Jurnal Universitas Kristen Krida Wacana
Not a member yet
    1395 research outputs found

    Description of Community Knowledge, Attitudes, and Behavior towards Glaucoma in Taman Sari District, West Jakarta

    No full text
    Glaucoma is the second leading cause of preventable blindness globally. Today, more than 60 million people worldwide have glaucoma, with nearly half of these people developing the disease without knowing it. In 2010, there were 60.5 million individuals suffering from glaucoma. In 2020 it is estimated that the incidence of glaucoma globally will reach 76 million and 111.8 million in 2040. This can be prevented by early detection, but can only be done through screening. Therefore, there is a need for public awareness and knowledge of glaucoma to encourage their behavior to seek health facilities for eye examinations. The research was carried out in all villages in Taman Sari District. The data was obtained using a questionnaire given to the respondents according to the inclusion criteria.  Researchers get a sample of 105 people. The results showed that the level of public knowledge of glaucoma in Taman Sari District, West Jakarta was classified as good. However, people's attitudes and behavior towards glaucoma examinations are still low because of their mindset. The results of the study can be used as a reference to add other variables that may affect knowledge, attitudes and behavior towards glaucoma.Glaucoma is the second leading cause of preventable blindness globally. Today, more than 60 million people worldwide have glaucoma, with nearly half of these people developing the disease without knowing it. In 2010, there were 60.5 million individuals suffering from glaucoma. In 2020 it is estimated that the incidence of glaucoma globally will reach 76 million and 111.8 million in 2040. This can be prevented by early detection, but can only be done through screening. Therefore, there is a need for public awareness and knowledge of glaucoma to encourage their behavior to seek health facilities for eye examinations. The research was carried out in all villages in Taman Sari District. The data was obtained using a questionnaire given to the respondents according to the inclusion criteria.Researchers get a sample of 105 people. The results showed that the level of public knowledge of glaucoma in Taman Sari District, West Jakarta was classified as good. However, people's attitudes and behavior towards glaucoma examinations are still low because of their mindset. The results of the study can be used as a reference to add other variables that may affect knowledge, attitudes and behavior towards glaucoma

    Studi Kasus: Penggunaan Norepinephrie pada Fase Dini Terapi Syok Sepsis dengan Gagal Ginjal Akut

    No full text
    Laporan Kasus ini memberi gambaran penggunaan norepinephrine awal dalam penanganan syok sepsis. Studi kasus melaporkan pria 65 tahun dengan keluhan nyeri perut dan tidak buang air kecil sejak 1 malam sebelum keluhan. Pasien didiagnosis dengan syok sepsis disebabkan perforasi gaster. Infus Vasopressor diberikan bersama cairan kristaloid. Panduan Surviving Sepsis Campaign (SSC) tahun 2018 merekomendasi pemberian antibiotik spektrum luas, pemberian cairan kristaloid segera, pemberian vasopresor setelah resusitasi cairan. Umumnya, cairan intravena diberikan terlebih dahulu diikuti pemberian vasopressor, namun pemberian vasopressor yang lebih awal mampu memberikan hasil yang memuaskan. Hasil pemeriksaan darah menunjukan peningkatan kadar serum ureum dan kreatinin disertai penurunan laju filtrasi glomerulus. Hasil terapi pada pasien cukup memuaskan, pasien dapat pulang dengan kondisi perbaikan. Studi kasus menunjukan pemberian vasopressor awal memberikan hasil terapi yang baik pada penanganan syok sepsis.Laporan Kasus ini memberi gambaran penggunaan Norepinephrine lebih awal.Studi kasus melaporkan pria 65 tahun dengan keluhan nyeri perut dan tidak buang air kecil sejak 1 malam sebelum keluhan. Pasien didiagnosis dengan syok sepsis disebabkan perforasi gaster. Infus Vasopressor diberikan selama 500ml loading crystaloid masih berjalan. Hasil pemeriksaan darah menunjukan peningkatan kadar ureum dan kreatinin, dan penurunan GFR. Hasil terapi pada pasien cukup baik, pasien membaik dan pulang dengan kondisi perbaikan. Studi kasus menunjukan pemberian vasopressor lebih awal memberikan hasil terapi yang baik pada penanganan syok sepsis. &nbsp

