Jurnal Universitas Kristen Krida Wacana
Not a member yet
1395 research outputs found
Sort by
Hubungan antara Adiksi Telepon Pintar dengan Refleks Berkedip dan Kuantitas Air Mata
Adiksi telpon pintar meningkatkan paparan blue light yang bersifat merusak kornea dan lapisan air mata sehingga dapat mempengaruhi refleks berkedip dan sekresi air mata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara adiksi telepon pintar dengan refleks berkedip dan kuantitas air mata pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. Penelitian menggunakan desain potong lintang. Sebanyak 88 subjek dengan kriteria menggunakan telpon pintar, tidak memakai softlens dan obat tetes mata serta tidak memiliki riwayat operasi mata, alergi mata, dan Sindroma Sjorgen, ditentukan menggunakan teknik simple random sampling. Data diambil menggunakan kuesioner smartphone addiction scale, rekaman video, dan Schirmer I Test. Hasil penelitian didapatkan subjek berusia 20 (18-23) tahun, 76,1% perempuan dan 45,5% menggunakan telpon pintar lebih dari 6 jam sehari. Sebanyak 52,3% subjek mempunyai adiksi telepon pintar dengan frekuensi refleks berkedip 11 (3-32) kali/menit dan kuantitas air mata 30,5 (4-35) mm dalam 5 menit. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan tidak ada hubungan antara adiksi telepon pintar dengan refleks berkedip (p = 0,537), tetapi ada hubungan antara adiksi telepon pintar dengan kuantitas air mata (p = 0,011)
Ekspresi Protein Foxo1 dan Gen Glukosa 6 Fosfatase pada Tikus dengan Diet Restriksi Vitamin B12
Pada penelitian awal didapatkan diet restriksi vitamin B12 menyebabkan hiperhomosisteinemia dan resistensi insulin, yang ditandai oleh hiperglikemia dan meningkatnya nilai Homeostatic Model Assessment for Insulin Resistance (HOMA-IR). Dengan menggunakan sampel jaringan biologik tersimpan, hati tikus Spraque-Dawley dari penelitian tersebut, penelitian lanjutan ini bertujuan mengetahui penyebab hiperglikemia, dalam hubungannya dengan proses glukoneogenesis, dengan melihat ekspresi forkhead box protein-O1 (FoxO1) dan gen glukosa 6 fosfatase (G6Pc). Adapun sampel terdiri dari 4 kelompok: kelompok kontrol dan tiga kelompok dengan diet restriksi vitamin B12 masing-masing selama 4, 8, dan 12 minggu. Ekspresi FoxO1 diperiksa dengan metode kuantitatif Western-Blot, sedangkan gen G6Pc diperiksa dengan metode real-time Polymerase Chain Reaction (rt-PCR). Hasil yang diperoleh, tidak terdapat perbedaan bermakna ekspresi FoxO1 (P > 0,05) dan gen G6Pc (P > 0,05) antara kelompok tikus kontrol dan kelompok diet restriksi vitamin B12. Hal ini menunjukkan, hiperglikemia pada diet restriksi vitamin B12 tidak terkait dengan glukoneogenesis. Pada kondisi resistensi insulin, insulin masih dapat meneruskan efek metaboliknya melalui jalur lain, seperti melalui reseptor yang memiliki kemiripan struktur dan fungsi dengan reseptor insu
lin. Penyebab-penyebab lain terjadinya hiperglikemia seperti gangguan utilisasi glukosa oleh sel dan gangguan proses glikogenesis perlu diteliti lebih lanjut.Pada penelitian awal didapatkan diet restriksi vitamin B12 menyebabkan hiperhomosisteinemia dan resistensi insulin, yang ditandai oleh hiperglikemia dan meningkatnya nilai Homeostatic Model Assessment for Insulin Resistance (HOMA-IR). Dengan menggunakan sampel jaringan biologik tersimpan, hati tikus Spraque-Dawley dari penelitian tersebut, penelitian lanjutan ini bertujuan mengetahui penyebab hiperglikemia, dalam hubungannya dengan proses glukoneogenesis, dengan melihat ekspresi forkhead box protein-O1 (FoxO1) dan gen glukosa 6 fosfatase (G6Pc). Adapun sampel terdiri dari 4 kelompok: kelompok kontrol dan tiga kelompok dengan diet restriksi vitamin B12 masing-masing selama 4, 8, dan 12 minggu. Ekspresi FoxO1 diperiksa dengan metode kuantitatif Western-Blot, sedangkan gen G6Pc diperiksa dengan metode real-time Polymerase Chain Reaction (rt-PCR). Hasil yang