TERBITAN BERKALA ILMIAH ONLINE FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS HALU OLEO
Not a member yet
    1538 research outputs found

    The Representation of Racism in The Man Who Knew Infinity Movie by Matthew Brown

    Get PDF
    This study aimed to analyze racism in The Man Who Knew Infinity movie used Paradies, Harris, and Anderson\u27s theory. The Man Who Knew Infinity released in 2016 is a film directed by Matthew Brown that features the character of a genius mathematician from India named Srinivasa Ramanujan who wants to publish his formula about mathematics at Trinity College. As an Indian, Ramanujan experienced various acts of racism committed by the British, both mentally and physically. This study used a descriptive qualitative method. The data was collected through four steps, such as watching, screenshotting, note-taking, and identifying the data. The result of this study showed that the main character experienced racism because of his race and nationality. The kinds of racism that the main character experienced namely stereotypes, prejudice, and discrimination.

    Sign Description on Sausage Party Movie Directed by Greg Tiernan and Conrad Vernon

    Get PDF
    This study analyzes the signs that exist within the scope of cultural representation in the Sausage Party movie using Charles Sanders Peirce\u27s semiotic theoretical approach. The purpose of this study is to analyze how culture is represented in the form of signs in the Sausage Party movie using Charles Sanders Peirce\u27s Semiotic theory approach. The data source is taken from the film Sosis Party. This research uses a descriptive qualitative method. Data collection is done by searching and downloading, watching movies, classifying, and coding data. based on the analysis the researcher managed to find fifteen signs which were divided into several types of signs including, icon, index, symbol, qualisign, legsign, sinsign, rheme, dicent, and argument. Every sign that appears on the characters in this film has a very precise placement and cannot be separated from the rules of the culture that is being represented

    EKSISTENSI PEREMPUAN JAWA DALAM NOVEL HATI SUHITA KARYA KHILMA ANIS (TINJAUAN FEMINISME EKSISTENSIALIS)

    No full text
    Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana eksistensi perempuan Jawa dalam novel Hati Suhita karya Khilma Anis? Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan eksistensi perempuan Jawa dalam novel Hati Suhita karya Khilma Anis dangan tinjauan feminisme eksistensialis. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan menggunakan metode deskriktif kualitatif dengan tinjauan feminisme eksistensialis oleh Simone De Beauvoir. Data dalam penelitian ini adalah satuan bacaan berupa kata, frasa, kalimat, dan paragraf yang berkaitan dengan feminisme eksistensialis dalam novel Hati Suhita Karya Khilma Anis. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pengarang dalam novel ini menghadirkan beberapa tokoh perempuan Jawa yang mencoba menampilkan eksistensinya sebagai Diri dalam kehidupan masyarakat. Eksistensi tersebut berdasar pada empat strategi yang diilhami oleh Simone De Beauvoir dalam feminisme Eksistensialis. Yaitu bila perempuan yang dianggap sebagai Liyan dan ingin menjadi Diri maka ia harus menjadi perempuan yang berpendidikan, bekerja, bermasyarakat, dan melakukan perubahan dalam kehidupan masyarakat. Selanjutnya, beberapa tokoh perempuan tersebut adalah (a) Alina Suhita, yaitu tokoh perempuan yang cenderung mendapatkan operesi dari Suaminya, namun di luar dari kehidupan pernikahannya, ia adalah perempuan yang berhasil menjadi Diri dengan menerapkan empat strategi Beauvoir. (b) Renggenis, adalah tokoh perempuan yang juga berhasil menjadi Diri dalam kehidupan Masyarakat dengan menerapkan empat strategi dari Beauvoir. Ia menjadi pemimpin dalam satu lembaga dan melakukan pekerjaan bersama dengan laki-laki. (c) Umik, adalah tokoh perempuan yang menerapkan nilai-nilai kejawahan dalam hidupnya dan juga berhasil menjadi Diri dalam kehidupan sosialnya maupun rumah tangganya. Kata Kunci : Hati Suhita, Eksistensi Perempuan Jawa, Feminisme Eksistensiali

    Tradisi Hepatirangga pada Orang Wanci di Kelurahan Pongo Kecamatan Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi

    No full text
    The Hepatirangga tradition is a tradition on the night of lailatul qadar or the twenty-seventh night (27th) until the night of Eid where to produce a redder color. The implementation of hepatirangga is carried out at night so that the results are better. Location of Pongo Village, Wangi-Wangi District, Wakatobi Regency. Data collection techniques were carried out by direct observation, interviews with informants and documention. Determination of informants using purposive sampling. Data analysis used descriptive qualitative analysis by covering data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study show that the process of implementing the hepatirangga tradition consists of several stages of implementation, namely equipment. The purpose of the equipment stage is to emphasize the equipment and materials related to the tradition being carried out. equipment, tools and materials referred to here are very important and must be met during implementation. hepatirangga so that this tradition is carried out. The tools and materials referred to here are knives or scissors, raffia rope, wheel leaves or plastic bags, blender or mortar, and patirangga leaves. The implementation stage, in the implementation of the hepatirangga tradition, is carried out at night. The final stage is after all the processes are complete, then leave it overnight and open it at dawn. The meaning contained in the hepatirangga tradition is the meaning of letting go of patirangga before dawn, tightening kinship ties, as a connecting medium with ancestors such as beauty/aesthetics, solidarity values (togetherness), and religious cultural values

    ANALISIS BENTUK KERUSAKAN DAN UPAYA PENANGANANNYA BENTENG BONE-BONE DI DESA BONE KECAMATAN BATUKARA

    No full text
    This study aims to identify the forms of damage and efforts to address the damage found at the Bone-Bone Fort, located in the Batukara District of Muna Regency. This research is a qualitative descriptive study supported by inductive reasoning. The data analysis used to address the formulation of problems in this research includes damage analysis and conservation analysis. In addition to data analysis, conceptual frameworks were also utilized to address the problem formulation, including the concepts of damage, weathering, vandalism, and conservation. Based on the research findings, the forms of damage identified at the Bone-Bone Fort consist of four types: (1) mechanical damage, characterized by the collapse of sections of the fort’s walls; (2) physical weathering, evidenced by cavities and holes in the stone material layers; (3) biological weathering, caused by tree root growth damaging the fort\u27s walls; and (4) vandalism, including the theft of tombstones and damage to grave terraces. The efforts to address the damage to the fort include cleaning, restoration or repair, installation of perimeter fencing, environmental arrangement, and the establishment and reinforcement of legal protection.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk kerusakan dan upaya penanggulangan kerusakan yang terdapat pada Benteng Bone-Bone yang terletak di Kecamatan Batukara Kabupaten Muna. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif didukung dengan bentuk penalaran induktif. Analisis data yang digunakan dalam pemecahan rumusan permasalahan dalam penenlitian ini memnggunakan analisi kerusakan dan analisis konservasi. Selain analisis data, dalam upaya pemecahan rumusan permasalahan juga menggunakan landasan konseptual yaitu konsep kerusakan, pelapukan, vandalisme dan konsep konservasi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bentuk kerusakan yang terdapat pada Benteng Bone-Bone terdiri atas empat yakni (1) kerusakan mekanis ditandai dengan runtuhan-runtuhan dinding Benteng Bone-Bone,(2) pelapukan fisis yautu adanya rongga dan lubang pada lapisan material batu, (3) pelapukan biologis yaitu kerusakan akibat akar tumbuhan pohon yang merusak dinding benteng dan (4) vandalisme yaitu adanya pencurian nisan makam dan pengrusakan pada jirat makam. Upaya penanganan kerusakan pada benteng tersebut yaitu dengan melakukan pembersihan, restorasi atau reparasi, pemberian pagar keliling dan penataan lingkungan serta pemberian dan penguatan payung hukum

    RAGAM HIAS NISAN PASSULARA KONYINA KABALLANGAN DI DESA KABALLANGAN KECAMATAN DUAMPANUA KABUPATEN PINRANG

    No full text
    The purpose of this research is to identify the elements of ornamental variety and cultural elements that influence the gravestones in the Passulara Konyina Kaballangan Cemetery Complex in Kaballangan Village, Duampanua District, Pinrang Regency. The research method employed is descriptive analysis, consisting of several stages such as literature review, observation, interviews, and documentation. In analyzing the data, this study uses morphological and stylistic approaches. Based on the research findings, the decorative motifs on the gravestones in the Passulara Konyina Kaballangan Cemetery Complex include geometric patterns, floral designs, and inscriptions in Arabic and Lontara scripts. The forms and decorative elements identified in these two types of graves indicate the presence of megalithic culture, local traditions, and Islamic culture, which have developed in the Pinrang area.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan unsur-unsur ragam hias dan unsur budaya yang mempengaruhi nisan pada Komplek Makam Passulara Konyina Kaballangan di Desa Kaballangan, kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif dan terdiri dari beberapa tahap seperti studi pustaka, observasi, wawancara dan dokumentasi. Dalam analisis data dalam penelitian ini menggunakan pendekatan morfologis dan stilistik. Berdasarkan hasil penelitian, ragam hias nisan pada kompleks Makam Passulara Konyina Kaballangan dihiasi dengan motif yang berupa geometris, yang lainnya adalah flora, dan inskripsi tulisan Aksara Arab dan Lontara. Berdasarkan temuan bentuk dan temuan ragam hias kedua makam tersebut menunjukan bahwa adanya unsur budaya yaitu megalitik, budaya lokal dan budaya Islam yang berkembang di daerah Pinrang

