Jurnal Universitas Kristen Krida Wacana
Not a member yet
    1395 research outputs found

    Efektivitas Mouthwash Berbahan Dasar Ekstrak Camellia sinensis dan Mentha piperita sebagai Antibakteri terhadap Streptococcus mutans

    Full text link
    Karies gigi merupakan masalah kesehatan yang disebabkan Streptococcus mutans. Salah satu upaya mencegah karies gigi adalah melalui penggunaan mouthwash. Oleh karena mouthwash di pasaran tinggi alkohol sehingga meningkatkan risiko kanker mulut, maka diperlukan formulasi mouthwash berbahan dasar tanaman herbal. Tanaman herbal yang memiliki aktivitas antibakteri diantaranya teh hijau (Camellia sinensis) dan peppermint (Mentha piperita). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas mouthwash ekstrak teh hijau dan peppermint sebagai antibakteri terhadap Streptococcus mutans. Aktivitas antibakteri ditentukan melalui pengukuran zona hambat pada uji difusi. Mouthwash dibuat dalam 5 formula yaitu F1, F2, F3, F4, F5 dengan konsentrasi 20%, 40%, 60%, 80%, dan 100%. Dibuat pula FA (mouthwash ekstrak teh hijau 20%) dan FB (mouthwash ekstrak peppermint 20%) sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak teh hijau dan peppermint maka semakin besar diameter zona hambat. Rata rata zona hambat F1 dan F2 8,34 dan 9,80 mm (daya hambat sedang). Rata rata zona hambat F3, F4 dan F5 masing masing 11,64 mm, 14,63 mm dan 15,91 mm (daya hambat kuat). Rata rata zona hambat FA dan FB 7,45 dan 6,20 mm (daya hambat sedang). Berdasarkan hasil tersebut disimpulkan bahwa mouthwash ekstrak Camellia sinensis dan Mentha piperita efektif sebagai antibakteri terhadap Streptococcus mutans.Karies gigi merupakan masalah kesehatan serius yang disebabkan oleh Streptococcus mutans. Salah satu upaya mencegah karies gigi adalah melalui penggunaan mouthwash. Tetapi, mouthwash yang beredar di pasaran mengandung alkohol yang cukup tinggi sehingga meningkatkan resiko kanker mulut. Maka diperlukan formulasi mouthwash berbahan dasar tanaman herbal. Tanaman herbal yang memiliki aktivitas antibakteri diantaranya teh hijau (Camellia sinensis) dengan kandungan catechin yang tinggi dan peppermint (Mentha piperita) yang mengandung menthol dan menthone. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas mouthwash berbahan dasar ekstrak Camellia sinensis dan Mentha piperita sebagai antibakteri terhadap Streptococcus mutans. Aktivitas antibakteri ditentukan melalui pengukuran zona hambat yang terbentuk pada uji difusi cakram. Mouthwash dibuat dalam 5 formula yaitu F1, F2, F3, F4, F5 dengan konsentrasi 20%, 40%, 60%, 80%, dan 100%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak maka semakin besar diameter zona hambat. Rata rata zona hambat F1 dan F2 sebesar 8,34 mm dan 9,80 mm yang tergolong dalam daya hambat sedang. Rata rata zona hambat F3, F4 dan F5 masing masing sebesar 11,64 mm, 14,63 mm dan 15,91 mm yang tergolong dalam daya hambat kuat. Berdasarkan hasil tersebut disimpulkan bahwa mouthwash berbahan dasar kombinasi ekstrak Camellia sinensis dan Mentha piperita efektif sebagai antibakteri terhadap Streptococcus mutans

    Efikasi TENS untuk Mengatasi Nyeri Punggung dan Lutut dengan Penyebab Non-Spesifik: A Systematic Review

