Sciscitatio (E-Journal)
Not a member yet
73 research outputs found
Sort by
Profil Lipid dan Korelasinya dengan Tekanan Darah pada Lansia Hipertensi di Kelompok BKL Desa Ngentak Pondokrejo Tempel Tahun 2024
Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular terutama pada kelompok lanjut usia. Lansia dengan hipertensi yang disertai dengan gangguan profil lipid dapat memperburuk kondisi kardiovaskular. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran profil lipid serta mengetahui hubungan antara tekanan darah dengan profil lipid pada lansia dengan riwayat hipertensi di kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL) Desa Ngentak Pondokrejo Tempel. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan potong lintang. Data dikumpulkan melalui pengukuran tekanan darah dan pemeriksaan profil lipid yang meliputi kadar kolesterol total, kadar Low Density Lipoprotein (LDL), High Density Lipoprotein (HDL) dan trigliserida. Analisis hubungan tekanan darah dengan profil lipid dilakukan menggunakan regresi linier dengan program SPSS. Sebanyak 31 lansia dengan riwayat hipertensi menjadi subyek dalam penelitian ini, dengan mayoritas berjenis kelamin perempuan dan berada dalam kelompok lansia muda. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar subyek memiliki kadar kolesterol total, LDL dan trigliserida dalam kategori tinggi, sedangkan kadar HDL sebagian besar dalam kategori normal. Analisis statistik menunjukan bahwa korelasi antara tekanan darah sistolik dan diastolik dengan parameter profil lipid tergolongan sangat lemah dan tidak signifikan secara statistik. Kesimpulan pada penelitian ini adalah lansia dengan riwayat hipertensi memiliki kecenderungan profil lipid yang kurang baik, serta tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tekanan darah dengan profil lipid. Pengelolaan hipertensi pada lansia perlu dilakukan secara komprehensif dengan mempertimbangkan berbagai faktor risiko kardiovaskular yang lain
Analisis Kerapatan Stomata dan Morfologi Daun Cabai Rawit (Capsicum frutescens) yang Tumbuh di Lahan pada Ketinggian yang Berbeda di Wilayah Kabupaten Malang
Penurunan produktivitas tanaman cabai rawit dapat di pengaruhi oleh kondisi lingkungan seperti ketinggian tempat, intensitas cahaya, kelembaban, dan pH tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kerapatan stomata, karakter morfologi daun cabai rawit (Capsicum frutescens), dan menganalisis hubungan faktor abiotik dengan kerapatan stomata dan karakter morfologi daun cabai rawit (Capsicum fructescens) di ketinggian yang berbeda di wilayah kabupaten Malang. Metode penelitian yang digunakan deskriptif kuantitatif. Penentuan lahan tanaman cabai rawit menggunakan metode purposive sampling, yaitu lahan yang mewakili dataran rendah (293 mdpl), dataran sedang (488 mdpl), dan dataran Tinggi (1160 mdpl). Data kerapatan stomata dianalisis dengan analisis korelasi dan regresi linear yang diuraikan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara faktor lingkungan dengan respons anatomi yaitu kerapatan stomata, panjang daun lebar daun serta luas daun. Desa pujon memiliki respons anatomi tertinggi yaitu kerapatan stomata sebesar 254,78 individu/mm2, panjang daun 12,4 cm, dan lebar daun 4,8 cm, sedangkan luas daun tertinggi ada pada Desa Pujon yaitu 12,2 cm2. Kerapatan stomata daun cabai di Bantur memiliki nilai rata-rata 203,82 individu stomata/mm2, dan di Desa Wajak terdapat kerapatan stomata senilai jumlah rata-rata 198,73 individu stomata/mm2, sedangkan kerapatan stomata di Pujon memiliki nilai rata-rata 254,78 individu stomata/mm2. Kerapatan stomata daun tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens) di ketiga ketinggian tempat masih tergolong dalam kategori rendah, yaitu (<300/mm2). Sedangkan hasil data parameter panjang daun di dataran tinggi memiliki rata-rata 12,4 cm, lebih panjang dibandingkan dengan tanaman di dataran sedang (10,5 cm) dan dataran rendah (9,4 cm). Selain itu, lebar daun juga menunjukkan pola yang serupa, dengan rata-rata 4,8 cm di dataran tinggi, 4,5 cm di dataran sedang, dan 4,3 cm di dataran rendah. Untuk luas daun, tanaman di dataran tinggi memiliki rata-rata luas 12,2 cm², sedangkan di dataran sedang dan rendah masing-masing memiliki rata-rata 10,6 cm² dan 8,6 cm²
