E-Jurnal Politeknik Kesehatan Kemenkes Kendari
Not a member yet
783 research outputs found
Sort by
Evaluasi Potensi Hidrogel Ekstrak Daun Afrika (Vernonia Amygdalina) dalam Meningkatkan Penyembuhan Luka Perineum pada Kelinci (Oryctolagus Cuniculus)
Ringkasan: Latar belakang: Ruptur perineum merupakan komplikasi umum persalinan yang berdampak pada kualitas hidup ibu. Pengembangan terapi alternatif menggunakan ekstrak daun afrika potensial dalam mendukung penyembuhan luka. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas hidrogel daun afrika (Vernonia amygdalina) terhadap penyembuhan luka perineum pada kelinci. Metode: Penelitian true experimental dengan rancangan randomized post test with control group menggunakan 12 ekor kelinci, dibagi kelompok kontrol (perawatan luka bersih) dan intervensi (hidrogel daun afrika 30% dua kali sehari, 7 hari). Pengukuran menggunakan skala REEDA dan dianalisis statistik Friedman serta Mann Whitney. Hasil: Hasil menunjukkan penyembuhan luka pada kelompok hidrogel daun afrika signifikan lebih cepat, ditandai penurunan skor REEDA bermakna hari ke-3, 5, dan 7 dibanding kontrol (p<0,05). Simpulan: Hidrogel daun afrika efektif mempercepat penyembuhan luka perineum pada hewan model. Saran: Disarankan uji klinik lanjut pada manusia dan evaluasi mikroskopis epitelisasi.Ruptur Perineum terjadi hampir pada semua persalinan pervaginam yang dialami oleh ibu bersalin dan akan menimbulkan rasa nyeri dan tidak nyaman, selain itu akan berpengaruh pada kondisi ibu dalam pemberian laktasi dan perawatan sehari-hari bayinya. Oleh karena itu, proses penyembuhan luka perineum yang baik dan efektif sangat penting. Salah satu herbal yang dapat digunakan dalam membantu mempercepat proses penyembuhan luka perineum adalah daun Afrika (vernoniaa amygdalina), yang mengandung zat yang dapat mempercepat proses penyembuhan luka. Agar semakin nyata pemanfaatan daun afrika ini maka perlu pengaplikasian pada hewan kelinci bertina (oryctolagus cuniculus) sebelum diterapkan pada luka perineum ibu postpartum. Pemilihan sediaan hidrogel mampu memberikan rasa dingin dikulit sehingga menimbulkan rasa nyaman pada saat diaplikasikan pada daerah yang dituju serta sediaannya mudah mengering membentuk lapisan film yang mudah dicuci dengan air. Design yang digunakan true experiment dengan rancangan penelitian randomized post test with control group. Populasi penelitian ini adalah 12 ekor kelinci yang terbagi menjadi 2 kelompok, yakni kelompok (I) perawatan luka kering bersih dan kelompok (II) perawatan luka dengan hidrogel daun afrika 30% 2 kali sehari selama 7 hari. Pengukuran luka menggunakan skala skor REEDA. Perawatan dilakukan selama 7 hari dengan prevelensi penilaian skor REEDA. Uji statistik menggunakan Friedman dan mann whitney. Hasil pengujian waktu penyembuhan luka perineum pada hari ke ketiga sampai ke tujuh. Perawatan luka kering bersih lebih lama sembuh dibandingkan dengan luka yang diberi hidrogel daun afrika. Hasil analisis kedua kelompok terdapat penurunan skala REEDA yang bermakna pada hari ke 3,5 sampai ke 7, sehingga dapat disimpulkan bahwa perawatan luka perinemum pada kelinci dengan pemberian hidrogel daun afrika dapat membantu mempercepat proses penyembuhan luka perineu
Kajian Analisis Pemberian Makanan Tambahan Berbahan Lokal: Percepatan Penurunan Stunting di Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2023
Background: Providing additional food made from local food is one strategy for handling nutritional problems in malnourished toddlers and SEZ pregnant women. In order to support improving the quality of Indonesian people, strengthening an economic structure that is productive, independent and competitive, the government has targeted an acceleration in reducing the stunting rate under five. In order to support the implementation of the Acceleration of Stunting Reduction which aims to achieve the quality development target by 2030 and the stunting prevalence target of 14% by 2024.Objective: To produce a comprehensive, up to date and effective analysis of