UNKLAB Ejournal System (Univ. Klabat)
Not a member yet
1030 research outputs found
Sort by
STRATEGI KOPING MAHASISWA TINGKAT AKHIR DALAM MENYELESAIKAN SKRIPSI
Final-year students often face academic, psychological, and environmental pressures in the process of writing their theses. This condition requires the use of effective coping strategies, but not all students are able to manage them adaptively, putting them at risk of stress and delays in completing their theses. This study aims to determine the differences in coping strategies among final year students who are writing their thesis at Klabat University. The method used was an analytical survey with a comparative model through a cross-sectional approach on the population of final year students at Klabat University, calculated using the Slovin formula with a total of 236. The sampling technique used is Purposive Sampling, and the data is analyzed using the Kruskal Wallis statistical test. The results show that the majority of 234 (99.2%) respondents have excellent coping strategies, while only 2 respondents (0.8%) have good coping strategies. There is a significant difference in coping strategies based on faculty among final year students who are writing their thesis at Klabat University, with a p-value of 0.038 < 0.05. Recommendations for students writing their thesis are to apply good adaptive coping strategies to prevent academic stress, for educational institutions to create activities that build mental health, and for future researchers to conduct research on factors that influence coping strategies.
Mahasiswa tingkat akhir sering menghadapi tekanan akademik, psikologis, dan lingkungan dalam proses penyusunan skripsi. Kondisi ini menuntut penggunaan strategi koping yang efektif, namun tidak semua mahasiswa mampu mengelolanya secara adaptif sehingga berisiko menimbulkan stres dan keterlambatan penyelesaian skripsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan koping pada tingkat akhir yang sedang menulis skripsi di Universitas Klabat. Metode yang digunakan yaitu survei analitik dengan model komparatif melalui pendakatan cross-sectional pada populasi mahasiswa tingkat akhir di Universitas Klabat yang dihitung menggunakan rumus slovin dengan jumlah 236. Teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive Sampling serta data dianalisis menggunakan uji statistik Krulkal Wallis. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas sebanyak 234 (99,2%) responden memiliki koping yang sangat baik sedangkan hanya 2 responden (0,8%) memiliki koping baik. Terdapat perbedaan koping yang signifikan berdasarkan setiap fakultas pada mahasisiwa tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi di Universitas Klabat didapati p-value = 0.038 < 0,05. Rekomendasi untuk mahasiswa yang sedang menyusun skripsi untuk dapat mencegah stress akademik dengan menerapkan koping yang baik secara adaptif, untuk institusi pendidikan agar bisa membuat kegiatan yang membangun kesehatan mental, untuk peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi strategi koping
Analisis Persepsi dan Kebutuhan Pelayanan Kesehatan Mental Pada Mahasiswa di Lingkungan Kampus
Mahasiswa merupakan kelompok individu dalam suatu instansi pendidikan tinggi yang berisiko tinggi mengalami masalah kesehatan mental akibat tekanan sosial dan digital. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi persepsi mahasiswa terhadap kebutuhan layanan kesehatan mental, serta pentingnya mendorong pencarian bantuan profesional untuk mengurangi risiko kesehatan mental di kalangan mahasiswa dengan latar belakang beragam.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan purposive sampling, melibatkan 1.293 mahasiswa Universitas Sriwijaya. Data dikumpulkan melalui kuesioner terbuka di Google Form, disebarkan via WhatsApp, Instagram, dan langsung di fakultas. Analisis data dilakukan secara univariat menggunakan IBM SPSS Statistic 25.0 untuk menggambarkan persepsi dan kebutuhan layanan kesehatan mental.Dari 1.293 responden, mayoritas berasal dari FKIP (25,8%), diikuti FKM (13,4%) dan FMIPA (4,7%). Sebagian besar adalah perempuan (68,3%) dan mayoritas berada di semester 1 (35,2%). Sumber pendanaan mahasiswa bervariasi, 17,2% mengandalkan beasiswa, 5,3% bekerja paruh waktu. Survei menunjukkan meskipun sebagian besar responden merasa kondisi mental mereka baik, masih ada sebagian yang mengalami masalah seperti kecemasan dan stres akibat tekanan akademik, masalah ekonomi, dan perubahan sosial. Mahasiswa banyak yang mencari dukungan sosial untuk mengatasi masalah tersebut. Mayoritas mahasiswa (96,4%) mendukung penyediaan layanan kesehatan mental di kampus untuk mengatasi masalah ini secara efektif. Penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar mahasiswa merasa kondisi mental mereka baik, banyak yang mengalami stres dan kecemasan. Mayoritas mendukung layanan kesehatan mental di kampus, dengan pentingnya dukungan sosial, literasi, dan akses layanan profesional untuk mengatasi masalah ini.