Insidensi Malaria di Kota Ambon: Pengaruh Faktor Iklim, Program Pengendalian, dan Risiko Tambahan
Iklim di Kota Ambon dikenal sebagai kondisi iklim yang khas karena cenderung tidak stabil akibat didominasi oleh wilayah perairan. Malaria merupakan salah satu penyakit yang tergolong endemis di Kota Ambon. Dilakukannya penelitian ini agar bisa mengetahui tentang insidensi malaria juga mengetahui hubungan faktor iklim dengan insidensi malaria. Lokasi koleksi data pada Kec. Nusaniwe, Sirimau, Baguala, dan Teluk Ambon dengan menggunakan analisis data uji korelasi regresi pada data iklim (curah hujan, suhu, kelembaban) dan data insiden malaria tahun 2016-2020. Pengumpulan informasi mengenai data iklim, data insiden malaria, program pengendalian dan faktor risiko tambahan diperoleh dari proses wawancara, pengamatan lapangan, dan data sekunder. Hasil menjelaskan bahwa diketahui insiden malaria di Kota Ambon terus menurun dengan persentase 93%. Selain itu, tidak ditemukan adanya hubungan antara iklim dan insidensi malaria berdasarkan uji regresi korelasi dengan nilai P value 0,754 (curah hujan), 0,104 (suhu), dan 0,637 (kelembaban). Faktor lain yang dapat mempengaruhi insiden malaria selain faktor iklim antara lain faktor risiko, lingkungan, demografi, perilaku, dan program pengendalian malaria
Deteksi Gen alg44, oprL dan toxA pada Pseudomonas aeruginosa Isolat Klinis dengan Metode Polymerase Chain Reaction
Gen alg44, oprL dan toxA merupakan gen yang berperan dalam faktor virulensi pada bakteri Pseudomonas aeruginosa yang dapat menyebabkan infeksi kronis pada manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeteksi adanya gen alg44, oprL dan toxA pada Pseudomonas aeruginosa dengan menggunakan isolat klinis berupa sputum, urine dan pus dengan metode Polymerase Chain Reaction. Penelitian ini dimulai dengan melakukan karakterisasi dari 6 sampel isolat klinis Pseudomonas aeruginosa yang berupa sputum, urine dan pus (masing-masing 2) melalui uji mikroskopis, makroskopis dan uji biokimia. Proses isolasi DNA bakteri menggunakan Presto Mini gDNA Bacteria Kit, hasil dari isolasi DNA dilakukan uji kualitatif elektroforesis gel agarosa dan uji kuantitatif dengan Spekrofotometer UV-Vis. Deteksi gen dilakukan pada enam sampel DNA Pseudomonas aeruginosa menggunakan metode Polymerase Chain Reaction dengan primer spesifik. Hasil dari PCR menyatakan bahwa gen alg44, oprL dan toxA terdeteksi pada semua isolat Pseudomonas aeruginosa
Perbedaan Konsentrasi Aquafaba dengan Tahu Sutra terhadap Sifat Fisikokimia Muffin Vegan
Aquafaba, cairan hasil rebusan kacang arab, dan tahu sutra berpotensi menjadi pengganti telur pada produk pangan vegan. Penelitian ini bertujuan membandingkan pengaruh variasi konsentrasi aquafaba dan tahu sutra terhadap sifat fisikokimia serta organoleptik muffin vegan, sekaligus menentukan formulasi terbaik. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) lima perlakuan (rasio aquafaba : tahu sutra = 100:0; 75:25; 50:50; 25:75; 0:100) dengan tiga ulangan. Parameter yang diuji meliputi kadar air, lemak, protein, firmness, springiness, warna, aroma, rasa, dan keempukan. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan uji Kruskal-Wallis, dilanjutkan DMRT dan Mann-Whitney. Hasil menunjukkan kadar air, firmness, springiness, warna, dan aroma tidak berbeda nyata (p>0,05), sedangkan kadar lemak, protein, rasa, dan keempukan berbeda nyata (p<0,05). Perlakuan terbaik diperoleh pada P3 (50% aquafaba : 50% tahu sutra) dengan kadar lemak 6,34%, protein 8,38%, rasa 4 (suka), keempukan 4 (suka), firmness 478,98 g, springiness 52,82%, kadar air 19,95%, warna 4 (suka), dan aroma 3 (netral). Hasil ini menunjukkan kombinasi aquafaba dan tahu sutra seimbang mampu menghasilkan muffin vegan dengan kualitas fisikokimia dan sensori optimal
