Jurnal Universitas Kristen Krida Wacana
Not a member yet
    1395 research outputs found

    Manajemen dan Terapi Acute Respiratory Distress Syndrome pada Pasien yang Terinfeksi Virus Covid-19 : Sebuah Review

    No full text
    COVID-19 is able cause Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) which is animportant factor in the the disease’s severity. This review aims to determine the effect of COVID-19 virus infection on the onset of Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) and its management therapy. The research used is a literature review, the articles used are obtained through PubMed and Google Scholar and then filtered according to the criteria needed. COVID-19 infection is associated with an inflammatory cytokine storm that can result in acute lung injury. Cytokine storm is an abnormal response of systemic inflammation which occurs due to excessive production of proinflammatory cytokines and chemokines. Respiratory failure such as acute hypoxemia can occur due to manifestations of Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) and Acute Lung Injury (ALI), not due to increased pulmonary capillary pressure. Management and therapy in lung injury patients such as supportive therapy, administration of antibiotics, and the use of mechanical ventilators are needed to treat the disease.COVID-19 dapat menyebabkan terjadinya Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) atau Sindrom Distress Pernapasan Akut yang merupakan faktor utama keparahan dari penyakit. Review ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh infeksi virus COVID-19 pada timbulnya ARDS beserta manajemen dan penanganannya. Penelitian yang digunakan adalah literature review, artikel yang digunakan didapat melalui PubMed dan Google Scholar lalu disaring sesuai kebutuhan kriteria. Infeksi dari COVID-19 berhubungan dengan inflamasi badai sitokin yang bisa menyebabkan cedera paru akut. Badai sitokin adalah respon dari inflamasi sistemik yang abnormal dimana terjadi akibat produksi yang berlebihan dari sitokin dan kemokin proinflamasi. Kegagalan pernapasan seperti hipoksemi akut dapat terjadi karena perwujudan dari Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) dan Acute Lung Injury (ALI), bukan dikarenakan meningkatnya tekanan kapiler paru. Manajemen dan terapi pada pasien Cedera Paru seperti terapi suportif, pemberian antibiotik, serta penggunaan ventilator mekanik diperlukan agar dapat mengobati penyakit

    Pengaruh Leverage, Profitabilitas, Thin Capitalization dan Capital Intensity terhadap Agresivitas Pajak

    Full text link
    In taxation activities in Indonesia there are different significances, such as, the government and companies. The government maximizes tax levies for the properity of the people while companies jostling to tax planning to maximize profits and reduce tax payments, where taxes are one of the burdens of companies that can reduce profits. Based on these gaps, the study aims to test and analyze whether leverage, profitability, thin capitalization, and capital intensity affect aggressive taxes on the health sector listed on the Indonesia Stock Exchange for the period 2013-2020 The results of this study, the higher profitability will affect the occurrence of tax aggressiveness by focusing on company profits and the higher the debt on thin capilization is used to expand the company’s capital in running its business, in other words, the more the value of debt to the company affects the low level of aggressive tax avoidance in health sector companies. Keywords: Capital Intensity, Leverage, Profitability, Tax aggressiveness, Thin capitalizati

    List of Reviewer

    No full text

    Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Kejadian Kanker Prostat dan Gleason Score di Rumah Sakit Siloam Kupang