    Karakteristik Pasien Kanker Stadium 4 yang Mendapatkan Perawatan Paliatif di Rumah Sakit X

    Full text link
    Kanker menjadi penyebab kematian nomor dua di dunia. Di Indonesia terjadi peningkatan jumlah pasien kanker dari 1,4/1000 penduduk pada tahun 2013 menjadi 1,79/1000 penduduk pada tahun 2018. Sebanyak 70% pasien datang pada stadium 4 sehingga diperlukan perawatan paliatif. Penelitian ini menggunakan desain observasional deskriptif dan teknik waktu secara cross sectional dengan tujuan untuk mengetahui jumlah dan karakteristik pasien kanker stadium lanjut yang mendapatkan perawatan paliatif di Rumah Sakit X pada Januari-Juni 2020. Karakteristik yang diambil berupa jenis kanker, umur, jenis kelamin, status pernikahan, jenis pekerjaan, asal daerah, stadium ketika terdiagnosis, jenis pengobatan, keluhan awal, keluhan tersering, dan metode bayar yang digunakan. Kebanyakan pasien berjenis kelamin perempuan dan sudah menikah. Jenis kanker terbanyak yaitu kanker paru pada laki-laki dan kanker payudara pada perempuan dengan distribusi umur terbanyak pada 45-54 tahun dan mayoritas pasien berasal dari DKI Jakarta, bekerja sebagai karyawan swasta dan ibu rumah tangga. Semua kanker terdiagnosis pada stadium 4 sehingga pasien mendapatkan terapi kombinasi. Gejala terbanyak yang dirasakan pasien berupa nyeri dan kebanyakan pasien menggunakan asuransi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Oleh karena setiap tahun jumlah pasien kanker terus meningkat dan datang pada stadium 4, maka diperlukan perawatan paliatif untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.Kanker menjadi penyebab kematian nomor dua di dunia. Di Indonesia terjadi peningkatan jumlah pasien kanker dari 1,4/1000 penduduk pada tahun 2013 menjadi 1,79/1000 penduduk pada tahun 2018. Sebanyak 70% pasien datang pada stadium 4 sehingga diperlukan perawatan paliatif. Penelitian ini menggunakan desain observasional deskriptif dan teknik waktu secara cross sectional dengan tujuan untuk mengetahui jumlah dan karakteristik pasien kanker stadium lanjut yang mendapatkan perawatan paliatif di Rumah Sakit X pada Januari-Juni 2020. Karakteristik yang diambil berupa jenis kanker, umur, jenis kelamin, status pernikahan, jenis pekerjaan, asal daerah, stadium ketika terdiagnosis, jenis pengobatan, keluhan awal, keluhan tersering, dan metode bayar yang digunakan. Kebanyakan pasien berjenis kelamin perempuan dan sudah menikah. Jenis kanker terbanyak yaitu kanker paru pada laki-laki dan kanker payudara pada perempuan dengan distribusi umur terbanyak pada 45-54 tahun dan mayoritas pasien berasal dari DKI Jakarta, bekerja sebagai karyawan swasta dan ibu rumah tangga. Semua kanker terdiagnosis pada stadium 4 sehingga pasien mendapatkan terapi kombinasi. Gejala terbanyak yang dirasakan pasien berupa nyeri dan kebanyakan pasien menggunakan asuransi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Oleh karena setiap tahun jumlah pasien kanker terus meningkat dan datang pada stadium 4, maka diperlukan perawatan paliatif untuk meningkatkan kualitas hidup pasien

    Pemberian Hidrolisat Protein Kacang Polong Terhadap Kadar Superoksida Dismutase dan Perbaikan Kerusakan Ginjal Tikus Laboratorium