Students are a group of individuals in a higher education institution who are at high risk of experiencing mental health problems due to social and digital pressures. This research aims to identify students' perceptions of the need for mental health services, as well as the importance of encouraging seeking professional help to reduce mental health risks among students with diverse backgrounds. This research uses a descriptive observational method with purposive sampling, involving 1,291 Sriwijaya University students. Data was collected through an open questionnaire on Google Form, distributed via WhatsApp, Instagram, and directly at the faculty. Data analysis was carried out univariately using IBM SPSS Statistics 25.0 to describe perceptions and needs for mental health services.Of the 1,293 respondents, the majority came from FKIP (25.8%), followed by FKM (13.4%) and FMIPA (4.7%). Most were women (68.3%) and the majority were in semester 1 (35.2%). Student funding sources vary, 17.2% rely on scholarships, 5.3% work part time. The survey showed that although the majority of respondents felt their mental condition was good, there were still some who experienced problems such as anxiety and stress due to academic pressure, economic problems and social changes. Many students seek social support to overcome these problems. The majority of students (96.4%) supported the provision of mental health services on campus to effectively address this issue. This research shows that although the majority of students feel their mental condition is good, many experience stress and anxiety. The majority supported mental health services on campus, with the importance of social support, literacy, and access to professional services to address these issues
HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DENGAN CAKUPAN IMUNISASI DASAR LENGKAP PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ESSANG
Pemberian imunisasi sangat penting bagi balita untuk melindungi balita dari berbagai penyakit terutama penyakit menular. Pemerintah telah berupaya untuk mewajibkan setiap balita mendapatkan imunisasi yang lengkap. Namun kurangnya pengetahuan ibu akan pentingnya imunisasi berhubungan dengan perilaku ibu untuk melengkapi imunisasi anaknya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan ibu dengan cakupan pemberian imunisasi di wilayah kerja Puskesmas Essang yang dilakukan pada bulan November-Desember 2024. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional cross-sectional dan pengambilan data (n=60) dengan teknik Total Sampling. Hasil uji korelasi spearman rank menunjukkan p value 0,00 < 0,05 dengan nilai r 0,487 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dengan cakupan pemberian imunisasi dasar lengkap dengan arah hubungan, semakin tinggi tingkat pengetahuan ibu makan cakupan pemberian imunisasi juga akan semakin tinggi. Rekomendasi puskesmas dapat terus memberikan edukasi kepada ibu balita mengenai pentingnya imunisasi dan memastikan setiap balita untuk mendapatkan imunisasi dasar yang lengkap.