diperoleh, tidak terdapat perbedaan bermakna ekspresi FoxO1 (P > 0,05) dan gen G6Pc (P > 0,05) antara kelompok tikus kontrol dan kelompok diet restriksi vitamin B12. Hal ini menunjukkan, hiperglikemia pada diet restriksi vitamin B12 tidak terkait dengan glukoneogenesis. Pada kondisi resistensi insulin, insulin masih dapat meneruskan efek metaboliknya melalui jalur lain, seperti melalui reseptor yang memiliki kemiripan struktur dan fungsi dengan reseptor insulin. Penyebab-penyebab lain terjadinya hiperglikemia seperti gangguan utilisasi glukosa oleh sel dan gangguan proses glikogenesis perlu diteliti lebih lanjut
Sikap Berdiri Lama Dalam Menimbulkan Nyeri Punggung Bawah
A person's attitude in the work environment, such as sitting, squatting and standing, is often associated with the appearance of low back pain (LBP), but prolonged standing have not been widely discussed in Indonesian journal media. This literature study conducted a search for research articles in the PubMed and Google Scholar journal databases. There were 6 journals which stated that prolonged standing was significantly related to LBP, but 2 other journals stated otherwise. Prolonged standing that exceed 20 minutes can put stress on the posterior muscles of the body and the joints of the vertebral column, especially in the lumbar region which can cause LBP with varying levels and quality of pain. The existence of work factors such as workload, length of work, work attitude, tool assistance, and the number of hours of rest, as well as personal factors, such as age, smoking, gender and BMI, can also influence the appearance of LBP in a person, so that someone who has a longer tenure is at greater risk of experiencing LBP than someone who has a new tenure. These factors can potentially bias research results if they are not carefully prepared.Sikap seseorang dilingkungan kerja, seperti duduk, jongkok, dan berdiri, sering dikaitan dengan kemunculan keluhan nyeri punggung bawah (NPB), namun sikap berdiri lama belum banyak ditemukan pembahasannya dalam media jurnal Indonesia. Studi literatur ini menggunakan metode pencarian artikel penelitian dalam database jurnal PubMed dan Google Scholar. Ada 6 jurnal yang menyatakan sikap berdiri lama berhubungan signifikan dengan NPB, namun 2 jurnal lainnya menyatakan sebaliknya. Sikap berdiri lama yang melebihi 20 menit dapat memberikan stress pada otot posterior tubuh dan persendian columna vertebralis, terutama di regio lumbal yang dapat menimbulkan keluhan NPB dengan tingkat dan kualitas nyeri yang bervariasi. Adanya faktor pekerjaan seperti beban kerja, lama kerja, sikap kerja, bantuan alat, dan banyaknya jam istirahat, serta faktor personal, seperti usia, merokok, jenis kelamin dan IMT, dapat ikut mempengaruhi kemunculan NPB pada seseorang, sehingga seseorang yang memiliki masa kerja yang lebih lama beresiko lebih besar mengalami keluhan NPB daripada seseorang yang memiliki masa kerja baru. Faktor-faktor ini dapat berpotensi memberikan bias pada hasil penelitian apabila tidak dipersiapkan dengan cermat
Insentif Pajak PMK 86/2020, Norma Subjektif, Modernisasi Sistem Perpajakan Dan Kepatuhan Wajib Pajak UMKM
The purpose of this study is to examie the effect of PMK 86/ 2020 tax incentives, subjective norms, and modernization of the tax system on MSME taxpayer compliance during the COVID-19 pandemic in Tangerang City. From 105 samples in the age category and NPWP ownership category, it have been found that: 1) the PMK 86/ 2020 tax incentives has a positive effect on the compliance level of MSME taxpayers in Tangerang City during the COVID-19 pandemic, 2) subjective norms has a negative effect on the level of compliance of MSME taxpayers in Tangerang City during the COVID-19 pandemic, and 3) the modernization of the taxation system has a positive effect on the level of taxpayer compliance in Tangerang City during the COVID-19 pandemic.