    Full text link
    Nyeri muskuloskeletal menjadi masalah kesehatan utama yang menyerang para petani maupun profesi lainnya akibat beban fisik dan durasi kerja yang tinggi. Dengan keterbatasan modalitas terapi saat ini, Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) dapat menjadi terapi fisik yang potensial. Systematic review ini bertujuan untuk mengkaji efikasi TENS pada nyeri muskuloskeletal dengan penyebab non-spesifik di dua lokasi tubuh tersering, yaitu punggung dan lutut berdasarkan hasil Visual Analogue Scale (VAS). Pencarian studi Randomized Controlled Trial (RCT) dilakukan dengan menggunakan standardisasi Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Dari 1734 studi, diperoleh 16 studi RCT yang menilai efikasi TENS ditinjau dari nilai VAS dengan rincian 8 studi (181 pasien) pada regio lutut dan 8 studi (278 pasien) pada regio punggung. Rata-rata penurunan VAS pada regio lutut sebesar 46,50% dan regio punggung sebesar 49,81%. Penggunaan terapi TENS selama 30 menit dengan frekuensi rendah (<50 Hz) ataupun tinggi (>50 Hz) sudah dapat memberikan repons terapi. Lamanya durasi, tingginya frekuensi terapi, dan penggunaan TENS dalam bentuk kombinasi tidak sejalan dengan efikasi TENS. TENS memberikan efikasi yang baik terhadap nyeri punggung dan lutut dan memiliki keunggulan karena sifatnya yang portabel, mudah digunakan, dan murah.Nyeri muskuloskeletal menjadi masalah kesehatan utama yang menyerang para petani maupun profesi lainnya akibat beban fisik dan durasi kerja yang tinggi. Dengan keterbatasan modalitas terapi saat ini, Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) dapat menjadi terapi fisik yang potensial. Systematic review ini bertujuan untuk mengkaji efikasi TENS pada nyeri muskuloskeletal dengan penyebab non-spesifik di dua lokasi tubuh tersering, yaitu punggung dan lutut berdasarkan hasil Visual Analogue Scale (VAS). Pencarian studi Randomized Controlled Trial (RCT) dilakukan dengan menggunakan standardisasi Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Dari 1734 studi, diperoleh 16 studi RCT yang menilai efikasi TENS ditinjau dari nilai VAS dengan rincian 8 studi (181 pasien) pada regio lutut dan 8 studi (278 pasien) pada regio punggung. Rata-rata penurunan VAS pada regio lutut sebesar 46,50% dan regio punggung sebesar 49,81%. Penggunaan terapi TENS selama 30 menit dengan frekuensi rendah (<50 Hz) ataupun tinggi (>50 Hz) sudah dapat memberikan repons terapi. Lamanya durasi, tingginya frekuensi terapi, dan penggunaan TENS dalam bentuk kombinasi tidak sejalan dengan efikasi TENS. TENS memberikan efikasi yang baik terhadap nyeri punggung dan lutut dan memiliki keunggulan karena sifatnya yang portabel, mudah digunakan, dan murah

    INDEKS SUBJEK DAN PENULIS

    No full text

    A literature review Insektisida Nabati dalam Bentuk Aerosol Terhadap Mortalitas Aedes aegypti

    No full text
    Demam berdarah dengue merupakan penyakit endemik di Indonesia. Dalam 10 tahun terakhir terjadi peningkatan kasus infeksi demam berdarah dengue sehingga dibutuhkan tindakan pencegahan berupa penggunaan insektisida. Insektisida dapat digolongkan menjadi insektisida nabati dan insektisida sintetik. Insektisida nabati lebih baik dibandingkan insektisida sintetik karena dapat diurai lingkungan dan aman bagi manusia karena berasal dari tanaman herbal. Penggunaan inseksitisda nabati dapat digunakan dalam berbagai bentuk. Dari sisi efektivitas dan pengaruh terhadap pengguna sediaan aerosol lebih efektif dibandingkan dengan sediaan lainnya. Indikator penilaian toksisitas suatu tanaman dapat berupa EC50, LC50 dan KT50 yang dapat menilai tanaman manakah yang paling kompetibel untuk dijadikan sebagai insektisida nabati. Tinjauan pustaka ini mengevaluasi efektifitas berbagai jenis insektisida nabati bentuk aerosol.Demam berdarah dengue merupakan penyakit endemik di Indonesia. Dalam 10 tahun terakhir terjadi peningkatan kasus infeksi demam berdarah dengue sehingga dibutuhkan tindakan pencegahan berupa penggunaan insektisida. Insektisida dapat digolongkan menjadi insektisida nabati dan insektisida sintetik. Insektisida nabati lebih baik dibandingkan insektisida sintetik karena dapat diurai lingkungan dan aman bagi manusia karena berasal dari tanaman herbal. Penggunaan inseksitisda nabati dapat digunakan dalam berbagai bentuk. Dari sisi efektivitas dan pengaruh terhadap pengguna sediaan aerosol lebih efektif dibandingkan dengan sediaan lainnya. Indikator penilaian toksisitas suatu tanaman dapat berupa EC50, LC50 dan KT50 yang dapat menilai tanaman manakah yang paling kompetibel untuk dijadikan sebagai insektisida nabati. Tinjauan pustaka ini mengevaluasi efektifitas berbagai jenis insektisida nabati bentuk aerosol. i.

