Jurnal Universitas Kristen Krida Wacana
Not a member yet
1395 research outputs found
Sort by
ANALISIS PERBANDINGAN APBD DALAM PERSPEKTIF OPTIMALISASI REALISASI ANGGARAN DAN PERHITUNGAN ANGGARAN SISA LEBIH (SiLPA) KEUANGAN PEMERINTAH KOTA PEKALONGAN TAHUN PEMBIAYAAN 2017-2020
This research activity is for a comparative analysis of the budget in the perspective of optimizing budget realization and calculating the remaining budget (SiLPA) of the Pekalongan city government’s finances for the 2017-2020 fiscal year. Using five ratio analysis to calculate it, namely the degree of decentralization, independence ratio, effectiveness ratio, efficiency ratio and growth ratio. This study concludes that the average degree of decentralization in 2017-2020 is 15.45%, the results of regional financial independence have a consultative relationship, regional financial capacity is still low on development in paying regional taxes and levies, the results of the effectiveness and effective efficiency ratios, the ratio average PAD growth of 2.29%, total revenue of 3.37% and spending growth of 2.85%, there was a decrease in the number of SiLPA from 2017-2019 but there was an increase again in 2020 by 2%.
Keyword: Effectiveness, Efficiency, Rationality, SiLP
Kadar 25(OH)D pada Pasien Lupus Eritematosus Sistemik di Indonesia
Vitamin D memiliki peran dalam sistem kekebalan tubuh, terutama sistem imun adaptif dalam toleransi diri dan menghasilkan antibodi pada pasien dengan autoimun. Defisiensi vitamin D merupakan hal yang sering ditemukan pada pasien Lupus Eritematosus Sistemik (LES). Hal ini dapat dikarenakan pantangan terhadap paparan sinar matahari, insufisiensi ginjal, penggunaan obat–obatan yang menurunkan regulasi reseptor vitamin D, dan penggunaan sunscreen. Tujuan penulisan ilmiah ini adalah untuk mengetahui kadar vitamin D pada pasien LES di Indonesia. Data didapatkan dari jurnal penelitian yang diambil melalui Google Scholar, Proquest, Pubmed, dan Science Direct. Hasil pencarian didapatkan 4 artikel yang mengambil lokasi penelitian di Malang, 2 artikel di Jakarta, dan 1 artikel di Yogyakarta. Simpulannya adalah bahwa 63,74% pasien LES di Indonesia memiliki defisiensi kadar vitamin D yang disebabkan oleh kurangnya paparan sinar matahari, warna kulit, penggunaan sunblock, memiliki manifestasi klinis nefritis, penggunaan obat–obatan (kortikosteroid dan anti malaria), Indeks Masa Tubuh (IMT) di atas normal, kurangnya konsumsi makanan yang mengandung vitamin D, dan konsumsi suplemen vitamin D yang tidak adekuat.Vitamin D memiliki peran dalam sistem kekebalan tubuh, terutama sistem imun adaptif dalam toleransi diri dan menghasilkan antibodi pada pasien dengan autoimun. Defisiensi vitamin D merupakan hal yang sering ditemukan pada pasien Lupus Eritematosus Sistemik (LES). Hal ini dapat dikarenakan pantangan terhadap paparan sinar matahari, insufisiensi ginjal, penggunaan obat–obatan yang menurunkan regulasi reseptor vitamin D, dan penggunaan sunscreen. Tujuan penulisan ilmiah ini adalah untuk mengetahui kadar vitamin D pada pasien LES di Indonesia. Data didapatkan dari jurnal penelitian yang diambil melalui Google Scholar, Proquest, Pubmed, dan Science Direct. Hasil pencarian didapatkan 4 artikel yang mengambil lokasi penelitian di Malang, 2 artikel di Jakarta, dan 1 artikel di Yogyakarta. Simpulannya adalah bahwa 63,74% pasien LES di Indonesia memiliki defisiensi kadar vitamin D yang disebabkan oleh kurangnya paparan sinar matahari, warna kulit, penggunaan sunblock, memiliki manifestasi klinis nefritis, penggunaan obat–obatan (kortikosteroid dan anti malaria), Indeks Masa Tubuh (IMT) di atas normal, kurangnya konsumsi makanan yang mengandung vitamin D, dan konsumsi suplemen vitamin D yang tidak adekuat
Analisis Kadar Besi, Feritin, dan Transferin pada Ibu Hamil Kurang Energi Kalori