    Full text link
    Antioksidan merupakan substansi yang dapat mencegah kerusakan sel akibat stres oksidatif. Hidrolisat protein dari kacang polong hijau (Pisum sativum) dengan bromelain (HPPHB) diharapkan meningkatkan kadar antioksidan superoxide dismutase (SOD) dan mampu mencegah kerusakan ginjal. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh HPPHB terhadap kadar SOD, kadar kreatinin plasma dan histopatologis ginjal tikus yang diinduksi Cisplatin. Penelitian dilakukan dalam dua tahap, pemberian HPPHB dosis 100, 200 dan 400 mg/kgBB/h selama 28 hari terhadap kadar SOD tikus jantan dan betina Sprague Dawley (SD) tanpa induksi dan tikus yang diinduksi Cisplatin dengan parameter kadar kreatinin plasma dan histopatologis ginjal dengan pewarnaan Hematoksilin Eosin (HE). Hasil menunjukkan kadar SOD kelompok tikus kontrol berbeda bermakna dan sangat bermakna dengan kelompok perlakuan. Hasil pemeriksaan kreatinin plasma menunjukkan terdapat perbedaan yang sangat bermakna (p<0,01) antara kontrol positip dengan kelompok dosis 400 mg/kgBB. Hasil analisis mikroskopis histopatologis parameter nekrosis: kelompok perlakuan dosis 200 menunjukkan paling sedikit nekrosis di antara ke tiga dosis,  berbeda signifikan dengan kontrol positip, maupun kontrol negatip (p<0,05). Parameter densitas sel mesangium, semua kelompok dosis perlakuan tidak berbeda signifikan dengan kontrol negatip maupun kontrol positip. Simpulan, HPPHB meningkatkan kadar SOD dan menunjukkan efek perbaikan kadar kreatinin plasma dan nekrosis sel tubulus ginjal tikus SD yang diinduksi Cisplatin.Antioksidan merupakan substansi yang dapat mencegah kerusakan sel akibat stres oksidatif. Hidrolisat protein dari kacang polong hijau (Pisum sativum) dengan bromelain (HPPHB) diharapkan meningkatkan kadar antioksidan superoxide dismutase (SOD) dan mampu mencegah kerusakan ginjal. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh HPPHB terhadap kadar SOD, kadar kreatinin plasma dan histopatologis ginjal tikus yang diinduksi Cisplatin. Penelitian dilakukan dalam dua tahap, pemberian HPPHB dosis 100, 200 dan 400 mg/kgBB/h selama 28 hari terhadap kadar SOD tikus jantan dan betina Sprague Dawley (SD) tanpa induksi dan tikus yang diinduksi Cisplatin dengan parameter kadar kreatinin plasma dan histopatologis ginjal dengan pewarnaan Hematoksilin Eosin (HE). Hasil menunjukkan kadar SOD kelompok tikus kontrol berbeda bermakna dan sangat bermakna dengan kelompok perlakuan. Hasil pemeriksaan kreatinin plasma menunjukkan terdapat perbedaan yang sangat bermakna (p<0,01) antara kontrol positip dengan kelompok dosis 400 mg/kgBB. Hasil analisis mikroskopis histopatologis parameter nekrosis: kelompok perlakuan dosis 200 menunjukkan paling sedikit nekrosis di antara ke tiga dosis,  berbeda signifikan dengan kontrol positip, maupun kontrol negatip (p<0,05). Parameter densitas sel mesangium, semua kelompok dosis perlakuan tidak berbeda signifikan dengan kontrol negatip maupun kontrol positip. Simpulan, HPPHB meningkatkan kadar SOD dan menunjukkan efek perbaikan kadar kreatinin plasma dan nekrosis sel tubulus ginjal tikus SD yang diinduksi Cisplatin

    Hubungan Pengunaan Smartphone dengan Kejadian Computer Vision Syndrome (CVS) pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Angkatan 2016

