Journal IKIP PGRI Bali
Not a member yet
701 research outputs found
Sort by
Pengaruh Model Pembelajaran Kolaboratif Dan Motivasi Belajar Terhadap Hasil Belajar Matematika Peserta Didik Kelas X IPS SMA Negeri 1 Abiansemal
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kolaboratif dan motivasi belajar terhadap hasil belajar matematika peserta didik kelas X IPS SMA Negeri 1 Abiansemal tahun pelajaran 2018/2019. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu dengan desain Treatment by Level.Populasi didalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas X SMA Negeri 1 Abiansemal tahun pelajaran 2018/2019 sebanyak 4 kelas.Dengan teknik simple random sampling, diambil 4 kelas sebagai sampel, yaitu kelas X IPS 3dan X IPS 2 sebagai kelompok kontrol dan X IPS 1 dan X IPS 4 sebagai kelompok ekperimen. Instrumen yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah tes untuk mengukur hasil belajar matematika dan angket untuk mengukur motivasi belajar peserta didik.Dalam penelitian ini menggunakan uji prasyarat uji analisis (ANAVA) dua jalur, dan uji lanjut berupa uji tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Ada perbedaan hasil belajar matematika peserta didik yang mengikuti model pembelajaran kolaboratif dengan peserta didik yang mengikuti model pembelajaran konvensional pada peserta didik kelas X IPS SMA Negeri 1 Abiansemal; 2) Ada interaksi antara model pembelajaran dan motivasi belajar terhadap hasil belajar matematika peserta didik kelas X IPS SMA Negeri 1 Abiansemal; 3) Peserta didik yang memiliki motivasi belajar tinggi, hasil belajar matematika peserta didik yang mengikuti model pembelajaran kolaboratif lebih baik daripada peserta didik yang mengikuti model pembelajaran konvensional pada peserta didik kelas X IPS SMA Negeri 1 Abiansemal; 4) Peserta didik yang memiliki motivasi belajar rendah, hasil belajar matematika peserta didik yang mengikuti model pembelajaran konvensional tidak lebih baik daripada peserta didik yang mengikuti model pembelajaran kolaboratif pada peserta didik kelas X IPS SMA Negeri 1 Abiansemal.
 
EFEK LATIHAN MULTIPLE BOX JUMP TERHADAP PENINGKATAN POWER OTOT TUNGKAI
Olahraga didefinisikan sebagai segala aktivitas fisik yang dilakukan dengan sengaja dan sistematis untuk mendorong, membina, dan mengembangkan potensi jasmani, rohani dan sosial. latihan plyometric dianggap sebagai salah satu cara latihan yang paling efektif untuk meningkatkan daya ledak otot, baik pada pelari jarak pendek. Jenis penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian kuantitatif dengan metode eksperimen. Salah satu ciri penelitian eksperimen adalah adanya perlakukan (treatmen). Berdasarkan metode eksperimen tersebut, maka digunakan rancangan pre test-post test desain group. Penelitian ini menggunakan sampel pembinaan prestasi Bolavoli Mahasiswa Universitas PGRI Adi Buana Surabaya yang dibagi dalam 1 kelompok yang berjumlah 30 orang dengan jenis kelamin laki-laki dengan memberikan latihan Multiple Box Jump dengan menggunakan uji analisis Paired sample T test. Hasil analisis menunjukan bahwa terdapat peningkatan explosive power pemain bola voli putra sebelum dan sesudah latihan multiple box jump.Latihan box jump adalah bentuk latihan plyometrik
TINGKAT KECEMASAN ATLET BOLA VOLI PUTRA SEMESTER GENAP 2018/2019 IKIP PGRI BALI SEBELUM, PADA SAAT ISTIRAHAT DAN SESUDAH PERTANDINGAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan perbedaan tingkat kecemasan atlet bola voli putra semester genap 2018/2019 sebelum, pada saat istirahat dan sesudah pertandingan. Sampel pada penelitian ini adalah 40 atlet bola voli putra semester genap 2018/2019 IKIP PGRI Bali dengan menggunakan teknik random sampling. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan skala level kecemasan SCAT (Sport Competition AnxietyTest). Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif komparatif dengananalisis uji one way anova dari software SPSS versi 22. Hasil analisis data diketahui bahwa hasil uji perbandingan antara tingkat kecemasan sebelum bertanding dan sesudah bertanding yaitu memiliki signifikansi sebesar p = 0.000, tingkat kecemasan pada saat istirahat bertanding dan sesudah bertanding memiliki signifikansi sebesar p = 0.000, tingkat kecemasan sebelum bertanding dan pada saat istirahat bertanding memiliki signifikansi p = 0.317. Hasil keputusan berdasarkan uji hipotesis yang menunjukkan signifikansi (p<0.05), maka H0 ditolak, yaitu terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat kecemasan sebelum bertanding dengan sesudah bertanding dan terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat kecemasan pada saat istirahat bertanding dengan sesudah bertanding. Sedangkan hasil keputusan berdasarkan uji hipotesis yang menunjukkan signifikansi (p>0.05), maka H0 diterima, yaitu tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat kecemasan sebelum bertanding dengan sesudah bertanding