Ibu hamil dengan kurang energi kalori (KEK) merupakan kondisi yang berhubungan antara asupan energi dan nutrisi yang tidak mencukupi sebelum dan selama kehamilan. Berdasarkan RISKESDAS (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2018 prevalensi perempuan usia subur (15–49 tahun) ibu hamil dan mengalami risiko KEK di Jawa Timur 27,6%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar serum iron, transferin, dan feritin pada ibu hamil normal dengan ibu hamil KEK pada trimester kedua. Penelitian ini menggunakan uji analitik yang bersifat case control dengan randomisasi terhadap pasien ibu hamil dan ibu hamil dengan kurang energi kalori (KEK) pada Kecamatan Sukomanunggal. Hasil penelitian didapatkan perbedaan iron pada hamil normal dengan hamil KEK (101,30 ± 40,155 vs 107,00 ± 33,686) nilai p = 0,710 menunjukkan perbedaan tidak bermakna. Perbedaan feritin pada hamil normal dengan hamil KEK (21,5025 ± 14,40025 vs 26,4558 ± 23,63288) nilai p = 0,542 menunjukkan perbedaan tidak bermakna. Perbedaan transferin pada hamil normal dengan hamil KEK (419,17 ± 86,755 vs 458,83 ± 68,816) nilai p = 0,228 menunjukkan perbedaan tidak bermakna. Ibu hamil dengan kurang energi kalori (KEK) merupakan kondisi yang berhubungan antara asupan energi dan nutrisi yang tidak mencukupi sebelum dan selama kehamilan. Berdasarkan RISKESDAS (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2018 prevalensi perempuan usia subur (15–49 tahun) ibu hamil dan mengalami risiko KEK di Jawa Timur 27,6%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar serum iron, transferin, dan feritin pada ibu hamil normal dengan ibu hamil KEK pada trimester kedua. Penelitian ini menggunakan uji analitik yang bersifat case control dengan randomisasi terhadap pasien ibu hamil dan ibu hamil dengan kurang energi kalori (KEK) pada Kecamatan Sukomanunggal. Hasil penelitian didapatkan perbedaan iron pada hamil normal dengan hamil KEK (101,30 ± 40,155 vs 107,00 ± 33,686) nilai p = 0,710 menunjukkan perbedaan tidak bermakna. Perbedaan feritin pada hamil normal dengan hamil KEK (21,5025 ± 14,40025 vs 26,4558 ± 23,63288) nilai p = 0,542 menunjukkan perbedaan tidak bermakna. Perbedaan transferin pada hamil normal dengan hamil KEK (419,17 ± 86,755 vs 458,83 ± 68,816) nilai p = 0,228 menunjukkan perbedaan tidak bermakna.
Kesehatan Mental Mahasiswa Diploma Keperawatan dan Perlunya Upaya Promosi Kesehatan Komprehensif: Studi pada Situasi Pandemi
Masalah kesehatan mental meningkat dengan sangat serius di era pandemi COVID-19. Pandemi juga berdampak pada peningkatan gangguan kesehatan mental secara signifikan pada mahasiswa keperawatan di berbagai negara dibandingkan masa sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran masalah kesehatan mental dan faktor-faktor yang menjelaskan masalah ini pada mahasiswa diploma keperawatan. Desain cross-sectional digunakan dalam penelitian ini. Selain data kuantitatif, data kualitatif juga dikumpulkan secara bersamaan. Analisis statistik dan analisis konten dilakukan untuk menjawab tujuan penelitian. Lebih dari 80% mahasiswa diploma keperawatan Universitas X berpartisipasi. Gejala gangguan kesehatan mental dirasakan oleh sebagian besar responden. Tahun tempuh pendidikan, kondisi kesehatan sosial, fisik, dan spiritual yang dirasakan berhubungan dengan masalah kesehatan mental mahasiswa keperawatan. Analisis multivariat menunjukkan tahun tempuh pendidikan dan kesehatan sosial perlu mendapatkan perhatian khusus. Lebih jauh, hasil analisis konten mengungkap 14 stresor, di mana isu-isu sosial dan beban akademik menjadi yang paling sering muncul, di samping isu kesehatan fisik dan keterampilan halus mahasiswa. Diperlukan upaya promosi kesehatan mental yang memerhatikan seluruh dimensi kesehatan baik sosial, fisik, dan spiritual, dari awal masa pendidikan keperawatan, khususnya mengingat akibat yang ditimbulkan pandemi COVID-19.Masalah kesehatan mental meningkat dengan sangat serius di era pandemi COVID-19. Pandemi juga berdampak pada peningkatan gangguan kesehatan mental secara signifikan pada mahasiswa keperawatan di berbagai negara dibandingkan masa sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran masalah kesehatan mental dan faktor-faktor yang menjelaskan masalah ini pada mahasiswa diploma keperawatan. Desain cross-sectional digunakan dalam penelitian ini. Selain data kuantitatif, data kualitatif juga dikumpulkan secara bersamaan. Analisis statistik dan analisis konten dilakukan untuk menjawab tujuan penelitian. Lebih dari 80% mahasiswa diploma keperawatan Universitas X berpartisipasi. Gejala gangguan kesehatan mental dirasakan oleh sebagian besar responden. Tahun tempuh pendidikan, kondisi kesehatan sosial, fisik, dan spiritual yang dirasakan berhubungan dengan masalah kesehatan mental mahasiswa keperawatan. Analisis multivariat menunjukkan tahun tempuh pendidikan dan kesehatan sosial perlu mendapatkan perhatian khusus. Lebih jauh, hasil analisis konten mengungkap 14 stresor, di mana isu-isu sosial dan beban akademik menjadi yang paling sering muncul, di samping isu kesehatan fisik dan keterampilan halus mahasiswa. Diperlukan upaya promosi kesehatan mental yang memerhatikan seluruh dimensi kesehatan baik sosial, fisik, dan spiritual, dari awal masa pendidikan keperawatan, khususnya mengingat akibat yang ditimbulkan pandemi COVID-19
Efektivitas Ceftazidime-Avibactam terhadap Bakteri Gram Negatif Penghasil Enzim Karbapenemase
Antibiotic therapy is a major concern in the health sector. There is an increase in the resistance of gram-negative bacteria that produce carbapenemase enzymes to certain antibiotics, especially the β-lactam group, thus creating a new challenge for the health world to find stronger antibiotics to fight the resistance of these gram-negative bacteria. Currently, there are several new antibiotics that have been approved as treatment options, such as Ceftazidime-Avibactam. It is hoped that this new treatment can be an option, especially for gram-negative bacteria that produce carbapenemase enzymes.
Terapi antibiotik menjadi perhatian besar di bidang kesehatan. Terjadi peningkatan resistensi bakteri-bakteri gram negatif yang menghasilkan enzim karbapenemase terhadap antibiotik-antibiotik tertentu khususnya golongan β-laktam sehingga menimbulkan tantangan baru terhadap dunia kesehatan untuk menemukan antibiotik yang lebih poten/kuat untuk terhadap resistensi bakteri-bakteri gram negatif tersebut. Saat ini, terdapat beberapa antibiotik baru yang telah disetujui menjadi opsi pengobatan, seperti kombinasi Ceftazidime-Avibactam. Diharapkan pilihan pengobatan terbaru ini dapat menjadi salah satu pilihan, terutama untuk bakteri-bakteri gram negatif penghasil enzim karbapenemas
Pengungkapan Green Intellectual Capital: Studi Deskriptif
This study aims to describe the disclosure of green intellectual capital (GIC). GIC has not been widely explored in previous studies, especially in Indonesia. Therefore, this research will conduct a descriptive study of all public companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) with an observation period of 2020. The data collection method is documentation based on management letters in annual reports. The management letter used in this study consists of two reports, namely the report of the board of commissioners and the report of the board of directors. Management letters can be regarded as a new source of data used by companies to disclose GIC information. GIC disclosure is measured using the content analysis method on keywords that represent each GIC component. The results of the descriptive study show that, first, the financial (agriculture) is the sector that most (little) expresses GIC. Second, structural capital (environmental capital) is the most (little) GIC component disclosed in management letter. The results of this study contribute, first, practically; management in companies with GIC disclosure levels has special attention to the importance of sustainability through green innovation. Second, structural capital is the easiest component to disclose in a management letter because management’s main concern is capital expenditure. Third, academically; the results of this study can enrich the GIC literature in Indonesia