supplementary feeding analysis: Accelerating Stunting ReductionResearch Method: This research uses a qualitative approach and design. Participants in this research were leaders and staff of institutions related to stunting prevention, namely: Provincial Health Services, District Services, Community Health Center Nutrition Officers and Posyandu Cadres. Materials and Tools: Questionnaire form, Camera, Video/handycam equipment, other ATK. This research was carried out in the Southeast Sulawesi Provincial Health Service Area, in June-November 2023. Data analysis method: Reading/studying the data, marking key words and ideas that is in the data. The steps in data analysis are data reduction, data presentation and conclusion drawing as follows: Data reduction, data presentation, conclusion drawingResults. PMT activities made from local food can build family independence in providing quality food for pregnant women and toddlers. Malnutrition among toddlers and pregnant women in KEK in Southeast Sulawesi. This problem must be corrected. One program is providing additional local food. Where Southeast Sulawesi is a coastal and island area that has a lot of food. The success of the local feeding program is demonstrated by improvements in the nutritional status of both targets. In toddlers, success can be seen from the weight gain each month. In this activity, the community health center plays a very important role. At the Puskesmas, all activities carried out by cadres can be monitored by the Puskesmas nutrition staff.Suggestion: Improvements in funding are needed, namely additional funds for food distribution to cadres, adequate transportation is needed. It is necessary to evaluate the process of providing additional food made from local ingredients and evaluate weight gain in children under five and increase in LILA size in pregnant women.Latar Belakang: Pemberian Makanan Tambahan berbahan pangan lokal merupakan salah satu strategi penanganan masalah gizi pada balita gizi kurang dan ibu hamil KEK. Guna mendukung peningkatan kualitas manusia Indonesia, penguatan struktur ekonomi yang produktif, mandiri, dan berdaya saing, pemerintah telah menargetkan percepatan penurunan angka Stunting balita. Demi mendukung pelaksanaan Percepatan Penurunan Stunting yang bertujuan untuk mencapai target pembangunan berkualitas pada 2030 dan target prevalensi stunting sebesar 14% pada tahun 2024.
Tujuan: Menghasilkan kajian Analisis Pemberian Makanan Tambahan Berbahan Lokal: Percepatan Penurunan Stunting yang komprehensif, up to date, dan tepat guna
Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan pendekatan dan desain kualitatif. Partisipan dalam penelitian ini adalah pimpinan dan staf lembaga yang terkait dengan penanggulangan stunting yaitu: Dinas Kesehatan Provins, Dinas Kabupaten, Petugas Gizi Puskesmas dan Kader Posyandu. Bahan dan Alat: Form kuesioner, Camera, Alat Video/handycam, ATK lainnya Penelitian ini dilaksanakan di Wilayah Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara, pada bulan Juni-November 2023. Metode Analisis data: Membaca/mempelajari data, menandai kata-kata kunci dan gagasan yang ada dalam data. Langkah-langkah dalam analisis data yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan sebagai berikut: Reduksi data, Penyajian data, Penarikan Kesimpulan
Hasil. Kegiatan PMT berbahan pangan lokal dapat membentuk kemandirian keluarga dalam menyediakan makanan yang berkualitas bagi Ibu Hamil dan Balita Gizi kurang pada balita dan ibu hamil KEK di Sulawesi Tenggara. Permasalahan ini harus dipebaiki, Salah satu program adalah pemberian makanan tambahan local. Dimana Sultra merupakan daerah pesisir dan kepulauan yang memiliki bahan pangan yang banyak. Keberhasilan dari program pemberian makanan lokal ditunjukkan dengan perbaikan status gizi dari kedua sasaran. Pada balita keberhasilan dilihat dari kenaikan berat badan tiap bulannya. Pada kegiatan ini yang sangat berperan adalah puskesmas. Di Puskesmas semua kegiatan yang dilakukan oleh kader dapat dipantau oleh tenaga gizi Puskesmas.