    Full text link
    Prostate cancer can be termed as the most commonly diagnosed cancer in men. The risk of prostate cancer increases with age. Knowing whether there is a relationship between Body Mass Index (BMI) with prostate cancer and gleason score at Siloam Hospital Kupang. Methods, qualitative research method with cross sectional design and using secondary data from medical records with consecutive sampling technique. Results, patients diagnosed with prostate cancer at Siloam Hospital for the 2017-2021 period were 80 cases and 60 cases were not prostate cancer. The BMI in the group of prostate cancer patients was 54 people (67.5%) in the non-obese group and 34 people (56.67%) in non-prostate cancer. The most cases of prostate cancer with histopathological degrees of High Gleason Score were 45 cases (56.25%), and histopathological degrees of Low Grade Score were 35 cases (43.75). The chi square analysis, it is known that there is no relationship between BMI and the incidence of prostate cancer having a p value = 0.189 (p > 0.05) and the Gleason Score has a p value = 0.764 (p > 0.05). Conclusion there was no relationship between BMI and the incidence of prostate cancer and gleason score at Siloam Hospital Kupang.Kanker prostat dapat disebut sebagai kanker yang umum didiagnosis pada pria. Risiko kanker prostat meningkat seiring bertambahnya usia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah adanya hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan kanker prostat dan gleason score di Rumah Sakit Siloam Kupang.   Metode penelitian kualitatif dengan desain cross sectional dan menggunakan data sekunder rekam medik dengan teknik consecutive sampling. Hasil penelitian, Pasien dengan diagnosa kanker prostat di Rumah Sakit Siloam Kupang periode 2017-2021 sebanyak 80 kasus dan bukan kanker prostat sebanyak 60 kasus. Indeks Massa Tubuh pada kelompok pasien kanker prostat terbanyak pada non obesitas sebanyak 54 orang (67,5%) dan pada bukan kanker prostat sebanyak 34 orang (56,67%). Kasus kanker prostat terbanyak dengan derajat histopatologi High Gleason Score sebanyak 45 kasus (56,25%), dan derajat histopatologi Low Grade Score sebanyak 35 kasus (43,75). Berdasarkan hasil analisis dengan chi square, diketahui bahwa tidak ada hubungan antara Indeks Massa Tubuh dengan Kejadian Kanker Prostat memiliki nilai p = 0,189 (p > 0,05) dan  dengan Gleason Score memiliki nilai p = 0,764 (p > 0,05) Simpulan, Tidak terdapat hubungan antara Indeks Massa Tubuh dengan kejadian kanker prostat dan gleason score di Rumah Sakit Siloam Kupang

    Evaluasi Implementasi Merdeka Belajar-Kampus Merdeka pada Fakultas Kedokteran

    Full text link
    Pelaksanaan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) telah didorong sejak tahun 2020, tetapi belum ada ketentuan untuk fakultas kesehatan, termasuk kedokteran. Dengan mempertimbangkan kebutuhan lulusan di masa depan, maka Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana (FK UKDW) mencoba mengimplementasikan MBKM kepada mahasiswa dalam bentuk Pertukaran Pelajar dan Proyek Kemanusiaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan MBKM di FK UKDW. Sumber data evaluasi menggunakan data sekunder dari survei cross sectional menggunakan Survei Implementasi MBKM 2021 di Perguruan Tinggi Swasta oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Republik Indonesia. Peneliti menggunakan 14 pertanyaan dari survei yang diberikan kepada seluruh mahasiswa program studi kedokteran FK UKDW. Hasil data dikelompokkan menjadi 6 tema dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan 43,22% responden sangat tertarik terhadap program MBKM; Bentuk Kegiatan Pembelajaran (BKP) yang paling dipilih adalah Pertukaran Pelajar; kekhawatiran tertinggi dari responden adalah terkait pembiayaan dan masa studi menjadi lama; sebesar 48% responden mengetahui hanya sedikit kebijakan MBKM dengan sumber informasi terbanyak dari media massa; responden sebagian besar setuju bahwa MBKM memberikan kemampuan penyelesaian permasalahan nyata dan kompleks, menganalisis, etika profesi, memperluas perspektif, dan memberikan kompetensi tambahan yang dibutuhkan; kegiatan MBKM dirasakan sesuai (71,9%), cukup bermanfaat (58,47%), dan penting (50%) sebagai bekal di masa depan.Pelaksanaan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) telah didorong sejak tahun 2020, tetapi belum ada ketentuan untuk fakultas kesehatan, termasuk kedokteran. Dengan mempertimbangkan kebutuhan lulusan di masa depan, maka Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana (FK UKDW) mencoba mengimplementasikan MBKM kepada mahasiswa dalam bentuk Pertukaran Pelajar dan Proyek Kemanusiaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan MBKM di FK UKDW. Sumber data evaluasi menggunakan data sekunder dari survei cross sectional menggunakan Survei Implementasi MBKM 2021 di Perguruan Tinggi Swasta oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Republik Indonesia. Peneliti menggunakan 14 pertanyaan dari survei yang diberikan kepada seluruh mahasiswa program studi kedokteran FK UKDW. Hasil data dikelompokkan menjadi 6 tema dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan 43,22% responden sangat tertarik terhadap program MBKM; Bentuk Kegiatan Pembelajaran (BKP) yang paling dipilih adalah Pertukaran Pelajar; kekhawatiran tertinggi dari responden adalah terkait pembiayaan dan masa studi menjadi lama; sebesar 48% responden mengetahui hanya sedikit kebijakan MBKM dengan sumber informasi terbanyak dari media massa; responden sebagian besar setuju bahwa MBKM memberikan kemampuan penyelesaian permasalahan nyata dan kompleks, menganalisis, etika profesi, memperluas perspektif, dan memberikan kompetensi tambahan yang dibutuhkan; kegiatan MBKM dirasakan sesuai (71,9%), cukup bermanfaat (58,47%), dan penting (50%) sebagai bekal di masa depan