PERAN KECINTAAN MEREK DALAM MEMBANGUN HUBUNGAN DENGAN PELANGGAN: Studi pada Pengguna iPhone di Denpasar
Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji peran kecintaan merek dengan pendekatan kausal dan faktor-faktor yang membangun hubungan merek konsumen (identifikasi merek, kepercayaan merek dan komitmen merek) yang berdampak pada word-of mouth dan kesediaan untuk membayar dengan harga premium pada pengguna iPhone. Pengujian hipotesis penelitian menggunakan metode Partial Least Square dengan sampel sebanyak 100 orang yang berdomisili di Denpasar. Penentuan sampel dengan metode nonprobability sampling, yaitu purposive sampling, dengan kriteria responden yang menggunakan smartphone iPhone selama 2 tahun terakhir. Temuan pada penelitian ini menunjukkan identifikasi merek berpengaruh positif dan signifikan terhadap kecintaan merek dan komitmen merek. Kepercayaan merek berpengaruh positif dan signifikan terhadap kecintaan merek dan komitmen merek. Kecintaan merek berpengaruh positif dan signifikan terhadap komitmen merek, word-of-mouth, dan kesediaan membayar dengan harga premium. Komitmen merek berpengaruh positif dan signifikan terhadap word-of-mouth dan terhadap kesediaan membayar dengan harga premium. Penelitian ini memiliki implikasi bahwa penting bagi pihak manajemen untuk meningkatkan kesadaran merek iPhone sehingga pengguna dapat dengan mudah mengenali merek melalui bentuk produk, durabilitas produk, dan kecanggihanny
KARIER PROFESIONAL SEBAGAI SARANA BAGI PEREMPUAN UNTUK MENDAPATKAN KEMANDIRIAN KEUANGAN
Tulisan ini membahas tentang karier profesional sebagai sarana bagi perempuan untuk mendapatkan kemandirian keuangan. Dalam suatu pekerjaan professional digunakan tehnik serta prosedur yang bertumpu pada landasan intelektual yang secara sengaja harus dipelajari dan secara langsung dapat diabdikan bagi keselamatan orang lain. Dewasa ini sudah banyak perempuan yang mampu berkarier secara professional ( sebagai dokter, apoteker, perawat, psikolog, akuntan, pengacara, , peneliti, fotografer, arsitek, guru, dosen, progremer ). Karier yang dilakukan sesuai dengan keahlian dan jenjang pendidikan yang dimiliki. Dengan ikut sertanya perempuan berkarier secara professional, akan mampu meningkatkan penghasilan keluarga. Ini diharapkan mampu memecahkan persoalan-persoalan ekonomi yang ada dewasa ini. Kebutuhan-kebutuhan dalam keluarga makin banyak dan bervariatif sesuai dengan tuntutan zaman sudah barang tentu harus dipenuhi dengan penghasilan yang memadai. Dipihak lain dengan berkarier seorang perempuan juga mampu meningkatkan status sosialnya di masyarakat, dan tidak tergantung pada penghasilan suami semata
Analisis kebijakan penyederhanaan RPP: Surat edaran menteri pendidikan dan kebudayaan nomor 14 tahun 2019
Education in the era of the industrial revolution 4.0 is directed at developing 21st century competencies, which consist of three main components namely thinking, acting and living in the world. The thinking component includes critical thinking, creative thinking, and problem solving skills. So that goals can be achieved, good planning is needed, teachers will be easier to carry out learning and students will be more helped and easier to learn. According to the Minister of Education and Culture the important thing in a learning implementation plan is not about writing, but about the teacher's reflection process towards learning that occurs. The main task of a teacher is to educate, with the simplification of this lesson plan the teacher will return to the main points and functions because there is no need to take care of the lesson sheet in pieces. School accreditation instruments also need to be considered so that there is no overlap between school accreditation and circular letter 14 of 2019 Simplifying the Learning Implementation Plan.
