan periosteum femoralis di dekat asal MCL, yang menyebabkan osifikasi heterotopik dan kalsifikasi distrofik. Dalam kasus ini, kalsifikasi lebih berbentuk lengkung, sejajar dengan korteks femoralis, dan radioopak. Penampilan ini cocok dengan lesi Pellegrini-Stieda yang sangat umum. Kesimpulan Lesi Pellegrini-Stieda adalah temuan radiologi yang kecil tapi penting yang tidak boleh dilewatkan sebagai artritis degeneratif pada pasien lanjut usia. Gejala ringan-sedang ditangani secara konservatif, sedangkan perbaikan melalui pembedahan untuk kasus yang parah

    Efektifitas Fototerapi Pada Bayi Baru Lahir dengan Hiperbilirubinemia Berdasarkan Jenis Lampu dan Panjang Gelombang Fototerapi

    Get PDF
    Hiperbilirubinemia adalah peningkatan kadar bilirubin dalam darah, baik oleh faktor fisiologis maupun non fisiologis yang secara klinis menimbulkan gejala yang disebut ikterus (kuning). Fototerapi adalah salah satu manajemen untuk mencegah kerusakan otak akibat bilirubin pada neonatus. Bilirubin merupakan target fototerapi menyerap sinar secara maksimal pada spektrum biru (460-490 nm). Namun, literatur lain mengatakan spektrum panjang gelombang berbeda, yaitu pirus (497 nm) juga sama efektifnya dalam menurunkan kadar bilirubin. Tujuan penelitian adalah mengetahui jenis lampu dan rentang panjang gelombang fototerapi yang paling efektif terhadap neonatus hiperbilirubinemia. Eligibilitas penelitian berdasarkan Participant, Intervention, Comparison, and Outcomes (PICO) dan Boolean Operator. Database elektronik berasal dari Pubmed dan Google Scholar. Kriteria inklusi berupa neonatus hiperbilirubinemia, usia gestasi ≥34 minggu sampai 42 minggu atau berat lahir ≥2000g dan kriteria eksklusi berupa bayi hiperbilirubinemia dengan sebab inkompatibilitas ABO, kelainan kongenital, metabolik, dan hemolitik lainnya. Berdasarkan seleksi dan penilaian kualitas, didapatkan 9 artikel dapat dianalisa. Pada pembahasan didapatkan fototerapi lampu hijau panjang gelombang 500 nm memiliki efektifitas yang sama dengan fototerapi gelombang biru panjang gelombang 470 nm dalam penurunan bilirubin total serum, sehingga dapat digunakan sebagai alternatif. Fototerapi LED memiliki efektifitas yang sama dalam penurunan bilirubin total serum jika dibandingkan dengan fototerapi konvensional.Hiperbilirubinemia adalah terjadinya peningkatan kadar bilirubin dalam darah, baik oleh faktor fisiologis maupun non fisiologis yang secara klinis menimbulkan gejala yang disebut ikterus (kuning). Pada neonatus, kadar serum bilirubin indirek yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan otak yang parah dan tidak dapat disembuhkan. Fototerapi dan transfusi tukar adalah dua strategi terapeutik utama untuk mencegah kerusakan otak akibat bilirubin pada neonatus. Bilirubin, yang merupakan target fototerapi ini menyerap sinar secara maksimal pada rentang spektrum biru (460-490 nm). Namun, literatur lain mengatakan spektrum panjang gelombang yang berbeda, yaitu pirus (497 nm) juga sama efektifnya dalam menurunkan kadar bilirubin. Eligibilitas dari metode penelitian ini berdasarkan Participant, Intervention, Comparison, and Outcomes (PICO) dan penggunaan Boolean Operator. Berdasarkan seleksi studi dan penilaian kualitas, didapatkan 9 artikel yang dapat dianalisa. Pada bagian pembahasan didapatkan fototerapi lampu hijau dengan panjang gelombang (500nm) memiliki efektifitas yang sama dengan fototerapi gelombang biru dalam penurunan total serum bilirubin, sehingga dapat digunakan sebagai fototerapi alternatif. Fototerapi LED tidak lebih unggul dalam efektifitas penurunan total serum bilirubin jika dibandingkan dengan fototerapi konvensional. Hal ini dikarenakan iradiasi dalam keadaan normal fototerapi LED lebih tinggi dibandingkan dengan fototerapi konvensional sehinnga meningkatkan efektifitas dari fototerapi LED