    Infeksi dan Pola Kepekaan Stenotrophomonas maltophilia di ICU RS X

    Full text link
    Infeksi Stenotrophomonas maltophilia dapat terjadi di berbagai organ, namun bakteri ini paling sering ditemukan pada paru. Angka kematian pada pasien dengan infeksi S. maltophilia cukup tinggi, tetapi berkaitan erat dengan kondisi pasien. Bakteri ini memiliki kekebalan intrinsik yang luas, antibiotik yang dapat digunakan lebih terbatas, serta diperlukan pengendalian infeksi yang baik dalam penanganannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data prevalensi S. maltophilia di ICU RS X dan pola kepekaannya. Seluruh sampel yang berasal dari ICU diambil dan jika ditemukan S. maltophilia, maka akan dimasukkan ke dalam studi. Ditemukan seluruh sampel dengan pertumbuhan S. maltophilia berasal dari paru, dengan sebagian besar disertai Pneumonia COVID-19. Prevalensi infeksi paru S. maltophilia 25,31%, dengan mortalitas mencapai 52,94%. Ditemukan kepekaan cotrimoxazole 95% dan levofloxacin 83,33%. Cotrimoxazole dan levofloxacin masih ideal untuk menangani infeksi S. maltophilia dengan tetap menerapkan pencegahan dan pengendalian infeksi yang baik.Infeksi Stenotrophomonas maltophilia dapat terjadi di berbagai organ, namun bakteri ini paling sering ditemukan pada paru. Angka kematian pada pasien dengan infeksi S. maltophilia cukup tinggi, tetapi berkaitan erat dengan kondisi pasien. Bakteri ini memiliki kekebalan intrinsik yang luas, antibiotik yang dapat digunakan lebih terbatas, serta diperlukan pengendalian infeksi yang baik dalam penanganannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data prevalensi S. maltophilia di ICU RS X dan pola kepekaannya. Seluruh sampel yang berasal dari ICU diambil dan jika ditemukan S. maltophilia, maka akan dimasukkan ke dalam studi. Ditemukan seluruh sampel dengan pertumbuhan S. maltophilia berasal dari paru, dengan sebagian besar disertai Pneumonia COVID-19. Prevalensi infeksi paru S. maltophilia 25,31%, dengan mortalitas mencapai 52,94%. Ditemukan kepekaan cotrimoxazole 95% dan levofloxacin 83,33%. Cotrimoxazole dan levofloxacin masih ideal untuk menangani infeksi S. maltophilia dengan tetap menerapkan pencegahan dan pengendalian infeksi yang baik

    Overview of Patients with Hypertensive Heart Disease at the Cardiology Clinic of the Family Medical Center Hospital in 2020

