Journal IKIP PGRI Bali
Not a member yet
701 research outputs found
Sort by
Eksistensi Tri Hita Karana Membangun Kerukunan Umat Beragama Didusun Angantiga Desa Petang Kabupaten Badung
Kodrat manusia sejak dilahirkan memiliki perhatian terhadap reka-rekan sesamanya. Manusia yang telah memiliki berbagai jalinan unsur-unsur sosial dapat berhubungan timbal balik antara individu dengan individu, antara individu dengan kelompak,dan antara kelompok dengan kelompok. Sistem sosial atau bentuk pergaulan hidup yang tertata harmonis secara jelas memiliki unsur – unsur yang jelas dan pasti dipakai pedoman oleh anggota masyarakatnya.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bentuk-bentuk Aktivitas sosial budaya beragamadanFaktor-faktor pendukung terciptanya kerukunan serta pelaksanaan kerukunan beragama berdasarkan konsep Tri Hita Karana di Desa Adat Pekraman Angantiga. Data dikumpulkan dengan Metode observasi, wawancara dan pencatatan dokumen.
Berdasarkan hasil penelitian dapat terungkap beberapa bentuk dari aktivitas sosial budaya masyarakat Desa Adat Angantiga dari, bahasa Bali sebagai bahasa sehari – hari, adat- istiadat,yaitu perkawinan, otonan dan sunatan, kematian serta hari besar agama.Pendukung ,pemeritah berperan sangat penting dalam terciptanya kerukunan umat beragama melalui organisasi sosial budaya, organisasi subak basah dan kering, Organisasi PKK, STT, organisasi olahraga serta Hansip yang dapat membangun kebersamaan berada dibawah naungan pemerintah. kerukunan beragama berdasarkan konsep Tri Hita Karana di Desa Adat Pekraman Angantiga dapat berjalan sangat baik tanpa adanya konflik yang terjadi dari sejak awaltinggal umat Islam dengan umat Hindu sampai sekaran
Korelasi Antara Minat Dan Prestasi Belajar Kewirausahaan Terhadap Nilai Praktik Kerja Industri Siswa SMK Negeri 2 Sukawati Gianyar
Tujuan penelitian, hasil pengumpulan data, hasil analisis data dan hipotesis berkaitan dengan Sikap sosial, Budaya orgnisasi, Iklim kerja dan Kinerja karyawan dapat ditarik kesimpulan: (1) terdapat kontribusi positif yang signifikan Sikap sosial terhadap Kinerja karyawan sebesar 13,2%. Artinya semakin meningkat Sikap sosial semakin meningkat pula Kinerja karyawan, (2) terdapat kontribusi positif yang signifikan Budaya orgnisasi terhadapKinerja karyawan sebesar 37,0%. Artinya semakin meningkat Budaya orgnisasi semakin meningkat pula Kinerja karyawan, (3) terdapat kontribusi positif yang signifikan Iklim Kerja terhadapKinerja karyawan sebesar 12,9%. Artinya semakin meningkat Iklim Kerja semakin meningkat pula Kinerja karyawan, (4) terdapat kontribusi positif yang signifikan Sikap sosial, Budaya orgnisasi dan Iklim Kerja terhadap Kinerja karyawan dan diperoleh persamaan regresi berganda Y = 25,989 + 0,252 X1 + 0,594 X2 + 0,261 X3. Terlihat bahwa koefisien regresi Sikap sosial, Budaya orgnisasi dan Iklim Kerja memiliki tanda positip.Artinya semakin meningkat Sikap sosial, Budaya orgnisasi dan Iklim Kerja semakin meningkat pula Kinerja karyawan. Besarnya persentase kontribusi (determinasi) secara bersama-sama Sikap sosial, Budaya orgnisasi dan Iklim Kerja terhadap Kinerja karyawan (D) = 56,6
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN ARCS (ATENTTION, RELEVANCE, CONFIDENCE, SATISFACTION) TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA
The aim ofresearch was to determine (1) Whether or not the application of learning models ARCS influence on learning outcomes math class XI student of SMK Wira Harapanof the academic year 2016/2017, (2) To determine the students' response to the application of ARCS model of learning in mathematics.This research was conducted on a class XI student of SMK Wira Hope in the academic year 2016/2017. This study included quasi-experimental as well as with Matched Group Design. The population in this study are all class XI student of SMK Wira Harapan as many as 560 people and involved a sample of 60 people taken by simple random sampling technique. Student learning outcomes through mathematics achievement test. This study were analyzed by t-test, but previously tested the prerequisites are: normality test of data distribution and homogeneity of variance test.The results of learning achievement data analysis with significance level of 5% was obtained = 2,188, whereas = 2,045. Thus, greater than, means that the null hypothesis (Ho) is rejected and the alternative hypothesis (Ha) is accepted. This, showing no effects of the application of learning model ARCS on learning outcomes math class XI student of SMK Wira Harapan half of the school year 2016/2017. From the analysis of students' response to the application of ARCS learning model in the study of mathematics belongs in the positive
PENGARUH PELATIHAN BARRIER HOP 5 MENIT 4 SET SAMA BAIK DENGAN 10 MENIT 2 SET TERHADAP JARAK TENDANGAN BOLA LAMBUNG PEMAIN SEPAK BOLA UKM IKIP PGRI BALI
Permainan sepakbola lebih banyak menggunakan daya ledak otot tungkai, maka perlu diberikan pelatihan terhadap otot tersebut. Barrier hop merupakan pelatihan untuk meningkatkan daya ledak. Pelatihan yang dilakukan dalam penelitian ini ialah Barrier Hop 5menit 4 set dan 10 menit 2 set. Tujuan penelitian ini untuk membandingkan Barrier Hop 5 Menit 4 Set dan 10 Menit 2 Set untuk meningkatkan jarak tendangan bola lambung pemain sepak bola UKM IKIP PGRI Bali.Penelitian ini dilakukan pada 24 orang yang dipilih secara acak dari peserta UKM Sepak Bola IKIP PGRI Bali. Sampel dibagi menjadi dua kelompok yang terdiri dari 12 orang. Kelompok I diberikan latihan Barrier Hop 5 menit 4 set dan Kelompok II latihan Barrier Hop 10menit 2 set. Data sebelum dan sesudah perlakuan diuji dengan program SPSS. Dari hasil uji rerata jauhnya tendangan lambung pemain sepak bola sebelum pelatihan Kelompok I (36,11 ± 3,01) dan Kelompok II (35,45 ± 2,57) meter. Pada uji beda rerata jauhnya tendangan lambung pemain sesudah perlakuan antara Kelompok I sebesar 40,06 ± 2,85 dan Kelompok II sebesar 39,09 ± 2,02, Analisis kemaknaan dengan uji t-independent menunjukkan nilai p = 0,348, ini berarti antara Kelompok I dan Kelompok II setelah diberi perlakuan tidak berbeda (p > 0,05). Simpulan pelatihan Barrier Hop 5 menit 4 set dan 10 menit 2 set sudah terbukti meningkatan jarak tendangan bola lambung pemain sepakbola
PERANAN PENDEKATAN SISTEM PROSES KELOMPOK DALAM MENGOPTIMALISASIKAN PENGELOLAAN PEMBELAJARAN
Keberhasilan proses belajar mengajar memerlukan pengelolaan kelas yang baik, dan sebagai pengelola kelas, guru merupakan sosok yang memiliki peran strategis, karena dia sebagai perencana berbagai kegiatan yang akan dilakukan di kelas. Untuk dapat mengimplementasikan kegiatan yang direncanakan, tentu saja dia harus menentukan alternative sebagai solusi dari berbagai hambatan dan tantangan yang muncul. Salah satu pendekatan yang bisa digunakan untuk mengoptimalisasikan pengelolaan kelas adalah dengan pendekatan sistem proses kelompok yaitu pendekatan yang digunakan guru untuk meningkatkan dan memelihara kelompok kelas agar tetap efektif dan produktif. Untuk mampu mengoptimalkan pengelolaan pembelajaran seorang guru harus melakukan kegiatan dalam kelas seperti : mengelola kelas, mengelola siswa, mengelola proses belajar mengaja