Keywords: environmental capital, green intellectual capital, human capital, relational capital, structural capita
Gambaran Kadar Hemoglobin dan Kadar Kreatinin pada Pasien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di RSUD Tarutung
Gagal ginjal kronik merupakan penurunan fungsi ginjal secara progresif dan terjadi selama beberapa bulan hingga bertahun–tahun lamanya dan menimbulkan gangguan hematologi seperti anemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar hemoglobin dan kadar kreatinin pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Penelitian ini telah dilakukan di RSUD Tarutung pada Januari sampai Mei tahun 2020. Metode penelitian ini yaitu penelitian deskriptif dengan desain cross sectional. Sampel diambil secara total sampling dan diperoleh 92 responden dari rekam medis. Hasil penelitian didapati laki–laki sebanyak 62 orang dan 30 orang perempuan. Berdasarkan usia termuda 18-28 tahun (4 orang), usia terbanyak 51-61 tahun (32 orang), dan usia tertua 73-83 tahun (3 orang). Kadar hemoglobin sebelum dan sesudah hemodialisis 1 kali 9,21 gr/dl menjadi 8,83 gr/dl, 2 kali 9,49 gr/dl menjadi 9,16 gr/dl, dan 3 kali 8,99 gr/dl menjadi 9,60 gr/dl. Dan kadar kreatinin sebelum dan sesudah hemodialisis 1 kali 12,68 mg/dl menjadi 13,52 mg, 2 kali 12,86 mg/dl menjadi 14,40 mg/dl, dan 3 kali 14,16 mg/dl menjadi 13,05 mg/dl. Kesimpulan penelitian ini mayoritas pasien yang menjalani hemodialsis adalah laki–laki berusia 51-61 tahun dan pasien tetap mengalami anemia setelah hemodialisis, sementara kadar kreatinin tetap tinggi walaupun telah hemodialisis.Gagal ginjal kronik merupakan penurunan fungsi ginjal secara progresif dan terjadi selama beberapa bulan hingga bertahun–tahun lamanya dan menimbulkan gangguan hematologi seperti anemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar hemoglobin dan kadar kreatinin pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Penelitian ini telah dilakukan di RSUD Tarutung pada Januari sampai Mei tahun 2020. Metode penelitian ini yaitu penelitian deskriptif dengan desain cross sectional. Sampel diambil secara total sampling dan diperoleh 92 responden dari rekam medis. Hasil penelitian didapati laki–laki sebanyak 62 orang dan 30 orang perempuan. Berdasarkan usia termuda 18-28 tahun (4 orang), usia terbanyak 51-61 tahun (32 orang), dan usia tertua 73-83 tahun (3 orang). Kadar hemoglobin sebelum dan sesudah hemodialisis 1 kali 9,21 gr/dl menjadi 8,83 gr/dl, 2 kali 9,49 gr/dl menjadi 9,16 gr/dl, dan 3 kali 8,99 gr/dl menjadi 9,60 gr/dl. Dan kadar kreatinin sebelum dan sesudah hemodialisis 1 kali 12,68 mg/dl menjadi 13,52 mg, 2 kali 12,86 mg/dl menjadi 14,40 mg/dl, dan 3 kali 14,16 mg/dl menjadi 13,05 mg/dl. Kesimpulan penelitian ini mayoritas pasien yang menjalani hemodialsis adalah laki–laki berusia 51-61 tahun dan pasien tetap mengalami anemia setelah hemodialisis, sementara kadar kreatinin tetap tinggi walaupun telah hemodialisis
Literature Review: Pengaruh Rokok terhadap Gambaran Histopatologi Kanker Paru
Kanker paru menempati urutan nomor dua jenis kanker yang paling sering terdiagnosis serta penyebab kematian nomor satu akibat kanker di dunia. Faktor risiko utama kanker paru adalah terdapatnya riwayat merokok pada pasien. Riyawat merokok memiliki pengaruh terhadap gambaran histopatologi pasien kanker paru. World Health Organization (WHO) 2015 menjelaskan terdapat lima klasifikasi dari tumor paru yaitu tumor epithelial, mesenkimal, limfohistiositik, tumours of ectopic origin dan tumor metastatik. Tumor epithelial merupakan kelompok tumor paru terbanyak. Tujuan dari literature review ini adalah untuk mengetahui apakah gambaran histopatologi pada pasien terdiagnosis kanker paru dapat dipengaruhi oleh riwayat merokok dari pasien tersebut. Metode yang digunakan pada studi ini dengan cara pencarian artikel dalam database jurnal penelitian, pencarian melalui internet, dan tinjauan ulang artikel menggunakan Google scholar dan Pubmed. Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan dalam literature review ini, dapat disimpulkan bahwa Non-Small Cell Lung Cancer (NSCLC) varian karsinoma sel skuamosa dan Small Cell Lung Cancer (SCLC) yang merupakan tumor neuroendokrin adalah jenis kanker paru yang memiliki hubungan paling erat dengan riwayat merokok, namun secara keseluruhan adenokarsinoma masih menjadi jenis kanker paru dengan prevalensi terbesar yang disebabkan oleh beberapa alasan.Kanker paru menempati urutan nomor dua jenis kanker yang paling sering terdiagnosis serta penyebab kematian nomor satu akibat kanker di dunia. Faktor risiko utama kanker paru adalah terdapatnya riwayat merokok pada pasien. Riyawat merokok memiliki pengaruh terhadap gambaran histopatologi pasien kanker paru. World Health Organization (WHO) 2015 menjelaskan terdapat lima klasifikasi dari tumor paru yaitu tumor epithelial, mesenkimal, limfohistiositik, tumours of ectopic origin dan tumor metastatik. Tumor epithelial merupakan kelompok tumor paru terbanyak. Tujuan dari literature review ini adalah untuk mengetahui apakah gambaran histopatologi pada pasien terdiagnosis kanker paru dapat dipengaruhi oleh riwayat merokok dari pasien tersebut. Metode yang digunakan pada studi ini dengan cara pencarian artikel dalam database jurnal penelitian, pencarian melalui internet, dan tinjauan ulang artikel menggunakan Google scholar dan Pubmed. Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan dalam literature review ini, dapat disimpulkan bahwa Non-Small Cell Lung Cancer (NSCLC) varian karsinoma sel skuamosa dan Small Cell Lung Cancer (SCLC) yang merupakan tumor neuroendokrin adalah jenis kanker paru yang memiliki hubungan paling erat dengan riwayat merokok, namun secara keseluruhan adenokarsinoma masih menjadi jenis kanker paru dengan prevalensi terbesar yang disebabkan oleh beberapa alasan
Peran dan Efektivitas Micronized Purified Flavonoid Fraction dalam Terapi Pengobatan Hemoroid Kelas I dan II
Hemoroid adalah suatu penyakit tidak menular yang terjadi di daerah anorektal. Hemoroid disebabkan oleh suatu aktivitas yang memicu pelebaran dan inflamasi pembuluh darah vena di plexus haemorrhoidalis yang terdapat di sekitar anus dan rektum. Hemoroid diklasifikasikan dalam 4 tingkatan yaitu hemoroid kelas I, II, III, dan IV. Micronized Purified Flavonoid Fraction (MPFF) adalah suatu obat plebotonik yang kerap digunakan dalam pengobatan konservatif hemoroid kelas I dan II. Tinjauan Pustaka ini bertujuan untuk memahami peran MPFF dalam terapi pengobatan hemoroid kelas I dan II serta mengevaluasi efektivitasnya dalam menangani hemoroid secara menyeluruh. Tinjauan pustaka ini ditulis dengan metode menganalisis dan meninjau secara sistematis hasil kajian dari beberapa penelitian terhadap penggunaan MPFF dalam pengobatan hemoroid. Hasil penelitian yang melibatkan 1.952 pasien hemoroid secara acak menemukan bahwa MPFF efektif dalam meredakan gejala pada 1.489 (76,3%) pasien yang menderita hemoroid. Selain itu, ditemukan juga 68 (3,5%) pasien yang mengikuti pengobatan invasif (pembedahan) untuk menangani hemoroid kelas IV dan sebanyak 395 (20,2%) pasien dengan hemoroid kelas I – III menjalani pengobatan konservatif campuran. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa MPFF termasuk pengobatan konservatif yang cukup efektif untuk mengatasi hemoroid kelas I dan II, tetapi kurang berdampak untuk mengatasi tingkatan hemoroid yang lebih tinggi.Hemoroid adalah suatu penyakit tidak menular yang terjadi di daerah anorektal. Hemoroid disebabkan oleh suatu aktivitas yang memicu pelebaran dan inflamasi pembuluh darah vena di plexus haemorrhoidalis yang terdapat di sekitar anus dan rektum. Hemoroid diklasifikasikan dalam 4 tingkatan yaitu hemoroid kelas I, II, III, dan IV. Micronized Purified Flavonoid Fraction (MPFF) adalah suatu obat plebotonik yang kerap digunakan dalam pengobatan