    No full text
    Hypertensive heart disease is a condition of changes in heart structure and function due to chronic hypertension, the term hypertensive heart disease ultimately includes conditions such as left ventricular hypertrophy, systolic heart failure, diastolic or both, irregular heartbeat and coronary heart disease. This study aims to describe the characteristics of patients with hypertensive heart disease such as sociodemographic descriptions such as age, gender, clinical manifestations, management including the type of drug given and the amount of drug given, as well as comorbidities in patients with hypertensive heart disease at the Cardiology Clinic of the Family Medical Center Hospital. 2020.  The age group of patients with hypertensive heart disease is 56-65 years (36%), sex is dominated by women (55.8%), the majority of patients with hypertensive heart disease have clinical manifestations of LVH without heart failure (51.2%) , beta blockers were the most frequently administered drugs (72.2%), 3 types of drugs were the most frequently administered drugs to patients (33.8%), and diabetes was the most common comorbidity in patients (22.7%). Early screening and treatment of hypertension is very necessary to prevent the development of hypertension into hypertensive heart disease.Hypertensive heart disease is a condition of changes in heart structure and function due to chronic hypertension, the term hypertensive heart disease ultimately includes conditions such as left ventricular hypertrophy, systolic heart failure, diastolic or both, irregular heartbeat and coronary heart disease. This study aims to describe the characteristics of patients with hypertensive heart disease such as sociodemographic descriptions such as age, gender, clinical manifestations, management including the type of drug given and the amount of drug given, as well as comorbidities in patients with hypertensive heart disease at the Cardiology Clinic of the Family Medical Center Hospital. 2020.  The age group of patients with hypertensive heart disease is 56-65 years (36%), sex is dominated by women (55.8%), the majority of patients with hypertensive heart disease have clinical manifestations of LVH without heart failure (51.2%) , beta blockers were the most frequently administered drugs (72.2%), 3 types of drugs were the most frequently administered drugs to patients (33.8%), and diabetes was the most common comorbidity in patients (22.7%). Early screening and treatment of hypertension is very necessary to prevent the development of hypertension into hypertensive heart disease

    Evaluasi Efektivitas Sambiloto (Andrographis paniculata) sebagai Hepatoprotektor terhadap Jejas Hati Imbas Obat

    Full text link
    Jejas hati imbas obat ditandai dengan peningkatan kadar enzim hati dan kerusakan jaringan hati. Jejas hati imbas obat sering disebabkan oleh konsumsi beberapa obat seperti parasetamol dan rifampisin. Jejas hati imbas obat dapat dibagi menjadi jejas hati imbas obat tipe intrinsik dan jejas hati imbas obat tipe idiosinkratik. Penatalaksanaan jejas hati imbas obat adalah dengan menghentikan konsumsi obat terkait. Salah satu obat herbal asli Indonesia adalah tanaman sambiloto (Andrographis paniculata) yang memiliki banyak manfaat salah satunya sebagai hepatoprotektor dan agen antiinflamasi. Pemberian sambiloto (Andrographis paniculata) pada mencit maupun tikus yang mengalami jejas hati imbas obat menyebabkan penurunan kadar enzim hati di dalam darah dan memperbaiki gambaran histologis hati sehingga sambiloto dapat menjadi salah satu terapi adjuvant untuk mengatasi jejas hati imbas obat.Jejas hati imbas obat ditandai dengan peningkatan kadar enzim hati dan kerusakan jaringan hati. Jejas hati imbas obat sering disebabkan oleh konsumsi beberapa obat seperti parasetamol dan rifampisin. Jejas hati imbas obat dapat dibagi menjadi jejas hati imbas obat tipe intrinsik dan jejas hati imbas obat tipe idiosinkratik. Penatalaksanaan jejas hati imbas obat adalah dengan menghentikan konsumsi obat terkait. Salah satu obat herbal asli Indonesia adalah tanaman sambiloto (Andrographis paniculata) yang memiliki banyak manfaat salah satunya sebagai hepatoprotektor dan agen antiinflamasi. Pemberian sambiloto (Andrographis paniculata) pada mencit maupun tikus yang mengalami jejas hati imbas obat menyebabkan penurunan kadar enzim hati di dalam darah dan memperbaiki gambaran histologis hati sehingga sambiloto dapat menjadi salah satu terapi adjuvant untuk mengatasi jejas hati imbas obat

