Jurnal Universitas Kristen Krida Wacana
Not a member yet
1395 research outputs found
Sort by
Peranan Mycoplasma genitalium pada Infeksi Menular Seksual
Mycoplasma genitalium merupakan suatu mikroorganisme yang berasal dari kelas Mollicutes, tumbuh lambat, dan mampu bereplikasi secara independen. Mycoplasma genitalium telah ditetapkan sebagai salah satu organisme patogen penyebab infeksi menular seksual dalam beberapa dekade terakhir. Transmisi M. genitalium dapat secara genito-genital, ano-genital, namun jarang secara oro-genital. Infeksi M. genitalium dapat bersifat asimptomatik, namun dapat berupa uretritis akut atau kronik, servisitis, dan penyakit radang panggul. Deteksi M. genitalium dengan pewarnaan Gram dan kultur sulit dilakukan, sehingga memerlukan amplifikasi asam nukleat. Penderita infeksi M. genitalium perlu diberikan edukasi menyeluruh mengenai penyakitnya bersama dengan pasangan seksualnya, dan disarankan melakukan abstinensia hubungan seksual selama 14 hari atau hingga gejala sembuh. Terapi infeksi M. genitalium berupa antibiotik seperti makrolida, fluorokuinolon, tetrasiklin, dan pristinamisin. Tingkat resistensi antibiotik yang tinggi merupakan tantangan dalam menangani infeksi M. genitalium. Artikel ini akan merangkum mengenai infeksi M. genitalium, termasuk epidemiologi, gejala klinis, diagnosis, tata laksana, dan tantangan dalam mengobati infeksi M. genitalium, serta peranannya dalam infeksi menular seksual.Mycoplasma genitalium merupakan suatu mikroorganisme yang berasal dari kelas Mollicutes, tumbuh lambat, dan mampu bereplikasi secara independen. Mycoplasma genitalium telah ditetapkan sebagai salah satu organisme patogen penyebab infeksi menular seksual dalam beberapa dekade terakhir. Transmisi M. genitalium dapat secara genito-genital, ano-genital, namun jarang secara oro-genital. Infeksi M. genitalium dapat bersifat asimptomatik, namun dapat berupa uretritis akut atau kronik, servisitis, dan penyakit radang panggul. Deteksi M. genitalium dengan pewarnaan Gram dan kultur sulit dilakukan, sehingga memerlukan amplifikasi asam nukleat. Penderita infeksi M. genitalium perlu diberikan edukasi menyeluruh mengenai penyakitnya bersama dengan pasangan seksualnya, dan disarankan melakukan abstinensia hubungan seksual selama 14 hari atau hingga gejala sembuh. Terapi infeksi M. genitalium berupa antibiotik seperti makrolida, fluorokuinolon, tetrasiklin, dan pristinamisin. Tingkat resistensi antibiotik yang tinggi merupakan tantangan dalam menangani infeksi M. genitalium. Artikel ini akan merangkum mengenai infeksi M. genitalium, termasuk epidemiologi, gejala klinis, diagnosis, tata laksana, dan tantangan dalam mengobati infeksi M. genitalium, serta peranannya dalam infeksi menular seksual
Hubungan Kelelahan Kerja dengan Sif Kerja pada Petugas Keamanan
Kelelahan kerja merupakan salah satu permasalahan kesehatan dan keselamatan kerja yang dapat menjadi faktor risiko terjadinya kecelakaan kerja. Risiko kelelahan kerja akan meningkat pada pekerja yang menjalankan sif kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sif kerja dengan kelelahan kerja pada petugas keamanan di Universitas X. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional. Responden adalah petugas keamanan yang melakukan sif pagi dan sif malam. Pengukuran kelelahan kerja objektif menggunakan waktu reaksi dan subjektif dengan kuesioner alat ukur perasaan kelelahan kerja (KAUPK2). Digunakan uji statistik Kolmogorov-Smirnov untuk melihat hubungan sif kerja dengan kelelahan kerja. Didapatkan 73,33% petugas keamanan sif pagi, dan 66,67% sif malam berusia dewasa. Sebanyak 80% sif pagi dan 80% sif malam berstatus sudah menikah. Petugas sif pagi 56,67% memiliki masa kerja baru, dan 76,67% petugas keamanan sif malam memiliki masa kerja lama. Sebanyak 50% responden sif pagi, dan 56,66 sif malam dalam kategori berat badan lebih. Selama menjalankan sif kerja, 60% responden sif pagi dan 83,33% sif malam tertidur di jam bertugas. Di dapatkan nilai p > 0,05 untuk perbedaan kelelahan kerja objektif dan subjektif pada petugas keamanan sif pagi dan sif malam. Dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan antara kelelahan kerja dengan sif kerja petugas keamanan di Universitas X
Perbandingan Efektivitas Terapi Asiklovir dibandingkan dengan Plasebo pada Pitiriasis Rosea: Sebuah Laporan Kasus Berbasis Bukti
Pitiriasis rosea merupakan kelainan kulit eritroskuamosa swasirna yang diduga disebabkan oleh human herpesvirus 6 dan 7. Etiologi dan patomekanisme penyakit yang belum diketahui dengan pasti menimbulkan tantangan dalam tata laksana penyakit ini. Pengobatan yang dianjurkan beragam, mulai dari simtomatik, antivirus, antibiotik, hingga fototerapi, namun, belum terdapat pedoman tatalaksana yang baku. Tujuan dari tinjauan sistematis ini adalah untuk membandingkan asiklovir dibandingkan plasebo dalam regresi lesi pitiriasis rosea. Metode penelitian menggunakan penelusuran artikel di tiga database yaitu PubMed, Cochrane dan Scopus. Hasil penelusuran ditemukan 29 artikel, kemudian terpilih satu meta-analisis dari uji klinis yang sesuai berdasarkan validitas, kepentingan, dan aplikabilitas. Meta-analisis tersebut menunjukkan bahwa asiklovir unggul terhadap plasebo dalam regresi lesi pitiriasis rosea di hari ke-7. Kesimpulan dari penelusuran ini menunjukkan bahwa asiklovir lebih efektif dalam mengobati lesi pitiriasis rosea dibandingkan dengan plasebo.Pitiriasis rosea merupakan kelainan kulit eritroskuamosa swasirna yang diduga disebabkan oleh human herpesvirus 6 dan 7. Etiologi dan patomekanisme penyakit yang belum diketahui dengan pasti menimbulkan tantangan dalam tata laksana penyakit ini. Pengobatan yang dianjurkan beragam, mulai dari simtomatik, antivirus, antibiotik, hingga fototerapi, namun, belum terdapat pedoman tatalaksana yang baku. Tujuan dari tinjauan sistematis ini adalah untuk membandingkan asiklovir dibandingkan plasebo dalam regresi lesi pitiriasis rosea. Metode penelitian menggunakan penelusuran artikel di tiga database yaitu PubMed, Cochrane dan Scopus. Hasil penelusuran ditemukan 29 artikel, kemudian terpilih satu meta-analisis dari uji klinis yang sesuai berdasarkan validitas, kepentingan, dan aplikabilitas. Meta-analisis tersebut menunjukkan bahwa asiklovir unggul terhadap plasebo dalam regresi lesi pitiriasis rosea di hari ke-7. Kesimpulan dari penelusuran ini menunjukkan bahwa asiklovir lebih efektif dalam mengobati lesi pitiriasis rosea dibandingkan dengan plasebo
Peranan Akar Manis (Glycyrrhiza sp.) sebagai Terapi Alternatif Antivirus pada COVID-19
Coronavirus disease 2019 (COVID-19) yang diakibatkan oleh infeksi severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) merupakan masalah kesehatan global yang memengaruhi seluruh lapisan masyarakat dan berdampak buruk pada kesejahteraan manusia. Hingga saat ini, belum ditemukan terapi spesifik terhadap SARS-CoV-2 sehingga diperlukan agen terapeutik alternatif yang dapat mencegah maupun mengobati penyakit ini. Tanaman akar manis merupakan salah satu tanaman herbal yang telah menunjukkan kemampuan signifikan dalam menghambat replikasi SARS-CoV-1 sehingga memiliki potensi dalam terapi COVID-19. Dalam tinjauan pustaka ini, dilakukan analisis literatur