    Pengaruh Pemberian Probiotik pada Infeksi Clostridium Difficile

    Full text link
    Clostridium difficile (C. difficile) is a gram-positive, anaerobic, spore-forming bacterium, and is an important pathogen in antibiotic-associated diarrhea. These bacteria are normal flora in the human digestive tract but can become pathogenic and form toxins consisting of 2, namely toxin A and toxin B. Due to antibiotics including risk factors for C. difficile infection (CDI), the treatment that can be given is probiotics. Probiotics may be effective in the prevention and treatment of CDI in several ways: alteration of gut flora, enhancement of antimicrobial activity, and as immunomodulators. The effect of probiotics, the method of administration, and the varying duration of administration make probiotics unable to be used as a therapy for C. difficile infection. However, probiotics can still be an option for adjuvant therapy in the treatment of CDI.Clostridium difficile (C.difficile) merupakan bakteri gram positif, bersifat anaerob, membentuk spora, dan merupakan patogen penting pada penyakit diare akibat antibiotik. Bakteri ini merupakan flora normal dalam saluran pencernaan manusia namun dapat menjadi patogen serta membentuk toksin yang terdiri dari 2, yaitu toksin A dan toksin B. Dikarenakan antibiotik termasuk faktor risiko terjadinya infeksi C. difficile (CDI), tatalaksana yang dapat diberikan yaitu probiotik. Probiotik mungkin efektif dalam pencegahan dan pengobatan CDI dalam beberapa cara: perubahan flora usus, peningkatan aktivitas antimikroba, dan sebagai imunomodulasi. Pengaruh probiotik, cara pemberian, serta lama pemberian yang masih bervariasi membuat probiotik belum bisa dijadikan sebagai terapi infeksi C. difficile. Namun, probiotik masih dapat menjadi salah satu pilihan terapi adjuvant pada penanganan infeksi CDI

    Perubahan Sensitivitas Indera Perasa pada Anak dengan Obesitas

    Full text link
    Obesity is one of the most serious international health problems. According to WHO, obesity in Asia Pacific is defined by a body mass index of 23–24.9 kg m−2.1. Children are categorized as under 18 years of age. Obesity in children is a global health problem that has a negative impact on children's growth and development, and can even increase comorbidities in later life. In obesity, it is suspected that there is a change in the sensitivity of the sense of taste which can cause changes in diet and weight. This literature study aims to determine changes in the sensitivity of the sense of taste in obese children. The method used in this study is by searching journals that were conducted on 3 journal databases, namely PubMed, Google Scholar and Cochrane Library. Obtained 5 journals that meet the research criteria. Based on the study, obese subjects had more difficulty in correctly identifying different taste than normal weight kontrols resulting in a lower total score overall. Concluded that there is a change in the sensitivity of the sense of taste in children with obesity where the child has a lack of ability to taste sour, salty (umami) and sweet.Obesitas adalah salah satu masalah kesehatan internasional yang paling serius. Berdasarkan WHO, kondisi obesitas pada Asia Pasifik didefinisikan oleh indeks massa tubuh 23-24.9 kg m-2. Anak-anak dikategorikan berusia dibawah 18 tahun. Obesitas pada anak merupakan masalah kesehatan dunia yang berdampak buruk pada pertumbuhan dan perkembangan anak, bahkan dapat meningkatkan komobiditas di kemudian hari. Pada obesitas diduga terjadi perubahan sensitivitas indera perasa yang dapat menyebabkan perubahan pola makan dan berat badan. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui perubahan sensitivitas indera perasa pada anak obesitas. Metode pada literatur ini merupakan pencarian jurnal penelitian yang dilakukan pada 3 database jurnal yaitu PubMed, Google Scholar dan Chocrane Library. Diperoleh 5 jurnal yang memenuhi kriteria penelitian. Hasil yang didapatkan adalah subjek obesitas memiliki lebih banyak kesulitan dalam mengidentifikasi kualitas rasa yang berbeda dengan benar daripada kontrol berat badan normal sehingga menghasilkan skor total yang lebih rendah secara keseluruhan. Terdapat satu penelitian yang menyatakan perbedaan yang kecil/tidak signifikan tetapi dapat dipengaruhi oleh kuantitas peserta yang lebih kecil dan jarak umur yang lebih sempit. Dari hasil review literatur ini dapat disimpulkan terdapat perubahan sensitivitas indera perasa pada anak dengan obesitas dimana anak tersebut memiliki kurangnya kemampuan merasakan asam, asin (umami) dan manis