    Gambaran Union pada Fraktur Tulang Panjang Bagian Metafisis di RS Ciputra Januari – Desember 2020

    Full text link
    Latar Belakang: Angka kejadian fraktur di Indonesia cukup tinggi, berdasarkan data yang dimiliki Departemen Kesehatan RI pada tahun 2013 didapatkan sekitar delapan juta orang mengalami kejadian fraktur dengan jenis fraktur yang berbeda dan penyebab yang berbeda. Union merupakan terbentuknya kalus oleh karena proses penyembuhan fraktur yang tidak sempurna, berupa pembungkus yang dikalsifikasikan. Tujuan:  mendapatkan gambaran union pada fraktur tulang panjang bagian metafisis setelah 2 bulan pemasangan plate & screw di Rumah Sakit Ciputra Tangerang. Metode: analisa data sekunder rekam medis tentang union pada pasien dengan fraktur berdasarkan lokasi fraktur di Rumah Sakit Ciputra Tangerang periode Januari – Desember 2020. Sebanyak 62 pasien  dengan fraktur tulang panjang di Rumah sakit Ciputra periode Januari-Desember 2020. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan fraktur tulang panjang yang mengalami union sebesar 75,8% dengan lokasi terbanyak yaitu fraktur pada tulang radius sebanyak 35,5%, dengan gambaran union 18 pasien sebesar 38,3% dan non-union 4 pasien sebesar 26,67%. Simpulan: fraktur tulang panjang yang mengalami union lebih besar dibandingkan non-union dengan lokasi terbanyak yaitu pada tulang radius dengan rata-rata proses pembentukan union dimulai pada minggu ke-empatLatar Belakang: Angka kejadian fraktur di Indonesia cukup tinggi, berdasarkan data yang dimiliki Departemen Kesehatan RI pada tahun 2013 didapatkan sekitar delapan juta orang mengalami kejadian fraktur dengan jenis fraktur yang berbeda dan penyebab yang berbeda. Union merupakan terbentuknya kalus oleh karena proses penyembuhan fraktur yang tidak sempurna, berupa pembungkus yang dikalsifikasikan. Tujuan:  mendapatkan gambaran union pada fraktur tulang panjang bagian metafisis setelah 2 bulan pemasangan plate & screw di Rumah Sakit Ciputra Tangerang. Metode: analisa data sekunder rekam medis tentang union pada pasien dengan fraktur berdasarkan lokasi fraktur di Rumah Sakit Ciputra Tangerang periode Januari – Desember 2020. Sebanyak 62 pasien  dengan fraktur tulang panjang di Rumah sakit Ciputra periode Januari-Desember 2020. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan fraktur tulang panjang yang mengalami union sebesar 75,8% dengan lokasi terbanyak yaitu fraktur pada tulang radius sebanyak 35,5%, dengan gambaran union 18 pasien sebesar 38,3% dan non-union 4 pasien sebesar 26,67%. Simpulan: fraktur tulang panjang yang mengalami union lebih besar dibandingkan non-union dengan lokasi terbanyak yaitu pada tulang radius dengan rata-rata proses pembentukan union dimulai pada minggu ke-empa

    Interferon Gamma sebagai Deteksi Awal Infeksi yang Disebabkan oleh Toxoplasma gondii

