E-Jurnal Universitas Bhayangkara Jakarta Raya
Not a member yet
2536 research outputs found
Sort by
USULAN PEMILIHAN SUPPLIER CAT PADA CV. PUSTAKA SINAR ABADI MENGGUNAKAN METODEANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)
CV. Pustaka Sinar Abadi adalah perusahaan jasa yang menyediakan kebutuhan sekolah negeri, termasuk alat-alat perlengkapan sekolah dan layanan perbaikan seperti pengecatan ulang tembok. Untuk menjaga kualitas layanan, perusahaan memerlukan pemasok cat yang berkualitas tinggi dengan harga kompetitif. Namun, proses manual dalam pemilihan pemasok menjadi kendala karena sulit untuk menentukan pemasok yang sesuai dengan kriteria perusahaan. Sistem Pendukung Keputusan (SPK) dapat menjadi solusi dengan menyediakan informasi dan pemodelan berbasis data untuk membantu dalam pengambilan keputusan. Dengan SPK, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi dan objektivitas dalam menentukan pemasok cat terbaik yang memenuhi kebutuhan operasional dan memastikan kepuasan konsumen. Keadaan ini menunjukkan adanya penyimpangan kualitas produk yang memengaruhi standar perusahaan. Saat ini, terdapat empat pemasok aktif yang menyediakan cat, namun perusahaan belum menetapkan pemasok utama dan belum memiliki kriteria khusus dalam pemilihan pemasok
ANALISIS PENGENDALIAN KUALITAS DENGAN MENGGUNAKAN PETA KENDALI U DAN DECISION ON BELIEF (DOB) DI PT PREFORMED LINE PRODUCTS
PT Preformed Line Products adalah perusahaan yang bergerak di bidang desain, produksi, dan pemasok perangkat keras serta sistem jangkar kabel. Salah satu produknya adalah akcing damper, yang mengalami tingkat cacat rata-rata 3,74%, melebihi batas toleransi perusahaan sebesar 3%. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas produksi, mengidentifikasi faktor penyebab cacat, serta membandingkan efektivitas peta kendali U dan Decision on Belief (DOB) dalam mendeteksi data yang berada di luar batas kendali (out of control). Hasil analisis menunjukkan bahwa peta kendali U mendeteksi 5 data out of control, dengan 2 data berada di atas batas kendali atas (UCL) dan 3 data di bawah batas kendali bawah (LCL). Sementara itu, peta kendali DOB lebih sensitif, mendeteksi 8 data out of control di bagian LCL. Dengan demikian, proses produksi belum terkendali secara statistik. Analisis lebih lanjut mengidentifikasi lima faktor utama penyebab cacat, yaitu faktor manusia, mesin, material, metode, dan lingkungan. Berdasarkan hasil ini, usulan perbaikan difokuskan pada pelatihan operator, perawatan mesin, peningkatan kualitas bahan baku, optimasi metode produksi, dan pengelolaan lingkungan kerja
Analisis Pengendalian Kualitas Produk Majalah Menggunakan Metode Seven Tools Di PT. Respatih Sahabat Sejati
Tujuan dari penelitian ini, mengetahui penyebab masalah dari jenis cacat yang utama, mengetahui batas toleransi, dan memberikan usulan perbaikan kepada PT. Respatih Sahabat Sejati. Metode yang dipergunakan adalah Seven Tools. Dari hasil pengolahan data hasilnya menunjukan faktor penyebab cacat adalah cacat tinta buram sebesar 43,8% dan keluar garis sebesar 42,8%. Berdasarkan diagram pareto Akar masalah dominan penyebab cacat tinta buram adalah belum dibuatkan standar tertulis ukuran tinta 32% Akar masalah dominasi cacat keluar garis adalah belum dibuatkan standar tabel indikator 32% . Untuk batas toleransi tepat adalah garis pusat (central line) 0,00058, upper control limit (UCL) 0,00063, lower control limit (LCL) 0,00054. Usulan perbaikan perlu memperhatikan akar masalah yang dominan usulan perbaikannya pembuatan volume ukuran standar penyetelan tinta yang diletakan di area kerja untuk masalah cacat tinta buram, Usulan perbaikannya perlu dibuatkan standar tabel indikator untuk set up angin untuk masalah cacat keluar garis
Peran Guru Penggerak Dalam Ekosistem Pendidikan: Studi Kasus Di Provinsi Banten
Abstract
Guru Penggerak program plays a crucial role in advancing learning so far, and thus, the discourse on discontinuing the Guru Penggerak Program should be reconsidered. This study aims to explore the role of Guru Penggerak after participating in the Teacher Education Program (PPGP) in Banten Province. The research method used is descriptive quantitative with an evaluation model based on Kirkpatrick’s model, utilizing a questionnaire distributed to 82 teachers who have participated in PPGP. The questionnaire consists of 25 statements measuring five main roles of Guru Penggerak: motivating practitioner communities, becoming coaches for other teachers, realizing student leadership, promoting collaboration, and leading learning. The data obtained was analyzed using descriptive statistical techniques by calculating the average of each statement. The results show that 90,89% of respondents gave positive responses to the program, with an average score of 4,54, indicating that most teachers are highly satisfied with their roles after participating in PPGP. The highest-achieving role was realizing student leadership, which obtained an average score of 4,67, followed by promoting collaboration and motivating practitioner communities. This study reveals that the Guru Penggerak Program has had a significant positive impact on improving education quality and professional development for teachers in Banten Province. The results also highlight the importance of sustaining the program to create lasting changes in the education ecosystem
Keywords: Program Evaluation, Kirkpatrick Model, Guru Penggerak.