Saran: Perlu perbaikan pada pendanaan yakni penambahan dana untuk pendistribusian makanan ke kader perlu penyediaan transportasi yang memadai. Perlu dilakukan evaluasi pada proses penyelenggaraan pemberian makanan tambahan berbahan lokal dan evaluasi kenaikan berat badan pada anak balita dan kenaikan ukuran LILA pada ibu hamil
Gambaran Status Gizi Balita Usia 0-59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Bandarharjo Kota Semarang
Ringkasan: Latar belakang: Status gizi balita menentukan kelangsungan hidup dan kualitas generasi mendatang, sehingga pemantauan berkelanjutan menjadi keharusan di Indonesia. Tujuan: Kajian ini bertujuan mendeskripsikan status gizi balita usia 0-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Bandarharjo, Kota Semarang. Metode: Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dan uji hubungan chi-square pada 360 balita yang dipilih secara accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dan pengukuran antropometri berdasarkan standar WHO. Hasil: Mayoritas balita memiliki status gizi normal pada indikator TB/U (73,3%), BB/U (75,8%), BB/TB (74,4%), dan LILA (93,1%). Terdapat hubungan signifikan antara usia, jenis kelamin, pekerjaan orang tua, dan agama dengan status gizi balita (p<0,001). Simpulan: Monitoring berkala status gizi diperlukan guna deteksi dini dan pencegahan masalah gizi. Saran: Disarankan kader posyandu aktif dalam pemantauan dan edukasi gizi kepada masyarakat.Kesehatan anak di bawah usia lima tahun adalah faktor penting untuk kelangsungan hidup generasi mendatang, sehingga penilaian status gizi balita penting dilakukan secara berkelanjutan untuk mengetahui status gzi balita. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan status gizi balita usia 0-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Bandarharjo, Kota Semarang. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dan analisis uji korelasi chi-square. Sampel penelitian ini terdiri dari 360 balita yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengukuran status gizi dilakukan dengan mengukur berat badan dan tinggi badan, kemudian diklasifikasikan menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT) menurut standar WHO.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi status gizi balita di wilayah Bandarharjo mengalami keragaman yang signifikan. Sebanyak 61,7% balita berusia 2-5 tahun, 59,7% berjenis kelamin laki-laki, 73,3% status gizi normal (TB/U), 75,8% status gizi normal (BB/U), 74,4% status gizi normal (BB/TB), 93,1% status gizi baik (LILA), dan 85,3% status gizi normal (lingkar kepala). Serta terdapat hubungan yang signifikan antara usia bayi, jenis kelamin bayi, pekerjaan orang tua dan agama terhadap status gizi (p<0,001) berdasarkan TB/U, BB/U, BB/TB dan Lila. Kesimpulan: usia bayi, jenis kelamin bayi, pekerjaan orang tua, dan agama memiliki hubungan signifikan dengan status gizi balita berdasarkan indikator-indikator TB/U, BB/U, BB/TB dan Lila. Mengingat pentingnya pemantauan gizi secara berkala, disarankan agar fasilitas pelayanan kesehatan terus melakukan evaluasi rutin terhadap status gizi balita untuk mendeteksi dan mencegah masalah gizi sedini mungkin
the Edukasi Pengenalan, Pencegahan, Dan Deteksi Dini Risiko Penyakit Jantung Pada Wanita Usia Subur sebagai upaya pencegahan stunting Di Desa Motui Kabupaten Konawe Utara
Cardiovascular disease is still a global threat and is a disease that plays a major role as the number one cause of death worldwide. Data from the World Health Organization (WHO) states that more than 17 million people in the world die from heart and blood vessel disease. Cardiovascular disease also most often attacks the productive age group, so that its mortality causes an economic and social burden on society. Cardiovascular disease starts from simple steps. The Motui village area in North Konawe Regency, Southeast Sulawesi Province, whose population is mostly lower middle class, has low education, socio-demographic factors and unbalanced food consumption habits, this is the determinant of hypertension and heart disease in coastal communities. There is an increase in understanding of women of childbearing age about prevention and early detection of heart disease, on average women of childbearing age have sufficient knowledge (58.00) and after participating in activities it has increased to a good category (90.00)Penyakit kardiovaskular masih menjadi ancaman dunia dan merupakan penyakit yang berperan utama sebagai penyebab kematian nomor satu di seluruh dunia. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, lebih dari 17 juta orang di dunia meninggal akibat penyakit jantung dan pembuluh darah . Penyakit Kardiovaskular juga paling sering menyerang kelompok usia produktif, sehingga mortalitasnya menyebabkan beban ekonomi dan sosial terhadap masyarakat. penyakit kardiovaskular dimulai dari langkah yang sederhana.