menggunakan pangkalan data Pubmed guna mengetahui efek senyawa akar manis (Glycyrrhiza sp.) sebagai antivirus, anti-inflamasi, dan imunomodulator yang dapat digunakan sebagai terapi alternatif pada penyakit COVID-19. Dari data yang didapatkan, ditemukan bahwa glycyrrhizin merupakan senyawa dengan mekanisme kerja paling luas pada beragam target protein SARS-CoV-2 dan dapat menghambat replikasi virus ini pada konsentrasi 0,5 mg/ml secara in vitro. Secara khusus, glycyrrhizin mampu bekerja pada 3CLpro, suatu target protein yang konsisten ditemukan pada strain virus SARS-CoV-2 sehingga menghindari resistensi akibat mutasi. Hasil tinjauan pustaka ini menunjukkan adanya peranan akar manis (Glycyrrhiza sp.) sebagai terapi alternatif antivirus pada COVID-19 melalui kerjanya secara langsung pada SARS-CoV-2 serta didukung oleh efek anti-inflamasi dan imunomodulasi yang signifikan.Coronavirus disease 2019 (COVID-19) yang diakibatkan oleh infeksi severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) merupakan masalah kesehatan global yang memengaruhi seluruh lapisan masyarakat dan berdampak buruk pada kesejahteraan manusia. Hingga saat ini, belum ditemukan terapi spesifik terhadap SARS-CoV-2 sehingga diperlukan agen terapeutik alternatif yang dapat mencegah maupun mengobati penyakit ini. Tanaman akar manis merupakan salah satu tanaman herbal yang telah menunjukkan kemampuan signifikan dalam menghambat replikasi SARS-CoV-1 sehingga memiliki potensi dalam terapi COVID-19. Dalam tinjauan pustaka ini, dilakukan analisis literatur menggunakan pangkalan data Pubmed guna mengetahui efek senyawa akar manis (Glycyrrhiza sp.) sebagai antivirus, anti-inflamasi, dan imunomodulator yang dapat digunakan sebagai terapi alternatif pada penyakit COVID-19. Dari data yang didapatkan, ditemukan bahwa glycyrrhizin merupakan senyawa dengan mekanisme kerja paling luas pada beragam target protein SARS-CoV-2 dan dapat menghambat replikasi virus ini pada konsentrasi 0,5 mg/ml secara in vitro. Secara khusus, glycyrrhizin mampu bekerja pada 3CLpro, suatu target protein yang konsisten ditemukan pada strain virus SARS-CoV-2 sehingga menghindari resistensi akibat mutasi. Hasil tinjauan pustaka ini menunjukkan adanya peranan akar manis (Glycyrrhiza sp.) sebagai terapi alternatif antivirus pada COVID-19 melalui kerjanya secara langsung pada SARS-CoV-2 serta didukung oleh efek anti-inflamasi dan imunomodulasi yang signifikan
Efektifitas Relaksasi Otot Progresif terhadap Penurunan Tekanan Darah Tinggi pada Lansia di Paupire, Ende
Seiring bertambahnya usia, lansia mulai mengalami penurunan elastisitas dinding pembuluh darah yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah. Salah satu upaya penanganan menurunkan tekanan darah adalah dengan terapi relaksasi otot progresif. Terapi ini dapat memunculkan respon relaksasi yang merangsang aktivitas saraf simpatis dan parasimpatis sehingga terjadi penurunan tekanan darah. Tujuan penelitian untuk mengetahui efektivitas relaksasi otot progresif dalam penurunan tekanan darah tinggi pada lansia di Paupire, Ende. Metode penelitian menggunakan quasi eksperimen tanpa kelompok kontrol dengan pendekatan one group comparison pre dan post-test design, dengan teknik Total Sampling. Sampel berjumlah 41 responden, masing-masing responden mendapat latihan relaksasi otot progresif selama 15 menit, dilakukan selama 6 hari berturut-turut. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum dan setelah latihan relaksasi otot progresif. Hasil penelitian menunjukan setelah latihan relaksasi otot progresif terjadi penurunan tekanan darah sistolik dari 157,56 mmHg menjadi 133,17 mmHg dan tekanan darah diastolik mengalami penurunan dari 91,95 mmHg menjadi 78,29 mmHg. Uji statistik menunjukkan bahwa latihan relaksasi otot progresif secara bermakna menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik (p value = 0.000; ≤ α 0.005) artinya terapi relaksasi otot progresif efektif terhadap penurunan tekanan darah pada lansia. Maka,terapi ini secara mandiri dapat dilakukan oleh lansia sebagai terapi non-farmakologi untuk mendukung upaya komplementer perawatan hipertensi.Seiring bertambahnya usia, lansia mulai mengalami penurunan elastisitas dinding pembuluh darah yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah. Salah satu upaya penanganan menurunkan tekanan darah adalah dengan terapi relaksasi otot progresif. Terapi ini dapat memunculkan respon relaksasi yang merangsang aktivitas saraf simpatis dan parasimpatis sehingga terjadi penurunan tekanan darah. Tujuan penelitian untuk mengetahui efektivitas relaksasi otot progresif dalam penurunan tekanan darah tinggi pada lansia di Paupire, Ende. Metode penelitian menggunakan quasi eksperimen tanpa kelompok kontrol dengan pendekatan one group comparison pre dan post-test design, dengan teknik Total Sampling. Sampel berjumlah 41 responden, masing-masing responden mendapat latihan relaksasi otot progresif selama 15 menit, dilakukan selama 6 hari berturut-turut. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum dan setelah latihan relaksasi otot progresif. Hasil penelitian menunjukan setelah latihan relaksasi otot progresif terjadi penurunan tekanan darah sistolik dari 157,56 mmHg menjadi 133,17 mmHg dan tekanan darah diastolik mengalami penurunan dari 91,95 mmHg menjadi 78,29 mmHg. Uji statistik menunjukkan bahwa latihan relaksasi otot progresif secara bermakna menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik (p value = 0.000; ≤ α 0.005) artinya terapi relaksasi otot progresif efektif terhadap penurunan tekanan darah pada lansia. Maka,terapi ini secara mandiri dapat dilakukan oleh lansia sebagai terapi non-farmakologi untuk mendukung upaya komplementer perawatan hipertensi
Potensi Hibiscus sabdariffa Linn. Memodulasi GLP-1 dan Neuropeptide Y (NPY) di Nucleus Arcuatus pada Tikus Obes
Gangguan pada pusat pengaturan nafsu makan dapat menyebabkan obesitas. Glucagon like Peptide -1 (GLP-1) dan Neuropeptide Y (NPY) merupakan dua peptida penting yang terlibat dalam pengendalian nafsu makan. Beberapa penelitian menunjukkan Hibiscus sabdariffa Linn. memiliki potensi dalam pengendalian obesitas dengan memodulasi kadar GLP-1 dan NPY di perifer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana potensi Hibiscus sabdariffa Linn.(HSL) dalam memodulasi kadar GLP-1 dan NPY di sentral khususnya di Nucleus Arcuatus. Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan yang menggunakan jaringan otak tikus tersimpan yang berasal dari 24 ekor tikus Spraque Dawley jantan umur 6 -10 minggu, berat badan antara 90 -160 gram, yang dibagi dalam 4 kelompok yaitu: Normal(C); Obes(Ob); Obes-Hib200(Ob-Hib200); Obes-Hib400(Ob-Hib400). Ekstrak HSL diberikan secara oral satu kali per hari selama 5 minggu. Sampel diperoleh dari hasil isolasi ARC, kemudian dilakukan pengukuran kadar GLP-1 dan NPY menggunakan metode ELISA. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak HSL dosis 400mg/KgBB/hari dapat meningkatkan kadar GLP-1 paling tinggi, dibandingkan dengan kelompok tikus lainnya, sekaligus dapat menurunkan kadar NPY dibandingkan dengan kelompok tikus Obes(Ob) dan Obes-Hib(200), meskipun secara analisis tidak terdapat perbedaan bermakna. Dosis ekstrak HSL berperan penting dalam efektifitasnya memodulasi kadar GLP-1 dan NPY di ARC untuk membantu mengendalikan nafsu makan sehingga dapat mengurangi resiko terjadinya obesitas.Gangguan pada pusat pengaturan nafsu makan dapat menyebabkan obesitas. Glucagon like Peptide -1 (GLP-1) dan Neuropeptide Y (NPY) merupakan dua peptida penting yang terlibat dalam pengendalian nafsu makan. Beberapa penelitian menunjukkan Hibiscus sabdariffa Linn. memiliki potensi dalam pengendalian obesitas dengan memodulasi kadar GLP-1 dan NPY di perifer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana potensi Hibiscus sabdariffa Linn.(HSL) dalam memodulasi kadar GLP-1 dan NPY di sentral khususnya di Nucleus Arcuatus. Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan yang menggunakan jaringan otak tikus tersimpan yang berasal dari 24 ekor tikus Spraque Dawley jantan umur 6 -10 minggu, berat badan antara 90 -160 gram, yang dibagi dalam 4 kelompok yaitu: Normal(C); Obes(Ob); Obes-Hib200(Ob-Hib200); Obes-Hib400(Ob-Hib400). Ekstrak HSL diberikan secara oral satu kali per hari selama 5 minggu. Sampel diperoleh dari hasil isolasi ARC, kemudian dilakukan pengukuran kadar GLP-1 dan NPY menggunakan metode ELISA. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak HSL dosis 400mg/KgBB/hari dapat meningkatkan kadar GLP-1 paling tinggi, dibandingkan dengan kelompok tikus lainnya, sekaligus dapat menurunkan kadar NPY dibandingkan dengan kelompok tikus Obes(Ob) dan Obes-Hib(200), meskipun secara analisis tidak terdapat perbedaan bermakna. Dosis ekstrak HSL berperan penting dalam efektifitasnya memodulasi kadar GLP-1 dan NPY di ARC untuk membantu mengendalikan nafsu makan sehingga dapat mengurangi resiko terjadinya obesitas
Perubahan Histopatologis Sel Epitel Midgut Larva Nyamuk Aedes aegypti Akibat Paparan Insektisida Nabati
Aedes aegypti mosquitoes are the main vector of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF). Various prevention efforts were carried out to reduce their population. One of them is the use of synthetic or bioinsecticides. Bioinsecticides are safer for humans, animals and the environment so they had been used widely as an alternative nowadays. Larvicide is one of the insecticides product that attacks mosquito breeding sites in the water. Larvicide has various mechanisms that can attack some target organs including larvae’s midgut. Based on several trial results, plant insecticides have been cause epithelial cells in larvae’s midgut to lyses, change shape, vacuolize and detach from the basal membrane. Peritrophic membrane, microvilli and brush border are partially or completely damage. Histopathological changes in the midgut epithelial cells of Ae. aegypti larvae were caused by metabolite compounds, either singly or in combination that contained in plant extractsNyamuk Aedes aegypti merupakan vektor utama penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Berbagai upaya pencegahan dilakukan untuk menurunkan populasi nyamuk Aedes aegypti. Salah satunya dengan menggunakan insektisida baik sintetik maupun organik. Bioinsektisida menjadi alternatif yang banyak digunakan saat ini karena lebih aman terhadap manusia, hewan dan lingkungan. Larvasida merupakan salah satu bentuk insektisida yang menyerang tempat perindukan nyamuk di air. Larvasida bekerja dengan berbagai mekanisme dan menyerang berbagai target organ termasuk midgut larva. Berdasarkan beberapa penelitian, insektisida nabati terbukti menyebabkan sel epitel midgut larva menjadi lisis, berubah bentuk, vakuolisasi sitoplasma dan terlepas dari membran basal. Membran peritrofik, mikrovili dan brush border mengalami kerusakan parsial maupun total. Perubahan histopatologis sel epitel midgut larva Aedes aegypti ini disebabkan oleh senyawa metabolit baik tunggal maupun kombinasi yang terdapat dalam ekstrak tanaman