    Tinjauan Pustaka: Kajian in Vivo dari Obat Luka Kulit Berbahan Acalypha Indica, Aloe Vera, dan Centella Asiatica

    Get PDF
    Luka merupakan gangguan pada sel dan jaringan anatomi yang dapat disebabkan oleh beberapa hal baik disengaja maupun tidak disengaja. Luka terutama pada kulit jika tidak diobati dengan baik maka dapat menimbulkan infeksi. Hal ini disebabkan oleh proses penyembuhan luka yang kompleks dan dinamis. Proses ini memerlukan bantuan berupa obat yang terbuat dari bahan sintesis ataupun alami. Tinjauan pustaka ini ditulis dengan tujuan untuk mengevaluasi kemanjuran tiga tanaman obat yang sering digunakan untuk mengobati luka, yaitu  Acalypha indica, Aloe vera , dan Centella asiatica.  Penelusuran dan penapisan pustaka di lakukan dengan Proquest, Pubmed dan Google Scholar dengan kata kunci wound healing AND Acalypha indica OR Centella asiatica OR wound healing OR Aloe vera.  Sebanyak 25 makalah dipilih untuk penulisan tinjauan pustaka ini.  Acalypha indica, Aloe vera , dan Centella asiatica merupakan tanaman obat yang efektif untuk mengobati luka luar. Hal in telah dibuktikan dalam berbagai studi in vivo  bahwa  ekstrak tanaman herbal ini memiliki efektivitas yang baik untuk menyembuhkan luka dibandingkan obat medis. Penggunaa tanaman herbal untuk pengobatan juga dianggap lebih murah, aman, mudah didapat dan diolah. Acalypha indica, Aloe vera dan Centella asiatica merupakan tanaman obat yang efektif untuk mengobati luka luar.Luka merupakan gangguan pada sel dan jaringan anatomi yang dapat disebabkan oleh beberapa hal baik disengaja maupun tidak disengaja. Luka terutama pada kulit jika tidak diobati dengan baik maka dapat menimbulkan infeksi. Hal ini disebabkan oleh proses penyembuhan luka yang kompleks dan dinamis. Proses ini memerlukan bantuan berupa obat yang terbuat dari bahan sintesis ataupun alami. Tinjauan pustaka ini ditulis dengan tujuan untuk mengevaluasi kemanjuran tiga tanaman obat yang sering digunakan untuk mengobati luka, yaitu  Acalypha indica, Aloe vera , dan Centella asiatica.  Penelusuran dan penapisan pustaka di lakukan dengan Proquest, Pubmed dan Google Scholar dengan kata kunci wound healing AND Acalypha indica OR Centella asiatica OR wound healing OR Aloe vera.  Sebanyak 25 makalah dipilih untuk penulisan tinjauan pustaka ini.  Acalypha indica, Aloe vera , dan Centella asiatica merupakan tanaman obat yang efektif untuk mengobati luka luar. Hal in telah dibuktikan dalam berbagai studi in vivo  bahwa  ekstrak tanaman herbal ini memiliki efektivitas yang baik untuk menyembuhkan luka dibandingkan obat medis. Penggunaa tanaman herbal untuk pengobatan juga dianggap lebih murah, aman, mudah didapat dan diolah. Acalypha indica, Aloe vera dan Centella asiatica merupakan tanaman obat yang efektif untuk mengobati luka luar

    Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Perilaku Pencegahan ISPA pada Anak Balita di Kampung Galuga