Studi Etnobotani Herbal Untuk Kesehatan pada Masyarakat Desa Dampit dan Pamotan Kecamatan Dampit Kabupaten Malang
Penggunaan tumbuhan sebagai bahan herbal mengikuti perkembangan kemajuan manusia dan masih berlanjut sampai sekarang. Berbagai teknik telah digunakan dalam penelitian tumbuhan herbal mencakup pendekatan etnobotani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai herbal untuk kesehatan, cara penggunaan, cara mengolah,, dan distribusi jenis tumbuhan di daerah masyarakat Desa Dampit dan Desa Pamotan Kecamatan Dampit. Metode penelitian yang digunakan deskriptif eksploratif dengan pengambilan sampel responden secara purposive sampling sebanyak 10 informan. Data jenis tumbuhan, cara pengolahan dan cara penggunaan serta jumlah jenis tumbuhan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan spesies tumbuhan yang dimanfaatkan untuk kesehatan adalah 24 spesies tersebar pada 16 familia. Familia tumbuhan dengan jumlah jenis tertinggi adalah Zingiberaceae (9 jenis), Cucurbitaceae (3 jenis), dan 1 jenis pada 14 familia. Bagian tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai herbal untuk kesehatan ada 5 yaitu daun, buah, rimpang, umbi, dan kulit buah. Cara penggunaan tumbuhan herbal oleh masyarakat secara rutin (29%) dan tidak rutin (71%). Cara pengolahan ada 4 yaitu, direbus, diseduh, dimakan langsung, dan di blender. Hasil analisis distribusi terdapat 10 jenis tumbuhan yang tersebar di Desa Dampit (54% sebaran individu, 37,5% sebaran jenis) dan Desa Pamotan (45% sebaran individu, 29% sebaran jenis). Nilai distribusi tertinggi (100%) dijumpai pada 6 jenis tumbuhan
Kajian Penambahan Konsentrasi Ampas Kelapa pada Mocaf terhadap Karakteristik Fisikokimia dan Organoleptik Stik Keju
Stik keju merupakan jenis makanan ringan yang digemari masyarakat, akan tetapi kadar lemak tinggi dan gluten yang dikandung stik keju membuatnya kurang sesuai bagi individu dengan kebutuhan diet khusus. Penggunaan bahan baku alternatif seperti tepung mocaf (modified cassava flour) yang bebas gluten dan ampas kelapa yang kaya vitamin dan mineral berpotensi menyeimbangkan nilai gizi stik keju. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh formulasi tepung mocaf dan ampas kelapa terhadap karakteristik fisikokimia dan organoleptik stik keju. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan perbandingan mocaf dan ampas kelapa, yaitu P1 (90%:10%), P2 (80%:20%), P3(70%:30%), dan P4 (60%:40%). Parameter fisikokimia yang diuji meliputi kadar air, kadar abu, kadar lemak, tekstur, serta uji organoleptik menggunakan 30 panelis dengan skala hedonik. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan P3 menghasilkan stik keju dengan karakteristik terbaik, ditinjau dari nilai efektivitas tertinggi pada atribut rasa (0,142), tekstur (0,126), dan warna (0,095). Selain itu, perlakuan tersebut menghasilkan kadar abu sebesar 1,4467%, yang mencerminkan kandungan mineral yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Kombinasi mocaf dan ampas kelapa, khususnya pada formulasi 70%:30%, mampu menghasilkan stik keju yang disukai secara organoleptik dan memiliki karakteristik fisikokimia yang unggul. Hasil penelitian ini berpotensi dikembangkan sebagai produk pangan fungsional berbasis lokal yang bebas gluten dan kaya serat, serta mendukung pemanfaatan limbah agroindustri secara berkelanjutan
Perhitungan Bulk Density (Bd) sebagai Parameter Analisis Stok Karbon Organik Tanah di Perkebunan Plasma Kelapa Sawit Desa Sari, Tani Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo
Karbon merupakan unsur yang menjaga keseimbangan ekosistem melalui fotosintesis. Namun, alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian, khususnya perkebunan kelapa sawit, memicu pelepasan karbon dan menjadi penyebab peningkatan pelepasan gas-gas pemicu efek rumah kaca. Studi ini dilakukan untuk mengkaji stok karbon tanah di kawasan perkebunan kelapa sawit dan kawasan hutan di Desa Sari Tani. Metode yang digunakan adalah purposive sampling, dengan pengambilan sampel tanah pada dua lokasi: kawasan yang belum diolah dan kawasan perkebunan kelapa sawit. Setiap lokasi terdiri dari dua titik pengambilan sampel dengan tiga kedalaman tanah berbeda (0–10 cm, 10–20 cm, dan 20–30 cm). Analisis dilakukan terhadap nilai bulk density dan kandungan karbon organik tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan yang belum diolah memiliki stok karbon tanah yang lebih tinggi dibandingkan kawasan perkebunan sawit. Stasiun I di kawasan belum diolah mencatat stok karbon tertinggi sebesar 0,107 g/cm² pada kedalaman 0–10 cm, sedangkan stok karbon terendah ditemukan di Stasiun III kawasan perkebunan sawit, sebesar 0,044 g/cm² pada kedalaman 10–20 cm. menunjukkan bahwa kandungan karbon tertinggi berada pada lapisan tanah permukaan dan menurun seiring bertambahnya kedalaman. Selain itu, nilai bulk density cenderung lebih tinggi di kawasan perkebunan sawit, yang mengindikasikan adanya pemadatan tanah akibat aktivitas budidaya
Eksplorasi Etnobotani Herbal Untuk Kesehatan pada Masyarakat Pulau Giligenting Kecamatan Giligenting Kabupaten Sumenep
Obat tradisional dari bahan alam menjadi alternatif pengobatan oleh masyarakat Pulau Giligenting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, bagian, cara pengolahan dan penggunaan, serta distribusi jenis tumbuhan untuk kesehatan di Pulau Giligenting, Sumenep. Metode penelitian deskriptif eksploratif dengan teknik penjelajahan. Pengambilan sampel responden secara purposif. Data nama lokal, nama ilmiah, bagian yang dimanfaatkan, cara pengolahan dan cara penggunaan, jumlah jenis, dan jumlah individu tiap jenis dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian mendapatkan 12 jenis herbal untuk kesehatan, yaitu Andrographis paniculata (Burm.f) Nees, Phyllanthus acidus L, Annona muricata L., Azadirachta indica A.Juss, Swietenia macrophylla King, Leucaena leucocephala (Lam) de Wit, Syzygium cumini L, Muntingia calabura L., Cassia seamea Lamk., Anredera cordifolia (Ten) Steenis, Cinnamomum burmanni (Ness&T.Nees)Blume, dan Coriandrum sativum L. Organ tumbuhan herbal yang dimanfaatkan adalah batang, daun, buah, biji, kulit batang, dan akar, dimana daun merupakan organ yang paling banyak dimanfaatkan (50%). Tumbuhan diolah dengan cara ditumbuk, direbus, diseduh, atau langsung digunakan, dimana cara direbus merupakan cara paling banyak dilakukan (83,33%). Berdasarkan cara penggunaan, A.paniculata (Burm.f) Nees dikonsumsi secara rutin setiap hari (92%) dan dikonsumsi seminggu 2 kali (8%). Berdasarkan cara perolehan, masyarakat mendapatkan herbal dari hasil budidaya (42%), dari alam (33%), dan dari membeli (25%). Tumbuhan A. indica A.Juss, L. leucocephala (Lam) de Wit, dan M. calabura L. mempunyai distribusi tinggi (frekuensi 100%) karena ditemukan di empat desa Pulau Giligenting
Prinsip Kerja Sensor Elektrokimia dalam Penentuan Chemical Oxygen Demand (COD): Review
Peningkatan kebutuhan sumber air akibat tingginya populasi masyarakat memerlukan perhatian terhadap uji kualitas air. Chemical Oxygen Demand (COD) adalah indikator jumlah limbah organik di dalam air. Penggunaan sensor elektrokimia dalam pengukuran COD memberikan keuntungan lebih, seperti sensitivitas tinggi dan biaya murah. Pengukuran COD menggunakan sensor elektrokimia didasarkan pada reaksi oksidasi elektrokimia senyawa organik melalui reaksi dengan radikal hidroksil (.OH) pada elektroda kerja (WE). Terdapat 2 prinsip kerja yang digunakan dalam reaksi oksidasi limbah organik, yaitu degradasi fotokatalitik dan oksidasi elektrokatalitik. Melalui degradasi fotokatalitik, limbah organik dioksidasi pada permukaan material fotokatalitik di bawah pencahayaan (light illumination) yang telah menghasilkan radikal hidroksil (.OH). Pada oksidasi elektrokatalitik menggunakan anoda (BDD, PbO2, dan Cu) yang mempunyai kemampuan elektrokatalitik untuk melakukan proses reaksi oksidasi limbah organik