Keywords: Tax incentives, subjective norms, modernization of the tax system, and taxpayer complianc
Whistleblowing Intention: Suatu Tinjauan Theory of Planned Behavior
Entering the 21st century, there has been an increase in white-collar crime both in quantity and quality in various parts of the world. White-collar crime is synonymous with various frauds committed by business and government professionals characterized by fraud, concealment, or breach of trust and is not dependent on the application of threats of violence or physical force. The internal control system, which has been very popular and is believed by many parties to prevent various violations, is a blunt weapon to expose various forms of certain white-collar crimes. This is because certain types of white collar crimes often involve the top leaders of an organization that has high authority in the organization, even though the person functions as a guardian of the rules in the internal control system that is applied. Bearing in mind the weaknesses of the internal control system and the increasing white collar crime, various countries and business associations have made various prevention efforts and have increasingly increased the demand for a good governance system. The violation reporting mechanism can be one of the elements that can be relied upon in a good governance system. It is recognized that whistleblowers have given a very important role in exposing various major crime scandals. The population in this study are employees of private companies located in Jakarta. The research data was obtained from distributing questionnaires directly to respondents or via email. The research sample is non random selected in convenience. The results showed subjective norms had a positive and significant effect on intentions of reporting violations, while attitudes and behavioral control perceived positive but not significant effect on intentions of reporting violations.
Keywords: intentions of reporting violations, attitudes, subjective norms, perceived behavioral control
Comparison of Knowledge Level of 2018 FK UKRIDA Students and Mutiara Bangsa 2 Students about Feminine Wash and Vaginal Discharge
The results of the Indonesian Demographic and Health Survey (SKDI) in 2012, showed a prevalence rate of 18% of women aged 15-49 years had experienced vaginal discharge. Many women in society use feminine wash to clean their feminine area. In fact, the use of feminine wash can cause reproductive health problems, which is vaginal discharge. Compare the level of knowledge about feminine wash and vaginal discharge among students of FK UKRIDA batch 2018 and SMA Muiara Bangsa 2 students. This study is an analytical study with a cross-sectional approach. The samples of this study were FK UKRIDA students batch 2018 and SMA Mutiara Bangsa 2 students totaling 145 people with the total sampling method. Research data obtained by using a questionnaire instrument. The results of descriptive statistical analysis showed that from 90 people of FK UKRIDA students’ batch 2018, 51 people (35.2%) had a good level of knowledge, while from 45 SMA Mutiara Bangsa 2 students, only 8 people (5.5%). The results of the Kruskal Wallis test obtained a p-value of 0.000 (<0.05). The level of knowledge of FK UKRIDA students batch 2018 was better than SMA Mutiara Bangsa 2 students about feminine wash and vaginal discharge.The results of the Indonesian Demographic and Health Survey (SKDI) in 2012, showed a prevalence rate of 18% of women aged 15-49 