    Comparison of Ophthalmology Visits at Family Medical Center Hospital Before and During COVID-19 Pandemic

    No full text
    During this COVID-19 pandemic, many people are afraid of getting the disease or close relatives are afraid of getting it too, making people reluctant to leave the house. The government has also issued several strict regulations such as PSBB or PPKM which will certainly affect ophthalmology visits.  Objective for knowing whether there was a decrease in the number of ophthalmology visits who came before the pandemic and during the pandemic. This study used descriptive analysis with a total of 9874 visits that met the inclusion and exclusion criteria. Data were collected using medical records. The average visit before the COVID-19 pandemic was 197.75 patients per month. During the COVID-19 pandemic it was 100.59, signifying a decrease of 49.13%. There was a decrease in the number of visits before and during the COVID-19 pandemic at the Bogor Family Medical Center Hospital, especially when the regulations were issued.During this COVID-19 pandemic, many people are afraid of getting the disease or close relatives are afraid of getting it too, making people reluctant to leave the house. The government has also issued several strict regulations such as PSBB or PPKM which will certainly affect ophthalmology visits.  Objective for knowing whether there was a decrease in the number of ophthalmology visits who came before the pandemic and during the pandemic. This study used descriptive analysis with a total of 9874 visits that met the inclusion and exclusion criteria. Data were collected using medical records. The average visit before the COVID-19 pandemic was 197.75 patients per month. During the COVID-19 pandemic it was 100.59, signifying a decrease of 49.13%. There was a decrease in the number of visits before and during the COVID-19 pandemic at the Bogor Family Medical Center Hospital, especially when the regulations were issued

    Perkembangan Terapi Sistemik Pada Pruritus

    Full text link
    Pruritus merupakan sensasi tidak nyaman yang mencetuskan keinginan untuk menggaruk. Sensasi tersebut disebabkan oleh berbagai hal, misalnya penyakit kulit, penyakit sistemik, atau idiopatik, gangguan psikiatri, serta penyakit neurologis. Pruritus menjadi masalah kesehatan karena dapat memberi dampak negatif terhadap kualitas hidup pasien. Pendekatan tata laksana pruritus diberikan secara bertingkat mulai dari terapi dasar, terapi target, dan terapi simtomatik. Pada kasus pruritus kronik yang refrakter maupun pruritus tanpa sebab yang diketahui, terapi simtomatik berperan besar dan dapat diberikan pada pasien tersebut. Tata laksana pada pruritus kronik saat ini banyak diteliti seiring dengan ditemukan berbagai mekanisme yang mendasari terjadinya pruritus. Sesuai dengan patofisiologi dari pruritus, terapi sistemik yang dikembangkan menargetkan pada reseptor spesifik di sistem saraf dan sistem imunitas yang berperan pada jalur sinyal pruritus. Berbagai terapi terbaru yang masih diteliti dalam uji klinis menunjukkan hasil yang menjanjikan dan berpotensi menjadi pilihan terapi pada pasien dengan pruritus kronik.Pruritus merupakan sensasi tidak nyaman yang mencetuskan keinginan untuk menggaruk. Sensasi tersebut disebabkan oleh berbagai hal, misalnya penyakit kulit, atau sistemik, gangguan psikiatri, penyakit neurologis, dan idiopatik. Pruritus menjadi masalah kesehatan karena dapat memberi dampak negatif terhadap kualitas hidup pasien. Pendekatan tata laksana pruritus diberikan secara bertingkat mulai dari terapi dasar, terapi target, dan terapi simtomatik. Pada kasus pruritus kronik yang refrakter maupun pruritus tanpa sebab yang diketahui, terapi simtomatik berperan besar dan dapat diberikan pada pasien tersebut. Tata laksana pada pruritus kronik saat ini banyak diteliti seiring dengan ditemukan berbagai mekanisme yang mendasari terjadinya pruritus. Sesuai dengan patofisiologi dari pruritus, terapi sistemik yang dikembangkan menargetkan pada reseptor spesifik di sistem saraf dan sistem imunitas yang berperan pada jalur sinyal pruritus. Berbagai terapi terbaru yang masih diteliti dalam uji klinis menunjukkan hasil yang menjanjikan dan berpotensi menjadi pilihan terapi pada pasien dengan pruritus kronik. Kata kunci: panduan terapi, pruritus, terapi terkin