Immunization is very important for toddlers to protect them from various diseases, especially infectious diseases. The government has made efforts to require every toddler to get complete immunization. However, some mother has lack knowledge of the importance of immunization is associated with maternal behavior to complete immunization of their children. This study aims to determine the relationship between maternal knowledge and immunization coverage in the Essang Health Center working area conducted in November-December 2024. This study used quantitative methods with a cross-sectional correlational design and data collection (n = 60) with Total Sampling technique. The results of the spearman rank correlation test showed a p value of 0.00 <0.05 with an r value of 0.487, so it can be concluded that there is a significant relationship between maternal knowledge and coverage of complete basic immunization with the direction of the relationship, the higher the level of maternal knowledge, the higher the coverage of immunization will be. The recommendation for the Health Center is that can continue to provide education to mothers of toddlers about the importance of immunization and ensure that every toddler gets complete basic immunization
HUBUNGAN DISMENOREA DENGAN AKTIVITAS BELAJAR REMAJA DI SMA NEGERI 1 TONDANO: Dismenore dan aktivitas belajar
Dismenorea adalah rasa nyeri atau kram yang dialami wanita saat menstruasi. Bagi mereka yang mengalaminya, aktivitas belajar bisa terganggu karena nyeri tersebut memengaruhi konsentrasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara dismenorea dan aktivitas belajar siswi di SMA N 1 Tondano. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasi dengan desain penelitian cross-sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 131 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 131 responden, 69 (53,7%) mengalami dismenorea dengan nyeri berat, 31 (23,7%) dengan nyeri sedang, 30 (22,9%) dengan nyeri ringan, dan 1 (0,8%) dengan nyeri yang tidak tertahankan. Untuk aktivitas belajar, 75 (57,3%) mengalami gangguan, 30 (22,9%) tidak terganggu, dan 26 (19,8%) sangat terganggu. Hasil uji statistik menunjukkan p-value = 0,000 < 0,05, yang berarti ada hubungan signifikan antara dismenorea dan aktivitas belajar siswi di SMA N 1 Tondano, dengan nilai korelasi r = 0,637 yang menunjukkan korelasi kuat dan arah positif. Rekomendasi: Penelitian selanjutnya disarankan untuk lebih spesifik, termasuk meneliti faktor usia di bawah 12 tahun untuk melihat pengaruhnya terhadap kejadian dismenorea dan dampaknya pada aktivitas belajar. Selain itu, penelitian lebih lanjut mengenai penanganan dismenorea pada siswi juga disarankan agar aktivitas belajar tidak terganggu.
Dysmenorrhea is the pain or cramps experienced by women during menstruation. For those who experience it, learning activities can be disrupted because the pain affects their concentration. The aim of this study is to determine the relationship between dysmenorrhea and the learning activities of female students at SMA N 1 Tondano. The research method used is descriptive correlational with a cross-sectional design. The sampling technique used is purposive sampling, with a total sample of 131 respondents. The results show that out of 131 respondents, 69 (53.7%) experience dysmenorrhea with severe pain, 31 (23.7%) with moderate pain, 30 (22.9%) with mild pain, and 1 (0.8%) with unbearable pain. For learning activities, 75 (57.3%) were disrupted, 30 (22.9%) were not disrupted, and 26 (19.8%) were highly disrupted. The statistical test results show a p-value = 0.000 < 0.05, meaning there is a significant relationship between dysmenorrhea and the learning activities of female students at SMA N 1 Tondano, with a correlation value of r = 0.637, indicating a strong positive correlation. Recommendation: Future research is advised to be more specific, including investigating the impact of age under 12 years to see its effect on the occurrence of dysmenorrhea and its impact on learning activities. In addition, further research on the management of dysmenorrhea in female students is recommended so that learning activities are not disrupted
Church Members Economic Condition and Church Financial Health on Covid-19 in Minahasa Conference
Pandemi COVID-19 membawa tantangan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya di seluruh dunia, termasuk dampaknya pada komunitas gereja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak Covid-19 terhadap kondisi ekonomi anggota gereja serta kesehatan finansial gereja di wilayah Konferens Minahasa selama pandemi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kondisi ekonomi sebagian besar anggota gereja selama Covid-19, yang didorong oleh adaptasi aktivitas ekonomi dan mekanisme dukungan komunitas yang kuat. Selain itu, pada masa pandemic Covid-19, kontribusi keuangan anggota terhadap keuangan Minahasa menunjukkan pengaruh positif. Hasil penelitian ini memberikan bukti bagaimana keaddan perekonomian anggota dan gereja selama pandemi Covid-19 berbeda dengan apa yang dikhawatirkan ketika Covid-19 mulai terjadi
Analysis of the Impact of Financial Performance on Stock Returns of Companies in the Property and Real Estate Sector