years had experienced vaginal discharge. Many women in society use feminine wash to clean their feminine area. In fact, the use of feminine wash can cause reproductive health problems, which is vaginal discharge. Compare the level of knowledge about feminine wash and vaginal discharge among students of FK UKRIDA batch 2018 and SMA Muiara Bangsa 2 students. This study is an analytical study with a cross-sectional approach. The samples of this study were FK UKRIDA students batch 2018 and SMA Mutiara Bangsa 2 students totaling 145 people with the total sampling method. Research data obtained by using a questionnaire instrument. The results of descriptive statistical analysis showed that from 90 people of FK UKRIDA students’ batch 2018, 51 people (35.2%) had a good level of knowledge, while from 45 SMA Mutiara Bangsa 2 students, only 8 people (5.5%). The results of the Kruskal Wallis test obtained a p-value of 0.000 (<0.05). The level of knowledge of FK UKRIDA students batch 2018 was better than SMA Mutiara Bangsa 2 students about feminine wash and vaginal discharge
LITERATURE REVIEW FAKTOR RISIKO STRESS AKIBAT KERJA PADA SATUAN PENGAMANAN TAHUN 2020
The security guard is one of the security forces on duty in an agency. The main task of a security guard is to carry out security and order in his workplace which includes aspects of physical security, personnel, information and other technical security. The profession as a security guard is inseparable from the stress caused by work. Work stress can occur when someone is required to work beyond their capacity. When a person cannot handle excessive workloads, he will experience stress. The purpose of this research is to see what are the risk factors for stress on security guard. All 9 data in this study is gathered using google scholar. Variables of this study is sample that researching occupational stress factor of Demand-Control (Job Strain) and Effort-Reward Imbalance. Study outcome showed that Demand-Control (Job Strain) and Effort-Reward Imbalance is the factor that stimulate stress and will be presented in a workplace.Satpam merupakan salah satu aparat keamanan yang bertugas di suatu instansi. Tugas pokok satpam adalah melaksanakan keamanan dan ketertiban di lingkungan tempat kerjanya yang meliputi aspek pengamanan fisik, personel, informasi dan pengamanan teknis lainnya. Profesi sebagai satpam tidak terlepas dari stress yang diakibatkan oleh pekerjaan. Stress kerja dapat terjadi ketika seseorang dituntut untuk bekerja melampaui kapasitasnya. Ketika seseorang ini tidak bisa mengatasi beban kerja yang berlebihan, maka dia akan mengalami stress. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat apa saja faktor risiko stress pada profesi satpam. Data sebanyak 9 jurnal dikumpulkan menggunakan alat bantu cari google scholar. Variabel yang digunakan merupakan sample yang membahas tentang faktor risiko stress kerja berupa Demand-Control (Job Strain) dan Effort-Reward Imbalance. Hasil penelitian menunjukkan Demand-Control (Job Strain dan Effort-Reward Imbalance menjadi faktor yang akan muncul di tempat kerja dan menyebabkan stress
Diffuse Axonal Injury dan Temuannya