Pendidikan pada era revolusi industri 4.0 diarahkan untuk pengembangan kompetensi abad 21, yang terdiri dari tiga komponen utama yaitu berpikir, bertindak dan hidup di dunia. Komponen berpikir meliputi berpikir kritis, berpikir kreatif, dan kemampuan pemecahan masalah. Agar tujuan itu dapat tercapai, maka diperlukan perencanaan yang baik, guru akan lebih mudah dalam melaksanakan pembelajaran dan siswa akan lebih terbantu dan mudah dalam belajar. Menurut Mendikbud hal yang penting dalam sebuah rencana pelaksanaan pembelajaran bukan tentang penulisannya, melainkan tentang proses refleksi guru terhadap pembelajaran yang terjadi. Tugas utama seorang guru adalah mendidik, dengan penyederhanaan RPP ini guru akan kembali kepada pokok dan fungsi utamanya karena tidak perlu lagi mengurusi RPP yang berlembar-lembar. Instrumen akreditasi sekolah juga perlu diperhatikan agar tidak tumpang tindih antara akreditasi sekolah dan surat edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 14 Tahun 2019 Tentang Penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Upaya meningkatkan aktivitas dan penguasaan huruf hiragana melalui team games tournament (TGT) berbasis kartu read and punishment
This study is aimed to increase learning activity and mastery of hiragana letters for students through the application of cooperative learning with Team Games Tournament (TGT) based on Read and Punishment Card. The study was held on 8 January to March 2019. The subject is 32 Grade X students of language major in the second semester of SMA Negeri 1 Kuta Selatan in the academic year 2018/2019 and the objects are the learning activity and the mastery of hiragana letters of the students. The data of this research were analysed by descriptive quantitative method that was collected not only from the average of the students’ scores based on the individual or classical result of the test but also from the learning activity of the students during the learning process. The result shows that there is improvement in the learning activity and the mastery of hiragana letter of the students. The learning activity increases by 18.75% from the first cycle and the mastery of the hiragana letter also increases by 12.5% from the first cycle.
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan penguasaan huruf hiragana siswa melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT) berbasis kartu Read and Punishment. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 8 Januari sampai dengan tanggal 26 Maret 2019. Subjek penelitian terdiri atas 32 orang siswa kelas X jurusan bahasa semester II SMA Negeri 1 Kuta Selatan tahun pelajaran 2018/2019 dan objek penelitian meliputi aktivitas dan penguasaan huruf hiragana siswa. Data dianalisis dengan metode deskriptif kuantitatif yang diperolah dari nilai rata-rata hasil tes baik klasikal maupun individual dan menganalisis aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas dan penguasaan huruf hiragana siswa. Aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran terjadi peningkatan sebesar 18,75% dari siklus I dan peningkatan penguasaan huruf hiragana siswa sebesar 12,5% dari siklus I
PELATIHAN PEMANFAATAN BAHAN AJAR BERMUATAN PENDIDIKAN KARAKTER, LITERASI DAN BERBASIS DIGITAL di SMK WIRA HARAPAN
SMK Wira Harapan berdiri sejak tahun 2008, beralamat di Jalan Raya Padang Luwih, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Luas lahan yang dimiliki SMK Wira Harapan adalah 5.400 m 2 , luas bangunan 4.300 m 2 . Fokus dari SMK Wira Harapan adalah mengembangkan Pendidikan karakter dan pembelajaran berbasis digital. 1) kurangnya pengetahuan dan pemahaman guru untuk memanfaatkan bahan ajar bermuatan pendidikan karakter dan budaya antikorupsi; 2) Kurangnya pengetahuan dan pemahaman guru untuk memanfaatkan bahan ajar berbasis literasi; 3) Kurangnya pengetahuan dan pemhaman guru untuk memanfaatkan bahan ajar berbasis digital. Permasalahan ini diatasi dengan kegiatan sosialisasi dan pendampingan. Adapun hasil yang dieproleh adalah : 1) Guru mampu memanfaatkan bahan ajar bermuatan pendidikan karakter dan budaya antikorupsi; 2) Guru mampu memanfaatkan bahan ajar berbasis digital; 3) Guru mampu memanfaatkan dan mengembangkan bahan ajar berbasis digital
Sejarah Mangupura Sebagai Ibu Kota Kabupaten Badung Tahun 1992-2009