This study aims to analyze the effect of financial performance on stock returns in property and real estate companies listed on the Indonesia Stock Exchange during the period 2020-2023. Financial performance is measured using return on equity, debt to equity, and total asset turnover. The study uses a purposive sampling method with 60 companies as the sample and a total of 240 observations. The analysis results show that, simultaneously, return on equity, debt to equity, and total asset turnover significantly influence stock returns with a contribution of 6.3%. However, partially, return on equity, debt to equity, and total asset turnover do not show a significant effect on stock returns, except when the regression analysis is conducted separately for companies with positive and negative profits, where debt to equity is found to have a negative effect on stock returns for companies with positive profits. These findings suggest that investors may consider other factors, such as economic conditions, government policies, and specific events, in making in-vestment decisions during the Covid-19 pandemic, rather than relying solely on financial ratio analysis
Validasi Isi Pengembangan Instrumen Evaluasi Kualitas Program Preceptorship Keperawatan Dengan Menggunakan Content Validity Ratio
A good research instrument is a valid instrument that is useful for measuring what it is supposed to measure. One important step in obtaining a valid instrument is conducting content validation. Therefore, the purpose of this study was to validate the content of the nursing preceptorship program quality evaluation instrument being developed. Content validation determines which items are valid and which are invalid. Content validity provides evidence of the extent to which the instrument's elements are relevant and representative of the construct targeted for the assessment purpose. The method used in this validation is to calculate the Content Validity Ratio (CVR). The developed instrument contains 238 questions consisting of three dimensions: structure, process, and outcome. This questionnaire was sent to nine experts in the field of preceptorship who were selected based on their specific expertise and length of work in the preceptor field. To determine whether the instrument items were valid or not, the CVR value for the nine experts was 0.75-1. In other words, all items with a CVR value <0.75 were considered invalid and were eliminated. Based on the results of the CVR value analysis of 238 questions, it was found that there were 43 items whose CVR value was <0.75 so these items were eliminated. Thus, there are 195 valid questions with a CVR value of 0.75 or higher. The content validation stage of this instrument development has been carried out in accordance with instrument development principles and will proceed to the next stage, pilot testing.
Instrumen penelitian yang baik adalah instrumen yang valid yang berguna untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Salah satu tahapan penting dalam mendapatkan instrumen yang valid adalah melakukan melakukan validasi isi. Untuk itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan validasi isi instrumen evaluasi kualitas program preseptorship keperawatan yang sedang dikembangkan. Validasi isi menentukan butir mana yang valid dan butir mana yang tidak valid. Validitas isi memberikan bukti tentang sejauh mana unsur-unsur instrumen relevan dan representatif terhadap konstruk yang ditargetkan untuk tujuan penilaian tersebut. Metode yang digunakan dalam validasi ini adalah dengan menghitung nilai Content Validity Ratio (CVR). Instrumen yang dikembangkan berisi 238 butir pertanyaan yang terdiri dari 3 dimensi yaitu struktur, proses, dan hasil. Kuesioner ini dikirimkan kepada sembilan pakar dibidang preceptorship yang dipilih berdasarkan kepakaran khusus dan lamanya bekerja dibidang preceptor. Untuk menentukan butir instrumen valid atau tidak, nilai CVR untuk jumlah 9 pakar adalah 0,75-1. Dengan kata lain semua item yang nilai CVR <0.75 dianggap tidak valid dan dieliminasi. Berdasarkan hasil analisis nilai CVR dari 238 butir pertanyaan ditemukan ada 43 item yang nilai CVRnya <0.75 sehingga butir tersebut dieliminasi. Dengan demikian ada 195 butir pertanyaan yang valid dimana nilai CVR 0,75 keatas. Tahapan validasi isi pengembangan instrumen ini telah dilakukan sesuai dengan kaidah pengembangan instrumen dan akan dilanjutkan kepada tahapan berikutnya yaitu pilot testing
Penyesuaian Diri Dan Homesickness Pada Mahasiswa Rantau
Homesickness is an emotional condition of an individual experiencing distress or discomfort due to separation from their living environment, which if prolonged will negatively impact the academic success and achievement of out-of-town students. Therefore, the ability to adapt becomes very important for out-of-town students in a new environment. The purpose of this study was to determine the relationship between adjustment and homesickness in first-year out-of-town students living in the dormitory of Klabat University. The research method used was quantitative through a cross-sectional approach, with the Spearman correlation test. The sampling technique used the total sampling method with a sample size of 90 respondents. The results of the study stated that 90 (100%) respondents had very high adjustment. For homesickness, the majority of 90 respondents were found to be in the high category, as many as 64 (71.1%). The results of the study showed a significant relationship between adjustment and homesickness in first-year out-of-town students with a low correlation, p-value = 0.000 (<0.05) with a correlation coefficient value of r = -0.411. Recommendations for further research include looking for other factors that can influence homesickness in students living away from home, such as gender factors.