    Full text link
    A smartphone is generally defined as a multifunctional cell phone that adds some functions of a personal digital assistant (PDA) to a cell phone or a camera phone. The American Optometric Association defines computer vision syndrome (CVS) as an eye problem with vision that starts with prolonged use of computers, electronic readers and mobile phones. The most common symptoms associated with CVS are eye strain, headaches, blurred vision, dry eyes, and pain. This study aims to analyze the relationship of smartphone use with the occurrence of computer vision syndrome in the students of the Faculty of Medicine at the Krida Wacana Christian University Class of 2016. This study was a cross sectional design with 75 respondents. The technique of collecting data and identifying CVS occurrences uses a questionnaire. Power obtained was analyzed using the chi square test. The results of this study indicate that the prevalence of CVS is 98.7% and there is no correlation between the duration of smartphone use and the CVS incidence (p 0.0404> 0.05). This shows that the relationship between the duration of smartphone use has no effect on the incidence of CVS in Krida Wacana Christian University Class of 2016 Medical Faculty students.Smartphone secara umum didefinisikan sebagai ponsel multifungsi yang menambahkan beberapa fungsi dari sebuah personal digital assistant (PDA) dengan telepon genggam atau telepon dengan kamera. Amerika Optometric Association (AOA) mendefinisikan computer vision syndrome (CVS) sebagai masalah mata dengan penglihatan yang berawal dari penggunaan komputer, electronic reader dan handphone yang berkepanjangan. Gejala yang paling umum terkait CVS adalah mata tegang,sakit kepala, penglihatan kabur, mata kering, dan nyeri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan penggunaan smartphone dengan kejadian computer vision syndrome pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Angkatan 2016. Penelitian ini merupakan desain cross sectional dengan subjek 75 responden. Teknik mengumpulkan data dan mengetahui kejadian CVS menggunakan kuesioner. Data di peroleh dianalisis menggunakan uji chi square. Hasil pada penelitian ini menunjukan bahwa prevalensi kejadian CVS sebesar 98,7% dan tidak terdapat hubungan antara durasi penggunaan smartphone dengan kejadian CVS (p 0,0404 > 0,05). Hal ini menunjukan bahwa hubungan durasi penggunaan smartphone tidak berpengaruh terhadap kejadian cvs di mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Angkatan 2016

    Prevalence of High-Risk Pregnancies and Their Characteristics in Pregnant Women at Sukamulya Community Health Center in 2020

    No full text
    Maternal Mortality Rate (MMR) is one of the important parameters to measure the degree of public health in a country. Pregnant women who have high risk pregnancy risk factors have a higher risk of morbidity and mortality than women with low-risk pregnancies. Objective for knowing the prevalence of risky pregnancies and their characteristics in pregnant women at the Sukamulya Public Health Center in 2020. This study uses total sampling method. There were 136 research subjects who met the inclusion criteria. Data is collected by secondary data in the form of medical records. The majority of the subjects were pregnant women with high-risk pregnancies (72.8%) with the risk factors possessed by pregnant women at the Sukamulya Public Health Center from the highest to the lowest, respectively, were comorbidities (52.9%), age (36.8%), BMI (19.1%), history of cesarean (17.6%), blood pressure (16.9%), total parity (8.8%), gestational interval (7.4%), history of habitual abortion (3.7%), number of fetuses (2.9%), and maternal height (1.5%). The majority of pregnant women at the Sukamulya Health Center, Cigugur Village, Kuningan, West Java are pregnant women with high risk pregnancies (72.8%).Maternal Mortality Rate (MMR) is one of the important parameters to measure the degree of public health in a country. Pregnant women who have high risk pregnancy risk factors have a higher risk of morbidity and mortality than women with low-risk pregnancies. Objective for knowing the prevalence of risky pregnancies and their characteristics in pregnant women at the Sukamulya Public Health Center in 2020. This study uses total sampling method. There were 136 research subjects who met the inclusion criteria. Data is collected by secondary data in the form of medical records. The majority of the subjects were pregnant women with high-risk pregnancies (72.8%) with the risk factors possessed by pregnant women at the Sukamulya Public Health Center from the highest to the lowest, respectively, were comorbidities (52.9%), age (36.8%), BMI (19.1%), history of cesarean (17.6%), blood pressure (16.9%), total parity (8.8%), gestational interval (7.4%), history of habitual abortion (3.7%), number of fetuses (2.9%), and maternal height (1.5%). The majority of pregnant women at the Sukamulya Health Center, Cigugur Village, Kuningan, West Java are pregnant women with high risk pregnancies (72.8%)

    Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kelopak Bunga Rosela terhadap Bakteri Multidrug Resistant Acinetobacter baumannii dan Pseudomonas aeruginosa

    Full text link
    Penggunaan berbagai macam antibiotik menyebabkan kejadian resistensi antibiotik cepat berkembang. Acinetobacter baumannii dan Pseudomonas aeruginosa adalah bakteri multidrug resisten yang sering dikaitkan dengan terjadinya kegagalan terapi. Berbagai negara menggunakan herbal sebagai pengobatan alternatif penyakit infeksi. Studi sebelumnya menunjukkan aktivitas antibakteri yang dimiliki Hibiscus sabdariffa (rosela). Penelitian ini bertujuan untuk meneliti aktivitas antibakteri ekstrak kelopak bunga rosela pada berbagai konsentrasi terhadap bakteri Multidrug Resistant (MDR) A. baumannii dan P. aeruginosa. Kelopak bunga rosela dimaserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Aktivitas antibakteri diuji dengan metode cakram difusi pada konsentrasi 20, 40, 60, 80, dan 100%. Hasil penelitian menunjukkan diameter zona inhibisi ekstrak kelopak bunga rosela pada konsentrasi tersebut terhadap bakteri MDR A. baumannii adalah 10,8, 15, 16,8, 17, dan 21,2 mm, dan terhadap bakteri MDR P. aeruginosa adalah 10,6, 12,2, 16,8, 18, dan 23 mm. Uji statistik menggunakan uji Kruskal-Wallis didapatkan nilai P = 0,000 (P < 0,05) yang menunjukkan perbedaan aktivitas antibakteri yang signifikan antar kelompok konsentrasi ekstrak terhadap bakteri MDR A. baumannii maupun P. aeruginosa. Kesimpulan yang didapat adalah aktivitas antibakteri ekstrak kelopak bunga rosela terhadap bakteri MDR A. baumannii dan P. aeruginosa meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi.Penggunaan berbagai macam antibiotik menyebabkan kejadian resistensi antibiotik cepat berkembang. Acinetobacter baumannii dan Pseudomonas aeruginosa adalah bakteri multidrug resisten yang sering dikaitkan dengan terjadinya kegagalan terapi. Berbagai negara menggunakan herbal sebagai pengobatan alternatif penyakit infeksi. Studi sebelumnya menunjukkan aktivitas antibakteri yang dimiliki Hibiscus sabdariffa (rosela). Penelitian ini bertujuan untuk meneliti aktivitas antibakteri ekstrak kelopak bunga rosela pada berbagai konsentrasi terhadap bakteri Multidrug Resistant (MDR) A. baumannii dan P. aeruginosa. Kelopak bunga rosela dimaserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Aktivitas antibakteri diuji dengan metode cakram difusi pada konsentrasi 20, 40, 60, 80, dan 100%. Hasil penelitian menunjukkan diameter zona inhibisi ekstrak kelopak bunga rosela pada konsentrasi tersebut terhadap bakteri MDR A. baumannii adalah 10,8, 15, 16,8, 17, dan 21,2 mm, dan terhadap bakteri MDR P. aeruginosa adalah 10,6, 12,2, 16,8, 18, dan 23 mm. Uji statistik menggunakan uji Kruskal-Wallis didapatkan nilai P = 0,000 (P < 0,05) yang menunjukkan perbedaan aktivitas antibakteri yang signifikan antar kelompok konsentrasi ekstrak terhadap bakteri MDR A. baumannii maupun P. aeruginosa. Kesimpulan yang didapat adalah aktivitas antibakteri ekstrak kelopak bunga rosela terhadap bakteri MDR A. baumannii dan P. aeruginosa meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi

    Hubungan Kebisingan dengan Kadar Glukosa Darah pada Manusia : Sebuah Review

    No full text
    Noise is a sound whose presence is unwanted that it has an impact on health problems, an uncomfortable environment and can cause deafness. The impact of noise on health can occur in workplace and cause disturbances that are classified in stages. Several studies have found that sudden exposure to sound causes physiological reactions such as pulse, blood pressure, metabolism, sleep disturbances and constriction of blood vessels. The search for research journal articles was obtained from publication media, filtered from inclusion and exclusion criteria and obtained 10 journals to be reviewed. The results of this study are that in all the articles reviewed by the author there is a relationship between long-term noise exposure and human blood glucose levels. Noise exposure led to increased phosphorylation of jnk (c-Jun N-terminal kinase) as well as decreased phosphorylation in skeletal muscle in response to exogenous insulin stimulation, and another result was that plasma levels of TNF-α and IL-6 in skeletal muscle increased after long-term noise exposure. Noise exposure also causes dysregulation of the activity of the hypothalamo-pituitary adrenal axis with high corticosterone, which appears to blunt insulin action in peripheral tissues, consequently limiting glucose uptake and glycogen deposition in the liver and gastrocnemius muscle.Kebisingan merupakan suara atau bunyi yang keberadaanya tidak diinginkan sehingga berdampak pada gangguan kesehatan, lingkungan tidak nyaman dan dapat menyebabkan ketulian. Dampak dari kebisingan pada kesehatan dapat terjadi di tempat kerja dan menimbulkan gangguan yang diklasifikasikan secara bertahap. Pada beberapa penelitian ditemukan bahwa adanya paparan bunyi secara tiba-tiba menimbulkan reaksi fisiologis seperti: denyut nadi, tekanan darah, metabolisme, gangguan tidur dan penyempitan pembuluh darah. Pencarian artikel jurnal penelitian didapat dari media publikasi, disaring dari kriteria inklusi dan eksklusi dan didapatkan 10 jurnal yang akan direview. Hasil pengkajian dari penulisan ini adalah dalam semua artikel yang direview oleh penulis memperlihatkan adanya hubungan antara paparan kebisingan dalam jangka waktu lama dengan kadar glukosa darah manusia. Paparan kebisingan menyebabkan peningkatan fosforilasi jnk (c-Jun N-terminal kinase) serta penurunan fosforilasi pada otot rangka sebagai respons terhadap stimulasi insulin eksogen, dan hasil lainnya adalah tingkat plasma TNF-α dan IL-6 di otot rangka meningkat setelah terpapar kebisingan jangka panjang. Paparan kebisingan juga menyebabkan disregulasi aktivitas aksis adrenal hipotalamo-hipofisis dengan pembacaan kortikosteron tinggi, yang tampaknya menumpulkan aksi insulin di jaringan perifer, akibatnya membatasi pengambilan glukosa serta deposisi glikogen pada otot hati dan gastrocnemius

    Dampak Corporate Social Responsibility pada Kinerja Keuangan yang Dimoderasi Ukuran Perusahaan (Studi Empiris Pada Perusahaan LQ45 Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun (2021)

    Full text link
    This study aims to obtain empirical evidence regarding the Effect of Corporate Social Responsibility on Financial Performance with Company Size as a Moderating Variable listed on the Indonesia Stock Exchange in 2021. The population in this study are LQ45 companies listed on the Indonesia Stock Exchange. The number of research samples is 45 companies. The data analysis technique used is saturated sampling technique, with regression, correlation and determination tests. The results of the study prove that Corporate Social Responsibility has a positive effect on Financial Performance, this is because the complete disclosure of Corporate Social Responsibility activities can convince investors or stakeholders in carrying out their responsibilities. While company size can moderate the effect of Corporate Social Responsibility on Financial Performance, this proves company size can increase the trust of external parties in carrying out corporate responsibility   Keywords: corporate social responsibility. company size, financial performanc