Dalam rangka mencari karakteristik ibu kota di Indonesia, ada beberapa gagasasan lokal mengenai perkotaan dengan fungsi ruang yang berbeda-beda, akan tetapi tidak semua daerah memiliki pemukiman urban, sehingga dengan pembeberan konsep-konsep lokal akan diketahui antara hubungan antara fungsi ruang masing-masing, maupun lingkungan sekitarnya. Dari zaman modern ini pusat perkotaan mempunyai fungsi lebih sebagai kawasan pelayanan dalam memaknai kota tersebut, maka lebih banyak identitas kota tersebut ditonjolkan berdasarkan tujuan fungsi kota, seperti kota pendidikan, perdagangan, rekreasi, budaya atau kota pusat pemerintahan.Maka pada tahun 1992, Kabupaten Badung kembali dikembangkan menjadi dua wilayah yakni Daerah Kota Madya Denpasar, dengan Ibu Kota Denpasar dan Kabupaten Daerah Tingkat II Badung. Demikian, dua pemerintahan kota/kabupaten itu sekaligus diresmikan, tanggal 27 Februari 1992, berdasarkan Undang-Undang No. 1 Tahun 1992 Tentang Pembentukan Kota Madya Daerah Tk.II Denpasar Kota Denpasar. Untuk sementara, pusat, Ibu Kota Daerah Tk.II Badung masih terletak di Kota Denpasar (Lumintang). Namun tidak seorang pun menduga, pusat pemerintahan Badung di Lumintang terbakar sesudah satu kegiatan pemilihan umum yang mengecewakan masyarakat Bali tepatnya 20 Oktober 1999.fenomena tersebut di atas maka penulis merasa tertarik untuk mengangkat masalah diatas menjadi sebuah kajian atau bahan penelitian dengan judul “Sejarah Mangupura Sebagai Ibu Kota Kabupaten Badung dari Tahun 1992-2009
Upaya peningkatan kemampuan guru dalam menyusun silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) melalui diskusi kelompok terfokus di SMAN 1 Waingapu
Based on observations made on the teachers at SMA Negeri 1 Waingapu, it was found that the ability of teachers in preparing syllabus and lesson plans (RPP) that are complete and systematic is still lacking. This can be seen in the performance of teachers who have not based on how to think, behave and act in a system that is emphasizing changes according to the flow of inputs, processes, and outputs. To improve the ability of teachers to prepare syllabus and lesson plans that are complete and systematic, an action research study consisting of two cycles is conducted. Data on the ability of teachers in compiling syllabi and lesson plans was collected through syllabus and lesson plans using the Syllabus and RPP Assessment Instruments developed by the East Nusa Tenggara Province Educational Quality Assurance Institution (LPMP) which was empirically tested by researchers. Then the data is analyzed by using descriptive statistics. The results showed an increase in the ability of teachers to compile the syllabus and lesson plans as follows: The ability of teachers to compile the syllabus in the initial conditions with an average value of 65.57 and the percentage of eligibility 32.60%, while in the first cycle it became 76.07 with a percentage of eligibility 71, 74%. In cycle II the value obtained was 80.57 with a feasibility value of 91.30%. The total percentage increase in compiling the syllabus at the end of the second cycle was 2.17%. While the ability to prepare lesson plans in the initial conditions the average value of 67.37 and the percentage of eligibility 41.30%. At the end of the first cycle, the value becomes 77.63 with a feasibility percentage of 82.61%. At the end of cycle II the average value obtained was 81.39, the percentage of eligibility was 100% and the total increase was 2.17%. Another achievement of the results of this study is a shift in the way of thinking of teachers from all bureaucratic, instructive and high dependence on the work of others to non-bureaucratic, cooperative, collaborative, creative, and independent.
Berdasarkan observasi yang dilakukan terhadap guru-guru di SMA Negeri 1 Waingapu, ditemukan bahwa kemampuan guru dalam menyusun silabus dan RPP yang lengkap dan sistematis masih kurang. Hal ini terlihat pada kinerja guru yang belum dilandasi cara berfikir, bersikap dan bertindak secara sistem yaitu menekankan pada perubahan menurut alur input, proses, dan output. Untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun silabus dan RPP yang lengkap dan sistematis tersebut, dilakukan penelitian tindakan yang terdiri dari dua siklus. Data tentang kemampuan guru dalam menyusun silabus dan RPP dikumpulkan melalui penilaian silabus dan RPP menggunakan Instrumen Penilaian Silabus dan RPP yang dikembangkan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Nusa Tenggara Timur yang telah diuji coba secara empirik oleh peneliti. Selanjutnya data tersebut di analisis dengan menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan guru menyusun silabus dan RPP sebagai berikut: Kemampuan guru menyusun silabus pada kondisi awal dengan nilai rata-rata 65,57 dan prosentase kelayakan 32,60%, sedangkan pada siklus I menjadi 76,07 dengan prosentase kelayakan 71,74%. Pada siklus II nilai yang diperoleh 80,57 dengan nilai kelayakan 91,30%. Total prosentase kenaikan dalam menyusun silabus pada akhir siklus II sebesar 2,17%. Sedangkan kemampuan menyusun RPP pada kondisi awal nilai rata-rata 67,37 dan prosentase kelayakan 41,30%. Pada akhir siklus I nilai menjadi 77,63 dengan prosentase kelayakan 82,61%. Akhir siklus II nilai yang diperoleh rata-rata 81,39, prosentase kelayakan 100% serta total kenaikan mencapai 2,17%. Prestasi yang lain dari hasil penelitian ini adalah terjadinya pergeseran cara berfikir guru dari serba birokratik, instruktif dan ketergantungan tinggi pada hasil karya orang lain ke non birokratik, kooperatif, kolaboratif, kreatif, dan mandiri