Koinfeksi bakteri pada pasien COVID – 19 di ICU
In previous influenza pandemics, bacterial coinfection was the most common cause of death. In the COVID-19 pandemic, bacterial coinfection also led to high mortality rates in COVID-19 patients in the ICU. This study was conducted to determine the bacteria that cause coinfection in COVID-19 patients in the ICU. A search was conducted on the Pubmed database and 7 journals were selected for review. From the results of the analysis of these journals, the most bacterial identified that cuased co-infection in COVID-19 patients in the ICU were Stenotrophomonas maltophilia (33.8%), followed by Acinetobacter baumannii (22.65%), Pseudomonas aeruginosa (22.44%) and Staphylococcus aureus (16.77%). The discovery of these bacteria was related to the length of stay in the ICU, the use of a mechanical ventilator and the administration of antibiotics before entering the ICU.Pada pandemi influenza sebelumnya, koinfeksi bakteri merupakan penyebab kematian terbanyak. Pada pandemi COVID - 19, koinfeksi bakteri juga menyebabkan tingginya angka kematian pada pasien COVID - 19 di ICU. Literatur Riview ini dilakukan untuk mengetahui bakteri penyebab koinfeksi pada pasien COVID - 19 di ICU. Dalam penulisan ini dilakukan pencarian pada database Pubmed dan 7 jurnal dipilih untuk dikaji. Dari hasil analisa jurnal – jurnal tersebut, bakteri yang paling banyak teridentifikasi menyebabkan koinfeksi pada pasien COVID - 19 di ICU adalah Stenotrophomonas maltophilia (33,8%), diikuti dengan Acinetobacter baumannii (22,65%), Pseudomonas aeruginosa (22,44%) dan Staphylococcus aureus (16,77%). Penemuan bakteri – bakteri ini berhubungan dengan lama perawatan di ICU, penggunaan ventilator mekanik serta pemberian antibiotic sebelum masuk ICU
Gambaran Pengetahuan Glaukoma pada Mahasiswa Kepaniteraan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UKRIDA
Knowledge of glaucoma is significant for medical students and later establishes a diagnosis and initial treatment when becoming a doctor. The incidence of glaucoma has increased in the last decades with the increase and the age of the population. This study aims to determine the glaucoma knowledge among the clerks of the FKIK UKRIDA 2020. This study used descriptive research with a cross-sectional. The sampling technique used the total sampling method. This study found that students had sufficient/moderate knowledge (65.1%) about glaucoma, primarily obtained orally from lectures, and some were also obtained by reading literature or textbooks. There is no specific comparison of student age affecting the level of knowledge about glaucoma. Respondents aged 22 to 29 years have varying levels of expertise, from moderate to good knowledge levels. Meanwhile, based on gender, most women have a good level of knowledge (39.%) compared to men (25.4%). In this study, the distribution of respondents was aged 26 years (22.2%), and most of the respondents were female (63.5%). From the results of the study, it was concluded that respondents with a moderate level of knowledge were 65.1%. More respondents and a wider range of students are needed for further research.Pengetahuan akan glaukoma sangatlah penting untuk mahasiswa kedokteran, selain kelak untuk penegakan diagnosis dan tatalaksana awal saat menjadi dokter umum. Insiden glaukoma telah meningkat pesat dalam dekade terakhir dengan peningkatan dan usia