Homesickness merupakan suatu kondisi emosional dari individu dimana mengalami distress atau perasaan tidak nyaman karena terpisah dengan lingkungan tempat tinggal yang jika berlangsung lama akan berdampak negatif terhadap keberlangsungan dan pencapaian akademis mahasiswa rantau, oleh karena itu kemampuan menyesuaikan diri menjadi hal yang sangat penting bagi mahasiswa rantau dalam lingkungan yang baru. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan penyesuaian diri dengan homesickness pada mahasiswa rantau tingkat 1 yang tinggal di asrama Universitas Klabat. Metode penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif melalui pendekatan cross-sectional, dengan uji spearman correlation. Teknik pengambilan sampel menggunakan motode total sampling dengan jumlah sampel 90 responden. Hasil penelitian menyatakan bahwa 90 (100%) responden mempunyai penyesuaian diri sangat tinggi. Untuk homesickness dari 90 responden didapati mayoritas berada pada kategori tinggi sebanyak 64 (71,1%). Hasil penelitian terdapat hubungan signifikan antara penyesuaian diri dengan homesickness pada mahasiswa rantau tingkat 1 dengan korelasi rendah, p-value=0,000(<0,05) dengan nilai koefisein korelasi r = -0,411. Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya dapat mencari faktor lain yang dapat mempengaruhi homesickness pada mahasiswa rantau seperti faktor gender
STRES AKADEMIK DAN POLA MAKAN PADA MAHASISWA KEPERAWATAN TINGKAT AKHIR
Eating pattern is an important component in maintaining body balance, improving immunity, preventing various diseases, and supporting the academic performance of students in facing various academic pressures. Lack of education causes many people to be unaware of the adverse effects of an imbalanced diet. This study aims to analyze the relationship between academic stress and eating patterns among final-year nursing students at Klabat University. The research method used is a descriptive correlational approach through a cross-sectional design with total sampling technique of 98 respondents. The two instruments—academic stress, measured using the Perceived Academic Stress Scale (PASS), and eating patterns—were adapted from previous questionnaires, which had been validated and tested for reliability with Cronbach's Alpha of 0.83 for academic stress and 0.70 for eating patterns. Data analysis using Pearson’s correlation test revealed a significant and negative correlation between academic stress and eating patterns (r = -0.329; p = 0.001). This means that higher levels of academic stress are associated with poorer eating patterns among students. These findings highlight the importance of stress management strategies and nutrition education as part of promotive-preventive efforts to enhance student well-being. Recommendations for future researchers include exploring other factors that may mediate the relationship between academic stress and eating patterns, such as coping mechanisms, sleep quality, and social support, as well as implementing interventions based on mindfulness, nutrition counseling, and the use of health companion apps to sustainably improve students' eating patterns.