    METODE KONSERVASI KOLEKSI NASKAH KUNO YANG DITERAPKAN PADA MUSEUM PROVINSI SULAWESI TENGGARA

    No full text
    This research investigated the forms of conservation in ancient manuscript collections and the obstacles faced in conservation activities in ancient manuscript collections. The method used was qualitative with descriptive analitic model. Data collection in this research used documentation, observation and interviews .The research results show that forms of conservation in ancient manuscript collections in Southeast Sulawesi museums begin with carrying out periodic maintenance fumigation as needed using Silica Gel material. Fumigation is carried out 1 to 2 times a year. However, in this process there are several obstacles, namely, human resources in carrying out conservation of collections and ancient manuscripts so that it can only be done using silica gel, lack of facilities and infrastructure such as laboratories that are inadequate for forms of conservation of ancient manuscript collections.Penelitian ini menginvestigasi bentuk-bentuk konservasi pada koleksi naskah kuno serta hambatan-hambatan yang dihadapi dalam kegiatan konservasi koleksi naskah kuno. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan model analitik deskriptif. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan dokumentasi, observasi, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk-bentuk konservasi pada koleksi naskah kuno di museum-museum Sulawesi Tenggara dimulai dengan melakukan pemeliharaan berkala berupa fumigasi sesuai kebutuhan menggunakan bahan Silica Gel. Fumigasi dilakukan 1 hingga 2 kali dalam setahun. Namun, dalam proses ini terdapat beberapa hambatan, yaitu sumber daya manusia yang terbatas dalam melaksanakan konservasi koleksi dan naskah kuno sehingga hanya dapat dilakukan menggunakan silica gel, serta kurangnya fasilitas dan infrastruktur seperti laboratorium yang memadai untuk mendukung bentuk-bentuk konservasi koleksi naskah kuno

    RELEVANSI KEBUDAYAAN MASYARAKAT DESA GIRITENGAH DENGAN JAWA KUNO PADA RELIEF CANDI BOROBUDUR

    No full text
    Giritengah Village is a village located about 6km to the southwest. Giritengah is a cultural village that has cultural diversity in the community. The culture in Giritengah village consists of local knowledge of the use of prey institutions for agriculture, traditional dances, arts, musical instruments, and traditional rituals of the community. The cultural diversity in Giritengah village cannot be separated from the cultural development of the past community. This paper aims to provide a complementary study of how the relevance of the Borobudur community occurred in the past and continues to the present in Giritengah village. This research data was obtained through literature study and participatory observation. This research uses a social archaeology approach, by reviewing the relevance or relationship between the current community relations in Giritengah village and the community depicted on the reliefs of Borobudur Temple. The results of this study explain that there are three aspects of relevance that exist in the Giritengah community, namely the social and cultural aspects, the flora aspect, and the art aspect of the Giritengah village community, all of which have relevance to the life of the ancient Javanese people in the reliefs of Borobudur Temple.Desa Giritengah adalah sebuah desa yang terletak sekitar 6 km ke arah barat daya. Giritengah merupakan desa budaya yang memiliki keragaman budaya di kalangan masyarakatnya. Budaya di Desa Giritengah terdiri dari pengetahuan lokal tentang penggunaan lembaga prey untuk pertanian, tarian tradisional, seni, alat musik, serta ritual tradisional masyarakat. Keragaman budaya di Desa Giritengah tidak dapat dipisahkan dari perkembangan budaya masyarakat masa lalu. Tulisan ini bertujuan memberikan kajian pelengkap tentang bagaimana relevansi masyarakat Borobudur pada masa lalu terus berlanjut hingga saat ini di Desa Giritengah. Data penelitian ini diperoleh melalui studi literatur dan observasi partisipatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan arkeologi sosial, dengan meninjau relevansi atau hubungan antara relasi masyarakat saat ini di Desa Giritengah dan masyarakat yang digambarkan pada relief Candi Borobudur. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa terdapat tiga aspek relevansi yang ada dalam masyarakat Giritengah, yaitu aspek sosial dan budaya, aspek flora, serta aspek seni dari masyarakat Desa Giritengah, yang kesemuanya memiliki relevansi dengan kehidupan masyarakat Jawa Kuno pada relief Candi Borobudur