    Full text link
    Early diagnosis of Toxoplasma gondii infection is crucial for the efficacy of the treatment. The medicine only kill tachyzoite form but not in bradyzoite form that can be found in the cyst. As we know, the shorter the time that we use to detect the infection, the greater the chance of the treatment to success. However, a diagnostic method, the antibody-based serological tests, often is used to detect T. Gondii but have some limitations. Based on recent research, a test known as Interferon-gamma release assay (IGRA), was introduced to detect T. gondii infection. The test was based on T cellin vitro assays and can detect both acute and chronic infections. IGRA can detect the infection as early as day 3, while IgM and IgG serum can be detected on day 9 and 13 post-infection. IGRA accurately distinguish between infected and non infected individuals by showing an activation of lymphocytes after being stimulated via in vitro by T. gondii antigens, even on the first day of life. IGRA is an easy and inexpensivemethod to measure cell mediated immunity to T. gondii. Therefore, IGRA has the potential to be a diagnostic tool for the early detection of T.gondii infection.Diagnosis dini infeksi Toxoplasma gondii penting untuk efektifitas pengobatan. Obat yang tersedia tidak dapat membunuh bradizoit yang terkandung dalam kista, obat tersebut hanya dapat membunuh pada stadium takizoit. Semakin cepat infeksi T.gondii terdeteksi maka semakin besar kemungkinan infeksi dapat dihentikan dan keberhasilan pengobatan tercapai. Saat ini tes serologi berbasis antibodi menjadi metode diagnostik yang paling sering digunakan untuk mendeteksi T. gondii. Namun, tes serologi diketahui memiliki beberapa keterbatasan. Berdasarkan penelitian terakhir, Interferon-gamma release assay (IGRA) yang merupakan pemeriksaan berbasis sel T diperkenalkan sebagai uji in vitro untuk mendeteksi infeksi T. gondii. Baik infeksi akut dan kronis bisa dideteksi dengan IGRA,  IGRA dapat mendeteksi infeksi pada hari ke 3, sementara serum IgM dan IgG terdeteksi pada hari ke 9 dan 13 pasca infeksi. IGRA secara akurat dapat membedakan individu yang terinfeksi dan yang tidak terinfeksi dengan menunjukkan aktivasi limfosit yang kuat setelah distimulasi secara in vitro oleh antigen T. gondii, bahkan pada hari pertama kehidupan. IGRA adalah suatu metode tes yang mudah dan murah untuk mengukur sel mediasi  imunitas terhadap T. gondii. Oleh karena itu, IGRA memiliki potensi untuk menjadi alat diagnostik deteksi dini untuk infeksi T.gondii

    Treatment of Lymphatic Filariasis with Wolbachia Targets

    Full text link
    Nematodes are the cause of filariasis. Tissue nematodes as the cause of lymphatic filariasis are 3 species, namely Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, Brugia timori.1 Lymphatic filariasis is the second largest cause of long-term disability, namely lymphedema of the extremities (elephantiasis) and hydrocele, especially in the tropics.2 Wolbachia bacteria are found in Onchocercidae, the family of filarial nematodes, including species that cause filarial disease in humans such as lymphatic filariasis and onchocerciasis. The symbiosis of Wolbachia and Onchocercidae shows that Wolbachia bacteria play a role in the treatment of filarial parasitic infections by using antibiotics such as tetracycline, doxycycline or rifampicin causing growth retardation and embryogenesis. 4 The long term use of antibiotics is feared to cause resistance to bacteria. Therefore, it is necessary to use antibiotics with a shorter time.Nematoda merupakan penyebab penyakit filariasis. Nematoda jaringan sebagai penyebab filariasis limfatik adalah 3 spesies yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, Brugia timori.1 Filariasis limfatik merupakan penyebab disabilitas jangka panjang kedua terbesar yaitu limfedema pada ekstremitas (elefantiasis) dan hidrokel terutama di daerah tropis.2 Bakteri Wolbachia ditemukan pada Onchocercidae, keluarga dari nematoda filaria, termasuk spesies yang menyebabkan penyakit filaria pada manusia seperti filariasis limfatik dan onchocerciasis. Simbiosis Wolbachia dan Onchocercidae menunjukkan bakteri Wolbachia berperan pada target pengobatan infeksi parasit filaria dengan menggunakan antibiotik seperti tetrasiklin, doksisiklin atau rifampicin menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan embryogenesis.4 Lamanya penggunaan antibiotik jangka panjang dikhawatirkan dapat menyebabkan resistensi terhadap bakteri. Oleh karena itu perlunya penggunaan antibiotik dengan waktu yang lebih singkat.

    1,003

    full texts

    1,395

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Universitas Kristen Krida Wacana
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