    Get PDF
    Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi masalah kesehatan utama pada anak dibawah usia lima tahun (balita). Pengetahuan ibu turut memengaruhi kejadian ISPA pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu mengenai ISPA dengan perilaku ibu dalam pencegahan ISPA pada balita. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan desain cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah semua ibu yang memiliki anak balita di Kampung Galuga, Binong. Jumlah sampel sebanyak 40 responden yang didapatkan dengan accidental sampling. Analisa data berupa analisa univariat dan analisa bivariat menggunakan uji Somers’d. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 52,5% responden memiliki pengetahuan cukup mengenai ISPA dan sebanyak 57,5% responden memiliki perilaku baik dalam pencegahan ISPA. Diketahui tidak ada hubungan antara pengetahuan ibu mengenai ISPA dengan perilaku ibu dalam pencegahan ISPA, sehingga dapat dikatakan bahwa pengetahuan tidak menentukan perilaku seseorang. Terdapat banyak faktor lainnya yang turut memengaruhi perilaku seseorang dalam pencegahan ISPA, seperti   sikap, motivasi, usia, lingkungan, dan sosial budaya. Diperlukan upaya yang holistik, berkelanjutan dan lintas sektor dalam membangun perilaku yang positif dalam pencegahan ISPA.Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi masalah kesehatan utama pada anak dibawah usia lima tahun (balita). Pengetahuan ibu turut memengaruhi kejadian ISPA pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu mengenai ISPA dengan perilaku ibu dalam pencegahan ISPA pada balita. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan desain cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah semua ibu yang memiliki anak balita di Kampung Galuga, Binong. Jumlah sampel sebanyak 40 responden yang didapatkan dengan accidental sampling. Analisa data berupa analisa univariat dan analisa bivariat menggunakan uji Somers’d. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 52,5% responden memiliki pengetahuan cukup mengenai ISPA dan sebanyak 57,5% responden memiliki perilaku baik dalam pencegahan ISPA. Diketahui tidak ada hubungan antara pengetahuan ibu mengenai ISPA dengan perilaku ibu dalam pencegahan ISPA, sehingga dapat dikatakan bahwa pengetahuan tidak menentukan perilaku seseorang. Terdapat banyak faktor lainnya yang turut memengaruhi perilaku seseorang dalam pencegahan ISPA, seperti   sikap, motivasi, usia, lingkungan, dan sosial budaya. Diperlukan upaya yang holistik, berkelanjutan dan lintas sektor dalam membangun perilaku yang positif dalam pencegahan ISPA

    Gangguan Ginjal pada Pasien HIV Dewasa

    Get PDF
    Human immunodeficiency virus (HIV) merupakan agen penyebab dari acquired immunodeficiency syndrome (AIDS). Penggunaan antiretroviral (ARV) yang efektif meningkatkan angka harapan hidup pada pasien HIV. Beberapa jenis penyakit ginjal dapat terbentuk pada pasien HIV dan merupakan salah satu penyakit penyerta. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk mengetahui gangguan ginjal yang dapat timbul pada pasien HIV dewasa, serta pemeriksaan dan tata laksana yang dapat dilakukan. Risiko gangguan fungsi ginjal akut maupun kronis dapat dimiliki oleh pasien HIV dan kerusakan dapat terjadi pada seluruh bagian dari ginjal. Gangguan fungsi ginjal juga dapat terjadi akibat penggunaan ARV. Beberapa penyakit ginjal yang dapat dapat timbul adalah HIV-associated nephropathy, HIV immune complex kidney disease, penyakit ginjal kronis, hingga end-stage renal disease. Saat  penegakan diagnosis HIV, inisiasi, maupun modifikasi ARV, direkomendasikan untuk melakukan skrining fungsi ginjal secara berkala. Selain tata laksana pada gangguan ginjal yang telah terjadi, dianjurkan juga untuk mengupayakan identifikasi, pemantauan berkala, modifikasi, dan tata laksana pada faktor risiko yang ada.Human immunodeficiency virus (HIV) merupakan infeksi yang disebabkan oleh virus HIV yang merupakan agen penyebab dari acquired immunodeficiency syndrome (AIDS). Penggunaan antiretroviral (ARV) yang efektif meningkatkan angka harapan hidup pada pasien HIV, dimana komorbiditas non-AIDS pada pasien HIV juga akan meningkat. Beberapa jenis penyakit ginjal dapat terbentuk pada pasien HIV dan merupakan penyakit yang sering menyertai. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk mengetahui gangguan ginjal yang dapat timbul pada pasien HIV dewasa, serta pemeriksaan dan tatalaksana yang dapat dilakukan. Resiko gangguan fungsi ginjal akut maupun kronis dapat dimiliki oleh pasien HIV dan semua bagian ginjal dapat mengalami kerusakan. Gangguan fungsi ginjal juga dapat terjadi akibat penggunaan ARV. Beberapa penyakit ginjal yang dapat ditemukan adalah HIV-associated nephropathy (HIVAN), HIV immune complex kidney disease (HIVICK), penyakit ginjal kronis (PGK), hingga end-stage renal disease (ESRD). Saat ditegakannya diagnosis HIV, inisiasi, maupun modifikasi ARV, direkomendasikan untuk melakukan skrining fungsi ginjal secara berkala. Selain tatalaksana pada gangguan ginjal yang telah terjadi, dianjurkan juga untuk mengidentifikasi, pemantauan berkala, memodifikasi, dan melakukan pengobatan pada faktor resiko yang ada