konservatif hemoroid kelas I dan II. Tinjauan Pustaka ini bertujuan untuk memahami peran MPFF dalam terapi pengobatan hemoroid kelas I dan II serta mengevaluasi efektivitasnya dalam menangani hemoroid secara menyeluruh. Tinjauan pustaka ini ditulis dengan metode menganalisis dan meninjau secara sistematis hasil kajian dari beberapa penelitian terhadap penggunaan MPFF dalam pengobatan hemoroid. Hasil penelitian yang melibatkan 1.952 pasien hemoroid secara acak menemukan bahwa MPFF efektif dalam meredakan gejala pada 1.489 (76,3%) pasien yang menderita hemoroid. Selain itu, ditemukan juga 68 (3,5%) pasien yang mengikuti pengobatan invasif (pembedahan) untuk menangani hemoroid kelas IV dan sebanyak 395 (20,2%) pasien dengan hemoroid kelas I – III menjalani pengobatan konservatif campuran. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa MPFF termasuk pengobatan konservatif yang cukup efektif untuk mengatasi hemoroid kelas I dan II, tetapi kurang berdampak untuk mengatasi tingkatan hemoroid yang lebih tinggi
Uji Antibakteri Masker Serbuk Rimpang Kunyit (Curcuma domestica Val.) dan Tepung Beras terhadap Cutibacterium acnes
Tanaman kunyit (Curcuma domestica Val.) memiliki khasiat sebagai antibakteri karena adanya kandungan metabolit sekunder di dalamnya. Salah satu kandungan metabolit di dalam rimpang kunyit yang memiliki aktivitas sebagai antibakteri adalah curcumin dan minyak atsiri. Pembuatan sediaan topikal masker serbuk rimpang kunyit dan tepung beras memiliki keuntungan yaitu bahan-bahan yang digunakan adalah bahan alami sehingga aman digunakan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui formula masker serbuk terbaik yang beraktivitas sebagai antibakteri terhadap bakteri Cutibacterium acnes. Pengujian antibakteri terhadap C. acnes dilakukan menggunakan metode difusi cakram (5, 10, dan 15% g/g). Masker serbuk mustika ratu digunakan sebagai kontrol positif dan DMSO sebagai kontrol negatif. Evaluasi sediaan masker serbuk meliputi organoleptis, homogenitas, laju alir, sudut diam, kadar air, pengukuran pH dan cycling test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua konsentrasi memiliki aktivitas antibakteri yaitu konsentrasi 5% sebesar 7,76 mm, 10% sebesar 10,63 mm, dan 15% sebesar 11,54 mm. Formula yang memiliki sifat fisik yang baik yaitu F2, diikuti F3 dan F1. Studi menyimpulkan bahwa formula F2 merupakan formula terbaik dari segi sifat fisik pada uji stabilitas selama penyimpanan. Formula F2 konsentrasi 15% memiliki aktivitas antibakteri yang paling baik dengan zona hambat sebesar 11,54 mm. Tanaman kunyit (Curcuma domestica Val.) memiliki khasiat sebagai antibakteri karena adanya kandungan metabolit sekunder di dalamnya. Salah satu kandungan metabolit di dalam rimpang kunyit yang memiliki aktivitas sebagai antibakteri adalah curcumin dan minyak atsiri. Pembuatan sediaan topikal masker serbuk rimpang kunyit dan tepung beras memiliki keuntungan yaitu bahan-bahan yang digunakan adalah bahan alami sehingga aman digunakan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui formula masker serbuk terbaik yang beraktivitas sebagai antibakteri terhadap bakteri Cutibacterium acnes. Pengujian antibakteri terhadap C. acnes dilakukan menggunakan metode difusi cakram (5, 10, dan 15% g/g). Masker serbuk mustika ratu digunakan sebagai kontrol positif dan DMSO sebagai kontrol negatif. Evaluasi sediaan masker serbuk meliputi organoleptis, homogenitas, laju alir, sudut diam, kadar air, pengukuran pH dan cycling test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua konsentrasi memiliki aktivitas antibakteri yaitu konsentrasi 5% sebesar 7,76 mm, 10% sebesar 10,63 mm, dan 15% sebesar 11,54 mm. Formula yang memiliki sifat fisik yang baik yaitu F2, diikuti F3 dan F1. Studi menyimpulkan bahwa formula F2 merupakan formula terbaik dari segi sifat fisik pada uji stabilitas selama penyimpanan. Formula F2 konsentrasi 15% memiliki aktivitas antibakteri yang paling baik dengan zona hambat sebesar 11,54 mm.