Abstrak
Guru Pengerak memiliki peranan yang sangat penting dalam memajukan pembelajaran sejauh ini, sehingga wacana pemberhentian Program Guru Penggerak harus ditinjau kembali. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi peran Guru Penggerak setelah mengikuti Program Pendidikan Guru Penggerak (PPGP) di Provinsi Banten. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan jenis penelitian evaluasi model Kirkpatrick dengan menggunakan angket yang disebarkan kepada 82 guru yang telah mengikuti PPGP. Angket ini terdiri dari 25 pernyataan yang mengukur lima peran utama guru penggerak, yaitu menggerakkan komunitas praktisi, menjadi pelatih (coach) bagi guru lain, mewujudkan kepemimpinan murid, mendorong kolaborasi, dan menjadi pemimpin pembelajaran. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik statistik deskriptif dengan menghitung rata-rata dari setiap pernyataan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 90,89% responden memberikan respons positif terhadap program ini, dengan rata-rata skor 4,54 yang menunjukkan bahwa sebagian besar guru merasa sangat puas dengan peran mereka setelah mengikuti PPGP. Peran yang paling tinggi dalam pencapaiannya adalah mewujudkan kepemimpinan murid, yang memperoleh rata-rata skor 4,67, diikuti oleh mendorong kolaborasi dan menggerakkan komunitas praktisi. Penelitian ini mengungkapkan bahwa Program Guru Penggerak memberikan dampak positif yang signifikan terhadap peningkatan kualitas pendidikan dan pengembangan profesionalisme guru di Provinsi Banten. Hasil penelitian ini juga menyoroti pentingnya keberlanjutan program Guru Penggerak untuk menciptakan perubahan yang berkelanjutan dalam ekosistem pendidikan.
Kata kunci: Evaluasi Program, Kirkpatrick Model, Guru Penggera
Kesulitan Mempertanggungjawabkan Pidana Partai Politik Sebagai Subyek Hukum Dalam Perkara Tindak Pidana Korupsi
Tulisan ini membahas mengenai adanya kesulitan untuk meminta pertanggungjawaban pidana terhadap partai politik yang diduga melakukan tindak pidana korupsi melalui perwakilannya sebagai pengurus partai politik maupun tokoh-tokoh yang berafiliasi dengan partai politik yang melakukan tindak pidana korupsi. Sekalipun dalam stadia perundangan yang ada telah cukup sebagai dasar untuk memepertanggungjawabkan partai politik yang melakukan tindak pidana korupsi, namun terdapat permasalahan ideologis maupun permasalahan penerapan hukumnya yang hingga saat ini khususnya pasca reformasi belum ada satupun partai politik yang dapat dimintai pertanggungjawaban pidana atasnya. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian hukum normatif. Pendekatan masalah yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pendekatan undang-undang (statute approach), pendekatan konseptual (conceptual approach) dan pendekatan kasus (case approach).
Peran dan Efektivitas Perjanjian Perdagangan Internasional Dalam Mendukung Stabilitas Ekonomi Nasional Menurut Hukum Internasional dan Hukum Nasional
Perjanjian Perdagangan Internasional memiliki peran vital dalam mendukung stabilitas ekonomi nasional karena menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan ekonomi, meningkatkan daya saing dan mendorong investasi asing. Efektivitas perjanjian perdagangan tergantung pada bagaimana pemerintah mengimplementasikannya dan memastikan kepatuhan terhadap aturan yang telah disepakati, terutama dalam menjamin kepastian hukum, mengatur hak dan kewajiban para pihak, serta mencegah terjadinya sengketa. Penelitian ini akan menganalisis peran dan efektifitas Perjanjian Perdagangan Internasional dalam mendukung stabilitas ekonomi nasional menurut Hukum Internasional dan Hukum Nasional. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif, dengan mengkaji berbagai regulasi dan prinsip hukum internasional yang relevan, dengan data yang digunakan berupa data sekunder yang terdiri dari bahan-bahan hukum primer berupa peraturan perundang-undangan, bahan hukum tersier berupa buku-buku referensi, pendapat ahli maupun hasil penelitian terdahulu dan bahan hukum tersier berupa kamus-kamus bahasa dan kamus ilmiah hukum. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa perjanjian perdagangan internasional tidak hanya memberikan kepastian hukum, tetapi juga berperan dalam mengelola risiko bisnis, menyelesaikan sengketa secara efisien dan menciptakan stabilitas hubungan perdagangan, termasuk juga berperan penting dalam mendukung stabilitas ekonomi nasional. Dalam penerapannya direkomendasikan untuk meningkatkan efektivitas perjanjian perdagangan internasional, pemerintah harus mendorong stabilitas ekonomi nasional dan global agar lebih memahami dan menerapkan perjanjian hukum secara efektif dengan asas kepatuhan guna menghindari risiko sengketa, memperlancar transaksi dan membangun hubungan bisnis yang lebih solid untuk tujuan menguntungkan perekoniman nasional
Protection of Consumers Using Beauty Products Promoted by Marketing Influencers: A Comparative Study of the United States – Indonesia