    Perbandingan Hubungan Pola Asuh Orangtua dengan Perkembangan Sosial Emosi Anak Usia 4-5 Tahun

    Get PDF
    Tumbuh kembang anak pada usia prasekolah terdiri dari 4 aspek yaitu aspek kognitif, bahasa, motorik, dan yang terpenting, sosial-emosi. Aspek sosial-emosi sangat dipengaruhi oleh pola asuh orangtua. Terdapat 3 tipe pola asuh orangtua yaitu tipe otoriter, demokrasi, dan permisif. Pola asuh dipengaruhi oleh beberapa faktor, yang paling penting adalah sosial ekonomi dan pendidikan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pola asuh orangtua dengan perkembangan sosial emosi anak serta mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi pola asuh orangtua. Penelitian ini merupakan studi deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data menggunakan teknik purposive stratified random sampling dengan sampel sebanyak 108. Sampel penelitian ini adalah orangtua murid dari 5 TK di Jakarta T.A. 2019/2020. Kuesioner yang digunakan adalah PSDQ (Parenting Style and Dimensions Questionnaires) untuk mengukur pola asuh orangtua dan ASQ:SE (Age and Stages Questionnaires: Social Emotional) untuk mengukur perkembangan sosial emosi anak. Hasil penelitian didapatkan adanya hubungan pola asuh orangtua dengan perkembangan sosial emosi anak  (p= 0.004). Pola asuh yang baik akan menghasilkan perkembangan sosial emosi anak normal lebih banyak dan sebaliknya. Didapatkan juga adanya pengaruh status sosial ekonomi orangtua terhadap pola asuh orangtua (p= 0.002). Semakin rendah tingkat sosial ekonomi maka pola asuh cenderung otoriter dan sebaliknya.Tumbuh kembang anak pada usia prasekolah terdiri dari 4 aspek yaitu aspek kognitif, bahasa, motorik, dan yang terpenting, sosial-emosi. Aspek sosial-emosi sangat dipengaruhi oleh pola asuh orangtua. Terdapat 3 tipe pola asuh orangtua yaitu tipe otoriter, demokrasi, dan permisif. Pola asuh dipengaruhi oleh beberapa faktor, yang paling penting adalah sosial ekonomi dan pendidikan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pola asuh orangtua dengan perkembangan sosial emosi anak serta mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi pola asuh orangtua. Penelitian ini merupakan studi deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data menggunakan teknik purposive stratified random sampling dengan sampel sebanyak 108. Sampel penelitian ini adalah orangtua murid dari 5 TK di Jakarta T.A. 2019/2020. Kuesioner yang digunakan adalah PSDQ (Parenting Style and Dimensions Questionnaires) untuk mengukur pola asuh orangtua dan ASQ:SE (Age and Stages Questionnaires: Social Emotional) untuk mengukur perkembangan sosial emosi anak. Hasil penelitian didapatkan adanya hubungan pola asuh orangtua dengan perkembangan sosial emosi anak  (p= 0.004). Pola asuh yang baik akan menghasilkan perkembangan sosial emosi anak normal lebih banyak dan sebaliknya. Didapatkan juga adanya pengaruh status sosial ekonomi orangtua terhadap pola asuh orangtua (p= 0.002). Semakin rendah tingkat sosial ekonomi maka pola asuh cenderung otoriter dan sebaliknya