    Penanganan Diabetes Melitus Tipe-1 pada Anak dengan Komplikasi Ketoasidosis Diabetikum : Laporan Kasus

    Full text link
    Ketoasidosis diabetikum (KAD) merupakan komplikasi yang dapat menyebabkan kematian pada pasien diabetes melitus baik tipe 1 maupun 2. Kondisi ini memiliki trias gejala berupa hiperglikemi, hiperketonemia, dan asidosis metabolik. Kami melaporkan kasus anak dengan ketoasidosis diabetikum berusia 11 tahun dengan kondisi yang buruk. Pasien diberikan terapi cairan dan terapi penunjang lain untuk memperbaiki keadaan umum. Perawatan secara intensif yang dilakukan untuk memastikan pemulihan pasien berjalan dengan baik. Penanganan dari KAD meliputi pengaturan kadar gula darah, mengatasi dehidrasi, dan memperbaiki kelainan elektrolit yang terjadi. Resusitasi cairan harus dilakukan dengan segera, dengan target untuk mengembalikan volume cairan ekstraselular, intraselular, dan elektrolit yang hilang melalui proses diuresis osmotik dan muntah. Kewaspadaan orang tua mengenai gejala dan tanda bahaya penyakit ini sangat penting terutama pada keluarga yang memiliki riwayat diabetes. Penatalaksanaan secara cepat dan tepat sangat diperlukan dalam menunjang kontrol gula darah pasien dan menghindari komplikasi edema serebri.Ketoasidosis diabetikum (KAD) merupakan komplikasi yang bisa terjadi pada pasien dengan diabetes melitus baik tipe 1 maupun 2, kondisi ini memiliki trias gejala berupa hiperglikemi, hiperketonemia, dan asidosis metabolik. Ketoasidosis diabetikum merupakan salah satu penyebab kematian pada anak. Kami melaporkan kasus anak dengan ketoasidosis diabetikum berusia 11 tahun dengan kondisi yang buruk. Pasien diberikan terapi cairan dan terapi penunjang lain untuk memperbaiki keadaan umum. Perawatan secara intensif dilakukan untuk memastikan pemulihan pasien berjalan dengan baik. Penanganan dari KAD meliputi pengaturan kadar gula darah, mengatasi dehidrasi, dan memperbaiki kelainan elektrolit yang terjadi. Resusitasi cairan harus dilakukan dengan segera, dengan target untuk mengembalikan volume cairan ekstraselular, intraselular dan elektrolit yang hilang melalui proses diuresis osmotik dan muntah. Pentingnya kewaspadaan dari orang tua mengenai gejala dan tanda bahaya dari penyakit ini terutama jika memiliki riwayat keluarga dengan diabetes. Penatalaksanaan secara cepat dan tepat sangat diperlukan dalam menunjang kontrol gula darah pasien dan menghindari komplikasi edema serebri Kata Kunci: Ketoasidosis Diabetikum, Anak, Diabetes Melitus Tipe-1, Edema Serebr

    1,003

    full texts

    1,395

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Universitas Kristen Krida Wacana
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