Wilayah desa Motui di Kabupaten Konawe Utara Provinsi Sulawesi Tenggara yang penduduknya mayoritas memiliki perekonomian menengah ke bawah, berpendidikan rendah, factor sosio demografi dan kebiasaan konsumsi makanan yang tidak seimbang, hal ini yang menjadi determinan kejadian hipertensi dan penyakit jantung pada masyarakat pesisir. Terdapat peningkatan pemahaman wanita usia subur tentang pencegahan dan deteksi dini penyakit jantung rata-rata wanita usia subur memiliki pengetahuan cukup (58,00) dan setelah mengikuti kegiatan mengalami peningkatan menjadi kategori baik (90,00)
 
Skrinning Hipertensi Dan Senam Hipertensi Pada Wanita Usia Subur (Wus) dalam Pencegahan Stunting Di Desa Motui Kabupaten Konawe Utara
Hypertension is still a major problem in Indonesia, Non-communicable diseases that can be experienced by women such as hypertension are one of the global health problems. Hypertension is a serious health problem for women today. Providing hypertension exercise treatment that is carried out consistently is one way to maintain physical fitness that can stimulate heart activity to be able to make beneficial changes in the body of hypertension sufferers in women of childbearing age or the elderly. By doing hypertension exercise, body activity will encourage the heart to work optimally and can lower and maintain blood pressure so that it remains stable within normal limits (Sobarina, Rohimah and Ginanjar, 2022). Hypertension sufferers rarely do physical activity and exercise, this will affect the effectiveness of circulation in the blood vessel area, because fat that sticks to the blood vessels will accumulate and form plaque in the area of ??the blood vessel walls which will result in increased blood pressure (hypertension) (Moonti et al., 2022). An initial survey of mothers in Bajoe Village, Soropia District, out of 10 interviewed, all of them did not know about the dangers of hypertension in women of childbearing age. Based on the explanation above, it is considered necessary to conduct counseling on hypertension, hypertension screening and hypertension exercise for women of childbearing age (WUS) in order to increase the knowledge of women of childbearing age about hypertension, and to be able to make prevention efforts through hypertension exercise. Based on the results of the pretest and posttest, there was an increase in the knowledge of women of childbearing age about hypertension, it was known the number of women of childbearing age who experienced hypertension and an increase in the ability of women of childbearing age to do hypertension exerciseHipertensi masih merupakan masalah yang cukup besar di Indonesia, Penyakit tidak menular yang dapat dialami oleh perempuan seperti penyakit hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan global. Penyakit hipertensi menjadi masalah kesehatan perempuan yang serius saat ini. Pemberian perlakuan senam hipertensi yang dilakukan secara konsisten merupakan salah satu cara pemeliharaan kesegaran jasmani yang dapat merangsang aktifitas kerja jantung untuk dapat melakukan perubahan yang menguntungkan dalam tubuh penderita hipertensi pada wanita usia subur ataupun lansia. Dengan melakukan senam hipertensi aktivitas tubuh akan mendorong jantung untuk bekerja secara optimal serta dapat menurunkan dan menjaga tekanan darah agar tetap stabil dalam batas normal (Sobarina, Rohimah and Ginanjar, 2022).Penderita hipertensi jarang melakukan aktivitas fisik dan berolahraga maka ini akan mempengaruhi efektifitas sirkulasi pada area pembuluh darah, dikarenakan lemak yang menempel pada pembuluh darah akan mengalami penumpukan dan membentuk plak di area dinding pembuluh darah yang akibatnya akan terjadi peningkatan tekanan darah (hipertensi) (Moonti et al., 2022).
Survey awal pada ibu di Desa Bajoe Kecamatan Soropia, dari 10 yang diwawancarai semuanya belum mengetahui tentang bahaya hipertensi pada Wanita usia subur. Berdasarkan penjelasan diatas, maka dianggap perlu untuk melakukan penyuluhan tentang hipertensi, skrinning hipertensi dan senam hipertensi pada wanita usia subur (WUS) agar dapat menambah pengetahuan wanita usia subur tentang hipertensi, dan dapat melakukan upaya pencegahan melalui senam hipertensi.