This study aims to determine the legal regulations and responsibilities of Influencers towards consumers in carrying out marketing or promotional practices on social media related to dangerous beauty products and containing misleading claims, and how they compare with the legal regulations in the United States, as well as the legal efforts that can be taken by consumers who suffer losses due to these marketing practices. The method used in this study is normative juridical with a statutory approach (Statute Approach) and a comparative approach (comparative approach). The results of the study show that there are no legal regulations that specifically regulate Influencer marketing practices in Indonesia, based on the UUPK, legal responsibility for consumer losses is only borne by business actors because the position of Influencers cannot be categorized as advertising business actors. In the United States, business actors and influencers are burdened with their responsibilities because their positions have been regulated by the Federal Trade Commission (FTC). However, influencers in Indonesia can still be sued for disseminating misleading information, as per Article 28 (1) of the ITE Law and Article 1365 of the Civil Code, for the claims they make
Perlindungan Hukum Terhadap Anak Korban Tindak Pidana Prostitusi Dalam Perspektif Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Pasal 76I Tentang Perlindungan Anak Dari Eksploitasi Ekonomi Dan Seksual
Perlindungan hukum terhadap anak di bawah umur yang menjadi korban prostitusi merupakan aspek penting dalam perlindungan anak di Indonesia. Pasal 76I Undang Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak memberikan landasan hukum untuk melindungi anak dari eksploitasi ekonomi dan seksual. Penelitian ini bertujuan mengkaji efektivitas pasal tersebut, mengidentifikasi bentuk perlindungan hukum yang diatur, dan mengusulkan inisiatif untuk optimalisasi perlindungan anak. Dengan metode Yuridis Normatif, penelitian menemukan bahwa meskipun Pasal 76I memberikan kerangka hukum yang jelas, implementasinya menghadapi tantangan seperti kurangnya sosialisasi, keterbatasan sumber daya, dan stigma sosial. Kesimpulannya, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga swadaya untuk meningkatkan kesadaran, memperkuat mekanisme hukum, dan memastikan perlindungan efektif bagi anak korban prostitusi
Implementasi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Untuk Mengatasi Pencemaran di Kantin Warung NKRI UPN “Veteran” Jawa Timur
Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur (UPNVJT) is committed to realizing a sustainable campus. However, this commitment was challenged at the Warung NKRI canteen, where liquid waste was discharged into open sewers, causing pollution and odor. This Community Service Program aimed to solve this issue through a multidisciplinary approach. The methods included educating vendors and customers on waste management and implementing a Wastewater Treatment Plant (WWTP/IPAL). To ensure sustainability, socialization on system maintenance was conducted for the Business Management Unit (BPU) and cleaning service staff. The results showed increased awareness within the canteen community and the WWTP\u27s success in producing clearer, odorless effluent. This program proves that cross-disciplinary collaboration can deliver tangible and sustainable solutions for campus environmental sanitation
The Role of Emotion in the Purchase Process of Generation Z
Generation Z born amidst the digital advancement constitutes a unique and compelling consumer group, whose identity as digital natives significantly influences their consumption patterns. Within the context of purchasing behavior, this group exhibits a strong tendency toward decisions driven by emotional factors, especially in the phenomena of impulsive buying and online shopping. This literature review aims to analyze and synthesize empirical findings from various studies that highlight the central role of emotion particularly positive emotion in the overall purchasing decision process carried out by Generation Z. The method employed is a literature review, which qualitatively analyzes key studies focusing on the relationship between emotion, impulsive buying, lifestyle, and the influence of both offline and online shopping environments. The comprehensive results of this review consistently emphasize that positive emotion plays a crucial role as a strong mediating variable between various marketing stimuli and unplanned purchasing behavior. Environmental stimuli such as store atmosphere and store image are proven to trigger consumers\u27 positive emotions, which subsequently increase the tendency for impulse buying. In the realm of e-commerce, hedonic shopping motivation, sales promotion, and the availability of money significantly influence Gen Z\u27s positive emotions, which in turn drive impulsive purchasing on online platforms like Shopee and Lazada. Furthermore, the role of emotion also extends to the formation of brand attachment through digital advertising, which is a critical point of contact for Gen Z. This review concludes that for Generation Z the emotional experience during the shopping process is the primary predictor of purchasing behavior, necessitating marketing strategies that are more focused on creating value and emotional connection