penduduk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan glaukoma pada mahasiswa kepaniteraan FKIK UKRIDA angkatan 2020. Merupakan studi deskriptif, dengan pendekatan cross-sectional. dengan menggunakan metode total sampling. Mahasiswa yang memiliki pengetahuan cukup/sedang (65,1%) yang di dapatkan sebagian besar secara lisan dari perkuliaan dan beberapa juga didapatkan dengan membaca literature ataupun textbook. Tidak ada perbandingan khusus usia mahasiswa mempengaruhi tingkat pengetahuan tentang glaukoma. Responden yang berusia 22 tahun hingga 29 tahun, memiliki tingkat pengetahuan bervariasi dari tingkat pengetahuan sedang dan baik. Sedangkan berdasarkan jenis kelamin sebagian besar perempuan memiliki tingkat pengetahuan yang baik (39,7%) dibandingkan laki-laki (25,4%). Dalam penelitian ini, distribusi responden berusia 26 tahun (22,2%) dan responden berjenis kelamin perempuan (63,5%). Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa responden dengan tingkat pengetahuan sedang yaitu 65,1%. Diperlukan jumlah responden yang lebih banyak dan cakupan mahasiswa yang lebih luas untuk penelitian selanjutnya
Profile of Fasting Blood Glucose and 2 Hours Post Prandial in the Elderly in Kenanga Village, Sungailiat District
Elderly is a final stage of the human life span which is characterized by physical changes and decreased body functions both anatomically, physiologically and biochemically. Changes that occur in the elderly are in the form of regulating glucose levels in the blood so that it can lead to an increase in glucose levels. The purpose of this study was to describe the profile of GDP and G2PP in the elderly in Kenanga Village, Sungailiat District. In this research, the method used is descriptive research using cross sectional technique. In this study, researchers used primary data by taking capillary blood samples from the respondent's fingers which were then measured. In this study 47.6% of the elderly had normal blood glucose levels, 26.2% of the elderly were prediabetes and 26.2% of the elderly were diabetic. Based on age, the elderly aged 60-64 years found 11.9% of the elderly with diabetes, the elderly aged 65-69 years as many as 7.1% and the elderly aged 70-74 years as much as 7.1%. 16.7% and 9.5% men who suffer from diabetes. That the prevalence of diabetes and prediabetes in Kenanga Village, Sungailiat District is not more than 50% of the existing elderly population.Elderly is a final stage of the human life span which is characterized by physical changes and decreased body functions both anatomically, physiologically and biochemically. Changes that occur in the elderly are in the form of regulating glucose levels in the blood so that it can lead to an increase in glucose levels. The purpose of this study was to describe the profile of GDP and G2PP in the elderly in Kenanga Village, Sungailiat District. In this research, the method used is descriptive research using cross sectional technique. In this study, researchers used primary data by taking capillary blood samples from the respondent's fingers which were then measured. In this study 47.6% of the elderly had normal blood glucose levels, 26.2% of the elderly were prediabetes and 26.2% of the elderly were diabetic. Based on age, the elderly aged 60-64 years found 11.9% of the elderly with diabetes, the elderly aged 65-69 years as many as 7.1% and the elderly aged 70-74 years as much as 7.1%. 16.7% and 9.5% men who suffer from diabetes. That the prevalence of diabetes and prediabetes in Kenanga Village, Sungailiat District is not more than 50% of the existing elderly population