Berdasarkan hasil pretest dan posttest, terdapat peningkatan pengetahuan wanita usia subur tentang hipertensi, diketahuannya jumlah wanita usia subur yang mengalami hipertensi serta peningkatan kemampuan wanita usia subur dalam melakukan senam hipertens
Studi Evaluasi Kualitas Penggunaan Pewarna Giemsa Pada Pemeriksaan Mikroskopis Malaria di Laboratorium Fasilitas Layanan Kesehatan Kota Jayapura Tahun 2023
Ringkasan: Latar belakang: Pemeriksaan mikroskopis dengan pewarnaan Giemsa tetap menjadi standar emas diagnosis malaria. Kualitas pewarnaan Giemsa bervariasi antarprodusen sehingga berkontribusi terhadap kesalahan diagnosis dan variabilitas hasil antarlaboratorium. Tujuan: Mengevaluasi kualitas penggunaan pewarna Giemsa pada pemeriksaan mikroskopis malaria di laboratorium fasilitas layanan kesehatan Kota Jayapura. Metode: Penelitian deskriptif cross-sectional pada 20 laboratorium menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner manajemen pewarnaan Giemsa dan uji kualitas dengan metode kertas saring Whatman No.2. Hasil: Manajemen pewarnaan menunjukkan 45% memperoleh Giemsa dari toko kesehatan, 90% menggunakan air mineral sebagai pengencer, 85% tidak menyaring larutan, dan 55% tidak melakukan quality control. Uji kertas saring menunjukkan 65% terdapat lingkaran biru methylene blue, 75% lingkaran ungu methylene azur, dan 55% lingkaran merah eosin. Simpulan: Sebanyak 60% laboratorium telah menangani Giemsa dengan baik. Saran: Standardisasi prosedur pewarnaan sesuai pedoman Kementerian Kesehatan untuk mengoptimalkan diagnosis malaria.Malaria adalah penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama di Jayapura, karena dapat menyebabkan angka kesakitan dan kematian yang tinggi serta memicu Kejadian Luar Biasa (KLB). Jayapura merupakan daerah endemik malaria. Salah satu upaya untuk menekan tingkat mortalitas dan morbiditas penyakit malaria adalah dengan pemeriksaan yang tepat, baik gejala maupun pengobatannya. Oleh karena itu, diagnosis laboratorium yang dilakukan oleh tenaga laboratorium mikroskopis malaria perlu di kontrol untuk memastikan kualitas dari tenaga laboratorium mikroskopis malaria. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kemampuan tenaga laboratorium mikroskopis malaria di laboratorium Puskesmas di wilayah kota Jayapura dengan menghitung nilai sensitivitas, spesivitas, akurasi identifikasi spesies dan error rate. Jenis Penelitian ini deskriptif dengan desain crossexional. Populasinya adalah semua slide malaria, yang telah di periksa oleh tenaga laboratorium mikroskopis malaria di laboratorium puskesmas Kota Jayapura. Jumlah sampel sebanyak 13 tenaga laboratorium mikroskopis malaria di 13 Puskesmas Kota Jayapura. Hasil Penelitian : menunjukan terdapat 7 (53,8%) laboratorium Puskesmas yang mendapatkan nilai baik, terdapat 3 (23,1%) laboratorium mendapatkan nilai cukup dan ada 3 (23,1%) laboratorium mendapatkan nilai kurang. Kesimpulan : Kualitas diagnosis malaria di Kota Jayapura secara umum sudah baik, tetapi masih ada potensi kesalahan diagnosis, terutama dalam hal membedakan spesies parasit malaria. Upaya peningkatan kualitas bisa dilakukan dengan memberikan pelatihan secara berkesinambungan untuk mencegah kesalahan diagnosis
Malaria Microscopic Cross Test at Jayapura City Health Center Laboratory
Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia karena dapat menyebabkan angka kesakitan dan kematian serta sering menimbulkan Kejadian LuarBiasa (KLB). Salah satu upaya untuk menekantingkat mortalitas dan morbiditas penyakit malaria adalah dengan diagnosis laboratorium yang tepat dan pengobatannya. Oleh karena itu diagnosis laboratorium yang dilakukan oleh tenagalaboratorium mikroskopis malaria perlu di control untuk memastikan kualitas dari tenaga laboratoriummikroskopis malaria. Tujuan: Tujuan penelitian iniadalah untuk mengevaluasi kemampuan tenagalaboratorium mikroskopis malaria di laboratoriumklinik di wilayah kota Jayapura dengan menghitungnilai sensitivitas, spesivitas, akurasi identifikasispesies dan error rate. Metode Penelitian :penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengandesain crossexional. Populasi dalam penelitian iniadalah semua slide malaria yang sudah di periksaoleh tenaga laboratorium mikroskopis malaria di laboratorium puskesmas. Jumlah sampel dalampenelitian ini adalah sebanyak 13 tenaga laboratoriummikroskopis malaria di 13 Puskesmas Kota Jayapura. Hasil Penelitian : menunjukan bahwa terdapat 10 (58,8%) laboratorium klinik yang mendapatkan nilaibaik, terdapat 3 (17,6%) laboratorium mendapatkannilai cukup karena mendapatkan nilai akurasispesiesnya mendapatkan nilai antara 60-69%. Dan Ada 4 (23,5%) laboratorium mendapatkan nilaikurang karena nilai akurasi spesiesnya di bawah 60%. Kesimpulan : Kualitas diagnosis malaria di Kota Jayapura secara umum sudah baik, tetapi masih adapotensi kesalahan diagnosis, terutama dalam halmembedakan spesies parasit malaria. Upayapeningkatan kualitas perlu dilakukan secaraberkesinambungan untuk mencegah kesalahandiagnosis.Ringkasan: Latar belakang: Malaria tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, khususnya di Jayapura sebagai daerah endemik dengan angka Annual Parasite Incidence 5 per 1000 penduduk. Pemeriksaan mikroskopis sebagai gold standard diagnosis memerlukan kontrol kualitas yang ketat untuk memastikan akurasi diagnostik. Tujuan: Mengevaluasi kemampuan tenaga laboratorium mikroskopis malaria di Puskesmas Kota Jayapura melalui perhitungan sensitivitas, spesifisitas, akurasi identifikasi spesies, dan error rate. Metode: Penelitian deskriptif cross-sectional pada 13 laboratorium Puskesmas menggunakan 132 slide malaria. Cross-checker malaria melakukan pemeriksaan ulang untuk menghitung parameter kinerja diagnostik berdasarkan Permenkes No. 68 Tahun 2015. Hasil: Sebanyak 7 laboratorium (53,8%) mencapai kategori baik, 3 laboratorium (23,1%) kategori cukup, dan 3 laboratorium (23,1%) kategori kurang. Rata-rata sensitivitas 98,5%, spesifisitas 89%, akurasi spesies 77,9%, dengan error rate 6%. Simpulan: Kualitas diagnosis malaria Kota Jayapura umumnya baik namun masih terdapat potensi kesalahan identifikasi spesies parasit. Saran: Diperlukan pelatihan berkesinambungan untuk mencegah kesalahan diagnosis dan meningkatkan akurasi identifikasi spesies
Cadre training on the recognition of hypertension and preeclampsia in the coastal area of ??Sawa village, North Konawe Regency: Cadre training on the recognition of hypertension and preeclampsia in the coastal area of ??Sawa village, North Konawe Regency
Hipertensi merupakan penyakit umum yang didefinisikan secara sederhana sebagai peningkatan tekanan darah. Penyakit tersebut dapat menjadi penyebab tingginya angka kesakitan dan kematian baik pada ibu dan janin/ bayi yang dilahirkan. Hipertensi selama kehamilan dapat berkembang secara tidak terduga dan cepat menjadi hipertensi berat. Sebanyak 61% wanita dengan hipertensi gestasional mengalami perkembangan penyakit menjadi hipertensi berat dan berisiko mengalami gangguan cerebrovascular. Pre-eclampsia didefinisikan sebagai onset baru dari peningkatan TD yang persisten (TDS? 140mmHg atau TDD? 90mmHg) dan terjadi setelah 20 minggu usia kehamilan disertai satu dari komplikasi berikut; proteinuria, trombositopenia, gangguan ginjal, gangguan hati, atau edema paru. Tujuan: meningkatkan pengetahuan kader tentang hipertensi dan preeklampsia pada kehamilan. Metode: kegiatan berbentuk penyuluhan edukatif, dan partisipatif, dengan sasaran kader Kesehatan, berupa pelatihan pemeriksaan tekanan darah dan penyuluhan kesehatan terkait tanda bahaya dan faktor risiko hipertensi dan preeclampsia pada ibu hamil Hasil semua peserta mengalami peningkatan pengetahuan dengan rata-rata skor 90,00 setelah diberikan posttest. Kesimpulan: bahwa pelatihan kader tentang hipertensi dan pre-eclampsia dalam kehamilan berjalan lancar, semua peserta sangat antusias mengikuti kegiatan. Terlihat dari jumlah peserta kader yang ikut berpastisipasi dan peningkatan pengetahuan juga yang sangat signifikan.Background Hypertension is a common disease that is defined simply as an increase in blood pressure. This disease can be the cause of high morbidity and mortality