Pengaruh Gaji, Fasilitas Kerja, Dan Motivasi Kerja Terhadap Semangat Karyawan Pada Swalayan Cahaya Melati Tahun 2015
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui Pengaruh Gaji dan Motivasi terhadap Semangat Kerja Karyawan pada Swalayan Cahaya Melati Semarapura Klungkung Tahun 2015. Dalam penelitian ini mengumpulkan data tentang Pengaruh Gaji, Motivasi, dan Semangat Kerja menggunakan metode kuesioner, dokumentasi dan metode wawancara.Berdasarkan perhitungan analisis regresi pengaruh antara variabel bebas Pengaruh Gaji (X1) dan Motivasi (X2) terhadap variabel terikat Semangat Kerja (Y) diperoleh hasil Ry (1,2) = 0,87260 dan R2y (1,2) = 0,76014. Melalui hasil dengan mempergunakan Freg sebesar 58,63%. Jika Freg di konversikan dengan nilai Ftabel dengan db= m lawan N-m-1 atau 37/2 dengan taraf signifikan 5% diperoleh nilai Ftabel sebesar 3,23. Karena Freg> Ftabel hal ini berarti Ho ditolak dan Ha diterima. Maka ini menunjukan ada Pengaruh Gaji dan Motivasi terhadap Semangat Kerja Karyawan pada Swalayan Cahaya Melati Semarapura Klungkun
PENGARUH PELATIHAN MENENDANG BOLA KE DINDING DENGAN KAKI BAGIAN DALAM JARAK 15 METER 10 REPETISI 3 SET DAN 15 REPETISI 2 SET TERHADAP KETEPATAN MENENDANG BOLA KE GAWANG DALAM PERMAINAN SEPAK BOLA EKSTRAKURIKULER SISWA SDN 1 YEHKUNING
Pelatihan menendang bola dalam permainan sepak bola sangat penting diberikan karena tendangan arah ke gawang sangatlah penting dalam sebuah permainan sepak bola. Beberapa metode pelatihan yang dapat meningkatkan ketepatan tendangan adalah melalui latihan tersebut diantaranya adalah pelatihan menendang bola ke dinding dengan kaki bagian dalam jarak 15 meter 10 repetisi 3 set dan 15 repetisi 2 set. Dalam hal ini penelitian bertujuan untuk mengetahui : (1) pengaruh pemberian pelatihan menendang bola ke dinding dengan kaki bagian dalam jarak 15 meter 10 repetisi 3 set terhadap ketepatan tendangan ke gawang; (2) pengaruh pemberian pelatihan menendang bola ke dinding dengan kaki bagian dalam jarak 15 meter 15 repetisi 2 set terhadap ketepatan tendangan ke gawang; (3) perbedaan pengaruh antara pelatihan 10 repetisi 3 set dan pelatihan 15 repetisi 2 set terhadap ketepatan tendangan ke gawang. Prosedur pengambilan data dilakukan dengan melakukan pretest dan posttest ketepatan tendangan ke gawang dengan menggunakan gawang yang berisikan petak skor. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan bantuan SPSS 19. Hasil dari penelitian ini adalah : (1) Pemberian pelatihan 10 repetisi 3 set berpengaruh signifikan terhadap peningkatan ketepatan tendangan ke gawang sebesar 35,32%. Hasil uji t menyatakan nilai thitung, (3,534) > nilai ttabel (1,833), artinya hipotesis teruji kebenarannya. (2) Pemberian pelatihan 15 repetisi 2 set berpengaruh signifikan terhadap peningkatan ketepatan tendangan 40,58%. Hasil uji t menyatakan nilai thitung (7,465) > nilai ttabel (1,833), artinya hipotesis teruji kebenarannya. (3) Terdapat perbedaan signifikan pengaruh pelatihan kelompok 10 repetisi 3 set, 15 repetisi 2 set dan kontrol terhadap ketepatan tendangan ke gawang ekstrakurikuler sepak bola SD Negeri 1 Yehkuning. Hasil anova menyatakan nilai Fhitung (5,647) > nilai Ftabel (3,35), berarti hipotesis teruji kebenarannya. Perhitungan post hoc menyatakan bahwa pelatihan 15 repetisi 2 set memberikan hasil yang lebih baik terhadap ketepatan tendangan ke gawang. Dapat disimpulkan bahwa pelatihan menendang bola ke dinding dengan kaki bagian dalam jarak 15 meter 10 repetisi 3 set dan 15 repetisi 2 set berpengaruh signifikan terhadap peningkatan ketepatan tendangan ke gawang