Pola makan merupakan komponen penting dalam menjaga keseimbangan dan meningkatkan daya tahan tubuh, mencegah berbagai penyakit kronis serta mendukung performa akademik mahasiswa dalam menghadapi berbagai tekanan akademik. Kurangnya edukasi menyebabkan banyak orang tidak menyadari dampak buruk dari pola makan yang tidak seimbang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara stres akademik dengan pola makan pada mahasiswa keperawatan tingkat akhir Universitas Klabat. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasi melalui pendekatan cross sectional dengan teknik Total Sampling pada 98 responden. Kedua instrumen yaitu stress akademik yaitu Perceived Academic Stress Scale (PASS) dan pola makan, diadaptasi dari kuesioner sebelumnya, yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya dengan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,83 untuk stress akademik dan 0,70 unutk pola makan. Hasil analisis data menggunakan uji korelasi Pearson menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara stres akademik dan pola makan (r = -0,329; p = 0,001). Artinya, semakin tinggi tingkat stres akademik, maka semakin buruk pola makan mahasiswa. Temuan ini menunjukkan pentingnya strategi manajemen stres dan edukasi gizi sebagai bagian dari upaya promotif-preventif dalam meningkatkan kesejahteraan mahasiswa. Rekomendasi bagi peneliti selanjutnya adalah untuk mengeksplorasi faktor-faktor lain yang dapat memediasi hubungan antara stres akademik dan pola makan, seperti mekanisme koping, kualitas tidur, dukungan sosial, serta melakukan intervensi berbasis mindfulness, konseling gizi, dan penggunaan aplikasi pendamping kesehatan untuk memperbaiki pola makan mahasiswa secara berkelanjutan
INTENSITAS PENGGUNAAN SMARTPHONE DAN RISIKO TERJADINYA DE QUERVAIN’S SYNDROME KEPADA MAHASISWA FAKULTAS ILMU KOMPUTER DI UNIVERSITAS KLABAT
The intensity of smartphone use has been considered as one of the risk factors for developing De Quervain’s Syndrome, a condition caused by repetitive hand movements leading to inflammation of the wrist tendons. This study aimed to determine the relationship between smartphone usage intensity and the risk of De Quervain’s Syndrome among students of the Faculty of Computer Science at Universitas Klabat. A cross-sectional design was applied with statistical analysis using Spearman’s rho correlation and ordinal logistic regression. A total of 244 participants were recruited based on the Slovin formula with an additional 10% attrition rate. Research instruments included the De Quervain Screening Tool (DQST) and a smartphone usage intensity questionnaire. The results indicated that most participants had a high level of smartphone usage (88.5%), while the majority presented a low risk of De Quervain’s Syndrome in the right hand (43.4%) and in the left hand (42.2%). Statistical analysis showed p values of 0.791 for the right hand and 0.600 for the left hand, indicating no significant relationship between smartphone usage intensity and the risk of De Quervain’s Syndrome. Logistic regression analysis also revealed that the alpha values of all smartphone usage variables were >0.05, suggesting no partial effect on the risk. This study recommends that students use smartphones more wisely to prevent health problems and encourages further research to investigate other contributing factors related to intensive smartphone use.
Intensitas penggunaan smartphone merupakan salah satu faktor risiko yang dapat memicu terjadinya De Quervain Syndrome akibat gerakan berulang yang menyebabkan peradangan pada tendon pergelangan tangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas penggunaan smartphone dan risiko terjadinya De Quervain Syndrome pada mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Klabat. Penelitian menggunakan desain cross sectional dengan uji Spearman’s rho correlation dan ordinal logistic regression. Sebanyak 244 partisipan ditentukan melalui perhitungan rumus Slovin dengan tambahan 10% attrition rate. Instrumen penelitian berupa kuesioner De Quervain Screening Tool (DQST) dan kuesioner intensitas penggunaan smartphone. Hasil menunjukkan sebagian besar partisipan memiliki intensitas penggunaan smartphone tinggi (88,5%), serta risiko rendah untuk tangan kanan (43,4%) maupun tangan kiri (42,2%). Analisis statistik memperoleh p value tangan kanan (p=0,791) dan tangan kiri (p=0,600), sehingga tidak terdapat hubungan signifikan antara intensitas penggunaan smartphone dan risiko De Quervain Syndrome. Uji regresi logistik juga menunjukkan nilai alpha dari seluruh variabel >0,05 yang berarti tidak berpengaruh secara parsial terhadap risiko. Penelitian ini menyarankan mahasiswa agar lebih bijaksana menggunakan smartphone untuk mencegah masalah kesehatan, serta mendorong penelitian selanjutnya meninjau faktor lain yang mungkin berhubungan dengan penggunaan smartphone intensitas tinggi