rates for both mothers and fetuses/babies born. Hypertension during pregnancy can develop unexpectedly and quickly become severe hypertension. As many as 61% of women with gestational hypertension experience disease progression to severe hypertension and are at risk of developing cerebrovascular disorders. Preeclampsia is defined as new onset of persistently elevated BP (BP? 140mmHg or BP? 90mmHg) and occurring after 20 weeks of gestation accompanied by one of the following complications; proteinuria, thrombocytopenia, renal impairment, liver impairment, or pulmonary edema. Training methods, educative and participatory outreach, targeting health cadres, in the form of training on blood pressure checks and health education, health education provided regarding danger signs and risk factors for pregnant women regarding hypertension and preeclampsia in pregnant women. Results. The results of univariable analysis regarding the age of pregnant women showed that of the 30 participants, 60% (18 people) were of productive age, namely 20-35 years, the remaining 40% (12 people) were over 35 years old. The level of education shows that there are still 13% (4 people) of respondents who only received junior high school education and 77% (23 people) who graduated from junior high school and 10% (3 people) of respondents whose education reached higher education. ). The average value of knowledge for pregnant women during the pretest was 58.00 (good enough category according to Arikunto), while all participants experienced an increase in knowledge with an average of 90.00 (good category according to Arikunto) after being given the post test. The conclusion was that the cadre training on hypertension and preeclampsia in pregnancy went smoothly, all participants were very enthusiastic about participating in the activity. It can be seen from the number of cadre participants who participated and the increase in knowledge was also very significant
HUBUNGAN PENGETAHUAN GIZI IBU DAN PENDAPATAN KELUARGA DENGAN PEMBERIAN MP-ASI DINI PADA BAYI USIA 0-6 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS RAHIA KECAMATAN GU KABUPATEN BUTON TENGAH
Based on preliminary study data obtained from Rahia Community Health Center. Some mothers who have babies aged 0-6 months show that in 2020 the prevalence was 65% giving early MP-ASI and 35% exclusively breastfed, whereas in 2021 the prevalence was 50%. Which provides early MP-ASI and 50% exclusive breast milk. This study aims to determine the relationship between maternal nutritional knowledge and family income with early MP-ASI provision at the Rahia health center, Gu subdistrict, Central Buton district. Method: This research is an analytical survey research. The research design used was a cross sectional study. The population and sample of this study were all mothers who had babies aged 0-6 months. The sampling technique used was the Slovin formula while the statistical test used was chi-square. Results: Based on the research results, the statistical test obtained a value of p = 0.014, which means there is a relationship between maternal nutritional knowledge and the provision of Early MP-ASI in the working area of Puskesamas Rahia, Gu District, Central Buton Regency, and from the results of the statistical test, a value of p = 0.001 was obtained, meaning there is a relationship between family income and early MP-ASI provision in the working area of the Rahia Community Health Center, Gu District, Central Buton Regency. Suggestion: It is hoped that mothers at posyandu in Rahia, Kamama Mekar and Wakeakea villages who have babies aged 0-6 months will pay more attention to giving early MP-ASI appropriate to their age, and it is hoped that mothers will tell caregivers to pay attention to giving early MP-ASI.data studi pendahuluan yang diperoleh dari Puskesmas Rahia. ibu yang memiliki bayi usia 0-6 bulan menunjukkan bahwa pada tahun 2020 prevalensinya sebesar 65% yang memberikan MP-ASI dini dan 35% memberikan ASI eksklusif, sedangkan tahun 2021 prevalensinya sebesar 50%. Yang memberikan MP-ASI dini dan 50% ASI