Kebijakan Pemerintah Kolonial Dalam Penanganan Penyakit Cacar Di Jawa Abad XIX-XX
Kebijakan Pemerintah Kolonial Belanda di Jawa pada abad 19-20 tidak hanya bertumpu pada soal-soal ekonomi, politik dan pemerintahan tetapi juga menyasar kebijakan lain yaitu penanggulangan penyakit. Pada abad ke 19 di Jawa muncul beberapa penyakit yang memang lazim dialami oleh penduduk yang tinggal di kawasan timur dan beberapa penyakit tersebut justru menimbulkan permasalahan yaitu epidemic yang menjangkiti hampir seluruh Jawa. Beberapa penyakit tersebut antara lain kolera, malaria, dan cacar. Tulisan ini mencoba untuk memfokuskan pada kebijakan-kebijakn apa saja yang telah dilakukan oelh pemerintah kolonial Belanda untuk menanggulangi berbagai permasalahan yang ditimbulkan oleh penyakit caca
Studi Evaluatif Pelaksanaan PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) Di IKIP PGRI Bali
Penelitian ini bertujuanuntukmengetahuidanmendeskripsikan: (1) Pelaksanaan Program PPL ditinjau dari segi latar (contexts), (2) Pelaksanaan Program PPL ditinjau dari segi kualitas daya dukung (input), (3) Pelaksanaan Program PPL ditinjau dari segi kualitas prosedur penyelenggaraan (process), (4) Pelaksanaan Program PPL ditinjau dari segi keterkaitannya dengan ketercapaian tujuan (products), (5) Kendala-kendala yang dihadapi dalam Pelaksanaan Program PPL. Penelitian ini termasuk jenis penelitian evaluatif dengan mengadopsi model CIPP dari Stufflebeam. Sampel penelitian 274 peserta PPL di IKIP PGRI Bali yang diambil secara acak.
Data yang diperoleh selanjutnya dilakukan analisis dengan jalan mengubah skor tersebut ke dalam skor-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) peserta ditinjau dari variabel konteks berada dalam kategori baik dalam menyelenggarakan PPL, atau pelaksanaan PPL ditinjau dari variabel konteks sebanyak 54,38% responden memperoleh skor di atas rata-rata. (2) peserta ditinjau dari variabel input berada dalam kategori baik dalam menyelenggarakan PPL, atau pelaksanaan PPL ditinjau dari variabel konteks sebanyak 55,84% responden memperoleh skor di atas rata-rata. (3) peserta ditinjau dari variabel proses berada dalam kategori baik dalam menyelenggarakan PPL, atau pelaksanaan PPL ditinjau dari variabel konteks sebanyak 52,55% responden memperoleh skor di atas rata-rata. (4) peserta ditinjau dari variabel produk berada dalam kategori baik dalam menyelenggarakan PPL, atau pelaksanaan PPL ditinjau dari variabel produk sebanyak 51,11% responden memperoleh skor di atas rata-rata.
Berdasarkan pada paparan kondisi di atas, dapat disimpulkan bahwa penyelenggaraan Program Pengalaman Lapangan di IKIP PGRI Bali ditinjau dari variabel konteks, input, proses dan produk telaha berjalan dengan bai
MASASE GENERAL SEBAGAI PEMULIHAN PASIF DALAM MENINGKATKAN KECEPATAN LARI 100 METER
Proses pemulihan yang baik ialah apabila seseorang yang telah melakukan proses pemulihan tersebut tidak merasa lelah lagi akibat aktifitas fisik yang dilakukan sebelumnya dan siap melakukan aktifitas fisik selanjutnya. Aktifitas olahraga yang sering dilakukan yaitu menggunakan kecepatan lari. Masase olahraga merupakan cara yang tepat untuk mendukung kekuatan fisik seorang atlet baik untuk peningkatan prestasi olahraga maupun pencegahan cedera olahraga, pada atlet saat latihan atau pertandingan. Manipulasi-manipulasi masase dapat berupa urutan, pijatan, dan lain-lain yang dipilih dan disusun secara sistematis berdasarkan prinsip-prinsip fisiologi dan anatomi, serta disesuaikan dengan kondisi jaringan