    Faktor Risiko Prediktor Bakteremia pada Pasien Nekrolisis Epidermal Evidence Based Case Report

    Full text link
    Nekrolisis epidermal (NE) yang terbagi atas Sindrom Stevens-Johnson (SSJ) dan nekrolisis epidermal toksik (NET) merupakan reaksi simpang obat berat dengan mortalitas tinggi. Penyebab kematian terbanyak pada NE adalah sepsis, namun gejala sepsis tidak spesifik pada NE dan hasil kultur darah membutuhkan waktu lama. Oleh karena itu penting mengetahui prediktor yang berpengaruh terhadap peningkatan risiko bakteremia pada pasien dengan NE. Evidence-based case report ini bertujuan mengetahui faktor prediktor terjadinya bakteremia pada pasien NE berdasarkan literatur. Pencarian artikel menggunakan basis data PubMed, Cochrane, dan Scopus yang relevan dengan pertanyaan klinis untuk kemudian ditelaah. Didapatkan dua artikel kohort yang sesuai. Studi Koh dkk. mendapatkan tiga prediktor yang berpengaruh terhadap kejadian bakteremia pada pasien NE; yaitu hemoglobin ≤ 10 g/dL (odds ratio [OR] 2,4; interval kepercayaan [IK] 95% 2,2-2,6), luas epidermolisis ≥ 10% (OR 14,3; IK 95% 13,4-15,2) dan penyakit komorbid kardiovaskular (OR 2,1; IK 95% 2,0-2,3). Studi De Prost dkk. mendapatkan tiga prediktor yaitu usia > 40 tahun (hazard ratio [HR] 2,5; IK 95% 1,35-4,63), leukosit > 10.000/mm3 (HR 1,9; IK 95% 0,96-3,61), serta LPB ≥ 30% (HR 2,5; IK 95% 1,13-5,47). Epidermolisis yang lebih luas merupakan faktor prediktor terjadinya bakteremia pada NE di kedua studi. Faktor risiko lainnya memerlukan penelitian lebih lanjut.Nekrolisis epidermal (NE) yang terbagi atas sindrom Stevens-Johnson (SSJ) dan nekrolisis epidermal toksik (NET) merupakan reaksi simpang obat berat dengan mortalitas tinggi. Penyebab kematian terbanyak pada NE adalah sepsis, namun gejala sepsis tidak spesifik pada NE dan hasil kultur darah membutuhkan waktu lama. Oleh karena itu penting mengetahui prediktor yang berpengaruh terhadap peningkatan risiko bakteremia pada pasien dengan NE. Evidence based case report ini bertujuan mengetahui faktor prediktor terjadinya bakteremia pada pasien NE berdasarkan literatur. Pencarian artikel menggunakan basis data PubMed, Cochrane, dan Scopus yang relevan dengan pertanyaan klinis untuk kemudian ditelaah. Didapatkan dua artikel kohort yang sesuai. Studi pertama mendapatkan tiga prediktor yang berpengaruh terhadap kejadian bakteremia pada pasien NE yaitu hemoglobin ≤ 10 g/dL, luas epidermolisis permukaan badan ≥ 10% LPB, serta penyakit komorbid kardiovaskular. Studi kedua mendapatkan tiga prediktor yaitu usia > 40, leukosit > 10.000/mm3, serta LPB ≥ 30%. Epidermolisis yang lebih luas merupakan faktor prediktor terjadinya bakteremia pada NE di kedua studi. Faktor prediktor lain memerlukan penelitian lebih lanjut

    1,003

    full texts

    1,395

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Universitas Kristen Krida Wacana
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