Eksklusif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan gizi ibu dan pendapatan keluarga dengan pemberian MP-ASI dini di Puskesmas Rahia Kecamatan Gu Metode: merupakan penelitian survei analitik. Desain studi cross sectional. Populasi dan sampel penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai bayi usia 0-6 bulan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah rumus Slovin sedangkan uji statistik yang digunakan adalah chi-square. Hasil : Berdasarkan hasil penelitian uji statistik diperoleh nilai p = 0,014 yang berarti ada hubungan antara pengetahuan gizi ibu dengan pemberian MP-ASI Dini di wilayah kerja Puskesamas Rahia Kecamatan Gu Buton Tengah Kabupaten, dan dari hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,001 artinya ada hubungan antara pendapatan keluarga dengan pemberian MP-ASI dini di wilayah kerja Puskesmas Rahia Kecamatan Gu Buton Tengah Daerah. Saran : Diharapkan bagi ibu-ibu di posyandu di Desa Rahia, Kamama Mekar dan Wakeakea yang mempunyai bayi usia 0-6 bulan agar lebih memperhatikan pemberian MP-ASI dini sesuai usianya, dan diharapkan para ibu memberitahukan kepada pengasuhnya untuk memperhatikan pemberian MP-ASI dini
Edukasi Deteksi Dini Stroke Dengan Video Animasi Fast Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Keluarga Penderita Hipertensi
Ringkasan: Latar Belakang: Stroke merupakan kondisi darurat medis yang memerlukan penanganan cepat untuk mencegah kematian dan kecacatan permanen. Edukasi deteksi dini melalui metode audiovisual dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap serangan stroke pada keluarga penderita hipertensi. Tujuan: Menganalisis pengaruh edukasi deteksi dini stroke dengan metode audiovisual terhadap pengetahuan dan sikap keluarga penderita hipertensi. Metode: Penelitian quasi experiment pre-post test dengan kontrol pada 50 responden menggunakan purposive sampling. Intervensi berupa video animasi deteksi dini stroke dengan metode FAST berdurasi 10 menit. Data dianalisis dengan uji t berpasangan. Hasil: Media audiovisual pada kelompok perlakuan meningkatkan skor pengetahuan (p=0,000) dan sikap (p=0,000) secara signifikan. Kesimpulan: Promosi kesehatan deteksi dini stroke menggunakan metode animasi FAST melalui media audiovisual efektif meningkatkan pengetahuan dan sikap keluarga penderita hipertensi. Saran: Direkomendasikan untuk melibatkan populasi yang lebih besar dengan mengikutsertakan keluargaPendahuluan: Stroke merupakan kondisi darurat medis karena berkaitan dengan waktu sehingga memerlukan penanganan yang cepat, tepat dan hati-hati. Penatalaksanaan yang optimal dapat mencegah kematian dan kecacatan permanen. Salah satu strategi untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap serangan stroke dapat dilakukan melalui edukasi berupa metode audiovisual yang berisi informasi tentang deteksi dini penyakit stroke. Tujuan menganalisis pengaruh edukasi deteksi dini stroke dengan metode audiovisual terhadap pengetahuan dan sikap keluarga individu penderita hipertensi.
Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah quasy eksperimen pre-post test dengan group kontrol untuk pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Jumlah sampel sebanyak 50 responden yang sesuai kriteria inklusi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah video animasi deteksi dini stroke dengan metode FAST ( Face drooping, Arm weakness, Speech Dificulty dan Time) yang berisi edukasi deteksi dini stroke berdurasi 10 menit, lembar angket pengetahuan dan sikap. Data dianalisis dengan menggunakan uji t berpasangan. Penelitian ini dilakukan setelah mendapat ijin etik penelitian yang dikeluarkan oleh komisi etik kesehatan Politeknik Kesehatan Manado.
Hasil : Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media audiovisual pada kelompok perlakuan memberikan pengaruh terhadap peningkatan skor pengetahuan (p=0,000) dan sikap (p=0,000).
Kesimpulan: Promosi kesehatan deteksi dini edukasi stroke dengan menggunakan metode FAST melalui media audiovisual dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap keluarga penderita hipertensi