    SEJARAH KEDATANGAN ORANG BUGIS BONE DI DESA PALLIMAE KECAMATAN POLEANG KABUPATEN BOMBANA: 1905-2019

    No full text
    Penelitian ini bertujuan (1) Untuk menjelaskan proses kedatangan orang Bugis Bone di Desa Pallimae Kecamatan Poleang Kabupaten Bombana.(2) Untuk mejelaskan Faktor-faktor yang menyebabkan orang Bugis Bone melalukan migrasi ke Desa Pallimae Kecamatan Poleang Kabupaten Bombana. Penelitian ini menggunakan metode sejarah menurut Kuntowijoyo, dengan melalui lima tahapan sebagai berikut (1) Pemilihan Topik, (2) Heuristik (Pengumpulan Sumber), (3) Verifikasi (Kritik Sumber), (4) Interpretasi (Analisis dan sintesis), dan(5) Historiografi (Penulisan Sejarah). Hasil  penelitian ini menunjukan bahwa: (1) Orang Bugis melakukan migrasi ke  Desa Pallimae Kecamatan Poleang Kabupaten Bombana pada tahun 1905. Orang Bugis Bone dari Sulawesi Selatan yang bermigrasi awalnya hanya berjumlah lima orang. Pada saat itu mereka membuka lahan perkebunan untuk memulai bercocok tanam. Proses migrasi orang Bugis Bone di Desa Pallimae dilakukan secara bertahap, melalui tahap meninjau lokasi selama 1-3 tahun, kemudian mencoba berbaur dengan masyarakat asli setempat selanjutnya memastikan lokasi yang cocok untuk dijadikan tempat tinggal dan menetap. (2) Faktor-faktor menyebabkan orang Bugis Bone melakukan migrasi di Desa Pallimaae yaitu kondisi geografis dan potensi alam yang terdapat di Desa Pallimae Kecamatan Poleang Kabupaten Bombana. Hal tersebut berdampak pada penghasilan masyarakat melalui sektor pertanian, perkebunan dan perdagangan sehingga mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari serta meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat

    SOSIALISASI PENGEMBANGAN PROGRAM PARIWISATA BERKELANJUTAN YANG MEMANFAATKAN WARISAN SEJARAH DAN BUDAYA LOKAL DI KELURAHAN MATA KOTA KENDARI SULAWESI TENGGARA

    No full text
    Pengabdian kepada masyarakat ini membahas tentang Sosialisasi Pengembangan Program Pariwisata Berkelanjutan yang Memanfaatkan Warisan Sejarah dan Budaya Lokal Di Kelurahan Mata Kota Kendari Sulawesi Tenggara. Pengabdian ini dilakukan karena terdapat beberapa permasalahan mitra yang perlu mendapatkan solusi terkait dengan pemanfaatan warisan sejarah dan budaya lokal. Kelurahan Mata saat ini merupakan bagian dari pusat infrastruktur tujuan wisata bahari toronipa. Namun yang menjadi masalah adalah tidak adanya program pengembangan ekonomi lokal yang memanfaatkan warisan sejarah dan budaya lokal. Pengembangan pariwisata berkelanjutan harusnya memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat setempat. Solusinya adalah dengan merancang program pengembangan ekonomi lokal yang melibatkan pelaku usaha lokal, pelatihan keterampilan, pemberdayaan perempuan, dan penguatan sektor ekonomi kreatif. Dengan demikian diperlukan tim pengabdian dalam melakukan sosialisasi terkait dengan permasalahan dan solusi tersebut. Hasil kegiatan sosialisasi pengembangan program pariwisata berkelanjutan yang memanfaatkan warisan sejarah dan budaya lokal di Kelurahan Mata menunjukkan antusias masyarakat yang di sambut baik oleh Kepala Kelurahan Mata. Program sosialisasi yang dilakukan oleh tim pengabdian masyarakat memberikan sumbangsih pemikiran yang nantinya berguna dalam pengembangan wilayah Kelurahan Mata sebagai wilayah yang memiliki daya tarik wisata dalam aspek sejarah nya. Keberadaan situs sejarah di Kelurahan mata merupakan nilai penting dalam pengembangan wisata sejarah yang memiliki prospek kedepan sebagai daerah wisata. Pelaksanaan pengabdian masyarakat ini dilakukan di Kelurahan Mata Kecamatan Kendari Kota Kendari Sulawesi Tenggara dengan menggunakan peserta dari masyarakat setempat. Pengabdian ini menggunakan metode pelaksanaan berupa langkah-langkah yang akan dilakukan dalam memberikan pelatihan melalui tahapan persiapan materi, pelaksanaan kegiatan, serta tahapan evaluasi kegiatan. Kata Kunci : Pariwisata, Sejarah dan Budaya, Kelurahan Mat

    40

    full texts

    1,538

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    TERBITAN BERKALA ILMIAH ONLINE FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS HALU OLEO
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