    List of Reviewer

    Get PDF

    Gambaran Pola Bakteri dan Kepekaan Antibiotik Pada Pasien Rawat Inap dengan Pneumonia di Rumah Sakit Paru Dr. M. Goenawan Partowidigdo Periode Januari – Juni 2019

    No full text
    Prevalensi pneumonia menurut Riset Kesehatan Dasar Indonesia pada tahun 2018 yaitu sebesar 2%. Streptococcus pneumoniae (pneumococcus) adalah patogen paling umum penyebab pneumonia. Penggunaan antibiotik yang berlebihan dan tidak tepat untuk terapi empiris sering menimbulkan resistensi antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola bakteri dan penggunaan antibiotik terhadap bakteri penyebab pneumonia. Studi dilakukan dengan pendekatan cross-sectional dengan metode deskriptif. Sampel penelitian adalah rekam medis dari pasien terdiagnosis pneumonia yang dirawat inap di Rumah Sakit Paru dr. M. Goenawan Partowidigdo selama periode Januari–Juni 2019. Sampel ditetapkan secara total population sampling, dimana sebanyak 74 orang memenuhi kriteria inklusi. Didapatkan pola bakteri penyebab pneumonia didominasi oleh bakteri gram negatif. Dari hasil uji kepekaan antibiotik pada bakteri gram positif, didapatkan antibiotik yang memiliki tingkat sensitivitas di atas 70% adalah linezolid, nitrofurantoin, teicoplanin, dan vancomycin. Sedangkan, pada gram negatif adalah amikacin, gentamicin, imipenem, meropenem, dan piperacillin-tazobactam.Pneumonia merupakan penyebab utama keenam kematian di Amerika Serikat. Pada anak-anak, pneumonia adalah satu-satunya penyebab kematian terbesar di dunia yaitu sekitar 15% dari semua kematian anak di bawah usia lima tahun. Prevalensi kejadian pneumonia menurut Riset Kesehatan Dasar di Indonesia pada tahun 2013 yaitu sebesar 4,5%. Streptococcus pneumoniae (pneumococcus) adalah patogen paling umum penyebab pneumonia. Pada saat terapi empiris biasanya terjadi penggunaan antibiotik yang berlebihan dan tidak tepat sehingga menyebabkan resistensi antibiotik. Penelitian ini menggunakan metode studi deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian diambil dengan teknik total population sampling, yaitu seluruh pasien  terdiagnosis pneumonia yang dirawat inap di Rumah Sakit Paru Dr. M. Goenawan Partowidigdo selama periode Januari – Juni 2019 yang sesuai dengan kriteria inklusi sejumlah 74 orang. Bahan penelitian yaitu data sekunder berupa data rekam medis. Didapatkan pola bakteri penyebab pneumonia didominasi oleh bakteri gram negatif dan didapatkan tiga bakteri terbanyak. Dari hasil uji kepekaan antibiotik pada bakteri gram positif, didapatkan antibiotik yang memiliki tingkat sensitivitas diatas 70% adalah linezolid, nitrofuranton, teicoplanin, dan vancomycin. Sedangkan, pada gram negatif adalah amikacin, gentamicin, imipenem, meropenem, dan piperacillin-tazobactam

    1,003

    full texts

    1,395

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Universitas Kristen Krida Wacana
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