Diffuse axonal injury (DAI) adalah cedera mikroskopis yang terjadi di akson pada substansia alba di traktus neuron otak, korpus kalosum, dan batang otak. Biasanya keadaan ini ditandai dengan koma setelah cedera kepala traumatis yang menyebabkan edema dan iskemia pada otak. Keadaan ini sering berujung pada morbiditas maupun mortalitas. Penyebab tersering DAI adalah kecelakaan lalu lintas kendaraan roda dua dengan kecepatan tinggi. Pasien DAI dengan nilai Glasgow Coma Scale (GCS) yang rendah sering dihubungkan dengan faktor prognostik buruk yang berhubungan dengan mortalitas. Diagnosis klinis DAI dapat dibuat berdasarkan visualisasi radiologis, namun diagnosis pasti baru dapat ditegakkan dengan pemeriksaan jaringan post mortem. Pada pemeriksaan makroskopis akan ditemukan gambaran hemoragik pada substansia alba, namun pada autopsi biasanya gambaran tersebut sudah menyusut dan meninggalkan gambaran lesi berwarna cokelat, selanjutnya pada kerusakan yang sudah lama dapat menyebabkan penyusutan volume otak. Ciri kerusakan pada DAI dibedakan menjadi tiga, yaitu kerusakan supratentorial difus pada akson (derajat I), lesi fokal di korpus kalosum (derajat II), dan lesi pada rostral batang otak (derajat III). Pada pemeriksaan mikroskopis tahap awal dapat muncul gambaran "axonal bulb" yang selanjutnya berubah menjadi gambaran aksonal negatif seiring berjalannya waktu.Diffuse axonal injury (DAI) adalah cedera mikroskopis yang terjadi di akson pada substansia alba di traktus neuron otak, korpus kalosum, dan batang otak. Biasanya keadaan ini ditandai dengan koma setelah cedera kepala traumatis yang menyebabkan edema dan iskemik pada otak. Keadaan ini sering berujung pada morbiditas maupun mortalitas. Penyebab tersering DAI adalah kecelakaan lalu lintas kendaraan roda dua dengan kecepatan tinggi. Pasien DAI dengan nilai Glasgow Coma Scale (GCS) yang rendah sering dihubungkan dengan faktor prognostik buruk yang berhubungan dengan mortalitas. Diagnosis klinis DAI dapat dibuat berdasarkan visualisasi radiologis, namun diagnosa pasti baru dapat ditegakkan dengan pemeriksaan jaringan post mortem. Pada pemeriksaan makroskopis akan ditemukan gambaran hemoragik pada substansia alba, namun pada autopsi biasanya gambaran tersebut sudah menyusut dan meninggalkan gambaran lesi berwarna coklat, selanjutnya pada kerusakan yang sudah lama dapat menyebabkan penyusutan volume otak. Ciri kerusakan pada DAI dibedakan menjadi tiga, yaitu kerusakan supratentorial difus pada akson (derajat I), lesi fokal di korpus kalosum (derajat II), dan lesi pada rostral batang otak (derajat III). Pada pemeriksaan mikroskopis tahap awal dapat muncul gambaran "axonal bulb" yang selanjutnya berubah menjadi gambaran aksonal negative seiring berjalannya waktu
Analisis Efikasi dan Efektivitas Vaksin COVID-19 terhadap Varian SARS-CoV-2: Sebuah Tinjauan Literatur
Varian of Concern dari SARS-CoV-2 memiliki karakteristik penyebaran yang lebih tinggi, meningkatkan keparahan penyakit dan berpotensi menurunkan efikasi dan efektivitas vaksin jika dibandingkan dengan varian wild. WHO melaporkan varian COVID-19 yang menjadi perhatian adalah Alpha (B.1.1.7), Beta (B.1.351), Gamma (P.1) dan Delta (B.1.617.2). Review ini bertujuan sebagai sumber data untuk efikasi dan efektivitas vaksin yang disetujui di Indonesia, yaitu Moderna (mRNA-1273), Pfizer/BioNTech (BNT162b2), Oxford/AstraZeneca (AZD1222), Sinopharm Beijing (BBIBP-CorV Vero Cells) dan Sinovac (CoronaVac) terhadap infeksi varian SARS-CoV-2 tanpa gejala dan dengan gejala yang diikuti tingkat keparahan akibat infeksi (rawat inap atau kematian). Tujuan penulisan tinjauan literatur ini adalah untuk menganalisis efikasi dan efektivitas vaksin COVID-19 terhadap varian SARS-CoV-2. Review ini penting sebagai sumber data pendukung mengenai efikasi dan efektivitas vaksin yang disetujui di Indonesia berdasarkan uji coba fase yang dilakukan secara global. Hasilnya menunjukkan Varian of Concern dari SARS-CoV-2 memiliki kemampuan mengurangi netralisasi antibodi secara in vitro. Namun, belum ada laporan terkait dampak signifikan varian SARS-CoV-2 terhadap efikasi dan efektivitas vaksin yang menunjukkan bahwa mutasi virus secara dominan meningkatkan laju penularan, tetapi tidak selalu menurunkan proteksi respons imun.Varian of Concern dari SARS-CoV-2 memiliki karakteristik penyebaran yang lebih tinggi, meningkatkan keparahan penyakit dan berpotensi menurunkan efikasi dan efektivitas vaksin jika dibandingkan dengan varian wild. WHO melaporkan varian COVID-19 yang menjadi perhatian adalah Alpha (B.1.1.7), Beta (B.1.351), Gamma (P.1) dan Delta (B.1.617.2). Review ini bertujuan sebagai sumber data untuk efikasi dan efektivitas vaksin yang disetujui di Indonesia - yaitu Moderna (mRNA-1273), Pfizer/BioNTech (BNT162b2), Oxford/AstraZeneca (AZD1222), Sinopharm Beijing (BBIBP-CorV Vero Cells) dan Sinovac (CoronaVac) – terhadap infeksi varian SARS-CoV-2 tanpa gejala dan dengan gejala yang diikuti tingkat keparahan akibat infeksi (rawat inap atau kematian). Penelitian ini menggunakan metode tinjauan literatur dengan menganalisis efikasi dan efektivitas vaksin COVID-19 terhadap varian SARS-CoV-2. Review ini penting sebagai sumber data pendukung mengenai efikasi dan efektivitas vaksin yang disetujui di Indonesia berdasarkan uji coba fase yang dilakukan secara global. Hasil penelitian menunjukkan Varian of Concern dari SARS-CoV-2 memiliki kemampuan mengurangi netralisasi antibodi secara in vitro. Namun, belum ada laporan terkaitdampak signifikan varian SARS-CoV-2 terhadap efikasi dan efektivitas vaksin, yang menunjukkan bahwa mutasi virus secara dominan meningkatkan laju penularan, tetapi tidak selalu menurunkan proteksi respons imun
Akupunktur untuk Terapi Artritis Rematoid
Artritis Rematoid (AR) merupakan penyakit autoimun yang manifestasinya adalah poliartritis. Penyakit ini dapat menyebabkan kualitas hidup penderitanya menurun akibat kerusakan sendi yang dialami. Saat ini pengetahuan tentang patofisiologi AR sudah makin berkembang, di mana sel-sel imun serta sitokin yang dikeluarkan memicu inflamasi sehingga menyebabkan kerusakan sendi. Akupunktur merupakan teknik penusukan jarum halus pada titik akupunktur yang terbukti mempunyai efek klinis baik dalam mengobati AR. Mekanisme kerja akupunktur sudah banyak diteliti dalam manajemen AR melalui efek anti-inflamasi, antioksidan, dan meregulasi sistem imun. Akupunktur mempunyai efek sinergis dengan agen biologik yang sekarang ini digunakan untuk terapi AR. Studi kasus ini memperlihatkan efek akupunktur yang memuaskan pada perempuan usia 63 tahun.Artritis reumatoid (AR) merupakan penyakit autoimun yang manifestasinya adalah poliartritis. AR dapat menyebabkan kualitas hidup penderitanya menurun akibat kerusakan sendi yang dialaminya. Saat ini pengetahuan tentang patofisiologi AR sudah makin berkembang, dimana melibatkan sel-sel imun serta sitokin yang dikeluarkan memicu inflamasi yang menyebabkan kerusakan sendi. Akupunktur merupakan teknik penusukan jarum halus pada titik akupunktur terbukti mempunyai efek klinis yang baik dalam mengobati AR. Mekanisme kerja akupunktur sudah banyak diteliti dalam manajemen AR melalui efek anti-inflamasi, antioksidan dan meregulasi sistem imun dimana mempunyai efek yang sinergis terhadap agen biologik yang sekarang ini digunakan untuk terapi AR. Studi kasus ini memperlihatkan efek akupunktur yang memuaskan pada wanita 63 tahun